Bulan pertama
Jenar pindah ke apartemen studio di Tebet tiga minggu setelah pernikahan, dengan alasan yang sudah ia latih di depan cermin.
“Kalian pengantin baru. Aku nggak mau jadi obat nyamuk.”
Leknor memandanginya dari balik meja makan dengan wajah yang tidak percaya. “Rumah ini punya empat kamar.”
“Dindingnya tipis.”
“Dindingnya bata merah dua puluh senti. Aku yang gambar.”
“Pokoknya tipis, Kak.”
Astri tertawa sampai tersedak teh. Lalu ia yang membantu Jenar mengepak, melipat baju-baju Jenar dengan kerapian yang membuat Jenar malu, dan memaksa menyelipkan tiga toples kue kering dan satu rice cooker bekas ke dalam kardus.
“Kamu pasti nggak masak,” katanya.
“Aku masak.”
“Mi instan bukan masak, Jen.”
Di dasar koper yang dibawa pindah, di bawah semua baju dan kardus kue kering, kantong plastik hitam itu sudah tidak ada. Ia mengirimkan isinya lewat kurir sehari setelah makan malam di Casa Lidia, ke Pratama Coffee Mampang, alamat yang ia cari sendiri setelah mendengar Galih menyebutnya. Kaus kekecilan. Dinosaurus hijau. Kain batik cokelat keemasan. Tanpa nama pengirim. Tanpa surat.
Hanya satu benda yang tidak ia kirim.
Gantungan kunci papan selancar kuning itu sekarang ada di laci nakas apartemen baru, di dalam kotak bekas jam tangan, di bawah tumpukan struk belanja. Jenar tidak pernah membuka laci itu. Tapi ia selalu tahu persis di mana gantungan kunci itu berada.
Hari pertama di biro Leknor, ia diberi meja di pojok dekat jendela, di sebelah meja Astri.
“Aku yang minta,” bisik Astri waktu Jenar meletakkan tas. “Biar ada temen gosip.”
“Kak Leknor tahu?”
“Kak Leknor bosnya. Dia tahu semua.” Astri mengedip. “Tapi dia pura-pura nggak tahu. Itu keahlian dia.”
Astri mengajak Jenar ke Pratama Coffee cabang Kemang, lima menit jalan kaki dari biro. Astri bilang ia selalu ke sini kalau kantor terlalu berisik. Jenar sempat ragu karena tahu itu kedai Galih, tapi cabang Kemang bukan Mampang, dan Galih hampir tidak pernah ke sana. Jenar mendaftar membership atas namanya sendiri dan bersikeras membayar penuh. Ia tidak pernah menyebut siapa dirinya. Staf mengenalnya hanya sebagai “Kak Jenar yang duduk di pojok dekat jendela”.
Bulan kedua
Jenar mulai memakai rute yang lebih jauh untuk pulang kantor.
Dari Kemang ke Tebet ada jalan lurus lewat Mampang yang melewati sebuah kedai kopi di sudut jalan. Plangnya dari kayu gelap, hurufnya putih bersih. Pratama Coffee. Dari balik kaca jendelanya yang besar, bar panjang dari marmer menghadap ke dinding.
Jenar tahu itu kedai Galih sejak makan malam di Casa Lidia. Astri juga pernah menyebutnya sambil lalu di kantor. Cabang Mampang paling ramai, katanya. Galih sering di sana.
Jadi Jenar memilih jalan lewat Kuningan. Lebih macet. Dua puluh menit lebih lama.
Di minggu ketiga bulan kedua, ojek online yang ia pesan tidak mau lewat Kuningan karena ada demo. Motornya melaju lurus ke Mampang, dan Jenar tidak sempat berkata apa-apa.
Kedai itu lewat di sebelah kirinya. Lampu kuning hangat. Orang-orang duduk dengan laptop.
Di balik bar, membelakangi jendela, seorang laki-laki berkemeja hitam sedang mengajari barista muda menuang susu ke dalam cangkir. Tangannya bergerak pelan dan sabar. Ia menunjuk sesuatu. Barista itu mengangguk.
Hanya tiga detik. Motor sudah lewat.
Jenar memejamkan mata sepanjang sisa perjalanan.
Minggu berikutnya, ia pulang lewat Mampang lagi. Kali ini ia yang memilih.
Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak mau tahu kenapa.
Bulan ketiga
Astri hamil.
Ia mengumumkannya di kantor, di tengah rapat Senin pagi, di antara presentasi proyek rumah tinggal di Pondok Indah dan keluhan klien soal warna keramik.
“Oh iya,” katanya sambil menutup laptop. “Aku hamil. sepuluh minggu. Udah, lanjut. Soal keramiknya, aku rasa kita harus...”
Seluruh ruang rapat membeku.
Leknor, yang duduk di ujung meja, menjatuhkan pulpennya. Pulpen itu menggelinding di atas meja kaca, jatuh ke lantai, dan tidak ada yang memungutnya.
“Kamu,” kata Leknor. “Kamu... kamu nggak bilang.”
“Aku baru tahu tadi pagi. Kamu masih tidur.” Astri nyengir. “Aku pikir lebih seru kalau diumumin pas rapat.”
Leknor berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi. Lalu, di depan empat belas karyawannya, ia berjalan mengitari meja rapat, berlutut di sebelah kursi Astri, dan memeluk perut istrinya yang masih rata.
Tidak ada yang bicara. Salah satu drafter senior mengeluarkan ponsel untuk merekam, lalu buru-buru menyimpannya lagi karena merasa itu terlalu pribadi.
Jenar menangis di pojok ruang rapat, di balik gulungan gambar kerja, dan membiarkan maskaranya luntur.
Sore itu Astri datang ke meja Jenar dengan dua gelas es kopi susu dan wajah yang tiba-tiba serius.
“Jen. Aku mau minta tolong.”
“Apa, Kak?”
“Kamar bayi.” Astri duduk di tepi meja. “Aku desainer interior, tapi aku nggak bisa mikir kalau buat diri sendiri. Otakku kosong. Kamu yang desain, ya?”
Jenar menatapnya. “Aku?”
“Kamu arsitek. Kamu tahu rumah itu dari kecil. Kamu tahu kamar mana yang paling dapet matahari pagi.”
“Kamar belakang,” kata Jenar pelan. “Yang dulu kamar nenek. Jendelanya ngadep taman.”
“Nah. Itu.” Astri tersenyum. “Aku mau kamar itu. Kamu yang desain. Aku cuma mau satu hal.”
“Apa?”
“Warnanya jangan pink, jangan biru. Aku nggak mau tahu jenis kelaminnya sampai lahir.” Ia menepuk perutnya. “Kejutan.”
Malam itu Jenar tidak tidur. Ia duduk di meja lipat apartemennya sampai jam tiga pagi, menggambar kamar nenek dengan pensil 2B di kertas kalkir. Jendela besar ke taman. Rak buku rendah yang bisa dijangkau anak kecil. Kursi goyang di pojok, untuk menyusui. Boks bayi dari kayu jati, menghadap jendela, supaya hal pertama yang dilihat bayi itu setiap pagi adalah pohon mangga.
Dan dindingnya. Ia mencoba sepuluh warna di aplikasi di laptopnya. Krem terlalu pucat. Kuning terlalu ramai. Abu-abu terlalu dingin.
Jam tiga lewat dua puluh, ia menemukannya. Hijau. Bukan hijau daun, bukan hijau botol. Hijau yang sangat pucat, seperti daun muda yang baru keluar, seperti cahaya matahari yang jatuh di balik pohon.
Hijau pupus.
Ia menulis nama warna itu di pojok kertas kalkir, dan tertidur di atas meja dengan pensil masih di tangan.
Bulan keempat
Kamar bayi itu dikerjakan pelan-pelan, di akhir pekan, karena Leknor bersikeras mengerjakan semuanya sendiri.
“Tukang nggak ngerti,” katanya. “Ini kamar anakku.”
Astri memutar mata. Tapi ia membiarkan suaminya mengecat dinding sendiri, dua lapis, dengan kuas kecil untuk sudut-sudut dan rol untuk bidang lebar. Jenar datang setiap Sabtu untuk mengawasi, dan setiap Sabtu ia menemukan bercak cat hijau pupus di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Di siku Leknor. Di rambut Astri. Di ekor kucing tetangga yang kebetulan masuk lewat jendela.
Lalu boks bayinya datang.
Boks kayu jati, persis seperti gambar Jenar, dibuat oleh pengrajin di Jepara. Dikirim dalam kardus-kardus besar yang berisi potongan kayu, sekrup, dan buku petunjuk yang ditulis dalam bahasa yang hanya setengah dimengerti.
“Aku ada rapat sama klien di Bogor,” kata Leknor Sabtu pagi itu, memakai kemeja biru muda yang disetrika hanya sekali. “Sampai sore. Nanti malem aku rakit.”
“Nanti malem kamu capek,” kata Astri. “Aku udah minta tolong orang.”
“Siapa?”
Bel pintu berbunyi.
Jenar, yang sedang duduk di lantai kamar bayi mengukur jarak jendela ke rak dengan meteran, mendongak.
Ia mendengar suara Astri di ruang depan. Suara laki-laki menjawab. Rendah. Sopan.
Jenar menjatuhkan meterannya.
Galih muncul di ambang pintu kamar bayi dengan kaus abu-abu, celana jins, dan kotak perkakas di tangan kanan. Ia melihat Jenar di lantai.
Berhenti.
Kotak perkakas di tangannya bergoyang pelan.
“Aku lupa bilang,” kata Astri dari belakangnya, dengan wajah yang terlalu polos untuk dipercaya. “Jenar juga di sini. Dia yang desain kamarnya. Kalian bisa kerja sama. Aku mau tiduran, pinggangku pegel. Dah!”
Pintu kamar utama tertutup di ujung lorong.
Jenar dan Galih saling pandang.
Kardus-kardus boks bayi tergeletak di antara mereka seperti barikade.
“Mbak Jenar,” kata Galih akhirnya.
“Mas Galih.”
“Saya nggak tahu Mbak di sini.”
“Saya juga nggak tahu Mas mau dateng.”
Hening. Dari jendela, suara burung kutilang di pohon mangga.
Galih meletakkan kotak perkakas di lantai. Berjongkok di depan kardus terbesar. Membukanya dengan cutter. Mengeluarkan buku petunjuk dan membacanya dengan kening berkerut.
Jenar memungut meterannya. Kembali mengukur jarak yang sudah ia ukur tiga kali.
Selama dua puluh menit, tidak ada yang bicara. Hanya bunyi cutter merobek kardus, bunyi kertas dilipat, bunyi sekrup berjatuhan ke lantai kayu.
Lalu Galih bergumam. “Ini gambarnya kebalik.”
Jenar tidak menoleh. “Apanya?”
“Petunjuknya. Papan samping ini seharusnya lubangnya di atas. Tapi di gambar di bawah.” Ia membalik-balik kertas. “Atau aku yang bego.”
Aku.
Jenar memandanginya. Galih tidak menyadarinya. Ia masih mengerutkan kening pada buku petunjuk, rambutnya jatuh ke dahi, lidahnya sedikit menjulur di sudut bibir seperti anak SD mengerjakan prakarya. Seperti waktu ia membalut pergelangan kaki Jenar di lobi hotel.
Jenar meletakkan meteran. Beringsut mendekat di lantai. Mengambil buku petunjuk dari tangannya.
“Ini tampak dari dalam,” katanya. “Bukan dari luar. Jadi dibalik.”
Galih memandangi gambar itu. Lalu Jenar. Lalu gambar lagi.
“Oh,” katanya.
“Arsitek,” kata Jenar. “Kerjaan kami baca gambar.”
Sudut bibir Galih bergerak. Sedikit. Hampir.
Lalu kembali datar.
Tapi setelah itu mereka bekerja bersama. Jenar membaca gambar. Galih memasang. Jenar memegang papan, Galih mengencangkan sekrup. Tangan mereka bersentuhan di atas kayu jati sekali, dua kali, dan setiap kali itu terjadi, keduanya menarik tangan lebih cepat dari yang perlu.
Mereka tidak membicarakan Pangandaran. Mereka tidak membicarakan apa pun kecuali sekrup nomor empat dan papan C yang ternyata terbalik.
Dua jam kemudian, boks bayi itu berdiri di tengah kamar hijau pupus, menghadap jendela, persis seperti di gambar Jenar.
Mereka berdiri berdampingan memandanginya. Keringat di dahi. Serbuk kayu di lutut.
“Bagus,” kata Galih pelan.
“Iya.”
“Warnanya juga bagus. Dindingnya.”
“Hijau pupus.”
“Hijau pupus,” ulang Galih. Seperti mencoba rasa kata itu di lidah. Seperti dulu, di lobi, waktu ia mengulang nama Jenar.
Jenar merasa tenggorokannya tercekat. Ia menunduk dan membersihkan serbuk kayu di celananya dengan gerakan yang terlalu keras.
“Jen.”
Ia mendongak.
Galih sedang menatapnya. Wajahnya terbuka. Lebih terbuka dari yang pernah ia lihat sejak restoran Italia. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang ingin ditanyakan.
Lalu ia sadar apa yang baru saja ia ucapkan. Jen. Bukan Mbak. Bukan Mbak Jenar.
Wajahnya menutup lagi. Cepat. Seperti pintu yang dibanting.
“Mbak,” koreksinya. “Mbak Jenar. Saya pamit dulu. Ada janji di kedai.”
Ia memungut kotak perkakas. Berjalan ke pintu. Jenar tidak mengikutinya. Tidak memanggilnya.
Ia berdiri sendirian di kamar hijau pupus, di samping boks bayi yang baru mereka rakit bersama, dan menyentuh liontin di balik kausnya.
Jen.
Satu suku kata. Tiga huruf. Dan ia tahu ia akan memutarnya di kepalanya selama berminggu-minggu.
Bulan kelima
Astri mulai memperhatikan.
Bukan hal-hal besar. Hal-hal kecil. Cara Jenar selalu pamit pulang lebih cepat kalau Galih datang makan malam di hari Minggu. Cara Galih selalu duduk di kursi yang paling jauh dari Jenar di meja makan, padahal meja itu bundar. Cara mereka berdua saling memanggil Mbak dan Mas dengan nada yang terlalu sopan, seperti dua diplomat dari negara yang sedang perang dingin.
Cara Jenar selalu tahu Galih minum kopi tanpa gula, padahal tidak ada yang pernah memberitahunya.
Suatu siang di kantor, Astri meletakkan secangkir kopi di meja Jenar dan duduk di tepi mejanya, seperti biasa.
“Jen. Boleh nanya?”
“Boleh, Kak.”
“Kamu sama Galih ada masalah?”
Tangan Jenar yang memegang pensil berhenti di atas gambar kerja. Garis yang sedang ia tarik melenceng dua milimeter.
“Nggak ada, Kak.”
“Beneran?”
“Beneran. Kenapa?”
Astri memandanginya lama. Mata yang sama dengan mata Galih, Jenar baru menyadarinya. Bentuknya berbeda, tapi cara menatapnya sama. Tenang, dan terlalu tahu.
“Nggak apa-apa,” kata Astri akhirnya. Ia tersenyum dan bangkit. Tapi sebelum pergi, ia menyentuh bahu Jenar pelan. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke aku. Aku kakak kamu juga sekarang. Kamu tahu itu, kan?”
Jenar mengangguk. Tidak bisa bicara.
Sejak ibunya pergi, tidak pernah ada perempuan yang bilang aku kakak kamu. Tidak ada yang meletakkan kopi di mejanya tanpa diminta. Tidak ada yang melipat bajunya dan menyelipkan toples kue kering di kardus pindahan.
Ia ingin cerita. Ia ingin bilang semuanya. Pantai, papan selancar kuning, kalung perak, lorong hotel yang kosong.
Tapi Astri adalah kakak Galih. Dan Galih sudah bilang, anggap nggak pernah ada.
Jadi Jenar tersenyum dan kembali ke gambar kerjanya, dan menghapus garis yang melenceng dua milimeter itu, dan menariknya ulang dengan sangat hati-hati.
Bulan keenam
Hana diterima beasiswa S2 di Belanda. Ia akan berangkat bulan depan. Ia menelepon Jenar sambil menangis dan tertawa bersamaan.
“Terus lo gimana sama Fadlan?” tanya Jenar.
Hening di seberang. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, “Kita cuma temenan, Jen.”
“Kalian chat tiap hari.”
“Temen juga chat tiap hari.”
“Dia ke Bandung tiga kali bulan ini.”
“Ada urusan kopi.”
“Di Lembang? Tiga kali?”
“Lembang itu... luas.”
Jenar tertawa sampai berguling di kasur. Hana memakinya dengan semua kata kasar yang ia tahu, lalu ikut tertawa.
“Jen,” kata Hana setelah tawa mereka habis. “Fadlan pernah cerita soal Galih.”
Jenar berhenti tertawa.
“Katanya Galih berubah abis dari Pangandaran. Katanya dulu dia orangnya dingin, tapi masih bisa diajak becanda. Sekarang kayak... nggak tahu. Kayak mesin. Kerja, kerja, kerja. Buka cabang baru. Terbang ke sana kemari cari biji kopi.” Hana ragu. “Fadlan nanya ke gue, Galih ketemu siapa di Pangandaran. Gue bilang gue nggak tahu.”
“Makasih, Han.”
“Jen. Lo yakin dia pergi karena bosen sama lo?”
Jenar memandangi langit-langit apartemennya. Ada noda bekas bocor di pojok, berbentuk seperti pulau. Sama seperti di kamar hotel dulu. Semua langit-langit di dunia ini sepertinya punya noda berbentuk pulau.
“Terus karena apa lagi, Han?”
Hana tidak punya jawaban.
Bulan ketujuh
Acara tujuh bulanan Astri digelar di rumah Leknor, di halaman belakang, di bawah pohon mangga yang daunnya mulai rontok.
Keluarga besar dari Garut datang dengan dua mobil. Tante-tante berkebaya membawa rantang. Om-om berbatik membawa rokok. Anak-anak kecil berlarian di sekitar kolam kecil yang Leknor buat sendiri dua tahun lalu. Ada siraman dengan air tujuh sumur dan kembang tujuh rupa, ada rujak yang harus dicicipi untuk menebak jenis kelamin bayi, ada pantun-pantun yang dibacakan dalam bahasa Sunda yang membuat Astri tertawa sampai perutnya yang besar berguncang.
Jenar dan Galih sama-sama menyiramkan air ke bahu Astri. Berdiri berdampingan di belakang kursi kayu yang dihias janur. Tidak bersentuhan. Tangan mereka memegang gayung batok kelapa yang berbeda.
“Rujaknya pedes,” kata salah satu tante setelah mencicipi. “Pasti cewek!”
“Nggak, kecut,” bantah tante yang lain. “Cowok ini!”
Astri tertawa. Leknor tersenyum di sebelahnya, tangannya tidak lepas dari bahu istrinya. Jenar memandangi mereka berdua dan merasa sesuatu di dadanya penuh dan sakit sekaligus.
Setelah acara selesai dan tamu-tamu pulang, Jenar membantu membereskan dapur. Galih membantu mengangkat meja-meja pinjaman ke garasi.
Mereka berpapasan di lorong tiga kali. Tiga kali mereka menggeser badan ke dinding supaya tidak bersentuhan.
Galih sedang mencuci gelas di wastafel dapur ketika Astri masuk dengan langkah pelan dan tangan di pinggang.
“Duduk, Kak. Kamu capek.”
“Aku capek duduk.” Astri bersandar di meja dapur di sebelahnya. Perutnya bulat dan besar di balik kebaya kuning gading. “Dari pagi disuruh duduk terus. Kayak ratu.”
“Kamu emang ratu hari ini.”
“Ratu yang pinggangnya mau copot.” Astri memijat punggungnya sendiri. Lalu diam. Memandangi adiknya yang mencuci gelas dengan gerakan terlalu hati-hati.
“Dek.”
“Hm.”
“Mau tahu nama bayinya?”
Galih berhenti mencuci. “Kalian udah milih?”
“Aku udah milih. Leknor belum tahu. Aku mau kasih tahu dia pas lahir.” Astri tersenyum ke arah jendela dapur, ke pohon mangga di halaman belakang yang gelap. “Kalau cewek. Aku yakin cewek. Tante Imas bener, rujaknya pedes.”
“Siapa?”
Astri mendekatkan wajah ke telinga adiknya, seperti waktu mereka kecil dan ia membisikkan rahasia soal hadiah ulang tahun ibu.
“Jihan,” bisiknya.
Galih mengulangnya tanpa suara. Jihan.
“Artinya dunia,” kata Astri. “Dalam bahasa Persia. Aku baca di buku nama bayi. Aku pikir, anak ini bakal jadi dunia buat Leknor. Dia udah nunggu lama banget. Dia nggak pernah bilang, tapi aku tahu.”
“Bagus,” kata Galih pelan. Tenggorokannya tiba-tiba sesak. “Jihan. Bagus.”
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Nggak.”
“Janji?”
“Janji, Kak.”
Astri mengangguk puas. Lalu ia tidak pergi. Ia tetap bersandar di meja dapur, memandangi adiknya, dan tatapannya berubah. Tidak lagi seperti kakak yang membisikkan rahasia. Seperti kakak yang sudah dua puluh tujuh tahun menunggu adiknya bicara.
“Dek.”
“Hm.”
“Kamu kenal Jenar sebelum makan malam di Casa Lidia, kan?”
Gelas di tangan Galih hampir jatuh. Ia menangkapnya. Meletakkannya di rak dengan sangat pelan.
“Nggak.”
“Kamu bohongnya jelek.”
“Kak.”
“Kalian berdua.” Astri menggeleng pelan. “Tiap ketemu, kalian kayak dua orang yang lagi nahan napas di dalem air. Nunggu siapa yang duluan nggak kuat.”
Galih tidak menjawab. Ia mematikan keran. Mengeringkan tangannya dengan lap. Melipat lap itu rapi, dua kali, dan menggantungnya di pegangan oven.
“Aku nggak maksa kamu cerita,” kata Astri. “Aku cuma mau bilang satu hal.”
“Apa?”
“Jenar itu anak baik. Dia nggak punya siapa-siapa selain Leknor. Ibunya pergi pas dia dua tahun, neneknya meninggal pas Covid.” Astri berhenti. “Dia sering banget senyum. Tapi kalau kamu lihat baik-baik, senyumnya kayak orang yang lagi nahan sesuatu biar nggak jatuh.”
Galih memandangi lap yang tergantung di oven.
“Apa pun yang terjadi di antara kalian,” lanjut Astri pelan, “kalau suatu hari aku sama Leknor nggak ada, jagain dia, ya.”
“Kak, jangan ngomong gitu.”
“Aku cuma bilang kalau.”
“Jangan.”
Astri tertawa kecil dan menepuk pipi adiknya, seperti menepuk pipi anak kecil. “Iya, iya. Kulkas.”
Ia berjalan keluar dapur dengan langkah pelan, satu tangan di pinggang, satu tangan di perutnya yang bulat.
Galih berdiri sendirian di dapur. Di luar jendela, di ruang tengah, ia bisa melihat Jenar sedang menggulung taplak meja di lantai. Rambutnya diikat asal. Ada bekas kembang tujuh rupa yang tersangkut di ujung kepangnya. Ia sedang tertawa pada sesuatu yang dikatakan Leknor.
Tertawa. Tapi Galih melihatnya sekarang. Yang dibilang Astri. Seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak jatuh.
Ia memalingkan wajah.
Bulan kedelapan
Galih berangkat ke Hawaii untuk dua minggu.
Ada perkebunan kopi di Kona, di lereng gunung berapi, yang sudah tiga tahun ia incar. Pemiliknya, seorang kakek keturunan Jepang yang tidak suka email dan tidak suka telepon, akhirnya setuju bertemu.
Astri mengantarnya ke bandara, meskipun Leknor melarang. Kehamilannya sudah delapan bulan. Ia berjalan seperti bebek yang kelelahan dan terus mengeluh soal kakinya yang bengkak.
“Bawain aku kopi Kona,” katanya di depan pintu keberangkatan.
“Kamu nggak boleh banyak kopi.”
“Satu cangkir. Pas Jihan udah lahir.” Ia berbisik nama itu, lalu melirik ke kiri dan kanan seperti takut ada yang dengar. “Buat ngerayain.”
Galih memeluknya. Pelan, karena perutnya. Kakaknya berbau vanila dan minyak kayu putih.
“Dua minggu, Kak.”
“Iya, iya. Pergi sana.”
Ia berjalan masuk. Di balik pintu kaca, ia menoleh sekali.
Astri masih berdiri di sana. Melambai. Satu tangan di perut.
Galih melambai balik. Lalu berjalan ke gerbang keberangkatan, dan tidak menoleh lagi.
Sembilan hari kemudian, hujan turun di tol Cipularang.
Jenar tidak tahu soal hujan itu. Ia sedang di apartemennya di Tebet, di meja lipat, dengan laptop terbuka dan gambar kerja proyek rumah tinggal di Pondok Indah yang harus selesai hari Senin. Jam sepuluh malam. Mi instan kuah di mangkuk yang sudah dingin.
Ponselnya bergetar. Astri.
Sebuah foto. Dua tusuk sate maranggi di piring rotan, dengan latar lampu-lampu rest area yang buram karena kaca mobil basah.
Pulang dari Garut. Pengajian almarhumah nenekku. Mampir sate maranggi dulu. Leknor bilang aku nggak boleh makan lebih dari dua tusuk. Aku udah makan empat. Jangan bilang dia.
Jenar tersenyum dan mengetik. Aku nggak bakal bilang. Tapi Kakak harus beliin aku juga.
Udah dibungkus. Sepuluh tusuk. Besok aku anterin ke kantor.
Kakak terbaik.
Aku tahu. Satu pesan lagi datang, beberapa detik kemudian. Dedek nendang terus dari tadi. Kayaknya dia juga mau sate.
Lalu satu lagi.
Jen. Hujannya deres banget di sini. Leknor nyetirnya pelan kok. Nanti aku kabarin kalau udah sampai.
Jenar mengetik hati-hati, Kak. Mengirimnya. Satu centang. Dua centang. Tidak biru.
Ia meletakkan ponselnya di sebelah laptop dan kembali ke gambar kerjanya.
Jam sebelas ia menguap. Jam sebelas lewat tiga puluh ia memindahkan laptop ke kasur, berniat bekerja sambil berbaring. Jam dua belas kurang sepuluh ia tertidur dengan kepala di atas bantal dan gambar denah lantai dua masih menyala di layar.
Kalung perak di lehernya jatuh keluar dari balik piyama. Liontin hati kecil tergeletak di atas seprai, berkilau samar di cahaya laptop.
Masih terang. Tidak hitam sedikit pun.
Ponselnya berbunyi jam satu lewat tujuh belas menit.
Bukan getar. Dering. Keras. Nada dering bawaan yang tidak pernah ia ganti karena tidak pernah ada yang meneleponnya malam-malam.
Jenar terbangun dengan jantung berdebar. Laptop di sebelahnya sudah mati sendiri. Kamar gelap. Hanya layar ponsel yang menyala di nakas, bergetar-getar di permukaan kayu.
Nomor tidak dikenal. Kode area Purwakarta.
Ia menatapnya. Dering kedua. Ketiga.
Di dalam laci nakas, di bawah ponsel yang bergetar, di dalam kotak bekas jam tangan, di bawah tumpukan struk belanja, gantungan kunci papan selancar kuning ikut bergetar pelan.
Jenar mengangkatnya.
“Halo?”
“Selamat malam. Dengan Ibu Jenar Masayu?”
Suara laki-laki. Formal. Latar belakangnya ramai. Bunyi sirene. Orang berteriak. Hujan.
“Iya. Saya sendiri.”
“Ibu, saya dari Satlantas Polres Purwakarta. Mohon maaf mengganggu malam-malam. Apakah Ibu keluarga dari Bapak Leknor Masayu?”
Jenar duduk. Selimut jatuh dari bahunya.
“Saya adiknya.”
Jeda. Satu detik. Dua detik. Terlalu lama. Jenar mendengar laki-laki itu menarik napas, seperti orang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat berikutnya dan tidak pernah terbiasa.
“Ibu, mohon tenang dulu, ya. Ada kecelakaan di tol Cipularang kilometer sembilan puluh tujuh. Mobil yang dikendarai kakak Ibu...”
Jenar tidak mendengar sisanya.
Ia mendengar hujan. Hujan di seberang telepon, di tempat yang sangat jauh, di jalan tol yang gelap dan basah. Ia mendengar sirene. Ia mendengar suara Astri di kepalanya, jelas sekali, seperti Astri duduk di ujung kasurnya. Nanti aku kabarin kalau udah sampai.
Ia melihat pesan terakhirnya di layar, masih terbuka di latar belakang. Hati-hati, Kak.
Dua centang. Tidak biru.
Tidak akan pernah biru.
Di Kona, Hawaii, pukul enam pagi, Galih sedang berdiri di tengah kebun kopi di lereng gunung berapi, memegang segenggam buah kopi merah yang baru dipetik.
Kabut turun dari puncak. Udara dingin dan bau tanah basah. Kakek pemilik kebun berdiri di sebelahnya, menjelaskan sesuatu soal ketinggian dan tanah vulkanik dengan bahasa Inggris yang patah-patah dan sangat sabar.
Ponsel di saku jaketnya bergetar.
Sekali. Galih mengabaikannya.
Dua kali. Tiga kali.
Empat. Lima. Enam.
Ia mengeluarkannya. Layar penuh notifikasi. Panggilan tak terjawab. Pesan. Nomor-nomor yang ia kenal dan yang tidak ia kenal. Fadlan. Tante Imas. Nomor kantor biro Leknor. Nomor tidak dikenal berkode Purwakarta.
Dan satu nama yang tidak pernah muncul di layar ponselnya selama sebelas bulan. Nama yang masih ia blokir. Yang panggilannya tidak akan pernah sampai.
Tapi pesannya sampai. Karena pesan itu dikirim ke grup keluarga yang Astri buat untuk acara tujuh bulanan, grup yang nama Jenar ada di dalamnya, grup yang tidak bisa ia blokir.
Jenar: Galih. Tolong angkat. Tolong. Kak Astri.
Buah-buah kopi merah jatuh dari genggamannya satu per satu, ke tanah vulkanik yang hitam dan basah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!