Bab 11

0 dibaca

A

Suara mesin jahit dari rumah sebelah terdengar menembus dinding batako yang tipis. Ritmenya konstan, berpadu dengan suara televisi yang menyiarkan acara kuis tengah hari. Kala menggeser posisi duduknya di atas lantai berlapis karpet vinil bermotif kayu. Ini adalah rumah kontrakan ketiganya dalam enam bulan terakhir. Dia memindahkan lokasinya dari pinggiran Bekasi ke sebuah permukiman padat di perbatasan Tangerang. Kepindahan ini bukan karena ada pihak yang mengendus keberadaannya, melainkan murni untuk mencegah dirinya menetap terlalu lama dan menciptakan pola aktivitas yang bisa ditebak.

Di hadapannya, layar tablet menyala redup. Sebelah kanannya terdapat buku tulis bersampul biru yang halamannya sudah terisi separuh. Kala mengetikkan kata kunci pada kolom pencarian peramban. Undang-undang perseroan terbatas, struktur perusahaan induk, dan regulasi penanaman modal asing. Dia membaca deretan pasal hukum yang terasa asing. Matanya menyusuri setiap baris teks, mencari celah administratif yang biasa digunakan oleh perusahaan multinasional untuk melindungi aset mereka. Dia menyalin beberapa poin penting ke dalam buku tulisnya menggunakan pena tinta hitam.

Ujung penanya berhenti bergerak saat mencapai bagian legalisasi aset. Uang hasil misi bawah tanah Ludira selama ini dikelola melalui berbagai jalur yang rumit dan konvensional. Kala mencoba mencari tahu bagaimana klan lain memutihkan dana mereka secara permanen dan membangun kerajaan bisnis yang bersih dari campur tangan hukum.

Dia teringat kelompok Mahesa di Semarang. Dia mencari profil perusahaan logistik itu di pangkalan data publik. Laporan keuangan tahunan mereka menunjukkan skema satu perusahaan induk dengan lima anak perusahaan yang bergerak di bidang pergudangan dan transportasi jalur laut. Bagaimana mereka mengurus perizinan awal peralihan status tersebut tanpa memicu kecurigaan otoritas keuangan negara. Kala tidak menemukan jawabannya di artikel berita ekonomi mana pun. Detail operasional seperti itu tertutup rapat di balik pintu kantor firma hukum yang mereka sewa.

Kala merogoh saku celana kargonya dan mengeluarkan ponsel. Dia membuka daftar kontak, menekan nama Kirana. Jari jempolnya melayang di atas papan ketik virtual. Dia mengetik satu kalimat tentang struktur perusahaan cangkang dan batas aman nilai suntikan dana dari luar negeri.

Kala membaca ulang kalimat di layar itu. Dia menatap tombol kirim berwarna hijau di sudut kanan. Jika dia menekan tombol itu, Kirana akan langsung meneleponnya dalam hitungan detik. Kakak perempuannya itu memiliki insting tajam untuk setiap anomali. Kirana tidak akan percaya jika Kala beralasan hanya sedang bosan dan iseng membaca buku hukum bisnis. Rencananya akan terbongkar sebelum fondasinya siap diuji.

Kala menekan tombol hapus berulang kali hingga kolom pesan kembali kosong. Dia tidak bisa bertanya kepada Kirana sekarang. Dia meletakkan ponselnya dengan posisi terbalik di atas lantai.

Pintu kontrakannya diketuk dari luar. Ketukannya lambat tapi keras.

Kala berdiri, merapikan letak kaos hitamnya, dan membuka pintu. Di luar berdiri seorang pria paruh baya mengenakan singlet putih dan sarung kotak-kotak yang digulung sebatas perut. Namanya Pak Heri, tetangga beda gang yang kebetulan menjabat sebagai ketua rukun tetangga setempat.

“Mas Gilang, lagi sibuk di dalam?” tanya Pak Heri menyebut nama palsu Kala.

“Tidak, Pak,” jawab Kala datar.

“Ini, saya mau minta tolong. Kata orang-orang Mas Gilang pintar perbaiki barang. Pompa air di musala depan mati. Warga mau ambil air wudu buat asar tidak bisa, torennya kering kerontang.”

Kala menatap wajah Pak Heri yang berkeringat. Kala bisa membongkar dan merakit senapan runduk dalam waktu kurang dari satu menit dalam kondisi mata tertutup. Dia bisa merakit bahan peledak berdaya rendah dari bahan kimia rumah tangga. Dia tidak pernah menyentuh mesin pompa air seumur hidupnya.

“Saya bukan tukang ledeng, Pak,” kata Kala.

“Alah, coba dilihat dulu, Mas. Siapa tahu cuma kabelnya yang putus digigit tikus,” desak Pak Heri tanpa memedulikan penolakan tersebut. “Tukang servis langganan sedang pulang kampung. Darurat ini.”

Kala menatap Pak Heri selama dua detik, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kontrakannya. Dia mengikuti langkah pria paruh baya itu berjalan menuju musala di ujung jalan yang berjarak sekitar lima puluh meter. Tiga orang bapak-bapak sedang berjongkok mengelilingi sebuah mesin pompa air tua yang penutup pelindungnya sudah dilepas.

Kala ikut berjongkok di samping mesin tersebut. Dia melihat gulungan tembaga yang berdebu dan beberapa kabel yang tersambung ke kapasitor silinder. Bau hangus tercium samar dari arah kotak kabel.

“Kapasitornya mati,” kata Kala menebak dari bau hangus tersebut. Dia mengingat sekilas skema kelistrikan dasar yang pernah dia pelajari untuk menyabotase panel listrik bangunan.

“Wah, harus beli baru ini ke toko bangunan depan jalan raya,” sahut salah seorang bapak yang memakai kopiah putih.

“Saya ada kapasitor bekas mesin cuci di rumah. Ukurannya agak besar sedikit, bisa dipakai tidak Mas?” Bapak yang berjongkok di hadapan Kala menunjuk ke arah rumahnya.

Kala menatap bapak itu. “Bawa ke sini.”

Bapak itu berlari kecil ke rumahnya dan kembali membawa sebuah tabung kapasitor berwarna putih. Kala menerima barang bekas itu. Dia memeriksa tulisan voltase di sisinya. Dia merogoh saku celananya, mengambil pisau lipat kecil, dan mengupas ujung dua kabel dari mesin pompa air. Dia menyambung kabel tersebut dengan kabel kapasitor bekas, lalu melilitnya kuat-kuat menggunakan selotip hitam yang disodorkan oleh Pak Heri. Kala tidak menggunakan alat ukur tegangan atau pelindung apa pun.

“Coba colok kabelnya,” perintah Kala.

Pak Heri menyambungkan steker ke stopkontak dinding. Mesin pompa itu berdengung keras, jauh lebih kasar dari suara mesin normal. Beberapa detik kemudian, suara sedotan air terdengar dari pipa paralon. Air menyembur keluar dari pipa pembuangan masuk ke dalam penampungan bawah. Ketiga bapak-bapak itu bersorak pelan menyambut air yang mengalir.

Kala berdiri, melipat pisau kecilnya, dan memasukkannya kembali ke saku. Dia membersihkan telapak tangannya yang kotor pada celana kargo.

“Wah, mantap Mas Gilang. Cocok buka bengkel servis alat elektronik di depan gang,” puji Pak Heri sambil menepuk lengan Kala pelan.

Kala hanya mengangguk kecil. Dia berbalik dan berjalan kembali ke kontrakannya. Peristiwa absurd seperti ini telah menjadi bagian dari rutinitas barunya. Dia berusaha menghindari orang dan menjaga identitasnya tetap samar, tapi orang-orang di sekitarnya terus menariknya ke dalam masalah sepele sehari-hari. Berada di lingkungan ini membuatnya mengerti satu hal penting. Menjadi orang normal berarti selalu terikat dengan masalah orang lain, dan itu ternyata lebih melelahkan daripada berdiam di rumah utama Ludira.

Kala mencuci tangannya di kamar mandi dengan sabun cuci piring. Dia kembali duduk di depan tabletnya. Pertanyaan tentang struktur perusahaan legal tadi masih belum terjawab. Dia mengambil dompet kulit dan memakai topi bisbol hitam. tabletnya tidak terhubung dengan alat pencetak, dan dia butuh membaca dokumen fisik untuk menganalisis skema perusahaan tanpa merusak matanya.

Kala berjalan keluar gang, menyusuri jalan raya yang ramai oleh angkutan umum dan pengendara sepeda motor. Dia menemukan sebuah warung internet yang terletak di ruko lantai dua di dekat pasar swalayan. Ruangan itu pengap, dipenuhi oleh anak sekolah berseragam yang bermain gim daring dengan suara teriakan keras. Udara di dalam ruangan berbau asap rokok, keringat, dan pendingin ruangan yang jarang dibersihkan.

Kala menyewa satu bilik di sudut paling belakang. Layar monitornya berdebu dan papan ketiknya terasa lengket. Komputer itu berjalan lambat saat dia membuka peramban. Dia mengunduh belasan dokumen publik. Laporan tahunan perusahaan ekspedisi, dokumen lelang pemerintah, dan struktur organisasi perusahaan terbuka yang bisa diakses secara bebas.

Kala mengirim semua berkas tersebut ke komputer operator untuk dicetak. Dia berjalan ke meja depan. Pemuda penjaga warung internet itu menatap layar komputernya dengan mata melebar melihat jumlah halaman yang masuk ke antrean mesin cetak.

“Ini totalnya dua ratus halaman lebih, Bang. Tinta hitam semua?” tanya operator itu.

“Ya,” jawab Kala. Dia mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu dan meletakkannya di atas meja kaca. “Biar mesinnya tidak panas, jeda setiap lima puluh halaman.”

Operator itu mengangguk dan mulai menjalankan mesin pencetak. Bau khas tinta panas dan kertas HVS segera memenuhi area meja depan. Kala menunggu dengan sabar. Dia bersandar pada etalase kaca yang berisi mi instan dan minuman kemasan, mengabaikan suara umpatan anak-anak sekolah yang kalah bermain gim di bilik sebelah.

Setelah hampir setengah jam, mesin cetak itu selesai bekerja. Operator menyerahkan tumpukan kertas hangat yang diikat karet gelang. Kala menerima kertas itu, memasukkannya ke dalam tas plastik hitam, dan berjalan pulang.

Malam harinya, lantai kamar kontrakan Kala tertutup sepenuhnya oleh hamparan kertas. Dia menyusun dokumen-dokumen itu berdasarkan pola struktur perusahaan. Dia duduk di tengah-tengah lautan kertas tersebut, memegang pena bertinta merah.

Kala membaca dengan teliti. Dia menandai nama-nama perusahaan konsultan manajemen dan firma hukum yang berulang kali muncul di dokumen milik kelompok-kelompok yang bertransisi menjadi legal. Dia menemukan benang merahnya. Mereka semua menggunakan pihak ketiga sebagai perisai untuk mengurus akuisisi aset. Mereka mencuci uang dengan cara membeli aset properti mangkrak di daerah berkembang, lalu menyuntikkan dana atas nama investor luar negeri yang sebenarnya adalah perusahaan cangkang bentukan mereka sendiri di negara suaka pajak.

Kala mengambil buku biru tebalnya. Dia mulai menuliskan skema yang bisa diterapkan untuk Ludira.

Berdasarkan wasiat pembagian aset, Wana memegang kendali atas bisnis ekspor impor. Kirana mengendalikan yayasan pendidikan dan jaringan rumah sakit. Sementara Kala sendiri mewarisi bisnis properti dan aset perusahaan kecil yang saat ini dikelola oleh Bayu.

Tiga pilar ini adalah mesin ekonomi yang sempurna jika digabungkan dalam satu jalur sirkulasi tertutup.

Kala menggambar diagram kotak di atas kertas. Perusahaan properti miliknya akan membangun infrastruktur fisik. Membangun gedung rumah sakit baru untuk Kirana dan mendirikan gudang logistik baru untuk Wana. Aliran dana dari operasi bawah tanah disuntikkan sebagai modal investasi properti. Uang yang sudah masuk ke proyek pembangunan akan berputar menjadi aset berwujud. Setelah bangunan jadi, yayasan Kirana dan perusahaan Wana menyewa atau membeli aset tersebut menggunakan pendapatan legal mereka. Uang kotor dari luar masuk ke properti, keluar menjadi bangunan, dan dibayar kembali dengan uang bersih dari rumah sakit dan logistik. Perputaran ini memutihkan kas klan tanpa menimbulkan kecurigaan otoritas pajak.

Kala menurunkan penanya. Rencana ini sangat logis. Kirana sudah menjalankan bisnis rumah sakit dengan sangat rapi dan tanpa cacat hukum. Kala hanya perlu merancang landasan perusahaan propertinya agar mampu menampung seluruh beban integrasi dana tersebut sebelum operasi hitam dihentikan sepenuhnya.

Kala menyandarkan kepalanya ke dinding batako. Matanya terasa pedih karena membaca huruf-huruf kecil di atas kertas selama berjam-jam. Merencanakan perubahan struktur organisasi korporat ternyata jauh lebih melelahkan daripada menyusun taktik penyergapan di lapangan terbuka. Tidak ada musuh fisik yang bisa dia lumpuhkan dengan tangan kosong. Musuhnya di dalam ruangan ini adalah birokrasi, hukum negara, dan jejak rekam keluarganya sendiri. Semuanya harus ditata tanpa satu pun kesalahan perhitungan.

Kala menatap layar ponselnya untuk melihat jam. Tanggal di bawah jam menunjukkan angka bulan September. Tiga bulan lagi menuju Desember. Tahun keempat pelariannya akan segera memasuki siklus waktu yang paling menyiksanya secara mental. Cuaca sudah mulai menunjukkan perubahan, awan mendung lebih sering menggantung di sore hari.

Kala mengumpulkan semua kertas yang berserakan di lantai, merapikan ujung-ujungnya, dan memasukkannya ke dalam map plastik tebal. Dia menyimpan map dan buku birunya di bawah tumpukan baju paling bawah di dalam lemari plastik susun miliknya.

Rencananya makin terbentuk nyata dan solid. Waktu baginya untuk menyelesaikan pelarian ini makin dekat, tapi dia tahu dia belum siap melangkah kembali masuk ke gerbang rumah utama. Dia masih harus menguji setiap baris kalimat dalam rencana ini, mencari kelemahan dan risiko kegagalan, sampai tidak ada satu pun celah hukum yang tertinggal. Dia akan pulang dengan membawa solusi akhir, bukan sekadar gagasan emosional yang bisa ditolak untuk kedua kalinya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk