Kipas angin kecil berputar ke kiri dan ke kanan, menghasilkan bunyi berderit yang konstan. Udara panas Bekasi pada awal tahun keempat pelariannya tidak bisa diusir hanya dengan baling-baling plastik berdebu. Kala duduk bersila di atas tikar pandan yang menutupi lantai semen kamarnya. Punggungnya bersandar pada dinding yang cat putihnya sudah banyak mengelupas.
Di depannya tergeletak sebuah buku tulis bersampul biru tebal dan sebuah pena tinta hitam. Buku itu dia beli seharga belasan ribu di warung kelontong sebelah gang pagi tadi. Kala membuka halaman pertama yang masih kosong. Dia melepaskan tutup pena, memutarnya di sela jari, lalu menempelkan ujung tintanya ke atas kertas.
Dia menulis satu kata di baris paling atas. Ludira.
Matanya menatap kata itu selama beberapa detik. Pikirannya melayang kembali ke jalanan berdebu pesisir utara Semarang beberapa bulan lalu. Dia mengingat sebuah kompleks pergudangan besar dengan gerbang besi lebar yang terbuka penuh. Papan nama PT Ekspedisi Mahesa dengan logo kepala kerbau merah berdiri tegak di sana.
Kelompok Mahesa dulunya adalah penguasa jalur penyelundupan barang ilegal via laut. Mereka bekerja dalam bayangan, menyogok petugas, dan membongkar muat barang di pelabuhan tikus saat tengah malam. Namun, hari itu Kala melihat mereka beroperasi di bawah sinar matahari secara terang-terangan. Mantan preman pelabuhan itu kini mengenakan kemeja seragam berlogo perusahaan, memegang papan jalan berisi daftar manifes barang, dan mengatur lalu lintas truk kontainer. Mereka berubah dari kelompok kriminal bawah tanah menjadi perusahaan logistik resmi yang sah di mata hukum.
Kala menekan ujung penanya kembali ke kertas. Dia mulai menuliskan poin-poin panjang. Ini bukan ide baru yang tiba-tiba muncul setelah dia makan siang di warung soto. Rencana yang sedang dia tuliskan ini adalah cetak biru lama. Sebuah dokumen usang yang saat ini pasti masih tersimpan rapi di dalam laci meja kerja Kirana di rumah utama.
Tangan Kala bergerak lancar di atas kertas. Dia menyusun ulang ingatan tentang proposal yang pernah dia ajukan bertahun-tahun lalu.
Saat itu, dia berdiri di ruang kerja ayahnya. Danar duduk di kursi roda dengan selimut menutupi kedua kakinya yang lumpuh. Kala menyodorkan map berisi rencana untuk mengubah prioritas operasi Ludira. Dia mengusulkan agar mereka mulai mengambil misi-misi yang memiliki nilai moral atau perlahan beralih ke jalur legal, meninggalkan pembunuhan bayaran yang tidak jelas alasannya.
Danar membaca dokumen itu dalam diam. Bunyi detak jam dinding kayu terdengar mengisi keheningan ruangan. Setelah selesai membaca, Danar meletakkan map itu di atas meja. Ayahnya menolak usulan tersebut dengan alasan yang sangat ringkas. Danar menyebut ide Kala terlalu sentimental dan tidak masuk akal untuk diterapkan pada Ludira yang sumber dana terbesarnya berasal dari sektor bawah tanah.
Kala mengingat rasa kecewa yang menyergap dadanya saat itu. Dia berbalik pergi menuju pintu. Namun, tepat sebelum dia melangkah keluar, dia menoleh sekilas ke belakang. Dia melihat Danar sedang memasukkan salinan dokumen itu ke dalam laci mejanya. Wajah ayahnya yang lelah memancarkan sorot mata yang berbeda. Di balik penolakan tegas seorang pemimpin klan, ada segaris kebanggaan diam-diam dari seorang ayah yang melihat anak bungsunya mampu berpikir jauh melampaui usianya. Danar tahu rencana itu bagus, dia hanya merasa waktunya belum tepat dan risikonya terlalu besar untuk ditanggung oleh klan saat itu.
Kala mengusap wajahnya dengan telapak tangan kiri, mengusir ingatan masa lalu itu dari kepalanya. Dia kembali fokus pada buku tulis di pangkuannya.
Proposal lamanya gagal karena satu alasan mendasar. Rencana itu memang kurang matang secara praktik dan kekurangan pijakan administratif yang kuat. Dia mengusulkan perubahan, tapi dia tidak menyertakan cara bagaimana menjalankan mesin perusahaan legal tersebut.
Kala mencoret beberapa baris kalimat yang baru saja dia tulis. Tinta hitam mengotori kertas. Selama tiga tahun pelariannya, dia melihat langsung bagaimana dunia bekerja di jalanan. Dia melihat eksekutor kelas teri yang mati konyol demi uang, dia melihat kelompok kriminal yang hancur karena pengkhianatan internal, dan dia melihat kelompok Mahesa yang berhasil bertahan karena mereka beradaptasi menjadi entitas legal.
Dia mulai menulis skema baru. Restrukturisasi sumber daya manusia. Wana dan orang-orangnya tidak bisa lagi hanya menjadi penindak yang menarik pelatuk di gang buntu. Mereka memiliki keterampilan taktis tingkat tinggi. Kemampuan itu bisa dialihkan menjadi jasa pengawalan swasta eksklusif, kontraktor militer privat, atau konsultan keamanan perusahaan multinasional. Bayaran dari perusahaan resmi untuk jasa pengamanan VIP jauh lebih besar dan lebih bersih dibandingkan uang darah dari forum bawah tanah.
Kala menulis nama Kirana di bawah nama Wana. Kakak perempuannya itu memiliki jaringan informasi yang sangat luas dan kemampuan analisis yang tajam. Operasi intelijen Kirana bisa diubah menjadi firma investigasi korporat. Banyak perusahaan besar yang bersedia membayar mahal untuk menyelidiki latar belakang calon mitra bisnis mereka atau mencari tahu letak kebocoran data internal perusahaan.
Tangan Kala berhenti bergerak saat dia harus menuliskan namanya sendiri.
Apa perannya dalam skema ini. Dia ahli sejarah, bukan ahli akunting. Dia bisa merakit dan membongkar senjata api dengan cepat, tapi dia tidak tahu cara mengurus perizinan pendirian perseroan terbatas di kantor notaris.
Pintu kontrakannya diketuk dari luar dengan ritme cepat.
Kala meletakkan pena dan buku tulisnya. Dia berdiri, berjalan tanpa suara menuju pintu. Dia tidak mengambil senjata dari dalam tasnya. Lingkungan ini bukan tempat operasi musuh-musuhnya.
Kala membuka gerendel besi dan menarik pintu ke dalam.
Di luar berdiri seorang pemuda kurus bernama Ujang, tetangga dari kontrakan sebelah. Ujang memakai kaos partai yang warnanya sudah pudar dan celana pendek selutut. Tangan kanannya memegang sebuah penanak nasi listrik berwarna putih yang penutup atasnya setengah terbuka.
“Maaf ganggu, Mas Gilang,” sapa Ujang menyebut nama palsu Kala. “Mas ngerti cara benerin ini tidak. Tombolnya nyangkut, tidak mau turun ke mode masak. Dari tadi saya tekan paksa malah makin keras.”
Kala menatap wajah Ujang sejenak, lalu memindahkan pandangannya menatap penanak nasi tersebut.
Dia mengulurkan tangan mengambil alat elektronik itu dari tangan Ujang. Kala memperhatikan tombol plastik persegi panjang di bagian depan. Dia meraba bagian engsel penutup atas, lalu menekan sisi luar penanak nasi itu dengan pangkal telapak tangannya satu kali. Pukulannya tidak terlalu kuat, tapi cukup menggetarkan bodi plastik tersebut.
Kala menekan tombol memasak ke bawah. Terdengar bunyi klik yang pas. Tombol itu tertahan di posisi bawah sebagaimana mestinya.
“Per pelatuk di dalamnya bergeser dari jalurnya,” kata Kala datar. Dia menyerahkan penanak nasi itu kembali kepada Ujang. “Sudah bisa.”
Ujang menerima barangnya dengan mata berbinar. “Wah, sakti Mas Gilang. Makasih banyak, Mas. Padahal saya sudah mau bongkar pakai obeng tadi.”
“Jangan dibongkar kalau tidak tahu letak sekrupnya,” jawab Kala.
“Siap, Mas. Saya balik dulu, berasnya sudah direndam dari tadi.” Ujang mengangguk hormat dan berjalan cepat kembali ke kamarnya.
Kala menutup pintu, mengunci gerendelnya kembali. Dia berjalan ke arah tikar pandan dan duduk bersila di posisinya semula. Kejadian singkat barusan menjawab pertanyaannya yang sempat tertunda.
Dia mengambil pena dan kembali menulis di bawah namanya sendiri.
Perannya bukan untuk mengurus setoran pajak atau menyusun draf laporan keuangan tahunan. Perannya adalah memukul bagian samping mesin yang macet agar per pelatuk di dalamnya kembali ke jalur yang benar. Dia adalah orang yang melihat gambaran utuh, mengidentifikasi bagian mana yang rusak dari sistem Ludira, dan memberikan dorongan di tempat yang tepat agar semuanya berjalan sesuai fungsinya. Ayahnya tidak salah menunjuknya sebagai pemimpin klan. Namanya Kala Anikait, penguasa waktu. Dia yang akan menentukan kapan waktu bagi Ludira untuk bergerak maju dan mengubah wajah mereka secara menyeluruh.
Kala membalik halaman buku tulis tersebut. Halaman kedua dia isi dengan identifikasi aset. Bisnis properti, rumah sakit, dan perusahaan ekspor impor yang saat ini hanya berjalan sebagai kamuflase harus diubah menjadi pilar utama pendapatan riil.
Dia terus menulis tanpa henti. Udara panas di dalam kamar membuat peluh mengalir dari pelipisnya, membasahi kerah kaos hitam yang dia kenakan. Kipas angin terus berderit menemaninya bekerja. Suara anak-anak yang bermain lari-larian di gang depan perlahan tergantikan oleh suara azan magrib dari pengeras suara masjid terdekat.
Tangan Kala mulai terasa kram. Dia meletakkan pena dan memijat pangkal ibu jarinya perlahan. Enam halaman buku tulis biru itu sudah penuh dengan tulisan tangannya. Dia merinci manajemen risiko, struktur komando masa transisi, dan tenggat waktu pembersihan operasi hitam dari jadwal mereka.
Ini adalah proposal yang jauh lebih matang. Lebih realistis dan berdasar daripada dokumen emosional yang dia ajukan kepada ayahnya bertahun-tahun lalu. Tiga tahun hidup di jalanan, melihat langsung dari dekat bagaimana berbagai kelompok bertahan hidup atau hancur, memberikan Kala wawasan praktis yang tidak pernah dia dapatkan selama berdiam di dalam rumah utama.
Kala menutup buku tulis tersebut. Jarinya mengusap permukaan sampul depannya yang tebal.
Rencana ini tidak akan dia kirimkan kepada Kirana atau Wana sekarang. Ini bukan waktunya. Dia belum selesai dengan pelariannya. Dia masih butuh waktu untuk menuntaskan luka batin yang masih sering berdenyut tanpa peringatan. Proposal ini adalah fondasi yang dia persiapkan diam-diam untuk masa depan, sebuah panduan langkah yang akan dia gunakan saat dia sudah siap untuk pulang dan mengambil alih takhta yang ditinggalkan oleh Danar.
Kala berdiri, membawa buku tulis dan pena itu ke arah tas kanvas hitamnya di sudut ruangan. Dia menarik resleting tas, menyisipkan buku biru tersebut ke bagian paling bawah, tepat di sebelah harnes kulit dan pistol semiotomatisnya. Dua benda yang sifatnya sangat bertolak belakang itu kini berbaring berdampingan dalam gelap. Senjata untuk menghabisi musuh di masa lalu, dan buku catatan untuk membangun masa depan keluarganya.
Kala mencuci tangannya di kamar mandi, lalu mengambil dompet kulit dari meja. Udara malam mulai turun membawa sedikit kesejukan ke dalam ruangan. Perutnya menuntut asupan energi setelah berjam-jam berkonsentrasi. Dia keluar dari kamar kontrakan, berjalan menyusuri gang menuju jalan raya yang ramai.
Deretan penjual makanan kaki lima mulai menggelar tenda di trotoar. Asap dari panggangan sate mengepul ke udara, berbaur dengan aroma wangi nasi uduk dari gerobak kayu di sebelahnya. Kala duduk di bangku plastik milik penjual nasi uduk. Dia memesan satu porsi dengan lauk ayam goreng dan tempe orek.
Sambil menunggu piringnya disiapkan, Kala memperhatikan para pedagang tersebut. Mereka melayani pembeli dengan sigap, menghitung uang kembalian receh, dan membersihkan piring kotor dari meja. Mereka bekerja mencari uang dengan cara yang melelahkan namun damai. Mereka tidak perlu memeriksa area sekitar sebelum duduk makan, tidak perlu menyembunyikan senjata di balik pakaian, dan tidak perlu memblokir jalur komunikasi dengan keluarga karena takut membawa bahaya.
Dunia yang normal ini berjalan setiap hari tepat di luar pagar tinggi rumah utama Ludira. Kala dulu menganggap dunia ini tidak mungkin dia sentuh apalagi dia masuki. Kini, dia menyadari bahwa dunia normal ini nyata dan bisa diakses, asalkan seseorang memiliki cetak biru yang matang dan kemauan keras untuk membongkar fondasi berdarah yang sudah menopang bisnis keluarga mereka selama beberapa generasi.
Piring nasi uduk diletakkan di atas meja tepat di depannya. Kala mengangguk pada penjualnya. Dia mengambil sendok, menyingkirkan irisan mentimun ke tepi piring, dan mulai menyuap makanannya. Di kepalanya, poin-poin dari proposal buku biru itu terus menyusun diri menjadi satu bentuk rencana utuh yang semakin solid dan nyata.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!