BAB 5 - Kulkas Dua Pintu

0 dibaca

A

Dua bulan setelah Pangandaran, Leknor menyetrika kemeja yang sama untuk ketiga kalinya.

Jenar menontonnya dari meja makan, dengan semangkuk sereal yang sudah lembek dan ponsel yang ia pegang tanpa dibaca. Kemejanya biru muda. Kemeja paling bagus yang Leknor punya, yang biasanya hanya keluar dari lemari untuk kondangan dan rapat dengan klien yang proyeknya di atas lima miliar.

Setrika itu bergerak maju mundur di atas kerah. Sudah licin sejak sepuluh menit lalu.

“Kak.”

“Hm.”

“Kerahnya bisa kebakar.”

Leknor mengangkat setrika dan memandangi kerah itu seperti baru sadar sedang memegangnya. Lalu ia menaruhnya di rak, mencabut kabelnya, dan menggantung kemeja itu di pintu kamar dengan hati-hati berlebihan.

Jenar menyipitkan mata.

Kakaknya tiga puluh lima tahun. Pemilik biro arsitek kecil di Kemang yang karyawannya empat belas orang. Laki-laki yang tidak pernah berteriak, tidak pernah menangis di depan siapa pun, dan tidak pernah, dalam dua puluh dua tahun Jenar hidup, sekali pun membawa perempuan ke rumah. Waktu SMA, teman-teman Jenar mengira Leknor adalah ayahnya, dan Leknor tidak pernah repot-repot meluruskannya.

Dan sekarang ia menyetrika kemeja tiga kali di hari Sabtu pagi.

“Kakak mau ke mana?”

“Makan malam.”

“Sama klien?”

Leknor diam. Ia menuang kopi ke gelas, lalu menuang lagi ke gelas yang sama meskipun sudah penuh. Kopinya tumpah ke meja dapur. Ia memandanginya dengan wajah datar, lalu mengambil lap.

Jenar meletakkan sendoknya.

“Kak Leknor.”

“Nanti malam kamu ikut,” kata Leknor tanpa menoleh, sibuk mengelap. “Jam tujuh. Pakai baju yang bagus.”

“Ikut ke mana?”

“Makan.”

“Sama siapa?”

Leknor berhenti mengelap. Punggungnya lurus. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, seperti orang yang mengaku sudah memecahkan vas bunga, ia berkata, “Ada yang mau aku kenalin ke kamu.”

Sereal di mulut Jenar berhenti dikunyah.

“Kenalin,” ulangnya.

“Iya.”

“Siapa?”

“Nanti kamu lihat.”

“Cewek?”

Leknor tidak menjawab. Tapi telinganya memerah. Leknor Masayu, yang tidak pernah memerah waktu dimarahi dosen, tidak pernah memerah waktu memimpin rapat di depan kontraktor yang berteriak, tidak pernah memerah bahkan waktu salah masuk toilet perempuan di bandara, sekarang memerah sampai ke tengkuk.

Jenar melompat berdiri. Kursinya terguling.

“KAK LEKNOR PUNYA PACAR?”

“Jenar.”

“Sejak kapan? Siapa? Kerja di mana? Cantik nggak? Kok aku nggak tahu? Kakak udah berapa lama nyembunyiin ini?”

“Jenar, duduk.”

“Nggak mau duduk! Ini berita terbesar tahun ini!”

Leknor akhirnya berbalik. Wajahnya berusaha galak, tapi sudut bibirnya bergetar. “Kamu bakal ketemu nanti malam. Jangan malu-maluin aku.”

“Aku nggak pernah malu-maluin Kakak.”

“Kamu pernah nanya ke dosen pembimbingku waktu wisuda S2 apakah aku punya pacar di kampus.”

“Itu kan cuma nanya.”

“Di depan rektor.”

Jenar tertawa sampai harus berpegangan di meja. Leknor menggeleng dan kembali ke dapur, tapi Jenar sempat melihatnya tersenyum. Senyum kecil dan malu-malu yang tidak pernah ia lihat di wajah kakaknya sejak nenek masih hidup.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Jenar merasa sesuatu di dadanya ringan.


Dua bulan.

Jenar pulang dari Pangandaran dengan koper yang lebih berat dari saat berangkat, karena di dasarnya ada kantong plastik hitam yang tidak ia buka sejak pagi terakhir itu. Sekarang kantong itu masih di sana, di dalam koper, di bawah kasur di kamarnya yang dulu, di rumah Leknor di Jakarta. Ia tidak memindahkannya. Tidak membukanya. Tidak juga membuangnya.

Ia menelepon Hana dari bus hari itu dan menceritakan semuanya. Kamar kosong. Satu centang abu-abu. Foto profil yang hilang.

Hana menangis lebih keras dari dia.

“Gue minta maaf, Jen,” katanya berkali-kali. “Gue yang bikin lo ngomong gitu. Gue yang maksa.”

“Bukan salah lo.”

“Tapi kalau dia denger...”

“Dia nggak mungkin denger, Han. Kamarnya di ujung lorong.” Jenar memandangi sawah yang lewat di jendela bus. “Dia cuma pergi. Kayak yang dia bilang. Kalau udah terlalu sakit, dia pergi aja.”

“Terus kenapa dia sakit?”

Jenar tidak punya jawaban.

Minggu pertama di Jakarta ia mencari. Tidak bangga, tapi ia mencari. Kedai kopi sepuluh cabang Jabodetabek. Ada ratusan. Pemilik kedai kopi Galih. Tidak ada hasil yang benar. Ia mencoba nama Fadlan. Terlalu banyak Fadlan di Jakarta.

Suatu malam ia menemukan akun Instagram sebuah kedai kopi di Tebet. Fotonya menampilkan bar panjang dari kayu, barista berseragam cokelat, mesin espresso mengilap. Barnya menghadap tembok.

Ia tidak tahu apakah itu kedai Galih. Ia tidak mau tahu. Ia menutup aplikasinya dan tidak membukanya lagi selama seminggu.

Minggu kedua ia berhenti mencari.

Minggu ketiga Leknor menawarinya pekerjaan di biro. Ia bilang akan memikirkannya. Ia sudah memikirkannya selama lima minggu.

Kalung perak itu masih di lehernya. Setiap hari. Di balik kaus, di balik kemeja, di balik piyama. Ia tidak pernah melihatnya di cermin. Tapi setiap malam, sebelum tidur, jarinya menemukan liontin kecil itu di bawah kain, dan memegangnya sampai tertidur.

Liontin itu tidak menghitam. Masih terang, seperti hari ketika ia menerimanya.

Jenar tidak tahu apakah itu hal yang baik.


Leknor menyetir ke Senopati dengan kedua tangan di setir, posisi jam sepuluh dan jam dua, seperti orang yang baru lulus ujian SIM.

“Kak, rileks.”

“Aku rileks.”

“Kakak nyetir kayak bawa bom.”

Leknor melepaskan satu tangan dari setir. Lalu memasangnya lagi. Di lampu merah ia melirik spion tengah dan merapikan rambut yang sama sekali tidak berantakan.

“Kemeja aku oke?”

“Oke.”

“Nggak kusut?”

“Kakak setrika tiga kali.”

“Warnanya nggak terlalu terang?”

“Kak.” Jenar memutar badan di kursi penumpang untuk menatapnya. “Dia udah suka sama Kakak. Kalau nggak, dia nggak bakal mau ketemu adik Kakak.”

Leknor diam. Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson dan ia tersentak, lalu melaju.

“Dia kerja di biro,” katanya setelah beberapa saat. “Desainer interior. Udah dua tahun.”

“Kakak pacaran sama karyawan?”

“Bukan pacaran.” Leknor mengernyit. “Ya. Pacaran. Tapi dia yang ngajak duluan.”

Jenar menutup mulut dengan tangan. “Dia yang ngajak Kakak?”

“Dia bilang kalau nunggu aku, dia bakal nunggu sampai pensiun.”

Jenar tertawa sampai hampir menangis. Leknor mengerang pelan dan menambah kecepatan.

“Aku suka dia,” kata Jenar setelah tawanya reda. “Aku belum ketemu, tapi aku udah suka.”

“Kenapa?”

“Karena dia bikin Kakak nyetrika kemeja tiga kali.”

Leknor tidak menjawab. Tapi di lampu merah berikutnya, ia tersenyum ke arah jalan, dan Jenar memandangi senyum itu dengan dada yang hangat.


Restorannya bernama Casa Lidia. Lampu gantung kuning dari rotan, taplak meja kotak-kotak merah putih, dan aroma bawang putih serta basil yang membuat perut Jenar berbunyi. Seorang pelayan berkemeja hitam mengantar mereka ke meja di sudut dekat jendela.

Seorang perempuan sudah duduk di sana.

Ia berdiri waktu melihat mereka. Tinggi. Hampir setinggi Leknor. Bahunya tegap dan lurus, seperti orang yang terbiasa berdiri di depan net. Rambutnya sebahu, dipotong rapi. Ia memakai blus putih dan cardigan cokelat susu, dan tas cokelat tua tergeletak di kursi sebelahnya.

Wajahnya tidak cantik dengan cara yang sempurna. Hidungnya sedikit bengkok, seperti pernah patah. Tapi waktu ia tersenyum, seluruh wajahnya ikut tersenyum, dan Jenar langsung mengerti kenapa kakaknya menyetrika kemeja tiga kali.

“Jenar,” kata perempuan itu, dan sebelum Jenar sempat mengulurkan tangan, ia sudah dipeluk. Erat. Bau vanila dan kopi. “Akhirnya. Leknor cerita soal kamu terus. Aku udah ngerasa kenal kamu dari lama.”

“Kak Leknor cerita soal aku?” Jenar memandang kakaknya dari balik bahu perempuan itu. “Kakak nggak pernah cerita apa-apa soal Kakak.”

“Aku tahu. Makanya aku yang ngajak dia duluan.” Perempuan itu melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangan dengan gaya resmi yang dibuat-buat. “Astri. Desainer interior. Umur tiga puluh. Mantan atlet voli, pensiun gara-gara lutut. Suka warna cokelat, kopi, dan kakak kamu. Urutannya nggak penting.”

Jenar menjabat tangannya dan tertawa.

Tapi ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya. Kecil. Seperti kerikil di dalam sepatu.

Atlet voli.

Suka warna cokelat.

Ia mengusirnya. Banyak mantan atlet voli di Jakarta. Banyak perempuan yang suka warna cokelat. Itu bukan apa-apa.

Mereka duduk. Leknor di sebelah Astri. Jenar di seberang. Ada satu kursi kosong di samping Jenar, dengan piring dan gelas yang sudah disiapkan.

“Adikku lagi parkir,” kata Astri sambil melambai pada pelayan. “Maaf ya. Dia yang nyetir, soalnya mobilku di bengkel. Dia bakal telat lima menit, karena dia selalu telat lima menit. Terus pas dateng, jangan kaget kalau dia diem aja. Orangnya emang gitu.”

“Gitu gimana, Kak?”

Astri memutar mata. “Kayak kulkas. Diem, dingin, tapi dalemnya penuh.”

Gelas air di tangan Jenar berhenti di tengah jalan menuju bibirnya.

Kerikil di sepatunya berubah jadi batu.

“Dua bulan lalu dia liburan ke pantai sendirian,” lanjut Astri, tidak menyadari apa pun. Ia sedang membaca menu. “Katanya mau surfing. Pulang-pulang malah makin dingin. Aku tanya kenapa, dia bilang nggak apa-apa. Tiga hari nggak ngomong sama aku. Kayak waktu bapak meninggal dulu. Aku sampai gedor pintu kamarnya.”

Jenar meletakkan gelasnya. Pelan. Airnya bergoyang.

Nggak mungkin.

Jakarta punya sepuluh juta orang. Mungkin lebih. Ada ribuan laki-laki yang punya kakak perempuan mantan atlet voli. Ada ribuan laki-laki yang pergi ke pantai sendirian dan pulang dengan wajah dingin.

Nggak mungkin. Nggak mungkin. Nggak mungkin.

“Kamu kenapa, Jen?” tanya Leknor. “Pucat.”

“Laper,” kata Jenar. Suaranya aneh di telinganya sendiri. “Laper banget.”

“Nah, itu dia,” kata Astri, menoleh ke arah pintu dan melambai. “Dek! Sini!”

Jenar tidak mau menoleh.

Ia menoleh.

Galih berdiri di ambang pintu restoran, memegang kunci mobil. Kemeja hitam. Celana bahan abu-abu. Rambutnya lebih pendek dari dua bulan lalu, disisir rapi ke belakang. Kulitnya tidak lagi gosong seperti di pantai. Tidak ada garis tabir surya yang belepotan di hidungnya.

Ia melihat kakaknya melambai. Tersenyum kecil. Melangkah masuk.

Lalu ia melihat siapa yang duduk di seberang kakaknya.

Langkahnya berhenti.

Hanya setengah detik. Mungkin kurang. Seorang pelayan yang membawa nampan hampir menabraknya dan harus berbelok. Tapi di setengah detik itu Jenar melihat semuanya. Wajah yang tiba-tiba kosong, seperti lampu yang dimatikan. Tangan yang mengepal di sekitar kunci mobil. Rahang yang mengeras.

Lalu wajah itu kembali. Tenang. Datar. Seperti tidak ada apa-apa.

Ia berjalan ke meja dengan langkah terukur. Mencium pipi kakaknya. Menjabat tangan Leknor dengan sopan. Lalu ia berbalik menghadap Jenar.

Dan Jenar, yang sudah dua bulan memimpikan saat ini, yang sudah menyusun seratus kalimat untuk diucapkan kalau suatu hari bertemu lagi, tidak bisa mengingat satu pun.

Dunia berputar sedikit. Lampu rotan di atas kepalanya bergoyang. Atau mungkin kepalanya yang bergoyang. Tangannya dingin. Kakinya dingin. Semuanya dingin kecuali liontin kecil di balik blusnya, yang tiba-tiba terasa panas di kulit seperti bara.

“Dek, ini Jenar,” kata Astri. “Adiknya Leknor. Jen, ini Galih. Adikku yang kayak kulkas.”

Galih mengulurkan tangan.

“Galih,” katanya.

Suaranya sopan. Datar. Asing. Seperti suara petugas bank.

Jenar memandangi tangan itu. Tangan yang pernah memegang tumitnya di pasir basah seperti memegang gelas yang terlalu penuh. Yang pernah mengoleskan losion anti nyamuk di betisnya, melambat di pergelangan yang sakit. Yang pernah gemetar di tengkuknya, mencoba mengaitkan kalung, tiga kali, satu umpatan pelan.

Ia menjabatnya.

“J-Jenar,” katanya.

Tangan Galih dingin. Ia melepaskannya lebih cepat dari yang sopan.

Leknor memandangi mereka berdua dengan dahi berkerut. “Kalian kenapa? Kayak udah pernah ketemu.”

Jenar membuka mulut.

Ia tidak tahu apa yang akan keluar. Mungkin kebenaran. Mungkin tangis. Mungkin teriakan yang sudah dua bulan terkunci di dadanya, kenapa kamu pergi, kenapa kamu blokir aku, kenapa kamu nggak pamit.

Sesuatu menekan kaki kirinya di bawah meja.

Keras. Ujung sepatu kulit. Tepat di pergelangan kaki yang dulu terkilir, yang sudah sembuh tapi masih mengingat.

Jenar tersentak. Ia menatap Galih. Galih tidak menatapnya. Galih sedang menarik kursi dan duduk di sebelahnya dengan sangat tenang, lalu mengambil serbet dan melebarkannya di pangkuan.

“Belum, Kak,” kata Galih pada Leknor. Ramah. Santai. “Baru pertama kali. Salam kenal.”

Sepatu di bawah meja masih menekan kakinya. Tidak sakit. Hanya tekanan. Pesan.

Diem.

Jenar menatap taplak meja kotak-kotak merah putih. Menghitung kotaknya. Satu, dua, tiga, empat.

“Iya,” katanya pada taplak meja. “Pertama kali.”

Tekanan di kakinya menghilang.


Makan malam itu adalah dua jam paling panjang dalam hidup Jenar.

Astri berbicara hampir tanpa henti, dan Jenar bersyukur untuk itu. Ia bercerita soal karier volinya yang berakhir di usia dua puluh tiga karena ligamen lutut yang putus di final kejuaraan daerah. Soal pindah jurusan ke desain interior. Soal hari pertama ia masuk biro Leknor dan mengira Leknor adalah tukang servis AC karena bosnya itu sedang memanjat tangga dengan obeng di mulut.

“Aku bilang, Pak, AC ruangan saya juga bocor, sekalian ya,” kata Astri. “Terus dia turun, ngelap tangan, terus bilang, Saya Leknor. Saya yang nanda tangan kontrak kerja kamu kemarin.”

Leknor menunduk ke piring spagetinya. Telinganya merah lagi. Jenar tertawa, tawa yang keluar dari suatu tempat yang jauh, dan ia tidak yakin tawa itu terdengar normal.

Di sebelahnya, Galih makan risotto dalam diam.

Ia makan dengan sopan. Menjawab pertanyaan Leknor soal bisnis kedainya dengan kalimat pendek dan jelas.

“Pusatnya di Mampang, Kak,” kata Galih pada Leknor. Jenar mencatat kata itu di kepalanya tanpa ingin.

Tertawa kecil di tempat yang tepat saat kakaknya bercerita. Ia tidak sekali pun menoleh ke kiri, ke arah Jenar. Tidak sekali pun lengan mereka bersentuhan, meskipun meja itu sempit dan kursi mereka berdekatan.

Seolah Jenar adalah tiang. Atau dinding. Atau sesuatu yang tidak ada.

Di tengah makan malam, pelayan membawakan kopi yang dipesan Galih. Espresso dalam cangkir kecil putih.

Jenar memperhatikan tanpa bisa berhenti.

Galih mengangkat cangkir itu. Tidak menghirup aromanya dulu. Tidak memejamkan mata. Ia langsung menyesapnya, menelannya, dan meletakkan cangkirnya kembali.

Wajahnya tidak berubah. Tidak mengernyit. Tidak mengomentari gilingan yang kehalusan atau air yang terlalu panas. Tidak ada apa-apa.

Dan justru itu yang membuat tenggorokan Jenar tercekat. Lebih dari tangan yang dingin. Lebih dari sepatu di bawah meja. Galih yang ia kenal di Pangandaran tidak akan pernah minum kopi seperti itu. Seperti minum air putih. Seperti tidak peduli.

Seperti orang yang sudah mematikan sesuatu di dalam dirinya.

“Jenar.” Astri mencondongkan tubuh ke depan. “Kamu kok diem aja? Leknor bilang kamu biasanya nggak bisa berhenti ngomong.”

“Oh.” Jenar tersenyum. Senyum yang ia latih di depan cermin untuk foto wisuda. “Aku lagi agak ngantuk, Kak. Sorry.”

“Dia baru lulus,” kata Leknor, dan ada kebanggaan kecil di suaranya. “Arsitektur ITB. Aku mau dia kerja di biro, tapi dia masih mikir-mikir.”

“Oh ya? Kenapa?”

“Aku belum tahu mau apa,” kata Jenar jujur. Itu kalimat paling jujur yang ia ucapkan malam itu.

Astri mengangguk penuh pengertian. “Wajar. Umur segitu memang lagi bingung-bingungnya. Aku dulu juga gitu. Terus aku liburan sendiri, keliling Jawa naik bus. Pulang-pulang tahu mau jadi apa.” Ia melirik adiknya. “Kayak Galih kemarin, tuh. Ke Pangandaran. Kamu pernah ke Pangandaran?”

Jenar tersedak air lemon.

Ia terbatuk-batuk. Keras. Matanya berair. Leknor menepuk punggungnya dengan canggung. Astri menyodorkan serbet.

Galih tidak bergerak.

“Maaf,” kata Jenar setelah batuknya reda. Suaranya serak. “Keselek.”

“Pelan-pelan minumnya,” kata Leknor.

“Pernah,” kata Jenar, menjawab Astri tanpa memandang ke kiri. “Pernah ke Pangandaran. Sekali.”

“Bagus, ya? Galih bilang pantainya bagus. Tapi dia pulang dari sana kayak abis dirampok.” Astri menyenggol lengan adiknya dengan siku. “Iya kan, Dek? Kamu ketemu apa di sana? Hantu?”

“Kak,” kata Galih pelan.

Hanya satu kata. Tapi nadanya membuat Astri berhenti tersenyum. Sesaat. Ia memandangi adiknya dengan tatapan yang berbeda, tatapan kakak yang sudah dua puluh tujuh tahun membaca wajah yang sama.

Lalu tatapannya bergeser. Ke Jenar. Yang sedang menunduk ke piring fettucine yang hampir tidak ia sentuh.

Lalu kembali ke Galih.

Lalu kembali ke Jenar.

Jenar merasakan tatapan itu seperti lampu senter. Ia tidak berani mengangkat kepala.

“Aku ke toilet dulu,” katanya, dan berdiri terlalu cepat. Kursinya berderit di lantai.


Toilet perempuan di Casa Lidia sempit dan bau pewangi lavender yang terlalu kuat.

Jenar mengunci pintu bilik dan duduk di atas kloset yang tertutup. Kedua tangannya gemetar. Ia menekannya ke lutut supaya diam. Tidak berhasil.

Galih.

Adik Astri. Adik perempuan yang akan menikah dengan... tidak. Belum ada yang bilang menikah. Mereka baru pacaran. Mereka baru makan malam. Mungkin ini makan malam terakhir. Mungkin Leknor dan Astri akan putus bulan depan dan Jenar tidak perlu bertemu Galih lagi seumur hidup.

Tapi ia ingat senyum Leknor di lampu merah. Kemeja yang disetrika tiga kali.

Leknor tidak akan putus.

Jenar merogoh balik kerah blusnya. Menarik kalung itu keluar. Liontin hati kecil berkilau di bawah lampu toilet yang terlalu terang. Masih mengilap. Masih seperti hari pertama.

Kalau disimpen terus di laci, lama-lama jadi hitam.

Ia menggenggamnya. Keras. Ujung lancipnya menekan telapak tangan.

Lalu ia memasukkannya kembali ke balik blus, merapikan kerah, dan berdiri.

Di cermin wastafel, wajahnya pucat. Maskaranya sedikit luntur di sudut mata kiri. Ia merapikannya dengan tisu, menarik napas panjang tiga kali, dan membuka pintu.

Lorong menuju toilet sempit, hanya muat dua orang berpapasan. Dindingnya ditempeli foto-foto hitam putih kota di Italia yang tidak pernah Jenar kunjungi.

Galih berdiri di ujung lorong. Menunggu giliran di depan pintu toilet laki-laki yang tertutup.

Jenar berhenti.

Galih menoleh.

Untuk pertama kalinya malam itu, mereka saling menatap. Tidak ada meja di antara mereka. Tidak ada Leknor dan Astri. Hanya lorong sempit, foto-foto Venesia yang pudar, dan satu lampu dinding yang, entah kenapa, berkedip.

Jenar menunggu. Menunggu Galih bicara. Menunggu apa pun. Kemarahan. Penjelasan. Satu kata. Namanya.

Galih memandanginya. Lama. Matanya menyusuri wajah Jenar, turun ke lehernya, ke kerah blus yang rapi, tempat rantai tipis tidak kelihatan.

Lalu ia memalingkan wajah ke pintu toilet yang masih tertutup.

Seolah Jenar adalah salah satu foto di dinding.

Jenar berjalan melewatinya. Bahu mereka hampir bersentuhan di lorong yang sempit, dan Galih menggeser tubuhnya ke dinding, memberi ruang, sehingga tidak ada sehelai kain pun yang bersentuhan.

Sepuluh langkah. Jenar menghitungnya. Sepuluh langkah dari lorong ke meja, dan ia tidak menangis di satu pun langkah itu.


Hidangan penutup datang. Tiramisu dalam gelas-gelas kecil dan panna cotta dengan saus stroberi.

Galih sudah kembali ke kursinya. Masih diam. Masih tidak menoleh.

Astri sesekali melirik ke arah mereka berdua. Diam-diam, di sela-sela sendokan tiramisu. Jenar pura-pura tidak menyadarinya.

Lalu Leknor berdehem.

Semua orang menoleh. Leknor tidak pernah berdehem. Leknor tidak pernah membutuhkan dehem untuk membuat orang memperhatikannya.

Ia mengambil gelas air. Mengetuknya dengan sendok kecil. Sekali. Bunyinya terlalu keras, dan beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh. Leknor memandangi sendok itu dengan panik, seperti baru sadar tidak ada yang menyuruhnya melakukan itu.

Astri menutup mulut dengan tangan, menahan tawa.

“Aku...” Leknor meletakkan sendoknya. Mengambilnya lagi. Meletakkannya lagi. “Kami. Aku sama Astri. Mau ngasih tahu sesuatu.”

Jenar merasakan sesuatu yang dingin merayap dari tengkuk sampai ke ujung jari.

Di sebelahnya, tangan Galih yang sedang memegang sendok kecil berhenti di udara.

Leknor memandang Astri. Astri mengangguk. Tersenyum. Menggenggam tangan Leknor di atas taplak meja kotak-kotak merah putih, dan untuk pertama kalinya Jenar melihat cincin di jari manis perempuan itu. Tipis. Emas putih. Satu batu kecil yang berkilau di bawah lampu rotan.

Emoji cincin, pikir Jenar tanpa bisa ditahan. Dan hampir tertawa. Hampir menangis. Hampir keduanya.

“Kami mau nikah,” kata Leknor. “Bulan depan.”

Hening satu detik.

“APA?”

Dua suara. Bersamaan. Kompak. Nada yang sama, volume yang sama, seperti satu orang yang berteriak dari dua mulut.

Jenar dan Galih.

Pengunjung di meja sebelah menoleh lagi. Seorang pelayan yang sedang menuang air berhenti. Sendok kecil di tangan Galih jatuh ke piring panna cotta dengan bunyi denting.

Leknor mengerjap. “Kalian... kenapa?”

Astri tidak mengerjap. Astri memandangi mereka berdua bergantian. Jenar. Galih. Jenar lagi. Matanya menyipit pelan-pelan, seperti orang yang baru menemukan potongan puzzle yang hilang di bawah sofa.

Jenar menoleh ke kiri tanpa sengaja.

Galih juga menoleh ke kanan.

Untuk sepersekian detik mata mereka bertemu. Dan di mata Galih, di balik dinding datar yang ia pasang sepanjang malam, Jenar melihat sesuatu yang retak. Sesuatu yang panik. Sesuatu yang, entah kenapa, terlihat sama sakitnya dengan yang ia rasakan.

Lalu mereka berdua memalingkan wajah. Bersamaan. Kompak lagi.

“Wah,” kata Astri pelan. Senyumnya lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya sedang berpikir keras. “Kalian kompak banget, ya. Padahal baru pertama kali ketemu.”

Jenar mengambil sendok dan menyendok tiramisu. Memasukkannya ke mulut. Mengunyahnya. Ia tidak bisa merasakan apa-apa.

“Selamat, Kak,” katanya pada tiramisunya. “Aku seneng banget.”

Dan di bawah meja, tanpa ada yang tahu, jari-jarinya meremas kain blus tepat di atas tempat liontin kecil itu bersembunyi, sampai buku-buku jarinya memutih.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk