BAB 4 - Kalung

0 dibaca

A

Jenar turun sarapan dengan niat bersikap biasa saja, dan niat itu bertahan kurang lebih tiga detik.

Galih sudah duduk di meja dekat jendela, sama seperti malam pertama. Ia sedang mengoles mentega ke roti tawar dengan konsentrasi seorang ahli bedah. Waktu melihat Jenar terpincang masuk, pisau di tangannya meleset dan mentega menempel di punggung jarinya.

Mereka saling pandang.

Lalu mereka berdua memandang ke arah lain secara bersamaan. Galih ke jarinya yang bermentega. Jenar ke meja prasmanan, tempat seorang ibu sedang berdebat dengan petugas soal telur dadar yang terlalu asin.

Biasa aja. Biasa aja. Kalian cuma ciuman. Orang dewasa ciuman setiap hari.

Ia mengambil piring. Nasi goreng. Telur mata sapi. Kerupuk. Ia mengambil kerupuk terlalu banyak dan tidak sadar sampai piringnya penuh.

Ia duduk di depan Galih. Galih sedang menjilat mentega di jarinya, lalu berhenti di tengah-tengah karena sadar Jenar memperhatikan.

“Pagi,” kata Galih.

“Pagi.”

Hening. Seorang anak kecil di meja sebelah menjatuhkan sendok. Bunyi dentingnya terdengar seperti ledakan.

“Kaki gimana?” tanya Galih.

“Mendingan.”

“Coba jalan.”

“Galih, aku baru duduk.”

“Oh. Iya.” Ia menunduk ke rotinya. Telinganya merah. “Maaf. Kebiasaan.”

Jenar memakan kerupuk untuk menyibukkan mulutnya. Kerupuknya melempem. Ia tetap memakannya.

Di seberang meja, Galih mengaduk kopi hotel yang tidak ia minum. Sendoknya berputar-putar tanpa arah. Lalu ia berhenti dan mengangkat kepala.

“Semalem,” katanya.

Jenar tersedak kerupuk.

Galih buru-buru menyodorkan air. Jenar meminumnya setengah gelas, terbatuk, mengusap mata yang berair. Anak kecil di meja sebelah menontonnya dengan penuh minat.

“Maaf,” kata Galih lagi. “Aku cuma mau bilang...”

“Iya?”

“Satpamnya namanya Pak Darto.”

Jenar menatapnya.

“Tadi pagi aku ketemu dia di parkiran,” lanjut Galih dengan wajah sangat serius. “Dia bilang anjingnya udah dibawa ke pos. Terus dia nanya aku semalem lihat Mbak kamar dua-empat-satu nggak. Soalnya kata dia, pas dia ngetok, Mbaknya teriaknya kayak orang abis lari maraton.”

Jenar menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku bilang,” lanjut Galih, suaranya mulai bergetar, “mungkin Mbaknya takut anjing.”

“Galih.”

“Terus Pak Darto bilang, Oh, pantesan. Soalnya pas saya lewat lagi, pintunya kebuka, terus ada yang keluar kayak maling.”

Jenar tertawa ke dalam telapak tangannya. Tertawa sampai bahunya berguncang, sampai ibu yang berdebat soal telur dadar menoleh, sampai anak kecil di meja sebelah ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu.

Waktu ia akhirnya menurunkan tangan, Galih sedang memandanginya. Tidak tertawa lagi. Hanya tersenyum, dengan cara yang membuat perut Jenar terasa seperti baru turun dari tanjakan.

“Aku seneng,” kata Galih pelan. “Yang semalem.”

Jenar memegang gelas air dengan kedua tangan. “Aku juga.”

“Beneran?”

“Beneran.”

Ia mengangguk, sekali, seperti orang yang baru menerima kabar baik dan tidak mau kelihatan terlalu senang. Lalu ia berdiri, menghabiskan kopi hotel yang sudah dingin dalam satu tegukan, dan meringis.

“Aku surfing dulu. Terakhir. Besok udah balik.” Ia berhenti. “Kamu hari ini mau ke mana?”

“Beli oleh-oleh. Buat Kak Leknor sama Hana.”

“Tunggu aku, ya. Jam sebelas. Aku anterin.”

“Aku bisa sendiri.”

“Aku tahu,” kata Galih. “Tunggu aku.”


Jam sebelas lewat lima, Galih muncul di lobi dengan rambut basah dan kaus yang kancing kerahnya salah pasang. Jenar tidak memberitahunya.

Pasar oleh-oleh Pangandaran berjejer di sepanjang jalan dekat pantai timur. Kios-kios kecil beratap terpal, kaus bertuliskan I Love Pangandaran digantung seperti bendera, ikan asin ditumpuk di tampah, kerupuk kulit ikan dalam plastik besar, dan pedagang yang memanggil setiap orang lewat dengan sebutan Teh dan A.

“Teh! Kaosnya, Teh! Tiga puluh ribu tiga!”

“Teh, ikan asin, Teh! Jambal roti asli!”

“A, kalungnya buat si Teteh, A! Biar makin geulis!”

Galih melirik Jenar. Jenar pura-pura sibuk memilih kerupuk.

Mereka berkeliling pelan. Jenar menawar dengan ganas, dan Galih menonton dengan campuran kagum dan ngeri. Kaus untuk Hana, tiga warna berbeda, karena Hana pasti komplain soal warnanya apa pun yang dipilih. Ikan jambal roti untuk Leknor, yang suka sekali ikan asin meskipun kolesterolnya mulai naik.

“Kakak kamu suka ikan asin?”

“Dia suka apa aja yang asin. Kayak orangnya.”

“Asin gimana?”

“Nggak pernah senyum. Tapi kalau kamu kenal, ternyata enak.”

Galih tertawa. Ia sendiri membeli beberapa barang. Kaus untuk Fadlan yang ukurannya jelas kekecilan, “biar dia sadar harus diet”, katanya. Mainan dinosaurus plastik dari kios mainan untuk Kiki. Dan selembar kain pantai lagi, motif batik cokelat keemasan.

“Buat siapa?”

“Kakakku. Dia suka yang cokelat-cokelat.”

“Yang atlet voli?”

“Iya. Yang bilang aku kayak kulkas.”

Semua belanjaan Galih dimasukkan ke satu kantong plastik hitam besar. Belanjaan Jenar ke dua kantong plastik putih. Galih membawa ketiganya tanpa bertanya.

Di satu kios di ujung jalan, seorang bapak tua duduk di balik meja kecil dengan alat ukir listrik dan tumpukan gantungan kunci dari kayu. Ada yang berbentuk ikan, penyu, perahu. Ada yang berbentuk papan selancar. Ukir nama langsung jadi, tulis kardus di depan mejanya. 10 menit.

Jenar berhenti.

Galih sedang menawar kacamata hitam murahan di kios sebelah. Ia tidak melihat.

Jenar mengambil gantungan kunci berbentuk papan selancar. Kuning, sama seperti papan Galih. Ia memandanginya lama.

“Diukir, Neng?” tanya si bapak.

“Iya, Pak.” Ia merendahkan suara. “Namanya Galih.”

“Galih. G-A-L-I-H?”

“Iya. Cepetan ya, Pak.”

Si bapak mengangguk dan mulai bekerja. Bunyi alat ukir berdengung seperti nyamuk besar. Jenar berdiri memunggungi kios supaya bisa mengawasi Galih, dan jantungnya berdebar seperti sedang mencuri sesuatu.

Ia tidak tahu kapan akan memberikannya. Mungkin malam ini. Mungkin besok pagi, sebelum berpisah. Mungkin sambil meminta nomor teleponnya, karena ia sudah memutuskan semalam, sambil duduk di lantai kamar, bahwa kalau Galih tidak meminta, ia yang akan meminta.

Sebelas hari lalu, ia tidak berani mengatakan apa pun pada orang yang ia sukai tujuh tahun.

Hari ini ia membeli gantungan kunci bertuliskan nama laki-laki yang baru ia kenal empat hari.

Mungkin Hana benar. Mungkin ia gila.

“Ini, Neng.”

Gantungan kunci itu masih hangat di telapak tangannya. Huruf-hurufnya sedikit miring, dan huruf H-nya agak terlalu besar. Jenar memasukkannya ke dalam saku celana, jauh ke dalam, dan membayar dengan uang pas.

Waktu ia berbalik, Galih sudah tidak ada di kios kacamata.

Jenar memandang ke kiri dan kanan. Panik sedikit. Lalu ia melihatnya di ujung deretan kios, di depan sebuah toko kecil yang berbeda dari yang lain. Bukan terpal, tapi etalase kaca dengan lampu kuning. Papan namanya kecil dan sederhana. Perak Tasik. Galih sedang membungkuk di depan etalase, berbicara pelan dengan penjualnya, seorang ibu gemuk berkerudung ungu yang terus tersenyum dan melirik ke arah Jenar.

Galih menegakkan badan. Memasukkan sesuatu ke saku. Membayar.

Ia berjalan kembali ke arah Jenar dengan wajah yang terlalu tenang.

“Dari mana?” tanya Jenar.

“Nggak dari mana-mana.”

“Itu toko perak.”

“Oh, ya?”

“Ibunya ngeliatin aku terus.”

“Mungkin dia suka kaus kamu.”

Jenar memandangi kaus putih polosnya. Galih memandangi langit.

Mereka berjalan ke pantai dalam diam, menyusuri pasir yang sudah panas, dengan tiga kantong plastik di tangan Galih dan gantungan kunci di saku Jenar, masing-masing menyembunyikan sesuatu dan sama-sama sadar yang lain juga menyembunyikan sesuatu.


Mereka duduk di bawah pohon ketapang, dekat papan AWAS ARUS BALIK.

Ibu kacang rebus melambai dari jauh. Jenar melambai balik. Galih juga melambai, dan si ibu tertawa, lalu mengacungkan jempol ke arah mereka dengan cara yang sangat tidak halus.

“Dia kenal kamu?” tanya Galih.

“Dia yang ngasih aku kacang gratis. Hari pertama.”

“Kenapa gratis?”

“Soalnya aku bilang aku patah hati.”

Galih menoleh. “Kamu bilang ke penjual kacang?”

“Keluar sendiri.”

“Terus dia ngasih kacang.”

“Katanya patah hati juga harus makan.”

Galih memandang ke arah ibu itu lama. Lalu tertawa pelan. “Pinter.”

Mereka diam. Ombak datang dan pergi. Di kejauhan, anak-anak kecil bermain layang-layang dari kantong plastik.

Galih merogoh sakunya.

“Jen.”

“Hm.”

“Tutup mata.”

“Kenapa?”

“Tutup aja.”

Jenar menutup mata. Jantungnya langsung berdebar keras sekali, sampai ia yakin Galih bisa mendengarnya.

Ia merasakan Galih bergeser di pasir. Mendekat. Ia merasakan sesuatu yang dingin dan ringan menyentuh kulit lehernya, lalu jari-jari Galih di tengkuknya, sedikit gemetar, berusaha mengaitkan sesuatu yang kecil.

“Bentar,” gumam Galih. “Kaitannya kecil banget.”

“Aku bisa bantu.”

“Jangan buka mata.”

“Aku nggak buka mata.”

“Tangan kamu juga jangan gerak.”

Jenar menahan tawa. Jari-jari itu terus mencoba. Sekali. Dua kali. Umpatan pelan. Tiga kali.

“Udah.”

Jenar membuka mata dan menunduk.

Kalung perak berantai tipis, sehalus benang. Di ujungnya tergantung liontin kecil berbentuk hati, tidak lebih besar dari kuku kelingking. Permukaannya polos dan mengilap, memantulkan cahaya matahari siang sampai Jenar harus menyipitkan mata. Liontin itu hangat, karena tadi ada di saku Galih.

“Bentuknya norak,” kata Galih cepat, sebelum Jenar sempat bicara. Ia tidak menatap Jenar. Ia menatap laut. “Norak, kan? Aku tahu. Ada yang bentuk bintang, bentuk bulan, bentuk ikan juga. Tapi ibunya bilang semua cowok ujung-ujungnya beli yang ini. Terus aku mikir, ya udah, aku juga cowok.”

Jenar menggenggam liontin itu. Tidak tahu harus berkata apa.

“Terus ibunya bilang satu hal lagi,” lanjut Galih, lebih pelan. “Katanya perak itu aneh. Kalau disimpen terus di laci, lama-lama jadi hitam. Kusam. Tapi kalau dipakai tiap hari, kena kulit, dia malah makin terang.” Ia menggaruk tengkuk. “Jadi, kalau kamu mau, dipakai aja. Jangan disimpen.”

“Galih.”

“Kalau kamu nggak suka...”

“Aku suka.”

“Kalau kepanjangan...”

“Galih.”

Ia berhenti.

“Aku suka,” kata Jenar lagi. Suaranya lebih pelan. “Banget.”

Galih akhirnya menoleh. Ia tersenyum, senyum miring di satu sisi, dan telinganya merah lagi.

Jenar merogoh saku celananya. Gantungan kunci itu masih ada. Masih hangat. Ia membuka mulut untuk bicara.

“Jen,” kata Galih lebih dulu. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menyodorkannya. Layarnya sudah terbuka di menu kontak baru. “Boleh minta nomor kamu?”

Jenar menatap ponsel itu. Lalu Galih.

“Aku baru mau minta nomor kamu,” katanya.

“Masa?”

“Beneran. Aku udah mutusin semalem. Kalau kamu nggak minta, aku yang minta.”

Galih tertawa. Tawa yang lega, yang keluar dari perut. “Fadlan bilang aku bego karena belum minta.”

“Fadlan pinter.”

“Jangan bilang ke dia. Nanti dia sombong.”

Jenar mengambil ponselnya dan mengetik. Nama: Jenar. Ia berhenti, lalu menambahkan sesuatu di belakangnya. Mengembalikannya.

Galih membaca layar. Jenar (yang keseleo).

Ia tertawa lagi. Lalu menelepon nomor itu. Ponsel di saku Jenar bergetar.

“Simpen,” kata Galih.

Jenar menyimpannya. Ia mengetik Galih, lalu diam, lalu menambahkan satu kata.

Galih mencondongkan tubuh untuk melihat. Galih (kulkas).

“Jen.”

“Itu kata kakak kamu. Aku cuma ngikutin.”

“Kamu sama kayak dia.”

“Berarti aku pasti cocok sama kakak kamu.”

Galih memandanginya dengan ekspresi aneh. Setengah geli, setengah sesuatu yang lain. Lalu ia menggeleng pelan.

“Kalian berdua pasti bakal bersekongkol ngeledek aku.”

“Pasti.”

Jenar masih memegang gantungan kunci di sakunya. Ia memutuskan akan memberikannya nanti malam. Bukan sekarang. Sekarang sudah terlalu banyak, dan ia ingin menyimpan satu hal untuk malam terakhir.

Ia tidak tahu itu adalah keputusan yang akan ia sesali bertahun-tahun.


Malam terakhir mereka makan di warung seafood di pinggir pantai. Kepiting saus padang yang terlalu pedas, udang bakar, dan cah kangkung yang sekarang Jenar makan tanpa disuruh. Mereka minum es jeruk dan membicarakan hal-hal yang biasa. Pekerjaan Jenar yang belum ada. Kedai kesebelas yang Galih rencanakan. Bandung dan Jakarta, yang katanya cuma tiga jam kalau tol tidak macet, dan selalu macet.

“Minggu depan aku ke Bandung,” kata Galih sambil membelah kepiting. “Ada supplier kopi di Lembang. Beneran ada. Bukan alesan.”

“Aku nggak nanya itu alesan.”

“Muka kamu nanya.”

“Terus?”

“Terus kalau kamu nggak sibuk,” Galih menunduk ke kepitingnya, “mungkin kita bisa makan. Nasi goreng yang katanya paling enak deket kampus kamu itu.”

Jenar menyedot es jeruknya pelan-pelan untuk menyembunyikan senyum. “Mungkin.”

“Mungkin?”

“Mungkin iya.”

Galih mengangguk. Lalu mengangguk lagi. Lalu memecahkan capit kepiting terlalu keras dan saus padang muncrat ke kausnya.

Jenar tertawa sampai hampir menangis.

Setelah makan mereka berjalan menyusuri pantai. Kali ini tanpa papahan. Kaki Jenar sudah cukup kuat, meskipun masih sedikit pincang. Tapi di tengah jalan, tangan mereka bertemu. Tidak sengaja, lalu sengaja, lalu jari-jari mereka bertaut dan tidak ada yang melepaskannya.

Pantai malam itu sepi. Bulan hampir penuh. Laut berkilau seperti aluminium foil yang diremas. Di kejauhan, lampu perahu-perahu nelayan berkelip di garis cakrawala seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.

Di kantong plastik yang dibawa Galih, dinosaurus Kiki berderak-derak setiap kali ia melangkah.

Mereka kembali ke teras belakang hotel. Teras yang sama. Kursi rotan yang sama. Lampu neon yang sama, masih berkedip seperti sedang berpikir keras.

Galih meletakkan tiga kantong plastik di kursi rotan. Jenar berdiri di pagar kayu, memandangi laut. Liontin hati di lehernya berkilau setiap kali lampu neon menyala, lalu hilang setiap kali lampu itu padam.

Galih berdiri di sebelahnya. Tidak ada jarak sejengkal kali ini.

“Aku nggak mau besok,” katanya.

“Aku juga nggak.”

“Empat hari, Jen.” Ia menggeleng pelan. “Empat hari, dan aku ngerasa kayak kenal kamu dari dulu. Itu gila, kan?”

“Gila.”

“Fadlan bilang aku gila.”

“Hana juga bilang aku gila.”

Galih tertawa pelan. “Berarti kita berdua gila.”

“Berarti kita cocok.”

Galih menoleh. Jenar juga menoleh. Dan kali ini tidak ada yang memalingkan wajah. Tidak ada anjing. Tidak ada Mang Dadang. Tidak ada Pak Darto. Hanya lampu neon yang berkedip, ombak yang bergulung pelan, dan bau garam serta melati.

Galih menciumnya.

Tidak canggung seperti semalam. Tidak ragu-ragu seperti di dermaga. Ia menciumnya pelan dan dalam, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak lagi takut pada keputusannya. Satu tangannya di pipi Jenar. Tangan yang lain di pinggangnya, menariknya lebih dekat sampai tidak ada lagi udara di antara mereka.

Jenar melingkarkan tangannya di leher Galih. Jari-jarinya menemukan rambut di tengkuknya, lembut, sedikit kaku karena air laut. Ia bisa merasakan detak jantung itu lagi, berdentum di dadanya sendiri, dan ia tidak tahu lagi yang mana milik siapa.

Ciuman itu berlangsung lama. Lebih lama dari semua ciuman yang pernah Jenar bayangkan dengan Hanif selama tujuh tahun. Dan tidak ada satu pun bayangan itu yang mendekati ini. Tidak ada yang mengatakan padanya bahwa ciuman bisa terasa seperti ini. Seperti tenggelam dan diselamatkan sekaligus.

Waktu akhirnya mereka menarik diri, napas mereka berat. Dahi Galih menempel di dahi Jenar. Matanya terpejam.

“Jen,” bisiknya.

“Hm.”

“Kemarin kamu bilang belum tahu ini karena aku atau karena kamu lagi kabur.”

Jenar diam.

“Sekarang udah tahu?”

Jenar memandanginya dari jarak sedekat itu. Bulu mata yang lurus dan tebal. Bekas luka kecil di dagu. Noda saus padang yang masih samar di kerah kausnya.

Ia ingin bilang udah. Ia ingin bilang karena kamu. Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya.

Tapi yang keluar adalah, “Kasih aku waktu sampai Bandung.”

Galih membuka mata.

“Aku mau ngomongnya bukan di sini,” lanjut Jenar cepat. “Bukan di pantai, pas lagi liburan, pas semuanya kerasa kayak mimpi. Aku mau ngomongnya pas kita udah di dunia nyata. Pas kamu dateng ke Bandung, terus kita makan nasi goreng, terus aku masih ngerasa kayak gini. Biar aku yakin. Biar kamu juga yakin.”

Galih memandanginya lama.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang sampai ke matanya.

“Oke,” katanya. “Minggu depan.”

“Minggu depan.”

Ia mencium kening Jenar. Lalu melepaskannya, pelan, seperti melepaskan sesuatu yang takut jatuh.

“Aku balik dulu,” katanya. “Aku harus ngepak. Aku pasti bakal ngepaknya sambil senyum-senyum kayak orang bego.”

“Kamu emang bego.”

“Bego yang kamu cium.”

Jenar mendorong dadanya. Galih tertawa dan mundur ke pintu teras. Di ambang pintu ia berhenti, menoleh, dan menatap Jenar sekali lagi. Seperti ingin menghafal sesuatu.

Lalu ia pergi.

Jenar berdiri di pagar lama sekali, Ia menggenggam liontin hati di lehernya sampai ujung lancipnya menekan telapak tangan.

Ia memunguti kantong-kantong plastiknya dari kursi rotan dalam gelap. Dua putih. Satu hitam. Ia tidak memperhatikan.


Jenar baru selesai mandi ketika ponselnya berdering.

Hana. Panggilan video. Jam sepuluh lewat dua puluh.

Ia mengangkat dengan rambut masih terbungkus handuk. Wajah Hana memenuhi layar, tanpa masker kali ini, alisnya berkerut.

“Lo di mana seharian?”

“Beli oleh-oleh. Kaus lo tiga warna, jangan komplain.”

“Jen.” Hana tidak tersenyum. “Lo nggak bales gue dari semalem.”

“Sori. Capek.”

“Gimana Green Canyon?”

Jenar menggigit bibir. Senyumnya lolos sebelum ia sempat mencegahnya.

Hana menyipitkan mata. Mendekatkan wajah ke kamera. “Jen. Itu apa di leher lo?”

“Jen. Itu apa di leher lo?”

“Kalung.”

“Bentuk love?” Suara Hana naik satu oktaf. “Dia ngasih lo kalung bentuk LOVE?”

Jenar menyentuh liontin hati di lehernya. Terlambat untuk menyembunyikannya.

“Dikasih,” katanya pelan.

“Sama cowok itu.”

“Namanya Galih.”

“Jenar Masayu.”

“Han, dengerin dulu.”

“Lo ciuman sama dia?”

Jenar diam. Hana mengenal diam itu.

“Ya Allah, Jen.” Hana memijat pelipisnya. Di belakangnya, Jenar bisa melihat dinding kos yang ditempeli poster konser dan jadwal kuliah. “Lo baru kenal dia empat hari. Empat. Hari.”

“Gue tahu.”

“Lo tahu apa? Lo tahu dia siapa? Lo tahu dia punya pacar atau nggak di Jakarta? Lo tahu kenapa dia sendirian di Pangandaran? Cowok umur dua puluh tujuh, liburan sendiri, tiba-tiba ketemu cewek patah hati di pantai, terus nyium dia, terus ngasih kalung. Lo nggak curiga?”

“Dia bukan kayak gitu.”

“Semua cowok bukan kayak gitu sampai ternyata kayak gitu, Jen!”

“Han...”

“Dan tadi sore Kak Hanif nelepon gue.”

Jenar membeku.

“Dia nanyain lo lagi,” lanjut Hana, lebih pelan. “Dia bilang dia khawatir. Lo nggak dateng ke lamarannya, lo nggak bales chat dia, lo ngilang ke Pangandaran. Dia nanya lo kenapa. Terus dia bilang...” Hana ragu. “Dia bilang dia ngerasa lo kayak marah sama dia, dan dia nggak tahu salahnya apa.”

Jenar menunduk. Handuk di kepalanya melorot.

“Gue nggak bilang apa-apa ke dia,” kata Hana cepat. “Gue nggak bilang lo suka dia. Gue nggak bakal pernah bilang itu. Tapi Jen, dengerin gue. Gue sayang sama lo. Lo sahabat gue dari SMP. Dan gue takut.”

“Takut apa?”

“Takut lo lagi ngelakuin sesuatu yang lo bakal nyesel.” Mata Hana berkaca-kaca. “Lo nangisin kakak gue sebelas hari. Terus tiba-tiba lo ciuman sama orang asing. Lo tahu gimana kedengerannya? Kedengerannya kayak lo cuma pengen ngerasain dicium, terserah siapa aja, asal bukan dia yang nggak milih lo.”

“Bukan gitu.”

“Terus gimana? Lo serius sama dia? Setelah empat hari? Kalau lo serius, lo gila. Kalau lo nggak serius, lo jahat. Pilih, Jen. Yang mana?”

“Hana!”

“Gue cuma nggak mau lo jadi cewek yang...” Hana berhenti. Menarik napas. Tapi kalimatnya sudah setengah keluar.

“Jadi cewek yang apa?” tanya Jenar. Suaranya bergetar.

Hana tidak menjawab. Tidak perlu.

Sesuatu di dada Jenar retak. Bukan karena Hana salah. Tapi karena semua ketakutan yang ia simpan sejak dermaga, sejak Green Canyon, sejak ia duduk di lantai kamar semalam dengan bibir masih hangat, tiba-tiba disebutkan satu per satu oleh orang yang paling mengenalnya.

Kalau lo serius, lo gila. Kalau lo nggak serius, lo jahat.

Dan Hanif. Hanif yang bertanya. Hanif yang khawatir. Hanif yang tidak tahu salahnya apa.

Jenar tidak bisa bernapas. Ia ingin percakapan ini berhenti. Ia ingin Hana berhenti menatapnya seperti itu, seperti orang yang sedang melihat sahabatnya jatuh dari tebing dan tidak bisa menangkapnya. Ia ingin semuanya diam supaya ia bisa berpikir.

Jadi ia mengatakan hal yang paling cepat bisa membuat Hana berhenti.

“Ya bukan gitu, Hana. Gue gak semurahan itu. Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.”

Suaranya keras. Lebih keras dari yang ia maksud. Keras dan datar dan dingin, dan begitu kalimat itu keluar, ia langsung ingin menariknya kembali.

Hana memandanginya lewat layar. Lama.

“Oke,” kata Hana pelan. “Kalau gitu, ya udah. Hati-hati aja. Jangan sampai dia yang sakit.”

“Han...”

“Gue ngantuk. Besok kabarin kalau udah jalan pulang.”

Layar gelap.

Jenar menatap ponselnya. Wajahnya sendiri memantul di layar hitam itu. Rambut basah. Handuk melorot. Kalung di leher.

Ia menurunkan ponselnya ke kasur. Pelan. Lalu duduk di sana, tidak bergerak, lama sekali.

Ia menggenggam kalung di lehernya sampai pinggirannya menekan telapak tangan.

“Gue takut,” bisiknya. “Gue takut banget. Gue takut ini beneran. Terus kalau beneran, terus dia pergi, gue nggak tahu harus gimana. Makanya gue nggak mau ngaku. Makanya...”

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Ia berbaring meringkuk di atas kasur dengan handuk masih di kepala, gantungan kunci papan selancar di genggaman tangan kiri, kalung di genggaman tangan kanan, dan menangis sampai tertidur.

Di kursi dekat jendela, di antara dua kantong plastik putih berisi kaus dan ikan asin, ada satu kantong plastik hitam yang bukan miliknya.


Galih sudah setengah jalan mengepak koper ketika ia sadar kantong plastiknya tidak ada.

Ia mencari di bawah kasur. Di kamar mandi. Di dalam koper yang sudah terisi. Lalu ia ingat. Kursi rotan di teras. Tiga kantong. Ia meletakkannya di sana, lalu ia mencium Jenar, lalu ia pergi dengan kepala kosong dan senyum bodoh, dan ia sama sekali tidak ingat membawa apa pun.

Jenar pasti membawanya ke kamar.

Ia melirik jam. Sepuluh lewat dua puluh lima. Belum terlalu malam. Dan jujur saja, ia tidak keberatan punya alasan untuk mengetuk pintu kamar dua-empat-satu sekali lagi.

Ia berjalan menyusuri lorong. Lampu masih berkedip. Anjing tidak ada. Pak Darto tidak ada. Ia berjalan sambil bersenandung, sumbang, lagu yang diputar enam kali di kedai Kang Ujang. Lagu yang katanya bego. Lagu yang tidak mau keluar dari kepalanya sejak dua hari lalu.

Ia berhenti di depan pintu. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk.

Lalu ia mendengar suara Jenar.

Teredam oleh pintu. Tidak jelas. Hanya potongan-potongan. Suara perempuan lain, tipis dan kecil seperti dari speaker ponsel. Lalu suara Jenar lagi, keras, jelas, menembus kayu pintu seperti tidak ada apa-apa di antara mereka.

”Ya bukan gitu, Hana. Gue gak semurahan itu. Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.”

Tangan Galih berhenti di udara. Satu senti dari pintu.

Ia tidak bergerak. Ia tidak bernapas.

Di balik pintu, sunyi. Lalu suara perempuan di speaker bicara pelan, terlalu pelan untuk ditangkap. Lalu sunyi lagi.

Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.

Galih menurunkan tangannya. Pelan-pelan. Seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di atas lantai es yang tipis.

Hana. Sahabatnya. Kakak lo. Kakak Hana. Hanif. Laki-laki yang ia dengar ceritanya di teras sampai subuh. Laki-laki yang menggaruk alisnya kalau bingung. Laki-laki yang Jenar tunggu tujuh tahun.

Dan dia. Galih. Pengisi waktu.

Lucu, pikirnya, dan ia tidak tahu kenapa ia hampir tertawa. Lucu sekali. Satu jam yang lalu, di teras, dengan dahi menempel di dahinya, ia bertanya. Sekarang udah tahu? Dan Jenar bilang, kasih aku waktu. Biar aku yakin. Biar kamu juga yakin.

Sekarang ia yakin.

Ia berdiri di sana lebih lama dari yang ia sadari. Cukup lama untuk mendengar suara lain dari balik pintu. Suara yang tersendat-sendat. Suara yang mungkin tangis, mungkin tawa, ia tidak bisa membedakannya lewat kayu setebal lima senti. Ia tidak mau membedakannya.

Kalau mau disakiti, buat apa mau.

Itu yang ia bilang di kedai. Dengan yakin. Dengan garpu teracung.

Galih berbalik. Berjalan kembali ke ujung lorong dengan langkah yang sangat tenang. Masuk ke kamarnya. Menutup pintu dengan sangat pelan, seperti takut membangunkan seseorang.

Ia memandangi kopernya yang setengah terisi.

Lalu ia mengisinya. Semuanya. Cepat dan rapi. Kaus yang terkena saus padang. Celana pendek yang pernah basah di pasir. Kemeja linen. Semuanya dilipat dan dimasukkan tanpa ia benar-benar melihat apa yang ia lipat.

Ia membuka dompet untuk memastikan kartu kunci kamar ada di sana. Tisu terlipat empat itu mengintip dari balik KTP. Noda saus di pojoknya.

Ia menatapnya lama. Tangannya bergerak untuk menariknya keluar. Untuk membuangnya ke tempat sampah di bawah meja.

Tangannya berhenti.

Ia menutup dompet dengan tisu itu masih di dalamnya, dan ia benci dirinya sendiri sedikit karena itu.

Jam sebelas lewat empat puluh, ia check-out. Resepsionis yang mengantuk bertanya kenapa buru-buru, padahal kamarnya dibayar sampai besok siang. Galih bilang ada urusan mendadak di Jakarta. Resepsionis itu mengangguk, tidak peduli.

Di parkiran, Pak Darto sedang merokok di pos satpam dengan anjing kampung tertidur di kakinya. Ia melambai. Galih mengangguk tanpa berhenti.

Mobilnya menyala dengan bunyi yang terlalu keras untuk jam segitu.

Ia menyetir dalam gelap, meninggalkan Pangandaran, meninggalkan pantai dan papan AWAS ARUS BALIK dan pohon ketapang dan teras dengan lampu neon yang berkedip. Ia tidak menyalakan radio. Ia tidak bersenandung.

Di rest area pertama, satu jam kemudian, ia berhenti. Mematikan mesin. Duduk di dalam mobil yang gelap dengan ponsel di tangan.

Kontak paling atas di daftar panggilan terakhir. Jenar (yang keseleo).

Ia menatapnya lama. Lama sekali. Jempolnya melayang di atas layar.

Lalu ia menekan tiga titik di pojok. Gulir ke bawah. Blokir kontak ini.

Anda yakin?

Ia menekan Ya.

Lalu ia melempar ponsel ke kursi penumpang, menyandarkan kepala ke setir, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman bapaknya, Galih Pratama menangis di dalam mobil, di rest area di tengah jalan menuju Jakarta, sendirian, tanpa suara.

Tidak ada yang menggedor pintu.


Jenar terbangun jam tujuh pagi dengan mata bengkak, handuk basah di bawah kepala, dan dua benda yang masih tergenggam di kedua tangannya.

Ia duduk pelan-pelan. Kepalanya berat. Ingatan semalam datang satu per satu, seperti orang yang mengetuk pintu dengan sopan. Hana. Hanif. Kalimat itu.

Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.

Ia memejamkan mata. Nanti ia akan menelepon Hana dan meminta maaf. Nanti ia akan menjelaskan. Tapi pertama-tama, hari ini, sebelum pulang, ia akan menemui Galih. Ia akan memberikan gantungan kunci itu. Ia akan bilang dia tidak perlu menunggu sampai Bandung. Ia sudah yakin. Ia yakin dari dermaga. Mungkin ia yakin sejak papan selancar kuning diletakkan di pasir di sebelahnya supaya ia tidak ketiduran di tempat basah.

Ia bangun. Mandi. Mengepak koper. Kalung di lehernya. Gantungan kunci di saku.

Lalu ia melihat kantong plastik hitam di kursi dekat jendela.

Ia membukanya. Kaus kekecilan untuk Fadlan. Dinosaurus plastik hijau untuk Kiki. Kain pantai batik cokelat keemasan, masih terlipat, masih ada label harganya.

Jenar tersenyum. Dasar kulkas. Lupa bawa belanjaannya sendiri.

Ia membawa kantong itu dan berjalan ke ujung lorong. Sedikit pincang. Senyumnya lebar. Ia mengetuk pintu kamar paling ujung.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi. “Galih? Belanjaan kamu ketinggalan.”

Pintunya terbuka. Tapi yang muncul bukan Galih. Seorang petugas kebersihan berseragam hijau dengan troli penuh seprai kotor dan botol pembersih.

“Cari siapa, Mbak?”

“Yang nginep di sini. Mas Galih.”

“Oh, udah check-out, Mbak.”

Jenar tersenyum bingung. “Check-out? Jam berapa?”

“Tadi malem katanya, Mbak. Pas saya dateng kamarnya udah kosong.”

Jenar melongok ke dalam. Kasur sudah dilucuti. Meja kosong. Kamar mandi terbuka, tidak ada sikat gigi, tidak ada handuk basah di lantai. Tidak ada papan selancar kuning bersandar di dinding.

Tidak ada apa-apa.

“Mungkin salah kamar,” kata Jenar. Suaranya aneh di telinganya sendiri. “Yang surfing. Papan selancarnya kuning.”

“Iya, Mbak, yang ini.” Petugas itu memandanginya dengan kasihan yang sopan. “Nggak ada titipan apa-apa, Mbak.”

Jenar mundur. Satu langkah. Dua.

Ia mengeluarkan ponsel. Membuka kontak. Galih (kulkas). Menekan tombol panggil.

Nada sambung tidak terdengar. Hanya bunyi aneh yang pendek, lalu sunyi, lalu panggilan terputus sendiri.

Ia mencoba lagi. Sama.

Ia membuka aplikasi pesan. Mengetik dengan jari yang mulai gemetar. Galih? Kamu di mana? Belanjaan kamu ketinggalan di kamar aku.

Terkirim. Satu centang abu-abu.

Ia menunggu. Satu menit. Dua. Lima.

Centangnya tetap satu.

Ia melihat foto profil Galih. Tadi malam masih ada, foto gerobak kopi tua dengan latar kampus. Sekarang lingkarannya kosong. Abu-abu. Tanpa foto. Tanpa status terakhir dilihat.

Jenar tahu apa artinya itu. Semua orang tahu apa artinya itu.

Ia berdiri di lorong lantai dua dengan kantong plastik hitam di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Lampu lorong di atasnya berkedip. Terang. Gelap. Terang.

Kata nenek, beliau cuma pamit keluar beli sesuatu.

Belum pulang sampai sekarang.

Ia bahkan tidak pamit.

Petugas kebersihan mendorong trolinya melewati Jenar, roda-rodanya berderit di lantai keramik. Di kejauhan, dari arah pantai, terdengar suara ibu kacang rebus menawarkan dagangan. Kacang, kacang. Masih anget.

Jenar tidak menangis. Tidak di lorong itu. Ia berjalan kembali ke kamarnya dengan sangat tenang, masuk, menutup pintu, dan duduk di pinggir kasur dengan kantong plastik hitam di pangkuan.

Ia memasukkan tangan ke saku. Mengeluarkan gantungan kunci papan selancar kuning. GALIH. Huruf H-nya terlalu besar.

Ia memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam, di antara dinosaurus hijau dan kain batik cokelat keemasan. Lalu mengikat kantong itu rapat-rapat.

Lalu ia memasukkannya ke dalam koper, di bawah semua baju, di tempat yang tidak akan ia lihat lagi.

Kalung masih di lehernya. Ia menyentuhnya. Hampir menariknya lepas.

Kalau disimpen terus di laci, lama-lama jadi hitam.

Tangannya berhenti.

Ia tidak melepasnya. Ia hanya memasukkannya ke balik kaus, supaya tidak kelihatan.

Supaya ia sendiri tidak perlu melihatnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk