Angin pantai mengembuskan pasir halus ke udara, menabrak kaca-kaca bangunan di sepanjang jalan raya. Udara pesisir terasa lengket, membawa bau garam dan terik matahari sore yang mulai menurun. Kala berjalan santai menyusuri trotoar berdebu. Kaos katun hitamnya berkibar pelan. Tangannya berada di saku celana panjang.
“Maaf, saya tidak sengaja,” kata seorang wanita. Tubuh wanita itu menabrak lengan Kala dari arah samping, membuat tas jinjingnya terbuka dan jatuh menghantam trotoar.
Kala menghentikan langkahnya. Matanya menatap wanita yang kini berjongkok di dekat kakinya. Lipstik, kotak bedak, dan ponsel berhamburan di atas konblok. Rambut panjang wanita itu tergerai menutupi wajahnya, tapi dari sela-sela rambutnya, matanya bergerak mengikuti pergerakan Kala.
Itu adalah skema yang sangat usang. Sepanjang tahun kedua pelariannya, Kala sudah terlalu hafal dengan tingkah wanita yang sengaja menjatuhkan barang demi memulai percakapan atau mencari celah kelengahan.
Kala tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ekspresinya datar. Dia memutar ujung sepatunya, melangkah melewati barang-barang yang berserakan itu, dan berjalan pergi meninggalkan wanita tersebut sendirian di trotoar.
Tujuannya sore ini sangat sederhana. Dia hanya ingin duduk, merasakan senja, menatap langit saga, dan meminum segelas teh hangat dengan tenang. Tangannya sudah cukup lelah dan berlumuran darah dari rentetan eksekutor yang memburunya. Dia tidak ingin menambah jadwal kekerasan hari ini jika tidak terpaksa.
Suara langkah sepatu hak tinggi beradu dengan trotoar, menyusul dengan cepat dari arah belakang.
“Maaf, Tuan. Maafkan saya.” Wanita tadi menyejajarkan langkahnya dengan Kala, membungkuk berulang kali sambil mengatur napas.
Kala menghela napas pendek. “Lupakan,” jawabnya dengan suara berat dan dingin.
Wanita itu masih terus melangkah di sisi kirinya, mengabaikan penolakan tersebut.
Kala menghentikan langkahnya secara mendadak. Dia menoleh, menatap wanita itu tepat di matanya. “Aku tak ingin berbasa-basi. Sudah banyak wanita yang menggunakan cara ini untuk mendekatiku. Siapa pun kamu, dan apapun tujuanmu, mundurlah sekarang”.
Peringatan itu diucapkan tanpa nada tinggi, tapi cukup tajam. Wanita itu mendongakkan kepalanya. Kilat terkejut melintas di matanya, sementara tangannya refleks mencengkeram tali tasnya dengan kuat. Kala mengenali gerakan itu. Ada beban di dalam tas tersebut, benda padat yang terbuat dari logam.
Namun, Kala tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia berbalik dan melanjutkan perjalanannya.
Kala memasuki sebuah kafe berbahan kayu yang dibangun menghadap langsung ke garis pantai. Aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi vanila memenuhi udara. Pelayan di balik meja bar mengangguk pelan saat melihatnya masuk. Tempat ini sudah hafal dengan pesanan rutin dan tempat duduk pilihan Kala.
Kala berjalan melewati deretan meja bundar, memilih kursi kayu di sudut luar teras yang langsung menghadap ke arah laut.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan meletakkan cangkir bening di atas mejanya. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna oranye pekat. Teh earl grey yang warnanya senada dengan langit yang beranjak turun mendekati batas cakrawala.
Kala menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangan kanannya meraba bagian dada kirinya dari luar kemeja. Di balik lapisan kain itu, harnes kulit dan pistol semiotomatisnya terpasang rapat. Detak jantungnya berirama konstan, sama sekali tidak terpengaruh oleh wanita yang mengikutinya.
Dari pantulan kaca jendela kafe, Kala melihat wanita tadi mengambil tempat duduk dua meja di belakangnya. Wanita itu membuka buku menu lebar-lebar, berpura-pura membaca daftar makanan, tapi posisi bahunya tegang dan kaku.
Ingatan Kala mundur ke kejadian dua minggu yang lalu. Dia baru saja melenyapkan seorang wanita dari kelompok kecil yang menggunakan taktik persis seperti ini. Mereka mengirimkan wanita, memalsukan pertemuan yang tidak disengaja, mencoba mengulur waktu dan menjeratnya dengan ketertarikan palsu. Mereka sepertinya kehabisan ide operasi.
Ponsel di dalam saku celana Kala bergetar panjang. Dia mengeluarkan benda persegi itu, melihat nama Wana tertera di layar. Kala menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
“Sesap tehmu dengan cepat, ayo bertemu,” kata Wana dari seberang saluran tanpa basa-basi.
Kala mengangkat cangkir earl grey dari tatakannya. “Aku tidak sedang dalam masalah,” jawabnya enggan. Dia menyesap teh itu perlahan, membiarkan rasa pahit bergamot membasahi tenggorokannya.
“Bukan tentang masalah yang sedang kamu lalui. Tapi, apa yang akan kamu hadapi,” tegas Wana.
“Wanita itu bahkan tak mendekatiku,” bantah Kala sambil menatap gulungan ombak yang memecah buih di bibir pantai.
Terdengar suara helaan napas berat dari ujung telepon. “Justru karena itu. Dia lebih siap untuk membunuhmu,” balas Wana cepat.
Kala meletakkan kembali cangkirnya. “Kamu meragukan pertahanan diriku?”.
“Apa katamu saja lah,” dengus Wana kasar. “Tapi dia tidak sendirian”.
Matanya mengawasi semburat merah di langit yang mulai ditelan bayangan malam. Kala tetap bersikap tenang. “Aku akan mengatasinya, jangan khawatir.” Kala menjauhkan ponsel dari telinganya dan memutus sambungan secara sepihak.
Dia meletakkan ponsel itu di atas meja kayu. Udara sore berembus makin kencang. Kala bangkit dari kursinya. Dia memutar tubuh dan berjalan lurus menuju meja tempat wanita itu bersembunyi di balik buku menu.
Wanita itu tersentak. Dia salah tingkah saat menyadari target utamanya justru menghampiri mejanya secara terbuka. Jari-jarinya mencengkeram ujung buku menu hingga buku-buku jarinya memutih.
Kala menarik kursi kayu di seberang meja dan duduk dengan santai. Dia menumpukan kedua lengannya di atas meja bundar tersebut.
“Aku sudah bilang untuk mundur. Namun, sepertinya, kamu masih ingin mencoba,” kata Kala.
Wanita itu menelan ludah. “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” elaknya dengan suara pelan dan kaku.
Kala memajukan tubuhnya. Matanya mengunci pandangan wanita tersebut dengan tajam. “Kamu dari mana?”.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah meja bar. Dadanya naik turun dengan cepat. Darahnya terpompa naik, terlihat dari warna lehernya yang memerah. Dia menatap gelas air mineral di depannya dengan gelisah. “Aku benar-benar tidak tahu maksudmu,” jawabnya lagi, mencoba menutupi getar di suaranya.
Kala mendekatkan wajahnya melintasi meja. “Jangan berkilah. Mari mencari cara untuk keluar dari masalah tanpa harus menarik pelatuk”.
Napas wanita itu tertahan. Wajahnya tegang. Intimidasi verbal Kala bekerja dengan sangat efektif, mengikis sisa-sisa keberaniannya dari dalam.
Kala meraih sendok kecil dari meja wanita itu. Dia mengaduk minuman di dalam gelas kaca di hadapan wanita tersebut dengan gerakan memutar yang sengaja diperlambat. Gelas itu berdenting berulang kali.
“Aku sudah cukup terlatih untuk patah hati, karena harus membunuh sendiri wanita-wanita yang dikirim untukku,” kata Kala. Suaranya terdengar datar. Dia meletakkan sendok itu di atas tisu. “Hatiku sudah mati jika kamu ingin mencobanya”.
Wanita itu mencengkeram tepi meja. “Aku tidak mengenalmu, jangan ngelantur,” bantahnya.
Kala berdiri dari kursinya. “Ikut aku,” perintahnya. “Tidak baik kita membicarakan ini, sementara aku tahu orang-orangmu sedang mengawasi”.
Wanita itu membuang napas tertahan. Dia tidak memiliki pilihan selain bangkit dan mengikuti instruksi tersebut. Dia mengalungkan tasnya, berjalan di belakang Kala menuju area luar teras kafe.
Kala memimpin jalan, berbelok melewati lorong panjang yang diapit oleh tembok-tembok bata bagian belakang bangunan kafe. Lorong itu remang-remang, hanya diterangi cahaya kuning dari lampu jalan di ujung gang. Bau lumut dan bata basah menguar tajam di udara.
“Aku tidak ingin tahu dari mana kamu berasal, siapa yang mengirimmu, dan juga apa maumu,” kata Kala tanpa menoleh. Langkah sepatunya berderit di atas tanah berkerikil. “Sekali lagi aku tegaskan, mundurlah sekarang, aku akan melepasmu.”
Wanita itu berjalan dengan langkah kaku di belakangnya.
“Aku tahu, mereka mengikuti kita,” sambung Kala. Matanya tetap fokus menatap jalan keluar di ujung lorong. “Berapa orang?”
Keheningan menggantung selama beberapa detik. Udara terasa menyempit.
“Hanya empat orang, dengan senjata lengkap,” jawab wanita itu pada akhirnya dengan nada canggung.
Kala menghitung dalam kepala. “Berarti lima orang denganmu?” tanyanya.
Dia tidak mempercepat langkahnya sama sekali. “Situasi ini tak pernah aku inginkan. Aku sudah memberimu kesempatan. Aku tak ingin patah hati lagi, jadi tolong, mundurlah.”
Mendengar itu, wanita tersebut menghentikan langkahnya. Sol sepatunya bergesekan keras dengan kerikil.
“Apa luka akan cinta itu begitu dalam?” tanyanya.
Kala ikut menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung membelakangi wanita tersebut di tengah lorong yang sempit. Angin malam menyapu ujung kemejanya.
“Bagaimana rasanya membunuh sendiri orang yang kamu cintai?” Kala mengajukan pertanyaan balasan. Dia memutar ujung sepatunya perlahan, berbalik menghadap wanita yang kini berjarak dua meter darinya itu.
Mata mereka bertemu. Kala membiarkan pertahanannya turun sesaat. Matanya memancarkan kesenduan yang berbanding terbalik dengan garis rahangnya yang keras. Tatapan itu adalah senjata terkuat yang menembus lapisan pertahanan wanita di depannya.
Wanita itu terpaku. Tangannya yang sempat memegang ritsleting tas kembali turun perlahan. “Aku tak pernah tahu,” jawabnya pelan.
Kala memajukan tubuhnya satu langkah. “Kamu ingin merasakannya?” tantangnya.
Wanita itu mengerutkan dahi, bingung dengan maksud kalimat tersebut.
“Kita bersama,” lanjut Kala. “Akan kubuat dirimu jatuh cinta. Begitu mencintaiku hingga lupa tujuanmu. Lalu, bunuh aku di saat yang seharusnya”.
Bulu kuduk wanita itu meremang. Wajahnya berubah pucat pasi. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mundur selangkah ke belakang untuk mempertahankan jarak aman.
Kala memalingkan wajahnya sedikit, mengalihkan pandangannya melewati bahu wanita tersebut. Di sekitar area ujung lorong, empat pria berpakaian preman sedang berdiri menyebar. Mereka berusaha membaur dengan lingkungan yang gelap, berpura-pura mengobrol atau memainkan ponsel, tapi posisi tangan mereka bersiaga di dekat pinggang.
Kala kembali menatap wajah wanita di depannya. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang,” kata Kala. “Mereka berempat pasti melihat kondisimu yang terdesak.”
Wanita itu melirik ke arah teman-temannya dengan gelisah. Dia tahu melepaskan tembakan di lorong sempit ini tidak akan memberikan keuntungan taktis apapun, namun mundur berarti misi ini gagal total.
“Sekarang bagaimana?” tekan Kala, menuntut keputusan.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Pilihan ada di tangannya.
“Pergilah. Jangan kembali,” perintah Kala. “Aku akan melepaskanmu. Tapi jika kalian berulah, aku pastikan hatimu bukan sekedar patah. Namun juga berserakan sampai tidak bisa dirangkai lagi.”
Kalimat yang diucapkan dengan nada ancaman dingin itu menghancurkan sisa keberanian si eksekutor bayaran. Wanita itu mundur teratur. Dia mengangkat tangan kanannya, memberikan gestur sinyal kecil kepada keempat temannya untuk membatalkan serangan dan menarik diri.
Kala berdiri tegak di tengah lorong, memperhatikan mereka berjalan pergi satu per satu. Dia memastikan mereka benar-benar keluar dari radius bahaya dan menghilang di balik keramaian jalan utama.
Kala berjalan kembali menuju area teras kafe. Mejanya di sudut luar masih kosong. Cangkir earl grey miliknya sudah tidak lagi mengepulkan asap. Langit saga telah sepenuhnya digantikan oleh kegelapan malam. Senjanya telah hancur. Dia kembali membuang waktunya untuk mengusir musuh yang terus-menerus datang dengan taktik yang berulang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!