Desember datang membawa udara lembap yang tebal dan berat. Intensitas hujan turun dengan sangat deras sejak awal bulan, membuat saluran air di depan rumah kontrakan Kala meluap dan menghambat aktivitas jalanan. Genangan air keruh menutupi aspal yang berlubang. Bagi Kala, cuaca ini menahan lebih dari sekadar pergerakan fisik. Cuaca ini menahan ingatannya pada satu titik yang tidak bisa dia hindari.
Kala berdiri di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Dia menyeduh kopinya hari ini, sendirian. Rumah petak yang dia sewa di sebuah kawasan pinggiran ini adalah rumah yang entah sudah ke berapa yang dia tinggali selama lima tahun pelariannya. Segala hal tentang hidupnya sekarang hanyalah tentang berpindah tempat, berusaha tidak terlihat oleh radar musuh, dan merawat patah hati yang tidak pernah mengering.
Dia menuangkan air mendidih ke dalam cangkir keramik kusam. Bubuk kopi hitam pekat berputar terbawa pusaran air panas. Asap mengepul ke udara, membawa aroma pahit yang tajam. Kala tidak menambahkan gula. Dia membiarkan cairan itu hitam dan pekat.
Sambil memegang gagang cangkir, Kala berjalan menuju jendela depan yang terbuka separuh. Di ambang jendela, sebuah pot plastik kecil berisi tanaman hias berdiri basah kuyup. Bunga yang seharusnya bermekaran di pagi hari itu seolah membeku karena embun dan rintik hujan terus-menerus menyentuh setiap pucuknya. Kelopaknya layu dan tertunduk menahan beban air. Seperti rindu yang tak mungkin terobati, perasaan Kala seolah hanyut bersama air hujan yang turun tanpa henti ke bumi.
Kala menoleh ke arah sebuah meja lipat kayu di sudut ruangan. Di atas meja itu, tergeletak sebuah buku tulis bersampul biru tebal dan sebuah map plastik transparan. Di dalam map tersebut tersimpan berlembar-lembar dokumen cetak, skema restrukturisasi perusahaan, dan draf rencana legalisasi aset klan Ludira. Rencana masa depan yang dia susun dengan sangat teliti setiap malam.
Namun, sejak kalender berganti ke bulan Desember, map dan buku itu tidak tersentuh sama sekali. Lapisan debu tipis mulai menutupi permukaan plastik map tersebut. Selama sebelas bulan dalam setahun, Kala menggunakan otaknya untuk merancang masa depan keluarganya agar bisa keluar dari dunia bawah tanah. Namun, saat bulan kedua belas tiba, seluruh rancangan logis itu kehilangan maknanya. Masa depan terasa tidak relevan ketika masa lalunya menariknya kembali dengan sangat kuat.
Kala mengalihkan pandangannya dari meja. Dia bersandar pada kusen jendela. Ingatannya memutar ulang percakapan terakhirnya dengan Kirana melalui telepon, tepat beberapa hari sebelum bulan November berakhir.
“Kamu akan mencari ke mana lagi? Sam sudah mati, di tanganmu sendiri,” tutur kata Kirana saat itu terdengar tajam, menampar kesadaran Kala. “Tidak ada yang akan membuatnya terganti, pun gadis-gadis itu hanya menyerahkan nyawanya untuk kamu eksekusi”.
Kala tahu Kirana benar. Samantha datang ke dalam kehidupannya bersama hujan. Gadis itu berteduh di bawah lengannya saat kedinginan. Kala mengingat bagaimana dia memeluk gadis itu dengan hangat penuh perasaan, sebuah tindakan yang sangat asing bagi seorang pewaris Ludira, sampai pada akhirnya takdir memaksa senjata mereka berdua saling menghadap satu sama lain.
Rintik air yang perlahan turun dan membentur kaca jendela membuat Kala memantik kembali emosi yang seharusnya sudah mengendap di dasar hatinya. Dia mengangkat cangkir keramiknya. Bibirnya menyesap kopi yang masih panas. Dia menikmati sensasi saat cairan hitam pekat itu melewati kerongkongannya dan meninggalkan jejak panas di dada.
Pahit. Rasanya sama persis seperti hidupnya saat ini. Matanya menatap kaca jendela nako yang berembun karena perbedaan suhu antara udara luar yang dingin dan udara dalam ruangan. Rintik hujan yang semakin rapat di luar sana membuatnya kembali menyadari bahwa takdirnya telah ditulis dengan warna yang sangat pekat.
Ingatan Kala bergeser pada suara Wana yang berat. Kakak laki-lakinya itu pernah menyuarakan pandangannya tentang hidup mereka di sela-sela waktu istirahat setelah menyelesaikan sebuah target.
“Kita ditakdirkan untuk sendiri. Melewati masa hingga nanti,” gumam Wana saat itu dengan raut wajah tanpa ekspresi. “Kini aku bahkan tak peduli, apa itu cinta. Apa itu rindu”.
Mengingat kalimat kakaknya, rasanya Kala ingin mengumpat ke udara kosong. Dia ingin mempertanyakan keputusan Yang Maha Kuasa. Kenapa takdirnya dan keluarganya harus ditulis dengan darah dan pengorbanan yang sia-sia. Kenapa Tuhan menciptakan konsep cinta di dunia ini, bila pada akhirnya Kala hanya diizinkan untuk terluka karenanya.
Sensasi dingin dari logam senjata seolah kembali terasa di telapak tangan Kala. Dia masih bisa merasakan dengan jelas detik saat jarinya menarik pelatuk dan peluru itu menembus jantung Samantha. Keputusan yang membuat gadis penyuka bunga dan teh itu terkapar tak berdaya di depannya, mengeluarkan darah yang meresap ke dalam tanah.
“Aku mencintaimu. Aku menunggumu di neraka.”
Ucapan terakhir Sam itu terus bergema dan akan selalu ada di benak Kala setiap kali dia menutup mata. Meski setelah kejadian itu ada berkali-kali banyak gadis yang dikirim oleh musuh hadir dalam kehidupannya dan mati sia-sia di tangannya, Sam tetaplah yang pertama. Gadis itu adalah sosok pertama yang membuatnya bertekuk lutut dan merasakan manisnya jatuh cinta.
Bagi Kala, Sam adalah pembukaan yang indah baginya di kala hujan, hadir sebelum guntur dan petir menggelegar menghancurkan dunianya. Sam adalah rasa yang dia kenal secara intens, setelah sebelumnya hidup Kala hanya diisi dengan rutinitas tentang bagaimana cara menarik pelatuk dan mengambil nyawa musuh secara efisien. Sam yang mencium bibirnya dengan perasaan tulus, membuatnya mencecap rasa manis selain gula. Lalu, Sam pulalah yang mengenalkannya pada arti melindungi seseorang, selain melindungi Kirana dan Wana.
Desember adalah bulan di mana Kala harus merelakan cinta itu sepenuhnya. Bulan penuh hujan ini menjadi bulan berdarah dalam catatan kelam pribadinya.
Kala mengingat kembali nada khawatir dari suara Kirana. Kakak perempuannya itu selalu berusaha menjaga kewarasannya dari jarak jauh.
“Aku tidak ingin kamu terperosok ke dalam lubang yang sama,” kata Kirana memberikan sebuah kalimat penegasan yang rasional. “Jika kita memang ditakdirkan untuk terus sendirian, itu mungkin lebih baik. Agar tak ada lagi nyawa melayang sia-sia”.
Saat itu, Kala membantah dengan suara serak. “Aku hanya ingin menjadi manusia normal. Memiliki keluarga, anak-anak yang berbahagia,” jawab Kala mengutarakan ironi terbesar dalam hidupnya.
“Aku pun sama. Lalu, apakah aku akan berdrama? Tidak, Kal,” balas Kirana lugas. “Aku juga ingin berbahagia, tapi laki-laki mana yang akan mendekatiku tanpa memandang status Ludira?”.
Pertanyaan retoris Kirana tidak pernah bisa Kala jawab. Desember selalu membawa kenangan dalam genangan luka yang sama. Pertemuan mereka bertiga di reruntuhan bangunan atau di ruang makan rumah utama masih menyisakan banyak tanya yang tidak terjawab. Wana, Kirana, dan Kala. Tiga orang penerus terakhir yang memimpin klan Ludira. Posisi itu menyisakan perih tersendiri dan memaksa mereka mengorbankan mimpi personal masing-masing.
Terutama bagi Kala. Pengorbanan yang paling membuatnya terluka dan cacat secara mental adalah kematian Sam. Sampai detik ini, pada hari-hari Desember yang penuh hujan di tahun kelima setelah kematian gadis itu, Kala masih melakukan semacam penghormatan diam sepanjang bulan.
Kala berjalan menjauh dari jendela. Dia meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong di atas lantai semen. Kopi di tangannya sudah tandas, begitu juga dengan hatinya. Ini sudah pertengahan bulan Desember, dan perasaan hampa yang menyiksanya masih tetap sama.
Sam tidak pernah meninggalkan benaknya sedikit pun. Bayangan gadis itu menghantuinya setiap waktu, muncul di sela-sela keramaian jalan raya atau di sudut ruangan yang sepi. Setiap kali dia berpura-pura jatuh cinta lagi untuk memancing eksekutor musuh, rasanya tak pernah sama. Sudah berapa banyak wanita yang akhirnya mati di tangannya selama lima tahun ini, perbuatan itu tak pernah menimbulkan sesal baginya, tidak seperti sesal mendalam saat dia membunuh Sam dengan tangannya sendiri.
“Aku merindukanmu, dengan sangat,” gumam Kala sendirian di tengah ruangan yang remang-remang. “Ingatanku masih lekat, dengan bunga yang selalu kamu bawa ke kamar setiap pagi”.
Hujan di luar masih turun dengan sangat deras. Titik-titik air membentur atap seng dengan suara gemuruh. Di dalam ruangan, air mata Kala mulai turun perlahan, mengalir tanpa batas membasahi pipinya. Dia tidak mencoba mengusapnya. Tangannya meremas udara kosong, berusaha menggenggam bayang yang hanya ada di dalam pikirannya. Dia memeluk ruang kosong di dadanya yang selama ini hanya berisi bayangan Sam.
Di bulan Desember inilah, Kala membiarkan dirinya meluruh menjadi sangat rapuh. Di sudut kamar, dekat tumpukan pakaian kotornya, harnes kulit dan senjata apinya tergeletak begitu saja tak tersentuh. Desember adalah waktu yang memaksa Kala menjadi manusia biasa, menanggalkan identitasnya sebagai pembunuh. Dia meninggalkan semua pertahanan fisiknya dan membiarkan penampilannya menjadi tidak terawat.
Kala menutup semua akses komunikasi selulernya. Selama bulan ini, dia menolak untuk menerima pesan dari siapa pun selain melalui saluran darurat yang hanya diketahui oleh Kirana dan Wana. Dia juga secara otomatis menolak semua transaksi atau pekerjaan lepas sampai nanti tahun baru menyapa kalender. Desember adalah bulan khusus bagi Kala untuk berduka, dan dia tak akan melakukan sesuatu yang produktif sampai tiga puluh hari penuh terlewati.
Kirana dan Wana mengetahui rutinitas menyiksa ini. Kedua kakaknya itu hanya bisa memberikan pengawasan dari jarak jauh. Mereka menugaskan beberapa anggota tepercaya untuk menyebar dan mengawasi lokasi Kala secara bergantian tanpa sepengetahuannya. Mereka harus tetap menjaga Kala tanpa terlihat, memastikan adik bungsu mereka itu berada pada radius jarak yang aman dari ancaman eksekutor klan lain.
Bulan ini adalah saat yang paling gawat bagi Ludira, karena pada masa ini Kala benar-benar menanggalkan semua kewaspadaannya. Kirana dan Wana harus ekstra waspada dan melipatgandakan pengawasan jaringan intelijen mereka untuk menutup celah tersebut.
Kala mendudukkan dirinya di atas lantai karpet vinil yang dingin. Ingatannya kembali memutar suara Sam. Suara itu terdengar sangat nyata di telinganya.
“Kal, apa pun yang terjadi di antara kita, itu adalah takdir yang tak terelakkan,” kalimat terpanjang yang Sam ucapkan sebagai tanda perpisahan mereka berkelebat kembali di ingatan Kala. “Aku mencintaimu, tanpa peduli dengan permusuhan di antara kita. Bila saat ini senjataku mengarah ke dadamu, itu hanya sebagai penggugur kewajibanku terhadap kelompokku”.
Kalimat itu selalu menyayat hati Kala, tapi tambahan kalimat berikutnya adalah yang paling parah.
“Kal, perasaanku padamu adalah perasaan yang terlahir karena aku memang mencintaimu,” suara Sam bergetar dalam ingatannya. “Bila sekarang aku mati di tanganmu, maka itu adalah bentuk dari rasa cintaku padamu”.
Rangkaian kalimat penutup itu selalu berhasil membuat Kala terbangun dari mimpi buruk dengan keringat dingin setiap kali dia mencoba tidur. Perasaan bersalah yang tidak ada ujungnya, kerinduan yang menyiksa, dan rasa putus asa selalu menjelma menjadi wujud yang nyata saat hujan turun di bulan Desember yang kelabu.
Bagi Kala, saat hujan turun deras seperti ini adalah saat baginya untuk kembali menjadi manusia biasa. Saat untuk mengingat dengan jelas tentang rasa sakit sebuah cinta yang dipaksakan kalah oleh keadaan. Ingatan tentang hujan darah yang menetes di dadanya, dan ingatan tentang Samantha yang lepas dari genggamannya secara permanen.
Kala menarik kedua lututnya rapat ke dada. Dia terduduk memeluk lutut di bawah ambang jendela. Suara hujan masih terdengar gemerisik, mengusik gendang telinganya dengan nada monoton. Dia bergelung dengan perasaannya sendiri, merintih tanpa suara, menahan luka yang menganga di dalam dadanya.
Hidup Kala sudah berkalang luka sejak lama. Darah yang berkali-kali tumpah dari tangannya bukanlah hal yang paling membuatnya tersiksa. Hujan Desemberlah yang sukses membuatnya merana. Cuaca ini membuatnya meruntuh luruh dalam kepungan dada yang bergemuruh keras. Sesak yang menyeruak mencekik saluran pernapasannya dari dalam.
Sepuluh hari yang lalu, sebuah pesan masuk dari saluran darurat. Kirana mengirimkan satu instruksi singkat.
“Kal. Segera kembali, jangan meratapi semuanya sendiri. Masih ada kami untuk berbagi,” pesan Kirana tersebut tersimpan di layar ponselnya yang kini dimatikan.
Kala tahu, pertengahan bulan ini adalah tenggat waktu yang semakin rapat. Berapa lama lagi dia bisa bertahan dalam kondisi rapuh seperti ini. Bagaimana caranya dia akan bangkit dari rasa sakit ini nanti. Sudah lima tahun berlalu, dan semuanya masih terasa sama beratnya dengan hari pertama.
Lantai dapur kontrakan yang berdebu itu masih menjadi tempat yang paling nyaman bagi Kala untuk memeluk lukanya sendirian. Udara dingin dari luar sama sekali tak terasa di kulitnya, karena tubuhnya sudah cukup hangat dengan deraan sakit yang merambat dari dalam hati.
“Aku merindukanmu dengan sangat, Sam,” rengekan Kala seolah menjadi sebuah doa yang berulang terucap tanpa bisa dijeda. “Tanganku sudah berlumuran darah dari para penerusmu. Aku sudah menyerahkan semua mimpiku untukmu. Aku merindukanmu”.
Derasnya hujan di luar mengiringi luka batinnya yang berdarah tanpa bisa dicegah oleh perban atau obat apa pun. Hujan memberikan suara latar yang tepat untuk menutupi tangisannya, sebuah penggiring alami untuk kenangan yang tak terelakkan dari ingatannya.
Kala membenamkan wajahnya di atas lipatan lutut. Dia memeluk lukanya erat-erat, ditemani oleh dinginnya hujan Desember yang terus datang tanpa henti. Lima tahun telah berlalu, membawa lima bulan Desember yang penuh dengan kenangan mematikan.
Hujan dan Kala adalah sebuah ironi yang tercipta secara nyata. Saat seorang manusia yang dikatakan sempurna dan tidak tersentuh oleh para pemburu bayaran, ternyata mengorbankan kewarasannya, perasaan, dan cinta hanya untuk tetap bisa bertahan hidup. Hujan dan Kala adalah sebuah titik persimpangan takdir yang terus berjalan lepas tanpa pernah diketahui di mana tujuan akhirnya. Keduanya bertemu setiap tahun, hanya untuk kembali terluka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!