Alarm di jam tangan berbunyi pukul setengah enam. Jenar mematikannya, berguling, dan menatap langit-langit selama sepuluh menit penuh sambil berdebat dengan dirinya sendiri.
Nggak usah ke pantai. Kamu bilang nggak janji.
Tapi kamu udah pasang alarm.
Alarm itu buat sholat subuh.
Kamu udah telat sholat subuh.
Ia bangun.
Masalah pertama muncul di depan koper. Hana yang membantunya berkemas di Bandung, dan Hana, dengan logika yang hanya masuk akal bagi Hana, menyelipkan sebuah bikini hitam di antara tumpukan kaus.
Lo ke pantai buat move on, Jen, tulisnya di kertas tempel yang masih menempel di tali bikini itu. Move on itu harus seksi. Percaya gue.
Jenar memandangi bikini itu seperti memandangi bom.
Lima belas menit kemudian ia keluar kamar memakai bikini itu di balik kemeja flanel kebesaran milik Leknor yang ia curi dua tahun lalu, dikancing sampai leher, dan celana pendek. Ia merasa seperti orang yang menyembunyikan barang selundupan.
Pantai masih sepi. Langit belum benar-benar biru, masih abu-abu keperakan. Ibu kacang rebus belum datang. Hanya ada dua nelayan yang membereskan jaring dan seekor anjing kampung yang tidur melingkar di bawah perahu terbalik.
Dan di laut, di antara ombak, satu titik hitam di atas papan kuning.
Jenar duduk di pasir kering, jauh dari garis air, dekat papan AWAS ARUS BALIK. Ia memeluk lutut dan memperhatikan.
Galih tidak seperti peselancar di video-video yang pernah ia tonton. Ia tidak meluncur dengan anggun sambil merentangkan tangan. Ia mendayung dengan keras, menunggu, mendayung lagi, mencoba berdiri, jatuh. Mendayung lagi. Mencoba lagi. Jatuh lagi, kali ini dengan cara yang membuat Jenar menahan napas, papannya melayang ke udara dan kepalanya hilang di balik buih.
Tiga detik. Empat.
Kepalanya muncul. Ia mengibaskan rambut seperti anjing basah dan naik lagi ke papan.
Jenar tertawa sendirian di pasir, lalu buru-buru menutup mulut.
Di percobaan kelima, ia berhasil. Ombak yang datang tidak besar, tapi bentuknya bagus, melengkung seperti huruf C yang ditulis dengan tangan mantap. Galih berdiri di atas papan dengan lutut ditekuk, tubuhnya condong ke depan, dan meluncur. Hanya beberapa detik. Tapi di beberapa detik itu Jenar melihat sesuatu yang sama dengan yang ia lihat di kedai Kang Asep kemarin. Wajah yang lepas. Seperti orang yang lupa sedang ditonton.
Matahari naik. Pantai mulai hangat. Kemeja flanel mulai terasa seperti selimut di tengah siang bolong.
Jenar melirik ke kiri dan kanan. Dua nelayan sudah pergi. Anjingnya masih tidur.
Move on itu harus seksi.
“Diem, Hana,” gumamnya, dan membuka kancing kemeja satu per satu.
Ia melipatnya di pangkuan dan langsung menyesal. Angin laut menyentuh kulit yang tidak biasa terkena angin. Ia merasa telanjang, meskipun secara teknis tidak. Ia memeluk lututnya lebih erat, seperti itu bisa membantu.
Saat itulah Galih keluar dari air.
Ia berjalan ke pantai dengan papan di ketiak, rambut menempel di dahi, dan dada naik turun karena napas yang masih memburu. Ia melihat Jenar dari jauh dan tersenyum lebar, tangannya terangkat untuk melambai.
Lalu ia melihat lebih jelas.
Tangannya berhenti di udara. Langkahnya melambat. Senyumnya membeku di tempat, seperti gambar yang tiba-tiba di-pause.
Jenar ingin dikubur di pasir. Sekarang juga. Sedalam-dalamnya.
Galih tidak mendekat. Ia menancapkan papannya di pasir, berbalik, dan berjalan cepat ke arah pedagang yang baru saja menggelar dagangan di bawah pohon ketapang. Jenar melihatnya menunjuk sesuatu, berdebat sebentar soal harga, menyerahkan uang, lalu berjalan kembali dengan sesuatu yang dilipat di tangannya.
Ia berhenti di depan Jenar. Tidak berkata apa-apa. Wajahnya merah, dan Jenar tidak tahu apakah itu karena matahari.
Galih membentangkan kain itu. Kain pantai bermotif batik biru dan putih, masih ada label harga dari kertas yang disematkan dengan peniti di ujungnya. Ia menyampirkannya ke bahu Jenar, pelan, menariknya sampai menutupi punggung dan lengan, lalu merapikan ujungnya di depan dengan dua jari, tanpa sekali pun menyentuh kulit.
Lalu ia duduk di pasir, satu meter di sebelahnya, dan menatap laut.
“Angin,” katanya.
“Apa?”
“Anginnya kenceng. Nanti masuk angin.”
Jenar menggenggam ujung kain di dadanya. Kainnya kasar dan bau toko. Ada label harga yang menggelantung di bahu kirinya. Tiga puluh lima ribu.
“Ini kan panas banget,” katanya pelan.
“Iya,” kata Galih, masih menatap laut. “Tapi anginnya kenceng.”
Jenar menunduk. Pipinya panas. Ia tidak tahu harus tersinggung atau tersentuh, dan yang keluar malah tawa kecil yang tertahan di tenggorokan.
“Hana yang masukin ke koper,” katanya. “Bikininya. Aku nggak tahu.”
“Oke.”
“Beneran.”
“Aku percaya.”
“Kamu nggak lihat aku, dari tadi.”
“Iya,” kata Galih. “Justru itu.”
Mereka duduk dalam diam. Ombak datang dan pergi. Anjing di bawah perahu menguap lebar dan tidur lagi.
“Kamu jatuh banyak banget tadi,” kata Jenar akhirnya.
Galih mendengus. “Kamu ngitung?”
“Sebelas kali.”
“Delapan.”
“Sebelas. Yang tiga kamu jatuh pas lagi naik ke papan. Itu juga dihitung.”
“Itu bukan jatuh. Itu turun.”
“Turun ke dalem laut sambil teriak?”
Galih akhirnya menoleh. Ada garis tabir surya putih lagi di hidungnya, sama tidak ratanya dengan kemarin. Ia menatap Jenar, lalu kain di bahunya, lalu buru-buru kembali ke laut.
“Kamu dateng,” katanya pelan.
“Aku nggak janji.”
“Tapi dateng.”
Jenar tidak menjawab. Ia menarik kain itu lebih rapat, dan kali ini bukan karena malu.
Galih bilang siangnya ia ada urusan. Ada orang yang mau datang. Ia tidak menyebut nama, tapi cara ia mengusap tengkuk waktu mengatakannya sudah cukup menjelaskan.
“Sore aku bebas,” katanya di depan lift. “Kamu pernah ke Green Canyon?”
“Belum.”
“Mau?”
“Aku nggak bisa renang.”
“Kamu selalu bilang itu.”
“Karena itu fakta.”
“Ada pelampung. Ada aku.” Ia berhenti, sadar dengan kalimatnya sendiri, dan menambahkan cepat, “Maksudnya ada pemandu. Banyak pemandu. Jam tiga?”
“Jam tiga.”
Pintu lift tertutup. Jenar bersandar di dindingnya dengan kain pantai masih tersampir di bahu, label harga masih menggantung, dan senyum yang tidak mau pergi dari wajahnya sampai lantai dua.
Hana menelepon jam dua belas lewat sedikit, tepat waktu Jenar sedang berusaha melepas label harga dari kain pantai tanpa merobek kainnya.
“Akhirnya diangkat,” kata Hana tanpa salam. “Gue udah mau lapor polisi.”
“Lebay.”
“Lo ngilang dua hari, Jen. Lo cuma bales gue satu kalimat semalem. Gue jalan sama orang. Terus mati. Lo tahu gue mikir apa?”
“Apa?”
“Lo diculik. Terus penculiknya ganteng. Terus lo nggak mau diselamatin.”
Jenar tertawa dan menjatuhkan diri ke kasur. “Nggak diculik.”
“Tapi ganteng.”
Jenar diam.
“JEN.”
“Biasa aja.”
“Lo diem tiga detik. Lo nggak pernah diem tiga detik kecuali lo bohong.” Hana menarik napas di seberang, dan Jenar bisa membayangkannya duduk bersila di kasur kosnya di Bandung dengan masker wajah dan rambut dijepit sembarangan. “Oke. Ceritain. Dari awal.”
Jadi Jenar bercerita. Tidak semuanya. Tapi cukup. Kaki yang terkilir. Papan selancar kuning yang diletakkan di pasir. Restoran yang hanya berisi mereka berdua. Teras sampai subuh. Kopi yang manis tanpa gula. Hutan bakau.
Ia tidak menceritakan dermaga. Tidak menceritakan pipinya. Tidak menceritakan kain pantai yang sekarang terlipat di pangkuannya.
Tapi Hana sudah mengenalnya sejak kelas satu SMP.
“Lo suka sama dia,” kata Hana. Bukan pertanyaan.
“Gue baru kenal dia dua hari.”
“Itu bukan jawaban.”
“Han.”
“Gue nggak marah, Jen. Serius.” Suara Hana melunak. “Gue seneng lo ketawa lagi. Dari kemarin-kemarin lo kayak mayat hidup. Tapi gue mau lo jujur sama diri lo sendiri. Lo suka sama dia karena dia, atau karena dia ada di sana pas lo lagi jatuh?”
Jenar memandangi langit-langit. Ada noda bekas bocor berbentuk seperti peta pulau di pojok dekat AC.
“Gue nggak tahu,” katanya.
“Nah.”
“Kemarin gue bilang gitu juga ke dia.”
“Lo bilang ke DIA?”
“Dia mau nyium gue. Terus gue bilang gue nggak tahu ini karena dia atau karena gue lagi kabur.”
Hening di seberang. Lama.
“Terus dia gimana?” tanya Hana pelan.
“Dia bilang oke. Dia bilang lebih bagus jujur.”
“Hm.”
“Terus tadi pagi dia beliin gue kain pantai. Soalnya gue pakai bikini lo.”
“LO PAKAI?”
“Nggak sengaja.”
“Gimana caranya pakai bikini nggak sengaja?”
“Panas!”
Hana tertawa sampai terbatuk. Jenar menunggu sampai tawanya habis, dan waktu Hana bicara lagi, suaranya berbeda.
“Jen. Dengerin gue, ya. Gue cuma bilang ini sekali.”
“Apa?”
“Kalau dia emang orang baik, dan kayaknya emang iya, jangan jadiin dia korban pelarian lo. Lo tahu gimana rasanya jadi orang yang nggak dipilih beneran. Lo udah ngerasain itu tujuh tahun sama kakak gue. Jangan bikin orang lain ngerasain hal yang sama.”
Jenar menggenggam kain pantai di pangkuannya. Kainnya masih kasar. Masih bau toko.
“Iya,” katanya. “Gue tahu.”
“Oh, satu lagi.” Hana ragu sebentar. “Kak Hanif nanyain lo. Kenapa lo nggak dateng ke lamarannya.”
Jenar memejamkan mata.
“Gue bilang lo liburan,” lanjut Hana cepat. “Gue nggak bilang apa-apa lagi. Tapi dia kayaknya... gue nggak tahu. Dia nanya dua kali.”
“Oke.”
“Jen?”
“Gue harus siap-siap. Jam tiga gue mau ke Green Canyon.”
“Sama dia?”
“Sama dia.”
“Pakai pelampung.”
“Iya, Mama.”
Jenar menutup telepon dan berbaring lama dengan ponsel di dada.
Lo suka sama dia karena dia, atau karena dia ada di sana pas lo lagi jatuh?
Ia tidak tahu. Sungguh tidak tahu.
Tapi waktu ia memikirkan Hanif yang bertanya dua kali, dadanya tidak lagi terasa seperti dicabut. Hanya sedikit ngilu, seperti bekas memar yang ditekan.
Dan waktu ia memikirkan Galih yang menatap laut sambil bilang anginnya kenceng, dadanya terasa hangat.
Ia tidak tahu apa artinya. Ia bangun dan mulai mencari baju yang tidak akan membuat orang merasa perlu membelikannya kain pantai.
Fadlan menunggu di warung kopi tenda di ujung pantai, yang kursinya plastik merah dan kopinya sachet diseduh air termos.
Galih melihatnya dari jauh. Kaus polo biru dongker yang selalu ia pakai kalau mau terlihat serius. Kacamata hitam di kepala. Rambut yang biasanya disisir rapi sekarang berantakan, seperti ia menyetir semalaman dengan jendela terbuka. Di meja depannya ada dua gelas kopi. Satu sudah habis. Satu belum disentuh.
Galih berdiri di sana lama, di balik tiang tenda, cukup lama sampai ibu penjual warung melirik curiga.
Kalau kamu nggak pernah dengerin, kamu bakal marah seumur hidup sama orang yang mungkin cuma panik.
Ia duduk.
Fadlan mendongak. Matanya merah. “Galih.”
“Fadla .”
Mereka saling pandang. Delapan tahun, dan tiba-tiba tidak ada yang tahu harus mulai dari mana.
“Gue pesenin lo kopi,” kata Fadlan akhirnya, mendorong gelas yang belum disentuh. “Jangan komentar. Gue tahu ini sachet.”
Galih mengambil gelas itu. Menyesapnya. Diam.
“Gue bilang jangan komentar.”
“Gue nggak ngomong apa-apa.”
“Muka lo ngomong.”
Galih hampir tertawa. Hampir. Kalimat itu terlalu mirip dengan yang Jenar bilang kemarin, dan untuk sesaat ia merasa aneh, seperti dua bagian hidupnya bertabrakan di satu warung tenda.
“Gue minta maaf,” kata Fadlan. Langsung. Tanpa basa-basi. Tangannya memutar-mutar gelas kosong di atas meja. “Gue salah. Gue tahu gue salah dari detik gue tanda tangan. Tapi gue tetep tanda tangan.”
“Kenapa?”
Fadlan menunduk. Rahangnya bergerak, seperti mengunyah kata-kata yang terlalu keras.
“Rina ngajuin hak asuh penuh buat Kiki,” katanya akhirnya. “Pengacaranya bilang penghasilan gue nggak stabil. Kedai itu bisnis berdua, gue nggak punya apa-apa atas nama gue sendiri. Terus investor itu dateng, nawarin cabang yang manajemennya atas nama gue. Gaji tetap. Saham. Semuanya kelihatan bagus di atas kertas buat hakim.”
Galih meletakkan gelasnya.
“Gue tahu lo bakal nolak,” lanjut Fadlan. “Lo udah nolak dia dua kali. Dan gue nggak berani ngomong soal Kiki ke lo, karena...” Ia tertawa pahit. “Karena gue malu, Gal. Gue duda umur tiga puluh satu yang bahkan nggak bisa buktiin dia sanggup ngurus anaknya sendiri. Gue panik. Gue bego. Gue milih cara paling pengecut.”
Galih memandangi sahabatnya lama.
Ia memikirkan ruang rapat itu. Kursi yang ia dorong rapi ke bawah meja. Tujuh panggilan tak terjawab. Tiga hari tanpa kata setelah pemakaman bapaknya.
“Lo nggak pengecut sendirian,” katanya pelan.
Fadlan mendongak.
“Gue kabur, Lan. Lagi.” Galih mengusap wajah dengan kedua tangan. “Gue nggak nanya kenapa. Gue nggak marah di ruangan itu. Gue langsung pergi. Kayak biasa. Dan lo tahu gue, gue bisa pergi berbulan-bulan tanpa ngomong. Kalau nggak ada yang nyuruh gue dengerin, gue mungkin baru ngomong sama lo tahun depan.”
“Siapa yang nyuruh lo dengerin?”
Galih diam.
Fadlan menyipitkan mata. Delapan tahun. Ia mengenal diam yang ini.
“Gal.”
“Nanti.”
“Siapa?”
“Kita beresin kontraknya dulu.” Galih mengambil ponselnya, membuka catatan. “Gue punya ide. Kita nggak batalin kerja sama sama investor itu. Kita negosiasi ulang. Cabang barunya jalan, lo pegang, atas nama lo, tapi resep dan standar tetap dari kita. Mereka cuma modal. Dan lo nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi soal Kiki. Kalau pengacaranya Rina butuh bukti, kita kasih bukti.”
Fadlan memandanginya dengan mulut sedikit terbuka.
“Lo mikirin itu semua semalem?”
“Dua malem.”
“Lo biasanya butuh dua bulan buat maafin orang.”
“Iya.”
“Terus kenapa sekarang dua malem?”
Galih memandangi laut. Di kejauhan, dekat papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat, tidak ada siapa-siapa. Tapi tadi pagi ada.
“Ada orang yang bilang,” katanya pelan, “orang jarang tiba-tiba jahat. Kadang cuma panik.”
Fadlan diam lama. Lalu senyum pelan-pelan muncul di wajahnya yang kelelahan. Senyum yang Galih kenal. Senyum yang dulu muncul setiap kali Galih kalah taruhan soal siapa yang harus mendorong gerobak di tanjakan.
“Cewek,” kata Fadlan.
“Diem.”
“Cewek, kan?”
“Lan.”
“Ya Allah. Galih Pratama. Kulkas dua pintu. Akhirnya.” Fadlan menepuk meja sampai gelas kosong bergoyang. “Siapa? Orang mana? Cantik? Pasti cantik. Lo nggak bakal dengerin orang jelek.”
“Lo bener-bener minta dipukul.”
“Namanya siapa?”
Galih menyerah. Ia bersandar di kursi plastik merah yang langsung berderit protes.
“Jenar,” katanya. Dan cara nama itu keluar dari mulutnya, pelan, hati-hati, seperti menyebut sesuatu yang mudah pecah, membuat Fadlan berhenti menggoda.
“Jenar,” ulang Fadlan.
“Dia keseleo di pantai. Gue nolongin. Terus kami ngobrol.” Galih mengangkat bahu. “Terus dia gambar kedai di tisu.”
“Kedai?”
Galih mengeluarkan dompet. Membukanya. Mengambil tisu terlipat empat dari balik KTP dan membentangkannya di meja, di antara gelas kopi sachet dan asbak dari kaleng bekas.
Fadlan memandanginya lama. Bar kayu yang menghadap ke luar. Pohon ketapang. Dua kursi di teras.
“Barnya ngadep ke luar,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kayak gerobak.”
“Iya.”
Fadlan mendongak dan menatap sahabatnya dengan tatapan yang tidak pernah Galih lihat sebelumnya. Bukan menggoda. Sesuatu yang lebih lembut.
“Lo udah minta nomornya?”
“Belum.”
“Bego.”
“Dia baru patah hati, Lan. Sembilan hari. Sebelas sekarang.”
“Terus?”
“Terus gue nggak mau jadi pelarian.”
Fadlan melipat tisu itu kembali mengikuti garisnya, sangat hati-hati, dan menyerahkannya pada Galih.
“Gal,” katanya. “Orang yang gambar kedai impian lo di tisu, setelah kenal lo dua hari, itu bukan orang yang lagi nyari pelarian. Itu orang yang dengerin lo.”
Galih memandangi tisu di tangannya.
“Minta nomornya,” kata Fadlan. “Sebelum dia pulang. Jangan sampai lo nyesel.”
Jam tiga sore, Galih menunggu di lobi dengan motor Kang Ujang yang sudah diisi bensin penuh dan dua botol air mineral di gantungan.
Jenar turun memakai kaus longgar dan celana pendek, rambut dikepang satu, dan pergelangan kaki yang dibalut perban elastis baru. Di tangannya ada kain pantai batik biru putih, terlipat rapi. Label harganya sudah tidak ada.
Galih melihat kain itu dan tidak berkata apa-apa. Tapi Jenar melihat sudut bibirnya naik.
Perjalanan ke Green Canyon memakan waktu hampir satu jam. Jalanannya berkelok di antara kebun kelapa dan rumah-rumah panggung, dan di beberapa tanjakan motor Kang Ujang mengeluarkan bunyi seperti orang tua yang disuruh lari. Jenar berpegangan di pinggang Galih dari awal. Kali ini tanpa pura-pura itu karena lubang di jalan.
Di sebuah warung di pinggir jalan mereka berhenti membeli es kelapa muda. Jenar duduk di bangku kayu, meluruskan kakinya. Galih jongkok di depannya dan memeriksa perbannya tanpa bertanya.
“Tadi aku ketemu Fadlan,” katanya sambil mengencangkan penjepit.
Jenar berhenti menyeruput. “Terus?”
“Kita baikan.”
Jenar menatapnya. Galih masih menunduk, sibuk dengan perban yang sebenarnya sudah kencang.
“Dia punya alasan,” lanjut Galih. “Mantan istrinya mau ngambil anaknya. Dia panik. Dan dia nggak berani ngomong ke aku, karena...” Ia berhenti. “Karena aku orang yang pergi kalau ada masalah. Siapa yang mau cerita ke orang kayak gitu?”
“Galih.”
“Aku dengerin dia sampai habis.” Ia akhirnya mendongak. Matanya lebih terang dari yang Jenar ingat. “Kayak yang kamu bilang. Bukan buat maafin. Buat dengerin. Terus pas udah dengerin, ternyata maafinnya gampang.”
Jenar tidak tahu harus berkata apa. Ada sesuatu yang naik di dadanya, hangat dan penuh, seperti air yang dituang terlalu cepat ke gelas.
“Kamu dengerin aku,” katanya akhirnya.
“Kamu ngomong.”
“Orang jarang dengerin sampai sedetail itu,” kata Jenar, dan Galih mengenali kalimatnya sendiri dari kemarin dan tertawa, dan Jenar ikut tertawa, dan es kelapa di tangannya hampir tumpah.
“Makasih,” kata Galih pelan setelah tawa mereka reda.
“Buat apa? Aku cuma ngomong.”
“Justru itu,” kata Galih. Kalimat Jenar dari teras malam pertama.
Jenar menunduk ke gelas es kelapanya supaya Galih tidak melihat wajahnya.
Green Canyon lebih indah dari foto mana pun yang pernah Jenar lihat, dan jauh lebih berisik.
Perahu kayu panjang bermesin tempel membawa mereka dari dermaga menyusuri sungai berwarna hijau toska. Pemandunya seorang bapak kurus bernama Mang Dadang yang tidak berhenti bicara dan tidak berhenti bercanda soal buaya yang sebenarnya tidak ada. Tebing batu menjulang di kedua sisi, ditumbuhi lumut dan pakis, semakin lama semakin rapat, sampai langit tinggal sebaris biru di atas kepala.
Jenar mencondongkan tubuh ke pinggir perahu dengan mulut terbuka.
“Ini kayak di film,” bisiknya.
“Film apa?”
“Film yang ada dinosaurusnya.”
“Mang, ada dinosaurus?” tanya Galih ke arah pemandu.
“Ada, A! Tadi pagi makan turis dua!” teriak Mang Dadang, lalu tertawa sendiri dengan suara serak.
Perahu berhenti di tempat sungai menyempit dan tebingnya hampir bertemu di atas. Air menetes dari stalaktit di langit-langit batu, terus-menerus, seperti gerimis yang tidak pernah berhenti.
“Hujan abadi,” kata Mang Dadang. “Katanya yang kena tetesannya bisa awet muda. Atau awet jomblo. Saya lupa yang mana.”
Satu tetes jatuh tepat di ubun-ubun Jenar. Ia memekik. Galih tertawa. Lalu satu tetes jatuh di hidung Galih, dan giliran Jenar yang tertawa sampai perahu bergoyang.
Dari sana mereka harus berenang, atau setidaknya mengapung, menyusuri celah sempit di antara batu untuk sampai ke kolam alami di baliknya. Mang Dadang membagikan pelampung oranye yang baunya seperti karet dan keringat orang lain.
Jenar memakai pelampungnya dengan wajah orang yang akan dieksekusi.
“Aku di sini aja,” katanya. “Kalian berenang. Aku nunggu di perahu.”
“Airnya tenang,” kata Galih. “Nggak dalem-dalem amat.”
“Kalau buat kamu nggak dalem. Buat aku, semua air yang lebih tinggi dari lutut itu dalem.”
Galih sudah turun ke air. Pelampung oranye mengapungkan dadanya. Rambutnya basah lagi, dan tetes hujan abadi jatuh di bahunya. Ia mengulurkan kedua tangan ke arah Jenar.
“Pegang bahu aku.”
“Galih.”
“Kaki kamu nggak usah gerak. Aku yang renang. Kamu tinggal pegangan.”
Jenar memandangi kedua tangan itu. Lalu air hijau toska yang tidak bisa ia lihat dasarnya. Lalu wajah Galih, yang menunggu dengan kesabaran yang membuatnya kesal.
“Kalau aku tenggelam, aku hantuin kamu seumur hidup.”
“Deal.”
Ia turun. Air dingin menyergap sampai ke dada dan ia memekik lagi, dan tangannya langsung mencengkeram bahu Galih dengan kekuatan yang ia sendiri tidak tahu ia punya.
“Aduh. Kuku kamu.”
“Maaf. Maaf. Jangan lepasin.”
“Aku nggak lepasin.”
Galih berenang pelan menyusuri celah batu, dan Jenar mengapung di belakangnya, tangan di bahunya, kaki terjulur lurus. Air mengalir lembut di sekitar mereka. Batu-batu di kiri kanan begitu dekat sampai Jenar bisa menyentuhnya, lumut hijau tua yang licin dan dingin.
Di satu tikungan arusnya sedikit lebih kuat. Tubuh Jenar terseret ke samping, dan tangannya lepas dari bahu Galih.
Hanya sedetik. Lalu lengan Galih sudah melingkar di pinggangnya, menariknya kembali, dan Jenar tiba-tiba mendapati dirinya berhadapan dengan Galih di tengah air hijau, dua pelampung oranye saling berbenturan, tangannya mencengkeram kaus basah di dada laki-laki itu.
Mereka diam.
Air menetes dari tebing di atas mereka. Tetes. Tetes. Tetes. Jatuh di rambut Jenar, di pipi Galih, di air di antara mereka, membuat lingkaran-lingkaran kecil yang saling bertabrakan.
Wajah Galih begitu dekat sampai Jenar bisa melihat butir air di bulu matanya.
“Aman?” tanya Galih. Suaranya pelan. Hampir bergema di antara dinding batu.
“Aman,” kata Jenar. Suaranya lebih pelan lagi.
Lengan di pinggangnya tidak mengendur. Tangannya di dada Galih tidak melepaskan. Mereka mengapung berdua di celah sempit itu, dikelilingi batu dan hujan yang tidak pernah berhenti, dan untuk beberapa detik tidak ada suara lain selain napas mereka dan tetes-tetes air.
“MANGGA, A! TEH! SUDAH SORE, PERAHU MAU BALIK!”
Suara Mang Dadang menggelegar dari balik tikungan, memantul di dinding batu seperti speaker masjid.
Mereka berdua tersentak. Pelampung mereka berbenturan lagi. Jenar tertawa, gugup dan keras, dan Galih memalingkan wajah ke tebing dengan telinga yang merah padam.
“Nanggung,” gumamnya.
“Apa?”
“Nggak. Ayo balik. Pegang bahu aku.”
Jenar memegang bahunya. Tapi sepanjang jalan kembali ke perahu, ia tidak lagi mencengkeramnya seperti orang tenggelam. Ia memegangnya seperti memegang sesuatu yang ia takut lepas.
Mereka sampai di hotel jam sembilan malam, masih setengah basah, bau sungai dan pelampung dan es kelapa, dan lapar setengah mati.
Mereka makan nasi goreng di warung tenda depan hotel, di kursi plastik yang sama rendahnya dengan meja, sambil berebut kerupuk. Galih bercerita soal Kiki, anak Fadlan yang umurnya empat tahun dan hafal semua jenis dinosaurus. Jenar bercerita soal Leknor yang sekali waktu datang ke sidang skripsinya dengan kemeja terbalik dan tidak ada yang berani memberitahunya.
Lalu mereka berjalan ke lorong lantai dua, lambat, karena kaki Jenar dan karena tidak ada yang ingin malam itu selesai.
Lampu lorong berkedip seperti biasa. Kamar sebelah sudah sunyi.
Di depan kamar dua-empat-satu, Jenar merogoh tas mencari kunci.
Lalu mereka mendengar geraman.
Pelan. Rendah. Dari ujung lorong yang gelap, dekat tangga darurat.
Jenar membeku. Ia menoleh perlahan. Di bawah lampu yang berkedip, sepasang mata menyala kekuningan. Anjing kampung. Bukan yang tidur di bawah perahu tadi pagi. Yang ini lebih besar, bulunya kusut, dan giginya terlihat.
“Galih,” bisik Jenar.
“Aku lihat.”
“Kenapa ada anjing di lantai dua?”
“Aku nggak tahu. Jangan lari.”
“Aku nggak bisa lari. Kakiku keseleo.”
Anjing itu menggonggong. Sekali. Keras. Bergema di seluruh lorong.
Jenar tidak berpikir. Tangannya menemukan kunci, memutarnya, membuka pintu, dan tangannya yang lain menemukan kaus Galih dan menariknya. Kuat. Ke dalam. Pintu terbanting di belakang mereka.
Gelap. Hanya cahaya lampu parkiran yang masuk lewat celah tirai.
Jenar bersandar di balik pintu dengan napas memburu. Tangannya masih mencengkeram kaus Galih. Tubuhnya menempel di tubuh Galih, dan ia baru menyadarinya karena ada sesuatu yang berdentum di bawah telinganya.
Detak jantung.
Cepat. Sangat cepat. Tidak beraturan, seperti seseorang yang memukul drum tanpa tahu lagunya.
Di luar, anjing itu menggonggong lagi. Lalu menggeram. Lalu terdengar bunyi kukunya di lantai keramik, menjauh.
Jenar tidak bergerak.
Ia bisa merasakan dada Galih naik turun. Bisa merasakan lengan Galih, yang entah kapan sudah melingkar di punggungnya, melindunginya dari pintu. Bisa mencium bau sungai di kausnya yang masih lembap.
Dan detak itu. Masih kencang. Tidak melambat meskipun anjingnya sudah pergi.
“Galih,” bisiknya ke dadanya. “Jantung kamu.”
“Iya.”
“Kencang banget.”
“Iya,” kata Galih. Suaranya serak. “Dari tadi siang juga gitu. Bukan karena anjing.”
Jenar mengangkat kepala.
Dalam gelap ia hanya bisa melihat separuh wajah Galih, garis rahangnya, kilat di matanya yang ditimpa cahaya lampu parkiran. Ia tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi ia bisa merasakan napasnya. Dekat. Hangat. Gemetar sedikit, sama seperti di dermaga.
Kali ini tidak ada suara di kepalanya. Tidak Hana. Tidak dirinya sendiri. Hanya detak jantung itu, di bawah telapak tangannya, berdentum seperti pertanyaan yang minta dijawab.
Jenar berjinjit dengan satu kaki.
Ia yang lebih dulu.
Ciuman itu canggung. Hidung mereka bertabrakan. Gigi Jenar menyenggol bibir bawah Galih. Galih mengeluarkan suara kaget kecil yang teredam, dan untuk sepersekian detik Jenar pikir ia sudah melakukan kesalahan paling bodoh dalam hidupnya.
Lalu tangan Galih naik ke tengkuknya. Pelan. Memiringkan kepala Jenar sedikit ke kiri, dan ia sendiri miring ke kanan, dan tiba-tiba semuanya pas.
Bibirnya lembut dan sedikit asin, seperti sungai dan kerupuk dan es kelapa. Ia menciumnya pelan, seperti tidak ingin buru-buru sampai di mana pun. Seperti memberi Jenar waktu untuk berubah pikiran. Jenar tidak berubah pikiran. Ia menggenggam kaus Galih lebih erat, menariknya lebih dekat, dan merasakan detak jantung itu berdentum semakin keras di antara dada mereka yang menempel.
Punggungnya menekan pintu. Kakinya yang terkilir mulai protes. Ia tidak peduli.
Galih menarik diri sesenti. Napasnya berat. Dahinya menempel di dahi Jenar.
“Jen,” bisiknya. “Kamu yakin? Kemarin kamu bilang...”
“Aku tahu apa yang kemarin aku bilang.”
“Terus...”
“Diem,” kata Jenar, dan menciumnya lagi.
Kali ini lebih dalam. Kali ini tidak ada yang canggung. Tangan Galih turun dari tengkuk ke pinggangnya, menahan berat badannya supaya kakinya tidak menanggung beban, dan Jenar melingkarkan kedua lengannya di leher Galih, jari-jarinya menemukan rambut yang masih setengah basah di tengkuknya. Dunia menyempit jadi gelap dan hangat dan bau sungai, dan detak jantung yang sudah tidak jelas lagi milik siapa.
Lalu seseorang menggedor pintu.
“HEH! ANJING SIAPA INI! HUS! HUS!”
Suara laki-laki. Keras. Tepat di balik pintu, di telinga Jenar.
Mereka melompat terpisah seperti tersengat listrik. Punggung Galih menabrak lemari. Jenar kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, dan Galih menangkap lengannya, lalu melepasnya seperti panas.
“Mbak! Mbak kamar dua-empat-satu!” Gedoran lagi. “Aman, Mbak? Tadi ada anjing masuk lewat tangga darurat! Udah saya usir! Mbak nggak digigit, kan?”
Jenar menatap Galih. Galih menatap Jenar. Dalam cahaya lampu parkiran yang samar, mereka berdua kelihatan seperti anak SMA yang ketahuan guru BK.
“Aman, Pak!” teriak Jenar. Suaranya naik satu oktaf. “Makasih, Pak!”
“Oke, Mbak! Kunci pintunya, ya! Mas yang dari kamar ujung tadi lihat nggak? Tadi saya lihat jalan sama Mbak!”
Galih menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Nggak tahu, Pak!” teriak Jenar.
“Oke! Selamat malam, Mbak!”
Langkah sepatu menjauh di lorong. Lalu sunyi.
Mereka berdiri berhadapan di dalam kamar yang gelap. Tidak ada yang bicara. Jenar bisa mendengar napasnya sendiri, masih cepat. Bisa merasakan bibirnya yang bengkak sedikit, dan panas yang menjalar dari leher sampai ke ujung telinga.
Galih menurunkan tangannya dari wajah. Rambutnya berantakan. Kausnya kusut di bagian dada, tempat tadi Jenar mencengkeramnya.
“Aku...” katanya.
“Iya.”
“Harusnya aku...”
“Iya.”
“Balik ke kamar.”
“Iya.”
Tapi mereka tidak bergerak. Mereka hanya berdiri, saling memandang dalam gelap, sampai Galih tertawa. Pelan, tidak percaya, dengan suara yang pecah di tengah.
“Nanggung banget,” katanya.
“Kamu udah bilang itu tadi siang.”
“Dua kali dalam sehari, Jen. Mang Dadang. Terus bapak satpam. Ini konspirasi.”
Jenar tertawa. Tertawa sampai ia harus bersandar di pintu lagi, sampai perutnya sakit, sampai kakinya berdenyut dan ia tidak peduli.
Galih melangkah ke pintu. Jenar menyingkir sedikit. Tangan Galih sudah di gagang pintu ketika ia berhenti dan menoleh.
Ia menatap Jenar lama. Lalu ia mengangkat tangan dan menyelipkan sehelai rambut yang lepas dari kepang Jenar ke belakang telinga. Kali ini jarinya menyentuh pipi. Tidak berhenti sesenti di udara. Menyentuh.
“Selamat malam, Jenar,” katanya pelan.
“Selamat malam.”
Ia membuka pintu, menoleh ke kiri dan kanan seperti maling, lalu keluar. Jenar mendengar langkahnya di lorong. Lalu bunyi sesuatu yang terbentur, dan umpatan kecil yang teredam.
Ia menutup pintu. Menguncinya. Bersandar di sana dan meluncur turun sampai duduk di lantai, kaki yang terkilir terjulur lurus.
Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Masih hangat. Masih sedikit asin.
Di nakas, kertas notes hotel masih tergeletak. (G.) Di kursi, kain pantai batik biru putih terlipat rapi. Di ponselnya, pesan dari Hana yang belum dibaca.
Hana : Gimana Green Canyon? Lo pakai pelampung kan?
Jenar tidak membalasnya.
Ia memikirkan detak jantung itu. Kencang, tidak beraturan, di bawah telapak tangannya. Dari tadi siang juga gitu. Bukan karena anjing.
Dua hari lagi.
Lalu ia pulang ke Bandung. Galih pulang ke Jakarta. Dan ia bahkan belum punya nomor teleponnya.
Jenar memeluk lututnya di lantai kamar yang bau kaporit dan pengharum ruangan rasa apel, dan untuk pertama kalinya sejak sebelas hari lalu, yang ia takutkan bukan lagi kehilangan Hanif.
Yang ia takutkan adalah hari Minggu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!