Asap mengepul dari piring besi panas yang menyajikan olahan cumi saus padang di tengah meja. Aroma bumbu rempah bercampur dengan asinnya udara laut di sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kelapa. Kala menatap wajah cantik yang ada di depannya itu. Wajah yang mencoba menawannya selama beberapa hari belakangan ini.
Wanita itu tersenyum lebar, menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kayu. Dia menatap wajah tampan di depannya, dengan sorot mata yang menyiratkan keyakinan bahwa pria di seberangnya itu pasti terpesona dengan kecantikannya.
“Aku tahu, aku cantik,” kata Bianca, memecah keheningan di antara suara denting sendok pengunjung lain.
Kala menghentikan gerakannya memotong daging cumi. Dia mendengus pelan, menahan tawa melihat tingkat percaya diri Bianca yang jelas berada di atas rata-rata itu. Dia meletakkan garpunya di tepi piring.
“Kamu memang cantik,” jawab Kala menyetujui pernyataan itu dengan nada datar.
“Wanita tercantik?” selidik Bianca menuntut pengakuan lebih.
Kala tercenung mendengarnya. Tatapannya beralih pada lampu jalanan yang berpendar kuning di luar jendela restoran. Bukan, Bianca bukan wanita tercantik yang pernah dia temukan. Ingatannya langsung memunculkan wajah Kirana, kakak keduanya yang sangat cantik, yang mampu membunuh siapa saja yang ada di hadapannya dengan daya tarik tersebut. Lalu, ada Samantha. Mengingat nama Sam, membuat dada kiri Kala berdenyut perih.
Kala tidak menjawab pertanyaan itu. Diamnya memberikan arti yang cukup jelas.
“Berarti, aku bukan yang tercantik,” kata Bianca. Dia merengut, melipat kedua lengannya di dada, berpura-pura kesal dengan jawaban yang menggantung itu.
Kala tertawa pelan. Dia tahu Bianca hanya berpura-pura ngambek untuk mencari perhatian.
“Kamu cantik, itu cukup, kan?” Kala mengulurkan tangannya di atas meja, mengelus punggung tangan Bianca sekilas.
“Baiklah, Tuan. Untuk saat ini, cukup,” kata wanita itu mengalah, kembali menyunggingkan senyum kemenangan.
Dering ponsel dari saku celana kargo Kala memecah suasana santai itu. Kala menarik tangannya. Dia merogoh sakunya dan melihat nama Wana tertera di layar.
“Aku angkat telepon ini dulu,” kata Kala seraya mendorong kursinya mundur dan berjalan menjauh menuju area kasir yang lebih sepi.
Dia menggeser layar hijau. “Ada apa?” tanya Kala. Dia selalu merasa waswas setiap kali kakak laki-lakinya itu menghubunginya secara mendadak. Panggilan dari Wana biasanya berarti satu hal, dan itu jarang berupa kabar baik.
“Nanti malam, temui aku di tempat biasa,” suara Wana terdengar berat dan penuh tekanan di seberang saluran.
Kala menutup mata sesaat. Napasnya tertahan. Jika Wana sudah berkata dengan nada seperti itu, hatinya makin gelisah. Ini adalah pola yang sama. Pola yang selalu berulang setiap kali dia mulai dekat dengan seorang wanita pada masa pelariannya ini.
Kala memutus sambungan tanpa memberikan jawaban. Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku dan berjalan kembali ke mejanya. Bianca sedang menyesap es teh leci, menatapnya dengan penuh harap. Pendekatannya selama ini selalu dilakukan di ruang publik atau acara makan malam, wanita itu tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah atau kamar kontrakan Kala.
“Maaf menunggu. Ada urusan yang harus kuselesaikan,” kata Kala saat dia berdiri di samping meja.
Bianca meletakkan gelasnya. Dia tersenyum, kemudian mengangguk maklum.
“Apa kamu ingat, pertemuan pertama kita?” tanya Kala tiba-tiba.
Bianca terenyak di kursinya, mencoba mengingat kembali hari saat mereka pertama kali bertemu.
“Kamu menjatuhkan tasmu, lalu seolah aku yang menabrakmu,” kata Kala mengingatkan skenario klise tersebut. Kata-katanya membuat Bianca salah tingkah dan tersipu malu.
“Aku tidak berani mengajakmu kenalan secara langsung,” tutur Bianca sambil menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan, berpura-pura tersipu.
Kala menyunggingkan senyum miris. Otaknya berputar, apakah ini akan berakhir persis seperti kejadian-kejadian sebelumnya?
“Aku harus pergi,” kata Kala memotong sandiwara tersebut.
“Baiklah, asal kamu tidak menemui wanita lain saja,” sungut Bianca memperlihatkan raut wajah cemberut yang dibuat-buat.
Kala tertawa hambar. Dia memang akan menemui wanita lain, itu sudah pasti. Wanita yang sangat menakutkan. Membayangkan Kirana dalam mode interogasi saja sudah membuat Kala bergidik ngeri. Dia meletakkan selembar uang seratus ribu di bawah gelasnya, berbalik, dan melangkah keluar dari restoran boga bahari tersebut meninggalkan Bianca.
Kala menyetir jeep hitamnya membelah jalanan malam Jakarta. Dia mengarahkan kendaraannya menuju sebuah bangunan pabrik terbengkalai di pinggiran kota. Reruntuhan beton dan besi berkarat itu selalu menjadi tempat pertemuan rahasianya dengan Wana, dan tentu saja Kirana.
Sorot lampu mobilnya menembus kegelapan, menyorot pilar-pilar beton yang ditumbuhi tanaman rambat liar. Kala mematikan mesin. Dia turun dari mobil, melangkah di atas pecahan kerikil dan puing bangunan.
“Tepat waktu,” suara Wana memecah kesunyian, terdengar dari sudut kegelapan yang menelan keberadaan Kala.
“Kapan aku ingkar soal waktu?” ralat Kala, merasa tidak suka dengan sindiran tersebut.
“Sejak kamu mengenal wanita-wanita itu,” bantah Wana melangkah keluar dari bayangan pilar beton.
Kala mengabaikan ocehan kakaknya itu. Dia berjalan berlalu menuju sebuah ruangan terbuka tanpa atap di bagian tengah pabrik. Di sana, Kirana sudah duduk dengan anggun di atas sebuah blok beton bekas mesin. Dia mengenakan setelan celana kain hitam dan kemeja sutra putih yang tampak sangat salah tempat di tengah reruntuhan kotor ini. Jika saja Kala bukanlah adik kandungnya, sudah pasti dia akan jatuh cinta dengan pesona wanita itu.
“Kali ini, apa?” tanya Kala tanpa berbasa-basi. Dia berdiri dua meter di hadapan kakaknya.
Kirana mengangkat tangannya, melempar sebuah amplop cokelat berstempel logo Ludira ke arah Kala. Gambar tetesan darah merah tercetak jelas di sudut amplop itu. Jantung Kala selalu berdentang lebih kencang jika mendapati logo itu ada di setiap benda yang disodorkan kepadanya.
Kala menangkap amplop tersebut di udara.
“Aku tahu, hatimu sudah siap. Ini sudah yang kesekian dari banyaknya kejadian,” kata Kirana datar. Bukan karena dia tidak bersimpati dengan perasaan Kala, melainkan agar adiknya itu menyadari situasi nyata yang sedang dia hadapi.
Kala menghirup udara dalam-dalam, berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen kotor pabrik itu. Dia sebisa mungkin menghalau setiap dentuman di dadanya. Dia tak ingin ketakutan yang merayap sejak dia menerima telepon dari Wana tadi siang berubah menjadi nyata.
Dengan gerakan pelan, Kala menarik surat yang ada di dalam amplop itu. Dia mengeluarkan kertasnya perlahan agar hatinya benar-benar siap saat membacanya. Matanya menyapu barisan kalimat yang dicetak rapi. Matanya tidak membelalak terkejut, tapi hatinya meluruh. Jantungnya berdetak lebih cepat seiring dengan setiap fakta yang dia baca. Rangkuman profil lengkap, afiliasi kelompok, dan riwayat pelatihan tempur. Semuanya tercatat di sana.
Wana melangkah mendekat. Dia menepuk pundak Kala pelan. Kakak sulungnya itu memberikan dukungan mental yang sepertinya sangat diperlukan oleh Kala saat ini.
“Maaf, aku hanya ingin memastikan bahwa dia bersih. Tapi sepertinya keinginan kita tak akan pernah sama seperti kenyataannya. Mungkin, saat ini, kamu harus merelakan semua ini,” kata Kirana dengan suara sendu. Wajah cantiknya berubah muram, menunjukkan rasa iba terhadap situasi yang berulang kali dihadapi oleh adiknya itu.
“Lalu, apakah kita memang akan ditakdirkan seperti ini?” Kala melempar eleginya ke udara kosong.
“Mungkin kita akan menemukannya nanti, cinta yang bisa membuat kita sadar, dan cinta yang menyadari siapa kita. Tanpa ancaman, tanpa kematian,” jawab Wana, yang justru membuat suasana malam itu semakin terasa miris.
“Kita hanya bisa menerima takdir, hanya bisa menikmatinya. Kapan ini akan berakhir dengan bahagia,” timpal Kirana sambil menatap sepatu botnya sendiri.
“Kebahagiaan, hanya sebatas ilusi,” desis Kala meremas kertas laporan di tangannya.
Kirana tertawa getir mendengarnya. Ucapan Kala memang benar. Mereka hidup dalam ilusi yang diciptakan oleh lingkaran dunia tempat mereka berada sekarang. Lingkaran yang telah mengelilingi mereka sejak hari pertama mereka dilahirkan. Lingkaran berdarah yang bernama klan Ludira.
Kala berjalan kembali ke arah jeep hitamnya. Dia menyusuri jalanan aspal yang lengang. Dia mengirimkan pesan singkat pada Bianca untuk menemuinya di sebuah taman sepi di pinggir pantai. Hatinya berserakan. Apa lagi yang bisa dia harapkan, padahal dia sudah tahu dari awal bahwa ini adalah salah satu risiko dari pelariannya.
Kala memarkir mobilnya di area kerikil. Dia melangkah menuju deretan bangku kayu yang menghadap ke laut gelap. Angin malam bertiup kencang membawa aroma garam yang pekat. Bianca sudah duduk di sana, memakai kardigan tipis untuk menahan dingin. Wanita itu tersenyum lebar saat melihat bayangan Kala mendekat. Dia membentangkan kedua tangannya, mengharapkan pelukan hangat seperti yang biasa dilakukan pasangan yang bertemu di malam hari.
Namun, Kala bergeming. Dia berdiri satu meter dari bangku kayu tersebut, membuat Bianca heran. Biasanya Kala akan membalas senyumnya, setidaknya memberikan sapaan hangat. Perasaan Bianca mendadak tidak enak saat melihat tatapan Kala yang berubah sendu di bawah cahaya lampu taman.
Seketika itu juga Bianca berubah menjadi waspada. Namun, seperti wanita eksekutor lainnya, dia telah lengah. Selama ini dia merasa Kala mudah berada di bawah pengaruhnya dan menikmati setiap intensitas kedekatan mereka. Dia melepaskan semua pertahanan karena merasa yakin Kala tidak akan pernah mengetahui kedoknya. Pendekatan di ruang publik telah membuatnya terlalu percaya diri.
“Ada yang ingin kamu jelaskan?” tanya Kala datar.
Bianca menegakkan punggungnya. Dia bersandar pada bilah kayu bangku, mencoba bertahan dari tekanan yang mendadak muncul.
“Tentang?” dia balik bertanya, mengulur waktu. Kala mengembuskan napasnya dengan kasar.
“Siapa yang mengirimmu?” desak Kala, mencoba menahan diri agar tangannya tidak langsung menarik pelatuk.
Bianca sadar bahwa kalau situasinya sudah seperti ini, tidak ada lagi gunanya berpura-pura. Kala pasti hanya butuh validasi langsung dari mulutnya untuk meyakinkan diri. Bianca lupa bahwa Kala adalah musuh yang sangat tangguh. Semua eksekutor yang dikirim untuk menghabisi pemuda itu selalu berakhir menjadi berita duka di forum bawah tanah.
“Garuda, jika kamu tahu siapa mereka,” gumam Bianca lirih.
Kala mengernyitkan dahinya. Kelompok itu lagi.
“Kami hanya beroperasi dalam lingkup kecil. Sebenarnya kamu bukan target utama, kami hanya ingin kamu menjadi saksi bahwa kami ada,” papar Bianca memberikan alasan yang terdengar konyol.
Kala mendesah. Apa mereka semua ini bodoh?
“Ya, katakan saja kami bodoh dengan mendekatimu. Kami mengira, kalian tak akan bisa mencium pergerakan kami,” desis Bianca. Wanita itu kini sepenuhnya berada dalam mode waspada. Tangannya bersiaga di dekat saku kardigannya.
“Seberapa dalam kamu tahu soal kami?” Kala mengajukan pertanyaan yang membuat Bianca kelabakan. Yang dia tahu hanya informasi dangkal bahwa pewaris Ludira ini memiliki kelemahan terhadap perasaan wanita, mudah jatuh hati, dan gampang didekati oleh wanita yang bersikap lembut.
Kala melempar amplop cokelat dari Kirana ke pangkuan Bianca. Bianca menatap benda itu dengan cemas. Dia membuka penutup amplop dan menarik kertas di dalamnya. Setelah membacanya sekilas, Bianca menyadari betapa mengerikannya jaringan intelijen Ludira. Sangat detail dan mendalam, bahkan sampai urusan ukuran bajunya tercetak jelas di kertas itu. Bianca bergidik ngeri membayangkan apa lagi yang tercatat di sana. Silsilahnya dengan kelompok Garuda dijabarkan secara mendalam tanpa ada yang terlewat.
Kala berdiri diam, membiarkan wanita itu memahami posisinya yang sudah hancur sekarang.
“Kamu ingin mengambil senjatamu untuk melindungi diri?” tanya Kala pelan, matanya melirik ke arah saku kardigan Bianca.
Bianca menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak membawa senjata api sedekat itu untuk pertemuan malam di taman.
“Lalu kamu akan diam saja?” lanjut Kala.
Bianca bangkit dari bangku taman. Setidaknya Kala masih memberinya kesempatan untuk melakukan pembelaan diri.
“Apa kamu juga memperlakukan mereka seperti ini?” selidik Bianca yang semakin diserang rasa cemas. Jika ini bukan tabiat asli Kala dalam menghadapi musuh, situasi ini akan menjadi sangat menyakitkan.
Kala menggeleng lemah. Biasanya dia akan langsung mengeksekusi eksekutor di tempat kejadian. Dia jarang memberi kesempatan musuhnya untuk berbincang atau membela diri.
“Lalu kenapa aku berbeda?” tanya Bianca.
“Entahlah, aku hanya berharap kamu akan menyangkal, kemudian membujukku seperti yang mereka lakukan.” Kala menatap mata wanita itu dengan tajam.
“Buat apa? Kematianku sudah di depan mata. Tak perlu lagi mengelak,” sergah Bianca dengan nada pahit. Dia memang sudah siap saat mengambil tugas ini dari tangan ketuanya. Dia sadar akan segala risikonya. Dia bersalah karena tidak melakukan eksekusi saat memiliki kesempatan, dan justru membuang waktu bermain peran di meja makan bersama Kala.
“Kamu menyerah begitu saja?” Kala memiringkan kepalanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa pembunuhan ini harus dilakukan.
“Kita ditakdirkan untuk membunuh atau dibunuh, apalagi yang kusangsikan?” Kata-kata Bianca meluncur begitu saja, membuat bahu Kala menegang. Itu adalah kata-kata yang selalu Kala gumamkan kepada wanita-wanita eksekutor yang dia bunuh sebelum Bianca datang, dan bertahun-tahun setelah Samantha tiada.
“Benar, kita ditakdirkan untuk membunuh atau dibunuh. Lalu kenapa masih percaya cinta dan tak menyadari kesendirian yang seolah adalah harga mati?” ulas Kala. Pertanyaan retorisnya membuat Bianca tercekat di tempatnya berdiri.
Wanita itu tidak pernah membayangkan seorang Kala Anikait akan melontarkan kata yang begitu dalam tentang perasaan dan kesendirian. Sosok yang merupakan pewaris utama dari klan Ludira, klan yang dikenal kejam dan tak pernah meleset dalam menumpahkan darah.
“Lakukan sekarang,” kata Bianca tegas. “Jangan buat jantungku berdetak lebih lama. Lupakan tentang hari-hari kita, tapi ingatlah bahwa aku mengutukmu dengan semua kenangan itu”. Kata-kata Bianca diucapkan tanpa keraguan, lugas menantang nasib.
Kala merogoh bagian belakang pinggangnya, menarik pistol yang sudah terpasang peredam. Dia melangkah maju satu langkah, membidik moncong hitam itu tepat ke dada Bianca.
“Terima kasih. Aku sudah menerima kutukan itu sejak pertama kali peluruku menembus dada seorang wanita cantik. Kamu adalah yang kesekian,” ucap Kala dengan suara yang menyatu dengan embusan angin laut. “Dan kamu bukan yang tercantik. Samantha adalah yang tercantik, dan yang pertama”.
Ucapan terakhir Kala memupuskan segala harapan. Bianca memejamkan matanya, menerima nasib dengan pasrah.
Peluru melesak keluar dari laras seiring jari telunjuk Kala yang menarik pelatuk. Tidak pernah ada suara ledakan yang memekakkan telinga karena Kala tak pernah melepas tabung peredamnya.
Bianca menarik napasnya yang terakhir, tubuhnya terjerembap ke belakang membentur sandaran bangku kayu lalu merosot ke tanah berbatu. Wanita itu mati. Dia tidak pernah sempat mengatakan bahwa sandiwaranya telah pudar, dan dia sungguh jatuh cinta pada Kala. Sebuah cinta yang pada akhirnya memang tidak akan pernah menjadi satu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!