Angin selat membawa uap asin dan bau solar sisa pembakaran mesin dari cerobong kapal feri. Kala berdiri di geladak atas, menyandarkan punggungnya pada pagar pipa besi yang cat putihnya sudah mengelupas di banyak bagian. Tahun ketiga pelariannya bermula di atas perairan terbuka. Setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu berpindah dari satu kota ke kota lain di pulau-pulau bagian timur, ujung sepatunya kini kembali mengarah ke Pulau Jawa.
Matahari bersinar terik, memantulkan cahaya menyilaukan di permukaan laut yang bergelombang. Penumpang geladak duduk berdesakan di atas tikar plastik atau bangku kayu panjang, mengipasi diri dengan koran bekas atau topi. Kala berdiri memisahkan diri di sudut dek. Dia memakai kaos abu-abu lengan pendek dan celana kargo hitam yang warnanya sudah memudar karena sering dicuci. Di balik kaosnya, lekuk harnes kulit kembali tercetak. Bulan Desember telah berlalu, dan senjata apinya kembali menempel pada tulang rusuknya.
Suara klakson kapal berbunyi panjang dan berat, mengalahkan suara deburan ombak yang menabrak lambung besi. Feri perlahan mengurangi kecepatan, bermanuver merapat ke dermaga Pelabuhan Ketapang. Kala berbalik, berjalan menuruni tangga logam berkarat menuju dek parkir kendaraan di lantai bawah. Udara di dalam lambung kapal terasa sangat pengap, bercampur asap knalpot tebal dari truk-truk logistik yang mulai menyalakan mesin.
Kala masuk ke dalam jeep hitamnya. Dia menyalakan mesin diesel yang merespons dengan derum halus. Roda mobilnya melindas ram besi kapal yang diturunkan, menyentuh daratan aspal pelabuhan.
Perjalanan daratnya dimulai. Kala mengemudikan kendaraannya menyusuri jalan raya pesisir pantai utara. Panas aspal menciptakan ilusi genangan air di kejauhan. Laju jeepnya dipertahankan konstan, membelah lalu lintas truk gandeng dan bus antarkota yang saling mendahului. Dia melewati kawasan hutan jati di Situbondo yang meranggas kering, terus melaju menembus jalanan pesisir Probolinggo dan Pasuruan yang berdebu.
Jendela mobilnya dibiarkan turun separuh. Angin panas berembus masuk mengacak-acak rambutnya yang kian panjang menyentuh kerah baju. Tidak ada tujuan pasti di kepalanya, tapi kedua tangannya memutar roda kemudi terus ke arah barat. Pergerakannya kembali ke tanah Jawa ini terjadi begitu saja, tanpa rencana rute yang khusus dicatat di atas kertas.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam berkendara membelah jalanan aspal, matahari mulai condong ke ufuk barat. Langit berangsur berubah warna menjadi jingga kemerahan saat Kala melintasi perbatasan masuk kota Semarang. Jalanan kota mulai padat oleh pekerja pabrik yang pulang pada jam pergantian sif. Polusi knalpot menggantung rendah di udara. Kala menepikan jeepnya di sebuah kawasan industri, berhenti di depan sebuah warung makan soto daging yang atap terpal birunya sudah pudar terkena cuaca.
Kala duduk di kursi kayu panjang di depan meja berlapis seng. Dia memesan satu porsi soto daging dan segelas es jeruk. Sambil menunggu pesanannya datang, matanya mengawasi lalu lintas jalan raya.
Tepat di seberang jalan dari tempatnya duduk, sebuah kompleks pergudangan besar berdiri. Pintu gerbang besi yang lebar terbuka penuh, menampilkan deretan truk kontainer terparkir rapi di halaman beton. Papan nama besar di dekat pos penjagaan bertuliskan PT Ekspedisi Mahesa. Kala mengenali lambang kepala kerbau berwarna merah yang tercetak di papan tersebut. Lima tahun lalu, kelompok Mahesa dikenal sebagai penguasa jalur penyelundupan barang ilegal jalur laut. Kini, mereka tampak beroperasi penuh sebagai perusahaan logistik resmi yang solid, melakukan bongkar muat barang-barang komersial secara terang-terangan di bawah sorot lampu jalan.
Kala tidak memikirkan perubahan itu lebih jauh. Dia hanya menerima mangkuk soto yang disodorkan oleh penjual, meraih sendok dari wadah plastik, dan mulai memakan sotonya dalam diam.
Setelah menghabiskan isi mangkuknya, Kala meletakkan selembar uang kertas di meja kasir. Dia membawa es jeruknya yang dibungkus dalam plastik bening dengan ikatan karet gelang. Dia berjalan kembali menuju bahu jalan tempat jeepnya diparkir, berjarak sekitar lima belas meter dari warung soto.
Di samping ban belakang kanan mobilnya, dua orang pria bertubuh kurus dengan pakaian kumal sedang berjongkok. Salah satu dari mereka memegang kunci palang besi berbentuk silang, berusaha memutar baut pengunci velg ban cadangan yang menempel di pintu belakang jeep. Pria yang lain berjongkok di dekatnya, mengawasi keadaan sekitar jalanan yang mulai gelap.
Kala berhenti melangkah. Jaraknya hanya dua meter dari mereka berdua. Dia menyedot es jeruknya dari sedotan plastik. Bunyi sedotan yang menyedot dasar plastik kosong memecah keheningan di sela deru kendaraan yang lewat.
Kedua pria itu tersentak kaget dan menoleh. Pria yang bertugas mengawasi langsung berdiri, menarik sebilah pisau lipat berkarat dari saku celana jinnya.
“Jalan terus kalau tidak mau bolong perutmu,” ancam pria berpisau itu dengan suara serak.
“Baut yang paling bawah itu sudah dol,” kata Kala datar. Dia menunjuk ke arah ban cadangan di belakang mobilnya dengan dagu. “Bulan lalu aku membawanya ke bengkel, montirnya bilang harus digergaji.”
Pria yang memegang kunci palang ikut berdiri. Dia menimbang besi berat itu di tangan kanannya. “Jangan banyak omong. Serahkan kunci mobil dan dompetmu sekarang.”
“Ban cadangan itu juga bocor halus di sisi dalamnya,” tambah Kala santai. Dia kembali menyedot es jeruknya yang tinggal sisa es batu. “Kalian rugi tenaga membawanya dan masih harus membayar biaya tambal.”
“Tutup mulutmu!” Pria berpisau melangkah maju dengan cepat, mengayunkan pisaunya ke arah perut Kala.
Kala tidak mundur atau menghindar. Dia melempar plastik es jeruk yang masih berisi bongkahan es batu itu langsung ke wajah pria di depannya. Plastik pecah berantakan saat membentur dahi. Air dingin, pecahan es batu, dan sisa cairan jeruk mengguyur mata dan hidung pria tersebut.
Pria itu mengumpat keras, serangannya terhenti mendadak saat dia mengusap matanya yang perih terkena air jeruk.
Kala memiringkan badannya sedikit, lalu menendang lutut kanan pria itu dengan ujung sepatu botnya. Terdengar bunyi tulang beradu. Pria itu jatuh berlutut di atas aspal sambil mengerang kesakitan, pisaunya terlepas dari genggaman.
Melihat temannya tumbang, pria kedua mengayunkan kunci palang besi itu ke arah kepala Kala. Kala mengangkat lengan kirinya, menepis ayunan besi tersebut dengan lengan bawahnya. Benturan logam dan tulang berbunyi tumpul. Rasa kebas langsung menjalar dari siku hingga ke pergelangan tangan Kala, tapi kakinya sama sekali tidak bergeser dari posisinya berdiri.
Tangan kanan Kala melesat menangkap kerah baju pria tersebut. Dia menarik tubuh kurus itu ke depan dengan tarikan keras, lalu membenturkan wajah pria tersebut ke kaca jendela samping jeepnya. Kaca mobil tidak pecah, tapi tubuh pria itu langsung merosot lemas ke tanah dan kehilangan kesadaran seketika. Kunci palang jatuh berdenting di aspal.
Pria pertama yang masih berlutut di tanah mencoba meraih pisaunya kembali. Kala menginjak punggung tangan pria itu dengan sol sepatunya, memberikan tekanan hingga pria itu menjerit dan melepaskan pisaunya lagi.
“Buka pintu mobil,” perintah Kala. Suaranya tidak meninggi.
Pria itu mendongak. Wajahnya basah oleh air jeruk dan keringat kotor. Matanya melebar kebingungan. “Apa?”
“Pegang gagang pintunya dan tarik,” ulang Kala. “Tanganku lengket terkena es jeruk.”
Dengan tangan kiri yang gemetar, pria itu mengulurkan tangan, meraba gagang pintu jeep dan menariknya hingga terbuka.
Kala mengangkat kakinya dari tangan pria itu, membiarkan pria tersebut bernapas lega selama satu detik. Setelah pintu terbuka, Kala memukul tengkuk belakang pria itu dengan sisi telapak tangannya. Pria itu jatuh tertelungkup di aspal, tidak bergerak lagi, bergabung dengan temannya yang pingsan.
Kala mengusap telapak tangannya yang lengket ke kain celana kargonya. Lengan bawah kirinya yang tadi terkena hantaman kunci palang mulai berdenyut nyeri, menyisakan warna kemerahan yang akan segera berubah menjadi memar biru. Kala mengabaikan rasa sakit itu. Dia masuk ke kursi kemudi, menutup pintu, dan menyalakan mesin.
Jeep hitam itu kembali melaju meninggalkan bahu jalan, menyusuri aspal yang mulai sepi. Lampu jalanan berwarna kuning menyorot kap mobil secara bergantian.
Di konsol tengah, layar ponsel Kala menyala terang menampilkan satu pesan masuk singkat. Nama Wana tertera di sana.
“Jangan lupa ganti oli mobilmu. Aku tidak mau menjemputmu kalau mesinnya mogok di tengah jalan.”
Kala melirik pesan itu sekilas saat berhenti di lampu merah sebuah persimpangan. Dia mengetik balasan dengan satu tangan tanpa repot-repot menggunakan tanda baca.
“Sudah.”
Lampu berubah hijau. Kala menginjak pedal gas, membiarkan mesin diesel menderu halus. Perjalanannya masih panjang. Laju kendaraannya terus mengarah ke barat, membelah gelapnya rute pesisir utara Jawa. Hatinya masih terasa kosong, sebuah lubang yang tidak bisa diisi oleh hiruk pikuk jalanan atau pertarungan di pinggir jalan. Namun, tangannya terus memegang kemudi, membawa pergerakannya semakin dekat menuju arah tempat dia berasal.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!