Bab 13

0 dibaca

A

Kala membuka matanya, menatap sinar matahari redup yang menyeruak dari celah tirai kamar. Dia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, kembali mengingat apa yang telah dilakukannya semalam.

Semalam dia menenggak semua persediaan bir yang dia punya di dalam lemari pendingin. Tak heran jika kepalanya saat ini terasa berat seperti dihantam balok kayu. Bulan Desember sudah berada di ujung kalender, hujan semakin sering jatuh membasahi bumi, tapi dia merasa tak kunjung sembuh.

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah pelarian, tapi luka di dadanya itu sama sekali tak mengering. Masih sakit. Masih perih.

Dengan langkah terhuyung, Kala bangkit dari tempat tidur yang seprainya berantakan. Dia membuka jendela nako dan menghirup bau tanah lembap sisa hujan semalam. Matahari tak sepenuhnya bersinar pagi ini, awan mendung abu-abu gelap masih menggelayut dan siap menurunkan hujan kapan saja.

Dering ponsel dari atas meja membuyarkan lamunannya. Nama Kirana terlihat menyala di layar sana. Kala mendesah panjang, merasa enggan untuk mengangkat panggilan tersebut.

Dering itu tak berhenti berbunyi, dan Kala tahu suara itu tak akan berhenti sampai dia menekan tombol hijau dan mengangkatnya. Kirana adalah orang yang sangat sabar menunggu panggilannya terangkat.

“Ada apa?” Pada akhirnya Kala mengangkat ponselnya sambil memijit dahinya yang berdenyut.

“Mari merayakan akhir tahun ini dengan menenggak wine,” kata Kirana dengan suara lembut dari seberang saluran.

“Ki—“

“Tidak ada penolakan, Wana sedang menuju ke sana,” potong Kirana cepat sebelum Kala sempat melontarkan kalimat bantahannya. “Menjemputmu”.

Sambungan terputus secara sepihak meninggalkan Kala dengan erangan malas. Kirana selalu tahu celah pertahanannya. Bagaimana tidak, kakak perempuannya itu memang selalu tahu segala hal tentang dirinya. Di antara mereka bertiga, Kirana adalah pemikir, Wana adalah penindaknya, dan Kala adalah pengikut yang hanya bisa menurut.

Sebelum Kala sempat beranjak dari pinggir jendela, pintu kayunya sudah diketuk dari luar. Kala tahu itu pasti Wana. Pada bulan Desember tidak akan ada orang lain yang berani mengganggunya selain Wana dan Kirana. Desember adalah bulan berkabung bagi Kala di mana dia tak menerima komunikasi dalam hal apa pun selain dari kedua orang kakaknya tersebut.

Dengan langkah malas Kala beranjak menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, Wana sudah bersandar di dinding bata dan tangannya siap mengetuk daun pintu itu lagi.

“Ah, Tuan Muda masih belum mandi,” seloroh Wana seraya melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu perintah atau izin dari Kala.

“Kita akan ke mana?” Kala menyambar handuk putih dari jemuran kecil dan berjalan lurus menuju kamar mandi.

“Ke mana saja asal kamu keluar dari rumah ini,” jawab Wana santai. Pria berambut gondrong itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang berantakan penuh kaleng bir kosong dan menghela napasnya berat.

Kala tak menjawab lagi dan langsung masuk ke kamar mandi sebelum Wana mengoceh lebih lanjut tentang keadaan kamarnya.

“Setelah ini bagian kebersihan harus mengurus rumah ini dan membongkar semuanya,” desis Wana dari luar sambil menggelengkan kepalanya melihat tumpukan sampah.

Kala mengguyur badannya dengan air dari keran. Dia merasakan suhu dingin air menusuk kulitnya. Dia membiarkan dirinya merasakan dingin itu, seolah dingin tersebut menggiringi hatinya yang beku selama sebulan penuh ini.

“Kal! Cepatlah! Kirana sedang PMS,” kata Wana berteriak tak sabar dari ruang depan.

Kala tertawa mendengarnya. Itu adalah tawa pertamanya pada bulan Desember ini. Dia membayangkan Kirana yang selalu tampil rapi menjadi perempuan pada umumnya yang mudah marah, meninggalkan wibawa tinggi yang biasanya menguar dari tubuhnya.

“Bagus, tertawalah, Kal,” balas Wana. Dia mengembuskan napasnya lega mendengar tawa Kala dari balik pintu kamar mandi.

Adik lelakinya itu memang memiliki rasa sentimentil yang berlebihan setiap kali bulan Desember datang. Bersama turunnya hujan dia akan meluruh, rapuh, dan sama sekali tak terlihat sebagai seorang pembunuh dari klan Ludira.

Kala keluar dari kamar mandi, tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Dia memakai kaos katun dan celana pendek berwarna khaki. Wana menatapnya lekat dengan pandangan menyelidik dari atas ke bawah. Mengerti arti tatapan itu, Kala menyingkap ujung kaosnya ke atas dan menunjukkan harnes kulit yang sudah terpasang erat di dadanya sebagai jawaban dari tatapan Wana.

Wana tersenyum lebar. Ini mungkin hari pertama di bulan Desember, harnes beserta senjata itu terpasang kembali setelah sebulan penuh terlepas dan dibiarkan tergeletak di lantai. Jika Kala sudah kembali memasangnya di balik pakaian, maka masa berkabungnya sudah benar-benar usai. Kenyataan itu membuat Wana merasa sangat lega.

“Apakah kamu ingin menyetir?” Wana melempar kunci mobil berlogo timbul ke arah Kala dan berjalan membuka pintu depan.

Kala menerima kunci logam itu dengan satu tangan dan menggerutu pelan. Tak ayal dia menuruti juga kemauan Wana untuk menyetir hari ini. Dia menutup pintu kayu itu dan membiarkannya tak terkunci, karena dia tahu setelah ini orang-orang suruhan Wana yang sudah berjaga di radius beberapa meter akan datang ke sana untuk melakukan pembersihan dan menghapus semua jejaknya di rumah kontrakan tersebut.

“Kirana akan mengirimkan koordinat tempatnya,” kata Wana sambil mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang di samping kemudi.

Kala memutar kunci pada lubang kontak dan melajukan jeep hitam itu menelusuri jalanan yang sepi. Komplek perumahan pinggiran ini sangat sepi, terletak jauh di pinggiran kota. Perumahan itu memiliki cat dinding yang pudar dan tak mencolok mata, sangat cocok digunakan sebagai tempat persembunyian selama masa dukanya.

Wana mengeluarkan tangan kirinya dari jendela mobil sebagai tanda kepada anak buahnya yang bersembunyi di sekitar gang untuk mulai bergerak mengamankan lokasi.

Sebuah pesan masuk berdenting di ponsel Kala, pesan dari Kirana. Kala membukanya dengan satu tangan dan di layar terlihat koordinat peta yang akan menjadi tujuan mereka sore ini.

“Bukit?” tanya Kala heran. Dia mengerutkan dahi mengingat Kirana tak menyukai alam terbuka yang penuh nyamuk dan tanah kotor.

“Sepertinya dia ingin menyenangkanmu,” kata Wana melirik layar ponsel tersebut.

“Kalian berlebihan,” desis Kala memutar roda kemudi ke arah jalan raya utama.

“Untukmu, itu tak pernah berlebihan. Kami selalu ada untukmu, Kal.” Wana menatap wajah Kala dari samping, tapi Kala tetap fokus pada jalanan seolah tak peduli dengan ucapan Wana barusan.

Padahal, di dalam hatinya, Kala sudah menjerit pedih mendengar kata-kata itu. Kirana dan Wana selalu bersikap protektif dan membuatnya merasa menjadi anak kecil yang harus terus dijaga.

“Kal, apakah selamanya akan seperti ini?” Wana kembali melontarkan pertanyaan memecah keheningan di dalam mobil. Pertanyaan yang Kala sendiri tak tahu apa jawabannya, dan dia tak bisa menjanjikan apa pun pada kakaknya itu.

“Sam sudah pergi, Kal. Dia pasti tak mau melihatmu merutuki nasib seperti ini.” Wana mencoba mengingatkan Kala tentang hal yang selalu ingin dia abaikan setiap akhir tahun.

“Aku tak pernah menjanjikan hal yang aku sendiri tak tahu,” jawab Kala dengan suara datar sambil memindahkan tuas gigi mobil.

“Kal, sampai kapan?” Wana terdengar iba dengan kondisi psikologis adiknya itu.

Kala menggelengkan kepalanya pelan. Otaknya sibuk memikirkan perasaannya sendiri, hati yang sedang dia redam sekuat tenaga agar tak lagi bergejolak. Hatinya selalu bereaksi berlebihan kalau ada seseorang yang membicarakan tentang Samantha di depannya.

Wana mengulurkan tangan dan menepuk pundak Kala. Dia tahu adiknya sedang bersusah payah meredam perasaannya agar tidak meledak di dalam mobil. Segala hal tentang gadis bernama Samantha itu, bagi Kala adalah sebuah tragedi yang tidak pernah usai.

Perjalanan mereka memakan waktu satu jam hingga hampir sampai di tempat tujuan, bukit yang sepi pepohonan itu sudah terlihat dari kaca depan. Mobil sedan Kirana terlihat terparkir di tanah lapang bagian bawah.

“Dia masih belum melepas mobil itu?” tanya Kala melihat mobil VW Beetle lama berwarna hitam yang bentuknya sudah ketinggalan zaman itu.

“Kalau kamu sentimentil tentang Sam, maka Kirana sentimentil soal mobil itu,” kata Wana menyeringai.

Kala memarkir jeepnya di sebelah mobil sedan tersebut. Mereka berdua turun dan mendaki bukit tanah berumput itu. Di atas sana, Kirana sedang duduk tenang di kursi lipat, berlindung di bawah payung besar berwarna gelap. Tubuhnya menghadap lurus ke arah barat, tepat di mana matahari sedang tenggelam perlahan menembus garis awan.

“Tanggal tiga puluh satu, Kal. Mari melangkah melewati masa lalu,” kata Kirana tanpa menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki mereka mendekat.

“Jual mobilmu, Ki,” Kala membalas ucapan puitis itu dengan telak, membuat Kirana seketika terbahak keras memecah suasana sore.

Wana berdiri diam melihat kedua adiknya itu melepas tawa mereka dengan bebas. Sudah sangat lama rasanya dia tak melihat mereka berdua menjalani hari sebagai manusia biasa yang bisa bercanda tanpa beban.

“Aku merindukanmu,” kata Kirana. Wanita itu berdiri dari kursi lipatnya dan langsung memeluk tubuh laki-laki tampan di depannya itu dengan pelukan hangat.

“Aku tidak,” jawab Kala ketus, tapi kedua lengannya terangkat membalas pelukan kakaknya itu erat-erat.

“Sudah siap untuk kembali menerima misi?” Kirana mengurai pelukan dan menepuk dada Kala pelan.

“Tergantung misi apa,” elak Kala melangkah mundur satu langkah.

“Beri dia misi ke luar negeri saja, biar melupakan semua yang ada di sini,” usul Wana sambil melipat kedua tangannya di depan dada, membuat Kala langsung melotot tajam ke arahnya.

“Usul bagus,” jawab Kirana menimpali, sengaja menggoda Kala yang mulai kesal.

Ketiganya kemudian mengambil tempat, duduk sejajar menghadap ufuk barat yang memerah. Mereka menghela napas panjang secara bersamaan, seakan melepaskan beban yang bersarang di dada masing-masing.

“Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Aku selalu luruh saat Desember datang bersama dengan hujan,” kata Kala memecah keheningan senja. “Sentimentil yang selalu menghampiri tanpa aku minta”.

“Samantha tak pernah ingin melihatmu seperti ini. Dia ingin kamu melewati masa lalu dan melangkah bahagia,” kata Kirana menatap sisi wajah Kala yang keras.

“Mungkin, kita akan terus melangkah tanpa memikirkan tentang perasaan lagi,” timpal Wana menendang kerikil di dekat sepatunya. “Ludira, sepertinya akan menjadikan kita orang yang kesepian”.

“Tidak. Aku tidak ingin seperti itu,” kata Kala membantah ucapan kakak tertuanya itu dengan nada suara yang lebih tegas dari sebelumnya. “Aku ingin mengubahnya. Aku sedang memikirkan sesuatu untuk Ludira”.

Wana dan Kirana menoleh bersamaan, menatap Kala dengan tatapan tak percaya. Adiknya yang selama bertahun-tahun hanya menghindar dan bersembunyi kini berbicara tentang sebuah rencana.

“Aku tak ingin menjadikan Ludira sebagai beban. Aku ingin mengubah stigma tentang kita,” sergah Kala melanjutkan kalimatnya, matanya menatap lurus ke arah matahari yang hampir tertelan batas bumi.

Kirana menatap Kala lama, mencoba mencari keraguan di mata adiknya, tapi dia tidak menemukan apa-apa selain tekad yang bulat. “Tapi berjanjilah,” kata Kirana. “Desember tahun depan, tak ada lagi masa berkabung berlebihan”.

Wana mengangguk setuju di sebelahnya, mendukung permintaan Kirana tersebut.

Kala merebahkan kepalanya pada sandaran kursi lipat dan memejamkan mata. Dia tak menjawab pertanyaan Kirana secara langsung dengan suara. Namun, jauh di dalam hatinya, dia berjanji untuk mencoba melakukan hal itu. Dia akan membawa seluruh kenangan tentang Samantha untuk terus berjalan mendampingi takdirnya mengambil alih kepemimpinan, bukan lagi sebagai alasan untuk bersembunyi di bawah rintik hujan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk