Bab 3

1 dibaca

A

Angin laut membawa bau garam, tumpahan solar, dan ikan busuk menembus jendela kayu yang terbuka separuh. Kala duduk di tepi kasur tipis yang menempel langsung ke lantai semen. Kipas angin kecil di sudut ruangan berputar menghasilkan bunyi derit berirama, meniupkan udara panas yang sama sekali tidak menyejukkan. Di luar, deru mesin kapal barang dan teriakan buruh pelabuhan Makassar saling bersahutan memecah panasnya siang.

Kala menatap telapak tangannya sendiri. Ada kapalan baru di pangkal jari telunjuk dan lecet kemerahan di buku-buku jarinya. Dia mengusap luka itu dengan ibu jari. Sedikit perih, tapi rasa itu berlalu begitu saja.

Dia berdiri, menarik kaos oblong hitam yang sudah pudar warnanya dari sandaran kursi plastik. Dia memakainya, menutupi harnes kulit dan pistol yang melekat ketat di rusuk kirinya. Kala melangkah keluar dari kamar kos sempit itu, menuruni tangga kayu yang berderit menahan beban tubuhnya.

Jalanan pelabuhan dipenuhi truk logistik dan sepeda motor yang melaju saling mendahului. Debu beterbangan setiap kali roda kendaraan berat melintas. Kala berjalan kaki menyusuri trotoar yang pecah-pecah. Rambutnya memanjang menyentuh kerah baju, berantakan karena jarang disisir. Bayangan pemuda pewaris klan Ludira yang selalu mengenakan pakaian bersih dan rapi tidak lagi berbekas pada dirinya. Di kota ini, dia tidak memakai nama belakang keluarganya. Orang-orang hanya memanggilnya dengan julukan acak atau tidak memanggilnya sama sekali.

Langkahnya berhenti di depan sebuah warung kopi tenda. Asap dari panggangan pisang epe mengepul di udara. Kala menarik kursi plastik merah dan duduk. Di seberang meja, seorang pria bertubuh tambun dengan kemeja batik terbuka sebagian sedang mengisap rokok kretek. Pria itu bernama Daeng, seorang bandar judi lokal yang sering membutuhkan tenaga tambahan untuk menagih utang.

Daeng menyingkirkan asbak ke pinggir meja. Dia mengeluarkan selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya tepat di depan Kala.

“Namanya Rustam,” kata Daeng. Asap rokok keluar dari mulutnya saat dia berbicara. “Bawa lari uang setoran judi tiga ratus juta. Dia bersembunyi di ruko daerah Panakkukang.”

Kala mengambil foto itu. Seorang pria berkumis tipis sedang tersenyum ke arah kamera. Kala membalik foto tersebut, tidak ada tulisan apapun di belakangnya. Dia meletakkan kembali foto itu di atas meja.

“Dua puluh persen potonganku,” ucap Kala dengan suara datar.

Daeng mengerutkan dahi. “Minggu lalu sepuluh persen.”

“Minggu ini dua puluh.”

“Kamu terlalu mahal untuk orang luar.”

“Kalau begitu, suruh saja anak buahmu yang kemarin pulang dengan hidung patah saat menagih ke sana,” balas Kala. Dia menggeser kursi ke belakang, bersiap untuk berdiri.

Daeng mendengus kasar, mematikan rokoknya di asbak. “Dua puluh persen. Tapi aku mau uangnya ada di mejaku sebelum matahari terbenam.”

Kala kembali menarik kursinya. Dia mengangguk pelan. Tidak ada negosiasi lanjutan. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan warung kopi tersebut.

Sebuah ruko berlantai tiga berdiri diapit toko onderdil motor dan rumah makan padang. Papan nama neon di depannya bertuliskan tempat biliar dan karaoke keluarga, meskipun dari luar tempat itu sama sekali tidak terlihat cocok untuk keluarga. Kaca depannya digelapkan, menutupi aktivitas di dalam.

Kala mendorong pintu kaca. Bau tajam dari campuran asap rokok basi, pengharum ruangan beraroma lemon buatan, dan tumpahan bir langsung menyergap hidungnya. Suara pantulan bola biliar terdengar dari meja-meja di lantai satu. Beberapa pria bertato menoleh menatap Kala, tapi mereka kembali fokus pada permainan setelah melihat Kala berjalan lurus menuju tangga tanpa ragu.

Lantai dua dipenuhi deretan pintu ruang karaoke VIP. Kala berjalan menyusuri lorong sempit berkarpet merah yang sudah penuh dengan noda hitam. Dia berhenti di depan pintu nomor empat. Suara dentuman musik dangdut dengan volume maksimal terdengar sampai ke luar, menggetarkan dinding partisi kayu.

Kala memutar kenop dan mendorong pintu.

Di dalam ruangan, pria yang ada di foto Daeng sedang berdiri di atas meja kaca. Pria itu memegang mikrofon, menyanyikan lirik lagu dengan nada yang sangat sumbang. Tiga pria lain duduk di sofa kulit berbentuk huruf U, menenggak bir dari botol hijau. Mereka tidak menyadari kehadiran Kala karena suara musik terlalu keras.

Kala melangkah masuk, melewati meja panjang tempat botol-botol minuman berserakan. Dia berjalan lurus mendekati televisi layar datar dan mesin pemutar lagu di sudut ruangan. Tanpa ragu, Kala menarik kabel daya mesin itu dari stopkontak di dinding.

Suara musik berhenti mendadak. Ruangan yang tadinya bising langsung menjadi hening. Nyanyian sumbang Rustam terputus di tengah kalimat.

Rustam menepuk-nepuk kepala mikrofonnya beberapa kali. “Hei, layarnya mati.”

“Bukan layarnya,” kata Kala. “Mesinnya kucabut.”

Keempat pria di ruangan itu serentak menoleh. Rustam menurunkan mikrofonnya. Dia menatap Kala dengan tatapan meremehkan dari atas meja.

“Kamu siapa berani masuk ruanganku?” tanya Rustam.

“Daeng minta uangnya.”

Rustam tertawa keras. Tiga pria di sofa ikut tertawa. Rustam melompat turun dari meja kaca. “Daeng mengirim satu orang anak kurus untuk menagihku? Dia benar-benar sudah kehabisan orang.”

Pria yang duduk paling dekat dengan pintu berdiri. Dia mengambil botol bir kosong dari meja. “Keluar dari sini sebelum aku memecahkan botol ini di kepalamu.”

Kala tidak bergeser. Matanya menatap lurus ke arah Rustam. “Uangnya.”

Pria berbotol itu maju selangkah dan mengayunkan botol bir ke arah kepala Kala.

Kala mengangkat lengan kirinya. Botol kaca itu menghantam tulang lengan bawah Kala dan pecah berkeping-keping. Serpihan kaca berjatuhan ke karpet. Kala tidak meringis. Rasa sakit hantaman benda keras itu merambat cepat dari saraf ke otaknya, tapi dia mengabaikannya. Sensasi nyeri itu justru memberinya semacam pijakan pada kenyataan.

Sebelum pria itu menarik tangannya kembali, Kala melayangkan pukulan tangan kanan lurus ke arah tenggorokan lawan. Pria itu tersedak hebat, menjatuhkan sisa leher botol, lalu jatuh berlutut memegangi lehernya sambil berusaha mengambil napas.

Dua pria lain di sofa langsung berdiri. Salah satu dari mereka menerjang Kala dari samping, mendorong tubuh Kala hingga menabrak meja kaca. Permukaan kaca itu retak mengeluarkan bunyi nyaring. Kala merasakan ujung pinggiran meja menusuk punggung bawahnya. Nyeri yang tajam menyengat sarafnya. Kala menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Dia meraih asbak marmer besar dari atas meja dan menghantamkannya ke sisi kepala pria yang menabraknya. Pria itu limbung ke samping dan ambruk ke lantai.

Pria ketiga melepaskan pukulan ke arah wajah Kala. Kala menepis pukulan itu dengan telapak tangan, tapi gerakannya sengaja dia perlambat sedetik. Kepalan tangan pria itu menyerempet rahang kiri Kala. Sudut bibir Kala pecah, darah segar terasa asin di lidahnya. Kala membiarkan rasa sakit itu menjalar sebentar. Kekacauan batin yang selama berbulan-bulan menggerogotinya terasa sedikit reda setiap kali tubuh fisiknya menerima kerusakan.

Kala menendang lutut pria ketiga dengan tumit sepatunya. Terdengar bunyi tulang bergeser. Pria itu berteriak kesakitan dan jatuh terguling.

Rustam yang tadinya meremehkan kini berdiri mematung di sudut ruangan. Wajahnya pucat pasi melihat ketiga pengawalnya tumbang dalam waktu kurang dari satu menit.

Kala mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Dia berjalan perlahan mendekati Rustam. Pecahan kaca berderak di bawah sol sepatunya.

“Jangan mendekat,” kata Rustam sambil mengangkat kedua tangannya. Suaranya bergetar. “Aku bisa ambilkan uangnya. Ada di tasku.”

“Ambil,” perintah Kala singkat.

Rustam terburu-buru meraih tas ransel hitam di sudut sofa. Tangannya gemetar saat membuka resleting. Dia mengeluarkan beberapa tumpuk uang pecahan seratus ribu yang diikat karet gelang dan menyerahkannya pada Kala.

Kala mengambil tumpukan uang itu, tidak menghitungnya. Dia memasukkan uang tersebut ke dalam kantong plastik hitam yang dia bawa dari saku celana. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kala berbalik dan berjalan keluar dari ruangan VIP, meninggalkan Rustam yang masih gemetar dan ketiga pengawalnya yang mengerang di lantai.

Daeng sedang menghitung lembaran uang di meja warung kopi saat Kala kembali. Kala meletakkan kantong plastik hitam itu di atas meja. Daeng membuka kantong tersebut, matanya berbinar melihat tumpukan uang.

Daeng mengambil dua ikat uang dan menyodorkannya ke arah Kala. Kala menerima uang bagiannya dan memasukkannya ke saku celana.

Daeng menatap wajah Kala. Dia memperhatikan luka memar di rahang dan darah kering di sudut bibir pemuda itu. “Kamu berkelahi seperti orang yang tidak peduli besok masih bernapas atau tidak. Gerakanmu efisien, tapi kamu membiarkan mereka memukulmu.”

“Uangnya pas,” balas Kala mengabaikan komentar Daeng.

“Aku butuh orang sepertimu untuk menjaga tempat perjudianku di Maros. Gajinya tetap. Kamu tidak perlu lagi mengambil kerja lepas seperti ini.”

“Aku tidak terikat,” jawab Kala. Dia berbalik dan berjalan pergi. Daeng memanggilnya dari belakang, tapi Kala terus melangkah menjauh.

Setibanya di kamar kos, Kala melempar uang bagiannya ke atas meja kayu reyot. Dia duduk di tepi kasur. Udara di dalam kamar terasa lebih panas dari biasanya. Kala meraih tablet berlayar retak dari bawah bantal. Dia menyalakan layar, mengetikkan serangkaian kata sandi yang rumit, dan masuk ke jaringan forum bawah tanah.

Halaman forum dipenuhi dengan berbagai penawaran kerja, rumor pembunuhan antar klan, dan pergeseran wilayah kekuasaan. Kala menggulir layar dengan ibu jari. Di bagian forum diskusi utama, sebuah utas pembicaraan menarik perhatiannya. Utas itu membahas pergerakan klan Ludira dalam beberapa bulan terakhir.

Seseorang dengan nama anonim menulis komentar. “Kirana dan Wana semakin memperketat wilayah mereka di Jakarta. Tidak ada celah. Mereka membersihkan semua sisa kekacauan dengan cepat.”

Komentar lain menimpali. “Bagaimana dengan anak bungsu yang memegang kendali resmi? Apakah dia yang merancang semua ini dari balik layar?”

“Kalian tidak tahu? Tuan Muda Ludira masih dalam masa istirahat berkabung. Dia menarik diri. Beberapa pihak menganggap ini pelemahan, tapi kedua kakaknya menjaga benteng terlalu rapat.”

Kala menatap layar itu dengan ekspresi kosong. Forum bawah tanah masih menganggap ketidakhadirannya sebagai bagian dari proses masa berkabung keluarga. Mereka mengira dia sedang duduk manis di rumah utama, dikelilingi penjaga bersenjata, meratapi nasib di ruang yang aman. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa pewaris klan Ludira yang mematikan itu sedang menyeka darah dari bibirnya di kamar kos murah di Makassar, mengambil pekerjaan kotor kelas teri hanya agar tubuhnya merasa lelah dan otaknya berhenti berpikir.

Kala menekan tombol daya. Layar tablet itu menjadi gelap. Dia melempar benda itu ke kasur. Identitas samar ini menyelamatkannya dari segala ekspektasi, tapi tidak menyelamatkannya dari ingatannya sendiri.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Udara yang tadinya panas menyengat mulai berubah. Angin membawa kelembapan yang berat dari arah laut. Awan abu-abu tebal berkumpul di langit Makassar sejak pagi.

Desember datang dengan semua udara yang lembap.

Kala berdiri di depan jendela kamar kosnya. Titik-titik air mulai jatuh dari langit, membentur atap seng dengan suara gemuruh yang keras. Aroma tanah basah dan debu yang tersapu hujan menyeruak masuk melalui celah jendela. Rintik yang semula kecil berubah menjadi hujan lebat yang meredam semua suara bising pelabuhan.

Hawa dingin menyentuh kulit lengannya. Kala menunduk menatap tangannya yang bertumpu pada ambang jendela. Ingatannya berputar kembali tanpa bisa dia cegah. Rintik hujan yang rapat membawanya pulang ke sebidang tanah basah. Dia mengingat rasa dingin pada tubuh Samantha. Dia mengingat darah yang menembus kain baju, darah yang mengalir karena tangannya sendiri yang menarik pelatuk.

Napas Kala menjadi berat. Dada kirinya berdenyut keras, rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan dengan luka fisik dari perkelahian jalanan. Bayangan senyum Samantha dan cangkir teh di sore hari berbaur dengan bayangan tanah pekuburan yang dia gali dengan tangannya sendiri.

Kala berbalik dari jendela. Dia berjalan menuju sudut ruangan, melepas kaosnya. Tangannya meraih gesper harnes kulit yang mengikat dadanya. Dia membuka pengaitnya satu per satu. Harnes itu terlepas dari tubuhnya. Dia menjatuhkan tali kulit beserta pistol semiotomatis itu ke lantai. Benda logam itu berbenturan dengan semen menghasilkan bunyi berdebam pelan. Bulan ini, dia tidak akan menyentuh benda itu.

Kala memakai kaos bersih dan meraih jaket dari gantungan dinding. Dia keluar menembus hujan deras. Air membasahi rambut dan pakaiannya dalam hitungan detik. Dia berjalan ke warung kecil di ujung jalan, membeli dua kardus bir kalengan termurah yang mereka punya. Dia membawa kardus itu kembali ke kamarnya, meletakkannya di samping kasur.

Kala mengunci pintu kamar dari dalam. Dia duduk bersila di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Tangannya meraih ponsel utama yang selama berbulan-bulan ini jarang dia sentuh. Layarnya menyala terang di ruangan yang mulai menggelap.

Dia membuka menu pengaturan panggilan dan pesan. Dengan gerakan ibu jari yang teratur, Kala memblokir semua akses masuk dari nomor tidak dikenal. Dia menghapus semua saluran komunikasi yang menghubungkannya dengan dunia luar. Desember adalah bulan berkabung bagi Kala di mana dia tak menerima komunikasi dalam hal apa pun selain dari kedua orang kakaknya.

Hanya ada dua nomor yang dia biarkan tetap aktif di daftar kontaknya. Nomor Wana dan Kirana.

Setelah memastikan semua akses lain tertutup, Kala meletakkan ponsel itu di atas meja kayu. Dia membuka kaleng bir pertama. Suara gas karbonasi yang terlepas berdesis pelan. Kala menenggak cairan pahit itu, membiarkan rasanya membakar tenggorokan.

Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela yang tertutup rapat. Kala menekuk kedua lututnya dan meletakkan lengannya di atasnya. Ritual bulanannya telah dimulai. Tidak ada pekerjaan menagih utang, tidak ada perkelahian, tidak ada forum bawah tanah. Selama tiga puluh hari ke depan, dia akan mengurung diri bersama hujan, meratapi bayangan seorang gadis penyuka bunga yang mati di tangannya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk