BAB 22 - Lagu yang Diputar Terlalu Sering

0 dibaca

A

Lagu itu masih di bait pertama waktu barista berambut ungu meletakkan dua cangkir di meja mereka.


”Salahkah ku nekat dekatimu?
Karena ku tak punya Jurus Jitu
Tolong ajari Aku
Ajari tuk dapatkan hatimu
Masihkah ada dia dihatimu?
Karena kau hanya diam membisu
Ataukah ada ragu?
Tak mengapa pikir saja dulu”

Kopi hitam untuk Galih. Latte untuk Jenar. Di permukaan latte itu, gambar busa susu berbentuk daun yang sedikit miring, seperti ditarik oleh tangan yang masih belajar.

“Selamat menikmati, Kak,” kata barista itu. Lalu kembali ke bar, bersenandung mengikuti lagu.

Galih mengangkat cangkirnya. Menghirup aromanya. Menyesap.

Jenar memperhatikannya. Menunggu.

Kening Galih berkerut. Sedikit. Lalu lebih dalam. Lalu ia meletakkan cangkir itu di tatakan dengan hati-hati, seperti meletakkan barang bukti.

“Jangan,” kata Jenar.

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Muka kamu udah.”

Galih memandangi cangkirnya dengan kekecewaan yang dalam. “Gilingannya kehalusan. Airnya kepanasan. Bijinya udah apek. Mungkin dibuka dua minggu lalu terus nggak ditutup rapat.”

“Kayak lagu bagus tapi penyanyinya fals?”

Galih mengangkat kepala.

Jenar tersenyum. Kalimat itu. Kedai Kang Asep. Gang di belakang pasar ikan. Pizza setengah seafood setengah jamur.

Galih memandanginya lama. Lalu, pelan, sudut bibirnya naik.

“Kamu inget,” katanya.

“Aku inget semuanya.”

Di speaker kecil di sudut langit-langit, lagu itu berlanjut. Suara penyanyinya lembut dan sedikit serak, bernyanyi tentang seseorang yang tahu suatu hari dunianya akan dihancurkan.

Jenar memandangi latte di depannya. Gambar daun yang miring.

Ia memikirkan kantong kertas merah muda di kursi sebelah Galih. Kartu bergambar bangau di dalamnya. Selamat datang, si Kecil! Ia memikirkan pasangan muda yang berdebat soal warna kereta dorong. Tertawa. Berdebat. Tertawa lagi. Perut istrinya yang sangat besar.

Ia memikirkan Hana. Di kasur single. Di bawah noda berbentuk pulau.

Lo harus ngomong sama dia. Secepatnya. Janji?

Janji.

Ia punya waktu sampai Selasa. Empat hari.

Tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak tahu bagaimana cara membuka pintu yang sudah hampir dua tahun ia kunci sendiri. Aturan nomor enam. Jangan bahas pantai. Tulisannya sendiri. Di pintu kulkas. Tidak dicoret.

Ia tidak tahu bagaimana cara bilang aku bohong di telepon itu tanpa bilang aku suka kamu dari hari pertama. Tidak tahu bagaimana cara bilang aku nggak pernah lepas kalung ini tanpa bilang aku nunggu kamu balik, dan kamu nggak pernah balik.

Jadi ia melakukan apa yang selalu ia lakukan waktu takut. Ia mendekat dari samping. Dengan lelucon. Dengan pertanyaan yang pura-pura ringan, seperti menanyakan cuaca. Supaya kalau jawabannya menyakitkan, ia bisa tertawa dan bilang becanda.

“Galih.”

“Hm.”

“Boleh nanya?”

“Boleh.”

Jenar memutar cangkir latte-nya di atas tatakan. Pelan. Gambar daun itu berputar.

“Kalau misalnya,” katanya, “suatu hari nanti. Setelah setahun. Salah satu dari kita nikah sama orang lain.” Ia tersenyum ke arah cangkirnya. “Gimana?”


Galih tidak menjawab.

Jenar menunggu. Satu detik. Dua. Tiga.

Ia mengangkat kepala.

Wajah Galih tidak lagi tersenyum. Wajahnya tidak lagi apa-apa. Datar. Tertutup. Seperti pintu besi yang dibanting.

Tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang retak.

“Kenapa kamu nanya itu?” tanyanya. Suaranya sangat pelan.

“Cuma nanya.”

“Kenapa?”

“Iseng.” Jenar tertawa kecil. Tawa yang terdengar salah bahkan di telinganya sendiri. “Tadi di toko ada pasangan yang lagi berantem soal kereta dorong. Terus aku mikir aja. Kita kan cuma setahun di rumah itu. Terus abis itu...”

“Terus abis itu kamu nikah.”

Jenar berhenti.

“Bukan gitu,” katanya. “Aku bilang salah satu dari kita.”

“Siapa?”

“Apa?”

“Sama siapa?” Galih tidak berkedip. “Kamu nikah sama siapa, Jen?”

“Aku nggak bilang aku...”

“Kamu nanya kalau salah satu dari kita nikah sama orang lain. Aku nggak punya siapa-siapa.” Suaranya tetap pelan. Terlalu pelan. Seperti orang yang menahan sesuatu yang sangat besar di belakang gigi. “Jadi yang kamu maksud kamu.”

“Galih...”

“Kak Hanif udah putus sama tunangannya.”

Kalimat itu jatuh di atas meja kayu bundar kecil seperti gelas yang pecah.

Jenar memandanginya. Tidak mengerti. Lalu, pelan, mulai mengerti.

“Kamu pikir...” Ia menggeleng. “Galih, bukan...”

“Tujuh tahun, kan?” Galih tertawa. Pendek. Kering. Tidak ada yang lucu. “Tujuh tahun kamu nunggu dia. Sekarang dia bebas. Dia ngajak kamu ngopi. Dia duduk di kursi Kak Astri. Terus sekarang kamu nanya aku gimana kalau salah satu dari kita nikah sama orang lain.”

“Itu bukan...”

“Kamu mau aku jawab apa, Jen? Kamu mau aku bilang selamat? Kamu mau aku bilang nggak apa-apa, aku ngerti?”

Tangan Galih di atas meja mengepal. Jenar melihatnya. Buku-buku jarinya memutih.

Di speaker di sudut langit-langit, lagu itu sampai ke reff. Penyanyinya bernyanyi lebih keras sekarang. Tentang seseorang yang, kalau memang harus disakiti, ingin disakiti oleh orang yang dia pilih.

“Kamu selalu gitu,” kata Galih.

Jenar merasakan napasnya berhenti.

“Kamu selalu main-main sama perasaan orang.”

Seluruh kafe tiba-tiba terasa sangat jauh. Kursi rotan. Tanaman gantung. Barista berambut ungu yang berhenti bersenandung. Sepasang remaja di meja sebelah yang menoleh. Dan nada lagu Jurus Jitu tidak sesuai dengan situasi mereka saat ini.

“Apa?” bisik Jenar.

“Kamu nanya kayak nanya cuaca. Kamu senyum. Kamu bilang iseng.” Galih tidak lagi pelan sekarang. Suaranya naik. Retak di tengah. “Kamu pakai kalung aku dua tahun, Jen. Di balik kerah. Tiap hari. Kamu nyimpen kartu aku. Kamu tidur di pelukan aku di karpet. Kamu nyium aku di teras. Terus kamu nanya gimana kalau aku nikah sama orang lain sambil ngaduk-ngaduk latte.”

“Aku nggak bilang aku...”

“Kamu selalu gitu,” ulang Galih. “Dari dulu.”

“Dari dulu apa?”

Galih memandanginya.

Jenar melihat wajahnya berubah. Pintu besi itu tidak lagi tertutup. Pintu itu hancur. Di baliknya, sesuatu yang sudah hampir dua tahun terkunci. Sesuatu yang besar dan tua dan sangat, sangat sakit.

“Dari Pangandaran,” kata Galih.

Aturan nomor enam.

Di pintu kulkas, di rumah Kenanga dua belas, tulisan tegak dan kecil-kecil. Tidak dicoret.

Dilanggar.

Jenar merasakan sesuatu naik di tenggorokannya. Panas. Tajam. Hampir dua tahun terkunci di sana, sejak lorong lantai dua dengan lampu berkedip dan kamar di ujungnya yang kosong. Sejak satu centang abu-abu. Sejak kakinya diinjak di bawah meja di Casa Lidia.

“Pangandaran,” ulangnya. Suaranya bergetar. “Kamu mau ngomongin Pangandaran?”

“Iya.”

“Oke.” Jenar meletakkan kedua tangannya di atas meja. Mencondongkan tubuh. “Ayo ngomongin Pangandaran. Siapa yang pergi, Galih?”

Galih tidak menjawab.

“Siapa yang pergi tengah malem tanpa satu kata?” Suaranya naik. Ia tidak peduli. Remaja di meja sebelah berhenti berbisik. “Siapa yang check-out jam dua belas malem padahal kamarnya dibayar sampai besok siang? Siapa yang ninggalin belanjaannya di kamar aku terus nggak balik ngambil? Siapa yang blokir nomor aku di jalan pulang? Satu centang, Galih. Satu centang abu-abu. Aku lihat itu tiap malem selama dua bulan. Aku kirim pesan, terus satu centang. Aku telepon, terus bunyinya putus sendiri.”

“Jen...”

“Aku pikir aku salah apa. Aku pikir aku bego. Aku pikir aku cuma cewek patah hati yang kamu temuin di pantai, terus kamu bosen, terus kamu pulang ke Jakarta ke sepuluh kedai kamu, terus kamu sadar aku cuma kesalahan.” Air matanya turun. Ia tidak mengusapnya. “Terus kamu masuk ke Casa Lidia dan injek kaki aku di bawah meja. Terus kamu panggil aku Mbak. Terus kamu bilang anggap aja itu nggak pernah ada.”

“Karena kamu yang bilang aku cuma pengisi waktu!”

Kafe itu sunyi.

Barista berambut ungu membeku di balik bar dengan portafilter di tangan. Remaja di meja sebelah tidak lagi pura-pura tidak mendengar. Di speaker di sudut langit-langit, lagu itu terus diputar, tidak peduli, lembut dan serak, tentang orang yang memilih orang yang akan menyakitinya.

Jenar tidak bergerak.

“Apa?” bisiknya.

Galih memandanginya. Napasnya memburu. Wajahnya merah. Matanya basah.

“Ya bukan gitu, Hana,” katanya. Pelan. Setiap kata. Seperti membaca prasasti. “Gue gak semurahan itu. Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.”

Dunia berhenti.

Jenar mendengar kalimat itu. Kalimatnya sendiri. Dalam suara Galih. Dalam suara yang datar dan hati-hati dan sudah terlalu sering mengulangnya. Kata per kata. Tidak ada yang salah. Tidak ada satu kata pun yang meleset.

Ia hafal.

Galih hafal kalimat itu.

“Kamu...” Suara Jenar hilang. Ia mencoba lagi. “Kamu denger?”

“Aku balik ke kamar kamu. Malem itu. Belanjaan aku ketinggalan. Aku mau ngetok.” Galih tertawa lagi. Tawa yang pecah. “Aku seneng, Jen. Aku seneng punya alesan buat ngetok pintu kamu sekali lagi. Aku berdiri di depan pintu itu. Tangan aku udah di atas. Terus aku denger kamu.”

Jenar menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Kamarnya di ujung lorong, Han. Dia nggak mungkin denger.

Lo yakin, Jen? Lo yakin Galih nggak denger?

“Galih,” katanya dari balik tangannya. “Galih, itu bukan...”

“Nggak usah.”

“Dengerin aku dulu...”

“Nggak usah, Jen.” Galih menggeleng. Wajahnya menutup lagi. Tapi tidak rapat. Retaknya kelihatan di mana-mana. “Aku udah tahu. Aku udah tahu dari dua tahun lalu. Aku pengisi waktu. Aku pelarian. Kamu cuma butuh seseorang buat nemenin kamu pas kamu lagi nangisin kakaknya Hana. Kebetulan aku yang lewat. Kebetulan aku yang duduk di pasir basah.”

“Itu nggak bener...”

“Terus sekarang laki-laki yang kamu sukai tujuh tahun itu udah bebas.” Suara Galih pelan lagi. Sangat pelan. Lebih menakutkan dari berteriak. “Dan aku masih di sini. Kayak orang bego. Bikinin kamu kopi tiap pagi. Nulis di kulkas. Nyimpen gambar dapur kamu di saku. Nunggu.”

“Galih, aku nggak...”

“Kamu pinter, Jen.” Ia memandanginya. Matanya merah dan basah dan sangat, sangat lelah. “Kamu pinter banget. Kamu pakai kalung aku biar aku nggak pergi. Kamu masukin selai kacang ke rak aku biar aku bikinin kopi lagi. Kamu nyium aku di teras biar aku nggak jual rumah. Kamu tahu persis caranya bikin orang nunggu.”

Jenar membeku.

“Kamu perempuan yang jago banget mainin perasaan orang.”

Tangan Jenar bergerak sebelum ia berpikir.

Bunyinya keras. Tajam. Seperti ranting dipatahkan. Seperti kerupuk diinjak.

Galih tidak bergerak. Kepalanya sedikit miring ke samping karena tamparan itu. Pipinya memerah, pelan-pelan, di bentuk telapak tangan Jenar.

Seluruh kafe sunyi. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas. Hanya lagu dari speaker di sudut langit-langit, yang sampai di bait terakhirnya, yang tidak peduli pada apa pun.

Jenar memandangi tangannya sendiri. Telapak tangannya panas. Gemetar.

Lalu ia memandangi Galih.

Galih menoleh pelan. Kembali menghadapnya. Pipinya merah. Matanya tidak marah. Tidak kaget. Hanya kosong. Seperti jendela rumah yang lampunya sudah dimatikan.

Jenar berdiri. Kursi rotannya terdorong ke belakang dan terjatuh. Bunyinya keras di kafe yang sunyi.

Ia tidak memungutnya.

Ia mengambil tas selempangnya dari sandaran kursi. Berbalik. Berjalan ke pintu kafe. Tidak berlari. Berjalan. Dengan punggung tegak dan dagu terangkat dan air mata yang turun terus tanpa suara.

Di ambang pintu kafe, ia berhenti.

Ia tidak menoleh.

“Kamu janji,” katanya. Pelan. Ke arah lorong mall yang terang dan ramai. “Di karpet. Kamu bilang kamu nggak ke mana-mana. Kamu janji. Sekarang kamu cari alasan buat tinggalin aku.”

Ia menunggu.

Di belakangnya, tidak ada jawaban.

Ia melangkah keluar.


Galih duduk di kafe itu sampai lagunya selesai.

Lalu lagu berikutnya. Dan berikutnya.

Barista berambut ungu datang dengan langkah hati-hati dan memungut kursi rotan yang terjatuh. Menegakkannya kembali di tempatnya. Tidak berkata apa-apa. Lalu, setelah ragu sebentar, meletakkan segelas air putih dengan es batu di depan Galih.

“Buat pipinya, Kak,” bisiknya. Lalu pergi.

Galih memandangi gelas itu. Butiran air mengembun di permukaannya, mengalir turun, membasahi meja kayu bundar kecil.

Di depannya, latte Jenar. Tidak disentuh. Gambar daun yang miring sudah melebar dan pecah dan hilang.

Di kursi di sebelahnya, kantong kertas merah muda dengan stiker berbentuk hati. Baju-baju bayi ukuran prematur. Kartu bergambar bangau.

Di saku dalam jaket denimnya, di balik ritsleting yang terkunci, kotak beludru merah.

Ia tidak menyentuhnya.

Pipinya panas. Ia tidak menyentuhnya juga.

Kamu janji.

Ia janji. Di karpet ruang tengah. Di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Dengan lengan melingkar di tubuh yang gemetar. Aku nggak ke mana-mana. Aku janji.

Dan Jenar menjawab janji? dengan suara anak umur dua tahun yang berdiri di depan pintu.

Dan barusan, ia bilang Jenar perempuan yang jago mainin perasaan orang.

Galih menutup wajahnya dengan dua tangan.

Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya. Ia tahu kenapa. Karena ia takut. Karena Jenar menanyakan pertanyaan itu sambil tersenyum ke arah cangkir latte, dengan cara yang sama seperti ia menanyakan setengahnya lagi gimana di pintu kulkas jam tiga pagi. Karena di saku jaketnya ada cincin, dan ia sudah memutuskan akan bertanya malam ini dan mendengarkan sampai habis, dan tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, Jenar yang bertanya duluan. Dan pertanyaannya adalah gimana kalau salah satu dari kita nikah sama orang lain.

Dan semua yang ia bangun dalam tiga minggu terakhir, kopi pagi dan jalan pagi dan ciuman di teras yang bukan kesalahan, runtuh dalam satu kalimat. Seperti bangunan yang fondasinya ternyata pasir.

Dan ia mengatakan hal yang paling kejam yang bisa ia pikirkan. Supaya ia yang menyakiti duluan. Sebelum disakiti.

Pengecut.

Kakak saya bilang itu cara pengecut.

Ia menurunkan tangannya dari wajah. Mengeluarkan dompet dari saku belakang. Mengeluarkan uang. Terlalu banyak. Meletakkannya di atas meja, di bawah gelas air dengan es batu yang tidak ia sentuh.

Ia mengambil kantong kertas merah muda. Berdiri.

Ia keluar dari kafe tanpa menoleh.


Jenar tidak pulang langsung.

Taksi yang ia naiki dari lobi mall menanyakan tujuan. Ia bilang Cilandak. Lalu, di lampu merah pertama di Senayan, ia bilang tidak. Ia bilang Kemang. Lalu, di lampu merah kedua, ia bilang tidak juga. Ia bilang jalan saja dulu. Sopirnya, bapak-bapak berumur lima puluhan dengan peci putih, memandanginya lewat spion tengah lama sekali, lalu mengangguk dan menyetir tanpa bertanya lagi.

Mereka berputar-putar di Jakarta selama satu jam. Sudirman. Thamrin. Bundaran HI. Kembali ke Sudirman. Hujan mulai turun di tengah jalan. Gerimis. Lalu lebih deras.

Jenar memandangi hujan di jendela taksi.

Kamu denger?

Aku balik ke kamar kamu. Malem itu.

Ia mendengar kalimatnya sendiri. Kalimat yang ia ucapkan ke Hana di malam terakhir di Pangandaran, dengan handuk di kepala dan mata yang panas. Kalimat yang ia ucapkan karena Hana menyebut Hanif dan kata murahan dan ia ingin semuanya berhenti. Kalimat yang ia sesali detik itu juga, dan menangisi sampai tertidur dengan gantungan kunci papan selancar di satu tangan dan kalung perak di tangan yang lain.

Galih mendengarnya.

Hampir dua tahun. Galih membawa kalimat itu hampir dua tahun. Kata per kata. Tidak ada satu pun yang meleset.

Dan ia tidak pernah bertanya.

Tidak di Casa Lidia. Tidak di kolam koi. Tidak di dapur jam tiga pagi dengan kopi Kona. Tidak di lantai kamar hijau pupus dengan surat Astri. Tidak sekali pun. Ia mendengar satu kalimat dari balik pintu, dan ia pergi, dan ia memblokir, dan ia memanggil Mbak, dan ia bilang kesalahan, dan tidak sekali pun ia mengetuk pintu dan bertanya maksud kamu apa?

Kalau udah terlalu sakit, aku pergi aja. Diem.

Dan ia, Jenar, juga tidak pernah bertanya. Tidak pernah bertanya kenapa ia pergi. Tidak pernah bertanya kenapa satu centang. Ia menulis jangan bahas pantai di pintu kulkas dengan tangannya sendiri, karena ia takut mendengar jawabannya.

Kalian berdua bego, kata Hana.

Adik-adikku yang bego, kata Astri.

Jenar menutup wajahnya dengan dua tangan di jok belakang taksi yang berputar-putar di tengah hujan.

Ia ingin menelepon Galih. Ia ingin bilang aku bohong di telepon itu. Ia ingin bilang Hana maksa aku, dia bilang aku murahan, aku panik, aku mau semuanya berhenti. Ia ingin bilang aku pegang kalung kamu sampai tanganku sakit, aku beli gantungan kunci pakai nama kamu, aku mau ngasih ke kamu besok paginya, aku mau bilang aku yakin, aku nggak perlu nunggu sampai Bandung.

Ia ingin bilang semuanya.

Tapi ia ingat wajah Galih di kafe. Kamu perempuan yang jago banget mainin perasaan orang.

Ia ingat telapak tangannya yang panas.

Ia ingat berdiri di ambang pintu kafe dan bilang kamu janji, dan menunggu, dan tidak ada jawaban.

Tidak ada jawaban.

“Mbak,” kata sopir taksi pelan dari depan. “Udah sejam. Mau ke mana?”

Jenar menurunkan tangannya dari wajah.

“Cilandak,” katanya. “Kenanga dua belas.”


Rumah gelap waktu ia sampai. Mobil Galih tidak ada di depan pagar.

Ia masuk. Tidak menyalakan lampu. Berjalan menyusuri lorong dalam gelap. Melewati pintu ruang kerja yang tertutup. Melewati pintu kamar hijau pupus yang terbuka, cahaya lampu jalan jatuh di lantai kayunya.

Masuk ke kamarnya. Menutup pintu.

Rapat. Tidak sejari.

Ia berbaring di kasur single dengan baju yang masih basah kena hujan, dengan sepatu yang belum dilepas, dengan liontin hati kecil di luar kerah kaus putih. Ia menggenggamnya. Keras. Sampai ujung lancipnya menekan telapak tangan.

Ia menangis sampai tidak ada lagi yang tersisa. Lalu ia berbaring di sana, kosong, memandangi noda berbentuk pulau di langit-langit yang tidak bisa ia lihat dalam gelap.

Jam sembilan malam, ia mendengar mobil.

Bunyi mesin di jalan kompleks. Melambat. Berhenti di depan pagar.

Jenar tidak bergerak.

Pagar besi hijau berderit. Langkah kaki di teras. Pelan. Tidak berlari seperti di malam karpet. Pelan dan berat.

Pintu depan terbuka. Tertutup.

Langkah kaki di lorong. Melewati pintu kamarnya.

Tidak berhenti.

Masuk ke ruang kerja.

Jenar mendengarkan. Bunyi lemari dibuka. Bunyi ritsleting tas. Bunyi laci meja gambar. Bunyi kain dilipat. Cepat. Rapi. Terlalu rapi.

Ia tahu bunyi itu.

Ia duduk di kasur.

Bunyi ritsleting tas lagi. Ditutup. Bunyi langkah kaki di ruang kerja. Pintu ruang kerja terbuka.

Langkah kaki di lorong.

Berhenti.

Di depan pintu kamarnya.

Jenar menahan napas. Di kegelapan kamar, dengan tangan menggenggam liontin dan jantung yang berdebar sangat keras sampai ia yakin Galih bisa mendengarnya dari balik pintu.

Dua detik. Tiga.

Lima.

Ketuk, pikirnya. Tolong ketuk. Tolong bilang sesuatu. Satu kata. Namaku. Apa aja.

Aku yang buka pintu. Aku yang ngomong duluan. Aku janji. Tolong ketuk.

Tujuh detik.

Sepuluh.

Langkah kaki itu bergerak lagi. Menjauh. Ke arah dapur.

Jenar memejamkan mata.

Bunyi langkah kaki berhenti di dapur. Hening. Lama. Terlalu lama untuk orang yang hanya mau mengambil air.

Lalu langkah kaki itu bergerak lagi. Ke ruang tengah. Ke pintu depan.

Pintu depan terbuka.

Tertutup. Pelan. Klik.

Langkah kaki di teras. Pagar besi hijau berderit. Pintu mobil terbuka. Tertutup. Mesin menyala.

Lampu depan mobil menyapu jendela kamarnya. Putih. Lalu bergeser. Lalu hilang.

Bunyi mesin menjauh di jalan kompleks. Makin kecil. Makin kecil.

Lalu tidak ada apa-apa.

Jenar duduk di kasur dalam gelap.

Ia tidak menangis. Tidak ada lagi yang tersisa untuk ditangiskan.

Ia hanya duduk di sana, dengan liontin di genggaman, dan mendengarkan sunyi.

Sunyi yang ia kenal. Sunyi rumah yang pintunya baru saja ditutup dari luar oleh seseorang yang bilang tidak akan ke mana-mana.

Cuma keluar beli sesuatu.

Di ruang tengah, jam dinding berdetak.


Galih menyetir sampai di ujung jalan kompleks sebelum berhenti.

Ia menepi di bawah lampu jalan. Mematikan mesin. Duduk di dalam mobil yang gelap dengan tas di kursi belakang. Satu tas. Kaus. Celana. Laptop. Kotak kecil berpita krem dari rak ruang kerja, yang ia masukkan tanpa berpikir, dengan gelang rumah sakit dan cap kaki biru tua dan amplop kecil untuk Jihan.

Jaket denim masih di tubuhnya. Ritsleting saku dalamnya masih terkunci.

Ia mengeluarkan ponsel. Membuka pesan. Mengetik ke Fadlan.

Fadlan. Kusuma bilang pintunya masih kebuka kalau gue berubah pikiran. Terima Bali. Lo yang urus kontraknya. Gue berangkat secepatnya.

Ia memandangi pesan itu. Jempolnya melayang di atas tombol kirim.

Di dapur tadi, ia berdiri di depan pintu kulkas lama sekali. Memandangi dua belas aturan. Aturan nomor tujuh yang dicoret dengan garis putus-putus. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli. Aku nggak mau kayak setengah yang pertama. 12. Sarapan bareng. Setuju.

Dan aturan nomor enam. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Jangan bahas pantai.

Mereka sudah membahasnya. Di kafe dengan kursi rotan dan kopi yang jelek. Dengan tamparan dan kursi yang terjatuh.

Spidol ada di laci. Ia bisa mencoretnya. Aturan yang sudah dilanggar. Tidak ada gunanya lagi.

Ia tidak mencoretnya.

Ia tidak menulis apa-apa.

Galih menekan tombol kirim.

Pesan itu terkirim. Satu centang. Dua centang.

Ia meletakkan ponselnya di kursi penumpang. Menyalakan mesin. Menyalakan lampu depan.

Di kaca spion, di belakang, di ujung jalan kompleks yang gelap, rumah bercat putih dengan pagar besi hijau. Tidak ada lampu yang menyala di sana. Kecuali satu. Di dapur rumah di belakangnya. Rumah Bu Ratmi.

Galih melepas rem tangan dan menyetir pergi.

Di dashboard, jam digital menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh tiga.

Malam pertama.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk