Tahun kedua pelariannya membawa Kala menyusuri pesisir utara Jawa, terdampar di sebuah kawasan pergudangan Tanjung Perak, Surabaya. Hujan beruntun di bulan Desember sudah usai. Panas terik matahari membakar aspal dan menyisakan bau debu serta karat dari kontainer yang bertumpuk.
Kala duduk bersandar pada dipan besi di kamar sewaannya yang pengap. Layar tablet di pangkuannya memancarkan cahaya redup. Jari telunjuknya menggulir halaman forum dunia bawah. Rentetan pesan dan diskusi baru memenuhi layar. Nilai buruan untuk kepalanya baru saja diperbarui pagi ini. Angkanya naik dua kali lipat dari bulan lalu.
Beberapa utas di forum secara terbuka membahas keberadaan Kala. Mereka mengartikan ketidakhadirannya di Jakarta dan penarikan dirinya dari operasi Ludira sebagai kelemahan yang nyata. Banyak yang beranggapan benteng pertahanan Ludira sedang goyah, memberikan celah bagi siapa saja yang berani mengambil risiko untuk mendapatkan hadiah besar.
Kala menutup aplikasi forum. Dia melempar tablet itu ke atas bantal kusam. Dia sama sekali tidak peduli dengan angka yang menempel pada namanya. Jika ada yang datang, dia akan menghadapi mereka.
Perutnya berbunyi, menuntut asupan. Kala bangkit, mengambil dompet kulit tipis dari meja, dan melangkah keluar kamar. Dia menuruni tangga besi yang berkarat di sisi bangunan, berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya.
Sebuah warung tenda penjual nasi madura berdiri di bawah pohon trembesi. Kala memesan satu porsi dengan lauk cumi hitam, duduk di kursi plastik panjang menghadap ke jalan. Udara berbau asap pembakaran sampah dan polusi knalpot truk. Kala menyuap makanannya perlahan.
Seseorang duduk di bangku kayu di seberang jalan, berjarak sekitar lima belas meter dari tempat Kala makan. Pria itu memakai jaket kulit hitam yang salah tempat untuk cuaca panas Surabaya. Wajahnya tertutup topi bisbol yang ditarik rendah. Pria itu sibuk menggeser layar ponsel, tapi posisi bahunya kaku dan ujung sepatunya mengarah tepat ke warung tenda.
Kala menelan suapan terakhirnya. Dia menenggak teh tawar hangat dari gelas kaca, lalu meletakkan selembar uang dua puluh ribuan di atas meja. Dia beranjak pergi tanpa menunggu kembalian.
Langkahnya tenang, menyusuri jalan berdebu ke arah deretan gudang kosong di ujung kawasan industri. Kala mendengar suara langkah kaki bergesekan dengan aspal, menjaga jarak sekitar dua puluh meter di belakangnya. Pria berjaket kulit itu mengikuti dengan ceroboh.
Kala berbelok ke sebuah gang buntu di antara dua dinding beton gudang yang tinggi. Tempat itu penuh dengan tumpukan palet kayu rusak dan tong besi berkarat. Tidak ada kamera pengawas, tidak ada lalu lalang orang. Kala berhenti melangkah. Dia berbalik badan, menyandarkan punggungnya pada sebuah tong besi besar, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana kargo.
Pria berjaket kulit itu muncul dari balik sudut dinding. Dia berhenti saat melihat Kala sudah menunggunya. Tangannya merogoh saku dalam jaket dan menarik sebilah pisau berburu dengan bilah tebal bergerigi.
“Kamu masuk ke jalan buntu,” kata pria itu. Suaranya serak.
“Aku tahu,” jawab Kala.
Pria itu memutar pisau di tangannya. “Kepalamu bernilai dua miliar di forum pagi ini. Terlalu murah untuk pewaris Ludira, tapi cukup untuk modal pensiunku.”
“Kamu pakai jaket kulit tebal di suhu tiga puluh empat derajat Celsius,” balas Kala datar. “Kamu akan mati kepanasan sebelum menikmati uang pensiun itu.”
Pria itu mendengus marah. Dia mempercepat langkahnya, menerjang ke arah Kala dengan pisau terhunus lurus mengincar perut.
Kala tidak mundur. Dia menarik tangan kanannya dari saku celana. Saat ujung pisau itu tinggal beberapa sentimeter dari perutnya, Kala memutar tubuhnya ke kiri. Dia bergerak cukup lambat, dengan sengaja. Ujung bilah tajam itu menyambar lengan kanan Kala, merobek kain kaos dan menembus kulitnya.
Rasa panas yang tajam menyengat saraf di lengannya. Darah langsung merembes keluar, membasahi kain kaos menjadi merah gelap. Kala menatap luka di lengannya selama sedetik. Rasa perih ini nyata. Sensasi terbakar ini membuktikan bahwa darah masih mengalir di dalam tubuhnya, sebuah bukti fisik bahwa dirinya masih hidup.
Pria itu menarik pisaunya kembali, bersiap melancarkan serangan kedua ke arah leher.
Kala tidak memberinya kesempatan lagi. Dia melangkah maju, memangkas jarak. Tangan kirinya melesat menangkap pergelangan tangan pria yang memegang pisau. Kala mencengkeramnya erat, memutar pergelangan itu dengan gerakan cepat dan keras ke arah luar.
Terdengar bunyi tulang bergeser disertai retakan pelan. Pria itu berteriak nyaring, pisaunya jatuh ke tanah berdebu.
Kala menarik tubuh pria itu mendekat, lalu menghantamkan lutut kanannya tepat ke ulu hati lawan. Pria itu terbatuk hebat, udara paksa keluar dari paru-parunya. Tubuhnya melengkung ke depan.
Kala memutar posisinya, memegang bahu pria itu, dan mendorongnya ke dinding beton dengan keras. Wajah pria itu menghantam permukaan beton yang kasar. Darah mengucur dari hidungnya yang patah.
Pria itu mengerang, berusaha melawan dengan sisa tenaganya. Dia mengangkat kaki kirinya, mencoba menendang ke belakang.
Kala merespons dengan menendang bagian belakang lutut kanan pria itu. Pria itu jatuh berlutut. Kala memutar tubuh lawannya hingga menghadap ke arahnya. Dia menekan dada pria itu ke dinding dengan lututnya, mengunci pergerakannya.
Eksekutor pertama yang datang untuk mengincar nilai buruan itu kini menatap Kala dengan ketakutan. Kesombongannya menguap tak berbekas.
“Lepaskan aku,” desis pria itu tersengal-sengal, memuntahkan darah ke dagunya. “Aku mundur.”
Kala menatap pria di bawahnya dengan mata dingin. Dia mengingat bagaimana Samantha terkapar di lantai, bagaimana udara terasa berhenti mengalir saat tangannya sendiri yang menarik pelatuk senjata. Rasa sesak itu merayap kembali, mencekik lehernya dari dalam. Dia membutuhkan pelampiasan.
Kala mencengkeram jari telunjuk tangan kiri pria itu yang masih utuh. Dia menariknya ke belakang dengan tenaga penuh hingga sendinya patah.
Teriakan pria itu menggema di lorong sempit antar gudang.
Kala tidak berhenti. Dia mencengkeram jari tengah pria itu, lalu mematahkannya dengan cara yang sama. Pria itu meronta-ronta, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya. Kala mematahkan jari manisnya. Setiap bunyi gemeretak tulang memberi sensasi asing di kepala Kala. Dia bertindak jauh lebih sadis dari biasanya. Dia sengaja memperpanjang prosesnya, mencari pelampiasan atas kekacauan di kepalanya, menuntut rasa sakit dari orang lain untuk menutupi rasa sakitnya sendiri.
Pria itu menangis terisak. Tenaganya habis terkuras oleh rasa sakit yang luar biasa. Tangan kirinya tergantung lemas dengan jari-jari yang bengkok ke arah yang tidak wajar.
Kala melepaskan tangan pria itu. Dia menarik pistol semiotomatis dari balik pinggang celananya. Dia meletakkan laras pistol yang dilengkapi peredam suara itu tepat di tengah dahi pria tersebut.
“Tiga jari untuk harga dirimu yang memakai jaket kulit di siang bolong,” kata Kala.
Pria itu memejamkan mata, bibirnya gemetar mencoba mengucapkan sesuatu.
Kala menarik pelatuk. Suara letupan tertahan peredam terdengar singkat. Kepala pria itu tersentak ke belakang membentur dinding beton, lalu tubuhnya merosot ke tanah.
Kala berdiri mematung menatap mayat di depannya. Tidak ada kepuasan. Rasa sakit yang dia cari, bukti bahwa dia masih hidup dan mampu merasakan sesuatu melalui penderitaan lawannya, ternyata menguap dalam hitungan detik setelah nyawa pria itu melayang. Rongga di dadanya tetap kosong.
Kala memutar badan dan berjalan keluar dari gang buntu tersebut. Darah segar menetes dari lengan kanannya, meninggalkan jejak merah kecil di aspal berdebu. Dia membiarkan darah itu terus mengalir. Luka sayatan di lengannya berdenyut seiring dengan detak jantungnya.
Setibanya di kamar sewaan, Kala berjalan lurus ke arah kamar mandi. Dia melepaskan kaosnya yang berlumuran darah dan melemparkannya ke lantai. Dia membuka keran air wastafel, membiarkan air keruh mengalir sejenak sebelum menadahkan lengannya di bawah aliran air.
Air dingin menyapu darah yang menggenang, memperlihatkan luka robek sepanjang lima sentimeter. Lukanya tidak terlalu dalam, tapi cukup terbuka untuk memerlukan penanganan. Kala membuka kotak plastik kecil di atas rak wastafel. Dia mengambil sebotol alkohol medis, selembar kapas, dan gulungan perban.
Tanpa ragu, Kala menuangkan alkohol langsung ke atas luka terbukanya. Sensasi terbakar yang amat sangat menyengat lengan kanannya. Rahang Kala mengeras. Dia menekan kapas ke lukanya, menahan rasa perih yang menjalar hingga ke pangkal bahu. Inilah rasa sakit yang dia cari. Sesuatu yang mengalihkan perhatian otaknya dari kenangan tanah basah berhujan di bulan Desember.
Kala melilitkan perban di lengan kanannya, mengikat ujungnya dengan satu tangan dan bantuan giginya. Dia membersihkan sisa darah di wastafel, memastikan tidak ada jejak merah yang tertinggal.
Dia kembali ke ruang utama, mengambil kaos hitam bersih dari tas jinjingnya, dan memakainya. Layar tablet di atas tempat tidur menyala terang, memunculkan notifikasi pembaruan utas di forum. Seseorang baru saja mengunggah foto buram dari kejauhan yang menampilkan mayat eksekutor di lorong gudang.
Komentar-komentar baru bermunculan dengan cepat. Mereka mempertanyakan siapa yang baru saja tewas dan apakah ini peringatan dari Ludira. Beberapa orang masih bersikeras bahwa Kala hanyalah target yang sedang tidak berdaya, menunggu waktu untuk dihabisi oleh eksekutor yang lebih profesional.
Kala menekan tombol daya tablet tersebut, mematikan layarnya secara total. Mereka tidak mengerti apa-apa. Forum bawah tanah itu tidak lebih dari sekumpulan orang-orang yang terlalu sibuk mengurus hidup dan mati orang lain.
Kala merebahkan dirinya di kasur yang keras. Dia menatap langit-langit kamar yang berjamur. Luka di lengannya masih berdenyut. Denyutan itu selaras dengan jarum jam dinding yang bergerak monoton. Tahun kedua pelariannya baru saja dimulai. Berapa banyak lagi eksekutor yang akan datang untuk menjemput nilai buruannya. Berapa banyak lagi tulang yang harus dia patahkan.
Dia memejamkan mata. Wajah Samantha yang tersenyum saat mengantar secangkir teh earl grey di sore hari kembali tergambar di balik kelopak matanya yang terpejam. Kala membuka matanya lebar-lebar. Dia bangkit dari kasur, mengambil kunci jeepnya dari meja.
Kala keluar dari kamar sewaan, menuruni tangga besi, dan masuk ke dalam mobilnya. Dia menghidupkan mesin. Tidak ada tujuan yang ingin dia datangi. Dia hanya tidak ingin berada di dalam ruangan diam. Selama roda jeep ini terus berputar menggilas aspal, dia bisa berpura-pura sedang bergerak maju, menjauh dari kenyataan bahwa dia baru saja kalah telak oleh ingatannya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!