BAB 21 - Belum Lahir

0 dibaca

A

Hana pulang dengan dua koper, satu syal tebal yang tidak berguna di Jakarta, dan wajah yang langsung berubah waktu melihat Jenar di pintu kedatangan terminal tiga.

Ia tidak berlari. Ia berhenti. Di tengah arus orang yang keluar dengan troli dan pelukan dan teriakan, Hana berdiri membeku dengan pegangan koper di satu tangan dan ponsel di tangan yang lain, dan memandangi Jenar dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Lalu matanya berhenti. Di leher Jenar.

Di liontin hati kecil yang tergantung di luar kaus putih.

Hana menjatuhkan pegangan kopernya. Koper itu terguling ke samping dan menabrak troli seorang ibu yang langsung memarahinya dalam bahasa Jawa. Hana tidak mendengar. Ia berjalan ke arah Jenar dengan langkah yang semakin cepat, dan memeluknya sampai mereka berdua hampir terjungkal ke pagar pembatas.

“LO PAKAI DI LUAR,” bisiknya ke telinga Jenar. Tidak benar-benar berbisik. Setengah terminal mendengarnya.

“Han...”

“DI LUAR, JEN.”

“Iya, Han.”

“SEJAK KAPAN?”

“Ceritanya panjang.”

Hana melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Jenar. Matanya berkaca-kaca. Hidungnya merah, entah karena udara dingin di pesawat atau karena sesuatu yang lain.

“Lo ketawa,” kata Hana.

“Hah?”

“Muka lo. Lo ketawa. Beneran ketawa.” Hana menggeleng pelan. “Gue udah setahun lebih nggak lihat muka lo kayak gini.”

Jenar tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia memeluk sahabatnya lagi, dan membiarkan ibu yang trolinya ditabrak mengomel di belakang mereka.

Di belakang Jenar, dua orang lain menunggu di dekat pilar. Galih, dengan tangan di saku celana dan wajah yang terlalu sopan. Fadlan, dengan Kiki di gendongan dan wajah yang sama sekali tidak sopan. Wajah laki-laki yang sudah sepuluh bulan menunggu di tempat yang sama.

Hana melihat mereka dari balik bahu Jenar.

Ia melepaskan Jenar. Mengusap hidungnya. Berjalan ke arah pilar.

Ia berhenti di depan Galih dulu. Memandanginya lama. Dari atas sampai bawah. Seperti di bandara sepuluh bulan lalu, waktu ia bilang gue titip Jenar.

“Lo jagain dia,” katanya pelan.

Bukan pertanyaan.

Galih memandanginya. “Aku coba.”

Hana memandanginya lebih lama lagi. Lalu matanya bergeser ke Jenar di belakangnya. Ke liontin di luar kaus putih. Kembali ke Galih.

Ia mengangguk. Sekali. Wajahnya tidak lagi dingin seperti es buah yang tumpah. Tapi juga belum hangat. Sesuatu di antaranya. Seperti orang yang sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya dan belum selesai menghitung.

Lalu ia berbalik ke Fadlan.

Fadlan tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandanginya. Kiki di gendongannya juga memandanginya, dengan dahi berkerut, seperti menimbang apakah perempuan bersyal tebal ini berbahaya.

“Hai,” kata Hana.

“Hai,” kata Fadlan.

“Kamu kurusan.”

“Kamu juga.”

“Aku makan roti keju tiap hari.”

“Aku bawa rendang.”

Hana mengerjap. “Hah?”

“Di mobil. Aku bawa rendang. Buat kamu. Katanya kamu kangen rendang.” Fadlan menggaruk tengkuk. “Rendang padang, bukan bikinan Galih. Galih bikin rendang jadi arang.”

“Lan,” kata Galih di belakangnya.

Hana tertawa. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain. Ia menutup mulut dengan tangan dan tertawa dan matanya basah lagi.

Lalu Kiki, yang sudah selesai menimbang, mengulurkan dinosaurus plastik hijau ke arah wajah Hana.

“Ini Rexi,” katanya. “Dia galak. Tapi baik.”

Hana memandangi dinosaurus itu. Memandangi Kiki. Memandangi Fadlan.

“Hai, Rexi,” katanya.


Galih menerima paket itu di hari keempat kepulangan Hana, jam sembilan pagi, dari kurir yang berdiri di depan pagar besi hijau dengan motor yang mesinnya masih menyala.

Kotak kardus kecil. Seukuran kotak sepatu anak-anak. Dibungkus plastik bening berkali-kali dan diikat tali rafia merah. Di sampingnya, tulisan tangan dengan spidol hitam, huruf kapital yang goyah.

KIRIM KE: A GALIH. JL KENANGA 12 CILANDAK JKT. DARI: PERAK TASIK PANGANDARAN. HATI-HATI BARANG BERHARGA!!! JANGAN DIBANTING!!!

Galih memandangi kotak itu di tangannya.

Satu setengah minggu. Bukan tiga.

Ia menandatangani tanda terima dengan tangan yang tidak terlalu stabil. Kurir itu pergi. Galih berdiri di teras dengan kotak di tangan dan jantung yang berdebar seperti anak SMA.

Jenar di kantor. Hana dan Fadlan membawa Kiki ke Ancol. Rumah sepi.

Ia membawanya ke ruang kerja. Menutup pintunya. Duduk di sofa kulit yang retak.

Ia menggunting tali rafia. Membuka lapisan plastik bening, satu, dua, tiga, empat. Seperti membuka bawang. Di dalamnya, kotak kardus yang lebih kecil. Di dalamnya lagi, kotak beludru merah tua seukuran telapak tangan.

Dan selembar kertas, dilipat dua, dengan tulisan tangan yang sama goyahnya.

A Galih. Cincinnya Ibu bikin cepet, soalnya Ibu takut Aa berubah pikiran. Ibu kerjain sendiri, nggak nyuruh tukang. Hatinya di dalem, pas di tempat jari manis nempel. Jadi yang pakai tahu, tapi orang lain nggak. Kayak kalungnya. Mudah-mudahan si Teteh mau. Kalau nggak mau, Aa balik lagi ke Pangandaran, Ibu kasih kacang rebus gratis. Salam, Bu Enok.

Galih membaca kertas itu dua kali. Lalu tertawa. Sendirian di ruang kerja. Sampai matanya basah.

Ia membuka kotak beludru merah.

Cincin perak. Tipis. Polos di bagian luar, tanpa ukiran, tanpa batu. Mengilap di bawah lampu meja gambar Leknor. Ia mengangkatnya. Memutarnya pelan di antara ibu jari dan telunjuk.

Di bagian dalam, di lengkungan yang akan menyentuh kulit, ada ukiran. Sangat kecil. Hanya bisa dilihat kalau cincin itu diangkat ke cahaya dan diputar pada sudut yang tepat.

Hati kecil. Sama persis dengan liontin di kalung. Bentuknya. Ukurannya, diperkecil. Garis tepinya yang sedikit tidak simetris di sisi kiri, karena Bu Enok membuat semuanya dengan tangan.

Galih memandanginya lama.

Lalu ia memasukkan cincin itu kembali ke kotak beludru. Menutupnya. Memasukkan kotak itu ke saku dalam jaket denim yang tergantung di sandaran kursi meja gambar. Jaket yang ia pakai hampir setiap hari. Saku yang ada ritsletingnya.

Ia mengunci ritsletingnya.

Malam ini, pikirnya. Setelah Hana tidur. Di teras belakang. Di bawah lampu neon yang berkedip. Ia akan mencoret aturan nomor enam dulu. Lalu ia akan bertanya. Lalu ia akan mendengarkan sampai habis. Lalu apa pun jawabannya, ia akan mengeluarkan kotak beludru merah itu dari saku jaketnya.

Ia menepuk saku jaket itu. Sekali. Memastikan kotaknya ada di sana.

Malam ini.


Makan malam di rumah Kenanga dua belas hari itu adalah makan malam paling ramai sejak tahlilan.

Hana, Fadlan, Kiki. Jenar dan Galih. Lima orang di meja makan bundar yang hanya punya empat kursi, jadi Kiki duduk di pangkuan ayahnya, dan kemudian di pangkuan Hana, dan kemudian di pangkuan Jenar, dan kemudian di lantai di bawah meja dengan Rexi dan tiga dinosaurus lain, mengadakan rapat dinosaurus yang sangat penting.

Rendang padang dari rumah makan langganan di Cikini. Nasi putih. Sayur daun singkong. Sambal hijau yang terlalu pedas sampai Fadlan menangis dan Hana menertawakannya dan Fadlan bilang itu bukan karena sambal.

Galih menyeduh kopi untuk semua orang setelah makan. Senior. Bahkan untuk Kiki, satu cangkir kecil susu cokelat dengan setetes kopi di atasnya, supaya ia merasa dewasa.

“Ini kopi apa, Om Kopi?”

“Senior.”

“Kenapa namanya Senior?”

Galih memandangi Jenar di seberang meja. “Tante Gambar yang kasih nama.”

Kiki menoleh ke Jenar dengan wajah sangat serius. “Kenapa Tante Gambar kasih nama Senior?”

“Karena Tante Gambar pernah harus jadi senior,” kata Jenar. “Padahal belum siap.”

Kiki mempertimbangkan jawaban itu. Lalu mengangguk. “Kayak Stego.”

“Kayak Stego,” kata Jenar.

Di sebelahnya, Hana memandangi Jenar. Lalu Galih. Lalu kembali ke Jenar. Wajahnya aneh. Seperti orang yang sedang menonton film dan baru sadar ia salah menebak siapa penjahatnya.


Setelah makan, Kiki tertidur di sofa ruang tengah dengan kain batik cokelat keemasan di atasnya. Hana dan Fadlan keluar ke teras belakang. Jenar dan Galih mencuci piring.

Jendela di atas wastafel menghadap langsung ke teras belakang.

Mereka tidak berencana menguping. Sungguh tidak. Tapi jendela itu terbuka, karena dapur panas setelah memasak air untuk kopi. Dan teras belakang hanya lima meter jauhnya. Dan lampu neon di atas pintu belakang menyala terang, lalu padam, lalu menyala lagi, sehingga siluet dua orang di tangga semen terlihat dan hilang dan terlihat lagi.

Jenar mencuci. Galih mengeringkan. Mereka berdua mencuci dan mengeringkan sangat pelan.

“...kamu nggak harus jawab sekarang,” kata suara Fadlan. Pelan. Sedikit bergetar. “Aku tahu kamu masih di Belanda sampai tahun depan. Aku tahu aku duda. Aku tahu aku punya anak umur lima tahun yang ngomong sama dinosaurus. Aku tahu semua itu.”

Hening.

Jenar berhenti mencuci. Galih berhenti mengeringkan.

“Tapi aku harus bilang,” lanjut Fadlan. “Soalnya aku udah sepuluh bulan nggak bilang. Terus tiap malem aku video call kamu jam dua belas, terus aku nggak bilang. Terus aku kirim kopi Lembang ke Belanda lewat pos yang harganya lebih mahal dari kopinya, terus aku nggak bilang.”

“Lan...”

“Aku sayang kamu, Na.”

Hening. Lama sekali. Neon di atas pintu berkedip.

Jenar memegang piring basah di atas wastafel dan lupa bernapas.

Di sebelahnya, Galih meletakkan lap piring di bahunya. Memandangi jendela. Wajahnya sangat serius, seperti orang yang menonton final Piala Dunia.

“Aku tahu,” kata suara Hana akhirnya.

“Kamu tahu?”

“Kamu kirim kopi Lembang ke Belanda, Lan. Harga ongkos kirimnya tiga ratus ribu. Buat dua ratus gram kopi. Semua orang di asrama aku tahu.”

Fadlan tertawa. Pendek. Gugup.

“Terus?” tanyanya.

Hening lagi.

Lalu suara Hana. Pelan. Hampir tidak terdengar dari dapur.

“Terus aku juga.”

Siluet di tangga semen bergerak. Satu kepala miring ke bahu yang lain. Neon menyala. Padam. Menyala.

Di dapur, Galih menoleh ke Jenar.

Jenar menoleh ke Galih.

Mereka saling pandang di atas wastafel, dengan piring basah dan lap di bahu, seperti dua anak kecil yang baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat.

“Lembang itu luas,” bisik Galih.

Jenar tertawa ke dalam tangannya. Piring di tangannya hampir jatuh. Galih menangkapnya.

Di jendela rumah di belakang, di balik pagar, lampu dapur Bu Ratmi menyala.


Hana menginap malam itu. Di kamar Jenar. Di kasur single yang terlalu kecil untuk dua orang dewasa, persis seperti di SMP, waktu Hana menginap setiap Sabtu malam dan mereka tidur berdempetan sambil membicarakan cowok-cowok yang tidak pernah bicara pada mereka.

Lampu mati. Hanya cahaya lampu jalan dari jendela kecil yang menghadap ke pohon mangga.

“Jen.”

“Hm.”

“Gue pacaran sama Fadlan.”

“Gue tahu. Gue denger dari dapur.”

“LO NGUPING?”

“Jendelanya kebuka.”

“Galih juga?”

“Galih yang paling serius nguping.”

Hana menutup wajahnya dengan bantal dan mengerang. Jenar tertawa sampai kasurnya berguncang.

Setelah tawa mereka reda, mereka berbaring telentang, memandangi langit-langit. Noda bekas bocor berbentuk pulau di pojok dekat AC.

“Noda itu masih ada,” kata Hana.

“Masih.”

“Dari SMP.”

“Kak Leknor nggak pernah benerin.”

Hening. Jam dinding dari ruang tengah. Napas Kiki yang tertidur di sofa, samar-samar dari balik pintu yang terbuka sejari.

“Jen,” kata Hana. Suaranya berbeda sekarang. Pelan. Hati-hati.

“Hm.”

“Tadi Fadlan cerita sesuatu.”

“Selain dia sayang lo?”

“Selain itu.” Hana memutar badan, berbaring miring menghadap Jenar. Dalam cahaya lampu jalan yang redup, wajahnya serius. Lebih serius dari yang Jenar lihat sejak telepon di malam terakhir di Pangandaran. “Soal Galih.”

Jenar merasakan sesuatu di perutnya mengencang.

“Soal apa?”

Hana membuka mulut. Menutupnya lagi. Menggigit bibir.

“Fadlan minta gue janji nggak cerita,” katanya. “Katanya Galih mau ngomong sendiri. Katanya Galih udah janji ke Fadlan dia bakal ngomong sendiri. Segera.”

“Ngomong soal apa?”

Hana tidak menjawab. Ia memandangi Jenar lama sekali. Matanya basah.

“Jen,” katanya. “Malem terakhir di Pangandaran. Malem gue telepon lo. Pas lo bilang...” Ia berhenti. Menelan ludah. “Pas lo bilang kalimat itu.”

Jenar tidak bergerak.

“Lo yakin,” kata Hana sangat pelan, “Galih nggak denger?”

Jenar memandangi sahabatnya.

“Kamarnya di ujung lorong, Han.”

“Iya, tapi...”

“Dia udah pamit. Dia udah balik ke kamarnya. Dia bilang mau ngepak.” Jenar merasakan jantungnya berdebar aneh. Tidak cepat. Berat. “Dia nggak mungkin denger.”

Hana memandanginya. Lalu memejamkan mata.

“Jen,” katanya. “Lo harus ngomong sama dia. Soal malem itu. Soal semuanya. Secepatnya.”

“Kenapa? Han, Fadlan cerita apa?”

“Gue nggak bisa. Gue udah janji.”

“Hana.”

“Gue janji sama Fadlan, Jen. Dan Fadlan janji sama Galih.” Hana membuka matanya. Air mata mengalir ke samping, ke bantal. “Gue cuma bisa bilang, lo harus ngomong. Lo harus jelasin ke dia kenapa lo bilang kalimat itu. Gimana gue maksa lo. Gimana lo nangis abis itu. Semuanya.”

Jenar memandangi langit-langit. Noda berbentuk pulau.

Aturan lo sendiri yang ngelarang lo nanya hal yang paling pengin lo tahu.

“Nanti,” katanya. “Aku bakal ngomong. Nanti. Pas waktunya pas.”

“Jen...”

“Kami baru baikan, Han. Baru tiga minggu. Kami sarapan bareng tiap pagi. Kemarin dia dateng ke kedai Kemang dan pesen latte buat kursi Kak Astri.” Jenar menutup mata. “Aku nggak mau ngerusak itu. Belum.”

Hana diam lama sekali.

“Janji sama gue,” katanya akhirnya. “Lo bakal ngomong. Sebelum gue balik ke Belanda.”

“Kapan lo balik?”

“Minggu depan. Selasa.”

“Oke,” kata Jenar. “Sebelum Selasa.”

“Janji?”

“Janji.”

Hana memandanginya lama. Lalu memeluknya. Di kasur single yang terlalu kecil, di bawah noda berbentuk pulau yang tidak pernah diperbaiki.

Jenar tidak tahu Hana menangis sampai subuh. Ia sudah tertidur, dengan liontin hati kecil di genggamannya, dan tidak mendengar sahabatnya berbisik ke langit-langit yang gelap, berkali-kali, maaf, Jen. Maaf. Gue yang bikin lo ngomong gitu. Maaf.


Mereka memutuskan menyumbangkan perlengkapan bayi di hari Sabtu, dua hari setelah Hana pulang ke rumah orang tuanya di Rawamangun.

Tidak ada yang mengusulkannya secara langsung. Mereka hanya duduk di lantai kamar hijau pupus di Sabtu pagi, setelah sarapan bareng, dengan pintu terbuka dan cahaya dari jendela, memandangi lemari kecil dengan tiga laci yang dilabeli Leknor.

“Baju-bajunya,” kata Jenar.

“Iya.”

“Popoknya belum dibuka.”

“Iya.”

“Kereta dorongnya masih di kardus di gudang.”

“Aku tahu.”

Mereka diam.

“Kak Hanif pernah kirim foto,” kata Jenar setelah beberapa saat. “Boks bayi kosong di rumah sakit. Donasi dari keluarga pasien. Katanya ruang bayi di sana sering kekurangan. Selimut. Baju. Popok. Buat bayi-bayi yang lahir prematur dan keluarganya nggak mampu.”

Galih memandangi lemari kecil itu.

“Kak Astri pasti mau,” katanya pelan.

“Kak Leknor juga.”

“Tapi nggak semuanya.”

Jenar menoleh.

“Kaus kaki rajutan,” kata Galih. “Yang satunya lebih panjang. Sama buku hariannya. Sama boksnya.” Ia memandangi boks jati di tengah kamar, menghadap jendela. “Boksnya kita yang rakit.”

“Nggak semuanya,” setuju Jenar.

Mereka memilah pelan-pelan. Baju-baju bayi yang masih ada label harganya. Popok newborn yang belum dibuka. Tisu basah, minyak telon, sisir bayi. Selimut-selimut kecil dari katun. Semua dimasukkan ke kardus-kardus bekas pindahan yang Jenar lipat dari gudang.

Yang tidak disumbangkan, mereka letakkan di rak buku rendah. Kaus kaki rajutan krem yang satunya lebih panjang. Buku harian kehamilan bersampul kain batik. Surat Astri. Baju terusan putih dengan gambar awan kecil di dada, yang Jenar peluk di lantai waktu mereka pertama membuka kamar ini.

Jenar menelepon Hanif. Hanif bilang ia akan mengatur semuanya dengan bagian perinatologi. Ia bilang ruang bayi di rumah sakitnya punya daftar kebutuhan. Ia mengirimkan daftarnya lewat pesan. Selimut. Topi bayi. Kaus kaki. Baju newborn ukuran prematur, yang lebih kecil dari ukuran newborn biasa.

“Lebih kecil dari ukuran biasa,” gumam Jenar, memandangi layar ponselnya.

Galih membaca daftar itu dari balik bahunya.

Lalu ia menoleh ke gudang. Ke tiga kardus besar di pojok yang masih tersegel, yang belum pernah dibuka sejak diantar kurir setahun lalu. Kereta dorong. Sterilizer botol susu. Ayunan bayi elektrik. Astri membelinya di toko perlengkapan bayi di sebuah mall di Senayan, di minggu ketika kehamilannya masuk bulan keenam. Struk pembeliannya masih ditempel di salah satu kardus dengan selotip bening.

“Tokonya bisa tukar,” kata Galih. “Kalau masih segel. Kak Astri pernah cerita. Dia tukar sepatu bayi yang kekecilan.”

Jenar memandangi kardus-kardus itu. Lalu daftar di ponselnya. Baju newborn ukuran prematur.

“Kita tukar,” katanya.


Toko perlengkapan bayi itu ada di lantai dua sebuah mall di Senayan. Terang. Dinding putih. Rak-rak penuh baju-baju kecil warna pastel dan boneka-boneka lembut dan kereta dorong yang dipajang seperti mobil di ruang pamer.

Galih mendorong troli dengan tiga kardus besar di atasnya. Jenar berjalan di sebelahnya dengan struk-struk di tangan.

Ia memakai jaket denim. Hari itu Jakarta mendung dan AC mall terlalu dingin. Saku dalam jaket itu ada ritsletingnya. Terkunci. Jenar tidak tahu apa isinya.

Mereka berdiri di depan kasir. Seorang perempuan muda berseragam merah muda dengan senyum yang terlalu ceria untuk jam sebelas pagi.

“Selamat siang, Kak! Ada yang bisa dibantu?”

“Mau tukar barang,” kata Jenar. Menyerahkan struk. “Masih segel semua.”

Kasir itu memeriksa struk. Memeriksa kardus-kardus. Mengangguk-angguk.

“Bisa, Kak. Mau tukar dengan apa?”

Jenar mengeluarkan ponselnya. Membuka daftar dari Hanif. Membacakannya. Selimut katun. Topi bayi. Kaus kaki. Baju newborn ukuran prematur.

Kasir itu mencatat dengan semangat. Lalu berhenti. Mengangkat kepala.

“Ukuran prematur, Kak?”

“Iya.”

“Oh.” Senyumnya sedikit berubah. Lebih lembut. Lebih hati-hati. “Kami punya, Kak. Tapi nggak banyak. Nanti saya ambilin dari gudang, ya.”

Ia pergi ke gudang di belakang. Lima menit. Sepuluh. Jenar dan Galih berdiri di depan kasir. Di sebelah mereka, pasangan muda dengan perut istri yang sudah sangat besar sedang berdebat soal warna kereta dorong. Biru atau abu-abu. Suaminya mau abu-abu. Istrinya mau biru. Mereka tertawa dan berdebat dan tertawa lagi.

Jenar memandangi mereka.

Galih memandangi Jenar memandangi mereka.

Kasir kembali dengan tumpukan baju-baju kecil di tangan. Sangat kecil. Lebih kecil dari baju terusan putih dengan gambar awan di rak buku rendah di kamar hijau pupus. Ia meletakkannya di atas meja kasir satu per satu. Menghitung. Mencocokkan dengan nilai tukar.

Lalu ia memasukkan semuanya ke kantong kertas warna merah muda dengan logo toko. Melipat ujungnya. Menempelkan stiker kecil berbentuk hati.

“Sudah, Kak,” katanya. Tersenyum. Lalu, dengan nada yang sangat biasa, seperti menanyakan cuaca, ia bertanya, “Buat bayinya umur berapa, Kak? Biar saya masukin kartu ucapan yang cocok. Ada promo gratis kartu.”

Jenar tidak bisa bicara.

Ia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.

Di sebelahnya, Galih mengulurkan tangan dan mengambil kantong kertas merah muda itu dari meja kasir. Pelan. Dengan dua tangan.

“Belum lahir,” katanya.

Kasir itu tersenyum lebar. “Oh, selamat ya, Kak! Mudah-mudahan lancar lahirannya!”

Ia memasukkan sebuah kartu kecil ke dalam kantong. Kartu dengan gambar bangau yang membawa bayi di paruhnya. Selamat datang, si Kecil!

Galih mengangguk. “Makasih, Mbak.”

Jenar tidak meralat.

Galih tidak meralat.

Mereka berjalan keluar dari toko itu dengan kantong kertas merah muda di tangan Galih dan troli kosong yang didorong Jenar. Tidak bicara. Tidak saling memandang. Melewati pasangan muda yang masih berdebat soal warna kereta dorong. Melewati rak-rak baju pastel dan boneka lembut. Melewati pintu otomatis yang terbuka dengan bunyi ding yang terlalu ceria.

Di luar toko, di lorong mall yang terang dan ramai dan dingin, Jenar berhenti.

Ia berdiri di tengah lorong. Orang-orang berbelok di sekitarnya. Seorang anak kecil dengan balon biru berlari melewatinya dan hampir menabrak troli.

Galih berhenti di sebelahnya.

“Belum lahir,” ulang Jenar. Pelan. Ke arah lantai marmer mall yang mengilap.

“Iya.”

“Kenapa kamu bilang gitu?”

Galih memandangi kantong kertas merah muda di tangannya. Stiker berbentuk hati di ujungnya.

“Karena bener,” katanya. “Dia belum lahir. Dia nggak sempet lahir.”

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak mau bilang udah meninggal,” lanjut Galih. Suaranya pecah di tengah. “Ke mbak kasir itu. Di toko itu. Di depan orang yang lagi berantem soal warna kereta dorong. Aku nggak mau jadi orang yang bikin semua orang di toko itu diem.”

Jenar memandanginya.

“Jadi aku bilang belum lahir,” kata Galih. “Soalnya itu juga bener. Dan di toko itu, cuma buat lima detik, dia masih bisa jadi bayi yang belum lahir. Bukan bayi yang udah nggak ada.”

Jenar tidak bisa menahan air matanya. Tidak di tengah lorong mall di Senayan, dengan orang-orang yang berbelok di sekitarnya dan anak kecil dengan balon biru dan pengumuman diskon dari speaker di langit-langit.

Galih tidak memeluknya. Tidak di sini. Ia hanya berdiri di sebelahnya. Bahu mereka bersentuhan. Kantong kertas merah muda di tangannya. Jaket denim dengan ritsleting yang terkunci di saku dalam.

Ia menunggu sampai Jenar selesai.


Lima menit kemudian, di ujung lorong lantai tiga, Jenar mengusap wajahnya dengan punggung tangan untuk yang terakhir kali dan menarik napas panjang.

“Aku butuh kopi,” katanya.

“Di rumah aja. Aku seduhin.”

“Nggak. Sekarang.” Ia menunjuk ke ujung lorong. Sebuah kafe dengan plang lampu neon warna hijau dan kursi-kursi rotan dan tanaman gantung. Brew & Bloom. “Yang itu. Katanya baru buka bulan lalu.”

Galih memandangi kafe itu dengan wajah seorang ahli yang dipaksa masuk ke toko barang palsu.

“Kopinya pasti jelek,” katanya.

“Justru itu.” Jenar tersenyum. Kecil. Matanya masih merah. “Aku mau lihat muka kamu pas minum kopi jelek.”

Galih memandanginya. Lalu, pelan, tersenyum miring di satu sisi.

“Oke,” katanya. “Satu kopi jelek.”

Mereka berjalan ke kafe itu. Berdampingan. Jenar mendorong troli kosong. Galih membawa kantong kertas merah muda. Di saku dalam jaket denimnya, kotak beludru merah kecil terkunci di balik ritsleting.

Malam ini, pikirnya. Setelah kopi jelek. Setelah pulang. Di teras belakang. Di bawah lampu neon yang berkedip. Aku coret aturan nomor enam. Aku nanya. Aku dengerin sampai habis. Terus aku kasih.

Ia menepuk saku jaketnya. Sekali.

Mereka masuk ke kafe. Kursi rotan. Tanaman gantung. Meja kayu bundar kecil di dekat jendela yang menghadap atrium mall. Seorang barista muda dengan celemek hijau dan rambut dicat ungu tersenyum dari balik bar.

Jenar duduk. Galih duduk di seberangnya. Kantong kertas merah muda di kursi di sebelahnya.

Dari speaker kecil di sudut langit-langit, lagu yang sedang diputar berakhir.

Jeda sebentar. Hening. Bunyi mesin espresso dari balik bar.

Lalu lagu berikutnya dimulai.

Dua ketukan.

Jenar mengenalinya dalam dua ketukan. Galih juga.

Mereka saling pandang di atas meja kayu bundar kecil.

Lagu yang diputar enam kali di kedai Kang Ujang, di gang di belakang pasar ikan, hampir dua tahun lalu. Lagu yang dinyanyikan pelayan berkerudung hitam dengan seluruh jiwa, mata terpejam di bagian reff, tangan yang memegang lap terangkat ke udara. Lagu yang Galih senandungkan sumbang di atas motor pinjaman di jalan lurus di antara sawah.

Lagu tentang orang yang tahu ia akan disakiti. Dan memilih orang itu tetap.

Kalau mau disakiti, buat apa mau.

Perasaan nggak bisa milih, Galih.

Jenar tersenyum. Tidak bisa ditahan.

Galih tidak tersenyum. Ia memandangi speaker kecil di sudut langit-langit. Lalu memandangi Jenar. Lalu kantong kertas merah muda di kursi di sebelahnya, dengan kartu bergambar bangau di dalamnya. Selamat datang, si Kecil!

Tangannya naik. Tanpa sadar. Ke saku dalam jaket denimnya.

Ke ritsleting yang terkunci.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk