BAB 25 - Ketuk

0 dibaca

A

Hujan turun jam delapan malam, dan tidak berhenti.

Jenar mendengarnya dari kamarnya. Bukan gerimis. Hujan yang sama seperti malam lilin vanila. Hujan yang jatuh seperti ditumpahkan dari ember raksasa, memukul genteng dan atap seng di lorong samping dengan bunyi seperti ribuan kerikil.

Ia duduk di meja belajar dengan coretan tipe-x di pojoknya. Lampu meja menyala. Di depannya, selembar kertas.

Kepada Yth. Ibu Ratna Sulistyowati, S.H., M.Kn.

Dengan hormat,

Saya, Jenar Masayu, ahli waris dari almarhum Leknor Masayu dan almarhumah Astri Ayuningtyas, dengan ini memberitahukan bahwa...

Tiga baris. Sama seperti dua malam lalu. Ia sudah duduk di sini tiga jam, dan belum menambahkan satu kata pun.

Di sebelah kertas itu, gantungan kunci papan selancar kuning. Ia tidak memasukkannya kembali ke laci sejak malam kelima. Ia membawanya ke mana-mana. Di saku celana ke kantor. Di genggaman waktu tidur. Di sebelah laptop waktu menggambar detail tangga sekolah.

Ponselnya tergeletak di sebelah gantungan kunci. Layarnya menyala sebentar tadi, jam enam sore. Pesan dari Hana.

Gue di bandara. Pesawat jam 9. Gue sayang lo. Apa pun yang terjadi malem ini, lo nggak sendirian.

Apa pun yang terjadi malem ini.

Jenar membalas dengan satu kata. Makasih. Lalu ia menatap pesan itu lama, bertanya-tanya kenapa Hana menulis malem ini, dan tidak menemukan jawabannya.

Jam dinding di ruang tengah berdetak. Ia bisa mendengarnya dari sini, di bawah bunyi hujan.

Jam sembilan. Jam sepuluh. Jam sebelas.

Malam ketujuh.

Galih pergi Sabtu malam, jam sembilan lewat dua puluh tiga. Ia menghitungnya berkali-kali. Sabtu. Minggu. Senin. Selasa. Rabu. Kamis. Jumat.

Malam ini.

Kalau Galih tidak pulang sebelum tengah malam, malam ketujuh habis. Malam kedelapan dimulai. Dan hari Senin, Ibu Ratna akan datang dengan map merah, dan Jenar akan duduk di sofa di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati, dan mengatakan yang sebenarnya.

Rumah ini dijual. Pohon mangga. Kamar hijau pupus. Pintu kulkas dengan dua belas aturan dan gambar krayon dinosaurus. Semuanya.

Jam sebelas lewat tiga puluh.

Jenar memandangi tiga baris di kertas itu.

...dengan ini memberitahukan bahwa...

Ia meletakkan pulpen.

Ia memandangi gantungan kunci papan selancar kuning. Huruf H yang terlalu besar.

Kadang orang yang pergi itu cuma nunggu dicari.

Bu Ratmi di kursi Galih. Rantang tiga susun. Sayur asem. Ibu naik angkot. Ibu cari dia. Ibu tahu dia pasti di warung kopi deket stasiun.

Jenar tidak tahu warung kopi yang mana. Ia tidak tahu Galih ada di mana. Di apartemen lamanya di Tebet, mungkin. Di kedai Mampang. Di rumah Fadlan. Di Bali, mungkin. Sudah di Bali. Sudah tujuh malam.

Ia tidak tahu.

Tapi ia tahu satu hal.

Hampir dua tahun ia menunggu. Di balik pintu. Dengan napas yang pelan supaya bisa mendengar kalau pintu itu terbuka. Di lorong lantai dua dengan lampu yang berkedip. Di kamar apartemen di Tebet dengan gantungan kunci di laci. Di kasur single ini, tujuh malam, menghitung.

Ia selalu menunggu. Ia tidak pernah mencari. Ia tidak pernah mengetuk. Ia tidak pernah bicara duluan.

Karena kalau ia yang bicara duluan, dan orangnya pergi, ia tidak tahu harus bagaimana.

Tapi orangnya sudah pergi. Tujuh malam. Tidak ada lagi yang bisa hilang.

Jenar berdiri.

Kursi meja belajar terdorong ke belakang dan membentur kasur. Ia tidak peduli. Ia menyambar jaket dari gantungan di balik pintu. Jaket Leknor yang kebesaran, yang ia pakai waktu jalan pagi bersama Galih. Memasukkan ponsel ke saku. Memasukkan gantungan kunci ke saku yang lain.

Ia tidak tahu harus ke mana. Tebet, mungkin. Apartemennya. Ia pernah melihat alamatnya di surat-surat yang datang ke rumah ini, surat dari bank dan tagihan listrik yang lupa dipindahkan. Ia tidak tahu apakah Galih ada di sana. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan kalau Galih ada di sana.

Tapi ia akan mengetuk.

Kali ini ia yang mengetuk.

Ia berjalan cepat menyusuri lorong yang gelap. Melewati pintu ruang kerja yang terbuka. Sofa kulit yang retak dengan selimut terlipat rapi. Papan selancar kuning. Melewati pintu kamar hijau pupus yang terbuka. Cahaya lampu jalan jatuh di lantai kayunya, di boks jati, di mainan gantung berbentuk awan.

Ruang tengah. Foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Jam dinding.

Jam sebelas lewat empat puluh enam.

Ia menyambar kunci rumah dari gantungan di dekat pintu. Menyambar payung dari keranjang di sebelahnya.

Ia meletakkan tangannya di gagang pintu depan.

Memutarnya.

Menariknya.


Galih berdiri di teras.

Basah kuyup. Dari rambut sampai sepatu. Jaket denim yang menempel di tubuhnya, gelap karena air. Air mengalir dari ujung rambutnya ke dahi, ke hidung, ke dagu. Di tangan kirinya, payung hitam yang terbuka, miring, tidak menaungi apa pun, seperti ia lupa sedang memegangnya.

Tangan kanannya terangkat. Di udara. Setinggi dada. Jari-jarinya tertekuk, seperti orang yang akan mengetuk.

Satu senti dari pintu yang tiba-tiba sudah tidak ada di sana.

Mereka saling pandang.

Hujan di belakang Galih. Lampu teras yang menyala kuning. Air yang menetes dari genteng ke lantai teras, satu-satu, cepat.

Tangan Galih masih di udara. Di tempat pintu itu tadi berada. Tidak turun.

Jenar memandangi tangan itu.

Satu senti.

Selalu satu senti.

“Kamu,” bisiknya.

Galih tidak bergerak. Napasnya memburu. Dadanya naik turun cepat di balik jaket denim yang basah. Matanya merah. Wajahnya pucat. Ada bayangan gelap di bawah matanya, dan janggut tipis yang tidak dicukur berhari-hari.

Ia memandangi Jenar. Jaket Leknor yang kebesaran. Kunci rumah di satu tangan. Payung di tangan yang lain. Sepatu yang dipakai terbalik. Kiri di kanan. Kanan di kiri. Jenar baru menyadarinya sekarang.

“Kamu mau ke mana?” tanya Galih. Suaranya serak. Parau. Seperti orang yang tidak bicara berhari-hari.

Jenar memandangi kunci di tangannya.

“Nyari kamu,” katanya.

Galih memejamkan mata.

Hanya sebentar. Lalu membukanya lagi. Dan di matanya, di bawah lampu teras yang kuning, sesuatu yang retak dan hancur dan sangat, sangat lega.

Tangannya masih di udara. Terangkat. Seperti mau mengetuk.

Ia menurunkannya. Pelan. Lalu, sebelum Jenar sempat bicara, ia mengangkatnya lagi. Mengepalkannya.

Dan mengetuk kusen pintu.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Bunyinya kecil. Hampir tertelan hujan. Tiga ketukan di kusen kayu yang catnya mengelupas.

Jenar memandanginya.

“Aku mau ngetok,” kata Galih. Pelan. “Sabtu malem. Di depan kamar kamu. Aku berdiri di sana. Tangan aku udah di atas. Kayak sekarang. Aku nggak ngetok.”

“Sepuluh detik,” bisik Jenar.

“Kamu ngitung.”

“Aku ngitung.”

“Aku tahu.” Galih menelan ludah. Air hujan mengalir di pelipisnya. “Fadlan bilang. Hana bilang. Kamu ngitung sepuluh detik. Kamu nunggu aku ngetok.”

Jenar tidak bisa bicara.

“Jadi aku ngetok,” kata Galih. “Sekarang. Telat tujuh malem. Tapi aku ngetok.”


Mereka berdiri di ambang pintu. Galih di teras, di bawah payung yang miring dan tidak menaungi apa pun. Jenar di dalam, di balik kusen, dengan jaket kebesaran dan sepatu yang terbalik.

Hujan. Lampu teras. Air yang menetes dari genteng.

Di rumah di belakang, di balik pagar, lampu dapur Bu Ratmi menyala.

“Aku ke Pangandaran,” kata Galih.

Jenar menahan napas.

“Aku nginep di kamar dua-empat-satu.” Ia tertawa kecil. Pecah. “Aku minta kamar itu. Resepsionisnya bilang kamarnya ngadep parkiran. Aku bilang nggak apa-apa.”

“Galih...”

“Aku duduk di balik pintunya. Tiga malem. Di lantai. Di tempat kamu berdiri malem itu. Aku lihat langit-langitnya. Ada noda bekas bocor. Bentuknya kayak pulau.”

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku ketemu Kang UjangAsep,” lanjut Galih. “Kopinya udah enak. Dia nanya si Teteh mana. Aku ketemu ibu kacang rebus. Dia kasih aku kacang gratis. Katanya patah hati juga harus makan.” Suaranya bergetar. “Aku ketemu Pak Darto. Dia bilang Mas yang dulu kabur tengah malem, ya?”

Jenar tertawa. Tidak bisa ditahan. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain.

Galih memandanginya tertawa. Dan wajahnya, untuk pertama kalinya malam itu, sedikit melunak.

“Jenar,” katanya.

Ia menarik napas. Bergetar.

Air hujan mengalir di wajahnya. Atau bukan air hujan. Jenar tidak bisa membedakannya.

Ia berhenti.

“Aku pengecut, Jen. Kak Astri bener. Dari dulu.”

“Lebih gampang percaya kalimat itu,” kata Galih. “Lebih gampang jadi orang yang disakitin. Lebih gampang pergi.”

Jenar memandanginya. Laki-laki di teras, basah kuyup, dengan payung yang miring dan wajah yang tidak lagi punya pintu apa pun untuk bersembunyi.

Ia meletakkan payung dan kunci di lantai di sebelah pintu. Merogoh saku jaket Leknor.

Gantungan kunci papan selancar kuning. Hangat karena genggamannya.

Ia mengulurkannya. Di telapak tangannya yang terbuka. Di antara mereka. Di ambang pintu.

Galih memandanginya.

Kayu yang dicat kuning. Sedikit pudar di satu sisi. Huruf-huruf yang diukir sedikit miring.

GALIH.

“Huruf H-nya kegedean,” kata Jenar. Suaranya kecil. “Bapaknya ngukir pakai alat listrik. Aku berdiri munggungin kiosnya biar bisa lihat kamu lagi nawar kacamata hitam.”

Galih tidak bergerak.

“Aku mau kasih ke kamu malem itu,” lanjut Jenar. “Pas kamu minta nomor aku di bawah pohon ketapang. Gantungan kunci ini udah di saku celana aku. Aku mau kasih. Terus aku pikir, nanti aja. Pas malem terakhir.”

Ia memandangi gantungan kunci di telapak tangannya.

“Terus malem terakhir kamu pergi.”

Galih mengangkat tangan. Pelan. Seperti takut gantungan kunci itu hilang kalau disentuh terlalu cepat.

Jari-jarinya mendekat. Lima senti. Tiga.

Sesenti.

Berhenti.

Jenar memandangi jarinya. Menggantung di udara. Di atas telapak tangannya. Satu senti.

Ia tidak menunggu.

Ia menggeser tangannya ke atas. Satu senti. Telapak tangannya menyentuh ujung jari Galih.

Galih menarik napas. Tajam.

Lalu jari-jarinya tidak lagi menggantung. Jari-jarinya menutup di atas tangan Jenar. Di atas gantungan kunci. Menggenggam keduanya. Tangan Jenar dan papan selancar kecil dari kayu kuning. Dingin karena hujan. Gemetar.

“Aku bohong, Galih,” bisik Jenar.

Galih memandanginya.

“Di telepon itu,” kata Jenar. “Aku bohong. Hana maksa aku. Dia bilang aku gila, dia bilang aku jahat, dia bilang Kak Hanif nanyain aku, dia hampir bilang aku murahan. Aku nggak bisa napas. Aku pengen dia berhenti. Jadi aku ngomong hal pertama yang aku pikir bisa bikin dia diem.”

Air matanya turun. Ia tidak mengusapnya.

“Kamu bukan pengisi waktu. Kamu nggak pernah jadi pengisi waktu. Dari detik kamu naruh papan selancar kuning di pasir di sebelah aku biar aku nggak ketiduran di tempat basah, aku udah tahu.”

Genggaman Galih mengencang.

“Abis telepon itu aku yakin, aku yakin akan perasaanku,” lanjut Jenar. “Aku pegang kalung kamu sampai tangan aku sakit. Aku pegang ini juga. Aku mau bilang ke kamu besok paginya, aku nggak perlu nunggu sampai Bandung. Aku udah yakin.”

“Jen...”

“Aku nggak pernah lepas kalung kamu.” Suaranya pecah. “Kamu udah tahu. Tapi aku mau kamu denger dari aku. Aku nggak pernah lepas. Nggak di Casa Lidia pas kamu injek kaki aku. Nggak di nikahan Kak Leknor. Nggak di kantor notaris. Nggak di lantai dapur pas kamu bilang itu kesalahan. Tiap hari. Di balik kerah. Aku bilang ke Bu Ratmi aku gampang masuk angin.”

Galih tertawa. Tawa yang pecah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan.

“Dan pas di kafe,” kata Jenar, “pas aku nanya soal nikah sama orang lain. Aku nggak nanya soal Kak Hanif. Aku udah nolak Kak Hanif. Aku bilang jantung aku nggak lompat lagi kalau lihat dia.”

“Aku tahu,” kata Galih. “Fadlan bilang.”

“Aku nanya ke kamu soal nikah sama orang lain karena aku mau denger kamu bilang jangan.” Jenar memandanginya. Air mata di pipinya. Rambut yang berantakan. Sepatu yang terbalik. “Aku mau denger kamu bilang kamu nggak mau aku nikah sama siapa-siapa selain kamu. Aku terlalu takut nanya langsung. Jadi aku nanya dari samping. Kayak orang bego.”

Galih memandanginya lama sekali.

“Jangan,” katanya.

Jenar berhenti bernapas.

“Jangan nikah sama orang lain,” kata Galih. Suaranya pelan. Serak. Jelas. “Aku nggak mau kamu nikah sama siapa-siapa selain aku.”

Hujan. Lampu teras. Air yang menetes dari genteng.

Jenar tidak bisa bergerak.

Galih masih menggenggam tangannya. Di atas gantungan kunci papan selancar kuning. Lalu, pelan, ia menarik tangan itu. Tidak menjauh. Mendekat. Ke dadanya. Ke jaket denim yang basah kuyup.

Ia meletakkan telapak tangan Jenar di dadanya. Dengan gantungan kunci di antaranya.

“Rasain,” katanya.

Jenar merasakannya.

Di bawah telapak tangannya. Di bawah jaket denim yang basah. Di bawah kaus yang basah. Detak jantung.

Kencang. Sangat kencang. Tidak beraturan. Seperti seseorang yang memukul drum tanpa tahu lagunya.

“Dari pantai,” kata Galih, “sampai sekarang. Nggak pernah pelan.”

Jenar menutup matanya.

“Aku jatuh cinta sama kamu,” kata Galih, “waktu kamu ketawa kayak angsa keselek di pasir. Pagi pertama. Aku lagi ngusir anjing yang ngendus papan selancar aku. Terus kamu ketawa. Jelek banget. Kayak angsa yang ketelen biji jagung.”

Jenar tertawa. Di tengah tangisnya. Keras. Seperti angsa keselek.

“Kayak gitu,” kata Galih. Suaranya pecah. “Persis kayak gitu. Dan aku mikir, ya Allah. Aku mau denger itu tiap hari. Aku mau jadi orang yang bikin dia ketawa kayak gitu tiap hari.”

“Galih...”

“Aku nolak Bali.”

Jenar membuka mata.

“Sebelum semuanya. Sebelum kafe. Dua minggu sebelum kafe.” Galih memandanginya. “Aku bales email mereka jam satu pagi. Di ruang kerja Kak Leknor. Aku bilang aku nggak bisa ninggalin Jakarta. Aku bilang I made a promise to stay, and I intend to keep it.”

“Tapi Dita bilang...”

“Fadlan salah kirim email. Gara-gara aku. Gara-gara aku kabur Sabtu malem, terus kirim pesan ke dia, terima Bali.” Galih menggeleng. “Dia belum tanda tangan apa-apa. Dia nunggu aku ngomong pakai suara aku sendiri. Dan aku nggak bakal ngomong itu. Nggak bakal.”

“Kenapa kamu nggak bilang ke aku?”

“Soal Bali?”

“Iya.”

“Karena aku bego.” Galih tertawa kecil. “Karena aku pikir, kalau aku bilang aku nolak Bali buat kamu, dan ternyata kamu nggak mau aku di sini, aku yang malu. Aku yang ditinggal. Jadi aku diem. Kayak kulkas.”

Jenar memandanginya. Lalu, pelan, tangannya yang masih di dada Galih bergerak. Naik. Ke kerah jaket denim yang basah. Menggenggamnya.

“Kamu kulkas,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Kamu kulkas paling bego sedunia.”

“Kak Astri bilang aku kulkas dua pintu.”

“Kamu kulkas yang ditinggal di tengah hujan.”

“Aku...”

Jenar menariknya.

Melewati ambang pintu. Dari teras ke dalam rumah. Payung hitam jatuh dari tangan Galih ke lantai teras, masih terbuka, berputar pelan sekali di atas ujungnya lalu diam, tertelungkup, menampung air hujan.

Jenar menciumnya.

Di ambang pintu. Separuh di dalam, separuh di luar. Dengan hujan yang masih jatuh di punggung Galih dan air yang menetes dari rambutnya ke pipi Jenar.

Bibirnya dingin. Sangat dingin. Dingin karena hujan dan tujuh jam di jalan tol dan tujuh malam tanpa tidur.

Lalu hangat.

Galih menciumnya balik. Tangannya melepaskan tangan Jenar. Naik ke wajahnya. Menangkup kedua pipinya. Jari-jarinya yang dingin menyusup ke rambut di belakang telinga Jenar. Ia menciumnya seperti orang yang baru pulang dari tempat yang sangat jauh. Seperti orang yang tidak tahu apakah pintu ini akan dibuka, dan pintu ini dibuka.

Gantungan kunci papan selancar kuning terjepit di antara dada mereka. Kayunya menekan liontin hati kecil di balik kaus Jenar.

Jenar merasakan detak jantung Galih di dadanya sendiri. Tidak lagi di bawah telapak tangan. Di dadanya. Kencang. Tidak beraturan. Sama seperti miliknya.

Tidak jelas lagi yang mana milik siapa.

Hujan. Lampu teras. Air yang menetes dari genteng. Payung hitam tertelungkup di lantai teras. Di rumah di belakang, di balik pagar, lampu dapur Bu Ratmi menyala. Dan, sangat samar, di sela bunyi hujan, bunyi sesuatu. Seperti orang yang bertepuk tangan pelan sekali di balik jendela dapur.

Mereka tidak mendengarnya.

Di ruang tengah, di dinding di atas sofa, di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati, jam dinding berdetak.

Jarum panjang dan jarum pendek bertemu di angka dua belas.

Malam ketujuh selesai.

Tidak ada yang pergi.


Mereka duduk di lantai ruang tengah, setengah jam kemudian, bersandar di sofa.

Galih sudah berganti kaus kering dan celana training dari lemari di ruang kerja. Rambutnya masih setengah basah, handuk di lehernya. Jenar sudah membetulkan sepatunya, lalu melepaskannya sama sekali. Keduanya duduk bersila di karpet, bahu bersentuhan, di bawah foto pernikahan.

Di antara mereka, di atas karpet, dua cangkir teh melati. Dari toples di rak paling bawah. Dengan gula batu dari laci ketiga.

Di pangkuan Galih, gantungan kunci papan selancar kuning. Ia memutarnya pelan di antara jari-jarinya. Membaca namanya sendiri. Huruf H yang terlalu besar.

“Ini jelek banget,” katanya.

“Galih.”

“H-nya kayak kursi.”

“Kamu mau balikin?”

Galih menggenggamnya. Erat. Memasukkannya ke saku celana training. Menepuk saku itu dua kali.

“Nggak,” katanya.

Jenar tersenyum ke cangkir tehnya.

Di sebelah Galih, di lantai, tas yang tidak pernah dibuka selama tujuh malam. Ia membukanya sekarang. Mengeluarkan satu benda.

Kotak kecil berpita krem.

Ia memandanginya lama. Lalu berdiri. Berjalan ke ruang kerja. Jenar mendengarnya meletakkan kotak itu di rak buku. Di sebelah foto akad dalam bingkai kecil. Di tempat yang sama.

Ia kembali. Duduk lagi di karpet. Bahunya menyentuh bahu Jenar.

“Aku bawa dia pulang,” katanya pelan.

Jenar menyandarkan kepalanya di bahunya.

“Aku kira kamu bawa dia pergi,” bisiknya. “Aku kira orang yang mau pulang nggak bawa barang yang paling berharga.”

Galih diam sebentar.

“Aku nggak mau dia sendirian,” katanya. “Di rumah yang mau dijual. Kalau aku nggak pulang.”

“Tapi kamu pulang.”

“Aku pulang.”

Hujan mulai melambat di luar. Dari ember raksasa jadi gerimis besar. Bunyi di genteng tidak lagi seperti kerikil. Seperti jari-jari yang mengetuk pelan.

“Ada satu lagi,” kata Jenar.

“Hm.”

Jenar berdiri. Berjalan ke kamarnya. Kembali dengan selembar kertas di tangan.

Ia menyerahkannya pada Galih tanpa berkata apa-apa.

Galih membacanya. Tiga baris. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tulisan arsitek.

Kepada Yth. Ibu Ratna Sulistyowati, S.H., M.Kn.

Dengan hormat,

Saya, Jenar Masayu, ahli waris dari almarhum Leknor Masayu dan almarhumah Astri Ayuningtyas, dengan ini memberitahukan bahwa...

Galih memandangi kertas itu lama.

“Kamu mau lapor,” katanya.

“Aku nggak bisa bohong ke dia. Senin. Di depan map merah. Di depan tanda tangan Kak Leknor sama Kak Astri.” Jenar duduk lagi di sebelahnya. “Aku udah bohong sekali di telepon. Aku bilang kamu ada. Aku nggak bisa bohong dua kali.”

“Hana bilang.”

“Hana bilang semuanya, ya?”

“Hana nyuruh aku makasih ke kamu. Pakai suara aku sendiri.” Galih memandangi kertas itu. Lalu memandanginya. “Makasih, Jen.”

“Buat apa?”

“Buat bohong ke notaris buat aku.”

Jenar tertawa kecil. “Itu hal paling nggak romantis yang pernah dikasih makasih.”

“Itu hal paling romantis yang pernah dilakuin orang buat aku.”

Jenar memandanginya.

Galih memegang kertas itu dengan dua tangan. Lalu, pelan, ia menyobeknya. Jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Kertas itu berjatuhan di karpet di antara mereka seperti kelopak bunga kamboja.

“Nggak perlu,” katanya. “Nggak ada yang pergi.”


Jam satu pagi, mereka berdiri di depan pintu kulkas.

Rumah sunyi. Hujan sudah berhenti. Tetesan dari genteng ke talang, satu-satu, semakin jarang.

Dua belas aturan. Dua tulisan tangan. Aturan nomor tujuh dengan garis putus-putus. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli.

Aku nggak mau kayak setengah yang pertama. 12. Sarapan bareng. Setuju.

Dan di atas semuanya, aturan nomor enam.

Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tulisan Jenar. Dari malam pertama. Dari notes beruang milik Astri.

6. Jangan bahas pantai.

Galih membuka laci. Mengambil spidol. Membuka tutupnya.

Ia tidak mencoretnya.

Ia mengulurkan spidol itu pada Jenar.

Jenar memandangi spidol di tangannya. Lalu aturan nomor enam. Tulisannya sendiri.

Ia menarik satu garis. Dari kata pertama sampai kata terakhir. Tintanya hampir habis, jadi garisnya putus-putus di tengah. Ia menariknya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Sampai tidak ada satu huruf pun yang tidak tercoret.

Ia menyerahkan spidol itu kembali ke Galih.

Galih memandangi dua aturan yang dicoret. Nomor enam. Nomor tujuh. Pantai dan kamar. Dua pintu yang mereka kunci sendiri, dan buka sendiri.

Ia menulis di bawah aturan nomor dua belas. Tulisannya miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.

13. Kalau mau pergi, ketuk dulu.

Ia memandanginya. Lalu, di sebelahnya, lebih kecil:

(Tapi aku nggak bakal pergi.)

Ia menyerahkan spidol pada Jenar.

Jenar memandangi tulisan itu lama. Lalu ia menulis di bawahnya. Tulisan tegak dan kecil-kecil.

14. Ngomong.

Ia berhenti. Lalu menambahkan:

(Kata Kak Astri.)

Mereka berdiri berdampingan di depan pintu kulkas. Empat belas aturan. Dua dicoret. Dua baru.

Jenar menyandarkan kepalanya di bahu Galih.

Galih melingkarkan lengannya di pinggangnya.

Di saku celana training Galih, gantungan kunci papan selancar kuning. Di balik kaus Jenar, liontin hati kecil. Di saku dalam jaket denim yang sekarang tergantung basah di gantungan di dekat pintu depan, di balik ritsleting yang masih terkunci, kotak beludru merah.

Galih memikirkan kotak itu.

Ia bisa mengambilnya sekarang. Membuka ritsletingnya. Berlutut di lantai dapur, di depan pintu kulkas dengan empat belas aturan.

Ia tidak mengambilnya.

Tidak malam ini. Tidak jam satu pagi. Tidak setelah tujuh malam tanpa tidur, dengan mata yang bengkak dan tangan yang masih gemetar. Tidak di malam ketika Jenar baru saja berdiri di ambang pintu dengan sepatu terbalik, mau pergi mencarinya ke tempat yang ia tidak tahu.

Nanti. Di hari yang benar. Dengan tangan yang tidak gemetar. Dengan Jenar yang tidak sedang menangis.

Ia punya waktu.

Kali ini, ia benar-benar punya waktu.

“Jen,” katanya.

“Hm.”

“Besok pagi aku bikinin kopi.”

Jenar tersenyum di bahunya.

“Aku tahu,” katanya. “Jam setengah enam. Kamu duduk di kursi tamu. Nunggu aku bangun.”

“Iya.”

“Terus kamu nggak pergi sebelum aku bangun.”

“Nggak.”

“Janji?”

Galih mengeratkan lengannya di pinggang Jenar.

“Janji,” katanya. “Kali ini beneran.”


Ponsel Jenar bergetar di saku jaket Leknor yang tergeletak di lantai ruang tengah, jam dua lewat empat puluh pagi.

Mereka sudah tertidur. Di sofa ruang tengah. Kepala Jenar di dada Galih. Kain batik cokelat keemasan menyelimuti mereka berdua. Detak jantung di bawah telinga Jenar pelan dan teratur. Hanya waktu tidur.

Ponsel itu bergetar sekali. Dua kali. Lalu diam.

Pesan dari Hana. Dikirim dari bandara transit di Doha, di tengah perjalanan ke Belanda.

Jen. Gue baru landing transit. Fadlan bilang Galih udah jalan dari Pangandaran jam 4 sore. Dia pulang, kan? Dia nyampe, kan? JEN BALES.

Dan satu pesan lagi, di bawahnya, dikirim satu menit kemudian.

Fadlan barusan chat. Katanya Bu Ratmi kirim foto ke grup RT. Payung item kebalik di teras Kenanga 12. Captionnya cuma “Alhamdulillah.” Gue nggak ngerti tapi gue nangis di bandara Doha.

Jenar tidak membacanya sampai pagi.

Waktu ia membacanya, jam setengah enam, ia duduk di meja makan bundar. Di kursinya sendiri. Dengan secangkir kopi di depannya, masih mengepul, dan dua lembar roti bakar selai kacang yang dipotong diagonal.

Di seberangnya, di kursi tamu, seseorang dengan cangkir kopinya sendiri. Rambut basah dari mandi setengah enam. Tidak pergi.

Ia membalas pesan Hana. Satu kata.

Pulang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk