Taksi online yang Jenar pesan jam satu lewat dua puluh lima menolak masuk tol.
“Hujan, Mbak. Cipularang lagi licin. Ada kecelakaan katanya.”
“Saya tahu ada kecelakaan,” kata Jenar. Suaranya datar. Asing. “Itu kakak saya.”
Sopirnya memandanginya lewat spion tengah. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyalakan lampu sein dan membelok ke gerbang tol.
Jenar tidak ingat perjalanan itu. Ia ingat wiper yang bergerak kiri kanan seperti metronom. Ia ingat lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu di jendela, oranye, oranye, oranye. Ia ingat ponselnya yang ia genggam dengan dua tangan di pangkuan, layarnya terus menyala, grup keluarga yang terus bergetar dengan pesan dari tante-tante di Garut yang baru mendengar kabar.
Ia ingat mengetik pesan ke Galih di grup itu. Tiga kali. Karena nomor pribadinya masih diblokir. Karena ia sudah menelepon lima kali dan setiap kali hanya ada bunyi pendek dan sunyi.
Ia tidak ingat apakah ia menangis.
Mungkin tidak. Mungkin belum. Tubuhnya terasa seperti bangunan yang fondasinya baru saja dicabut, tapi dindingnya belum tahu harus runtuh.
Rumah sakit di Purwakarta berbau karbol dan hujan.
Seorang polisi muda dengan jas hujan yang masih meneteskan air menemuinya di pintu IGD. Wajahnya terlalu muda untuk pekerjaan ini. Ia bicara pelan dan hati-hati, dengan kalimat-kalimat yang terdengar seperti dihafal dari buku.
Leknor sudah tidak ada. Di lokasi. Truk dari arah berlawanan kehilangan kendali di tikungan yang basah, menembus pembatas jalan. Tidak ada yang bisa dilakukan.
Jenar mendengarkan dan mengangguk.
Astri masih di ruang operasi. Kondisinya kritis. Dokter sedang berusaha menyelamatkan bayinya.
Jenar mengangguk lagi.
Polisi itu memandanginya dengan ragu, seperti menunggu sesuatu. Teriakan. Tangisan. Pingsan. Jenar tidak memberinya apa-apa. Ia hanya bertanya, dengan suara yang terdengar sangat jauh, “Ruang operasinya di mana?”
Ia duduk di kursi plastik biru di depan pintu ganda yang bertuliskan Kamar Operasi, Dilarang Masuk. Lampu merah di atas pintu menyala.
Jam tiga. Jam tiga lewat lima belas. Jam tiga lewat empat puluh.
Seorang perawat membawakannya teh manis hangat dalam gelas plastik. Jenar memegangnya sampai dingin.
Ponselnya bergetar terus. Tante Imas. Tante Imas lagi. Om Dudi. Hana. Hana. Hana.
Jen, gue udah di jalan. Gue sama Kak Hanif. Kak Hanif lagi jaga di situ, dia tadi yang ngabarin gue.
Jenar membaca nama itu tanpa merasa apa-apa.
Jam empat lewat sepuluh, lampu merah di atas pintu padam.
Pintu ganda terbuka.
Yang keluar pertama adalah seorang dokter perempuan setengah baya dengan masker bedah yang sudah diturunkan ke dagu. Wajahnya lelah. Ia memandangi Jenar, lalu menoleh ke belakang, ke seseorang yang menyusul keluar dari ruangan yang sama.
Laki-laki. Baju operasi hijau. Topi bedah yang sama hijaunya. Masker yang masih terpasang.
Ia melepas maskernya pelan-pelan.
Hanif.
Jenar tidak berdiri. Tidak bisa. Ia hanya duduk di kursi plastik biru dengan gelas teh dingin di pangkuan, memandangi wajah yang dulu ia gambar diam-diam di halaman belakang buku catatan fisika. Wajah yang tujuh tahun ia tunggu. Wajah yang di foto tunangan tersenyum di sebelah kebaya krem.
Wajah itu sekarang pucat. Ada bekas tekanan masker di pipi dan batang hidungnya. Matanya merah.
Hanif berjongkok di depannya. Dokter spesialis anak. Laki-laki yang menggaruk alisnya kalau bingung. Ia tidak menggaruk alisnya sekarang.
“Jen.”
Jenar menunggu.
“Jen, aku minta maaf.” Suaranya pecah di kata maaf. Ia berhenti, menarik napas, mencoba lagi. “Kak Astri... pendarahannya terlalu banyak. Tim udah berusaha. Semuanya udah berusaha.”
Jenar mengangguk.
“Bayinya,” kata Hanif, dan kali ini suaranya benar-benar pecah. Ia menunduk. Tangannya, yang masih memakai sarung tangan karet yang sudah dilepas separuh, gemetar di atas lutut. “Bayinya perempuan. Aku yang pegang. Aku coba resusitasi. Empat puluh menit, Jen. Aku coba empat puluh menit.”
Jenar memandangi tangan Hanif yang gemetar.
“Dia nggak napas,” bisik Hanif. “Aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku nggak bisa.”
Gelas plastik di pangkuan Jenar jatuh ke lantai. Teh dingin tumpah di sepatunya. Ia tidak menunduk untuk melihat.
Rujaknya pedes. Pasti cewek.
Dedek nendang terus dari tadi.
Nanti aku kabarin kalau udah sampai.
“Perempuan,” ulang Jenar. Suaranya aneh. Seperti suara orang lain. “Kak Astri bilang pasti perempuan.”
Hanif mengangkat kepala. Ia menatap Jenar dengan mata yang basah, dan Jenar melihat sesuatu di sana yang tidak pernah ia lihat selama tujuh tahun menunggu. Bukan cinta. Bukan apa pun yang dulu ia harapkan. Hanya rasa bersalah dan kelelahan dan kesedihan yang jujur, dari seorang dokter yang baru saja kalah.
Dan Jenar menyadari, di tengah semua hal yang runtuh di dalam dirinya, bahwa ia tidak merasakan apa-apa pada wajah itu. Tidak ada debar. Tidak ada ngilu. Hanif hanyalah Hanif. Kakak sahabatnya. Laki-laki baik yang berusaha empat puluh menit.
“Makasih, Kak,” katanya. “Udah coba.”
Hanif menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Jenar duduk di sana dan menunggu tangisnya datang. Menunggu fondasi yang sudah dicabut itu akhirnya membuat dindingnya runtuh.
Tidak datang.
Yang datang adalah Hana, jam lima kurang sepuluh, berlari di koridor dengan jaket yang dipakai terbalik dan sandal jepit yang berbeda warna, dan memeluk Jenar sampai mereka berdua hampir jatuh dari kursi plastik biru.
Hana yang menangis. Jenar tidak.
Mereka dimakamkan di TPU Tanah Kusir keesokan harinya, setelah asar, di bawah langit kelabu yang tidak bisa memutuskan mau hujan atau tidak.
Tiga liang. Berdampingan. Dua besar. Satu kecil, sangat kecil, di sebelah liang Astri, seperti titik di ujung kalimat.
Keluarga besar dari Garut datang dengan tiga mobil. Karyawan biro datang dengan seragam hitam-hitam. Klien-klien Leknor. Teman-teman voli Astri, perempuan-perempuan tinggi yang menangis dengan bahu yang tegap. Fadlan datang menggendong Kiki yang tidak mengerti apa-apa dan terus bertanya kenapa semua orang pakai baju hitam.
Galih tidak datang. Ia masih di udara. Di antara Honolulu dan Tokyo. Tante Imas sudah meneleponnya berkali-kali dan akhirnya berhasil, jam sepuluh pagi, di bandara transit. Tante Imas bilang Galih tidak bicara apa-apa di telepon. Hanya diam. Lalu bilang iya, Tante. Jangan tunggu aku. Kasihan mereka.
Jadi mereka tidak menunggu.
Jenar berdiri di pinggir liang Leknor waktu jenazah kakaknya diturunkan. Kain kafan putih. Tanah merah yang basah. Seorang ustaz membacakan doa dengan suara yang serak dan lembut.
Waktu tiba giliran keluarga untuk menaburkan tanah, Jenar berlutut.
Ia tidak berniat berlutut. Kakinya yang memutuskan. Lututnya menekan tanah merah yang lembap di pinggir liang, dan jins hitam yang ia pakai sejak semalam, yang belum sempat ia ganti, langsung menyerap basahnya. Ia meraup tanah dengan kedua tangan. Dingin. Lengket. Menaburkannya pelan-pelan.
Lalu liang Astri.
Lalu liang yang kecil.
Di liang yang kecil ia berhenti lama. Tangannya yang penuh tanah merah menggantung di udara. Seseorang di belakangnya, mungkin Hana, mungkin Tante Imas, menyentuh bahunya.
Jenar menaburkan tanahnya. Sedikit. Sangat sedikit. Seperti takut terlalu berat.
Papan nisan kayu sementara ditancapkan di kepala setiap makam. Ditulis dengan spidol hitam oleh penjaga makam yang tulisannya miring-miring.
Leknor Masayu bin (alm) Harsono.
Astri Ayuningtyas binti (alm) Prasetyo Pratama.
Dan yang kecil.
Bayi Ny. Astri.
Jenar memandangi tiga kata itu lama sekali.
Tidak ada nama. Astri tidak pernah bilang nama apa pun. Leknor juga tidak. Mereka bilang ingin kejutan. Mereka bilang akan memutuskan setelah melihat wajahnya.
Bayi itu tidak punya wajah yang sempat dilihat siapa pun, kecuali Hanif. Dan tidak punya nama.
Jenar tetap berlutut di tanah merah sampai semua orang pulang, sampai Hana harus menariknya berdiri, sampai langit akhirnya memutuskan untuk hujan.
Ia tetap tidak menangis.
Galih mendarat di Soekarno-Hatta jam enam sore, hari berikutnya.
Tiga puluh satu jam perjalanan. Tiga bandara. Dua pesawat yang terlambat. Ia tidak tidur di satu pun penerbangan. Ia duduk di kursi dekat jendela dan memandangi awan, dan setiap kali pramugari menawarkan makanan, ia menggeleng.
Di pesawat terakhir, dari Tokyo ke Jakarta, ia membuka dompet dan mengeluarkan tisu terlipat empat dari balik KTP. Tidak tahu kenapa. Ia membentangkannya di meja lipat. Bar kayu yang menghadap ke luar. Pohon ketapang. Dua kursi di teras. Noda saus tomat di pojok, sekarang sudah cokelat tua.
Ia memandanginya selama tujuh jam.
Ia tidak pulang ke apartemennya. Ia tidak menelepon siapa pun. Ia keluar dari terminal kedatangan dengan satu ransel dan jaket yang masih berbau kabut Kona, masuk ke taksi pertama, dan berkata, “Tanah Kusir.”
Sopir taksi melirik jam. “Udah mau magrib, Mas. Makam biasanya tutup.”
“Tanah Kusir,” ulang Galih.
Gerbang makam masih terbuka waktu ia sampai. Langit sudah ungu tua. Lampu-lampu jalan setapak di antara makam menyala kuning redup.
Ia tidak tahu letaknya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak dengan ponsel di tangan, membaca lagi pesan Tante Imas yang berisi petunjuk arah. Blok AA. Dekat pohon kamboja yang besar. Tiga makam baru, bunganya masih banyak.
Ia menemukannya.
Tiga gundukan tanah merah. Masih basah. Masih tinggi. Taburan bunga mawar dan melati yang mulai layu di atasnya. Payung hitam dari kertas minyak yang ditancapkan di kepala makam, sudah miring ditiup angin.
Galih berdiri di ujung jalan setapak dan tidak bisa melangkah lebih dekat.
Leknor. Laki-laki yang lupa nama pengantinnya sendiri. Yang tangannya berkeringat di genggaman Galih waktu akad. Yang memeluk perut istrinya di depan empat belas karyawan.
Astri.
Galih melangkah. Satu. Dua. Lututnya tertekuk sebelum ia sampai. Ia berlutut di pinggir makam kakaknya, di tanah merah yang basah, dan meletakkan kedua tangannya di atas gundukan itu. Seperti memegang bahu seseorang.
Bawain aku kopi Kona.
Di ransel di punggungnya, terbungkus kaus supaya tidak pecah, ada sekantong biji kopi dari kebun di lereng gunung berapi. Sekantong kecil. Cukup untuk satu cangkir.
Pas Jihan udah lahir. Buat ngerayain.
Ia tidak menangis. Belum. Ia hanya berlutut di sana, dengan tangan di tanah, dan merasakan tanah itu dingin sekali, dan bertanya-tanya bagaimana kakaknya yang selalu kepanasan, yang selalu mengeluh soal AC kantor yang kurang dingin, bisa tidur di tempat sedingin ini.
“Mas keluarganya?”
Galih menoleh.
Seorang laki-laki tua bersarung dan berpeci berdiri di jalan setapak. Penjaga makam. Di tangannya ada kaleng cat kecil, kuas, dan papan kayu baru yang masih bersih.
“Iya, Pak. Saya adiknya.” Ia mengangguk ke makam Astri. “Adik almarhumah.”
Penjaga makam itu mengangguk pelan. “Turut berduka, Mas.”
“Makasih, Pak.”
Laki-laki tua itu berjongkok di sebelah makam yang paling kecil. Ia mencabut papan nisan sementara dari kepala makam. Papan kayu dengan tulisan spidol yang sudah luntur sedikit karena hujan semalam.
Bayi Ny. Astri.
“Ini mau saya ganti, Mas,” kata penjaga makam. “Kemarin buru-buru, nggak ada yang kasih nama. Adik almarhumah yang satunya, yang perempuan, dia berlutut lama di sini, tapi pas saya tanya, dia cuma geleng-geleng. Nggak bisa ngomong.” Ia membuka tutup kaleng cat. “Mas tahu namanya? Biar saya tulis yang bener. Kasihan, masa anak nggak ada namanya.”
Galih memandangi papan kayu di tangan laki-laki itu.
Jangan bilang siapa-siapa.
Janji?
Janji, Kak.
Ia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Ia menutupnya lagi. Menelan. Mencoba lagi.
“Jihan,” katanya.
Penjaga makam itu mengangguk. Mencelupkan kuas ke cat putih.
“Jihan,” ulang Galih. Lebih keras. Suaranya pecah di tengah. “Namanya Jihan. Artinya dunia.”
Dan di situ, di detik itu, di depan penjaga makam yang tidak ia kenal, sambil berlutut di tanah merah di antara makam kakaknya dan makam keponakan yang tidak sempat ia lihat, Galih Pratama menangis.
Bukan tangis yang tanpa suara seperti di rest area sebelas bulan lalu. Tangis yang keluar dari perut. Yang membuat bahunya berguncang dan napasnya tersedak-sedak. Tangis yang sudah tiga puluh satu jam ia tahan di tiga bandara dan dua pesawat.
Penjaga makam itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menulis. Pelan. Hati-hati. Huruf-hurufnya lebih rapi dari tulisan spidol kemarin.
Jihan binti Leknor Masayu.
Ia menancapkan papan itu di kepala makam yang kecil. Lalu menepuk bahu Galih dua kali, dan berjalan pergi di jalan setapak yang sudah gelap.
Rumah Leknor masih penuh orang waktu Galih sampai jam delapan malam.
Tahlilan malam kedua. Tikar digelar di ruang tengah dan teras. Ibu-ibu pengajian dari kompleks duduk bersila dengan buku Yasin. Bau kopi tubruk dan kue lapis dan bunga melati. Di ruang tengah, di atas sofa yang digeser ke dinding, foto pernikahan Leknor dan Astri dalam bingkai kayu jati menatap semua orang.
Foto itu. Jenar dan dia di tengah. Bahu bersentuhan. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Galih memalingkan wajah.
Fadlan yang pertama melihatnya. Ia berdiri dari tikar, melangkahi dua orang, dan memeluk Galih tanpa berkata apa-apa. Lama. Galih membiarkannya.
“Tanah,” kata Fadlan akhirnya, melepaskan pelukan dan memandangi celana Galih. “Lo dari makam?”
“Iya.”
“Lo belum pulang?”
“Belum.”
Fadlan memandanginya dengan tatapan delapan tahun. Lalu mengangguk pelan.
“Jenar mana?” tanya Galih.
Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya. Fadlan mengerjap. Tapi sebelum ia menjawab, seseorang muncul di belakangnya.
Hana. Kerudung hitam. Mata bengkak. Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan nampan berisi gelas-gelas teh, dan menatap Galih dengan tatapan yang sama seperti di pesta pernikahan. Dingin. Tapi ada sesuatu yang lain sekarang. Lelah. Terlalu lelah untuk membenci.
“Dia nggak di sini,” kata Hana.
“Di mana?”
Hana meletakkan nampan di meja. Pelan. Gelas-gelasnya berdenting.
“Rumah sakit. Di Purwakarta.”
Galih merasakan perutnya jatuh. “Dia kenapa?”
“Dia nggak kenapa-kenapa. Katanya.” Hana menggigit bibir. “Tadi pagi dia ke makam. Sendirian. Terus dia bilang mau ke rumah sakit, ngurus surat-surat bayinya. Surat keterangan lahir. Surat kematian. Katanya harus diambil sendiri sama keluarga.” Suaranya bergetar. “Itu tadi jam sepuluh pagi. Sekarang jam delapan malam. Dia nggak angkat telepon gue. Kak Hanif bilang dia masih di sana. Duduk. Di depan ruang bayi. Dari siang.”
“Kenapa nggak ada yang jemput?”
“Kak Hanif udah coba. Dia nggak mau pulang.” Hana menatapnya. “Gue harusnya ke sana. Tapi gue diminta jaga rumah. Tamunya masih banyak. Tante-tante dari Garut nggak ada yang kenal tetangga sini.”
Galih sudah berbalik ke pintu.
“Gal,” kata Fadlan. “Lo belum tidur dua hari.”
“Gue nyetir.”
“Lo gila.”
“Kunci mobil lo.”
Fadlan memandanginya. Lalu merogoh saku celana dan menyerahkan kunci mobilnya. Tanpa protes lagi.
Di ambang pintu, Galih berhenti. Menoleh ke Hana.
Hana masih berdiri di sebelah nampan, memeluk dirinya sendiri. Di belakangnya, Fadlan meletakkan tangan di punggungnya, pelan, dan Hana tidak menepisnya.
“Makasih,” kata Galih.
Hana tidak menjawab. Tapi ia mengangguk, sekali.
Koridor lantai tiga rumah sakit di Purwakarta sepi jam sepuluh malam.
Lampunya neon putih yang terlalu terang. Lantainya keramik krem yang baru dipel dan masih berbau karbol. Di ujung koridor ada dinding kaca besar, dan di balik kaca itu, deretan boks bayi dan inkubator berderet rapi di bawah cahaya kuning yang lembut.
Ruang perinatologi. Ruang bayi.
Dan di depan kaca itu, di kursi plastik biru, duduk seseorang.
Galih berhenti di ujung koridor.
Jenar duduk dengan punggung tegak dan tangan di pangkuan. Ia memakai kaus hitam yang kebesaran dan jins hitam yang lututnya kotor. Tanah merah. Sudah kering, retak-retak di kain, seperti peta sungai-sungai kecil. Rambutnya diikat asal. Beberapa helai lepas dan jatuh di pipinya. Sebuah map plastik bening tergeletak di kursi sebelahnya, berisi kertas-kertas dengan kop rumah sakit.
Ia menatap kaca.
Di balik kaca, seorang bayi di inkubator nomor tiga sedang menangis. Wajahnya merah. Tangannya yang kecil menggapai-gapai udara. Seorang perawat datang, membuka pintu kecil di sisi inkubator, dan menyentuh dadanya dengan dua jari. Bayi itu berhenti menangis.
Jenar tidak bergerak. Matanya mengikuti jari perawat itu. Kosong. Seperti jendela rumah yang lampunya sudah dimatikan.
Galih berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Lantai keramik berbunyi di bawah sepatunya.
Jenar menoleh.
Ia melihat Galih. Wajahnya tidak berubah. Tidak kaget. Tidak marah. Tidak apa-apa. Ia memandanginya seperti memandangi seseorang yang ia tunggu sejak lama, dan akhirnya datang, dan ia sudah terlalu lelah untuk merasa lega.
“Kamu dateng,” katanya.
Suaranya kecil. Serak. Suara orang yang belum bicara berjam-jam.
“Aku dateng,” kata Galih.
Ia tidak menyadari ia mengatakan aku. Ia hanya berdiri di depannya, di koridor yang terlalu terang, dengan jaket yang masih bau Kona dan celana yang lututnya juga kotor tanah merah. Tanah yang sama. Dari makam yang sama.
Jenar memandangi lutut celananya. Lalu lututnya sendiri.
“Kamu dari makam,” katanya.
“Iya.”
“Aku juga.”
“Aku tahu.”
Jenar mengangguk. Lalu ia berdiri. Pelan. Seperti orang yang baru sadar kakinya sudah lama tidak dipakai.
“Galih,” katanya. “Bayinya. Kak Astri. Dia...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Lututnya tertekuk. Tubuhnya miring ke depan, pelan, seperti gedung yang akhirnya menyerah pada fondasinya yang sudah dicabut. Wajahnya memucat sampai hampir putih. Matanya berputar ke atas.
Galih sudah bergerak sebelum ia berpikir.
Kedua lengannya menangkap Jenar di bawah lengan, menahan tubuhnya yang tiba-tiba lunglai, berat dan ringan sekaligus. Kepala Jenar jatuh ke dadanya. Rambutnya yang lepas menyapu dagu Galih.
“Jen.” Suaranya naik. “Jen. Jenar.”
Tidak ada jawaban.
“SUSTER!”
Mereka memasangnya infus di IGD. Dehidrasi, kata dokter jaga. Kelelahan. Belum makan dua hari, belum tidur dua hari. Tekanan darahnya rendah sekali. Tidak berbahaya, asal istirahat.
Galih duduk di kursi di sebelah ranjang bersekat tirai hijau, dan tidak pergi.
Perawat sempat bertanya apakah ia suaminya. Galih bilang bukan. Perawat itu bertanya apakah ia keluarga. Galih memandangi Jenar yang tertidur dengan jarum infus di punggung tangan kiri, wajah yang sekarang sedikit berwarna lagi, bibir yang kering dan pecah-pecah.
“Iya,” katanya. “Keluarga.”
Perawat itu mengangguk dan meninggalkan mereka.
Jam sebelas. Jam dua belas. Jam satu.
IGD tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara monitor dari ranjang sebelah. Ada anak kecil yang menangis di ujung ruangan. Ada suara troli, langkah sepatu perawat, telepon yang berdering di meja jaga.
Galih tidak mendengar semua itu.
Ia memandangi tangan Jenar di atas selimut. Tangan kanan, yang tidak diinfus. Jari-jarinya sedikit tertekuk. Ada sisa tanah merah di bawah kukunya. Ada bekas tinta pulpen di sisi jari tengah, bekas orang yang terlalu sering menggambar.
Ia tidak tahu kapan ia meraih tangan itu. Ia hanya tahu, di satu titik antara jam satu dan jam dua pagi, tangan Jenar sudah ada di dalam genggamannya. Dingin. Kecil. Sedikit kasar di ujung-ujung jari.
Ia ingat pertama kali ia memegang jari-jari ini.
Bukan di Green Canyon. Bukan di teras. Di pantai, pagi hari pertama, waktu ia berjongkok di pasir basah dan memegang tumit perempuan yang menangis sambil bilang nggak apa-apa. Lalu, setelah itu, waktu ia mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri dan perempuan itu meraihnya, dan jari-jarinya dingin karena air laut, dan tanpa alasan yang masuk akal, Galih tidak ingin melepaskannya.
Ia melepaskannya waktu itu. Karena sopan. Karena baru kenal.
Ia tidak melepaskannya sekarang.
Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.
Ia tahu. Ia masih ingat setiap kata. Ia masih ingat bunyi kayu pintu, lampu lorong yang berkedip, suara Jenar yang keras dan datar.
Tapi di kursi IGD jam dua pagi, dengan jari-jari dingin di genggamannya, ia tidak peduli. Tidak malam ini. Malam ini perempuan ini tidak punya siapa-siapa lagi. Kakaknya sudah dikubur. Ibunya pergi dua puluh tahun lalu dan tidak pernah pulang. Neneknya meninggal di masa Covid. Dan ia duduk sepanjang hari di depan kaca ruang bayi, memandangi bayi-bayi orang lain.
Kalau suatu hari aku sama Leknor nggak ada, jagain dia, ya.
“Iya, Kak,” bisik Galih ke tirai hijau. “Aku di sini.”
Ia meletakkan dahinya di tepi ranjang, di sebelah tangan Jenar yang ia genggam, dan untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia memejamkan mata.
Jenar terbangun karena ada yang memegang tangannya.
Hangat. Kuat. Sedikit kasar di bagian dalam jari-jari, seperti tangan orang yang sering memegang sesuatu yang panas.
Ia mengerjap. Cahaya putih. Tirai hijau. Bau karbol. Selang infus yang tergantung dari tiang besi di sebelah kiri, menetes pelan-pelan ke punggung tangannya.
Ia menoleh ke kanan.
Galih tertidur dengan kepala di tepi ranjang. Rambutnya berantakan. Jaketnya yang bau hujan dan sesuatu yang asing, mungkin kabut, mungkin kopi, tersampir di bahunya. Ada bekas tanah merah kering di lutut celananya.
Dan tangannya menggenggam tangan Jenar. Tidak longgar. Erat. Seperti takut ada yang mengambilnya waktu ia tidur.
Jenar tidak bergerak.
Ia memandangi tangan mereka yang bertaut di atas selimut rumah sakit. Ingatannya datang pelan-pelan. Koridor. Kaca. Bayi di inkubator nomor tiga. Langkah sepatu di keramik. Kamu dateng. Aku dateng.
Aku.
Bukan saya.
Ia menarik napas pelan. Galih bergerak sedikit. Kepalanya terangkat. Matanya terbuka, merah dan berat, dan menemukan mata Jenar.
Ia tidak melepaskan tangannya. Belum. Seperti ia lupa ia sedang memegangnya.
“Kamu bangun,” katanya. Suaranya parau.
“Kamu semaleman di sini?”
Galih melihat tangan mereka. Seperti baru sadar. Ia melepaskannya. Pelan. Tidak buru-buru seperti biasanya. Pelan, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Iya,” katanya.
Tirai hijau tersibak.
“Jen, kamu udah...”
Hanif berdiri di ambang tirai. Jas dokter putih di atas kemeja biru. Stetoskop di leher. Ia memegang gelas kertas berisi teh hangat, dan wajahnya lelah dengan cara yang sama seperti semalam sebelumnya.
Ia berhenti. Memandangi Jenar di ranjang. Lalu laki-laki yang duduk di kursi di sebelahnya, dengan tanah di lutut dan rambut berantakan dan tangan yang baru saja, terlalu jelas, melepaskan tangan Jenar.
Galih berdiri. Tidak buru-buru.
Mereka berdua saling pandang di atas ranjang IGD. Tinggi mereka hampir sama. Hanif lebih kurus, lebih pucat, dengan kacamata berbingkai tipis. Galih lebih lebar, lebih gelap, dengan mata merah dan rahang yang tiba-tiba mengeras.
“Dan kamu,” kata Hanif pelan, “siapa?”
Jenar memandangi mereka bergantian. Ia merasakan sesuatu di udara. Tebal. Tidak enak. Seperti udara sebelum hujan deras.
“Ini,” katanya cepat, “adiknya Kak Astri. Galih.”
Hanif mengangguk pelan. Ekspresinya melunak sedikit. “Oh. Aku turut berduka. Aku...” Ia berhenti. “Aku yang tangani bayinya. Aku minta maaf.”
Galih tidak menjawab. Ia memandangi Hanif dengan wajah yang Jenar tidak bisa baca.
“Dan ini,” lanjut Jenar, “Kak Hanif. Kakaknya Hana.”
Kalimat itu mendarat di wajah Galih seperti tamparan.
Jenar melihatnya. Hanya sesaat. Rahangnya yang mengeras. Tangannya yang mengepal di sisi tubuh. Matanya yang berpindah dari Hanif ke Jenar, lalu kembali ke Hanif, dengan cepat, seperti orang yang baru menemukan potongan puzzle dan tidak suka gambarnya.
Kakaknya Hana.
Galih mengulurkan tangan. Sopan. Datar.
“Galih,” katanya. “Makasih udah coba nyelametin keponakan saya.”
Saya.
Hanif menjabatnya. Jabatan tangan itu terlalu lama dan terlalu kuat, dari kedua belah pihak. Jenar tidak tahu kenapa. Ia hanya tahu, waktu mereka akhirnya melepaskan tangan masing-masing, ada sesuatu di ruang kecil bersekat tirai hijau itu yang tidak lagi sama.
“Aku cek infusnya dulu,” kata Hanif, beralih ke tiang besi.
“Saya keluar dulu,” kata Galih. “Cari kopi.”
Ia menyibak tirai dan pergi.
Jenar memandangi tirai hijau yang masih bergoyang. Di punggung tangan kanannya, di tempat yang tadi digenggam, hangatnya belum hilang.
Seminggu kemudian
Kantor notaris itu ada di lantai empat sebuah gedung di Kuningan, dan AC-nya terlalu dingin.
Ruangannya kecil. Rak buku kayu penuh map-map tebal. Meja besar dari kayu jati. Seorang perempuan setengah baya berkacamata duduk di belakangnya. Ibu Ratna Sulistyowati, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan, menurut papan nama kuningan di mejanya. Rambutnya disanggul rapi. Suaranya pelan dan jelas.
Di depan meja itu, dua kursi. Berdampingan.
Jenar duduk di kursi kiri. Kemeja putih. Rok hitam. Liontin di balik kerah, seperti biasa. Kantung matanya gelap. Ia sudah makan seminggu ini karena Hana memaksanya, tapi ia belum tidur lebih dari empat jam semalam.
Galih duduk di kursi kanan. Kemeja hitam. Celana bahan abu-abu. Sama seperti di Casa Lidia. Ia tidak menoleh ke kiri. Tidak sekali pun sejak ia masuk ruangan.
Sejak pagi di IGD, mereka belum bicara lagi. Galih mengantar Jenar pulang ke apartemennya dari Purwakarta dengan mobil Fadlan, tiga jam di jalan tol yang sama, melewati kilometer sembilan puluh tujuh yang pembatas jalannya masih rusak dan dipasangi garis polisi kuning. Mereka tidak bicara sepanjang jalan. Jenar tertidur di kursi penumpang. Waktu ia bangun di depan gedung apartemennya, jaket Galih yang bau Kona menyelimutinya.
Ia mengembalikannya dengan kedua tangan, terlipat rapi. Seperti selimut hotel dulu.
Galih menerimanya tanpa berkata apa-apa.
Sekarang mereka duduk berdampingan di kantor notaris, dan Ibu Ratna membuka map merah tebal di atas meja.
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Saya turut berduka sedalam-dalamnya. Almarhum Pak Leknor dan almarhumah Bu Astri adalah klien saya. Mereka datang ke sini empat bulan lalu, tidak lama setelah tahu Bu Astri hamil, untuk membuat surat wasiat.”
Jenar merasakan jantungnya berdebar. Empat bulan lalu. Sekitar waktu ia dan Galih merakit boks bayi di kamar hijau pupus.
“Mereka meminta saya membacakan wasiat ini hanya di hadapan kalian berdua,” lanjut Ibu Ratna. “Bersama-sama. Bukan terpisah.”
Galih bergerak sedikit di kursinya. Jenar tidak menoleh.
“Wasiat ini memuat beberapa skenario,” kata Ibu Ratna sambil membalik halaman. “Salah satunya untuk keadaan apabila almarhum dan almarhumah meninggal dunia bersamaan, dan anak mereka tidak ada. Saya harus jujur, waktu itu Bu Astri tertawa waktu kami membuat klausul ini. Katanya, itu nggak bakal kejadian, Bu, tapi tulis aja, biar lengkap.”
Ibu Ratna berhenti. Melepas kacamata. Menghapus sesuatu di sudut matanya dengan tisu. Lalu memakai kacamatanya lagi.
“Maaf. Saya lanjutkan.”
Ia membaca.
Biro arsitek Leknor, dengan seluruh sahamnya, diwariskan kepada Jenar Masayu. Tabungan dan aset lain almarhumah dibagi sesuai hukum yang berlaku kepada keluarga almarhumah, dengan sebagian untuk yayasan atlet voli putri di Garut. Kebun kecil milik keluarga Pratama di Garut kembali kepada Galih Pratama.
Jenar mendengarkan dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Kata-kata itu terasa jauh. Seperti daftar belanja yang dibacakan di ruangan lain.
“Dan yang terakhir,” kata Ibu Ratna. “Rumah di Jalan Kenanga nomor dua belas, Cilandak.”
Rumah Leknor. Rumah tempat Jenar tumbuh besar. Rumah dengan pohon mangga di halaman belakang dan kamar nenek yang sekarang berwarna hijau pupus.
“Rumah beserta seluruh isinya diwariskan kepada Saudari Jenar Masayu dan Saudara Galih Pratama. Bersama-sama. Atas nama berdua.”
Jenar mengangkat kepala.
“Dengan satu syarat,” lanjut Ibu Ratna. Ia berhenti, dan memandangi mereka berdua lewat kacamatanya. Lama. Seperti ingin memastikan mereka mendengarkan. “Saudari Jenar dan Saudara Galih wajib menempati rumah tersebut bersama-sama, sebagai tempat tinggal utama, selama satu tahun terhitung sejak wasiat ini dibacakan. Selama masa itu, masing-masing tidak diperkenankan meninggalkan rumah tersebut lebih dari tujuh malam berturut-turut.”
Keheningan.
AC berdengung. Di luar jendela, dari lantai empat, suara klakson dan sirene ambulans yang jauh.
“Apabila syarat ini dilanggar oleh salah satu pihak,” kata Ibu Ratna, “rumah tersebut akan dijual, dan seluruh hasil penjualannya disumbangkan kepada yayasan yang sudah ditunjuk dalam lampiran. Kedua ahli waris tidak akan menerima bagian apa pun dari rumah itu.”
Jenar tidak bisa bernapas.
Ia merasakan kepalanya menoleh ke kanan. Pelan. Tanpa izinnya.
Galih juga menoleh ke kiri.
Untuk pertama kalinya sejak IGD, untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di dua kursi berdampingan ini, mata mereka bertemu.
Wajah Galih tidak datar. Tidak di detik itu. Wajahnya terbuka dan kaget dan panik, sama persis dengan wajah yang ia tunjukkan di Casa Lidia waktu Leknor bilang kami mau nikah. Dan Jenar tahu wajahnya sendiri pasti terlihat sama.
Satu tahun. Di rumah yang sama. Berdua.
Tidak boleh pergi lebih dari tujuh malam.
“Ini...” Suara Galih serak. Ia berdehem. “Ini beneran, Bu? Ini sah?”
“Sah secara hukum,” kata Ibu Ratna. “Saya sudah memastikannya waktu itu. Kalian berdua tentu berhak menolak warisan ini. Tapi kalau menolak, konsekuensinya sama seperti melanggar syarat. Rumah dijual. Disumbangkan.”
“Kenapa?” tanya Jenar. Suaranya kecil. “Kenapa mereka bikin syarat kayak gitu?”
Ibu Ratna memandanginya dengan tatapan yang tiba-tiba sangat lembut.
“Saya juga menanyakan itu waktu itu,” katanya. “Pak Leknor kelihatan bingung. Katanya itu ide istrinya. Bu Astri cuma tertawa dan bilang, Biar mereka akur, Bu. Adik-adik kami ini kayak kucing sama anjing. Kalau kami nggak ada, siapa yang bikin mereka ngobrol?”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
Kalian berdua kayak dua orang yang lagi nahan napas di dalem air.
Di sebelahnya, Galih menunduk. Kedua tangannya mengepal di atas lutut. Jenar melihat buku-buku jarinya memutih.
“Saya akan memberi kalian waktu untuk memikirkannya,” kata Ibu Ratna, menutup map merah itu. “Kalau kalian menerima, masa satu tahun dimulai hari ini. Saya akan melakukan pemeriksaan berkala sesuai yang diminta dalam wasiat.”
Ia berdiri. Menyalami mereka satu per satu. Tangannya hangat. Lalu ia keluar dari ruangan, meninggalkan mereka berdua di depan meja kayu jati yang besar, di bawah AC yang terlalu dingin.
Tidak ada yang bicara.
Jenar memandangi map merah di atas meja. Di bawahnya, samar, ia bisa melihat tanda tangan di halaman terakhir yang sedikit terbuka. Tanda tangan Leknor, tegak dan rapi seperti tulisannya di gambar kerja. Tanda tangan Astri, bulat dan besar dan sedikit miring, dengan lingkaran kecil di atas huruf i, seperti yang selalu ia tulis di kartu ucapan ulang tahun.
Satu tahun.
Ia bisa menolak. Ia bisa berdiri sekarang, keluar dari ruangan ini, dan tidak pernah melihat Galih lagi. Rumah itu akan dijual. Pohon mangga. Kamar nenek. Kamar hijau pupus dengan boks bayi dari kayu jati yang tidak pernah dipakai. Semuanya akan jadi milik orang lain.
Ia bisa menolak.
Di sebelahnya, Galih mengeluarkan dompet dari saku belakang. Jenar tidak tahu kenapa. Ia membukanya, lalu diam. Memandangi sesuatu di dalamnya. Jenar tidak bisa melihat apa. Sesuatu yang terlipat, di balik KTP.
Lalu ia menutup dompetnya dan memasukkannya kembali.
“Aku terima,” kata Galih.
Jenar menoleh.
Galih tidak memandanginya. Ia memandangi map merah di atas meja, tanda tangan kakaknya yang bulat dan miring.
“Aku nggak bisa biarin rumah itu dijual,” katanya pelan. “Itu rumah Kak Astri. Itu kamar Jihan.”
Jenar memandangi sisi wajahnya. Rahang yang mengeras. Mata yang merah lagi.
Aku. Bukan saya.
Tiga huruf. Lagi.
“Aku juga,” kata Jenar. “Aku terima.”
Galih mengangguk sekali. Tidak menoleh.
Mereka duduk berdampingan di depan meja notaris, di bawah AC yang terlalu dingin, dengan jarak satu jengkal di antara lengan kursi mereka. Jenar mengukurnya dengan seluruh kesadarannya. Sama seperti di dermaga hutan bakau, sebelas bulan yang lalu.
Hanya saja kali ini, tidak ada yang bisa pergi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!