Malam pertama
Apartemen lama Galih berbau debu dan kopi basi.
Sepuluh bulan kosong. Sofa abu-abu yang ditutup kain putih. Kulkas yang sudah lama dicabut kabelnya, pintunya dibiarkan terbuka sedikit supaya tidak berjamur. Meja makan kecil dengan satu kursi. Satu. Ia tidak pernah butuh dua.
Ia meletakkan tas di lantai. Tidak membukanya.
Ia duduk di sofa tanpa membuka kain penutupnya. Kain itu berbunyi seperti kertas di bawahnya.
Pipinya masih panas. Tidak sakit. Hanya panas. Seperti ada bekas telapak tangan yang tertinggal di kulit, dan tidak mau pergi.
Kamu janji.
Ia menutup mata. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.
Di saku dalam jaket denimnya, di balik ritsleting yang terkunci, kotak beludru merah. Di tas di lantai, kotak kecil berpita krem. Gelang rumah sakit seukuran jari telunjuk. Cap kaki biru tua. Amplop kecil untuk Jihan.
Ia tidak tahu kenapa ia membawanya. Tangannya yang memutuskan. Ia sedang memasukkan kaus ke tas, lalu tangannya berhenti di depan rak buku, lalu kotak itu sudah di tangannya.
Mungkin karena ia tidak mau Jihan tinggal di rumah yang akan dijual.
Mungkin karena ia tidak mau pergi sendirian.
Jam dua belas. Jam satu. Jam dua.
Ia tidak tidur.
Hari kedua
Ia tidak tahu kenapa ia menyetir ke Pangandaran.
Ia bangun jam lima pagi dari tidur yang tidak pernah benar-benar dimulai, dan tubuhnya sudah tahu. Tubuhnya berdiri, mengambil tas yang belum dibuka, mengambil kunci mobil, turun dengan lift yang berbunyi seperti orang tua batuk.
Tol dalam kota masih sepi. Lalu tol Cikampek. Lalu tol Cipularang.
Di kilometer sembilan puluh tujuh, ia melambat.
Pembatas jalan di jalur berlawanan sudah diperbaiki. Beton baru, lebih putih dari beton di sekitarnya. Tidak ada lagi garis polisi kuning. Tidak ada bekas apa pun. Hanya beton yang terlalu putih, dan tikungan yang sedikit menurun, dan rumput liar yang tumbuh tinggi di bahu jalan.
Galih menepi. Menyalakan lampu hazard. Duduk di mobil yang bergetar setiap kali truk lewat di sebelahnya.
Ia memandangi beton putih itu lama sekali.
Leknor nyetirnya pelan kok.
Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana sampai seorang petugas jalan tol dengan rompi oranye mengetuk jendelanya dan bertanya apakah ada masalah dengan mobilnya.
“Nggak, Pak,” kata Galih. “Nggak ada masalah.”
Ia melanjutkan perjalanan.
Tujuh jam kemudian, di bawah langit sore yang jingga, ia melihat papan besi bertuliskan Selamat Datang di Pangandaran, dan tangannya di setir tiba-tiba gemetar.
Resepsionis di hotel Pesona Laut masih orang yang sama.
Laki-laki muda dengan mata mengantuk yang dulu membawakan es batu dan perban elastis yang kemasannya sudah menguning. Sekarang ia sedikit lebih gemuk. Seragam batik birunya sedikit lebih ketat. Tapi matanya masih mengantuk.
“Selamat sore, Pak. Mau check-in?”
“Iya. Satu kamar.”
“Berapa malam, Pak?”
Galih memandangi papan kayu di belakang meja resepsionis. Deretan kunci kamar tergantung di kaitan-kaitan kecil. Nomor-nomor kuningan yang sudah kusam.
“Belum tahu,” katanya. “Beberapa malam.”
Resepsionis itu mengangguk. Mengetik sesuatu di komputer yang layarnya berkedip-kedip. “Mau kamar yang mana, Pak? Yang menghadap laut atau...”
“Ada kamar dua-empat-satu?”
Resepsionis itu berhenti mengetik. Mengangkat kepala.
“Dua-empat-satu, Pak?”
“Iya. Kalau kosong.”
Resepsionis itu memeriksa layar. “Kosong, Pak. Tapi kamar itu nggak menghadap laut. Menghadap parkiran. Kalau mau yang menghadap laut, ada di lantai tiga, lebih...”
“Dua-empat-satu aja.”
Resepsionis itu memandanginya sebentar. Lalu mengangguk. Mengambil kunci dari papan kayu. Kuningan kusam. Nomor tiga angka.
Galih menerimanya. Kunci itu dingin di telapak tangannya.
Kamar itu tidak berubah.
Seprai putih yang bau kaporit. Pengharum ruangan rasa apel yang terlalu keras. Jendela yang, kalau menjulurkan leher, menampilkan sepotong laut di sela dua genteng.
Kursi di dekat jendela. Tempat Jenar meletakkan dua kantong plastik putih berisi kaus dan ikan asin, dan satu kantong plastik hitam yang bukan miliknya.
Galih meletakkan tasnya di lantai.
Ia berjalan ke pintu. Dari dalam. Berdiri di baliknya.
Di sini. Jenar berdiri di sini. Di malam itu. Dengan handuk di kepala. Dengan ponsel di tangan. Dengan wajah Hana di layar.
Ia berdiri di sisi lain. Di lorong. Satu senti dari kayu pintu ini. Tangan terangkat untuk mengetuk.
Galih meletakkan telapak tangannya di pintu. Dari dalam. Kayu yang dingin dan sedikit kasar.
Lima senti. Tidak lebih. Kayu pintu setebal lima senti.
Ia mendengar satu kalimat lewat lima senti kayu. Dan ia pergi.
Ia tidak mendengar apa yang terjadi setelahnya. Ia tidak mau mendengar. Ada suara lain di balik pintu itu, malam itu, setelah kalimat itu. Suara yang tersendat-sendat. Mungkin tangis, mungkin tawa. Ia tidak bisa membedakannya lewat kayu setebal lima senti.
Ia tidak mau membedakannya.
Galih memindahkan telapak tangannya dari pintu. Berbalik. Memandangi kamar.
Lalu, pelan, ia duduk di lantai. Punggung di pintu. Kaki ditekuk. Lutut di dada.
Ia memandangi langit-langit. Di pojok dekat AC, noda bekas bocor. Berbentuk pulau.
Ia tertawa. Pelan. Pecah.
Semua langit-langit di dunia sepertinya punya noda berbentuk pulau.
Hari ketiga
Kedai Karang di gang belakang pasar ikan masih punya plang dari kayu bekas perahu dengan huruf yang dicat tangan dan agak miring. Enam meja kayu. Oven batu bata. Bau adonan roti dan kopi.
Speaker kecil di rak atas memutar lagu dangdut. Bukan lagu itu. Galih bersyukur.
Kang Asep berdiri di balik bar dengan celemek kotor dan handuk kecil di bahu. Rambutnya lebih pendek. Ada uban di pelipisnya yang dulu tidak ada. Tato jangkar di lengannya masih pudar.
Ia mengangkat kepala waktu Galih masuk.
Diam sebentar. Menyipitkan mata.
Lalu tersenyum lebar.
“Si Aa sepuluh kedai!”
Galih tidak bisa menahan senyumnya. “Kang.”
“Ya Allah, Aa! Dua tahun!” Kang Asep keluar dari balik bar. Memeluknya. Menepuk punggungnya keras sekali sampai Galih terbatuk. “Duduk, duduk! Kopi? Ini kopi Aa yang dulu. Gilingannya udah Akang naikin dua klik. Airnya didiemin setengah menit. Sekarang semua turis bilang kopi Akang paling enak se-Pangandaran!”
Ia menyeduhkan secangkir. Meletakkannya di meja di depan Galih.
Galih menyesap.
Manis tanpa gula. Seperti buah ceri. Seperti cokelat.
“Enak, Kang.”
“Kan!” Kang Asep tersenyum puas. Lalu menoleh ke pintu. Ke jalan gang di luar. Lalu kembali ke Galih. “Si Teteh mana?”
Galih meletakkan cangkirnya.
“Yang dulu, A,” kata Kang Asep. “Yang keseleo. Yang gambar-gambar di tisu. Yang Aa pinjem motor Akang buat nganterin ke hutan bakau. Akang inget. Dia ketawa kayak angsa keselek.”
“Dia...” Galih memandangi cangkirnya. “Dia di Jakarta, Kang.”
Kang Asep memandanginya lama. Mata yang sudah terlalu sering melihat turis kasmaran datang dan pergi dari kedai kecil di gang belakang pasar ikan.
Ia menarik kursi di seberang Galih. Duduk. Meletakkan handuk kecil dari bahunya di atas meja.
“Aa berantem?”
Galih tidak menjawab.
“Aa kabur ke sini?”
Galih tetap tidak menjawab. Tapi rahangnya bergerak.
Kang Asep mengangguk pelan. Menghela napas.
“A,” katanya. “Akang dulu kerja jadi barista di Bandung. Dua belas tahun. Terus bapak Akang sakit. Akang pulang ke sini. Katanya cuma sebentar. Sebulan. Terus bapak meninggal. Terus Akang nggak balik lagi ke Bandung.” Ia memandangi oven batu bata. “Ada cewek di Bandung. Nunggu Akang. Akang nggak pernah bilang Akang nggak balik. Akang cuma nggak balik. Nggak bales SMS. Nggak angkat telepon.”
Galih mengangkat kepala.
“Setahun kemudian dia nikah sama orang lain,” kata Kang Asep. Tersenyum kecil. Tidak pahit. Hanya lelah. “Akang lihat fotonya di Facebook. Dia senyum. Bahagia. Akang seneng buat dia. Beneran.”
Ia mengambil handuk dari meja. Menyampirkannya lagi di bahu.
“Tapi tiap malem, A, sampai sekarang, Akang masih mikir. Kalau dulu Akang telepon dia sekali aja. Sekali. Bilang aku nggak balik, maaf. Atau bilang aku mau balik, tunggu aku. Apa aja. Mungkin sekarang dia yang lagi bikin roti di oven itu.”
Ia berdiri. Menepuk bahu Galih.
“Kopinya gratis, A,” katanya. “Buat yang udah benerin kopi Akang.”
Ia kembali ke balik bar.
Galih duduk di kedai itu sampai kopinya dingin.
Di pasar oleh-oleh, deretan kios masih sama. Kaus I Love Pangandaran digantung seperti bendera. Ikan asin di tampah. Pedagang yang memanggil setiap orang lewat dengan Teh dan A.
Galih berjalan menyusuri deretan itu dengan tangan di saku jaket.
Ia melewati kios kacamata hitam murahan. Melewati kios mainan tempat ia membeli dinosaurus hijau untuk Kiki. Melewati kios kain pantai tempat ia membeli kain batik cokelat keemasan untuk Astri.
Lalu ia berhenti.
Di ujung deretan. Bukan kios terpal. Etalase kaca dengan lampu kuning. Papan nama kayu. Perak Tasik.
Seorang ibu gemuk berkerudung ungu duduk di balik etalase, memoles sesuatu dengan kain beludru.
Galih tidak masuk. Ia berdiri di seberang jalan. Di bawah pohon ketapang.
Ibu itu mengangkat kepala. Memandangi jalan. Memandangi laki-laki di bawah pohon ketapang dengan jaket denim dan wajah yang terlalu lelah untuk turis.
Ia berhenti memoles.
Galih melihatnya mengenali dirinya. Pelan. Seperti gambar yang dimuat di sinyal lemah.
Bu Enok berdiri dari kursinya. Tersenyum. Mengangkat tangan untuk melambai.
Lalu tangannya berhenti di udara. Senyumnya goyah.
Karena ia melihat bahwa Galih sendirian.
Galih mengangguk kecil ke arahnya. Sopan. Lalu berbalik dan berjalan pergi, sebelum Bu Enok sempat menyeberang jalan, sebelum ia sempat bertanya Teteh-nya mana, A? Cincinnya udah dikasih?
Di saku dalam jaketnya, kotak beludru merah terasa berat sekali.
Pantai di pagi hari keempat masih sepi.
Langit belum biru. Masih abu-abu keperakan. Dua nelayan membereskan jaring. Seekor anjing kampung tidur melingkar di bawah perahu terbalik.
Dan papan besi bertuliskan AWAS ARUS BALIK, yang ujungnya sudah berkarat.
Galih duduk di pasir kering di dekat papan itu. Tidak jauh dari garis air. Memeluk lutut.
Di sini. Jenar jatuh di sini. Pasir yang memutuskan untuk tidak ada. Pergelangan kaki yang berbunyi seperti kerupuk diinjak.
Mbak nggak apa-apa?
Nggak apa-apa. Dengan air mata yang jatuh.
Ia duduk di sana lama sekali.
“Kacang, A? Masih anget.”
Galih menoleh.
Seorang ibu dengan tampah berisi kacang rebus berdiri di sebelahnya. Kerudung cokelat. Wajah yang keriput oleh matahari. Ibu yang sama. Ibu yang memberikan sebungkus kacang gratis pada perempuan yang menangis di atas koper, dua tahun lalu.
“Nggak, Bu. Makasih.”
“Buat sarapan, A.”
Galih memandangi pasir.
“Saya lagi patah hati, Bu,” katanya.
Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sendiri kaget.
Ibu itu memandanginya. Dua detik. Lalu, tanpa berkata apa-apa, menyodorkan satu bungkus plastik kecil.
“Gratis,” katanya. “Patah hati juga harus makan.”
Galih menerimanya. Kacangnya masih hangat.
Ia mengupas satu. Memakannya. Lalu matanya panas.
Ibu itu tidak pergi. Ia menurunkan tampahnya di pasir. Duduk di sebelah Galih. Mengeluarkan satu kacang untuk dirinya sendiri dan mengupasnya dengan jari yang cekatan.
“Ibu inget Aa,” katanya.
Galih menoleh.
“Aa yang dulu nolongin Neng yang keseleo. Yang nangis di atas koper.” Ibu itu memandangi laut. “Aa duduk di pasir basah sampai celananya kuyup. Ibu lihat. Ibu pikir, wah, ini cowok bego. Tapi bego yang baik.”
Galih tertawa. Tawa yang pecah di tengah.
“Si Neng mana?”
“Di Jakarta, Bu.”
“Oh.” Ibu itu mengangguk. Mengupas kacang lagi. “Terus Aa ngapain di sini sendirian?”
Galih memandangi laut. Ombak datang dan pergi. Garis air yang maju dan mundur di pasir.
“Kabur, Bu.”
Ibu itu tidak kaget. Ia mengangguk lagi. Seperti sudah menduga.
“Kabur dari si Neng?”
“Dari diri saya sendiri, kayaknya.”
Ibu itu tertawa. Tawa yang serak dan keras. Anjing di bawah perahu terbalik mengangkat kepala, lalu tidur lagi.
“A,” katanya. “Ibu udah jualan kacang di pantai ini tiga puluh tahun. Ibu udah lihat ribuan orang dateng ke sini buat kabur. Dari suami. Dari istri. Dari utang. Dari kantor. Dari diri sendiri.” Ia memandangi laut. “Tahu nggak, A, apa yang sama dari mereka semua?”
“Apa, Bu?”
“Laut ini nggak pernah bisa bikin mereka lupa.” Ibu itu berdiri. Mengangkat tampahnya. Menepuk pasir dari rok batiknya. “Laut cuma bikin mereka inget lebih jelas. Makanya mereka pulang.”
Ia berjalan pergi di sepanjang garis pantai. Menawarkan kacang pada dua nelayan yang membereskan jaring.
Galih duduk di pasir dengan bungkus kacang di tangan dan memandangi papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat.
Malam keempat
Ponselnya bergetar di nakas kamar dua-empat-satu jam sebelas malam.
Fadlan. Lagi. Dua puluh tiga panggilan tak terjawab dalam empat hari. Lima puluh pesan.
Galih membaca pesan terakhir.
Fadlan : Gal. Gue nggak nanya lagi lo di mana. Gue cuma mau bilang satu hal. Kontrak Bali udah di meja gue. Gue belum tanda tangan apa-apa. Gue nunggu lo telepon gue langsung. Pakai suara lo. Bukan chat. Kalau lo mau pergi ke Bali, lo bilang ke gue pakai suara lo sendiri. Gue nggak bakal urus apa pun sampai lo ngomong.
Galih memandangi pesan itu.
Lalu ia mengetik. Satu kata.
Pangandaran.
Ia mengirimnya. Lalu mematikan ponsel dan berbaring menatap noda berbentuk pulau di langit-langit.
Malam keenam
Fadlan mengetuk pintu kamar dua-empat-satu jam tujuh malam.
Galih tahu itu Fadlan sebelum membuka pintu. Tidak ada orang lain di dunia yang mengetuk pintu seperti itu. Tiga kali, cepat, lalu satu kali lagi, pelan. Seperti kode. Kode yang mereka buat di kos-kosan dulu, supaya tahu yang mengetuk bukan ibu kos yang menagih uang sewa.
Ia membuka pintu.
Fadlan berdiri di lorong lantai dua. Kaus polo biru dongker yang selalu ia pakai kalau mau terlihat serius. Rambut berantakan karena menyetir tujuh jam dengan jendela terbuka. Mata merah.
Di atas kepalanya, lampu lorong berkedip.
Mereka saling pandang.
“Lo nyetir tujuh jam,” kata Galih.
“Delapan. Macet di Ciamis.”
“Kiki?”
“Sama ibunya. Akhir pekan jadwal Rina.” Fadlan memandangi Galih dari atas sampai bawah. Kaus yang sudah dipakai tiga hari. Wajah yang belum dicukur. Jaket denim yang tidak pernah dilepas. “Lo kayak mayat, Gal.”
“Makasih.”
Fadlan tidak masuk. Ia berdiri di ambang pintu. Memandangi kamar di belakang Galih. Kasur yang berantakan. Tas di lantai yang masih tertutup. Bungkus-bungkus kacang rebus di nakas.
Lalu nomor kuningan di pintu. Tiga angka.
“Dua-empat-satu,” kata Fadlan pelan.
Galih tidak menjawab.
“Ini kamarnya, kan?”
“Iya.”
Fadlan memandanginya lama.
“Lo nyiksa diri sendiri,” katanya.
“Gue tahu.”
“Ayo keluar.”
Mereka duduk di pasir di dekat papan AWAS ARUS BALIK. Malam. Laut hitam. Lampu perahu nelayan berkelip di garis cakrawala seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.
Fadlan membawa dua kaleng kopi susu dari minimarket. Menyodorkan satu ke Galih.
“Jangan komentar,” katanya. “Gue tahu ini kopi kaleng.”
Galih mengambilnya. Membukanya. Tidak meminumnya.
Mereka duduk dalam diam. Ombak. Angin. Anjing kampung yang menggonggong sekali di kejauhan.
“Lo ngulang,” kata Fadlan akhirnya.
Galih memandangi laut.
“Tiga kali, Gal. Lo kabur dari rapat gue. Lo kabur dari sini, dua tahun lalu. Sekarang lo kabur lagi. Ke sini. Ke tempat yang sama. Ke kamar yang sama.”
“Gue tahu.”
“Lo nggak tahu.” Fadlan memutar kaleng kopinya di tangan. “Kalau lo tahu, lo nggak bakal ngelakuin itu lagi.”
Galih tidak menjawab.
“Hana cerita semuanya ke gue,” kata Fadlan.
Galih menoleh.
“Soal kafe. Soal tamparan. Soal lo pulang, ngepak tas, berdiri di depan pintu kamar Jenar sepuluh detik, terus pergi.” Fadlan memandanginya. “Jenar ngitung, Gal. Sepuluh detik. Dia duduk di kasur, di balik pintu, dan dia ngitung. Dia bilang ke Hana, tolong ketuk. Tolong bilang sesuatu. Satu kata. Nama gue. Apa aja.”
Galih merasakan sesuatu di dadanya runtuh. Pelan. Seperti dinding tua yang akhirnya menyerah pada hujan.
“Dia nunggu lo ngetok,” kata Fadlan. “Terus lo nggak ngetok.”
“Dia nampar gue, Lan.”
“Lo bilang dia perempuan yang jago mainin perasaan orang.”
“Dia nanya soal nikah sama orang lain. Sama kakaknya Hana. Yang baru putus. Yang dia tunggu tujuh tahun.”
“Dia nolak Hanif.”
Galih berhenti.
“Hanif sendiri yang cerita ke Hana.” Fadlan tidak memalingkan wajah. “Di kedai Kemang. Di kursi Kak Astri. Jenar bilang ke Hanif dia pernah suka dia tujuh tahun, tapi sekarang udah nggak. Dia bilang jantungnya udah nggak lompat lagi kalau lihat Hanif. Terus Hanif nanya siapa yang bikin jantung dia lompat sekarang.”
Galih tidak bernapas.
“Terus Hanif nebak sendiri,” kata Fadlan. “Dari kopinya. Senior. Hanif bilang, bosnya yang bikin kopi ini. Jenar nggak jawab. Tapi mukanya jawab.”
Laut. Ombak. Lampu perahu di garis cakrawala.
“Gue nggak tahu,” kata Galih. Suaranya hilang. Ia mencoba lagi. “Gue nggak tahu, Lan.”
“Karena lo nggak nanya.” Fadlan meletakkan kaleng kopinya di pasir. “Lo nggak pernah nanya. Lo denger satu kalimat, terus lo bikin satu dunia di kepala lo dari kalimat itu. Dua tahun. Lo nggak pernah ngecek dunia itu bener atau nggak. Lo nggak pernah ketok pintunya.”
Galih menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Dan satu lagi,” kata Fadlan. Lebih pelan. “Gue minta maaf.”
Galih menurunkan tangannya.
“Email ke semua cabang,” kata Fadlan. “Soal Bali. Gue yang kirim. Gue tulis ada kemungkinan. Gue kira kalau semua orang tahu, lo bakal panik dan telepon gue. Gue nggak mikir sampai situ. Gue nggak mikir kalau ini sampai ke Jenar.”
“Jenar tahu soal Bali?”
“Ya katanya dari Kedai Kemang. Hari Selasa.” Fadlan menunduk. “Dia nggak tahu lo udah nolak. Dia nggak tahu lo nolak karena dia. Dia pikir lo nyimpen tawaran itu dari lama. Dia pikir rencana jual rumah itu buat Bali. Dia pikir lo udah siapin pintu keluar dari awal.”
Galih berdiri.
Ia tidak tahu kenapa. Kakinya yang memutuskan. Ia berdiri di pasir, di bawah papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat, dan memandangi laut yang hitam.
“Malam ini malam keenam,” kata Fadlan dari bawah.
“Gue tahu.”
“Besok malam ketujuh.”
“Gue tahu, Lan.”
“Kalau lo nggak pulang besok sebelum tengah malem...”
“Gue tahu!”
Suaranya menggema di pantai yang sepi. Anjing di bawah perahu terbalik mengangkat kepala.
Fadlan tidak berdiri. Ia tetap duduk di pasir. Memandangi punggung sahabatnya.
“Terus lo nunggu apa?” tanyanya pelan.
Galih tidak menjawab.
Ia berdiri di sana lama sekali. Memandangi laut. Memandangi lampu perahu. Memandangi garis air yang maju dan mundur di pasir.
“Gue takut, Lan,” katanya akhirnya. Sangat pelan. Hampir tertelan ombak.
“Takut apa?”
“Takut gue pulang, terus dia yang pergi.”
Fadlan berdiri. Pelan. Menepuk pasir dari celananya. Berdiri di sebelah Galih.
“Galih,” katanya. “Dia nggak pernah pergi. Dua tahun. Lo yang pergi. Lo pergi dari sini. Lo pergi dari Casa Lidia pas lo pura-pura nggak kenal dia. Lo pergi dari dapur pas lo bilang itu kesalahan. Lo pergi tiga minggu pulang jam sebelas malem. Lo pergi sejam ke Tanah Kusir. Lo pergi sekarang.” Suaranya bergetar. “Dan dia nggak pernah pergi. Dia tetep di rumah itu. Dia tetep pakai kalung lo. Dia tetep dateng ke kedai lo tiap minggu dan bayar penuh. Dia tetep nunggu.”
Galih tidak bergerak.
“Orang yang takut ditinggal,” kata Fadlan, “dan tetep nggak pernah pergi, Gal. Lo tahu itu apa?”
Galih memandangi laut.
“Itu bukan orang yang main-main,” kata Fadlan.
Hari ketujuh
Galih tidak tidur malam itu. Fadlan tidur di kasur kamar dua-empat-satu, mendengkur keras seperti mesin roasting industri. Galih duduk di lantai. Punggung di pintu. Di tempat yang sama. Memandangi noda berbentuk pulau.
Jam lima pagi, Fadlan bangun. Memandangi Galih yang masih duduk di lantai.
“Lo pulang?”
Galih tidak menjawab.
Fadlan menghela napas. Mengambil kunci mobilnya. Berdiri di ambang pintu.
“Gue duluan,” katanya. “Gue harus jemput Kiki Minggu pagi.” Ia berhenti. “Gal. Kalau lo nggak pulang, gue nggak bakal marah. Gue cuma bakal sedih. Terus gue bakal tanda tangan kontrak Bali buat lo. Terus gue bakal pergi ke rumah Kenanga dua belas hari Senin, bareng notaris, dan gue bakal lihat Jenar ngomong sendirian di depan map merah. Dan gue bakal inget ini seumur hidup gue.”
Ia pergi.
Galih mendengarkan langkahnya di lorong. Lampu yang berkedip. Tangga. Pintu lobi. Mobil di parkiran. Mesin menyala. Menjauh.
Ia duduk di lantai sampai matahari terbit.
Jam tiga sore, ponselnya bergetar.
Galih memandangi layar. Nama yang tidak ia duga.
Hana.
Ia tidak menyimpan nomor ini. Fadlan yang menyimpankannya, berbulan-bulan lalu, di ponselnya, waktu mereka semua pergi ke bandara. Buat jaga-jaga, kata Fadlan.
Ia mengangkatnya.
Bunyi mesin mobil. Klakson. Radio yang memutar lagu pop. Dan suara Hana, serak dan cepat dan sangat marah.
“Lo di mana?”
“Pangandaran.”
“Gue di taksi. Mau ke bandara. Pesawat gue jam sembilan malem. Gue udah ganti tiket sekali. Gue nggak bisa ganti lagi. Dan gue nggak bakal naik pesawat itu sebelum gue ngomong sama lo.”
Galih tidak menjawab.
“Dengerin gue,” kata Hana. “Dengerin sampai habis. Jangan tutup. Jangan kabur. Kalau lo tutup telepon ini, gue suruh sopir taksi ini puter balik ke Pangandaran, dan gue bakal nyiram lo pakai es buah di depan seluruh hotel.”
Galih hampir tertawa.
“Malem itu,” kata Hana. Suaranya bergetar sekarang. “Malem terakhir di Pangandaran. Gue yang telepon Jenar. Gue lihat kalung lo di lehernya. Gue panik. Gue takut dia jatuh lagi. Gue takut lo cuma cowok iseng yang nemuin cewek patah hati di pantai. Jadi gue interogasi dia. Gue bilang dia gila. Gue bilang dia jahat. Gue bilang kakak gue nelepon nanyain dia, dan gue tahu itu bakal bikin dia goyah. Terus gue hampir bilang dia murahan.”
Galih menutup mata.
“Dia nggak bisa napas, Gal,” kata Hana. “Gue lihat mukanya di layar. Dia nggak bisa napas. Dia pengen gue berhenti. Jadi dia bilang kalimat itu. Keras. Datar. Biar gue diem. Dan gue diem. Gue bilang ya udah, hati-hati aja, jangan sampai dia yang sakit. Terus gue tutup.”
Bunyi klakson di latar belakang. Radio. Mesin.
“Besok paginya,” lanjut Hana, “dia telepon gue dari bus. Nangis. Nangis kayak anak kecil. Dia bilang dia bohong. Dia bilang dia pegang kalung lo sampai tangannya sakit. Dia bilang dia udah beli gantungan kunci. Papan selancar. Pakai nama lo. Dia mau kasih ke lo pagi itu. Dia mau bilang dia nggak perlu nunggu sampai Bandung. Dia udah yakin.”
Galih tidak bernapas.
“Terus dia nemuin kamar lo kosong,” kata Hana. Suaranya pecah. “Terus dia nemuin nomornya lo blokir.”
Hening. Hanya mesin taksi dan radio.
Galih memejamkan mata.
Lorong lantai dua. Lampu yang berkedip. Lima senti kayu pintu.
Suara yang tersendat-sendat. Mungkin tangis, mungkin tawa.
Ia tidak mau membedakannya.
Ia pergi karena lebih mudah.
Lebih mudah jadi korban. Lebih mudah pergi.
Kalau udah terlalu sakit, aku pergi aja. Lebih gampang.
“Satu lagi,” kata Hana. Lebih pelan sekarang. “Semalem notaris nelepon dia. Bilang Senin mau pemeriksaan. Nanya lo ada atau nggak.”
Galih membuka mata.
“Dia bohong, Gal,” kata Hana. “Ke notaris. Dia bilang lo ada. Dia bohong buat lo. Buat rumah itu. Buat lo.”
Galih berdiri. Dari lantai kamar dua-empat-satu. Kakinya kaku setelah semalaman duduk. Ia terhuyung. Menangkap kusen pintu.
“Hari ini malam ketujuh,” kata Hana. “Lo tahu, kan?”
“Gue tahu.”
“Pangandaran ke Jakarta berapa jam?”
Galih memandangi jam di ponselnya. Jam tiga lewat dua puluh sore.
“Tujuh. Delapan kalau macet.”
“Terus lo masih di situ?”
Galih memandangi kamar. Tas di lantai yang tidak pernah dibuka. Bungkus-bungkus kacang rebus di nakas. Seprai putih yang bau kaporit.
Noda berbentuk pulau di langit-langit.
“Na,” katanya.
“Apa?”
“Makasih.”
Hana diam sebentar. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba sangat lelah dan sangat lega:
“Jangan makasih ke gue. Makasih ke dia. Pakai suara lo sendiri. Pakai muka lo sendiri. Bukan punggung lo.”
Ia menutup telepon.
Galih check-out jam tiga lewat tiga puluh lima.
Resepsionis yang matanya mengantuk menerima kunci kuningan dengan nomor tiga angka. Memandanginya. Lalu memandangi Galih.
“Buru-buru, Pak?”
“Iya.”
“Kamarnya dibayar sampai besok.”
“Nggak apa-apa.”
Resepsionis itu mengangguk. Tidak peduli.
Di parkiran, di pos satpam, seorang laki-laki berseragam dengan rokok di bibir dan anjing kampung tertidur di kakinya. Pak Darto. Ia memandangi Galih yang berlari ke mobilnya dengan tas di satu tangan dan kunci di tangan yang lain.
Ia menurunkan rokoknya. Menyipitkan mata.
“Mas,” panggilnya. “Mas yang dulu kabur tengah malem, ya?”
Galih berhenti di sebelah pintu mobil.
Pak Darto nyengir. “Mas yang kamar ujung. Dua tahun lalu. Yang jalan kayak maling dari kamar Mbak dua-empat-satu. Terus tengah malemnya check-out, nggak pamit.”
“Iya, Pak.”
“Kabur lagi?”
Galih membuka pintu mobil. Melempar tasnya ke kursi belakang. Berdiri sebentar.
“Nggak, Pak,” katanya. “Kali ini pulang.”
Pak Darto memandanginya. Lalu mengangguk pelan. Mengangkat rokoknya, seperti bersulang.
“Hati-hati, Mas. Cipularang lagi hujan katanya.”
Jam empat lewat lima, mobil Galih keluar dari gerbang hotel Pesona Laut.
Ia melewati jalan pantai. Melewati deretan hotel dengan pohon ketapang. Melewati pasar oleh-oleh, dan etalase kaca dengan lampu kuning di ujungnya, dan seorang ibu gemuk berkerudung ungu yang berdiri di depan tokonya dengan kain beludru di tangan, memandangi mobil yang lewat.
Galih membunyikan klakson. Dua kali.
Bu Enok mengangkat tangan. Melambai.
Ia melewati gang di belakang pasar ikan. Plang kayu bekas perahu. Kang Ujang di ambang pintu dengan handuk di bahu, mengacungkan jempol ke arah mobil yang lewat tanpa tahu siapa di dalamnya.
Ia melewati pantai. Papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat. Seorang ibu dengan tampah kacang rebus di kepala, berjalan di sepanjang garis air.
Lalu jalan keluar Pangandaran. Papan besi bertuliskan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda.
Di kaca spion, laut menghilang.
Di langit di atas Ciamis, awan kelabu menggantung rendah. Tebal. Berat.
Di dashboard, jam digital menunjukkan pukul empat lewat dua puluh.
Tujuh jam. Delapan kalau macet.
Tengah malam.
Galih menginjak gas.
Di saku dalam jaket denimnya, di balik ritsleting yang terkunci, kotak beludru merah. Di kursi belakang, tas yang tidak pernah dibuka, dan di dalamnya, kotak kecil berpita krem.
Ia membawa Jihan pulang.
Hujan mulai turun di tol Cipularang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!