BAB 23 - Satu Centang, Tujuh Malam

0 dibaca

A

Malam pertama

Jenar tidak tidur.

Ia duduk di kasur single dengan sepatu yang masih terpasang dan baju yang pelan-pelan kering di tubuhnya, dan mendengarkan rumah.

Jam dinding di ruang tengah. Kulkas di dapur. Kucing oranye di atap seng lorong samping, mengeong sekali, lalu diam. Hujan yang berhenti sekitar jam sebelas. Tetesan dari genteng ke talang, satu-satu, semakin jarang.

Tidak ada langkah kaki di lorong.

Tidak ada bunyi pagar besi hijau.

Jam dua belas. Jam satu. Jam dua.

Ia menunggu seperti ia menunggu di umur dua tahun. Ia tidak ingat hari itu. Tidak ada yang ingat apa pun di umur dua tahun. Tapi tubuhnya ingat. Tubuhnya tahu persis cara duduk diam di tempat yang menghadap pintu, dengan napas yang pelan, supaya bisa mendengar kalau pintu itu terbuka.

Pintu itu tidak terbuka.

Subuh datang. Azan dari masjid di ujung kompleks. Kelabu di jendela kecil yang menghadap pohon mangga.

Jenar melepas sepatunya. Pelan. Satu. Lalu yang lain. Meletakkannya di lantai di sebelah kasur, rapi, berdampingan.

Lalu ia berbaring, menghadap dinding, dan memejamkan mata.

Tidak tidur.


Hari kedua

Jam enam kurang lima, lampu dapur tidak menyala.

Jenar tahu karena ia sudah berdiri di ambang dapur sejak jam lima lewat empat puluh. Menunggu. Tidak tahu apa yang ia tunggu. Bunyi penggiling kayu. Bau biji yang baru digiling. Seseorang yang duduk di kursi tamu dengan dua cangkir di atas meja bundar.

Dapur gelap dan dingin. Kulkas berdengung. Di meja makan, empat kursi. Semuanya kosong.

Ia menyalakan lampu. Berjalan ke mesin espresso di meja dapur.

Ia tidak tahu cara memakainya.

Hampir sepuluh bulan ia minum kopi dari mesin ini, dan ia tidak pernah sekali pun menyentuhnya. Tombol-tombolnya. Gagang besi yang harus diputar. Wadah kecil tempat bubuk kopi dimasukkan. Ketel leher angsa di sebelahnya. Penggiling kayu berengkol besi.

Ia menekan tombol yang paling besar. Lampu hijau menyala. Berkedip. Ia menunggu. Ia tidak tahu berapa lama harus menunggu.

Ia membuka toples kaca di rak. Toples yang labelnya miring ke kanan. SENIOR. Gayo. Untuk Jenar. Masih setengah penuh. Ia menuang biji ke penggiling kayu. Terlalu banyak. Setengahnya jatuh ke meja dapur dan menggelinding ke lantai.

Ia memutar engkolnya. Krek. Krek. Krek.

Bunyinya salah. Terlalu cepat. Tidak berirama.

Bubuknya kasar di satu sisi, halus di sisi lain. Ia memasukkannya ke wadah kecil. Memasangnya di mesin, setelah tiga kali mencoba karena gagangnya tidak mau berputar. Menekan tombol.

Mesin berbunyi. Air panas mengalir. Terlalu cepat. Terlalu banyak. Cairan cokelat pucat tumpah ke cangkir, lalu ke tatakan, lalu ke meja dapur.

Jenar memandangi cangkir itu.

Ia menyesapnya.

Pahit. Asam. Encer. Seperti air comberan yang dimasak.

Ia meletakkan cangkir itu di meja dapur. Pelan. Hati-hati. Seperti meletakkan barang bukti.

Gilingannya kehalusan. Airnya kepanasan.

Ia tertawa. Sendirian di dapur jam enam pagi. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain.

Ia memungut biji-biji kopi yang berjatuhan di lantai. Satu per satu. Memasukkannya kembali ke toples. Menutupnya rapat. Mengembalikannya ke rak.

Lalu ia berangkat ke kantor tanpa sarapan.


Hana meneleponnya jam delapan malam.

“Jen. Lo di mana? Gue telepon dari tadi sore.”

“Di rumah.”

“Lo udah ngomong?”

Jenar memandangi langit-langit kamarnya. Noda berbentuk pulau.

“Jen?”

“Dia denger, Han.”

Hening di seberang.

“Malem itu,” kata Jenar. Suaranya datar. Asing. Seperti suara orang lain. “Di Pangandaran. Dia balik ke kamar gue. Mau balikin belanjaan. Dia berdiri di depan pintu. Tangannya udah di atas, mau ngetok. Terus dia denger gue ngomong sama lo.”

Hana tidak bernapas di seberang. Jenar bisa mendengarnya. Napas yang berhenti.

“Dia hafal, Han,” lanjut Jenar. “Kalimatnya. Kata per kata. Dia ngomongin itu ke gue kemarin. Di kafe. Nggak ada satu kata pun yang salah.”

“Jen...” Suara Hana pecah. “Jen, ya Allah...”

“Terus gue tampar dia.”

“Apa?”

“Dia bilang gue perempuan yang jago mainin perasaan orang. Terus gue tampar dia. Terus gue pergi. Terus malemnya dia pulang, ngepak tas, terus pergi lagi.”

“Pergi ke mana?”

“Nggak tahu.”

“Dia nggak bilang?”

“Dia nggak ngetok, Hanna.” Jenar memejamkan mata. “Dia berdiri di depan pintu kamar gue. Sepuluh detik. Gue ngitung. Terus dia nggak ngetok. Terus dia pergi.”

Hana menangis di seberang telepon. Keras. Tidak ditahan. Jenar mendengarkannya dengan mata tertutup.

“Ini salah gue,” kata Hana di sela tangisnya. “Ini salah gue, Jen. Gue yang maksa lo. Gue yang bilang lo murahan. Gue yang bikin lo ngomong gitu.”

“Bukan salah lo.”

“Salah gue!”

“Gue yang ngomong, Han. Bukan lo.”

“Gue harus ngomong sama dia. Gue harus jelasin. Gue telepon dia sekarang...”

“Jangan.”

“Jen...”

“Jangan, Han.” Jenar membuka mata. “Dia udah milih. Dia denger satu kalimat hampir dua tahun lalu, terus dia nggak pernah nanya. Nggak sekali pun. Dia milih percaya kalimat itu daripada nanya ke gue. Terus kemarin, pas gue mau jelasin, dia bilang nggak usah.” Suaranya bergetar sedikit. “Dia yang milih nggak dengerin.”

“Tapi lo juga nggak pernah...”

“Gue tahu.”

Hening lagi. Lama.

“Jen,” kata Hana akhirnya. Pelan. “Gue ganti tiket gue.”

“Apa?”

“Gue nggak jadi balik Selasa. Gue ganti ke Jumat malem. Gue udah bayar dendanya.”

“Han, jangan...”

“Udah. Udah gue ganti.” Hana menarik napas. “Gue nggak bisa ninggalin lo kayak gini. Nggak lagi. Terakhir kali gue ninggalin lo, lo lupa ulang tahun lo sendiri.”

Jenar tidak bisa menjawab.

“Gue ke situ besok,” kata Hana. “Bawa martabak.”

“Cokelat keju,” kata Jenar. Tanpa sadar.

Hana diam sebentar di seberang.

“Cokelat keju,” ulangnya pelan.


Hari ketiga

Jenar menyadarinya waktu ia berdiri di ambang ruang kerja.

Ia tidak berniat masuk. Ia hanya lewat. Dari kamar mandi ke kamarnya. Pintu ruang kerja terbuka, seperti malam Galih pergi. Ia tidak menutupnya. Tidak ada yang menutupnya.

Sofa kulit yang retak. Selimut terlipat di ujungnya, rapi, seperti selimut di kamar hotel. Papan selancar kuning bersandar di dinding. Meja gambar Leknor dengan gambar yang belum selesai.

Rak buku di sebelahnya.

Buku-buku arsitektur. Foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dan Astri. Tersenyum.

Dan di sebelah foto itu, ruang kosong.

Jenar berdiri di ambang pintu lama sekali.

Kotak kecil berpita krem tidak ada di sana. Kotak dengan gelang rumah sakit seukuran jari telunjuk. Dengan cap kaki biru tua. Dengan amplop kecil untuk Jihan yang tidak boleh dibuka sampai umur tujuh belas.

Galih membawanya.

Ia tidak membawa papan selancar. Tidak membawa selimut. Tidak membawa mesin roasting di ruang depan, atau toples-toples kaca, atau penggiling kayu berengkol besi.

Tapi ia membawa Jihan.

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

Orang yang akan kembali tidak membawa satu-satunya hal yang paling berharga di rumah. Orang yang akan kembali meninggalkannya. Sebagai janji. Sebagai jaminan. Sebagai alasan untuk pulang.

Orang yang tidak akan kembali membawanya.

Ia masuk ke ruang kerja. Duduk di sofa kulit yang retak. Kulitnya mengeluh di bawahnya.

Di rak, foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dengan beskap putih. Astri dengan kebaya dan siger. Tersenyum ke kamera, ke Jenar, ke ruang kosong di sebelah mereka.

“Kak,” bisiknya ke foto itu. “Dia bawa Jihan.”

Foto itu tidak menjawab.


Bu Ratmi mengetuk pintu depan jam enam sore dengan rantang tiga susun di satu tangan.

Jenar membukanya dengan kaus kebesaran dan rambut yang belum disisir sejak pagi.

Bu Ratmi memandanginya dari atas sampai bawah. Lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia masuk. Melewati Jenar di ambang pintu. Berjalan ke dapur seperti di rumahnya sendiri. Meletakkan rantang di meja makan bundar. Membukanya satu per satu.

Sayur asem. Tempe goreng. Ayam bakar kecap. Sambal terasi.

“Makan, Mbak.”

“Bu, saya nggak...”

“Makan.” Bu Ratmi menarik kursi. Kursi Jenar. “Duduk.”

Jenar duduk.

Bu Ratmi mengambil piring dari rak. Menyendokkan nasi. Sayur asem. Ayam bakar. Meletakkannya di depan Jenar. Lalu duduk di kursi tamu. Kursi Galih. Di seberangnya.

Jenar memandangi piring itu. Lalu Bu Ratmi di kursi Galih.

Ia mulai makan. Pelan. Sayur asemnya segar. Ayam bakarnya manis dan sedikit gosong di pinggir. Ia tidak sadar betapa laparnya ia sampai piringnya hampir habis.

Bu Ratmi tidak berkata apa-apa sampai Jenar selesai. Ia hanya duduk di sana, dengan tangan terlipat di atas meja, memandangi pintu kulkas.

Dua belas aturan. Aturan nomor tujuh yang dicoret. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG. Tulisan-tulisan kecil yang menjalar ke bawah. Aku nggak mau kayak setengah yang pertama. 12. Sarapan bareng. Setuju.

“Lampu dapurnya mati lagi, Mbak,” kata Bu Ratmi akhirnya. Pelan. “Dua hari.”

Jenar meletakkan sendoknya.

“Mobilnya juga nggak ada. Dua malem.”

“Iya, Bu.”

“Pergi ke mana?”

“Nggak tahu, Bu.”

Bu Ratmi mengangguk pelan. Tidak kaget. Seperti sudah menduga.

“Suami Ibu dulu juga gitu,” katanya.

Jenar mengangkat kepala.

“Almarhum,” tambah Bu Ratmi. Senyum kecil. “Udah dua belas tahun. Tapi dulu, pas masih muda, pas baru nikah, dia juga gitu. Kalau marah, dia nggak ngomong. Dia pergi. Naik motor. Keliling Jakarta. Kadang sejam. Kadang semalem. Pernah dua hari. Ibu di rumah nungguin sambil masak sayur asem, soalnya Ibu nggak tahu harus ngapain lagi.”

“Terus?”

“Terus dia pulang.” Bu Ratmi memandangi pintu kulkas. “Selalu pulang. Tapi Ibu nggak pernah tahu dia bakal pulang atau nggak. Tiap kali. Ibu duduk di sini, di dapur, dengerin motor, nunggu.”

Jenar merasakan tenggorokannya tercekat.

“Terus suatu hari,” lanjut Bu Ratmi, “pas dia pergi lagi, Ibu nggak nunggu. Ibu naik angkot. Ibu cari dia. Ibu tahu dia pasti di warung kopi deket stasiun, soalnya dia selalu ke situ kalau lagi mikir. Ibu dateng. Ibu duduk di sebelahnya. Ibu bilang, Mas, kalau marah, marahin aku. Jangan pergi. Aku nggak bisa bedain orang yang pergi sebentar sama orang yang pergi selamanya.”

Bu Ratmi tersenyum. Matanya basah.

“Abis itu dia nggak pernah pergi lagi. Tiga puluh tahun. Sampai dia meninggal.”

Jenar tidak bisa bicara.

Bu Ratmi berdiri. Menutup rantang yang sudah kosong. Menumpuknya. Mengangkatnya.

“Mbak,” katanya di ambang dapur. “Kadang orang yang pergi itu cuma nunggu dicari.”

Ia pergi.

Jenar duduk di meja makan bundar, di depan piring kosong, memandangi kursi tamu di seberangnya. Kursi Galih. Kursi yang barusan diduduki Bu Ratmi.

Kadang orang yang pergi itu cuma nunggu dicari.

Ia tidak tahu harus mencari ke mana.


Hari keempat

Kantor terlalu berisik. Kontraktor sekolah Bintaro menelepon tiga kali soal jadwal pengecoran. Mas Bayu bertanya dua kali apakah Jenar sakit. Mbak Rini meletakkan teh jahe di mejanya tanpa bertanya apa-apa.

Jam tiga sore, Jenar menyampirkan tas di bahu dan keluar lewat pintu belakang.

Lima menit menyusuri trotoar Kemang. Toko bunga. Galeri seni yang lampunya selalu redup. Plang kayu gelap dengan huruf putih bersih.

Lonceng kecil di atas pintu kaca berbunyi.

“Kak Jenar!”

Dita melambai dari balik bar. Lalu lambaiannya melambat. Senyumnya goyah. Ia memandangi wajah Jenar, dan Jenar tahu apa yang ia lihat. Kantung mata yang gelap. Rambut yang diikat asal. Kaus yang tidak disetrika.

“Pojok, Kak?”

“Pojok.”

Jenar duduk di kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek. Meletakkan tas di kursi seberang. Kursi Astri.

Di meja, di sisi yang lain, masih ada kursi ketiga. Kursi yang Galih tarik dari meja sebelah dua minggu lalu. Tidak ada yang mengembalikannya. Dita membiarkannya di sana. Membentuk segitiga.

Jenar memandangi kursi itu.

Senior datang lima menit kemudian. Dita meletakkannya di meja. Lalu tidak langsung pergi.

“Kak,” katanya pelan. “Kakak nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Dit.”

Dita memandanginya. Tidak percaya. Tapi ia mengangguk.

Lalu, dengan nada ringan, seperti mengobrol soal cuaca, ia bertanya, “Pak Galih jadi ke Bali ya, Kak?”

Jenar mengangkat kepala.

“Kata kantor pusat,” lanjut Dita, tidak menyadari apa pun. “Tadi pagi ada email ke semua cabang. Pak Fadlan yang kirim. Katanya ada kemungkinan Pratama buka flagship di Uluwatu. Katanya Pak Galih yang bakal pegang langsung. Enam bulan di sana.” Dita tersenyum. “Keren ya, Kak. Kakak ikut?”

Jenar tidak bergerak.

Enam bulan.

Bali.

Uluwatu.

Ia tidak tahu. Ia tidak pernah tahu. Galih tidak pernah bilang. Tidak di pintu kulkas. Tidak di sarapan bareng. Tidak di teras di bawah lampu neon yang berkedip.

Enam bulan di Bali. Tujuh malam, tidak lebih.

Rumah Kenanga dua belas. Dijual. Pohon mangga. Kamar hijau pupus. Semua hasilnya disumbangkan.

“Kak?”

Jenar memandangi Dita. Dita memandanginya balik. Dan sesuatu di wajah Jenar membuat Dita mundur setengah langkah, membuat senyumnya hilang seluruhnya.

“Kak, maaf,” bisik Dita. “Aku salah ngomong ya, Kak?”

“Nggak, Dita,” kata Jenar. Suaranya sangat tenang. Terlalu tenang. “Aku udah tahu kok.”

Dita kembali ke bar dengan langkah kaku.

Jenar memandangi kursi ketiga di meja itu. Kursi yang Galih tarik dari meja sebelah, supaya ia tidak duduk di kursi Astri. Supaya kursi Astri tetap kosong. Supaya ia bisa duduk di antara mereka berdua.

Enam bulan di Bali.

Kapan ia tahu? Kapan tawaran itu datang?

Aku jual bagianku.

Kamu nggak butuh aku di sini, Jen. Kamu punya orang lain.

Semuanya tiba-tiba masuk akal. Rencana menjual rumah. Wajah petugas bank. Kalimat yang dilatih berkali-kali. Galih tidak hanya ingin pindah dari rumah itu. Galih sudah punya tempat untuk pergi.

Dan setelah semuanya. Setelah karpet, setelah aku nggak ke mana-mana, aku janji, setelah surat Astri, setelah kalung, setelah teras dan ciuman yang bukan kesalahan, setelah sarapan bareng setiap pagi selama tiga minggu.

Ia tetap menyimpan tawaran itu. Tidak bilang. Menunggu.

Seperti menyimpan pintu keluar di saku belakang celananya.

Jenar meminum Senior-nya sampai habis. Tidak merasakan apa-apa. Tidak manis. Tidak pahit. Tidak apa-apa.

Lalu ia berdiri, meninggalkan uang di meja, dan keluar.

Di belakangnya, lonceng kecil di atas pintu kaca berbunyi.

Tiga kursi di meja pojok dekat jendela. Semuanya kosong.


Malam kelima

Jenar membuka laci nakas jam sepuluh malam.

Ia tidak tahu kenapa. Tangannya yang memutuskan. Ia berbaring di kasur, memandangi langit-langit, dan tangannya meraih laci itu, menariknya, merogoh ke dalam.

Kotak bekas jam tangan. Di bawah tumpukan struk belanja.

Ia membukanya di atas perutnya.

Kartu krem dengan sketsa rumah buatan tangan Leknor. Kalau kamu lupa, biar aku yang inget.

Kertas notes hotel bergambar logo pohon kelapa. Kalau kamu laper, aku di lobi. Kalau nggak, abaikan aja kertas ini. (G.)

Dua rokok yang tidak pernah dinyalakan.

Dan di dasar kotak, gantungan kunci papan selancar kuning.

Jenar mengangkatnya. Memandanginya di bawah cahaya lampu kamar.

Kayu yang dicat kuning. Sudah sedikit pudar di satu sisi. Huruf-huruf yang diukir dengan alat ukir listrik di kios bapak tua di ujung pasar oleh-oleh Pangandaran. Sedikit miring. Huruf H yang terlalu besar.

GALIH.

Ia ingat memesannya. Berdiri memunggungi kios supaya bisa mengawasi Galih yang sedang menawar kacamata hitam murahan di kios sebelah. Jantung yang berdebar seperti sedang mencuri sesuatu. Bunyi alat ukir yang berdengung seperti nyamuk besar.

Ia ingat rencananya. Memberikannya malam itu. Malam terakhir. Sambil meminta nomor telepon lebih dulu, karena ia sudah memutuskan, di lantai kamar setelah ciuman di balik pintu, bahwa kalau Galih tidak meminta, ia yang akan meminta.

Lalu Galih meminta lebih dulu. Di bawah pohon ketapang. Dan ia memutuskan akan menyimpan gantungan kunci itu untuk malam terakhir.

Ia tidak tahu itu keputusan yang akan ia sesali bertahun-tahun.

Sekarang ia tahu.

Jenar menggenggam gantungan kunci itu. Kayu yang kecil. Hangat karena tangannya.

Lalu ia mengambil ponselnya.

Membuka aplikasi pesan. Menggulir ke atas. Ke nama yang ia simpan hampir dua tahun lalu, di bawah pohon ketapang, dengan satu kata tambahan.

Galih (kulkas).

Pesan terakhir di sana adalah foto yang Galih kirim dua minggu lalu. Tangkapan layar grup RT. Lampu dapur Kenanga 12 udah nyala lagi jam 6 pagi. Alhamdulillah. Dengan satu kata di bawahnya. Tolong.

Dan balasannya sendiri. Salah kamu. Kamu yang nyalain lampunya.

Jenar mulai mengetik.


Galih.

Aku nggak tahu kamu di mana. Aku nggak tahu kamu bakal baca ini atau nggak. Aku nggak tahu kamu udah blokir aku lagi atau belum. Kalau udah, pesan ini bakal satu centang, dan aku bakal lihat satu centang itu tiap malem kayak dulu. Nggak apa-apa. Aku udah biasa.

Aku mau jelasin soal malem itu.

Malem terakhir di Pangandaran. Abis kamu nyium aku di teras dan balik ke kamar kamu buat ngepak. Hana telepon. Dia lihat kalung dari kamu di leher aku. Dia marah. Dia takut. Dia bilang aku baru kenal kamu empat hari. Dia bilang Kak Hanif nelepon dia dan nanyain aku. Dia bilang kalau aku serius sama kamu, aku gila. Kalau aku nggak serius, aku jahat. Dia hampir bilang aku murahan.

Aku panik. Aku nggak bisa napas. Aku pengen dia berhenti. Aku pengen semuanya berhenti. Jadi aku ngomong hal pertama yang aku pikir bisa bikin dia diem.

Aku bohong, Galih.

Aku bohong di telepon itu.

Kamu bukan pengisi waktu. Kamu nggak pernah jadi pengisi waktu. Dari detik kamu naruh papan selancar kuning di pasir di sebelah aku biar aku nggak ketiduran di tempat basah, aku udah tahu kamu bukan apa-apa yang bisa aku pakai buat ngelupain orang lain.

Abis telepon itu, Aku pegang kalung kamu sampai tangan aku sakit. Aku pegang ini juga.

Aku beli gantungan kunci. Papan selancar kuning. Kayak punya kamu. Ada nama kamu. Diukir di kios bapak-bapak di ujung pasar. Huruf H-nya kegedean. Aku mau kasih ke kamu malem itu. Pas kamu minta nomor aku di bawah pohon ketapang, aku udah pegang gantungan kunci itu di saku celana aku. Aku mau kasih. Terus aku pikir, nanti aja. Pas malem terakhir.

Terus malem terakhir kamu pergi.

Aku mau bilang ke kamu besok paginya, aku nggak perlu nunggu sampai Bandung. Aku udah yakin. Aku yakin dari dermaga di hutan bakau. Mungkin aku yakin dari papan selancar kuning di pasir.

Aku nemuin kamar kamu kosong.

Aku nggak pernah lepas kalung kamu. Kamu udah tahu. Tapi aku mau kamu denger dari aku. Aku nggak pernah lepas. Nggak di Casa Lidia pas kamu injek kaki aku. Nggak di nikahan Kak Leknor pas kamu bilang anggap aja nggak pernah ada. Nggak di kantor notaris. Nggak di lantai dapur pas kamu bilang itu kesalahan. Tiap hari. Di balik kerah. Aku bilang ke Bu Ratmi aku gampang masuk angin.

Aku nggak mainin perasaan kamu, Galih.

Aku cuma takut. Aku takut dari umur dua tahun. Aku takut sama pintu yang ditutup dari luar. Aku takut sama orang yang bilang cuma keluar sebentar terus nggak pulang. Jadi aku nggak pernah bilang apa-apa duluan. Aku nggak pernah bilang ke Kak Hanif. Aku nggak pernah bilang ke kamu. Aku nunggu. Aku selalu nunggu. Soalnya kalau aku yang bilang duluan, terus orangnya pergi, aku nggak tahu harus gimana.

Dan kemarin, di kafe, pas aku nanya soal nikah sama orang lain, aku nggak nanya soal Kak Hanif. Aku udah bilang ke Kak Hanif jantung aku nggak lompat lagi. Aku bilang itu di kedai Kemang. Di kursi Kak Astri. Dia yang nebak siapa yang bikin jantung aku lompat sekarang. Dia bener.

Aku nanya ke kamu soal nikah sama orang lain karena aku mau denger kamu bilang jangan. Aku mau denger kamu bilang kamu nggak mau aku nikah sama siapa-siapa selain kamu. Aku terlalu takut buat nanya langsung. Jadi aku nanya dari samping. Kayak orang bego.

Aku tahu soal Bali. Enam bulan. Aku nggak tahu kenapa kamu nggak bilang ke aku. Mungkin kamu udah mutusin dari lama. Mungkin rencana jual rumah itu buat Bali. Nggak apa-apa. Kamu boleh pergi. Kamu selalu boleh pergi.

Tapi kalau kamu pergi, tolong jangan diem-diem. Tolong bilang. Tolong ketuk pintunya dulu.

Aku nggak bisa bedain orang yang pergi sebentar sama orang yang pergi selamanya.

Jenar.


Jenar memandangi layar ponselnya.

Pesan itu panjang. Sangat panjang. Ia harus menggulir tiga kali untuk sampai ke bawah. Kalimat demi kalimat. Hampir dua tahun. Semuanya.

Jempolnya melayang di atas tombol kirim.

Satu sentuhan. Hanya satu. Dan Galih akan tahu. Di mana pun ia berada. Di apartemen lamanya, di pesawat ke Bali, di rest area di jalan tol. Ia akan membaca semuanya. Setiap kata.

Lalu apa?

Mungkin ia membaca dan tidak membalas. Dua centang biru. Lalu diam. Lalu tidak ada apa-apa.

Mungkin ia membaca dan membalas oke. Satu kata. Seperti oke di kolam koi. Saya setuju.

Mungkin ia membaca dan merasa kasihan. Perempuan yang memakai kalung darinya dua tahun. Perempuan yang membeli gantungan kunci dengan namanya dan tidak pernah memberikannya. Perempuan yang takut pintu. Kasihan.

Mungkin ia membaca dan tetap pergi.

Dan kalau ia tetap pergi setelah membaca semua ini, setelah Jenar mengatakan semuanya, setelah ia yang bicara lebih dulu, setelah ia membuka seluruh dirinya di atas layar ponsel jam sebelas malam.

Jenar tidak tahu apakah ia bisa bertahan.

Jempolnya bergerak.

Bukan ke tombol kirim.

Ke atas. Ke kolom pesan. Ia menekan dan menahan. Kursor muncul. Pilih semua.

Semua teks menyala biru.

Ia memandanginya. Semua kata-kata itu. Menyala biru. Menunggu.

Hapus.

Kolom pesan kosong. Kursor berkedip di ujung yang kosong.

Jenar meletakkan ponselnya di dada. Layar menghadap ke bawah.

Ia menutup mata.

Gantungan kunci papan selancar kuning masih di genggamannya.


Ponselnya bergetar di dadanya jam sebelas lewat lima belas.

Jenar tersentak. Membalik ponsel. Jantungnya melompat. Satu nama. Satu nama saja yang ia harapkan.

Bukan.

Ibu Ratna (Notaris).

Ia memandangi layar itu. Getaran kedua. Ketiga.

Ia mengangkatnya.

“Halo, Bu.”

“Selamat malam, Bu Jenar. Maaf menelepon malam-malam. Saya baru selesai rapat dengan klien.” Suara Ibu Ratna tenang dan jelas, seperti selalu. “Saya mau mengonfirmasi jadwal pemeriksaan berikutnya. Hari Senin depan, jam empat sore. Apakah Bu Jenar dan Pak Galih bisa?”

Jenar memandangi langit-langit.

Senin. Hari kesembilan.

Ia menghitung. Galih pergi Sabtu malam. Jam sembilan lewat dua puluh tiga. Malam pertama. Sabtu. Minggu. Senin. Selasa. Rabu. Kamis ini. Malam kelima.

Jumat. Malam keenam.

Sabtu. Malam ketujuh.

Kalau Galih tidak pulang sebelum Sabtu tengah malam.

Senin, Ibu Ratna datang, dan menemukan hanya satu orang di rumah ini.

“Bu Jenar?”

“Iya, Bu. Saya di sini.”

“Senin bisa?”

Jenar menutup mata.

“Bisa, Bu.”

“Pak Galih juga?”

Ia bisa bilang tidak. Ia bisa bilang Pak Galih sudah pergi lima malam, Bu, saya tidak tahu ke mana. Ia bisa bilang yang sebenarnya.

Kalau ia bilang yang sebenarnya, Ibu Ratna akan mencatatnya. Dalam laporan resmi. Di map merah dengan tanda tangan Leknor yang tegak dan rapi dan tanda tangan Astri yang bulat dan miring.

“Iya, Bu,” katanya. “Pak Galih juga bisa.”

Hening di seberang. Satu detik. Dua.

“Bu Jenar,” kata Ibu Ratna. Suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih lembut. Seperti di kantornya di Kuningan waktu ia menceritakan Astri yang tertawa. “Semuanya baik-baik saja?”

Jenar menggenggam gantungan kunci papan selancar sampai ujungnya menekan telapak tangan.

“Baik, Bu.”

“Kalau ada apa-apa, Bu Jenar bisa menghubungi saya. Kapan saja.”

“Makasih, Bu.”

“Selamat malam, Bu Jenar.”

Telepon terputus.

Jenar meletakkan ponselnya di kasur. Memandangi layar yang pelan-pelan meredup.

Ia baru saja berbohong kepada notaris. Kepada orang yang memegang wasiat kakaknya. Kepada orang yang bilang rumahnya ditempati dengan baik dan saya akan tulis begitu di laporan.

Dua malam lagi.

Kalau Galih tidak pulang, kebohongan itu tidak akan menyelamatkan apa pun. Ibu Ratna akan datang hari Senin. Akan melihat ruang kerja yang kosong. Sofa kulit yang retak dengan selimut terlipat rapi seperti di kamar hotel. Papan selancar kuning yang ditinggalkan.

Dan ia akan harus mengatakan yang sebenarnya. Di depan map merah.

Jenar bangun dari kasur. Berjalan ke meja belajar dengan coretan tipe-x di pojoknya. Menyalakan lampu meja.

Ia mengambil selembar kertas dari tumpukan kertas kalkir di rak. Mengambil pulpen.

Pulpen yang sama yang ia pakai untuk tanda tangan lembar pengesahan skripsi. Yang ia pakai untuk menggambar kedai impian di tisu dengan noda saus. Yang ia pakai untuk menulis jangan bahas pantai di notes beruang milik Astri.

Ia mulai menulis. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tulisan arsitek.

Kepada Yth. Ibu Ratna Sulistyowati, S.H., M.Kn.

Dengan hormat,

Saya, Jenar Masayu, ahli waris dari almarhum Leknor Masayu dan almarhumah Astri Ayuningtyas, dengan ini memberitahukan bahwa...

Pulpennya berhenti.

Ia tidak bisa menulis kalimat berikutnya.

Ia meletakkan pulpen. Meletakkan kepalanya di atas lengan, di atas kertas yang baru berisi tiga baris.

Dua malam lagi.

Di laci nakas yang masih terbuka, di kotak bekas jam tangan, di atas kartu krem dan kertas notes hotel dan dua rokok yang tidak pernah dinyalakan, tidak ada lagi gantungan kunci papan selancar kuning.

Gantungan kunci itu di genggaman Jenar. Di atas meja belajar. Di bawah kepalanya.

Ia tidak melepaskannya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk