Leknor lupa nama lengkap Astri tepat di detik ia harus mengucapkannya.
Jenar melihatnya dari barisan kursi keluarga. Punggung kakaknya dalam beskap putih mendadak kaku. Tangan kanannya menggenggam tangan penghulu. Di depannya, di seberang meja akad yang dihias melati dan kain putih, duduk wali nikah Astri.
Galih.
Karena ayah mereka sudah meninggal dan tidak ada kakek yang tersisa, adik laki-laki kandung menjadi wali. Jenar baru tahu itu seminggu lalu, waktu Leknor menjelaskan susunan acara di meja makan sambil membaca kertas yang sudah lecek karena terlalu sering dilipat. Ia mendengarkan penjelasan itu dengan wajah tenang, lalu pergi ke kamar mandi dan menyalakan keran supaya tidak ada yang mendengarnya menarik napas terlalu keras.
Sekarang Galih duduk di sana dengan beskap abu-abu dan blangkon yang sedikit miring. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Ia baru saja mengucapkan ijab dengan suara yang jelas dan tidak bergetar, menyerahkan kakaknya kepada laki-laki yang duduk di depannya.
Dan Leknor membeku.
Satu detik. Dua detik. Para tamu mulai saling pandang. Penghulu mengernyit. Astri, yang duduk di sebelah Leknor dengan kebaya putih dan siger yang berkilau, menutup mulut dengan tangan dan bahunya mulai berguncang.
Ia tertawa. Tanpa suara. Air matanya keluar.
Leknor menoleh padanya. Panik total. Wajah yang tidak pernah panik di depan kontraktor mana pun sekarang pucat seperti kertas.
Lalu Jenar melihat sesuatu yang tidak ia duga.
Galih mengeratkan genggamannya di tangan Leknor. Sedikit. Hampir tidak kelihatan. Dan dengan suara yang sangat pelan, hanya cukup untuk didengar Leknor dan penghulu, ia mengucapkan satu kata.
“Ayuningtyas.”
Leknor mengerjap. Lalu wajahnya kembali berwarna.
“Saya terima nikah dan kawinnya Astri Ayuningtyas binti Almarhum Prasetyo Pratama dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Satu napas. Tanpa jeda.
“Sah?” tanya penghulu.
“SAH!”
Ruangan meledak. Tepuk tangan. Isak. Astri memeluk Leknor sambil tertawa dan menangis sekaligus. Dan Jenar, yang sudah berjanji tidak akan menangis karena maskaranya bukan yang tahan air, menangis sejadi-jadinya ke dalam selendang.
Kakaknya. Kakaknya yang menyetrika kemeja tiga kali. Kakaknya yang dulu menjemputnya di sekolah dengan motor butut karena nenek sakit. Kakaknya yang tidak pernah bilang sayang, tapi tidak pernah sekali pun pergi.
Ia mengangkat wajah dari selendang untuk mengusap mata.
Di seberang ruangan, Galih masih duduk di kursi wali. Ia tidak bertepuk tangan. Ia menatap kakaknya yang sedang tertawa di pelukan Leknor, dan matanya merah. Rahangnya bergerak, seperti menelan sesuatu yang besar.
Lalu, seolah merasakan tatapan itu, ia menoleh.
Mata mereka bertemu melintasi ruangan yang penuh bunga melati dan orang-orang yang berpelukan.
Setengah detik.
Galih memalingkan wajah lebih dulu.
“Itu dia?”
Hana berdiri di sebelah Jenar di dekat meja prasmanan, memegang piring berisi siomay yang belum disentuh, dan menatap ke arah panggung pelaminan dengan mata menyipit seperti penembak jitu.
“Han. Jangan ngeliatin gitu.”
“Itu dia. Yang pakai beskap abu-abu. Yang tadi jadi wali.”
“Iya.”
“Yang nyium lo di pintu kamar hotel.”
“HANA.”
Tiga tamu di dekat meja es buah menoleh. Jenar tersenyum kaku pada mereka dan menarik Hana ke balik pilar yang dililit kain putih dan bunga sedap malam.
Resepsi digelar di sebuah rumah kebun di Cilandak. Halaman rumput yang luas, pohon-pohon beringin tua yang dililit lampu kecil, tenda putih, dan kolam ikan koi di sudut dekat pagar bambu. Astri yang memilih tempatnya. Leknor yang menggambar ulang denah tenda tiga kali karena sirkulasi tamunya menurutnya berantakan.
Jenar sudah menceritakan semuanya pada Hana malam setelah makan malam di Casa Lidia. Lewat telepon, sambil berbisik di kamar mandi dengan keran menyala. Hana diam lama sekali. Lalu ia berkata satu kalimat yang membuat Jenar tertawa dan menangis sekaligus.
Jen. Hidup lo udah kayak sinetron jam tujuh malem.
Sekarang Hana memandangi Galih dari balik pilar dengan tatapan yang, kalau bisa membunuh, sudah membuat Galih terkapar di atas karpet pelaminan.
“Gue mau ngomong sama dia.”
“Nggak.”
“Gue mau nanya kenapa dia pergi tanpa pamit.”
“Nggak, Han.”
“Gue mau nanya kenapa dia ngeblok lo. Kenapa dia nggak bales satu pun pesan lo. Kenapa dia nginjek kaki lo di bawah meja kayak lo penjahat.”
“Hana.” Jenar mencengkeram lengan sahabatnya. “Ini nikahan kakak gue. Kakak gue yang nggak pernah minta apa-apa seumur hidup. Gue nggak mau ada drama. Gue nggak mau Kak Leknor tahu. Gue nggak mau Kak Astri tahu. Janji sama gue.”
Hana memandanginya lama. Siomay di piringnya mulai dingin.
“Lo masih pakai kalungnya,” katanya pelan.
Jenar menyentuh kerah kebayanya refleks. Liontin itu tersembunyi di balik selendang yang ia sampirkan dengan hati-hati pagi tadi. Tidak kelihatan. Tapi Hana tidak perlu melihat.
“Bukan urusan lo.”
“Jen.”
“Janji, Han.”
Hana menghela napas panjang. Lalu mengangguk, sekali, dengan wajah orang yang terpaksa menyerahkan senjata.
“Janji. Tapi kalau dia macem-macem sama lo hari ini, gue siram pakai es buah.”
“Deal.”
Pembawa acara mengumumkan lempar buket jam empat sore, dan Jenar sudah merencanakan untuk bersembunyi di toilet.
Hana punya rencana lain.
“Ayo!” Ia menyeret Jenar ke tengah halaman, tempat sekitar dua puluh perempuan lajang sudah berkumpul di rumput, sebagian dengan wajah bersemangat, sebagian dengan wajah dipaksa ibunya.
“Han, gue nggak mau.”
“Lo harus. Lo adik mempelai. Kalau lo nggak ikut, nanti dikira lo nggak dukung.”
“Itu logika dari mana?”
“Logika Hana.”
Astri berdiri di tangga pelaminan dengan buket mawar putih dan melati. Ia melirik ke kerumunan, menemukan Jenar, dan tersenyum lebar. Lalu ia berbalik memunggungi mereka.
“Satu! Dua!”
Jenar tidak berniat menangkapnya. Sungguh tidak. Ia berdiri di pinggir kerumunan dengan tangan terlipat di dada, memakai kebaya biru muda dan jarik batik sidomukti yang dililit ketat sampai mata kaki, dan sepatu hak lima senti yang Hana pinjamkan karena sepatu Jenar sendiri terlalu nenek-nenek.
“Tiga!”
Buket itu melayang. Terlalu kuat. Tangan mantan atlet voli. Buket itu melewati kepala kerumunan di depan, berputar di udara seperti bola servis yang terlalu panjang, dan meluncur tepat ke arah pinggir kerumunan.
Tepat ke arah Jenar.
Tangannya bergerak sendiri. Refleks. Ia melangkah mundur untuk menangkapnya, dan jariknya yang dililit terlalu ketat tidak mengizinkan kakinya melangkah sejauh itu. Tumit sepatu Hana tenggelam di rumput yang lembap.
Ia jatuh ke belakang.
Buket itu mendarat di dadanya. Dunia miring. Langit, lampu-lampu kecil di pohon beringin, wajah Hana yang terbuka lebar karena kaget.
Lalu sepasang tangan menangkapnya.
Satu di punggungnya. Satu di pinggangnya. Kuat. Tidak ragu-ragu. Menahannya sepuluh senti dari rumput, di posisi yang aneh, setengah jatuh dan setengah diselamatkan, dengan buket mawar putih di dada seperti pengantin di foto pre-wedding yang terlalu dramatis.
Jenar mendongak.
Beskap abu-abu. Blangkon yang sekarang sudah dilepas. Rambut yang sedikit berantakan di dahi.
Galih.
Ia menatap Jenar dari atas. Napasnya sedikit memburu, seperti ia berlari dari jauh. Wajahnya tidak datar. Tidak di detik itu. Ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang panik dan terbuka dan terlalu dekat.
Di sekeliling mereka, kerumunan bersorak.
“CIEEEE!”
“Wah, adik-adik mempelai!”
“Jodoh! Jodoh!”
Kamera berkilat. Satu. Dua. Fotografer pernikahan berlari mendekat dengan kamera terangkat.
Galih mengerjap. Wajahnya menutup lagi, seperti tirai yang ditarik. Ia menegakkan Jenar dengan satu gerakan, cepat dan efisien, lalu melepaskan kedua tangannya. Mundur satu langkah. Dua langkah.
Jenar berdiri dengan buket di tangan dan wajah yang terasa terbakar.
Selendangnya melorot dari bahu. Ia buru-buru menariknya kembali. Terlambat.
Galih menatap lehernya.
Hanya sesaat. Tapi Jenar melihat arah tatapannya, dan ia tahu apa yang dilihat Galih. Rantai perak tipis yang sekarang terlihat di kulit lehernya, di atas kerah kebaya, sebelum menghilang di balik kain.
Liontinnya tidak kelihatan. Hanya rantainya.
Jenar menarik selendang sampai menutupi leher. Tangannya gemetar.
Galih tidak berkata apa-apa. Ia berbalik dan berjalan menjauh, melewati kerumunan yang masih bersorak, dengan langkah yang sedikit terlalu cepat untuk terlihat santai.
“Oke,” kata Hana di sebelahnya, suaranya pelan dan sangat berbahaya. “Gue ambil es buah dulu.”
“Han. Lo udah janji.”
“Gue cuma mau minum es buah.”
“Pakai dua gelas?”
Hana tidak menjawab. Jenar menangkap lengannya tepat waktu.
Di tangga pelaminan, Astri bertepuk tangan paling keras dari semua orang. Tapi matanya, Jenar menyadarinya bahkan dari jauh, tidak mengikuti buket itu. Matanya mengikuti punggung adiknya yang menghilang di balik tenda.
Galih berdiri di sudut taman dekat kolam ikan koi, di tempat yang paling jauh dari tenda dan musik dan kamera.
Tangannya masih hangat. Telapak tangannya masih ingat bentuk pinggang itu. Sama seperti di Green Canyon. Sama seperti di balik pintu kamar dua-empat-satu.
Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana beskap dan mengepalkannya.
Rantai perak. Tipis. Di lehernya.
Bisa jadi kalung lain. Perempuan punya banyak kalung. Kakaknya sendiri punya satu kotak penuh kalung yang tidak pernah dipakai. Bisa jadi itu hadiah wisuda. Bisa jadi dari Hanif.
Bisa jadi.
Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.
Galih menatap ikan-ikan koi yang berenang lambat di air hijau. Oranye. Putih. Satu yang hitam dengan bercak emas. Mereka berputar-putar di kolam kecil yang sama, dari ujung ke ujung, tidak pernah ke mana-mana.
Kalau itu kalung yang sama, kenapa masih dipakai?
Mungkin karena bagus. Mungkin karena perak. Mungkin karena ia tidak peduli siapa yang memberikannya. Pengisi waktu juga bisa memberi hadiah yang bagus.
Ia mendengar langkah di rumput. Pelan. Sedikit tidak rata, seperti seseorang yang tidak terbiasa memakai sepatu hak.
Ia tidak perlu menoleh.
Jenar tidak tahu kenapa ia mengikutinya.
Ia sudah memutuskan tidak akan. Ia sudah menyerahkan buket itu pada Hana, yang langsung memegangnya seperti granat. Ia sudah bilang ke dirinya sendiri, dua kali, tiga kali, bahwa ini pernikahan kakaknya dan ia tidak akan membuat drama.
Lalu kakinya membawanya ke sudut taman, ke pagar bambu, ke kolam koi, dan ke punggung dalam beskap abu-abu yang tidak menoleh.
Ia berhenti tiga langkah di belakangnya.
“Makasih,” katanya. “Tadi.”
Galih tidak menoleh. “Sama-sama.”
Hening. Ikan koi berputar. Dari kejauhan, band akustik memainkan lagu cinta yang terlalu manis.
“Galih...”
“Kita nggak perlu ngobrol,” kata Galih. Suaranya datar. “Saya cuma mau ngomong satu hal, terus Mbak bisa balik ke tenda.”
Saya. Mbak.
Jenar merasakan kata-kata itu seperti tamparan. Kecil. Tapi tepat di tempat yang sama, dua kali.
“Kakak saya bahagia,” lanjut Galih, masih menatap kolam. “Saya belum pernah lihat dia sebahagia ini. Kakak Mbak juga kelihatannya bahagia.”
“Iya.”
“Jadi saya nggak mau ngerusak itu.”
“Aku juga nggak.”
“Bagus.” Galih akhirnya menoleh. Wajahnya tenang. Sopan. Seperti wajah orang yang sedang bernegosiasi soal harga biji kopi. “Kalau gitu, kita sepakat aja. Di depan mereka, kita baik-baik aja. Sopan. Kayak ipar biasa. Kita nggak usah bikin mereka mikir yang aneh-aneh.”
Jenar menatapnya.
Ia punya seratus pertanyaan. Seratus. Ia sudah menyusunnya selama tiga bulan. Kenapa kamu pergi. Kenapa kamu nggak pamit. Kenapa kamu blokir aku. Apa yang aku lakuin. Apa semua itu cuma liburan buat kamu. Apa aku cuma perempuan patah hati yang kebetulan lewat.
Tapi Galih berdiri di sana dengan wajah seperti petugas bank, dan memanggilnya Mbak, dan semua pertanyaan itu tersangkut di tenggorokan seperti tulang ikan.
“Galih,” katanya. Suaranya lebih kecil dari yang ia mau. “Soal Pangandaran...”
“Nggak usah.”
“Aku cuma mau nanya...”
“Nggak usah, Mbak.” Galih memotongnya. Tidak kasar. Justru terlalu lembut, dan itu lebih buruk. “Saya udah ngerti. Saya nggak butuh penjelasan. Kita anggap aja itu nggak pernah ada. Lebih gampang buat semua orang.”
Saya udah ngerti.
Ngerti apa?
Jenar ingin bertanya. Tapi ia melihat wajah itu. Tenang. Datar. Tertutup rapat. Dan ia tiba-tiba mengerti juga, atau merasa mengerti.
Lima hari di pantai. Liburan. Perempuan patah hati yang terlalu gampang. Ia pulang ke Jakarta, ke sepuluh kedainya, ke hidupnya yang sebenarnya, dan menyadari itu semua cuma kesalahan. Terlalu cepat. Terlalu merepotkan. Jadi ia pergi, seperti yang ia bilang sendiri di teras malam pertama. Kalau udah terlalu sakit, aku pergi aja. Lebih gampang.
Tapi apa yang sakit buat dia? Jenar tidak tahu. Mungkin tidak ada. Mungkin merepotkan saja sudah cukup.
Dan sekarang ia di sini. Adik ipar. Tidak bisa kabur lagi. Jadi ia minta semuanya dianggap tidak pernah ada.
Sesuatu di dada Jenar mengeras. Dingin dan keras, seperti air yang tiba-tiba membeku.
Kalau dia bisa pura-pura, aku juga bisa.
“Oke,” katanya.
Galih mengerjap. Sepertinya ia tidak menyangka akan semudah itu.
“Oke,” ulang Jenar. Lebih tegas. Ia mengangkat dagu. “Anggap nggak pernah ada. Saya setuju.”
Saya.
Ia melihat kata itu mengenai Galih. Hanya sebentar, di sudut matanya, seperti orang yang tersandung di anak tangga yang tidak kelihatan. Lalu wajahnya kembali tenang.
“Satu lagi,” kata Jenar. “Sebaiknya kita juga jarang ketemu. Kecuali kalau ada acara keluarga. Biar gampang.”
“Setuju.”
“Oke.”
“Oke.”
Mereka berdiri berhadapan di samping kolam koi. Tidak ada yang bergerak.
Jenar ingin berbalik. Ia ingin menjadi orang yang pergi duluan kali ini. Tapi kakinya tidak mau bergerak, dan ia tidak tahu kenapa.
Galih menatapnya. Tatapannya turun, sedikit, ke selendang yang menutupi lehernya. Berhenti di sana. Seperti ingin menanyakan sesuatu.
Jenar menunggu.
Galih tidak menanyakannya.
“Selamat sore, Mbak Jenar,” katanya, dan berjalan melewatinya menuju tenda.
Jenar berdiri sendirian di pinggir kolam. Ikan koi hitam dengan bercak emas berenang ke permukaan, membuka mulut, lalu tenggelam lagi.
Ia menyentuh liontin di balik selendang. Pelan. Lalu melepaskannya.
Anggap nggak pernah ada.
Ia menarik napas panjang, merapikan kebaya, dan berjalan kembali ke tenda dengan senyum wisuda di wajahnya.
Fadlan menemukan Galih di meja minuman, menuang es teh ketiga yang tidak ia minum.
“Lo ke mana aja? Gue nyariin dari tadi.” Fadlan menepuk bahunya. Ia memakai batik lengan panjang yang terlalu besar, dan di gendongannya, Kiki tertidur dengan mulut terbuka dan pipi menempel di bahu ayahnya, tangan kecilnya masih memegang dinosaurus plastik hijau yang sudah lecet. “Tadi lo keren banget. Pas nangkep cewek itu. Kayak film India.”
“Diem, Fadlan.”
“Serius. Semua orang ngomongin. Katanya adik mempelai jodoh.” Fadlan nyengir. Lalu cengirannya memudar pelan saat ia melihat wajah Galih lebih jelas. “Gal. Lo kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Lo pucet.”
“Capek. Tadi jadi wali.”
Fadlan memandanginya dengan tatapan delapan tahun. Tidak percaya. Tapi ia tidak mendesak. Ia menggeser Kiki ke bahu yang lain dan mengambil es teh dari tangan Galih, meminumnya sendiri.
“Eh, tadi gue kenalan sama orang,” katanya, mengalihkan pembicaraan. “Di prasmanan. Kiki numpahin es buah ke kebayanya. Gue udah siap dimaki-maki, eh dia malah ketawa. Terus dia bantuin gue bersihin tangan Kiki pakai tisu basah. Katanya dia punya keponakan seumuran.”
“Hm.”
“Namanya Hana. Temennya adik ipar lo. Sahabat dari SMP katanya.”
Gelas es teh keempat yang baru Galih ambil berhenti di udara.
“Hana,” ulangnya.
“Iya. Anak Teknik Sipil ITB. Galak, tapi lucu. Tadi dia bawa buket bunga ke mana-mana kayak bawa senjata.” Fadlan tertawa pelan. “Gue minta nomornya. Dia kasih.”
Galih tidak menjawab.
Ya bukan gitu, Hana.
Kakak lo.
Hana. Sahabat Jenar. Adik Hanif. Orang di ujung telepon malam itu.
Galih melihat ke seberang halaman. Di dekat pelaminan, seorang perempuan berkebaya hijau dengan noda es buah di bagian perut sedang memegang buket mawar putih. Ia berdiri di sebelah Jenar, berbisik sesuatu di telinganya. Jenar tertawa kecil. Lalu Hana menoleh, dan matanya menemukan Galih melintasi halaman, dan tatapannya dingin seperti es buah yang tumpah.
Galih membalas tatapan itu.
Hana yang lebih dulu membuang muka. Ia menyelipkan lengannya di lengan Jenar dan menariknya ke arah meja pencuci mulut.
“Galih?” Fadlan melambaikan tangan di depan wajahnya. “Lo kenal?”
“Nggak.”
“Terus kenapa lo ngeliatin dia kayak gitu?”
Galih meletakkan gelas es tehnya. “Lan. Lo hati-hati sama dia.”
Fadlan mengernyit. “Kenapa?”
“Pokoknya hati-hati.”
“Galih, lo ngomong apa, sih? Lo aja baru ketemu dia sekarang.”
Galih tidak menjawab. Ia mengambil Kiki dari gendongan Fadlan, pelan-pelan supaya tidak terbangun, dan menggendongnya sendiri. Kiki menggeliat sebentar, lalu kembali tidur dengan pipi menempel di beskap abu-abu, dinosaurus hijau masih di genggamannya.
Dinosaurus yang dulu Galih beli di pasar oleh-oleh Pangandaran. Yang ia tinggalkan di kamar dua-empat-satu. Yang, entah bagaimana, ...sampai ke tangan Kiki tiga minggu lalu, seminggu setelah makan malam di Casa Lidia, dibawa kurir ke kedai Mampang dalam kardus tanpa nama pengirim, bersama sebuah kaus yang kekecilan dan selembar kain batik cokelat keemasan.
Tanpa surat. Tanpa catatan.
Galih tidak pernah menanyakannya. Fadlan mengira itu dari Galih. Astri mengira kain batik itu dari Galih. Galih tidak meralat siapa pun.
Ia menatap dinosaurus di tangan kecil Kiki, dan untuk sesaat ia bertanya-tanya, pertanyaan yang sudah ia tanyakan pada dirinya sendiri berkali-kali selama tiga bulan, kenapa orang yang cuma mengisi waktu repot-repot mengirimkan barang yang tertinggal.
Lalu ia berhenti bertanya. Seperti biasa.
“Adik-adik mempelai! Merapat!”
Fotografer pernikahan, seorang laki-laki gempal dengan rompi berkantong banyak dan suara seperti MC dangdut, melambai-lambai dari depan pelaminan. Sesi foto keluarga. Jam lima sore. Matahari mulai turun dan cahayanya keemasan, menembus daun-daun beringin.
Jenar sudah berdiri di sebelah Leknor. Astri di sebelah Leknor yang lain. Keluarga besar Astri, tante dan om dan sepupu dari Garut, berjejer di belakang.
“Masnya! Adiknya Mbak Astri! Sini!”
Galih berjalan ke pelaminan dengan langkah lambat. Ia berdiri di ujung barisan, di sebelah Astri.
“Nggak, nggak, Mas,” kata fotografer. “Adik-adik di tengah. Mas sama Mbaknya di sini. Pengantin di kanan kiri. Biar seimbang.”
Jenar merasakan perutnya jatuh.
Leknor bergeser. Astri bergeser. Seperti bidak catur yang digerakkan tangan tak kelihatan. Dan tiba-tiba Jenar berdiri di tengah pelaminan, dengan Galih di sebelah kanannya, Leknor di kirinya, Astri di sebelah Galih.
Ada jarak dua jengkal di antara bahu mereka.
“Masnya geser dikit, Mas. Deketan. Mbaknya juga.”
Galih bergeser setengah jengkal.
“Lagi, Mas.”
Setengah jengkal lagi.
“Aduh, Mas, Mbak, ini foto keluarga, bukan foto sidang cerai! Rapat dong!” Fotografer itu menurunkan kamera dan tertawa. Beberapa tamu ikut tertawa. “Kayak orang musuhan aja. Kalian kan sekarang keluarga!”
Jenar tertawa. Tawa wisuda. Galih tersenyum. Senyum petugas bank.
Lalu Astri, yang berdiri di sebelah Galih, meletakkan tangannya di punggung adiknya dan mendorongnya. Pelan. Tapi mantap. Tangan mantan atlet voli.
Bahu Galih menabrak bahu Jenar.
Mereka berdua membeku.
Beskap abu-abu di kebaya biru muda. Kain di kain. Tapi Jenar bisa merasakan hangatnya menembus dua lapis kain itu. Ia bisa mencium bau Galih. Bukan garam dan kopi dan losion anti nyamuk. Parfum kayu yang mahal, dan di bawahnya, samar sekali, sesuatu yang ia kenal. Sesuatu yang ia hirup di kaus putih di atas motor Kang Ujang.
“NAH! Gitu dong! Senyum semuanya! Satu, dua...”
Jenar tersenyum. Ke arah kamera. Senyum paling lebar yang bisa ia paksakan.
Di sebelahnya, bahu Galih kaku seperti papan. Tapi tidak bergeser. Tidak menjauh.
“...TIGA!”
Kilat kamera. Putih. Menyilaukan.
“Sekali lagi! Mbak Jenar, senyumnya kurang lepas! Mas Galih, jangan kayak mau disuntik!”
Tawa lagi dari para tamu. Leknor merangkul bahu Jenar dari samping, menariknya lebih dekat. Tangan Astri masih di punggung Galih.
Jenar menatap lensa kamera yang hitam dan bulat. Ia memikirkan kakaknya yang lupa nama pengantinnya sendiri. Memikirkan Galih yang membisikkan Ayuningtyas sehingga tidak ada yang tahu. Memikirkan tangan yang menangkapnya sepuluh senti dari rumput.
Memikirkan Mbak. Saya anggap nggak pernah ada.
Ia tersenyum lebih lebar.
“TIGA!”
Kilat.
Dan di detik itu, di foto yang nanti akan dicetak besar dan dibingkai kayu jati dan digantung di ruang tengah rumah Leknor dan Astri, di foto yang nanti akan Jenar tatap sambil menangis di malam yang belum ia ketahui, dua orang berdiri di tengah pelaminan dengan bahu yang bersentuhan.
Mereka berdua tersenyum.
Tak satu pun dari senyum itu sampai ke mata.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!