Galih membuat kotak itu di teras belakang, tiga malam berturut-turut, setelah Jenar tidur.
Kayunya sisa. Potongan kayu jati tua dari bantalan rel kereta, yang Pak Sarip tinggalkan di pojok gudang setelah bar selesai dipasang. Terlalu pendek untuk apa pun. Terlalu bagus untuk dibuang. Seratnya kasar dan retak di satu sisi, bekas besi kereta yang dulu dipaku di atasnya.
Soalnya yang ini ada lukanya. Tapi masih kuat.
Ia memotongnya dengan gergaji kecil yang ia pinjam dari Pak Sarip. Mengamplasnya dengan tangan, pelan-pelan, sampai sudut-sudutnya halus. Ia tidak pernah membuat apa pun dari kayu seumur hidupnya. Gerobak kopi pertamanya dulu dibuat tukang di pinggir rel di Bandung. Semua kedainya dirancang orang lain.
Hasilnya tidak sempurna. Sudut kirinya sedikit miring. Tutupnya tidak rata di satu sisi, ada celah setipis kertas.
Di tutupnya, ia membuat lubang persegi. Kecil. Seukuran kartu nama. Lalu menempelkan selembar kaca tipis di baliknya, yang ia beli di toko kaca di Fatmawati dengan ukuran yang ia hitung sendiri tiga kali, karena ia tidak mau minta tolong Jenar menghitungnya.
Di balik kaca itu, ia menyelipkan tisu.
Dilipat empat. Lipatannya sudah sangat lembut, hampir robek di garis-garisnya. Kertasnya kekuningan. Sudut kanannya ada noda cokelat tua. Garis-garis pulpen yang sudah pudar. Bangunan kecil di sudut jalan. Bar yang menghadap ke luar. Pohon ketapang. Dua kursi di teras. Plang kayu kosong.
Ia membukanya satu lipatan. Supaya gambar bar itu yang terlihat dari balik kaca.
Lalu ia membuka kotak beludru merah dari Bu Enok. Mengeluarkan cincin perak itu. Memutarnya di bawah lampu teras yang berkedip.
Hati kecil di bagian dalam. Garis tepinya yang sedikit tidak simetris di sisi kiri.
Ia meletakkan cincin itu di dalam kotak kayu. Di atas selembar kain beludru hijau pupus. Kain sisa dari bantal duduk kursi goyang di kamar Jihan, yang Jenar potong untuk bantalan bangku baca dan menyisakan secarik di keranjang jahit.
Ia menutup kotak itu.
Kaca kecil di tutupnya memantulkan cahaya lampu teras. Terang. Gelap. Terang.
Di balik kaca, tisu dengan noda saus.
Galih memandanginya lama. Lalu tertawa. Sendirian di teras belakang jam satu pagi.
Jelek sekali. Sudutnya miring. Tutupnya ada celah.
Tapi ada lukanya. Dan masih kuat.
Fadlan menelepon hari Jumat pagi, sehari sebelum hari terakhir.
“Besok.”
“Besok.”
“Lo siap?”
Galih memandangi kotak kayu yang ia sembunyikan di balik tumpukan karung goni di gudang. “Nggak tahu.”
“Gal.”
“Tanganku gemeter, Lan. Dari kemarin.”
Fadlan tertawa di seberang. “Bagus. Berarti lo manusia. Bukan kulkas.”
“Kalau dia bilang nggak?”
“Dia nggak bakal bilang nggak.”
“Kalau dia bilang nanti? Kalau dia bilang kasih aku waktu sampai Bandung?”
Fadlan diam sebentar.
“Kalau dia bilang gitu,” katanya pelan, “lo tunggu. Kayak dia nunggu lo dua tahun. Lo nggak kabur.”
“Gue nggak kabur.”
“Janji?”
Galih memandangi pintu kulkas dari ambang gudang. Empat belas aturan. Aturan nomor tiga belas. Kalau mau pergi, ketuk dulu. (Tapi aku nggak bakal pergi.)
“Janji.”
“Oke.” Fadlan menghela napas. “Terus lo mau ngelamar di mana?”
“Di kedai.”
“Kedai yang mana? Lo punya sebelas sekarang.”
“Yang nggak ada namanya.”
Hening di seberang. Lalu Fadlan tertawa. Keras. Sampai Kiki di latar belakang bertanya kenapa Papa ketawa.
“Kedai yang nggak ada namanya,” ulang Fadlan. “Ya Allah, Gal. Lo romantis banget sampai gue mau muntah.”
Hari terakhir datang di hari Sabtu yang cerah.
Jenar bangun jam lima lewat dua puluh. Seperti setiap pagi. Berbaring di kasur single dan mendengarkan.
Krek. Krek. Krek. Penggiling kayu. Pelan. Berirama. Ketel leher angsa. Dua cangkir di meja makan.
Lalu sunyi. Sunyi orang yang duduk dan menunggu.
Ia memandangi langit-langit. Noda berbentuk pulau sudah tidak ada. Pak Sarip mengecatnya dua minggu lalu. Putih. Rata. Seperti tidak pernah ada apa-apa di sana.
Tapi di ponsel Galih, ada fotonya. Biar inget.
Jenar keluar kamar. Di meja makan, Galih di kursi tamu. Dua cangkir. Dua piring roti bakar selai kacang dipotong diagonal.
“Pagi,” katanya.
“Pagi.”
Jenar duduk. Menyesap kopinya.
Manis tanpa gula.
Lalu ia berhenti. Memandangi Galih.
Tangan Galih yang memegang cangkir. Bergetar. Sedikit. Hampir tidak kelihatan. Kopi di cangkirnya membuat lingkaran-lingkaran kecil di permukaan.
“Kamu kenapa?” tanya Jenar.
“Nggak apa-apa.”
“Tangan kamu gemeter.”
Galih memandangi tangannya sendiri. Meletakkan cangkir di atas meja. Menyembunyikan tangannya di bawah meja.
“Kedinginan,” katanya.
“Ini Jakarta, Galih. Jam setengah enam pagi. Tiga puluh derajat.”
“AC-nya.”
“AC-nya mati.”
Galih memandanginya. Lalu memandangi roti bakarnya. Telinganya memerah. Sampai ke tengkuk.
Jenar menyipitkan mata.
Tapi ia tidak bertanya. Aturan nomor empat belas bilang ngomong. Tapi aturan itu tidak bilang harus sekarang.
Ia memakan roti bakarnya. Pelan. Sambil memperhatikan telinga Galih yang merah.
Ibu Ratna datang jam empat sore.
Tepat waktu. Dengan tas kulit hitam dan map merah dan kacamata yang sama. Ia turun dari mobil di depan pagar besi hijau dan berhenti. Memandangi rumah itu.
Teras yang tidak lagi punya tiga anak tangga, melainkan landaian dengan pegangan besi. Pintu depan yang sekarang pintu kaca selebar satu meter. Jendela ruang depan yang sekarang punya bar kayu jati tua yang menghadap ke luar. Dua kursi kayu di teras. Plang kayu kecil di atas pintu. Masih kosong.
Di balik bar, Galih. Celemek kulit cokelat. Menyeduh kopi.
Ibu Ratna naik lewat landaian. Pelan. Berhenti di depan bar. Di luar jendela. Di tempat pelanggan berdiri.
“Selamat sore,” katanya lewat jendela.
“Selamat sore, Bu,” kata Galih. Ia meletakkan secangkir Senior di atas bar. Di depan Ibu Ratna. “Buat Ibu.”
Ibu Ratna memandangi cangkir itu. Lalu Galih. Lalu, pelan, ia tersenyum. Mengambil cangkirnya. Menyesap.
“Rumahnya berubah,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Tapi tetap ditempati dengan baik.”
“Kami harap begitu, Bu.”
Jenar keluar dari pintu kaca. Kemeja putih. Kerah terbuka. Liontin hati kecil di luar. Ia berdiri di sebelah Ibu Ratna di halaman.
Ibu Ratna memandanginya. Lalu memandangi Galih di balik bar. Lalu mereka berdua.
“Saya tidak perlu masuk,” katanya. “Saya sudah lihat dari luar.”
Mereka duduk di dua kursi kayu di teras. Ibu Ratna di satu kursi. Jenar di kursi yang lain. Galih berdiri di ambang pintu kaca, bersandar di kusen, dengan celemek kulit yang lupa dilepas.
Ibu Ratna membuka map merahnya di pangkuan. Membalik halaman terakhir.
Tanda tangan Leknor. Tegak dan rapi. Tanda tangan Astri. Bulat dan besar dan miring, dengan lingkaran kecil di atas huruf i.
“Hari ini,” kata Ibu Ratna, “tepat satu tahun sejak wasiat almarhum dan almarhumah dibacakan di kantor saya.” Ia memandangi mereka berdua. “Selama satu tahun, Saudari Jenar Masayu dan Saudara Galih Pratama telah menempati rumah di Jalan Kenanga nomor dua belas bersama-sama, sebagai tempat tinggal utama. Tidak ada di antara mereka yang meninggalkan rumah lebih dari tujuh malam berturut-turut.”
Ia berhenti. Memandangi Galih di ambang pintu. Galih memandangi lantai teras.
“Syarat wasiat telah terpenuhi,” kata Ibu Ratna.
Ia mengambil pulpen dari saku blazernya. Menandatangani halaman terakhir. Di bawah tanda tangan Leknor dan Astri. Tanda tangannya kecil dan rapi. Lalu ia menutup map merah itu.
Bunyinya pelan. Seperti buku yang selesai dibaca.
“Rumah ini sekarang sepenuhnya milik kalian berdua,” katanya. “Tanpa syarat apa pun. Kalian bebas memutuskan apa pun.”
Jenar memandangi map merah itu. Tertutup. Di pangkuan Ibu Ratna.
Satu tahun.
Kantor di Kuningan dengan AC yang terlalu dingin. Dua kursi berdampingan. Aku terima. Aku juga. Dua kardus berhadapan di trotoar. Tujuh aturan di notes beruang. Kopi pagi. Galon. Pemanas air. Kopi Kona di lantai dapur jam tiga pagi. Kiki dan Rexi. Arisan. Lilin vanila. Itu kesalahan. Ulang tahun yang terlupa. Kartu di bawah pintu. Karpet. Aku nggak ke mana-mana. Kamar hijau pupus. Surat Astri. Kalung di luar kerah. Kafe dan tamparan. Tujuh malam. Payung terbalik di teras.
Satu tahun.
Ibu Ratna memasukkan map merah ke tas kulitnya. Berdiri. Merapikan blazernya.
Lalu, di ujung teras, di atas landaian, ia berhenti. Berbalik.
“Satu lagi,” katanya.
Jenar dan Galih memandanginya.
“Waktu tanda tangan wasiat,” kata Ibu Ratna. “Setelah Pak Leknor keluar ambil mobil. Bu Astri bilang satu hal lagi ke saya. Saya belum pernah menyampaikannya. Beliau bilang saya hanya boleh menyampaikannya di hari terakhir. Kalau kalian berdua masih tinggal di rumah ini.”
Jenar menahan napas.
Ibu Ratna tersenyum. Senyum yang pelan dan jarang, seperti waktu ia tertawa melihat pesan di grup RT.
“Beliau bilang,” katanya, “Bu, kalau setahun selesai dan mereka masih di sana, bilang ke mereka satu kata aja.”
Ia berhenti.
“Menang.”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
Di ambang pintu kaca, Galih tertawa. Keras. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan bahunya berguncang.
“P.P.P.S.,” kata Jenar di balik tangannya. Suaranya pecah. “Kalau kalian nemu barengan, berarti aku menang. Hehe.”
“Dia menang,” kata Galih dari balik tangannya.
“Dia menang.”
Ibu Ratna memandangi mereka berdua. Lalu mengangguk sopan. Berjalan turun lewat landaian. Masuk ke mobilnya di depan pagar besi hijau.
Mobil itu menghilang di tikungan.
Jenar dan Galih berdiri di teras. Tidak bicara. Di atas pintu kaca, plang kayu kecil. Kosong.
Di rumah di belakang, di balik pagar, lampu dapur Bu Ratmi menyala.
Matahari mulai turun.
Langit di atas atap-atap kompleks berubah. Kuning pucat. Lalu jingga. Lalu merah muda yang malu-malu di pinggir awan. Cahayanya jatuh miring lewat jendela ruang depan, ke bar kayu jati tua, ke toples-toples kaca, ke lantai keramik yang baru.
Jenar berdiri di balik bar.
Bukan tempatnya. Tempat Galih. Tapi Galih memintanya.
“Coba bikin,” katanya tadi, setelah mobil Ibu Ratna pergi. Ia melepas celemek kulit cokelatnya dan memakaikannya di tubuh Jenar. Mengikat talinya di belakang pinggangnya, pelan, dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Aku yang pesen. Kamu yang bikin.”
“Aku nggak bisa bikin kopi.”
“Kamu udah belajar.”
Ia memang sudah belajar. Lima minggu renovasi. Setiap malam, setelah Pak Sarip dan anak buahnya pulang, setelah debu putih dibersihkan dari bar, Galih mengajarinya. Cara memutar engkol penggiling kayu dengan irama yang benar. Krek. Krek. Krek. Tidak terlalu cepat. Cara menakar dengan mata. Cara menunggu air mendidih lalu mendiamkannya setengah menit. Cara menuang. Pelan. Melingkar.
Kopi pertama yang ia buat rasanya seperti air comberan yang dimasak. Galih meminumnya sampai habis tanpa komentar.
Kopi kesepuluh rasanya seperti kopi kantor Leknor. Robusta sachet. Galih meminumnya sampai habis dan bilang lumayan.
Kopi kedua puluh, Galih tidak bilang apa-apa. Ia hanya memandangi cangkirnya lama sekali. Lalu meminumnya lagi.
Sekarang Jenar berdiri di balik bar dengan celemek kulit cokelat yang kebesaran. Galih berdiri di luar. Di halaman. Di tempat pelanggan berdiri. Di luar jendela.
“Satu,” kata Galih. “Senior.”
Jenar mengambil toples kaca dari rak. SENIOR. Gayo. Untuk Jenar. Menuang biji ke penggiling kayu. Memutar engkolnya.
Krek. Krek. Krek.
Pelan. Berirama.
Galih memperhatikannya dari luar jendela. Tidak berkata apa-apa.
Jenar menakar dengan mata. Memasukkan bubuk ke saringan kertas. Menunggu air mendidih. Mematikan api. Menunggu setengah menit. Menghitung dalam hati.
Lalu menuang. Pelan. Melingkar.
Bau kopi memenuhi ruang depan. Cokelat. Kayu manis. Sedikit pala. Keluar lewat jendela, ke halaman, ke pohon kamboja, ke langit yang jingga.
Ia meletakkan cangkir itu di atas bar. Di depan Galih. Di tepi jendela.
Galih mengangkatnya. Menghirup aromanya dengan mata terpejam. Menyesap. Menahannya di mulut. Menelan pelan.
Jenar menunggu. Jantungnya berdebar.
Galih membuka mata. Memandangi cangkir itu. Lalu memandanginya.
“Manis,” katanya.
Jenar mengerjap.
“Tanpa gula,” tambah Galih. Suaranya serak. “Manis tanpa gula.”
Jenar tidak bisa menahan senyumnya. Senyum yang lebar. Sampai ke mata. Sampai ke telinga.
Galih meletakkan cangkir itu di bar. Pelan.
Lalu ia mengetuk bar. Tiga kali. Tok. Tok. Tok. Di atas kayu jati tua yang ada lukanya.
Jenar memandangi tangannya. Lalu wajahnya.
“Aturan nomor tiga belas,” kata Galih pelan. “Kalau mau pergi, ketuk dulu.”
Jenar merasakan jantungnya berhenti.
“Aku nggak mau pergi,” kata Galih cepat. Melihat wajahnya. “Aku cuma... aku mau ngomong sesuatu yang penting. Dan aku nggak tahu aturannya apa buat itu. Jadi aku ketuk aja.”
Jenar menelan ludah. “Aturan nomor empat belas,” katanya pelan. “Ngomong.”
“Iya.” Galih menarik napas. “Itu.”
Ia tidak berlutut.
Ia berdiri di luar jendela. Di halaman. Di tempat pelanggan berdiri. Di bawah langit yang jingga dan merah muda. Dengan pohon kamboja di belakangnya yang menjatuhkan bunga putih satu-satu ke rumput.
Jenar berdiri di balik bar. Dengan celemek kulit cokelat yang kebesaran. Di tempat Galih.
Di antara mereka, bar kayu jati tua. Tujuh puluh lima senti dari lantai. Menghadap ke luar.
Galih merogoh saku jaket denimnya. Bukan saku dalam. Saku samping.
Ia mengeluarkan kotak kayu.
Jelek sekali. Jenar melihatnya langsung. Sudut kirinya sedikit miring. Tutupnya tidak rata, ada celah setipis kertas di satu sisi. Seratnya kasar. Retak di satu tempat.
Dan di tutupnya, sebuah jendela kecil dari kaca.
Ia meletakkannya di atas bar. Di antara mereka. Di sebelah cangkir kopi pertama yang Jenar buat dengan benar.
Jenar memandangi kotak itu.
Lalu memandangi kaca kecil di tutupnya.
Di balik kaca, tisu. Kekuningan. Dilipat, dibuka satu lipatan. Sudut kanannya ada noda cokelat tua. Garis-garis pulpen yang sudah pudar. Bar yang menghadap ke luar.
Jenar tidak bisa bernapas.
“Kayunya sisa bar,” kata Galih. Suaranya bergetar. “Yang ada lukanya. Aku bikin sendiri. Tiga malem. Pas kamu tidur. Aku nggak pernah bikin apa-apa dari kayu. Sudutnya miring. Tutupnya ada celahnya. Aku tahu. Kamu arsitek, kamu pasti langsung lihat.”
“Galih...”
“Kacanya aku beli di Fatmawati. Ukurannya aku itung sendiri. Tiga kali. Soalnya aku nggak mau minta tolong kamu ngitung. Nanti kamu curiga.”
Jenar tertawa. Di tengah air mata yang tiba-tiba turun.
“Buka,” kata Galih pelan.
Jenar mengangkat tangan. Tangannya gemetar. Sama seperti tangan Galih pagi tadi di sekitar cangkir kopi.
Ia membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya, di atas selembar kain beludru hijau pupus, sisa kain bantal kursi goyang di kamar Jihan, sebuah cincin.
Perak. Tipis. Polos di bagian luar. Tanpa ukiran. Tanpa batu. Mengilap di bawah cahaya matahari sore yang jatuh miring lewat jendela.
Jenar memandanginya.
“Bu Enok yang bikin,” kata Galih. “Yang punya toko Perak Tasik. Ibu yang pakai kerudung ungu. Yang jual kalung kamu.”
Jenar menyentuh liontin hati kecil di dadanya tanpa sadar.
“Dia inget aku,” lanjut Galih. “Dia inget aku pas beli kalung itu. Katanya kancing baju aku salah pasang. Katanya aku nanya kalungnya tahan air laut atau nggak. Soalnya kamu suka pantai tapi nggak bisa renang.”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
“Aku nggak inget pernah nanya gitu,” kata Galih. “Tapi aku pasti nanya. Soalnya itu bener.”
Ia mengulurkan tangan. Mengambil cincin itu dari kotak kayu. Mengangkatnya ke cahaya. Memutarnya pelan di antara ibu jari dan telunjuk. Sampai pada sudut yang tepat.
“Lihat,” katanya.
Jenar mendekat. Melihat bagian dalam cincin itu. Di lengkungan yang akan menyentuh kulit.
Hati kecil. Diukir. Sangat kecil. Sama persis dengan liontin di lehernya. Bentuknya. Garis tepinya yang sedikit tidak simetris di sisi kiri.
“Kata Bu Enok,” bisik Galih, “hatinya di dalem. Pas di tempat jari nempel. Jadi yang pakai tahu. Tapi orang lain nggak.”
Ia berhenti. Menelan ludah.
“Kayak kalungnya,” katanya. “Di balik kerah. Dua tahun.”
Jenar tidak bisa bicara. Air matanya turun terus.
Galih memandanginya. Di atas bar yang menghadap ke luar. Di bawah langit jingga. Dengan cincin perak di antara jari-jarinya dan tangan yang tidak lagi gemetar.
Tidak gemetar sama sekali.
“Jen,” katanya.
“Hm.”
“Aku udah nggak ada syarat apa-apa lagi. Ibu Ratna udah nutup mapnya. Rumah ini udah punya kita. Nggak ada tujuh malem. Nggak ada satu tahun. Kalau aku mau pergi, aku bisa pergi besok, dan nggak ada yang dijual.” Ia menarik napas. “Kamu juga bisa pergi. Kamu bisa pindah ke apartemen di Tebet lagi. Kamu bisa beli bagian aku. Kamu bisa ngapain aja.”
Jenar memandanginya.
“Aku nunggu hari ini,” kata Galih, “supaya kamu tahu. Aku nggak ngelamar kamu karena rumah. Bukan karena wasiat. Bukan karena aku takut kamu pergi. Bukan karena Kak Astri curang.” Suaranya pecah sedikit. “Aku nunggu sampai kita berdua bebas milih.”
Ia mengangkat cincin itu. Sedikit. Di atas bar.
“Rumahnya udah punya kita,” katanya. “Aku mau punya kamu.”
Hening.
Pohon kamboja. Bunga putih yang jatuh. Bapak tukang bakso yang lewat di ujung jalan, memukul mangkuk dengan sendok. Ting. Ting. Ting.
“Jenar Masayu,” kata Galih. “Kamu mau nikah sama aku?”
Jenar memandanginya lama sekali.
Laki-laki di luar jendela. Di tempat pelanggan berdiri. Dengan jaket denim yang pernah basah kuyup di tengah hujan malam ketujuh. Dengan kotak kayu jelek yang sudutnya miring. Dengan tisu dengan noda saus di balik kaca kecil. Dengan cincin perak yang punya hati di dalamnya.
Laki-laki yang duduk di pasir basah sampai celananya kuyup.
Yang bilang kalau rasanya sesakit itu, mungkin itu bukan cinta.
Yang pergi tanpa satu kata. Dan pulang tujuh malam kemudian, empat belas menit sebelum tengah malam. Dan mengetuk.
“Iya,” katanya.
Galih tidak bergerak.
“Iya, Galih.” Jenar tertawa. Di tengah tangisnya. Tawa jelek. Seperti angsa keselek. “Iya. Aku mau. Aku udah mau dari dermaga. Aku udah mau dari papan selancar kuning di pasir. Aku nggak perlu nunggu sampai Bandung.”
Galih memandanginya. Lalu, pelan, wajahnya pecah. Tidak ada pintu besi lagi. Tidak ada kulkas. Hanya laki-laki yang tertawa dan menangis bersamaan di halaman rumahnya sendiri, dengan cincin di tangan.
Jenar mengulurkan tangan kirinya. Di atas bar. Di antara mereka.
Galih memegangnya. Jari-jarinya sekarang tidak gemetar sama sekali. Ia memasangkan cincin itu di jari manis Jenar. Pelan. Hati-hati. Seperti memegang gelas yang terlalu penuh.
Cincin itu pas.
Jenar memandanginya. Perak polos di jarinya. Mengilap di bawah cahaya matahari sore. Dan di baliknya, di tempat yang menyentuh kulit, hati kecil yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Kecuali dia.
Galih tidak melepaskan tangannya. Ia menggenggamnya di atas bar kayu jati tua. Di atas luka-luka di seratnya. Bekas besi kereta yang dulu dipaku.
Lalu ia mencondongkan tubuh melewati jendela. Melewati bar. Jenar mencondongkan tubuh dari balik bar.
Mereka bertemu di tengah. Di atas kayu jati tua yang menghadap ke luar.
Ciuman itu tidak lama. Tidak dalam. Hanya sebentar, di atas bar, dengan cahaya jingga di wajah mereka dan bunyi ting ting ting dari ujung jalan.
Tapi Jenar merasakannya. Dengan jelas. Seperti membaca gambar yang tampak dari dalam, bukan dari luar.
Ini bukan kesalahan. Ini bukan pengisi waktu. Ini bukan karena rumah, atau wasiat, atau tujuh malam.
Ini pilihan.
Galih menarik diri. Dahinya menempel di dahi Jenar. Di atas bar.
“Jen,” bisiknya.
“Hm.”
“Jantungku.”
Jenar meletakkan tangan kanannya, yang tidak bercincin, di dada Galih. Lewat jendela.
Kencang. Tidak beraturan. Seperti seseorang yang memukul drum tanpa tahu lagunya.
“Nggak pernah pelan,” bisik Jenar.
“Nggak pernah pelan,” ulang Galih.
“Namanya,” kata Jenar.
Mereka duduk di dua kursi kayu di teras. Matahari sudah tenggelam. Lampu teras menyala, kuning dan hangat, bukan neon yang berkedip. Pak Sarip menggantinya minggu lalu. Galih meminta satu lampu yang tidak pernah berkedip.
Di atas pintu kaca, plang kayu kecil. Masih kosong.
Galih memandangi plang itu. Lalu Jenar.
“Kamu udah tahu?”
“Aku tahu seminggu lalu,” kata Jenar. “Pas pembukaan. Pas semua orang udah pulang. Aku berdiri di halaman. Kamu di balik bar. Kamu ngelap mesin espresso, terus berhenti, terus ngelihat ke luar. Ke jalan. Ke orang-orang lewat. Terus kamu senyum.”
Galih memandanginya.
“Senyum kamu di gerobak,” kata Jenar. “Aku nggak pernah lihat kamu di gerobak. Tapi aku tahu itu senyum yang sama. Senyum orang yang lupa lagi ditonton.”
Ia memandangi plang kosong.
“Terus aku mikir,” lanjutnya pelan, “rumah ini. Semua orang yang pernah tinggal di sini. Nenek. Kak Leknor. Kak Astri. Kamu. Aku. Semua orang yang dateng ke sini. Bu Ratmi. Kiki. Ibu-ibu arisan. Pak Hendro sama ibunya.” Ia menarik napas. “Tapi ada satu orang yang harusnya tinggal di sini. Yang kamarnya udah siap. Yang bajunya udah dilipet di laci. Yang namanya udah dipilih. Yang nggak sempet dateng.”
Galih tidak bergerak.
“Kamar itu sekarang ruang baca,” kata Jenar. “Kiki tidur di bangkunya. Bayi di Bekasi pakai selimutnya waktu belajar napas. Ibu Pak Hendro minum kopi di bar yang setinggi tangannya. Semua orang yang dateng ke sini, yang duduk di teras ini, yang minum kopi dari bar ini, mereka dateng ke rumah yang dibangun buat dia.”
Ia menoleh ke Galih.
“Rumah Jihan,” katanya.
Galih memandanginya lama sekali.
Lalu ia berdiri. Berjalan ke pintu kaca. Berdiri di bawah plang kayu kecil yang kosong. Mendongak. Memandanginya.
Jenar melihat bahunya bergetar.
“Rumah Jihan,” ulangnya pelan. Seperti mencoba rasa kata itu di lidah. Seperti dulu, di lobi hotel, waktu ia mengulang nama Jenar. Seperti di kamar hijau pupus, waktu ia mengulang hijau pupus.
Ia berbalik. Wajahnya basah.
“Artinya dunia,” katanya.
“Rumah dunia,” kata Jenar.
Galih tertawa. Pecah. Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan.
“Kak Astri pasti bilang itu norak,” katanya.
“Kak Astri pasti nangis di bantal sampai Dedek nendang.”
“Kak Leknor pasti diem aja.”
“Terus tiga hari kemudian ngelurusin plangnya pakai waterpas.”
Mereka tertawa. Di teras. Di bawah lampu kuning yang tidak pernah berkedip.
Mereka mengukir plang itu malam itu juga.
Jenar menggambar hurufnya dengan pensil 2B di atas kayu jati. Tegak dan kecil-kecil. Tulisan arsitek. RUMAH JIHAN.
Galih mengukirnya dengan alat ukir listrik yang ia beli minggu lalu di toko perkakas di Fatmawati, tanpa tahu untuk apa, hanya karena alat itu mengingatkannya pada kios bapak tua di ujung pasar oleh-oleh Pangandaran.
Bunyinya berdengung. Seperti nyamuk besar.
Ia belum pernah mengukir apa pun seumur hidupnya. Tangannya kaku. Kayu jati keras. Alat itu melompat-lompat di permukaan kayu.
Setengah jam kemudian, ia mundur. Memandangi hasilnya.
RUMAH JIHAN.
Huruf-hurufnya sedikit miring. Tidak rata. Garis-garisnya bergelombang di beberapa tempat.
Dan huruf H. Dua huruf H. Di RUMAH. Di JIHAN.
Kegedean.
Jenar memandanginya. Lalu tertawa. Keras. Seperti angsa keselek. Sampai ia harus bersandar di pegangan besi landaian.
“Kenapa?” tanya Galih. Memandangi plang itu. Lalu Jenar. “Kenapa kamu ketawa?”
“H-nya,” kata Jenar di tengah tawa. “H-nya kegedean.”
Galih memandangi plang itu lagi. Dua huruf H yang terlalu besar. Seperti kursi.
Lalu ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan gantungan kunci papan selancar kuning. Yang sekarang tergantung di kunci mobilnya. Yang ia bawa ke mana-mana.
GALIH.
Huruf H yang terlalu besar.
Ia memegang gantungan kunci itu di sebelah plang. Membandingkan. Dua H di kayu jati. Satu H di kayu kuning.
Sama persis.
Galih tertawa. Keras. Sampai lampu dapur Bu Ratmi di belakang rumah menyala.
“Ini kutukan,” katanya. “Semua orang yang ngukir pakai alat listrik bikin H kegedean.”
“Bapak-bapak di Pangandaran.”
“Aku.”
“Kalian berdua.”
Mereka tertawa di teras. Di bawah plang kayu yang hurufnya miring dan H-nya kegedean. Di bawah lampu kuning yang tidak pernah berkedip.
Galih memanjat bangku. Jenar memegangi bangkunya. Hati-hati, hati-hati, hati-hati. Galih bilang ia bukan atlet voli tapi ia bisa berdiri di atas bangku. Jenar bilang itu yang dulu dibilang Kak Astri, dan Kak Astri hampir jatuh.
Galih memasang plang itu di atas pintu kaca. Dua sekrup.
Jenar mengambil waterpas dari saku celemek. Menyerahkannya.
Galih memandanginya. Lalu tertawa lagi.
“Kak Leknor,” katanya.
“Kak Leknor,” kata Jenar.
Ia meluruskan plang itu dengan waterpas. Sampai gelembung udaranya tepat di tengah.
Jam sembilan malam, ponsel mereka bergetar bersamaan.
Grup RT 05 Kenanga Asri.
Foto. Dari halaman belakang. Dari balik pagar. Dari jendela dapur.
Dua orang di teras rumah bercat putih. Satu berdiri di atas bangku, memasang plang kayu di atas pintu kaca. Satu memegangi bangkunya dari bawah, mendongak, tertawa. Lampu teras kuning. Plang kayu dengan huruf yang miring.
Dan di jari manis tangan kiri perempuan itu, yang memegangi kaki bangku, sesuatu yang berkilau. Kecil. Perak.
Di bawah foto, pesan dari Bu Ratmi.
Rumah Jihan.
Alhamdulillah.
Ada cincin.
Tiga detik kemudian, pesan dari Bu Endang (Admin).
CINCIN???
BU RATMI ZOOM FOTONYA
ITU CINCIN???
Bu Ratmi mengirim foto kedua. Diperbesar. Buram. Tangan kiri Jenar di kaki bangku. Sesuatu yang berkilau di jari manisnya.
Seratus empat puluh tujuh balasan dalam sepuluh menit.
YA ALLAH
ALHAMDULILLAH
AKHIRNYAAA
Mas Galih ngelamar??
Kapan nikahnya Bu??
Rumah Jihan apa artinya?
Jihan itu nama bayinya almarhumah Mbak Astri.
😭😭😭
Ya Allah bagus banget namanya
Bu Endang, dulu Ibu bilang “Belum. Nanti juga.”
Lalu, satu pesan dari Bu Endang (Admin). Huruf kapital semua.
SEKARANG.
Dan di bawahnya, delapan puluh tiga orang membalas dengan satu kata yang sama.
AAMIIN.
Jenar membaca semuanya di sofa ruang tengah, dengan kepala di bahu Galih, dengan cincin perak di jari manisnya yang ia putar-putar tanpa sadar.
Galih membaca dari ponselnya sendiri.
Di atas mereka, foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Leknor dan Astri. Tersenyum. Dan dua orang di tengah dengan bahu bersentuhan. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Foto itu,” kata Galih pelan.
“Hm.”
“Kita harus ganti.”
Jenar mengangkat kepala. “Ganti?”
“Nggak diganti. Ditambah.” Galih memandangi foto itu. “Nanti. Pas kita nikah. Kita foto lagi. Di sini. Di halaman. Terus kita gantung di sebelahnya.”
Jenar memandangi foto itu. Dua orang di tengah dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
“Terus yang kali ini,” katanya, “senyumnya sampai ke mata.”
“Sampai ke mata.”
Ia menyandarkan kepalanya lagi di bahu Galih. Memutar cincin di jarinya. Merasakan hati kecil di baliknya menekan kulit.
Tidak bisa dilihat siapa pun. Kecuali dia.
Jam sebelas malam, ia berdiri di depan pintu kulkas.
Empat belas aturan. Aturan nomor enam dan tujuh dicoret. Aturan nomor lima belas di bawahnya. Bar ngadep ke luar. Setuju. Makasih udah gambar dua kali. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli.
Di bawah semuanya, ruang putih.
Jenar mengambil spidol dari laci.
Ia menulis. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tangannya tidak gemetar.
16. Iya.
Ia memandanginya. Lalu menutup spidol.
Jam lima lewat lima puluh keesokan paginya, di bawahnya, tulisan miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.
Aku tahu.
(Tapi aku mau baca tiap pagi.)














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!