Dinding di bawah jendela ruang depan dibongkar hari Senin jam delapan pagi, dan Bu Ratmi menangis.
Bukan karena sedih. Ia berdiri di balik pagar rumahnya dengan daster batik dan piring berisi pisang goreng, menonton Pak Sarip, tukang bangunan langganan biro Leknor, memukul bata pertama dengan palu godam. Bunyinya keras. Debu putih mengepul. Bata itu retak, lalu runtuh ke dalam ruang depan, ke atas terpal biru yang Jenar bentangkan di lantai pagi tadi.
“Ya Allah,” kata Bu Ratmi dari balik pagar. Mengusap mata dengan ujung daster. “Beneran jadi.”
Galih berdiri di teras dengan helm proyek kuning yang kebesaran, pinjaman dari Mas Bayu, dan memandangi lubang di dinding. Di balik lubang itu, jalan kompleks. Pohon kamboja. Pagar besi hijau. Bu Ratmi dengan piring pisang goreng.
Seperti jendela yang tiba-tiba punya mulut.
Jenar berdiri di sebelahnya dengan kertas kalkir di tangan. Menghitung. Mengukur dengan meteran. Mencoret. Menghitung lagi.
“Balok lintelnya,” katanya ke Mas Bayu, yang berdiri di dalam ruang depan dengan helm proyek yang pas. “Kita harus pasang penyangga sementara dulu sebelum bongkar lebih lebar.”
“Udah saya siapin, Mbak.” Mas Bayu menunjuk dua tiang besi yang bersandar di dinding. “Pak Leknor dulu pakai tulangan dua belas. Saya udah cek di gambar kerja lamanya. Masih ada di arsip biro.”
Jenar memandanginya. “Mas Bayu cari gambar kerja rumah ini?”
“Semalem, Mbak.” Mas Bayu tersenyum kecil. “Pak Leknor gambar rumah ini sebelas tahun lalu. Pas saya baru masuk biro. Saya yang bantu ngegambar denah dapurnya.” Ia menggeleng pelan. “Dapurnya emang kekecilan. Saya bilang ke Pak Leknor waktu itu. Dia bilang, saya cuma bikin mi instan, Bay. Buat apa dapur gede.”
Jenar tertawa. Galih tertawa. Di balik pagar, Bu Ratmi tertawa sambil menangis.
Pak Sarip memukul bata kedua.
Renovasi itu memakan waktu lima minggu.
Minggu pertama, dinding di bawah jendela ruang depan dibongkar setengah. Balok lintel baru dipasang, dengan tulangan yang Jenar hitung ulang tiga kali dan Mas Bayu cek dua kali. Debu putih ada di mana-mana. Di rambut. Di kopi pagi. Di pintu kulkas, menempel di atas gambar krayon dinosaurus sampai Galih harus mengelapnya dengan tisu basah setiap malam.
Minggu kedua, keramik ruang depan dibongkar. Pipa air ditarik dari dapur, lewat bawah lantai, ke tempat bar akan berdiri. Pak Sarip menemukan pipa lama yang bocor di bawah lantai dapur, yang ternyata sudah bocor bertahun-tahun, yang ternyata menjelaskan noda berbentuk pulau di langit-langit kamar Jenar.
“Bocornya dari sini, Mbak,” kata Pak Sarip, menunjuk pipa yang karatan. “Airnya ngerembes ke atas lewat dinding. Sampai ke plafon kamar sebelah.”
Jenar memandangi pipa itu.
Noda berbentuk pulau. Dari SMP. Yang Leknor tidak pernah perbaiki.
“Benerin aja, Pak,” katanya.
Malam itu, ia berbaring di kasur single dan memandangi langit-langit. Noda itu masih di sana. Nanti Pak Sarip akan mengecatnya. Minggu depan. Dan noda itu akan hilang.
Ia tidak tahu kenapa ia sedikit sedih.
Galih mengetuk kusen pintu kamarnya yang terbuka sejari. Tiga kali. Pelan.
“Boleh masuk?”
“Boleh.”
Ia masuk. Berbaring di lantai kayu di sebelah kasur, telentang, dengan tangan di belakang kepala. Memandangi langit-langit yang sama.
“Itu yang bentuknya kayak pulau?” tanyanya.
“Iya.”
“Kamar dua-empat-satu juga ada.”
“Aku tahu.”
“Kamar apartemen aku juga ada.”
“Semua langit-langit di dunia punya noda bentuk pulau,” kata Jenar.
Galih tertawa pelan.
“Nanti dicat,” kata Jenar.
“Kamu sedih?”
“Dikit.”
Galih diam sebentar. Lalu ia duduk. Merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel. Menyalakan kamera.
Ia memotret langit-langit itu. Noda berbentuk pulau di pojok dekat AC.
“Biar inget,” katanya.
Jenar memandanginya. Lalu, pelan, ia menjulurkan tangan dari kasur ke lantai. Galih meraihnya. Jari-jari mereka bertaut di atas lantai kayu. Mereka berbaring seperti itu, satu di kasur, satu di lantai, memandangi noda yang sebentar lagi akan hilang, sampai Jenar tertidur.
Minggu ketiga, bar dipasang.
Kayu jati tua. Bekas bantalan rel kereta, dari pemasok yang sama tempat Leknor membeli kayu untuk meja rapat di biro. Jenar memilihnya sendiri, di gudang pemasok di Bekasi, dengan tangan menyusuri serat kayu yang kasar dan retak di beberapa tempat, bekas besi-besi kereta yang dulu dipaku di atasnya.
“Kenapa yang ini?” tanya Galih waktu itu. “Ada yang lebih halus.”
“Soalnya yang ini ada lukanya,” kata Jenar. “Tapi masih kuat.”
Galih memandanginya lama. Lalu membayar pemasok itu tanpa menawar.
Pak Sarip dan dua anak buahnya memasangnya dalam dua hari. Bar panjang. Menempel di bawah jendela. Menghadap ke luar. Ke halaman. Ke pohon kamboja. Ke pagar besi hijau. Ke jalan kompleks.
Waktu bar itu selesai, Galih berdiri di baliknya untuk pertama kali.
Ia meletakkan kedua tangannya di atas kayu jati tua. Merasakan seratnya yang kasar. Bekas-bekas paku yang sudah diamplas halus. Memandangi keluar jendela.
Bu Endang lewat dengan tas belanja sayur. Melambai. Galih melambai balik.
Dua anak SD lewat dengan sepeda. Satu berteriak, Om Kopi! Galih tidak tahu dari mana mereka tahu nama itu. Mungkin dari Kiki. Mungkin dari grup RT.
Bapak tukang bakso lewat. Memukul mangkuk dengan sendok. Ting. Ting. Ting.
Jenar berdiri di ambang ruang depan dengan kertas kalkir di dada dan memandangi punggung Galih. Punggung laki-laki yang berdiri di balik bar yang menghadap ke luar, dengan tangan di atas kayu yang ada lukanya tapi masih kuat, memandangi orang-orang yang lewat.
Seperti gerobak.
Ia hampir tahu namanya. Nama kedai itu. Ada di ujung lidahnya. Seperti kata yang sudah lama dicari dan tiba-tiba terasa dekat.
Belum. Belum sekarang.
Mereka membuka pintu kamar hijau pupus di hari Sabtu di minggu ketiga, bersama-sama, untuk memutuskan.
Tidak ada yang mengusulkan untuk membongkarnya. Tidak ada yang mengusulkan untuk mengecat ulang dindingnya. Mereka hanya berdiri di ambang pintu, di bawah stiker awan yang sudut kanannya masih terangkat karena lemnya sudah habis, dan memandangi kamar itu.
Dinding hijau pupus. Bercak kecil yang lebih gelap di dekat jendela, bekas Leknor yang terpeleset di tangga lipat. Kursi goyang di pojok. Rak buku rendah di bawah jendela, dengan kaus kaki rajutan krem dan buku harian kehamilan bersampul kain batik dan surat Astri dan baju terusan putih dengan gambar awan.
Dan boks jati di tengah kamar. Menghadap jendela.
“Warnanya tetep,” kata Galih.
“Warnanya tetep,” setuju Jenar.
“Kursi goyangnya tetep.”
“Iya.”
“Boksnya.”
Mereka berdua memandangi boks jati itu.
Boks yang mereka rakit berdua. Di lantai kamar ini. Dengan buku petunjuk yang gambarnya tampak dari dalam, bukan dari luar. Dengan sekrup nomor empat dan papan C yang ternyata terbalik. Dengan tangan yang bersentuhan di atas kayu jati dan ditarik lebih cepat dari yang perlu. Dengan Jen yang terlepas dari mulut Galih, lalu buru-buru diganti Mbak.
Boks yang tidak pernah dipakai.
“Aku nggak mau buang,” kata Jenar pelan.
“Aku juga nggak.”
“Tapi kalau tetep di sini, kamar ini selamanya jadi kamar bayi yang nggak ada bayinya.”
Galih tidak menjawab. Ia berjalan ke boks itu. Menyentuh pinggirannya. Kayu jati yang halus, dipelitur, dari pengrajin di Jepara.
“Kamu bisa gambar ulang?” tanyanya. “Boksnya. Jadi sesuatu yang lain.”
Jenar memandanginya.
Lalu ia memandangi boks itu. Jeruji-jerujinya yang berjajar rapi. Papan dasar yang kokoh. Sisi-sisinya yang tinggi.
Lalu jendela di belakangnya. Jendela besar yang menghadap halaman belakang dan pohon mangga yang Leknor tanam waktu Jenar masuk SD.
Ia mengeluarkan pensil 2B dari saku celananya. Kertas kalkir dari saku yang lain. Duduk di lantai kayu yang berdebu. Mulai menggambar.
Galih duduk di sebelahnya. Memandanginya menggambar.
Bangku. Di bawah jendela. Bangku panjang yang cukup untuk dua orang duduk berdampingan, atau satu orang berbaring sambil membaca. Dengan dudukan dari papan dasar boks. Dengan sandaran dari satu sisi boks yang tinggi. Dan di bawah dudukannya, rak. Rak buku rendah yang dibuat dari jeruji-jeruji boks, dipasang melintang, dengan jarak yang pas untuk buku-buku bergambar.
Dan di dinding di sebelah jendela, satu rak kecil. Menempel di dinding hijau pupus. Setinggi mata orang dewasa. Dibuat dari sisi boks yang satunya.
“Rak ini,” kata Jenar, menunjuk gambar itu dengan ujung pensil, “buat Jihan.”
Galih memandangi gambar itu lama.
“Bangku di bawah jendela,” katanya. “Buat baca.”
“Buat baca,” kata Jenar. “Buat duduk. Buat lihat pohon mangga. Buat Kiki kalau dia main ke sini. Buat anak-anak siapa pun yang dateng ke rumah ini.”
Buat anak-anak kita, ia tidak mengatakannya. Kalimat itu tersangkut di tenggorokannya, terlalu besar, terlalu cepat.
Tapi Galih memandanginya. Dan Jenar tahu, dari cara ia memandang, bahwa ia mendengar kalimat yang tidak diucapkan itu.
“Kita bongkar bareng?” tanya Galih.
“Kita bongkar bareng.”
Mereka membongkar boks itu di hari yang sama. Sore. Dengan kotak perkakas dan obeng dan buku petunjuk yang masih mereka simpan di laci lemari kecil, di bawah popok yang sudah disumbangkan.
Galih membaca buku petunjuk itu. Dari belakang. Jenar memegangi papan.
“Ini gambarnya kebalik,” gumam Galih.
“Itu tampak dari dalam.”
“Aku tahu. Aku cuma mau ngomong gitu.”
Jenar tertawa.
Mereka membuka sekrup satu per satu. Sekrup nomor empat. Papan C yang dulu terbalik. Tangan mereka bersentuhan di atas kayu jati berkali-kali, dan tidak ada yang menariknya.
Di tengah-tengah, waktu mereka melepas sisi kanan boks, sesuatu jatuh dari celah di antara papan dasar dan rangka.
Kertas. Kecil. Dilipat dua.
Jenar memungutnya. Membukanya.
Tulisan tangan. Tegak dan rapi. Tidak pernah melenceng dua milimeter.
Nak. Ini boks kamu. Tante Jenar yang desain, Om Galih yang rakit. Mama yang pilih kayunya. Papa cuma bayar. Tapi Papa yang paling seneng. Selamat datang. Papa.
Tulisan Leknor.
Ditulis di kertas kecil dari buku catatan bersampul kulit cokelat yang Jenar kenali. Diselipkan di celah boks. Mungkin di malam setelah Jenar dan Galih merakitnya. Mungkin Leknor masuk ke kamar ini sendirian, di malam hari, dan memeriksa setiap sekrup, dan menulis surat kecil untuk anaknya, dan menyelipkannya di tempat yang hanya akan ditemukan oleh seseorang yang membongkar boks ini.
Jenar memandangi kertas itu.
Papa cuma bayar. Tapi Papa yang paling seneng.
Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di lantai kamar hijau pupus dengan kertas kecil di tangan, dan merasakan sesuatu di dadanya yang sangat hangat dan sangat sakit.
Galih duduk di sebelahnya. Membaca dari balik bahunya. Diam lama.
“Kak Leknor nulis surat,” katanya pelan.
“Kak Leknor nggak pernah nulis surat. Seumur hidup. Dia nggak pernah bilang sayang. Dia nggak pernah ngucapin selamat ulang tahun pakai kata-kata. Dia cuma dateng. Jemput aku naik motor. Nyanyi Balonku sumbang.”
“Tapi dia nulis ini.”
“Tapi dia nulis ini.”
Mereka duduk berdampingan di lantai. Di antara papan-papan boks jati yang sudah dilepas.
Lalu Galih berdiri. Berjalan ke rak buku rendah di bawah jendela. Mengambil surat Astri. Kertas bergaris dengan bekas cangkir kopi di pojoknya. Adik-adikku yang bego.
Ia kembali. Duduk lagi. Meletakkan surat Astri di pangkuan Jenar. Di sebelah surat kecil dari Leknor.
Dua surat. Dua tulisan tangan. Satu bulat dan besar dan miring. Satu tegak dan rapi.
“Mereka dua-duanya nulis,” kata Galih. “Diem-diem. Nggak bilang siapa-siapa.”
“Kayak kita,” kata Jenar. “Di pintu kulkas.”
Galih tertawa pelan. “Keluarga penulis surat rahasia.”
“Keluarga bego.”
“Kata Kak Astri.”
Fadlan datang hari Minggu dengan Kiki, dua kaleng pelitur, dan laptop.
“Hana mau lihat,” katanya, membuka laptop di atas tumpukan papan jati di lantai kamar hijau pupus. “Dia bilang dia harus ikut ngecat, meskipun dari Belanda.”
Wajah Hana muncul di layar. Syal tebal. Hidung merah. Kamar asrama yang sempit di belakangnya. Jam dua siang di Jakarta, jam sembilan pagi di Belanda.
“JEN! Lihatin kamarnya! Puter laptopnya!”
Jenar memutar laptop itu pelan. Dinding hijau pupus. Kursi goyang. Rak buku rendah. Papan-papan boks jati di lantai.
Hana diam lama di layar.
“Warnanya bagus,” katanya akhirnya. Pelan. “Lo yang pilih?”
“Jam tiga pagi.”
“Kayak lo banget.”
Kiki berlari masuk ke kamar dengan Rexi di satu tangan dan kuas pelitur di tangan yang lain, yang entah dari mana ia dapatkan. Ia berhenti di tengah kamar. Memandangi dinding hijau pupus. Lalu stiker awan di pintu. Lalu papan-papan kayu di lantai.
“Ini kamar yang kuncinya ilang,” katanya.
Jenar memandanginya. Ia ingat. Malam Kiki menginap, berbulan-bulan lalu. Kamar tamu kecil. Lagi dikunci. Kuncinya ilang.
Ia berlutut di depan Kiki. Setinggi matanya.
“Kuncinya udah ketemu,” katanya.
“Ini kamar siapa?”
Jenar memandangi Galih di belakang Kiki. Galih mengangguk pelan.
“Kamar Jihan,” kata Jenar.
“Jihan siapa?”
“Anaknya Tante Astri sama Om Leknor.”
Kiki mengerutkan dahi. Berpikir keras. “Jihan mana?”
“Jihan udah pergi. Sama Tante Astri. Ke tempat yang jauh.” Jenar berhenti. “Kayak dinosaurus.”
Kiki memandanginya lama. Lalu mengangguk pelan. Serius sekali.
“Berarti kita inget,” katanya.
Jenar tidak bisa bicara. Di belakang Kiki, Fadlan membuang muka ke jendela. Di layar laptop, Hana menutup mulut dengan syalnya.
Kiki berjalan ke dinding hijau pupus. Menyentuhnya dengan jari kecil yang ada noda pelitur. Lalu berbalik.
“Tante Gambar, boleh aku gambar dinosaurus buat Jihan?”
“Boleh.”
“Di mana?”
Jenar memandangi rak kecil di gambar kertas kalkirnya. Rak setinggi mata orang dewasa, yang akan menempel di dinding di sebelah jendela.
“Nanti ada rak di sini,” katanya, menunjuk dinding. “Rak buat Jihan. Kamu gambar dinosaurus, terus kita taruh di rak itu. Biar Jihan punya temen.”
Kiki mengangguk dengan wajah seorang laki-laki yang baru diberi tugas negara.
Ia duduk di lantai, di sebelah laptop, dengan kertas dan krayon yang Galih ambilkan dari laci meja gambar Leknor. Hana di layar memberi instruksi. Ekornya lebih panjang, Ki. Giginya kurang banyak. Kasih warna hijau, Jihan pasti suka hijau, soalnya kamarnya hijau.
Fadlan dan Galih memelitur papan-papan jati di teras belakang. Jenar mengukur dinding. Menandai tempat rak kecil dengan pensil. Setinggi mata orang dewasa. Di sebelah jendela. Di sebelah bercak kecil yang lebih gelap, bekas Leknor yang terpeleset di tangga lipat.
Ia tidak menyuruh Pak Sarip memperbaiki bercak itu.
Rak kecil itu dipasang di hari Rabu di minggu keempat.
Galih memegang bor. Jenar memegang waterpas. Mereka memasangnya bersama. Dua sekrup di dinding hijau pupus. Rak kayu jati dari sisi boks yang dulu mereka rakit, dipelitur ulang oleh Fadlan dan Galih di teras belakang, dengan sudut-sudut yang diamplas halus.
Lalu mereka mengisinya. Pelan. Satu per satu.
Kotak kecil berpita krem. Gelang rumah sakit seukuran jari telunjuk. Cap kaki biru tua. Amplop kecil untuk Jihan yang tidak boleh dibuka sampai umur tujuh belas. Galih meletakkannya di tengah rak.
Foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dan Astri. Tersenyum. Jenar meletakkannya di sebelah kotak itu.
Kaus kaki rajutan krem yang satunya lebih panjang. Diletakkan di depan foto. Berdampingan.
Surat kecil dari Leknor, dilipat dua. Papa cuma bayar. Tapi Papa yang paling seneng. Diselipkan di balik bingkai foto, supaya ujungnya sedikit terlihat.
Dan gambar krayon Kiki. Dinosaurus hijau dengan kepala terlalu besar dan tangan terlalu kecil dan ekor sangat panjang, tersenyum lebar dengan terlalu banyak gigi. Di bawahnya, tulisan yang didikte Kiki dan ditulis Hana lewat layar laptop, lalu disalin Galih dengan spidol karena Kiki belum bisa menulis. Buat Jihan. Dari Kiki. Namanya Rexi Dua. Dia baik.
Jenar menempelkannya di dinding di atas rak. Dengan selotip bening.
Mereka mundur. Berdiri berdampingan di tengah kamar. Memandangi rak itu.
Di bawah jendela, bangku panjang dari papan dasar boks. Sandarannya dari satu sisi boks. Di bawahnya, rak buku rendah dari jeruji-jeruji boks, penuh buku bergambar dan buku kain dan buku bayi dengan sampul dinosaurus hijau. Bantal duduk dari kain batik biru, yang dulu ada di kursi goyang. Dan di atas bantal itu, terlipat rapi, kain pantai biru putih. Kain yang dibeli Galih di pantai Pangandaran seharga tiga puluh lima ribu, untuk disampirkan di bahu perempuan yang memakai bikini titipan sahabatnya.
Buku harian kehamilan Astri, bersampul kain batik, di rak buku rendah. Di sebelah surat Astri. Di sebelah baju terusan putih dengan gambar awan, yang sekarang dibingkai dalam bingkai kayu sederhana dan disandarkan di rak.
Mainan gantung di langit-langit. Awan-awan flanel putih, bulan sabit kuning, tiga bintang. Masih di tempatnya. Berputar pelan karena angin dari jendela.
Kamar itu tidak lagi kamar bayi.
Kamar itu juga tidak menghapus bayi itu.
Kamar itu jadi sesuatu di antaranya. Kamar untuk duduk dan membaca dan memandangi pohon mangga. Kamar untuk mengingat.
“Ruang baca,” kata Galih pelan.
“Ruang baca Jihan,” kata Jenar.
Galih mengangguk.
Jenar berjalan ke bangku di bawah jendela. Duduk. Bersandar di sandaran yang dulu sisi boks. Memandangi pohon mangga di luar.
Galih duduk di sebelahnya.
Bangku itu cukup untuk dua orang. Jenar menggambarnya begitu.
Hanif datang hari Jumat di minggu keempat, jam tujuh malam, dengan amplop cokelat di tangan dan wajah yang lebih tenang dari yang pernah Jenar lihat sejak Purwakarta.
Galih yang membuka pintu.
Mereka berdiri berhadapan di ambang pintu. Galih dengan kaus penuh noda pelitur. Hanif dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Kacamata berbingkai tipis.
Jenar, yang sedang berdiri di ambang ruang depan dengan kertas kalkir di tangan, menahan napas.
“Mas Galih,” kata Hanif.
“Dok.”
Hening. Dua detik. Tiga.
Lalu Galih mundur selangkah. Membuka pintu lebih lebar.
“Masuk,” katanya. “Kopi?”
Hanif mengerjap. Lalu, pelan, tersenyum.
“Senior?”
“Senior.”
Mereka duduk di bangku kayu di teras depan. Dua kursi di teras, persis seperti di tisu dengan noda saus. Dua kursi yang baru dipasang kemarin. Belum dipelitur. Masih bau kayu mentah.
Jenar duduk di tangga teras. Galih dan Hanif di dua kursi. Tiga cangkir Senior di antara mereka.
Hanif membuka amplop cokelatnya. Mengeluarkan selembar foto.
Foto yang dicetak. Bukan di ponsel. Kertas foto yang mengilap, seperti dari studio foto zaman dulu.
Seorang bayi. Sangat kecil. Terlalu kecil. Tidur di inkubator, dengan selang tipis di hidung dan kabel-kabel kecil di dada. Tapi ia tidur. Tenang. Tangan kecilnya menggenggam ujung selimut.
Selimut katun putih. Dengan gambar awan kecil di pinggirnya.
Dan di kepalanya, topi bayi rajutan krem. Topi yang terlalu besar untuk kepalanya, jatuh sampai ke alis.
“Ini dari donasi kalian,” kata Hanif pelan. “Selimutnya. Topinya. Bayinya lahir di minggu ke-29. Beratnya satu kilo dua ratus. Orang tuanya dari Bekasi. Ayahnya supir ojek. Mereka nggak punya apa-apa buat bayinya. Nggak punya selimut. Nggak punya baju yang cukup kecil.”
Jenar memandangi foto itu. Tangan kecil yang menggenggam ujung selimut awan.
“Dia pulang minggu lalu,” kata Hanif. “Beratnya udah dua kilo. Nafasnya udah sendiri. Orang tuanya nangis di lorong NICU. Mereka nanya siapa yang nyumbang selimutnya. Aku bilang dari keluarga yang pernah kehilangan bayi di rumah sakit ini.”
Ia berhenti.
“Terus ibunya bilang, bilang ke mereka makasih. Bilang ke mereka anak saya pakai selimut anak mereka waktu dia belajar napas.”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
Galih memandangi foto itu lama. Rahangnya bergerak.
“Ibunya ngizinin aku kasih foto ini ke kalian,” kata Hanif. “Dia yang minta, malah. Dia bilang kalian harus lihat.”
Ia menyodorkan foto itu. Galih yang menerimanya. Dengan dua tangan. Seperti menerima sesuatu yang sangat berat.
Galih memandanginya lama. Lalu berdiri. Masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa.
Jenar dan Hanif mendengarnya menyusuri lorong. Masuk ke kamar hijau pupus.
Beberapa menit kemudian ia kembali. Tangannya kosong.
“Aku taruh di rak,” katanya. Suaranya serak. “Di sebelah gambar Kiki.”
Hanif mengangguk.
Mereka minum kopi dalam diam. Di teras depan. Di dua kursi yang belum dipelitur. Di bawah pohon kamboja yang menjatuhkan bunga putih satu-satu ke rumput.
“Mas Galih,” kata Hanif setelah beberapa saat.
“Hm.”
“Maaf. Soal di IGD. Soal di meja makan waktu itu, pas aku bawa soto. Soal di kedai Kemang.” Hanif memandangi cangkir Senior di tangannya. “Aku nggak tahu. Aku bener-bener nggak tahu.”
Galih memandanginya.
“Saya yang harusnya minta maaf, Dok,” katanya. “Muka saya di IGD.”
“Kayak mau mukul aku.”
“Kayak mau mukul Dokter.”
Hanif tertawa. Galih tertawa. Jenar, di tangga teras, menunduk dan tersenyum ke lututnya.
“Kulkas,” kata Hanif.
Galih mengerjap. “Apa?”
“Jenar bilang muka Mas emang gitu. Kayak kulkas.” Hanif menyesap kopinya. “Waktu itu aku nggak ngerti maksudnya. Sekarang aku ngerti.”
Galih melirik Jenar di tangga teras. Jenar pura-pura sangat tertarik pada sandal jepitnya.
“Aku mau pamit juga,” kata Hanif. Meletakkan cangkirnya. “Aku dapet fellowship. Neonatologi. Di Surabaya. Setahun. Berangkat bulan depan.”
Jenar mengangkat kepala. “Kak...”
“Nggak apa-apa, Jen. Aku udah lama pengen. Sejak Purwakarta.” Hanif memandangi foto bayi yang sekarang ada di rak di kamar hijau pupus, meskipun ia tidak bisa melihatnya dari teras. “Empat puluh menit. Aku mau belajar supaya lain kali nggak harus empat puluh menit.”
Hening. Pohon kamboja. Bunga putih yang jatuh.
“Satu lagi,” kata Hanif. Lebih pelan. Ia tersenyum kecil, sedikit malu. “Aku sama Yuna lagi ngobrol lagi. Pelan-pelan. Kopi. Makan siang di kantin rumah sakit. Dia bilang aku sekarang lebih banyak di sini.” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Dia bilang aku lagi belajar dengerin orang.”
“Itu bagus, Kak,” kata Jenar.
“Aku belajar dari kalian, sebenernya.” Hanif berdiri. Merapikan kemejanya. “Hana cerita soal pintu kulkas. Soal aturan nomor empat belas.”
Galih dan Jenar saling pandang.
“Ngomong,” kata Hanif. “Kata Kak Astri.”
Ia turun dari teras. Berjalan ke pagar besi hijau. Di sana ia berhenti. Berbalik.
“Jagain dia ya, Mas,” katanya.
Galih memandanginya. Lalu memandangi Jenar di tangga teras.
“Dia bukan barang yang dititip-titipin, Dok,” katanya.
Hanif tersenyum. Seperti sudah menduga jawaban itu.
“Aku tahu,” katanya. “Makanya aku nggak nitip. Aku cuma bilang.”
Ia pergi.
Pembukaan kecil itu digelar hari Sabtu di minggu kelima, jam tujuh pagi.
Tidak ada pita yang digunting. Tidak ada karangan bunga. Tidak ada spanduk. Hanya pintu kaca tempered yang baru dipasang di ruang depan, dibuka lebar. Bar kayu jati tua dari bantalan rel kereta, menghadap ke luar. Mesin espresso kecil dari kedai Mampang yang dipindahkan ke sini. Penggiling kayu berengkol besi. Toples-toples kaca berisi biji kopi dengan label yang ditulis miring ke kanan.
Dua kursi kayu di teras. Sudah dipelitur.
Dan di atas pintu kaca, plang kayu kecil. Dari kayu jati yang sama dengan bar. Dipotong Pak Sarip, diamplas Galih, dipelitur Fadlan.
Kosong.
Belum ada nama.
Pelanggan pertama datang jam tujuh lewat satu menit. Sesuai janjinya di grup RT.
Bu Ratmi. Dengan daster batik yang disetrika dan kerudung hijau yang baru. Ia berdiri di depan bar, di luar jendela, di halaman. Memandangi Galih di balik bar. Memandangi kayu jati tua di bawah tangannya.
“Satu, Mas,” katanya. “Yang manis tanpa gula.”
Galih menyeduhnya. Pelan. Melingkar. Dengan ketel leher angsa. Menyerahkannya lewat jendela.
Bu Ratmi menyesapnya. Lalu tersenyum. Sangat lebar. Sampai ke telinga.
“Ibu dulu nunggu suami Ibu pulang sambil masak sayur asem,” katanya. “Tiga puluh tahun. Tiap pagi Ibu bikinin dia kopi. Kopi sachet.” Ia memandangi cangkir di tangannya. “Ibu nggak pernah tahu kopi bisa manis tanpa gula.”
Ia membayar. Galih menolak. Bu Ratmi memaksa. Galih bilang warga RT lima dapat diskon. Bu Ratmi bilang diskon bukan gratis. Mereka berdebat lima menit, sampai Jenar keluar dari dalam rumah dan bilang pelanggan pertama gratis, itu aturan, dan Bu Ratmi menyerah dengan wajah yang sangat puas.
Lalu yang lain datang.
Bu Wati dan Pak RT. Bu Endang, yang langsung memotret bar dan mengunggahnya ke grup RT sebelum kopinya datang. Dua belas ibu-ibu arisan, bergantian, berdesakan di halaman di luar jendela. Dua anak SD dengan sepeda yang berteriak Om Kopi! dan minta susu cokelat.
Fadlan dan Kiki. Kiki langsung berlari masuk ke dalam rumah, ke kamar hijau pupus, untuk memeriksa apakah Rexi Dua masih ada di dinding di atas rak.
Mas Bayu dan Mbak Rini dari biro. Mas Bayu berdiri lama di depan bar, menyentuh kayu jati tua dengan telapak tangan, memeriksa balok lintel di atasnya dengan mata yang menyipit. Lalu mengangguk puas.
Dita dari kedai Kemang, dengan kotak kue di tangan dan dua barista lain di belakangnya. Ia meletakkan kotak kue di atas bar. Membukanya. Di dalamnya, kue cokelat bulat. Dengan tulisan dari krim putih di atasnya. Selamat buka! Dan di pojok, lebih kecil: Dari meja pojok dekat jendela.
Galih memandangi kue itu. Lalu Dita. Lalu tersenyum.
“Makasih, Dit.”
“Kak Jenar yang ngajarin kami,” kata Dita. “Bayar penuh terus. Nggak pernah pakai diskon.” Ia nyengir. “Jadi kue ini kami bayar pakai uang patungan sendiri. Nggak pakai uang kantor pusat.”
Jam sembilan, sebuah mobil sedan berhenti di depan pagar besi hijau.
Pak Hendro turun dari kursi pengemudi. Kemeja batik sutra. Cincin batu akik hijau. Ia mengitari mobil. Membuka pintu belakang. Membantu seseorang keluar.
Istrinya dulu. Perempuan kecil berkerudung abu-abu.
Lalu, dengan bantuan mereka berdua, kursi roda. Dan perempuan tua di atasnya. Rambut putih disanggul. Kebaya encim. Mata yang sangat tajam.
Ibu Pak Hendro.
Jenar melihat mereka dari balik jendela ruang depan. Ia meletakkan nampan di bar. Keluar lewat pintu kaca. Berjalan ke pagar.
Pak Hendro mendorong kursi roda ibunya ke arah pintu depan. Lalu berhenti.
Di depan teras rumah Kenanga dua belas. Di tempat yang dulu ada tiga anak tangga semen yang tinggi. Tiga anak tangga yang sudah ada sejak Leknor membangun rumah ini.
Sekarang tidak ada lagi.
Sekarang, di tempat itu, ada landaian. Panjang. Landai. Dari semen yang dilapisi keramik kasar supaya tidak licin. Dengan pegangan besi di kedua sisinya. Dari pagar sampai ke teras. Sampai ke pintu kaca. Sampai ke bar.
Pak Hendro memandangi landaian itu lama.
“Ini baru?” tanyanya.
“Baru, Pak,” kata Jenar.
“Kenapa?”
Jenar memandangi ibu Pak Hendro di kursi roda. Perempuan tua dengan mata yang sangat tajam, yang dulu mengenali rasa kayu manis di kopi “Senior” sebagai rasa kopi di rumahnya waktu kecil di Aceh.
“Kakak saya yang ngajarin, Pak,” kata Jenar. “Di buku catatannya. Semua desain harus bisa dilalui kursi roda, tanpa beliau merasa jadi beban.”
Pak Hendro tidak menjawab.
Ia mendorong kursi roda ibunya naik ke landaian itu. Pelan. Landai. Tidak perlu diangkat. Tidak perlu miring-miring. Tidak perlu dua orang di kanan dan kiri. Sampai ke teras. Sampai ke pintu kaca yang lebarnya satu meter.
Sampai ke bar.
Ibu Pak Hendro mengangkat kepala. Memandangi bar kayu jati tua. Memandangi Galih di baliknya. Memandangi jendela yang terbuka ke halaman dan pohon kamboja dan jalan kompleks.
Lalu ia menoleh ke Jenar. Yang berdiri di sebelah kursi rodanya.
“Nak,” katanya. Suaranya kecil dan serak dan sangat jelas. Logat Aceh yang kental. “Ini kamu yang gambar?”
“Iya, Nek.”
“Sama kakakmu?”
Jenar memandanginya. Lalu, pelan, mengangguk.
“Sama kakak saya, Nek.”
Perempuan tua itu memandanginya lama sekali. Lalu mengulurkan tangan. Tangan yang keriput dan kurus dan sangat hangat. Menepuk pipi Jenar. Dua kali.
“Kakakmu pasti bangga,” katanya.
Jenar tidak bisa bicara.
Galih menyeduh secangkir Senior. Pelan. Melingkar. Meletakkannya di bar. Di depan kursi roda. Setinggi tangan perempuan tua itu.
Bar itu setinggi tangan orang yang duduk di kursi roda. Jenar menggambarnya begitu. Bukan setinggi bar biasa. Lebih rendah. Tujuh puluh lima senti dari lantai. Supaya siapa pun bisa menjangkaunya.
Ibu Pak Hendro mengangkat cangkir itu. Menghirup aromanya. Memejamkan mata.
“Kayu manis,” bisiknya.
Pak Hendro berdiri di belakang kursi roda ibunya. Tangannya di pegangan. Ia memandangi landaian di belakangnya. Bar yang setinggi tangan ibunya. Pintu kaca selebar satu meter.
Ia tidak berkata apa-apa. Tapi Jenar melihat rahangnya bergerak. Melihat matanya yang tiba-tiba merah di balik kacamata.
Istrinya meletakkan tangan di lengannya.
Pak Hendro tidak menepisnya.
Siang itu, setelah semua orang pulang, setelah Kiki tertidur di bangku di bawah jendela kamar hijau pupus dengan Rexi di pelukannya dan kain pantai biru putih di atas tubuhnya, setelah Fadlan duduk di teras belakang dengan laptop dan wajah Hana di layar yang terus bertanya gimana? gimana? rame nggak?, Jenar berdiri di halaman depan.
Di luar jendela ruang depan. Di tempat Bu Ratmi berdiri tadi pagi. Di tempat pelanggan berdiri untuk memesan.
Di balik bar, Galih sedang membersihkan mesin espresso. Celemek kulit cokelat. Lengan kemeja digulung sampai siku. Noda kopi di pipinya. Ia mengelap mesin dengan lap putih, pelan, seperti mengelap sesuatu yang sangat berharga.
Lalu ia berhenti. Mengangkat kepala. Memandangi keluar jendela.
Ke jalan kompleks. Ke pohon kamboja. Ke Bu Endang yang lewat dengan tas belanja sayur, melambai. Ke dua anak SD dengan sepeda. Ke bapak tukang bakso yang memukul mangkuk dengan sendok. Ting. Ting. Ting.
Ia tersenyum.
Bukan senyum miring di satu sisi. Senyum yang lain. Senyum yang Jenar pernah lihat sekali. Di kedai Kang Ujang, di gang belakang pasar ikan, waktu Kang Ujang akhirnya mengangguk setelah empat puluh menit berdebat soal suhu air. Senyum anak kecil yang menang lomba panjat pinang.
Senyum orang yang lupa sedang ditonton.
Seperti di gerobak. Di trotoar depan kampus jam lima pagi. Dengan termos air panas dan mimpi yang terlalu besar untuk gerobak sekecil itu.
Jenar memandanginya dari halaman.
Dan ia tahu.
Nama itu. Nama kedai itu. Nama untuk plang kayu kecil di atas pintu kaca yang masih kosong.
Tiba-tiba ada di sana. Di ujung lidahnya. Jelas sekali. Seperti kata yang sudah lama dicari dan akhirnya ditemukan di tempat yang paling tidak disangka.
Ia tidak mengatakannya.
Belum.
Masih ada satu minggu lagi. Satu minggu sampai hari terakhir syarat wasiat. Sampai Ibu Ratna datang untuk pemeriksaan terakhir dan menutup map merahnya.
Jenar tersenyum. Masuk ke rumah lewat pintu kaca.
Di atas pintu, plang kayu kecil. Masih kosong.
Tapi tidak lama lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!