Hujan turun lebat menghantam atap seng sebuah motel murah di pinggiran Banyuwangi. Suara air yang menabrak logam berkarat itu menciptakan derau bising yang meredam suara ombak dari pantai di kejauhan. Kala berdiri di depan meja kayu, menatap air yang mendidih di dalam panci listrik kecil. Dia menuangkan air mendidih itu ke dalam mangkuk mi instan. Aroma gurih bercampur uap panas menguar, menutupi bau kapur barus yang menyengat dari arah kamar mandi.
Kala mengambil garpu plastik. Baru saja dia akan mengaduk mi tersebut, pintu kamarnya ditendang dari luar dengan keras. Kayu kusennya pecah terbelah. Daun pintu menghantam dinding bagian dalam hingga gagangnya meninggalkan lubang seukuran kepalan tangan pada gipsum.
Seorang pria berjas hujan kuning berdiri di ambang pintu. Tudung jas hujan menutupi sebagian wajahnya. Tangan kanan pria itu memegang pistol laras pendek yang diarahkan lurus ke dada Kala. Air hujan menetes deras dari ujung jas kuningnya, membentuk genangan kotor di atas karpet tipis di lantai kamar.
Kala menatap pria itu, lalu menatap genangan air di karpet, dan terakhir menatap mangkuk mi instannya yang kini kemasukan serpihan kayu dari pintu yang pecah.
“Kamu membuat lantaimu sendiri licin,” kata Kala dengan suara datar.
Pria itu mendengus sinis, melangkah masuk ke dalam kamar. “Harga kepalamu naik lagi hari ini. Aku tidak peduli pada karpet basah.”
Kala tidak membuang waktu. Dia mengangkat mangkuk berisi air mendidih dan mi instan itu, lalu menyiramkannya tepat ke wajah pria tersebut.
Pria berjas hujan kuning itu menjerit keras. Pistol di tangannya meletus tanpa arah, pelurunya menembus plafon tripleks. Dia melepaskan senjatanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mundur terhuyung-huyung menginjak genangan air hujan yang dia buat sendiri. Sol sepatu botnya tergelincir di atas karpet basah. Tubuhnya jatuh terlentang menghantam lantai.
Kala melangkah maju dengan tenang. Dia menendang pistol yang tergeletak di lantai hingga meluncur masuk ke bawah kolong tempat tidur.
Pria itu mengerang kesakitan, berusaha bangkit sambil mengusap matanya yang memerah akibat kuah mendidih. Kala tidak memberinya kesempatan. Dia mengangkat kaki kanannya dan menginjak dada pria itu dengan tenaga penuh, memaku tubuh lawannya kembali ke lantai.
“Kamu merusak makan malamku,” ucap Kala.
Pria itu mencoba memberontak, mencengkeram pergelangan kaki Kala dengan kedua tangan. Tenaganya cukup kuat. Kala merespons dengan memutar tumit sepatunya tepat di atas tulang rusuk pria tersebut. Terdengar bunyi retakan pelan. Pria itu kembali berteriak, cengkeramannya terlepas seketika.
Hawa dingin menyusup masuk melalui pintu yang terbuka lebar, membawa aroma tanah basah dan hujan yang kental. Bau itu menyengat hidung Kala. Udara lembap ini adalah penanda waktu yang paling dia benci. Aroma hujan selalu membawanya kembali pada ingatan tentang sebidang tanah merah dan tubuh yang terbujur kaku.
Rasa sesak mendadak memenuhi rongga dada Kala. Kekosongan yang selama ini dia bawa berubah menjadi dorongan untuk menghancurkan sesuatu. Kala berjongkok di samping pria yang sedang mengerang itu. Dia meraih lengan kanan pria tersebut, memutarnya ke arah luar hingga melewati batas normal sendi bahu. Pria itu melolong panjang. Kala menekan sikunya ke sendi siku lawan, lalu memberikan satu hentakan keras ke bawah. Tulang lengan pria itu bergeser dari tempatnya dengan bunyi derak yang keras.
“Ampun,” rintih pria itu tersengal-sengal. Wajahnya yang melepuh dipenuhi air mata. “Aku menyerah.”
Kala tidak menjawab. Dia beralih meraih lengan kiri pria itu. Rasa perih di dadanya menuntut pelampiasan yang lebih. Dia tidak peduli pada aturan dunia bawah, dia tidak peduli pada kode etik eksekutor. Dia hanya ingin suara hujan di luar sana berhenti mengingatkannya pada Samantha.
Kala memelintir pergelangan tangan kiri pria itu, melipatnya ke arah punggung tangan sampai tulang pergelangannya patah. Pria itu kejang sesaat karena rasa sakit yang menumpuk, lalu kesadarannya menghilang. Kepalanya terkulai lemas di atas karpet yang basah.
Kala melepaskan tangan pria itu. Dia berdiri perlahan, napasnya memburu tidak beraturan. Dia menatap tubuh yang pingsan di depannya. Tidak ada kepuasan. Rasa sakit yang dia berikan kepada pria ini sama sekali tidak mengurangi rasa sakit di dalam kepalanya sendiri. Kekejaman ini tidak mengubah apa pun.
Kala meraih kerah jas hujan kuning tersebut. Dia menyeret pria itu keluar dari kamar, menyusuri lorong motel yang sepi dan remang-remang. Lampu neon di ujung lorong berkedip-kedip tidak stabil. Kala membuka pintu keluar samping, menyeret pria itu ke area belakang motel, lalu membuang tubuhnya di dekat deretan tempat sampah besi yang berkarat. Air hujan mengguyur tubuh lemas pria itu. Kala berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya.
Dia masuk, mengunci pintu yang engselnya sudah bengkok dengan menjejalkan kursi kayu di bawah gagang pintu. Kala berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran wastafel. Dia mencuci kedua tangannya dengan sabun batangan yang baunya menyengat.
Kala keluar dari kamar mandi, mengambil sepotong roti tawar dari dalam tas plastiknya, dan mengunyahnya tanpa selera. Mangkuk mi instannya tergeletak di lantai, isinya tumpah berantakan.
Ponsel di atas meja kayu bergetar kencang, bergerak-gerak hingga hampir jatuh ke lantai. Layarnya menyala, menampilkan nama Kirana. Kala mengambil ponsel itu dan menggeser ikon hijau di layar.
“Berapa banyak tulang yang kamu patahkan hari ini?” tanya Kirana tanpa mengucapkan salam.
Kala mengunyah rotinya lambat-lambat. “Satu bahu, satu siku, dan satu pergelangan tangan. Mungkin ada satu atau dua rusuk.”
Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang saluran. “Wana baru saja membanting kursi kayu di ruang makan hingga kakinya patah dua.”
“Kenapa?”
“Karena seseorang mengunggah foto buram dari kejauhan di forum dunia bawah. Foto seorang pria berjas hujan kuning yang diseret ke dekat tempat sampah. Wana mengenali jas hujan itu. Dia bilang itu ciri khas kelompok pembunuh bayaran kelas menengah dari daerah timur.”
Kala menelan rotinya. “Orang-orang di forum tidak punya pekerjaan lain selain memotret sampah.”
“Wana sudah mengambil kunci mobilnya,” lanjut Kirana, mengabaikan komentar Kala. “Dia mengemasi tasnya sepuluh menit yang lalu. Dia mau menyetir ke timur malam ini juga untuk menyeretmu pulang. Dia bilang mau mengikatmu di atap mobil kalau kamu menolak masuk ke dalam.”
“Kamu membiarkannya?”
“Aku menyuruh Andika menyembunyikan kunci gerbang utama dan memutus kabel mesin otomatisnya. Wana sedang mengamuk di halaman depan menendangi ban mobil operasional.” Kirana menghentikan kalimatnya sejenak. Suara deru kendaraan terdengar samar dari ujung teleponnya. “Kal, Wana hampir menyisir lokasimu. Dia tidak tahan melihatmu terus-menerus memancing eksekutor seperti ini.”
“Aku hanya membela diri. Orang itu menendang pintuku.”
“Kamu sengaja membuat keributan di setiap kota yang kamu singgahi agar mereka datang menemuimu. Kamu bertindak makin liar. Bulan lalu di Semarang, bulan ini di ujung timur.” Nada suara Kirana meninggi sedikit, menunjukkan frustrasi yang selama ini dia tahan. “Kamu tidak menyembunyikan jejakmu dengan benar.” Kala berjalan ke arah jendela. Dia menatap tetesan air hujan yang mengalir deras di permukaan kaca buram. “Wana mencemaskanmu, Kal,” suara Kirana melembut. “Kami semua mencemaskanmu. Kamu tidak bisa terus hidup dari satu perkelahian ke perkelahian lain hanya untuk mencari pelampiasan.” Kala tidak menjawab. Tangannya menyentuh permukaan kaca yang dingin. “Ini bulan Desember, Kal,” ucap Kirana pelan.
Kata-kata itu menghantam telinga Kala. Desember. Waktu bergulir tanpa dia sadari, dan kini bulan itu telah tiba lagi. Bulan berkabung. Bulan penuh hujan yang selalu datang membawa kenangan yang sama. Bulan di mana dia harus merelakan segalanya dan menutup diri dari dunia luar. Kala menundukkan kepalanya. Suara hujan di luar terdengar semakin keras, mengalahkan suara napasnya sendiri. “Aku tahu,” jawab Kala serak.
“Jangan lakukan hal bodoh,” pesan Kirana. “Berdiamlah. Tetap hidup sampai bulan ini selesai.”
Sambungan telepon terputus. Kala meletakkan ponselnya di atas pinggiran jendela. Dia menatap layar yang kembali menggelap. Hari ini adalah hari pertama di bulan Desember. Waktunya telah tiba untuk melaksanakan rutinitas tahunan yang tidak pernah dia lewatkan belakangan ini.
Kala menarik ujung kaos hitamnya dan melepaskannya melalui kepala. Udara dingin di dalam kamar menyentuh kulit dadanya. Tangannya bergerak ke arah gesper logam pada harnes kulit yang melingkari bahu dan rusuknya. Harnes ini adalah identitasnya. Senjata yang terselip di sana adalah perpanjangan tangannya. Namun setiap bulan Desember tiba, benda ini terasa terlalu berat untuk disandang. Benda ini mengingatkannya pada tugas-tugas berdarah, pada eksekusi, dan pada kenyataan bahwa tangannya sendiri yang mengakhiri nyawa orang yang dia cintai.
Kala menekan tombol pelepas gesper. Tali kulit itu mengendur. Dia menarik harnes tersebut dari tubuhnya. Pistol semiotomatis yang masih berada di dalam sarungnya ikut terbawa. Kala menjatuhkan harnes beserta senjata itu ke lantai. Logam berat membentur semen yang dilapisi karpet tipis.
Bulan ini, dia tidak akan menyentuh benda itu sama sekali. Dia meluruhkan segala pertahanan dirinya, membiarkan dirinya menjadi manusia biasa yang tidak kebal terhadap rasa sakit akibat kehilangan.
Kala mengambil kembali ponselnya. Dia menekan tombol daya di sisi perangkat dan menahannya selama beberapa detik. Layar menampilkan pilihan untuk mematikan daya. Kala menekan pilihan tersebut. Layar berkedip sekali sebelum mati total. Mulai detik ini, tidak ada lagi akses komunikasi. Tidak ada Kirana, tidak ada Wana, tidak ada pembaruan dari forum bawah tanah.
Kala menarik sebuah kursi kayu dan meletakkannya tepat di depan jendela. Dia duduk di sana, menekuk kedua lututnya dan memeluknya erat-erat. Dagunya bersandar pada lutut, matanya menatap lurus ke arah kaca jendela yang bergetar diterpa angin dan hujan.
Bunga yang seharusnya bermekaran di pagi hari seolah membeku karena embun menyentuh setiap pucuknya. Ingatan Kala melayang pada wajah Samantha yang tersenyum saat menata pot bunga di balkon. Dia mengingat wangi teh yang diseduh di sore hari, dan rasa hangat dari pelukan gadis itu sebelum semuanya hancur berantakan.
Desember adalah bulan baginya untuk berduka. Dia tidak akan melakukan sesuatu sampai tiga puluh hari penuh berlalu. Kala membiarkan hawa dingin merayapi tubuhnya tanpa berusaha mencari selimut. Dia membiarkan rasa sesak itu menguasai dadanya. Di luar, hujan deras terus turun tanpa ampun, seakan semesta mengiringi kepergian orang yang dia cintai dan mengguyurnya dengan luka yang tidak pernah mengering.
Kala duduk dalam diam, memeluk lukanya sendiri di tengah cuaca Desember yang membekukan, menunggu tiga puluh hari ini berlalu dalam kesendirian.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!