Bab 10 - Gosip Bedeng

1 dibaca

A

Truk itu datang jam delapan kurang lima.


Sabine sudah di site sejak jam tujuh. Dia membersihkan sendiri akses loading di sisi timur, menggeser tumpukan batu bata yang diletakkan tukang di tempat yang salah, menyingkirkan gulungan selang, memastikan jalur dari pinggir jalan sampai ke area penyimpanan cukup lebar untuk dua orang membawa papan panjang. Dia melakukannya dengan rompi oranye, sarung tangan kain yang kebesaran, dan ekspresi seseorang yang sedang membuktikan sesuatu pada dunia.

Mohon dipastikan akses loading di sisi timur sudah kosong ya.

Sudah kosong, Mas. Kosong sekali. Kosong seperti chat pribadi kita.

Dia tidak mengatakannya pada siapa pun. Tapi dia memikirkannya sambil menyeret satu karung pasir yang terlalu berat, dan karung itu terasa sedikit lebih ringan.

Truk engkel putih dengan tulisan HERMAWAN JAYA di pintu berhenti di pinggir jalan, di bawah pohon trembesi. Mesinnya mendengus. Sabine merapikan rompinya, mengangkat dagu, menyiapkan senyum profesional nomor tiga, yang sopan tapi tidak hangat, yang ia pakai untuk klien yang terlambat bayar.

Pintu sopir terbuka.

Ujang turun. Kaus oblong hijau, sendal jepit, senyum malu-malu.

Pintu penumpang tidak terbuka.

“Pagi, Mbak Sabine,” kata Ujang. “Merbaunya dua ratus empat puluh batang. Mau dicek dulu?”

“Pagi, Jang.” Senyum nomor tiga tetap di tempatnya. Tidak bergeser satu milimeter pun. “Mas Dendy nggak ikut?”

“Nggak, Mbak. Mas Dendy ada urusan di toko. Katanya saya aja yang antar.”

“Oh. Oke.”

Dia mengangguk. Mengeluarkan daftar material dari saku rompi. Mulai menghitung papan yang diturunkan dua tukang dari bak truk, satu per satu, mencocokkan ukuran dan jumlah dengan penawaran. Dua per lima belas. Panjang empat meter. Serat rapat, warna cokelat kemerahan yang sama dengan sampel di dinding timur.

Dinding timur.

Dia menghitung lebih cepat.


Jam dua belas, matahari tepat di atas pohon trembesi dan bayangannya menyusut jadi lingkaran kecil di bawah batangnya. Tukang-tukang berhenti. Molen dimatikan. Keheningan tiba-tiba terasa aneh setelah empat jam dengung mesin.

Pak Jarwo muncul di pintu bedeng membawa kantong plastik bening yang berembun dari dalam. Gorengan. Bakwan sayur yang pinggirnya berenda, tahu isi yang menggembung, tempe mendoan yang lebar dan tipis seperti daun, dan segenggam cabe rawit hijau yang dilempar begitu saja ke dalam kantong.

“Mbak Sabine, sini,” katanya. “Makan dulu. Dari pagi belum duduk.”

Sabine mau menolak. Dia punya roti di tas. Dia punya pekerjaan. Dia punya alasan untuk tidak duduk, karena kalau dia duduk, dia akan berpikir, dan kalau dia berpikir, dia akan membuka ponsel dan membaca Baik, Mas yang ia ketik sendiri empat hari lalu dan merasakan lagi rasa panas yang aneh di belakang matanya.

Tapi Pak Jarwo sudah menarik kursi plastik ke dekat meja lipat di dalam bedeng dan menepuknya dua kali, seperti ayah yang menyuruh anaknya duduk.

Sabine duduk.

Bedeng itu lebih sejuk dari luar, meski tidak banyak. Dinding seng yang sudah dicat ulang tiga kali dengan warna berbeda, sekarang biru muda yang mengelupas di bagian bawah. Kalender pabrik semen di paku. Termos merah di atas rak kayu. Radio kecil yang antenanya dibengkokkan dan dililit kawat, memutar lagu campursari dengan volume rendah. Bau keringat, semen, dan minyak goreng dari kantong plastik yang baru dibuka.

Pak Jarwo duduk di seberangnya. Membuka kantong itu lebar-lebar di atas selembar koran bekas. Mengambil satu bakwan, menggigit cabe rawit di sebelahnya, mengunyah dengan mata sedikit menyipit karena pedas.

“Monggo, Mbak.”

Sabine mengambil tahu isi. Masih hangat. Minyaknya membasahi ujung jarinya.

Mereka makan dalam diam sebentar. Campursari di radio berganti ke lagu lain, suara sinden yang naik-turun seperti ombak.

“Mbak Sabine,” kata Pak Jarwo akhirnya. Dia mengelap tangan di celana, meninggalkan bekas minyak. “Saya mau bilang sesuatu. Tapi Mbak jangan tersinggung, ya.”

Sabine berhenti mengunyah. “Kenapa, Pak?”

“Saya ini sudah tua. Sudah lihat banyak. Tiga puluh tahun jadi mandor, Mbak, saya kenal semua orang di dunia bangunan kota ini.” Dia mengambil satu mendoan, melipatnya jadi dua. “Dan saya senang. Sungguh. Saya senang Mbak dekat sama Mas Dendy.”

Tahu isi di tangan Sabine berhenti di udara. Setengah jalan menuju mulutnya.

“Pak, saya nggak...”

“Nggak apa-apa, Mbak. Nggak usah malu. Saya lihat sendiri kok. Yang di dinding timur.” Pak Jarwo tersenyum di balik kumisnya, lebar, penuh kebaikan yang sama sekali tidak menyadari betapa dia sedang menyiksa lawan bicaranya. “Terus stiker kucing di grup. Terus martabak. Mas Basko juga bilang. Semua orang tahu, Mbak.”

Semua orang tahu. Sabine ingin mencairkan diri ke dalam lantai bedeng dan meresap ke tanah.

“Itu salah paham, Pak,” katanya. Suaranya kecil. “Yang di dinding timur itu kecelakaan. Hp saya bunyi. Saya noleh...”

“Iya, iya, Mbak.” Pak Jarwo mengangguk dengan wajah yang jelas tidak percaya sedikit pun. “Kecelakaan. Kayunya kena.”

Sabine menutup mata.

“Pokoknya,” lanjut Pak Jarwo, dan suaranya berubah. Lebih lembut. Lebih pelan. Senyum di bawah kumisnya masih ada, tapi matanya tidak lagi jahil. “Saya senang. Mas Dendy itu anak baik. Saya kenal dia dari kecil, dari dia masih main-main di tumpukan pasir di toko bapaknya. Dan sudah lama saya nggak lihat dia kayak gitu.”

“Kayak gimana, Pak?”

“Kayak orang hidup, Mbak.”

Sabine membuka mata.

Pak Jarwo sedang menatap ke luar pintu bedeng, ke arah tumpukan merbau yang baru diturunkan pagi tadi, bersandar di dinding timur dengan terpal biru menutupi setengahnya. Cahaya siang jatuh miring di atas serat kayunya.

“Sejak almarhumah istrinya,” kata Pak Jarwo, “dia cuma kerja, Mbak. Kerja, kerja, kerja. Senyum ke semua orang, ramah ke semua orang. Tapi kayak... kayak lampu yang dinyalain pakai timer. Nyala pas jam kerja. Mati pas pulang.”

Tahu isi di tangan Sabine jatuh ke atas koran.

Dia tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari apa pun kecuali satu kata itu, yang berdengung di telinganya lebih keras dari radio, lebih keras dari molen yang tidak menyala, lebih keras dari detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba terdengar seperti palu di dalam dada.

Almarhumah.

“Istrinya,” ulang Sabine. Suaranya keluar aneh. Seperti suara orang lain.

Pak Jarwo tidak memperhatikan. Dia masih menatap tumpukan merbau, tenggelam di dalam ingatannya sendiri, dan kata-katanya mengalir pelan seperti air dari keran yang tidak ditutup rapat.

“Mbak Ina. Orangnya ramah sekali, Mbak. Ya Allah. Kecil orangnya, rambutnya panjang, ketawanya keras. Tiap ada proyek yang pakai material dari Hermawan, dia yang antar nasi kotak buat tukang. Sendiri. Naik motor. Hafal nama semua tukang. Nanya anak kita sekolah di mana, istri kita sehat nggak. Kalau ada yang ulang tahun, dia bawain kue.” Pak Jarwo tersenyum kecil ke arah pintu. “Mas Dendy dulu pendiam sekali. Kayak tembok. Ngomong seperlunya, nggak pernah senyum. Pelanggan takut sama dia. Terus Mbak Ina yang ajarin. Senyum, katanya. Sebut namanya. Tanya kabarnya. Kasih kopi.”

Kopi.

Sabine merasakan sesuatu yang dingin merayap dari ujung jari ke pergelangan tangannya.

Resep lama.

Resep Mas?

Resep keluarga.

“Mereka sekelas dari SMP,” lanjut Pak Jarwo. “Pacaran dari SMA. Nikah tujuh tahun lalu. Pestanya di gedung dekat alun-alun, saya datang. Bagus sekali. Mbak Ina pakai kebaya putih, ketawa terus, Mas Dendy di sebelahnya kaku kayak patung tapi matanya...” Pak Jarwo menggeleng pelan. “Matanya nggak bisa lepas dari istrinya.”

Radio berganti lagu lagi. Sabine tidak mendengar judulnya.

“Terus?” bisiknya.

Pak Jarwo diam sebentar. Menunduk. Menatap mendoan yang terlipat di tangannya, yang belum digigit.

“Tiga bulan, Mbak,” katanya. “Tiga bulan setelah nikah, Mbak Ina sakit. Mendadak. Awalnya cuma demam, katanya. Terus masuk rumah sakit. Terus nggak keluar lagi. Seminggu.” Suaranya sedikit bergetar di ujung. “Umurnya dua puluh tujuh. Sama kayak Mas Dendy waktu itu. Sama kayak Mbak sekarang, ya?”

Sabine tidak bisa menjawab.

Dua puluh tujuh.

“Mas Dendy nggak ngomong sama siapa-siapa berbulan-bulan. Tokonya tetap buka, dia tetap kerja, tapi kayak orang jalan tidur. Terus pelan-pelan dia mulai senyum lagi ke pelanggan. Nanya kabar. Kasih kopi. Persis kayak yang Mbak Ina ajarin.” Pak Jarwo akhirnya menggigit mendoannya. Mengunyah pelan. “Orang-orang bilang dia sudah sembuh. Tapi saya nggak percaya, Mbak. Saya lihat matanya. Senyumnya di muka, matanya di tempat lain.”

Dia menelan. Menatap Sabine. Dan wajahnya kembali cerah, seolah awan baru saja lewat.

“Tapi waktu sama Mbak di dinding timur itu,” katanya, “matanya ikut. Saya lihat. Kupingnya merah sampai bawah. Ya Allah, Mbak, saya hampir ketawa di situ, makanya saya kabur ke molen.”

Sabine tidak ikut tersenyum.

Otaknya sedang bekerja. Otaknya, yang terlatih menghitung, mengukur, mencocokkan data dengan tabel, mulai menarik garis-garis yang selama dua minggu terakhir ia gambar di papan tulis dengan spidol berwarna. Garis-garis yang tadinya tidak masuk akal.

Tujuh tahun lalu. Tiga bulan setelah menikah. Seminggu di rumah sakit.

“Pak,” katanya. Tenggorokannya kering sekali. “Mbak Ina... meninggalnya bulan apa?”

Pak Jarwo menyebut bulannya. Bulan ini.

“Tanggal?”

“Wah, tanggal pastinya saya lupa, Mbak. Tapi haulnya kemarin. Hari Sabtu. Saya lihat Mas Basko bilang di grup Mas Dendy libur.” Pak Jarwo mengangguk-angguk sendiri. “Tiap tahun begitu. Hari itu toko dipegang Bu Tuti. Mas Dendy nggak kelihatan di mana-mana.”

Sabtu.

Hari Sabtu.

Sabine merasakan seluruh darah di tubuhnya turun ke kaki, meninggalkan wajah dan tangannya dingin seperti es. Bedeng seng yang panas tiba-tiba terasa seperti ruang pendingin. Suara sinden di radio terdengar jauh sekali, seperti dari dasar sumur.

Jumat malam. Jam dua belas kurang dua belas. Mas, boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan?

*chat.

Dibaca jam dua belas lewat tiga.

Sabtu.

Hari itu.

Tiga menit setelah hari itu dimulai, dia, Sabine Sulakso, mengirim lelucon typo soal cat ke seorang pria yang sedang duduk sendirian menghadapi hari kematian istrinya. Istri yang meninggal di umur dua puluh tujuh. Istri yang mengajarinya tersenyum dan menyuguhkan kopi dan menyebut nama orang. Istri yang resepnya dipakai untuk kopi tubruk gula aren yang ia minum dengan lahap di toko itu sambil berkomentar soal nenek di Klaten.

Dan seharian kemarin dia menghabiskan waktu menebak-nebak apakah Dendy jijik padanya. Apakah dia punya pacar. Apakah dia terlalu terang-terangan.

Sementara Dendy...

Sabine meletakkan kedua tangannya di atas lutut. Menekannya kuat-kuat, supaya berhenti gemetar.

Pak Jarwo akhirnya menyadari sesuatu. Dia berhenti mengunyah. Menatap wajah Sabine yang pucat, tahu isi yang jatuh di atas koran, tangan yang mencengkeram lutut. Senyum di balik kumisnya pelan-pelan memudar, digantikan sesuatu yang lain. Kengerian kecil. Kesadaran.

“Mbak,” katanya pelan. “Mbak... belum tahu?”

Sabine menggeleng. Satu gerakan kecil.

“Ya Allah.” Pak Jarwo meletakkan mendoannya. Mengusap wajah dengan telapak tangan yang berminyak. “Ya Allah, Mbak, maaf. Saya kira... saya kira Mbak sudah tahu. Saya kira Mas Dendy sudah cerita. Kalian kan sudah...” Dia berhenti. Menelan. “Maaf, Mbak. Mulut saya ini.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Jangan bilang saya yang cerita, ya, Mbak. Mas Dendy nggak suka orang ngomongin itu. Saya nggak pernah ngomongin itu. Sumpah, baru kali ini, saya kira...”

“Nggak apa-apa, Pak Jarwo.” Sabine berdiri. Kakinya sedikit goyah, tapi dia berdiri. Dia tersenyum. Senyum nomor tiga. Senyum yang ia pelajari dari bertahun-tahun makan malam hari Minggu. “Makasih gorengannya. Saya mau cek merbaunya sebentar.”

Dia keluar dari bedeng sebelum Pak Jarwo sempat menjawab.


Tumpukan merbau bersandar di dinding timur. Dua ratus empat puluh batang. Cokelat kemerahan di bawah cahaya siang, serat kayunya rapat, permukaannya sedikit kasar karena belum diamplas.

Sabine duduk di atas tumpukan itu, di bagian yang tidak tertutup terpal. Kayunya hangat karena matahari. Dia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan papan paling atas dan merasakan serat-seratnya di bawah kulit.

Tepat di sini. Satu meter dari tempatnya duduk sekarang. Di sinilah dia menoleh terlalu cepat dan bibirnya menyentuh pipi seseorang.

Kayunya kena?

Dia mengeluarkan ponsel. Membuka chat Dendy. Menggulir ke atas.

Kucingnya lucu, Mbak. Jam enam lewat dua belas pagi. Empat belas jam setelah stiker.

Jam enam pagi. Ghea bilang itu jam orang yang tidak bisa tidur. Dan mungkin Ghea benar. Tapi bukan karena alasan yang Ghea pikirkan.

Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas. Tidak dibalas.

Mas, boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan? Tidak dibalas.

*chat. Tidak dibalas.

Lalu empat hari kemudian. Mbak Sabine, untuk pengiriman merbau hari Kamis jam 8 pagi, mohon dipastikan akses loading di sisi timur sudah kosong ya. Terima kasih.

Dan balasannya sendiri. Baik, Mas.

Sabine menatap dua kata itu. Dua kata yang ia ketik Senin malam dengan jempol yang gemetar karena marah, karena malu, karena lelah jadi orang yang menunggu. Dua kata yang ia pilih dengan hati-hati supaya terdengar sedingin mungkin. Dua kata yang ia kirim sebagai pintu yang ditutup.

Pesan itu tidak salah. Tidak ada yang salah dengan dua kata itu.

Tapi tiba-tiba rasanya seperti ia menutup pintu di depan seseorang yang sedang berdiri di luar hujan.

Semua yang ia pikir ia tahu jungkir balik. Papan tulis di studio. Tabel berwarna. Kolom hijau dan kolom biru. Waktu respons yang dihitung sampai menit. Semua itu data yang benar, tapi ia membaca tabelnya dari arah yang salah. Seperti menatap denah yang terbalik dan bertanya-tanya kenapa pintunya menghadap tembok.

Dendy tidak lambat membalas karena dia tidak peduli.

Mungkin dia lambat membalas karena dia takut peduli.

Dan senyum itu. Senyum yang menyala saat pelanggan masuk. Keramahan yang luwes, tanpa cela, sempurna. Nama-nama yang diingat. Kopi yang disuguhkan. Sabine terpesona pada semua itu sejak hari pertama. Dia pikir itu Dendy.

Itu bukan Dendy. Atau bukan hanya Dendy. Itu Ina. Itu warisan dari perempuan berkebaya putih yang ketawanya keras, yang mengantar nasi kotak ke tukang-tukang dengan motor, yang mengajari tembok untuk tersenyum.

Sabine terpesona pada kenangan orang lain.

Pikiran itu masuk ke dadanya seperti paku.

Lalu, di belakangnya, datang pikiran lain. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti seseorang yang mengetuk pintu setelah badai.

Tapi waktu sama Mbak di dinding timur itu, matanya ikut.

Tawa yang meledak di toko, sampai Bu Tuti berhenti menghitung. Rendangnya enak? yang tidak ada di aturan mana pun. Telinga yang merah sampai ke bawah. Martabak pinggir gosong yang dicari sampai ke riwayat grup dua minggu ke belakang.

Itu bukan Ina. Ina tidak mengajarkan itu.

Sabine tidak tahu mana yang benar. Mungkin keduanya. Mungkin itulah yang paling menakutkan.

Ponselnya bergetar di tangan. Dia hampir menjatuhkannya ke tumpukan merbau.

Ghea: gimana pengirimannya?? dia dateng??

Ghea: BIN

Ghea: kasih update komisi penyelidik menunggu

Sabine menatap layar. Jempolnya melayang di atas papan ketik. Dia bisa menceritakan semuanya. Ghea akan tahu harus berbuat apa. Ghea selalu tahu.

Tapi untuk pertama kalinya sejak papan tulis itu didorong ke tengah ruangan, Sabine tidak ingin dianalisis. Tidak ingin ditabelkan. Tidak ingin ada yang mencetak tangkapan layar dan menempelkannya dengan selotip kertas.

Ini bukan data.

Ini duka seseorang.

Sabine: nggak dateng. ujang yang antar

Sabine: nanti aku cerita. bukan sekarang

Ghea: oke

Ghea: kamu nggak apa2?

Sabine tidak membalas yang terakhir.

Dia kembali ke chat Dendy. Menatap Baik, Mas di bagian paling bawah. Kursor berkedip di kolom ketik, menunggu.

Dia mengetik. Mas, maaf.

Berhenti.

Maaf untuk apa? Untuk typo? Untuk lelucon? Untuk tidak tahu? Untuk dua kata dingin yang ia kirim sebagai balasan pesan kerja? Kalau dia minta maaf sekarang, Dendy akan tahu dia sudah tahu. Dan Dendy akan tahu dari mana. Dan Pak Jarwo, yang tangannya berminyak dan matanya basah dan mulutnya tidak bisa diam, akan jadi orang yang disalahkan.

Dia menghapus dua kata itu. Huruf demi huruf.

Kursor berkedip lagi. Kosong.

Sabine mematikan layar dan menggenggam ponsel di pangkuan. Di sekelilingnya, site mulai hidup lagi. Molen dinyalakan. Tukang-tukang kembali ke perancah. Seseorang tertawa di kejauhan. Radio di bedeng memutar lagu baru, suara perempuan yang menyanyikan sesuatu tentang menunggu di stasiun.

Dia duduk di sana lama, di atas dua ratus empat puluh batang merbau yang hangat karena matahari, dengan telapak tangan menempel di serat kayu, di tempat yang sama di mana tiga minggu lalu ia menoleh terlalu cepat dan menyentuh sesuatu yang ternyata jauh lebih rapuh dari yang ia kira.

Kalau saja dia tahu. Kalau saja seseorang memberitahunya.

Tapi tidak ada yang memberitahunya. Dan sekarang dia tahu. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.

Pak Jarwo lewat di depannya membawa ember adukan. Dia berhenti. Menatap Sabine yang duduk sendirian di atas tumpukan kayu. Lalu dia meletakkan embernya, merogoh saku celana, dan mengulurkan sesuatu.

Sebungkus tahu isi. Dibungkus kertas minyak, masih sedikit hangat.

“Yang tadi jatuh,” katanya pelan. “Ini gantinya.”

Sabine mengambilnya. “Makasih, Pak.”

Pak Jarwo mengangguk. Mengangkat embernya. Berjalan pergi dua langkah. Lalu berhenti lagi, tanpa menoleh.

“Mbak,” katanya. “Mas Dendy itu nggak kayak lampu timer kalau sama Mbak. Saya sumpah. Itu yang penting.”

Lalu dia pergi.

Sabine menatap tahu isi di tangannya. Menatapnya sampai pandangannya kabur, sampai bentuknya jadi buram dan berembun di pinggir, dan dia harus melepas kacamata cadangannya yang berbingkai tebal dan mengusap mata dengan punggung pergelangan tangan.

Dia tidak menangis.

Dia hanya duduk di sana. Dan tahu isi itu dingin di tangannya sebelum ia sempat memakannya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk