BAB 26 - Bar yang Menghadap ke Luar

0 dibaca

A

Jam setengah enam pagi, Galih duduk di kursi tamu dengan dua cangkir kopi, dan tidak pergi.

Jenar tahu karena ia bangun jam lima lewat dua puluh dan berbaring di kasur single mendengarkan. Bunyi penggiling kayu berengkol besi. Krek. Krek. Krek. Pelan. Berirama. Bunyi ketel leher angsa. Bunyi cangkir diletakkan di meja makan bundar. Satu. Dua.

Lalu tidak ada bunyi apa-apa lagi. Tidak ada kunci mobil yang diambil dari gantungan. Tidak ada pintu depan. Tidak ada pagar besi hijau.

Hanya sunyi. Sunyi orang yang duduk dan menunggu.

Jenar keluar kamar dengan kaus piyama dan rambut yang berantakan dan liontin hati kecil di luar kerah.

Galih mengangkat kepala dari cangkirnya waktu ia muncul di ambang dapur.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Mereka saling pandang. Lama. Seperti dua orang yang baru saja memastikan bahwa semalam bukan mimpi.

Jenar duduk di kursinya. Kopi di depannya. Mengepul. Dua lembar roti bakar selai kacang dipotong diagonal.

Ia menyesap kopinya.

Manis tanpa gula.

“Aku harus ke Mampang,” kata Galih setelah beberapa saat. “Ketemu Fadlan.”

Jenar meletakkan cangkirnya.

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Pulang jam berapa?”

“Jam dua. Paling lambat jam tiga.” Galih memandangi cangkirnya. Telinganya memerah. “Aku kabarin kalau telat.”

Jenar tersenyum ke roti bakarnya.

“Aturan nomor tiga belas,” katanya.

“Hm?”

“Kalau mau pergi, ketuk dulu.”

Galih memandanginya. Lalu, pelan, ia mengangkat tangan dan mengetuk meja makan bundar di antara mereka. Tiga kali. Tok. Tok. Tok.

“Aku mau pergi ke Mampang,” katanya dengan wajah sangat serius. “Ketemu Fadlan. Pulang jam dua. Paling lambat jam tiga.”

Jenar tertawa. Keras. Seperti angsa keselek.

Galih memandanginya tertawa. Tidak tersenyum. Hanya memandangi. Dengan wajah orang yang baru mendengar lagu yang sangat ia rindukan.


Fadlan memeluknya di pintu belakang dapur kedai Mampang sampai tulang punggung Galih berbunyi.

“LO PULANG.”

“Lan. Tulang gue.”

“LO PULANG, GAL.”

“Iya. Gue pulang.”

Fadlan melepaskan pelukannya. Memegang kedua bahu Galih. Memandanginya dari atas sampai bawah. Kaus bersih. Rambut yang sudah dicukur rapi pagi tadi. Mata yang masih sedikit merah, tapi tidak lagi kosong.

Lalu ia meninju bahu Galih. Keras.

“Aduh.”

“Itu buat delapan jam gue nyetir ke Pangandaran.”

Ia meninju lagi. Di bahu yang sama.

“Aduh, Lan!”

“Itu buat lo nggak angkat telepon gue dua puluh tiga kali.”

Ia mengangkat tangan untuk meninju yang ketiga. Lalu berhenti. Menurunkannya. Dan memeluk Galih lagi. Lebih pelan kali ini.

“Itu buat lo pulang,” katanya ke bahu Galih. Suaranya pecah.

Galih memeluknya balik. Menepuk punggungnya dua kali. Di dapur yang penuh karung goni dan bau biji kopi yang disangrai, di antara mesin roasting industri yang drumnya berputar seperti pesawat mau lepas landas.


Mereka duduk di atas karung-karung biji Bajawa. Tempat yang sama. Karungnya mengeluh.

“Bali,” kata Galih.

Fadlan mengangguk pelan. Merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel. Membuka aplikasi email.

Ia memutar layarnya ke arah Galih.

Folder Draf. Satu email. Belum terkirim. Ditulis Sabtu malam, jam sepuluh lewat lima belas. Satu jam setelah pesan Galih masuk ke ponselnya.

Kepada Pak Kusuma,

Menindaklanjuti email Pak Galih sebelumnya, dengan ini kami menyampaikan bahwa Pak Galih telah berubah pikiran dan bersedia menerima tawaran kemitraan untuk...

Kalimatnya berhenti di sana. Kursor berkedip di ujungnya. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada lampiran.

Galih memandangi layar itu.

“Lo nggak kirim,” katanya.

“Gue nggak kirim.” Fadlan memandangi ponselnya sendiri. “Gue nulis ini Sabtu malem. Abis baca pesan lo. Terus gue berhenti di situ. Gue baca ulang pesan lo. Terima Bali. Nggak ada nama Jenar. Nggak ada kenapa. Nggak ada apa-apa.”

Ia menggeleng pelan.

“Gue kenal lo delapan tahun, Gal. Gue tahu itu bukan lo yang mutusin. Itu lo yang kabur. Dan gue nggak mau jadi orang yang tanda tangan buat lo kabur.”

Galih tidak menjawab. Ia memandangi kursor yang berkedip di layar ponsel.

“Pak Kusuma masih pegang email lo yang lama,” lanjut Fadlan. “Yang lo tulis jam satu pagi. I made a promise to stay. Dia nggak pernah dapet apa-apa lagi dari kita. Buat dia, lo masih orang yang nolak dia buat nepatin janji.”

Ia menyodorkan ponselnya ke Galih.

“Lo mau hapus sendiri, atau gue yang hapus?”

Galih mengambil ponsel itu. Memandangi draf email itu sekali lagi. Pak Galih telah berubah pikiran.

Ia menekan ikon tempat sampah.

Draf dibuang.

Folder Draf kosong.

Ia mengembalikan ponsel itu ke Fadlan. Fadlan memasukkannya ke saku tanpa memandanginya.

“Satu lagi,” kata Fadlan. Lebih pelan. “Email ke cabang.”

“Hm.”

“Gue sengaja.” Fadlan menunduk. “Gue tulis ada kemungkinan biar kesannya udah hampir jadi. Gue pikir kalau semua orang di sepuluh cabang tahu, lo bakal panik. Lo bakal telepon gue. Pakai suara lo sendiri.” Ia berhenti. “Gue nggak mikir Dita bakal cerita ke Jenar. Gue nggak mikir sampai situ. Gue minta maaf, Gal.”

Galih memandangi sahabatnya lama.

“Lo nyetir delapan jam ke Pangandaran,” katanya.

“Macet di Ciamis.”

“Lo duduk di pasir sama gue sampai jam sebelas malem.”

“Lo pelit. Lo cuma beliin gue kacang rebus.”

“Lo tidur di kasur kamar dua-empat-satu dan ngorok kayak mesin roasting.”

“Itu fitnah.”

“Lan.” Galih menepuk bahunya. Pelan. “Lo nggak perlu minta maaf.”

Fadlan memandanginya. Lalu tersenyum. Senyum yang dulu. Senyum di trotoar depan kampus jam lima pagi, di sebelah gerobak kopi dan termos air panas.

“Terus,” katanya. Senyumnya berubah. Lebih lebar. Lebih berbahaya. “Cincinnya?”

Galih tidak menjawab.

“GAL.”

“Belum.”

“BELUM?” Fadlan melompat dari karung. Karungnya mengeluh keras. “Lo nyetir tujuh jam di tengah hujan, lo pulang pas malam ketujuh, lo nyium dia di ambang pintu sampai Bu Ratmi motret payung lo buat grup RT, terus lo BELUM?”

“Bu Ratmi motret payung gue?”

“Hana nangis di bandara Doha gara-gara foto itu!”

Galih menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Kenapa belum?” desak Fadlan.

Galih menurunkan tangannya. Memandangi mesin roasting industri yang drumnya berputar.

“Semalem dia nangis,” katanya. “Tujuh malem dia nggak tidur. Sepatunya dipakai kebalik. Tanganku gemeter.” Ia menggeleng. “Aku nggak mau ngasih cincin di malem kayak gitu. Aku nggak mau dia inget lamaran sebagai malem dia nangis dan mau nyari aku di tengah hujan.”

Fadlan memandanginya.

“Terus kapan?”

“Hari terakhir,” kata Galih. “Hari terakhir syarat wasiat. Pas Ibu Ratna nutup pemeriksaan. Pas setahun selesai. Pas nggak ada lagi yang maksa kami tinggal di rumah itu.” Ia berhenti. “Aku mau dia tahu aku ngelamar dia bukan karena rumah. Bukan karena wasiat. Bukan karena aku takut dia pergi. Aku mau ngelamar dia pas kami udah bebas milih.”

Fadlan diam lama sekali.

Lalu ia duduk lagi di karung biji Bajawa. Menepuk bahu Galih.

“Kulkas dua pintu,” katanya pelan. “Ternyata dalemnya penuh beneran.”


Jenar menggambar di meja jati di ruang depan hari Minggu siang.

Ia tidak berencana menggambar di sana. Ia hanya ingin berada di ruangan yang sama. Galih sedang menyangrai biji Flores Bajawa di mesin roasting kecil di ujung meja, dengan celemek kulit cokelat dan buku catatan terbuka di sebelahnya. Dua belas setengah menit, sesuai saran Jenar di sarapan tiga minggu lalu. Bau biji kopi yang disangrai memenuhi ruangan. Hangat dan dalam dan sedikit seperti buah.

Jenar duduk di ujung meja yang lain dengan kertas kalkir dan pensil 2B. Mengerjakan revisi detail taman atap sekolah Bintaro.

Pensilnya bergerak. Tapi matanya tidak di kertas.

Matanya di jendela.

Jendela besar di ruang depan. Dari lantai sampai sedikit di atas pinggang, lalu kaca sampai hampir ke langit-langit. Menghadap halaman depan. Pohon kamboja yang bunganya putih dan jatuh satu-satu ke rumput. Pagar besi hijau. Jalan kompleks.

Di luar, di jalan, orang-orang lewat. Bu Endang dengan tas belanja sayur. Dua anak SD dengan sepeda. Seorang bapak yang mendorong gerobak bakso, memukul mangkuk dengan sendok. Ting. Ting. Ting.

Jenar memandangi mereka.

Lalu memandangi dinding di bawah jendela. Dinding bata setinggi pinggang. Dicat putih yang mulai mengelupas.

Kalau dinding itu dibongkar sedikit. Sampai setinggi meja. Lalu diberi meja kayu panjang yang menempel di bawah kaca. Menghadap ke luar.

Orang yang berdiri di balik meja itu bisa melihat jalan. Bu Endang dengan tas belanja. Anak SD dengan sepeda. Bapak tukang bakso.

Seperti gerobak.

“Galih.”

“Hm.” Galih tidak menoleh. Matanya di termometer mesin roasting.

“Kamu pernah mikir nggak,” kata Jenar pelan, “ruang ini dijadiin apa?”

“Ruang ini udah jadi lab.”

“Maksudnya lebih dari lab.”

Galih menoleh. Memandanginya. Lalu memandangi jendela yang Jenar pandangi.

Ia diam lama.

Lalu, pelan, ia mematikan mesin roasting. Drumnya berhenti berputar. Biji-biji kopi di dalamnya retak sekali lagi, pelan, seperti hujan terakhir di atap seng.

Ia melepas celemek kulit. Berjalan ke kursi di dekat pintu, tempat jaket denimnya tergantung. Jaket yang semalam basah kuyup, yang sekarang sudah kering, kaku, bau hujan dan jalan tol.

Ia merogoh saku belakang celananya. Bukan saku jaket.

Mengeluarkan dompet.

Mengeluarkan kertas kalkir yang dilipat empat. Kertas yang ia ambil dari meja makan tiga minggu lalu, di hari Minggu sore dengan nasi goreng yang tidak terlalu asin. Ia membukanya di atas meja jati. Di depan Jenar.

Detail taman atap sekolah di tengahnya. Dan di sudut, dapur yang digeser tiga puluh senti. Meja berbentuk L. Lemari atas yang dinaikkan.

Dan ruang depan. Bar kayu yang menghadap ke luar. Pohon kamboja. Dua kursi di teras. Pintu depan yang diganti pintu kaca. Plang kayu kecil di atas pintu, dengan huruf miring yang belum diisi.

Jenar memandanginya.

“Kamu masih simpen,” bisiknya.

“Aku bilang aku mau simpen.”

“Itu kertas kalkir kantor.”

“Aku belum ganti.”

Jenar tertawa kecil. Lalu berhenti.

Karena Galih merogoh dompetnya lagi. Ke balik KTP.

Dan mengeluarkan sesuatu yang lain.

Tisu. Dilipat empat. Lipatannya sudah sangat lembut, hampir robek di garis-garisnya, seperti kertas yang dibuka dan dilipat kembali ratusan kali. Kertasnya kekuningan. Sudut kanannya ada noda. Cokelat tua. Bekas saus tomat yang sudah mengering hampir dua tahun.

Galih membukanya pelan. Sangat pelan. Seperti takut kertas itu hancur di tangannya.

Ia meletakkannya di atas meja jati. Di sebelah kertas kalkir.

Jenar memandanginya.

Garis-garis pulpen yang sudah pudar. Sebuah bangunan kecil di sudut jalan. Jendela besar dari lantai sampai plafon. Bar panjang dari kayu yang menghadap ke luar, bukan ke dalam. Pohon ketapang di depan. Dua kursi di teras. Plang kayu dengan huruf miring yang tidak pernah diisi namanya.

Dan dua gambar itu, berdampingan di atas meja jati. Tisu dengan noda saus dari kedai Kang Ujang di gang belakang pasar ikan. Kertas kalkir dari meja makan bundar di rumah Kenanga dua belas.

Hampir dua tahun di antaranya. Tapi gambarnya sama.

Bar yang menghadap ke luar.

Jenar tidak bisa bicara.

“Aku bawa ini ke mana-mana,” kata Galih pelan. “Dua tahun. Di dompet. Di balik KTP. Waktu aku nginjek kaki kamu di Casa Lidia, ini di saku belakang aku. Waktu aku bilang anggap aja nggak pernah ada di kolam koi. Waktu aku jadi wali nikah Kak Astri. Waktu aku terbang ke Kona. Waktu aku duduk tujuh jam di pesawat dari Tokyo ke Jakarta, pas Kak Astri meninggal, aku buka ini. Aku lihat ini tujuh jam.”

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak pernah bisa buang,” kata Galih. “Aku coba. Malem terakhir di Pangandaran, abis aku denger kamu di telepon, aku buka dompet. Aku mau buang ini ke tempat sampah di bawah meja kamar. Tanganku nggak mau.”

Ia memandangi tisu itu.

“Aku benci diri aku sendiri dikit gara-gara itu,” katanya. “Waktu itu.”

“Sekarang?”

Galih mengangkat kepala. Memandanginya.

“Sekarang aku seneng tanganku nggak mau.”

Jenar menurunkan tangannya dari mulut. Menyentuh tisu itu dengan ujung jari. Kertasnya lembut. Sangat lembut. Seperti kain yang sudah dicuci ratusan kali.

“Ini gambar jelek,” katanya. Suaranya pecah. “Pulpen skripsi. Di tisu kedai. Sambil nungguin kamu debat sama Kang Ujang soal suhu air.”

“Ini gambar paling bagus yang pernah aku punya.”

“Galih...”

“Kamu nanya ruang ini dijadiin apa.” Galih memandangi jendela. Pohon kamboja. Pagar besi hijau. Bapak tukang bakso yang sudah lewat, suaranya menjauh di ujung jalan. Ting. Ting. Ting. “Kamu udah jawab sendiri. Dua kali.”

Ia meletakkan telapak tangannya di atas kertas kalkir. Di atas gambar bar kayu yang menghadap ke luar.

“Aku mau bikin ini,” katanya. “Di sini. Di rumah ini. Kedai kecil. Bukan kayak sepuluh kedai yang lain. Nggak ada bar marmer yang ngadep tembok. Cuma bar kayu. Ngadep jendela. Ngadep jalan. Biar aku bisa lihat orang lewat. Kayak gerobak.”

Jenar memandanginya.

“Kalau kamu mau,” tambah Galih. “Ini rumah kamu juga. Rumah Kak Leknor. Aku nggak bakal bongkar dinding apa pun kalau kamu nggak mau.”

Jenar memandangi dua gambar di atas meja. Lalu jendela. Lalu dinding bata setinggi pinggang di bawahnya, dengan cat putih yang mengelupas.

Ia mengambil pensil 2B.

Di atas kertas kalkir, di sebelah gambar bar kayu, ia mulai menggambar lagi. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Ukuran. Tinggi meja bar dari lantai. Lebar dinding yang harus dibongkar. Posisi balok lintel di atas jendela supaya struktur rumah tidak terganggu. Jalur pipa air dari dapur ke ruang depan untuk wastafel kecil di bawah bar.

“Balok lintelnya harus diganti,” gumamnya. “Yang sekarang cuma cukup buat jendela. Kalau dindingnya dibongkar setengah, bebannya pindah. Kak Leknor pakai beton bertulang, tapi aku nggak tahu tulangannya berapa. Harus dicek dulu.”

Galih memandanginya menggambar. Tidak berkata apa-apa.

“Pipa airnya bisa ditarik dari dapur,” lanjut Jenar. Pensilnya bergerak cepat. “Lewat bawah lantai. Tapi harus bongkar keramik. Mungkin sekalian aja keramiknya diganti. Yang sekarang udah retak di tiga tempat.”

“Jen.”

“Pintu depan diganti kaca. Tapi jangan kaca biasa. Kaca tempered. Biar kalau ada anak kecil lari terus nabrak...”

“Jen.”

Jenar berhenti. Mengangkat kepala.

Galih memandanginya. Senyum miring di satu sisi.

“Kamu keren,” katanya.

Jenar merasakan wajahnya memanas sampai ke telinga. Ia menunduk ke kertas kalkir. Menggambar garis yang tidak perlu.

“Kamu udah bilang itu,” gumamnya. “Pas pemanas air.”

“Aku bakal bilang tiap hari.”


Ibu Ratna datang hari Senin jam empat sore, tepat waktu, dengan tas kulit hitam dan map merah dan kacamata yang sama.

Hari kesembilan.

Ia berdiri di ambang pintu depan dan memandangi mereka berdua. Jenar dengan kemeja putih yang dikancing sampai kerah, seperti biasa, tapi dengan liontin hati kecil di luar, di atas kain. Galih di sebelahnya, dengan kemeja hitam Pratama Coffee dan celemek kulit yang lupa dilepas.

Mereka berdiri berdampingan. Bahu bersentuhan.

Ibu Ratna memandangi bahu-bahu itu. Lalu wajah mereka. Lalu liontin di kemeja Jenar.

“Selamat sore,” katanya. Pelan.

“Selamat sore, Bu.”

Ia masuk. Kali ini ia tidak berjalan dari ruang ke ruang. Ia tidak duduk di sofa ruang tengah. Ia berjalan langsung ke dapur. Seperti tahu apa yang ingin ia lihat.

Ia berhenti di depan pintu kulkas.

Empat belas aturan. Dua tulisan tangan. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli.

Aturan nomor enam. Dicoret. Tiga kali. Garis-garis yang putus-putus di tengah karena tinta spidol yang hampir habis.

Aturan nomor tujuh. Dicoret.

13. Kalau mau pergi, ketuk dulu. (Tapi aku nggak bakal pergi.)

14. Ngomong. (Kata Kak Astri.)

Ibu Ratna membaca semuanya. Pelan. Dari atas ke bawah.

Lalu ia melepas kacamatanya.

Jenar melihat matanya. Basah.

“Pintunya udah dibuka,” kata Ibu Ratna. Hampir berbisik.

“Udah, Bu,” kata Jenar.

Ibu Ratna mengangguk pelan. Mengusap sudut matanya dengan ujung jari. Memakai kacamatanya lagi.

Lalu ia berbalik. Memandangi mereka berdua.

“Bu Ratna,” kata Jenar. Ia melangkah maju. Satu langkah. Tangannya di sisi tubuh, mengepal pelan. “Saya harus bilang sesuatu.”

Galih memandanginya. Tidak menghentikannya.

“Rabu malam,” kata Jenar, “waktu Ibu telepon. Waktu Ibu nanya Pak Galih bisa atau nggak. Saya bilang bisa.”

Ibu Ratna menunggu.

“Saya bohong, Bu.” Suara Jenar tidak bergetar. Ia terkejut sendiri. “Waktu itu Pak Galih nggak ada di rumah. Dia pergi hari Sabtu malam. Jam sembilan lewat dua puluh tiga. Saya nggak tahu dia di mana. Saya bilang dia ada karena saya takut rumah ini dijual.”

Hening di dapur. Kulkas berdengung.

“Aturan nomor empat belas,” kata Jenar pelan. “Ngomong. Saya nggak bisa bohong di depan map merah Ibu. Di depan tanda tangan kakak saya.”

Ibu Ratna memandanginya lama. Lalu memandangi Galih.

“Pak Galih pulang kapan?” tanyanya.

“Jumat malam, Bu,” kata Galih. “Jam sebelas lewat empat puluh enam.”

“Malam ketujuh.”

“Malam ketujuh.”

“Sebelum tengah malam.”

“Sebelum tengah malam, Bu.” Galih berhenti. “Empat belas menit sebelumnya.”

Ibu Ratna membuka map merahnya. Membalik halaman. Membaca sesuatu. Menutupnya lagi.

“Wasiat almarhum dan almarhumah,” katanya, “melarang meninggalkan rumah lebih dari tujuh malam berturut-turut. Pak Galih pergi enam malam penuh, dan kembali di malam ketujuh. Itu tidak lebih dari tujuh.” Ia memandangi mereka berdua di balik kacamatanya. “Secara hukum, tidak ada pelanggaran.”

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

“Tapi saya berterima kasih,” lanjut Ibu Ratna, “karena Bu Jenar mengatakan yang sebenarnya. Saya sudah dua puluh tiga tahun jadi notaris. Tidak banyak orang yang mengaku berbohong ketika tidak ada yang akan tahu.”

Ia menutup map merah. Mengepitnya di lengan.

“Almarhumah Bu Astri pernah bilang ke saya,” katanya. Senyum tipis. “Adik-adiknya takut sama hal yang sama. Saya tanya takut apa. Beliau bilang, nanti juga Ibu tahu sendiri.”

Ia memandangi pintu kulkas sekali lagi. Aturan nomor enam yang dicoret. Aturan nomor tiga belas.

“Sekarang saya tahu sendiri,” kata Ibu Ratna.


Mereka menceritakan rencana kedai itu padanya di ruang depan, di meja jati, dengan dua gambar di atas meja. Tisu dengan noda saus dan kertas kalkir dengan balok lintel yang dihitung ulang.

Ibu Ratna mendengarkan. Memandangi dua gambar itu lama sekali. Menyentuh tisu itu dengan ujung jari, sama hati-hatinya seperti Jenar.

“Setelah satu tahun,” katanya, “rumah ini sepenuhnya milik kalian berdua. Kalian bebas memakainya untuk apa pun, selama kalian berdua setuju. Kalau mau membuka usaha, silakan. Tapi urus izin lingkungan dulu. Dari RT dan RW.”

Galih dan Jenar saling pandang.

“RT,” ulang Galih.

“Bu Wati,” kata Jenar.

“Bu Endang.”

“Grup WhatsApp.”

Mereka berdua tertawa. Ibu Ratna memandangi mereka dengan alis terangkat, tidak mengerti.

Galih mengeluarkan ponselnya. Membuka grup RT 05 Kenanga Asri. Menggulir ke atas. Jauh ke atas. Ke berbulan-bulan lalu. Ke foto dua orang di ambang pintu dengan celemek kulit dan noda kue lapis.

Dan empat puluh tujuh balasan di bawahnya.

Ia menunjukkan satu balasan pada Ibu Ratna.

Mas Galih yang kopi itu ya? Bikin kedai di kompleks dong Mas!!

Ibu Ratna membaca pesan itu. Lalu tertawa. Tawa kecil yang pertama kali Jenar dengar dari notaris itu selama sembilan bulan. Tawa yang pelan dan tertahan, seperti orang yang tidak terbiasa tertawa di jam kerja.

“Sepertinya izin lingkungannya tidak akan sulit,” katanya.


Bu Wati memberi izin hari Rabu malam, di rapat RT dadakan di teras rumahnya, dengan dua belas ibu-ibu berkerudung warna-warni dan tiga bapak-bapak yang dipaksa ikut.

Rapatnya berlangsung sepuluh menit.

Galih berdiri di tengah teras dengan kertas kalkir di tangan, menjelaskan rencananya dengan kalimat pendek-pendek dan telinga yang merah. Kedai kecil. Di ruang depan. Buka pagi sampai sore. Tidak ada musik keras. Tidak ada parkir di jalan. Kursi hanya dua di teras. Kebanyakan pesan dan bawa pulang.

Jenar berdiri di sebelahnya, memegangi tisu dengan noda saus di dalam plastik bening supaya tidak rusak, dan menjelaskan soal balok lintel dan kaca tempered.

Waktu mereka selesai, Bu Wati menegakkan punggung. Memandangi dua belas ibu-ibu di sekelilingnya.

“Setuju?”

“SETUJU!”

Dua belas suara. Kompak. Seperti paduan suara pengajian.

Salah satu bapak-bapak mengangkat tangan. Pak RT, suami Bu Wati, laki-laki kurus berkacamata yang biasanya hanya bicara soal iuran sampah.

“Tapi harus ada satu syarat,” katanya.

Galih dan Jenar menahan napas.

Pak RT memandangi mereka dengan wajah sangat serius.

“Warga RT lima dapet diskon.”

“SETUJU!” teriak dua belas ibu-ibu.

Galih tertawa. Jenar tertawa. Bu Ratmi, yang duduk di barisan depan dengan daster batik dan senyum yang terlalu lebar, bertepuk tangan paling keras.

Malam itu, di grup RT 05 Kenanga Asri, Bu Endang mengirim pesan.

INFO RAPAT: Kenanga 12 akan buka KEDAI KOPI!!! Mas Galih & Mbak Jenar. Warga RT 05 dapat diskon (usulan Pak RT). Alhamdulillah. 🥰☕

Delapan puluh tiga balasan.

Alhamdulillah.

AAMIIN.

Akhirnya!!!

Kapan bukanya Bu?

Namanya apa?

Kopi ajaib yang manis tanpa gula ya?

Ibu mau jadi pelanggan pertama.

Ibu duluan, Ibu tetangga paling deket.

Bu Ratmi curang.

Mas Galih sama Mbak Jenar udah nikah belum sih sebenernya?

Belum. Nanti juga.

AAMIIN.

AAMIIN YA ALLAH.

Jenar membaca semuanya di sofa ruang tengah dengan kepala di bahu Galih. Galih membaca dari ponselnya sendiri. Di atas mereka, foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Leknor dan Astri. Tersenyum.

“Belum,” baca Jenar keras-keras. “Nanti juga.”

“Bu Endang lagi,” kata Galih.

“Dia yakin banget.”

“Dia udah yakin dari arisan.”

Jenar tertawa ke bahunya. Lalu, pelan, tawanya reda.

“Namanya,” katanya.

“Hm?”

“Grup nanya namanya apa.” Jenar mengangkat kepala. Memandangi Galih. “Plangnya kosong. Di tisu. Di kertas kalkir. Dua-duanya kosong.”

Galih memandanginya.

“Kamu yang kasih nama,” katanya.

“Aku?”

“Kamu yang gambar. Dua kali. Kamu yang kasih nama Senior.”

Jenar memikirkannya. Lama. Memandangi foto di dinding. Memandangi pintu kulkas di ujung ruangan, samar di bawah lampu dapur yang masih menyala. Memandangi liontin hati kecil di atas kemejanya.

“Belum tahu,” katanya akhirnya. “Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Pas kedainya jadi.” Ia tersenyum. “Pas aku lihat kamu berdiri di balik bar yang ngadep ke luar. Terus lihat orang lewat. Kayak gerobak. Terus aku bakal tahu namanya.”

Galih memandanginya lama.

Lalu ia mencium keningnya. Pelan.

“Oke,” katanya. “Nanti.”


Malam itu, sebelum tidur, Jenar berdiri di depan pintu kulkas.

Empat belas aturan. Dua dicoret. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih.

Di bawah aturan nomor empat belas, ruang putih.

Ia mengambil spidol dari laci. Spidol baru. Galih membelinya tadi siang di minimarket, dua batang, karena yang lama sudah habis setelah dipakai mencoret aturan nomor enam tiga kali.

Ia menulis. Tulisan tegak dan kecil-kecil.

15. Bar ngadep ke luar.

Ia memandanginya. Lalu menutup spidol.

Jam lima lewat lima puluh keesokan paginya, di bawahnya, tulisan miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.

Setuju. (Tapi kamu yang itung balok lintelnya. Aku tukang kopi.)

Dan di bawahnya lagi, lebih kecil. Ditulis setelah berpikir lama, seperti biasa.

Makasih udah gambar dua kali.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk