Bab 8

0 dibaca

A

Bau kapur barus dan debu kering langsung menyergap penciuman Kala saat pintu kayu lapis itu didorong terbuka. Engsel pintu berderit nyaring, memecah keheningan gang sempit yang hanya bisa dilewati satu sepeda motor tersebut. Kala berdiri di ambang pintu, menatap ruang berukuran tiga kali empat meter yang akan menjadi tempat tinggalnya.

Tahun ketiga pelariannya membawanya kembali ke arah barat. Dia tidak memilih pulau terpencil atau hutan lebat. Dia menyewa sebuah kontrakan petak di pinggiran Jakarta, daerah padat penduduk yang hiruk-pikuknya cukup untuk menelan keberadaan siapa pun tanpa sisa. Ini adalah rumah pertama dari sekian banyak rumah singgah yang akan dia tempati pada masa depan.

Di belakangnya, seorang pria paruh baya berpeci hitam dan mengenakan kemeja batik pudar ikut melongok ke dalam ruangan. Namanya Pak Yanto, pemilik deretan sepuluh pintu kontrakan di gang ini.

“Kamarnya memang kecil, Mas Gilang,” kata Pak Yanto menyebut nama palsu yang tertera di kartu identitas Kala. “Tapi atapnya baru diganti seng bulan lalu. Tidak akan bocor kalau hujan. Air juga lancar.”

Kala melangkah masuk. Lantai keramik putihnya kusam dan terasa lengket di bawah sol sepatunya. Ada sebuah kasur busa tipis bersandar pada dinding kosong, sebuah lemari plastik susun tiga di sudut, dan satu pintu PVC berwarna biru muda yang mengarah ke kamar mandi.

“Cukup untuk saya,” jawab Kala. Suaranya datar. Dia meletakkan tas jinjing kanvas hitamnya di atas lantai.

Pak Yanto mengangguk puas. Dia melipat uang sewa tiga bulan pertama yang baru saja diserahkan Kala dan memasukannya ke saku kemeja. “Mas Gilang kerja apa di Jakarta? Wajahnya kelihatan jarang kena matahari.”

“Saya kerja serabutan, Pak. Jaga malam di gudang,” jawab Kala tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

“Oh, pantas. Shift malam memang bikin pucat. Yang penting halal. Di lingkungan ini kita rukun semua. Hari Sabtu malam giliran ronda, kalau Mas libur jaga gudang, silakan gabung di pos depan. Warga sini suka main gaple sampai pagi.”

“Saya usahakan,” balas Kala. Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk duduk di pos ronda dan bermain kartu.

Pak Yanto menepuk bahu Kala sekilas, lalu berpamitan pergi untuk mengurus saluran air di kontrakan ujung. Kala menutup pintu kayu itu. Dia memutar kunci dan menggeser gerendel besi di bagian atas.

Kala berdiri sendirian di tengah ruangan. Udara terasa panas dan pengap. Dia membuka jendela nako kaca di samping pintu agar udara dari gang bisa masuk. Suara anak-anak kecil yang berlarian dan teriakan pedagang siomay terdengar jelas. Suara-suara kehidupan normal yang sangat jauh dari desingan peluru dan meja perundingan klan dunia bawah.

Kala berjongkok di depan tas kanvasnya. Dia menarik resleting hingga terbuka. Tumpukan pakaian kotor dan bersih bercampur menjadi satu. Di bagian paling bawah tas, tersembunyi di balik lipatan celana kargo, harnes kulit dan pistol semiotomatisnya terbaring diam. Kala membiarkan benda logam itu tetap berada di sana. Di lingkungan padat penduduk ini, dia tidak membutuhkan senjata. Membawa pistol ke warung nasi hanya akan memancing pertanyaan yang tidak perlu.

Dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Pintu PVC biru itu melengkung di bagian bawah. Kala mendorongnya terbuka. Bau karbol murahan menguar. Ada bak mandi kecil dari ember plastik besar berwarna hitam dan sebuah keran air yang terus-menerus meneteskan air. Menetes dengan irama lambat.

Kala memutar keran itu hingga tertutup rapat, tapi air tetap menetes. Karet penahannya sudah aus. Kala kembali ke ruang depan, mengambil dompet, dan memutuskan keluar untuk mencari toko bangunan terdekat. Dia butuh kunci inggris, selotip pipa, dan beberapa barang kebutuhan dasar.

Gang di depan kontrakannya dipenuhi jemuran pakaian yang menggantung melintang di atas kepala. Motor-motor bebek diparkir merapat ke dinding. Ibu-ibu berdaster duduk di teras sambil memotong sayuran dan mengobrol dengan suara keras. Kala berjalan menunduk, memakai topi bisbol hitam untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia menyelinap di antara keramaian seperti bayangan.

Kala menemukan sebuah toko material di pinggir jalan raya. Dia membeli sebuah kunci inggris berukuran sedang, selotip pipa, satu ember plastik baru, sabun lantai, dan obat nyamuk bakar. Penjaga toko menghitung belanjaannya dengan kalkulator besar berbunyi nyaring. Kala membayar dengan uang pas dan membawa barang-barangnya dalam kantong plastik kresek merah.

Sebelum kembali ke kontrakan, perutnya memberikan sinyal kosong. Kala berhenti di sebuah warung tegal yang etalase kacanya berembun. Aroma gorengan dan sambal terasi tercium kuat.

“Makan sini, Mas?” sapa ibu penjaga warung yang sedang mengelap meja panjang dengan kain basah.

Kala mengangguk. “Nasi separuh, telur dadar, tempe orek, dan sayur nangka.”

Ibu itu dengan cekatan menyendok makanan ke atas piring porselen bermotif bunga yang pinggirannya sudah gumpil. Kala menerima piring tersebut dan duduk di kursi kayu panjang. Di sebelahnya, dua orang pria berseragam pekerja bangunan sedang makan dengan lahap sambil membicarakan skor pertandingan sepak bola tadi malam.

Kala makan dalam diam. Dia mendengarkan percakapan di sekitarnya. Tidak ada yang membicarakan nilai buruan, tidak ada yang menyebut nama klan Ludira atau Nagasastra. Orang-orang di sekelilingnya sibuk memikirkan tagihan listrik, cicilan motor, dan harga beras yang naik. Rasa asing menyelimuti Kala. Dia duduk di antara mereka, memakan makanan yang sama, menghirup udara yang sama, tapi dia tahu dunia yang dia tinggali memiliki lapisan dasar yang dipenuhi darah dan tulang patah.

Kala menyelesaikan makanannya, membayar, dan berjalan kembali ke gang kontrakannya.

Setibanya di kamar, Kala langsung bekerja. Dia menaburkan sabun bubuk ke lantai dan menyikat seluruh ruangan hingga air bilasannya berubah keruh. Dia membersihkan kamar mandi, membongkar keran air yang bocor dengan kunci inggris, dan melilitkan selotip pipa pada ulirnya sebelum memasangnya kembali. Keran itu terpasang kuat. Tidak ada lagi tetesan air yang mengganggu pendengaran.

Pekerjaan fisik yang sederhana ini memberikan rasa lelah yang berbeda. Otot bahu dan lengannya menegang, tapi kepalanya terasa lebih jernih. Menyikat lantai dan memperbaiki keran air jauh lebih masuk akal dibandingkan mematahkan jari eksekutor bayaran di lorong gudang kosong.

Malam harinya, suhu udara Jakarta terasa makin lengket. Kala duduk bersila di atas kasur busa tipis tanpa seprai. Kipas angin kecil berdengung di sudut ruangan, hanya memutar udara panas dari satu sisi ke sisi lain. Asap tipis dari obat nyamuk bakar meliuk-liuk menembus cahaya redup dari satu-satunya lampu bohlam di langit-langit.

Kala meraih tabletnya yang layarnya sudah retak memanjang. Dia menghidupkan perangkat itu, memasukkan kata sandi, dan masuk ke jaringan forum dunia bawah tanah.

Halaman utama forum dipenuhi dengan keributan. Nama Kala Anikait menjadi topik diskusi terpanas dalam tiga hari terakhir. Para pemburu bayaran dan informan saling melempar spekulasi karena kehilangan jejak.

Seseorang dengan nama akun tanpa identitas menulis, “Target terakhir terlihat di Jawa Tengah sebulan lalu. Laporan terbaru menyebutkan ada orang mirip dia memesan tiket kapal feri menuju Kalimantan.”

Akun lain langsung membantah. “Informasi sampah. Sumberku di pelabuhan bilang dia sudah menyeberang ke Sumatra. Dia bersembunyi di hutan. Tidak mungkin dia kembali ke Jawa.”

Komentar lain ikut meramaikan. “Klan Ludira pasti sudah menjemputnya secara diam-diam. Dia pasti sedang bersembunyi di balik dinding tinggi rumah utamanya di Jakarta, dilindungi ratusan pengawal bersenjata. Tidak ada yang bisa menyentuhnya di sana.”

Kala membaca rentetan pesan itu dengan wajah datar. Sudut bibirnya nyaris tidak bergerak. Forum bawah tanah telah kehilangan jejaknya secara total. Mereka membuat peta pergerakan yang membentang dari Sumatra hingga Kalimantan, atau membayangkan dirinya duduk di ruang tamu mewah yang dijaga ketat.

Tidak ada satu pun dari pemburu bayaran itu yang menyadari bahwa pewaris klan Ludira yang mematikan itu saat ini sedang duduk di atas kasur busa seharga seratus ribu rupiah, menghirup asap obat nyamuk bakar di sebuah kontrakan petak pinggiran Jakarta. Kala berada sangat dekat dengan pusat operasi keluarganya, tersembunyi tepat di bawah hidung para musuhnya tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. Dia membiarkan mereka sibuk mengejar bayangan yang salah di pulau-pulau seberang.

Kala menekan tombol daya tabletnya. Layar berubah gelap. Dia meletakkan perangkat itu di lantai keramik di samping kasur. Dia lebih suka menjadi hantu yang tidak terlihat.

Suara garukan pelan terdengar dari arah pintu depan. Kala memutar kepalanya. Bunyi itu berulang, gesekan kuku pada kayu lapis. Kala berdiri, tidak mengambil senjata dari dalam tasnya. Dia berjalan ke arah pintu dan membuka gerendel besi.

Saat pintu ditarik terbuka, seekor kucing kampung berbulu oranye kurus sedang duduk di keset luar. Kucing itu menatap Kala dengan mata kuningnya yang bulat, mengeong satu kali dengan suara parau yang terdengar seperti tuntutan.

Kala menatap kucing itu. Kucing itu menatap balik.

Kala berbalik masuk ke dalam, mengambil sisa potongan tempe orek yang dia bungkus dari warung tegal tadi sore. Dia berjalan kembali ke pintu dan meletakkan potongan tempe itu di atas lantai semen tepat di depan kucing tersebut.

Kucing oranye itu mendekatkan hidungnya, mengendus tempe tersebut selama tiga detik penuh. Setelah selesai mengendus, kucing itu membuang muka, berbalik badan, dan berjalan pergi dengan ekor tegak tanpa menyentuh makanan tersebut sama sekali.

Kala berdiri diam di ambang pintu, melihat kepergian kucing itu. Dia menunduk menatap potongan tempe di lantai, lalu mengambilnya dan membuangnya ke keranjang sampah.

“Kucing pemilih,” gumam Kala pada dirinya sendiri. Dia kembali menutup pintu dan menguncinya.

Udara di luar berubah cepat. Angin bertiup lebih kencang, menggoyang daun-daun pohon mangga di depan rumah Pak Yanto. Tidak lama kemudian, suara titik air membentur atap seng terdengar. Rintik yang jarang-jarang itu segera berubah menjadi tumpahan hujan yang lebat. Suara hujan menghantam atap kontrakan menciptakan derau bising yang mengisolasi ruangan itu dari dunia luar.

Kala mengambil panci aluminium kecil, mengisinya dengan air dari keran yang sudah dia perbaiki, dan meletakkannya di atas kompor gas portabel yang dia beli bersamaan dengan ember tadi siang. Dia menyalakan api. Suara desis gas berpadu dengan suara hujan.

Setelah air mendidih, Kala menuangkannya ke dalam sebuah gelas beling tebal. Dia mencelupkan sebuah kantong teh ke dalam air panas tersebut. Warna air perlahan berubah menjadi cokelat kemerahan. Bukan kopi, melainkan teh.

Kala membawa gelas teh itu ke dekat jendela nako. Dia membuka sedikit bilah kaca agar udara luar bisa masuk. Aroma tanah kering yang terguyur air hujan melesak masuk ke dalam kamar. Bau petrikor yang tajam memenuhi paru-parunya.

Kala duduk di pinggir kasur, menatap uap panas yang mengepul dari permukaan teh. Ingatannya menariknya kembali ke masa lalu tanpa bisa dilawan.

Bulan-bulan terus berganti, dan dia telah melewati rumah-rumah sewaan yang tak terhitung jumlahnya. Semua hal tentang kehidupannya adalah tentang berpindah tempat, mencoba tidak terlihat, dan merawat patah hati.

Bayangan Samantha selalu datang bersamaan dengan aroma teh dan suara hujan. Gadis yang selalu memarahinya karena bangun terlambat, gadis yang membawakan teh di balkon saat senja turun. Hati Kala kembali terasa nyeri. Rasa sakitnya tidak setajam saat peluru menembus dada gadis itu, tapi nyerinya mengendap, stabil dan konstan. Kala tidak menitikkan air mata. Dia hanya memegang gelas hangat itu dengan kedua tangan, membiarkan keheningan dan suara hujan menemaninya. Dia telah belajar untuk menerima rasa sakit ini sebagai bagian dari dirinya, sebuah hukuman atas kemampuannya mencabut nyawa.

Ponsel yang tergeletak di atas tas kanvas tiba-tiba bergetar, bergerak berputar karena getaran motorik di atas kain kasar. Nama Kirana menyala di layar yang gelap.

Kala meletakkan gelas tehnya di lantai, mengambil ponsel tersebut, dan menggeser layar hijau.

“Kamu pindah lagi?” Suara Kirana terdengar langsung, jernih dan tanpa basa-basi.

“Ya,” jawab Kala singkat.

“Di mana sekarang?”

“Tempat baru.”

Terdengar suara ketikan papan tik komputer dari seberang saluran. “Wana bilang kamu mungkin menyeberang ke Sumatra bulan ini. Dia sedang menyiapkan orang untuk menyisir pelabuhan penyeberangan Bakauheni.”

“Biar saja dia mencari di sana.” Kala memandang rintik hujan yang menabrak kaca jendela. “Suruh dia bawa jaket. Angin laut sedang kencang.”

“Kamu sengaja membuat kami repot, Kal.” Kirana menghentikan ketikan komputernya. “Jangan buat masalah yang memancing eksekutor datang lagi. Diam di tempatmu sekarang.”

“Aku tidak melakukan apa-apa hari ini selain memperbaiki keran bocor dan mengepel lantai,” balas Kala.

Kirana terdiam sejenak, mungkin mencoba mencerna kalimat adiknya. Membayangkan pewaris Ludira mengepel lantai kontrakan bukanlah hal yang mudah. “Pastikan kamu makan dengan benar. Jangan hanya meminum kafein.”

“Aku sudah makan nasi dan sayur nangka.” Kala menyandarkan punggungnya ke dinding kamar.

“Bagus,” kata Kirana pelan. “Jaga dirimu.”

Sambungan telepon terputus. Kala meletakkan ponselnya di samping paha. Dia kembali mengangkat gelas tehnya. Hujan di luar semakin deras. Kala meminum tehnya secara perlahan, membiarkan cairan hangat itu mengalir membasahi kerongkongan. Malam pertama di kontrakan pinggiran Jakarta berjalan sangat lambat, dan Kala masih harus melewati ribuan malam lain dalam kesunyian yang sama.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk