Sabine menceritakannya Jumat sore, di ruang rapat kecil di belakang studio, dengan pintu tertutup dan gorden jendela diturunkan.
Tidak ada papan tulis. Tidak ada laser pointer. Hanya tiga gelas teh manis dari dapur, sepiring biskuit kelapa yang tidak disentuh siapa pun, dan suara Sabine yang pelan dan datar, menceritakan ulang semua yang Pak Jarwo katakan di bedeng. Ina. Sekelas dari SMP. Kebaya putih. Tiga bulan. Seminggu di rumah sakit. Dua puluh tujuh tahun.
Hari Sabtu.
Saat dia selesai, tidak ada yang bicara lama sekali.
Tio yang pertama bergerak. Dia melepas ikat rambutnya, membiarkan rambut gondrongnya jatuh ke bahu, lalu mengikatnya lagi. Dua kali. Tiga kali. Sabine mengenal Tio cukup lama untuk tahu itu gerakan tangan orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
Ghea menatap gelas tehnya. Lipstik hari ini merah anggur, dan untuk pertama kalinya sejak Sabine mengenalnya, warna itu terlihat terlalu terang untuk wajahnya.
“Cat,” bisik Ghea akhirnya. “Ya Tuhan. Aku yang bilang kirim.”
“Bukan salahmu.”
“Aku yang ketawa sampai maskerku retak.”
“Kamu nggak tahu, Ghe. Nggak ada yang tahu.”
“Basko tahu.” Tio bicara pelan, masih menatap meja. “Makanya dia nulis kayak gitu di grup Sabtu pagi. Yang lain santai aja. Aku kira dia lagi capek. Ternyata dia lagi jagain temennya.”
Sabine mengangguk. Dia sudah memikirkan hal yang sama. Setiap detail dari dua minggu terakhir, setiap baris di tabel berwarna, sekarang terasa seperti gambar kerja yang harus digambar ulang dari awal dengan skala yang berbeda.
“Aku mau lihat,” katanya.
Ghea mendongak. “Lihat apa?”
“Dia. Ina.” Sabine memutar gelas teh di antara jarinya. “Aku cuma tahu dari cerita Pak Jarwo. Kecil, rambut panjang, ketawanya keras. Aku mau tahu dia kayak apa.”
“Bin.” Suara Ghea hati-hati, lebih hati-hati dari yang pernah Sabine dengar. “Ini beda. Ini bukan kayak ngecek jam balasan chat. Kamu yakin?”
“Nggak,” jawab Sabine jujur. “Tapi aku tetap mau lihat.”
Ghea menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan, dan menggeser kursinya sampai bahu mereka bersentuhan. Tio, setelah ragu sebentar, berdiri dan berpindah ke kursi di sisi Sabine yang lain.
Tiga kepala di atas satu ponsel. Seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini tidak ada yang tertawa.
Profil Instagram Dendy Hermawan tidak berubah sejak malam meme kursi plastik. Foto profil buram dengan kaus hitam dan cengiran miring. Seratus dua belas pengikut. Dua puluh tiga unggahan.
Unggahan paling atas adalah foto toko. Rolling door hijau, papan nama merah. Diunggah delapan bulan lalu dengan keterangan Buka seperti biasa selama libur lebaran. Di bawahnya, foto truk engkel putih yang baru dicat. Lalu foto tumpukan semen dengan keterangan Stok aman. Lalu foto kalender pabrik semen. Semuanya foto toko. Semuanya tanpa wajah. Semuanya keterangan pendek yang terdengar seperti pengumuman di papan RT.
Tujuh unggahan seperti itu, tersebar selama bertahun-tahun, seperti batu-batu loncatan di sungai yang jaraknya terlalu jauh.
Lalu jarak yang panjang.
Lalu satu foto.
Sabine berhenti menggulir.
Pelaminan dengan latar dekorasi bunga melati putih dan daun-daun hijau. Dendy di sebelah kiri, dalam beskap hitam dengan blangkon, bahunya kaku, tangannya menggantung canggung di samping tubuh seperti tidak tahu harus diletakkan di mana. Wajahnya tujuh tahun lebih muda, rahangnya lebih tirus, tanpa cambang, dan dia tidak tersenyum ke kamera.
Dia tersenyum ke perempuan di sebelahnya.
Perempuan itu kecil. Kepalanya hanya sampai bahu Dendy. Kebaya putih dengan bordir halus dan payet yang menangkap cahaya lampu. Rambut hitam yang disanggul tinggi dengan untaian melati menjuntai sampai ke bahu. Dan dia sedang tertawa. Bukan tersenyum, bukan pose. Tertawa lepas, mulut terbuka, mata menyipit sampai hampir hilang, kepala sedikit miring ke arah Dendy seperti seseorang yang baru mendengar lelucon paling bodoh sedunia dari orang yang paling ia cintai.
Keterangannya satu kata. Sah.
Sabine menatap foto itu tanpa bergerak.
Di bawahnya, ratusan komentar. Ucapan selamat. Emoji hati. Doa-doa. Lalu, setelah jarak beberapa bulan, komentar-komentar yang nadanya berubah. Al-Fatihah. Selamat jalan, Ina. Tenang di sana, Dek. Dan setelahnya, setiap tahun, satu atau dua komentar baru yang muncul di bulan yang sama.
Komentar paling baru diunggah hari Sabtu lalu. Dari akun baskodanu_cv.
7 tahun, In. Anaknya aman. Gue jagain.
Sabine merasakan tenggorokannya menutup.
Di sebelahnya, Ghea menarik napas pelan dan tidak mengembuskannya. Tio memalingkan wajah ke gorden jendela.
“Basko,” bisik Tio. “Basko yang berisik itu.”
Tidak ada yang menjawab.
Sabine menggulir lagi. Pelan sekali, seperti menuruni tangga dalam gelap.
Di bawah foto pernikahan, ada delapan unggahan lagi. Semua dari tahun 2018. Dan semuanya berbeda.
Ina di pantai, rambut panjangnya berantakan diterpa angin, memegang sandal jepit di satu tangan dan kelapa muda di tangan lain. Ina di warung bakso, pipinya menggembung, menunjuk mangkuk dengan sumpit seperti sedang mempromosikan produk di televisi. Ina tidur di jok penumpang mobil dengan mulut sedikit terbuka, difoto diam-diam, keterangannya Pengawas perjalanan. Ina di pasar malam dengan gulali merah muda yang lebih besar dari kepalanya.
Setiap foto, dia tertawa. Atau hampir tertawa. Atau baru selesai tertawa.
Dan setiap foto diambil oleh Dendy.
Sabine bisa melihatnya dari sudut pengambilan gambar. Sedikit dari bawah, karena Dendy lebih tinggi dan harus menunduk memegang ponsel. Kadang miring. Kadang tidak fokus. Foto-foto seseorang yang tidak tahu cara memotret, tapi tetap memotret, karena tidak tahan untuk tidak mengabadikan wajah itu.
Lalu foto terakhir. Yang paling bawah. Unggahan pertama di akun ini.
Ina berdiri di depan rolling door hijau Hermawan Jaya. Rambutnya dikuncir satu, kaus putih polos yang kebesaran, celana jins. Dia memegang dua gelas kopi bening bergagang, satu di tiap tangan, dan mengangkatnya ke arah kamera seperti sedang bersulang. Senyumnya lebar. Matanya menatap lurus ke lensa, ke orang di balik lensa, dengan cara yang membuat Sabine merasa sedang mengintip sesuatu yang bukan miliknya.
Keterangannya ditulis dengan huruf kecil semua.
katanya harus posting. ini.
Satu komentar di bawahnya, dari akun yang namanya inasuranda. Foto profilnya bunga matahari.
SENYUM DI CAPTION JUGA DONG DEN 😤😤 ini kayak caption lemari
Dan di bawahnya, satu balasan dari Dendy.
🙂
Hanya itu. Satu emoji senyum. Diketik tujuh tahun lalu, oleh seseorang yang baru belajar.
Sabine tidak sadar dia sedang menahan napas sampai dadanya sakit.
“Dia cantik,” kata Ghea pelan.
“Iya.”
“Maksudku bukan...” Ghea berhenti. Mencari kata. “Bukan cantik yang kayak model. Cantik yang kayak... orang yang bikin ruangan jadi terang kalau dia masuk.”
“Iya,” kata Sabine lagi. Karena memang itu. Tepat itu.
Dia memperbesar foto itu dengan dua jari. Wajah Ina memenuhi layar. Mata yang menyipit. Lesung pipit kecil di pipi kiri. Gigi depan yang sedikit tidak rata. Anak rambut yang lepas dari kuncir dan melingkar di pelipis.
Jempolnya bergerak untuk mengecilkan foto itu kembali.
Dan tergelincir.
Dua ketukan cepat. Jempol yang licin karena berkeringat, yang menekan layar dua kali di tempat yang sama dalam sepersekian detik.
Hati putih besar muncul di tengah foto. Mengembang. Berdenyut. Menghilang.
Di bawah foto, ikon hati kecil di pojok kiri berubah warna.
Merah.
Sabine membeku.
Waktu tidak berhenti. Waktu justru bergerak sangat, sangat lambat, seperti rekaman yang diputar setengah kecepatan. Dia bisa melihat setiap detail. Ikon hati merah yang kecil dan sempurna. Tulisan di bawahnya yang berubah dari disukai oleh baskodanu_cv dan 47 lainnya menjadi disukai oleh sabinesulakso, baskodanu_cv, dan 47 lainnya.
Namanya. Di sana. Di bawah foto dari tahun 2018. Di bawah foto perempuan yang sudah meninggal tujuh tahun, di akun suaminya, seminggu setelah hari peringatannya.
“BIN.”
Ghea yang pertama bereaksi. Suaranya melengking, pecah di tengah, sama sekali tidak seperti Ghea yang biasanya tenang di bawah tekanan.
“UNLIKE.” Tio sudah setengah berdiri, tangannya terulur ke arah ponsel. “Unlike, unlike, sekarang, cepat...”
Jari Sabine menekan ikon hati. Merah jadi putih. Namanya hilang dari daftar.
Tapi tangannya gemetar begitu hebat, dan tubuhnya bereaksi sebelum otaknya sempat, dan yang terjadi berikutnya adalah Sabine Sulakso, arsitek profesional berusia dua puluh tujuh tahun, melempar ponselnya sendiri ke sofa di pojok ruang rapat seperti orang yang baru memegang ular.
Ponsel itu memantul di bantalan sofa. Jatuh ke lantai. Tergeletak dengan layar menghadap ke atas, masih menampilkan foto Ina dengan dua gelas kopi.
Tiga orang menatapnya dari seberang ruangan. Tidak ada yang bergerak.
“Oke,” kata Ghea akhirnya. Napasnya terengah. “Oke. Oke. Udah di-unlike. Udah aman.”
“Aman?” suara Sabine keluar tinggi dan tipis. “Aman gimana? Itu tadi kelihatan. Dua detik. Tiga detik. Namaku di sana...”
“Dua detik. Paling lama dua detik.”
“Ghe, aku like foto istri almarhum dia dari tahun 2018...”
“Aku tahu.”
“...seminggu setelah haul...”
“Aku tahu, Bin.”
“...dan aku bahkan nggak seharusnya tahu dia punya istri...”
Suaranya pecah di kata terakhir. Tidak keras. Hanya retak kecil, seperti kaca yang kena kerikil.
Ghea berdiri. Berjalan ke sofa. Memungut ponsel dari lantai tanpa melihat layarnya, menguncinya, dan meletakkannya di meja dengan layar ke bawah. Lalu dia kembali dan duduk, dan kali ini dia tidak menempelkan bahu. Dia memeluk Sabine dari samping dengan satu lengan, kepala bob merah kecokelatannya bersandar di bahu Sabine.
Tio duduk kembali. Mendorong piring biskuit kelapa ke depan Sabine, satu senti, seolah itu bisa membantu.
Tidak ada yang bicara lagi untuk sementara.
Mereka pulang saat langit sudah gelap. Ghea menawarkan untuk menemani, dan Sabine menolak. Tio menawarkan mengantar, dan Sabine juga menolak. Dia naik ojek sendirian, duduk di jok belakang dengan helm hijau yang baunya seperti keringat orang lain, menatap lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu.
Di kamar, dia tidak menyalakan lampu arsitek.
Dia berdiri di depan cermin lemari dalam cahaya remang dari lampu jalan yang masuk lewat jendela. Menatap dirinya sendiri.
Rambut ikal cokelat gelap yang tidak pernah bisa diatur, yang selalu mencuat ke arah yang salah setiap kali udara lembap. Kacamata cadangan berbingkai hitam tebal yang terlalu besar untuk wajahnya. Noda tinta di jari tengah. Lingkaran gelap di bawah mata. Kaus kampus yang kebesaran. Bahu yang sedikit membungkuk, kebiasaan dari bertahun-tahun menunduk di atas meja gambar.
Lalu dia membayangkan perempuan di foto itu. Berdiri di sebelahnya di depan cermin yang sama.
Kecil. Rapi. Rambut hitam lurus yang panjang. Tawa yang membuat ruangan jadi terang. Lesung pipit di pipi kiri. Dua gelas kopi terangkat ke arah kamera. Perempuan yang mengajari tembok untuk tersenyum. Perempuan yang hafal nama semua tukang dan membawakan kue untuk yang ulang tahun. Perempuan yang, meskipun sudah pergi tujuh tahun, masih punya seseorang yang menulis gue jagain di bawah fotonya setiap tahun.
Perempuan yang tidak pernah salah kirim stiker kucing. Tidak pernah memerintah pemilik toko seperti kuli. Tidak pernah menulis cat padahal maksudnya chat.
Perempuan yang sempurna, karena perempuan yang sudah pergi selalu sempurna. Kenangan tidak pernah punya kets yang kena semen.
Sabine mengenali perasaan ini.
Dia mengenalnya dengan sangat baik. Dia sudah merasakannya setiap Minggu malam selama bertahun-tahun, di depan sepiring rendang yang terlalu enak untuk ditinggalkan, mendengarkan Mama membacakan ucapan selamat dari grup arisan. Kakakmu umur segitu sudah. Perasaan berdiri di sebelah seseorang yang lebih bersinar, lebih rapi, lebih dicintai, dan tahu bahwa tidak peduli seberapa keras kamu berusaha, kamu akan selalu jadi kursi plastik penyok di pojok bingkai.
Dia lari dari perasaan itu sejak SMA. Masuk arsitektur karena di sana, garis adalah garis, dan gambar yang baik adalah gambar yang baik, tidak peduli siapa kakakmu. Dia pikir dia sudah menemukan tempat di mana dia tidak perlu dibandingkan dengan siapa pun.
Dan sekarang, di sinilah dia. Berdiri di depan cermin dalam gelap, membandingkan dirinya dengan hantu.
Refleks lama. Otot yang sudah terlatih bertahun-tahun, bergerak sendiri bahkan saat dia tidak memintanya.
“Berhenti,” katanya keras-keras pada bayangannya. “Berhenti. Dia bukan saingan. Dia udah nggak ada.”
Bayangannya menatap balik. Tidak yakin.
Ponselnya bergetar di saku.
Ghea: udah sampe?
Sabine: udah
Ghea: oke. aku mau bilang satu hal terus aku diem
Ghea: kamu bukan saingan orang yang udah nggak ada. nggak ada yang bisa menang lawan kenangan, dan nggak ada yang minta kamu buat menang
Ghea: kamu cuma perlu jadi kamu. yang kayak kucing salting itu. yang debat soal putih tulang. yang bikin dia ketawa sampai bu tuti berhenti ngitung
Ghea: itu bukan ina. itu KAMU
Sabine membaca pesan itu tiga kali. Matanya panas.
Lalu ponselnya bergetar lagi. Tio. Tio jarang mengirim pesan panjang. Tio biasanya mengirim satu kata atau satu stiker.
Tio: bin
Tio: aku setuju sama ghea. tapi aku juga mau bilang, pelan pelan ya
Tio: bukan karena dia nggak suka kamu. kayaknya dia suka banget malah
Tio: tapi karena dia belum selesai. dan orang yang belum selesai bisa nyakitin orang lain tanpa sengaja. bukan karena jahat. karena masih sakit sendiri
Tio: jaga diri. itu aja
Sabine duduk di tepi kasur. Menatap dua percakapan itu bergantian. Ghea yang bilang maju. Tio yang bilang hati-hati.
Dan dia tahu, dengan kejelasan yang aneh, bahwa keduanya benar.
Dia mengetik satu pesan ke grup KOMISI PENYELIDIK.
Sabine: aku mau pura pura nggak tahu
Ghea: ??
Sabine: soal ina. aku nggak mau dia tahu aku tahu dari pak jarwo. kasihan pak jarwo. dan... aku mau dia yang cerita sendiri. kalau dia mau. kalau dia siap
Sabine: kalau dia nggak pernah cerita, ya berarti aku dapat jawabannya
Tidak ada balasan selama satu menit.
Tio: itu dewasa banget bin
Ghea: itu juga nyakitin banget bin
Sabine: iya
Sabine: dua duanya
Dia meletakkan ponsel di kasur. Berbaring. Menatap langit-langit, di mana bayangan lampu arsitek yang padam tidak kelihatan dalam gelap.
Ponselnya bergetar sekali lagi. Ghea.
Ghea: bin satu lagi. jangan panik ya
Ghea: like yang di unlike itu... kadang notifnya tetap masuk
Sabine menatap langit-langit.
Tio: ghea kenapa kamu bilang itu SEKARANG
Ghea: biar dia nggak kaget kalau nanti ketahuan!!! aku lagi preventif!!!
Tio: preventif apanya ini namanya bikin panik jam sepuluh malam
Ghea: KADANG. aku bilang KADANG
Sabine tidak membalas.
Dia membalikkan tubuh, menekan wajahnya ke bantal, dan memikirkan satu ponsel di meja makan yang gelap tiga kilometer dari sini. Ponsel yang mungkin, atau mungkin tidak, baru saja menyala sebentar dengan satu notifikasi kecil. Nama seorang perempuan yang tidak seharusnya tahu apa-apa. Di bawah foto perempuan lain yang tertawa dengan dua gelas kopi.
Kadang.
Dia tidak tidur sampai jam dua.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!