Sabine tidak menatapnya.
Rapat koordinasi Senin sore berlangsung di bedeng site, di atas meja lipat yang kakinya diganjal potongan batu bata supaya tidak goyang. Tujuh orang berdesakan di ruang seng yang panasnya seperti oven, kipas angin kecil berputar malas di pojok, dan gambar kerja dibentangkan di tengah meja dengan empat gelas kopi sebagai pemberat di setiap sudutnya. Basko memimpin, suaranya memenuhi bedeng seperti biasa. Rizal mencatat di buku tulis bergaris dengan pulpen hitam. Pak Jarwo berdiri di pintu karena tidak ada kursi lagi.
Dan Sabine duduk tepat di seberang Dendy, dengan rompi proyek oranye dan kets putih yang sudah dicuci bersih dari semen, dan selama empat puluh menit rapat, matanya tidak sekali pun naik lebih tinggi dari dagu Dendy.
Dia profesional. Sangat profesional. Suaranya jernih saat menjelaskan revisi detail kusen. Pertanyaannya tajam soal jadwal pengiriman merbau. Dia mencatat, mengangguk, menunjuk bagian-bagian gambar dengan ujung pensil. Semuanya tepat. Semuanya rapi.
Hanya saja ada lingkaran gelap samar di bawah matanya yang tidak bisa ditutup oleh bedak. Dan kacamata dengan engsel berselotip itu diganti kacamata lain, bingkai hitam tebal yang terlihat seperti cadangan dari laci. Dan saat Basko melontarkan lelucon soal molen Pak Jarwo, semua orang tertawa kecuali dia, yang hanya tersenyum sopan dengan bibir tertutup.
Dendy memperhatikan semua itu.
Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan semua itu.
“Mas Dendy?”
Dia mengerjap. Semua orang menatapnya. Basko, Rizal, Tio yang duduk di sebelah Sabine dengan ekspresi sangat netral. Dan Sabine, yang akhirnya menatap, tapi hanya ke titik di sebelah kiri telinganya.
“Maaf,” katanya. “Bisa diulang?”
“Pengiriman merbau,” kata Sabine. Suaranya datar. “Kamis pagi bisa?”
“Bisa. Jam delapan.”
“Baik. Terima kasih.”
Dia menulis sesuatu di bukunya. Tidak menatap lagi.
Rapat selesai jam lima. Sabine membereskan gambarnya dalam waktu kurang dari satu menit, menggulungnya dengan gerakan cepat dan presisi, memasukkannya ke tabung hitam yang ada stiker kucing berhelm di tutupnya. Dia pamit pada Pak Jarwo dan Basko dan Rizal. Pada Dendy dia hanya mengangguk, satu anggukan kecil yang tidak lebih dari sopan santun.
Lalu dia pergi bersama Tio. Kets putihnya melewati genangan tanpa menyentuhnya.
Dendy berdiri di pintu bedeng, menatap punggung itu sampai menghilang di balik pohon trembesi.
Di belakangnya, Basko berdeham. Keras.
“Warkop,” katanya. “Sekarang. Lo yang bayar.”
Warkop Mbak Sri berdiri di ujung gang, lima puluh meter dari site. Bangunan semi permanen dengan dinding papan dan atap seng yang berkarat di tepinya. Dua bangku kayu panjang yang sudah licin karena diduduki ribuan pantat tukang. Meja kayu penuh ukiran nama-nama yang ditoreh dengan paku, Asep love Ningsih, Kardi 2019, BAYAR UTANGMU DUL. Televisi tabung kecil di atas rak menayangkan pertandingan sepak bola liga Inggris ulangan dengan warna yang terlalu hijau. Bau minyak goreng, kopi saset, dan asap rokok kretek yang sudah menempel di papan dinding sejak sebelum Dendy lahir.
Dendy duduk di satu sisi bangku. Basko dan Rizal di seberangnya, seperti dua penyidik.
Baskora Danu, tiga puluh empat tahun, pemilik CV Danu Konstruksi, sekaligus manusia paling berisik di Fakultas Teknik angkatan mereka. Badannya besar, perutnya mulai membulat karena terlalu banyak makan nasi Padang di site, kulitnya gelap terbakar, kumis tipis yang menurutnya membuatnya terlihat berwibawa dan menurut semua orang lain membuatnya terlihat seperti pemain sinetron tahun sembilan puluhan. Kaus polo biru dengan logo CV di dada. Cincin batu akik hijau di jari manis kanan, hadiah dari mertuanya.
Rizal Pratama duduk di sebelahnya, dan tidak ada dua orang yang lebih berbeda. Kurus, rapi, kemeja lengan panjang biru muda yang dimasukkan ke celana bahan dengan ikat pinggang kulit. Kacamata berbingkai kawat tipis. Rambut disisir ke samping dengan garis belahan yang lurus seperti ditarik dengan penggaris. Dia konsultan struktur yang bisa menghitung kekuatan balok sambil makan bakso, dan dia bicara hanya kalau ada yang perlu dikatakan, yang artinya dia bicara kira-kira seperempat dari jumlah Basko bicara.
Tujuh belas tahun. Mereka bertiga duduk berhadapan seperti ini sejak semester satu, di warkop depan kampus yang sekarang sudah jadi minimarket.
Mbak Sri meletakkan tiga gelas kopi hitam, sepiring pisang goreng yang masih berminyak, dan satu mangkuk mi rebus telur untuk Basko yang tidak pernah bisa pulang dari warkop tanpa makan mi.
Basko menyeruput kuah mi. Keras. Lalu meletakkan sendoknya dan menatap Dendy.
“Jadi,” katanya. “Martabak.”
“Bas.”
“Keju-cokelat. Pinggir gosong. Empat kotak.” Basko menghitung dengan jari yang berminyak. “Buat studio yang isinya lima orang. Sementara anak-anak gue, sebelas orang, dapat tiga kotak martabak telur.”
“Tukang lo suka yang asin.”
“Tukang gue suka yang gratis, Den. Lo kasih martabak kertas juga mereka makan.”
Rizal mengambil sepotong pisang goreng, meniupnya dengan sabar, dan tidak bicara. Tapi matanya di balik kacamata kawat itu tidak lepas dari Dendy.
“Terus Pak Jarwo,” lanjut Basko. “Pak Jarwo nggak pernah gosip. Tiga puluh tahun gue kenal dia, gosip terbesarnya itu soal Kardi yang ketahuan tidur di bekisting. Tapi Senin kemarin dia telepon gue malam-malam. Cuma buat bilang satu kalimat.”
“Bas...”
“Mas Basko, Mas Dendy kena kayu.” Basko menirukan logat Jawa Pak Jarwo dengan sangat buruk. “Terus dia ketawa. Terus dia tutup telepon. Pak Jarwo, Den. Pak Jarwo ketawa.”
Dendy mengambil gelas kopinya. Panas. Dia menggenggamnya dengan dua tangan.
“Dia cuma salah nengok,” katanya. “Ponselnya bunyi. Gue lagi nunjukin kayu. Kecelakaan.”
“Kecelakaan,” ulang Basko. “Oke. Terus soal helm?”
Dendy berhenti. “Helm apa?”
“Lo cerita tadi. Pas kita jalan ke sini. Lo bilang Sabine nggak pakai helm pas pertama datang, terus helm studionya kegedean, terus lo bantuin kaitin talinya karena kalau nggak nanti melorot ke mata dia.”
“Terus?”
“Terus lo cerita lagi. Dua menit kemudian. Pas kita nunggu Mbak Sri bikin kopi. Kata per kata sama. Talinya kepanjangan, Bas, jadi gue tarik dikit biar pas.”
Dendy membuka mulut. Menutupnya.
Dia tidak ingat menceritakannya dua kali. Dia bahkan tidak ingat menceritakannya sekali.
Rizal meletakkan pisang gorengnya yang baru digigit setengah. Dia mengambil selembar tisu dari kotak plastik di tengah meja, tisu cokelat tipis yang biasa dipakai untuk mengelap minyak, meratakannya di atas papan kayu, dan mengeluarkan pulpen hitam dari saku kemeja.
“Rizal,” kata Dendy. “Jangan.”
Rizal menggambar lingkaran. Menulis D di dalamnya.
Lingkaran kedua, di sebelah kanan. S.
Panah dari D ke S. Panah dari S ke D. Di tengah panah yang menuju S, Rizal menulis martabak, helm, kopi, pipi. Di tengah panah yang menuju D, dia menulis stiker, like, ???.
Lalu dia berhenti. Pulpennya melayang di atas tisu.
Dia menggambar lingkaran ketiga. Di atas. Di antara keduanya. Lebih kecil. Dan dia tidak menulis apa pun di dalamnya.
Dia hanya menatap Dendy.
Warkop tiba-tiba terasa sangat sunyi. Televisi masih menyala, komentator masih berteriak soal tendangan bebas, dua tukang di bangku sebelah masih berdebat soal harga rokok. Tapi di meja itu, di antara tiga gelas kopi dan sepiring pisang goreng yang mulai dingin, tidak ada yang bicara.
Basko yang memecahkannya, seperti biasa. Tapi suaranya kembali jahil, seolah dia sengaja menarik mereka mundur dari lingkaran ketiga itu.
“Oke, oke, cukup ilmiahnya. Gue mau lihat buktinya.” Tangannya yang besar menyambar ponsel Dendy dari meja sebelum Dendy sempat bereaksi. “Pasti ada chat. Ada chat, kan? Lo kan nggak bisa ngobrol, Den, pasti lo lebih jago di chat...”
“Bas, balikin.”
Basko sudah berdiri, mundur dua langkah, memegang ponsel itu di atas kepala seperti anak SD yang merebut penghapus. Dendy tidak mengejar. Dia tahu Basko. Mengejar hanya membuatnya lebih senang.
“Kata sandinya masih tanggal lahir lo,” kata Basko, jempolnya sudah bergerak. “Den, kita udah tiga puluh empat tahun. Ganti kata sandi, Den.”
Lalu dia membuka WhatsApp. Menggulir. Berhenti.
“Nah. Sabine.” Dia menyeringai lebar. “Tanpa emoji di nama kontak. Serius banget. Oke, mari kita baca pesan terakhirnya...”
Dia berdeham. Membacakan dengan suara melengking yang dia pikir mirip suara perempuan.
“Mas, boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan?”
Basko berhenti. Mengerjap. Membaca lagi.
“Cat,” katanya. Lalu tertawa. Tawa keras, dari perut, yang membuat dua tukang di bangku sebelah menoleh. “Cat! Dia mau ngecat lo, Den! Terus di bawahnya, bintang, chat... ya Allah, anak ini lucu banget, gue suka anak ini, gue restuin...”
Tawanya masih bergulung saat matanya turun ke bagian bawah layar. Ke timestamp kecil di bawah pesan Sabine. Ke tanda centang biru, dan jam di sampingnya.
Dibaca 00.03.
Sabtu.
Tawa Basko berhenti. Tidak pelan-pelan. Langsung, seperti keran yang ditutup.
Dia menatap layar itu. Lama. Wajahnya yang besar dan penuh ekspresi tiba-tiba kosong. Lalu dia menurunkan ponsel dari atas kepala. Pelan. Dan duduk kembali di bangku kayu, di sebelah Rizal, dan meletakkan ponsel itu di depan Dendy dengan layar menghadap ke bawah. Hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Maaf,” kata Basko. Suaranya pelan sekali. “Gue nggak lihat tanggalnya.”
Dendy tidak menjawab.
Rizal melipat tisu dengan diagramnya jadi dua. Tidak membuangnya. Hanya melipatnya.
Basko menggosok wajahnya dengan dua tangan, meninggalkan jejak minyak pisang goreng di pipinya. Dia yang dulu berdiri di sebelah Dendy di pelaminan dengan beskap pinjaman yang terlalu sempit di perut. Dia yang tujuh tahun lalu tidur di kursi plastik lorong rumah sakit tiga malam berturut-turut, dan untuk tiga bulan setelahnya tidak melontarkan satu lelucon pun, sampai Dendy sendiri yang memohon supaya dia bercanda lagi.
“Lo nggak bales,” kata Basko. Bukan pertanyaan.
“Belum.”
“Udah dua hari, Den.”
“Gue tahu.”
“Anak itu tadi di rapat mukanya kayak orang habis nangis semalaman.”
Dendy memejamkan mata. “Gue tahu, Bas.”
Mbak Sri datang mengambil mangkuk mi yang sudah kosong. Dia melihat wajah ketiganya, lalu tanpa bertanya apa-apa, meletakkan satu piring pisang goreng lagi yang masih panas, dan pergi.
Rizal akhirnya bicara.
“Kamu suka dia,” katanya.
Bukan pertanyaan juga. Rizal tidak pernah bertanya kalau dia sudah tahu jawabannya.
Dendy membuka mata. Menatap gelas kopinya. Ampas hitam di dasar gelas, yang sudah mengendap dan tidak bergerak lagi.
“Gue ketawa, Riz,” katanya akhirnya. Suaranya keluar serak, seperti tidak dipakai lama. “Hari pertama dia datang ke toko. Dia debat soal Putih Tulang sama Putih Gading. Dia bilang itu kayak mantan yang ganti nomor. Dan gue ketawa. Bukan senyum. Bukan yang... yang biasa. Ketawa beneran. Sampai Bu Tuti berhenti ngitung. Sampai Ujang berhenti jalan.”
Dia memutar gelas di antara telapak tangannya.
“Gue udah lupa rasanya. Ketawa kayak gitu. Tujuh tahun, Riz. Gue senyum tiap hari, ke ratusan orang. Gue tahu cara bikin orang nyaman. Gue tahu kapan harus nanya kabar anaknya, kapan harus kasih diskon, kapan harus nyuguhin kopi.” Jarinya mengetuk tepi gelas. Tok. Tok. “Ina yang ngajarin semua itu. Semua. Gue dulu nggak bisa apa-apa. Lo inget kan, gue kayak apa pas semester satu?”
“Kayak lemari,” kata Basko pelan.
Dendy tertawa kecil, pahit. “Dia juga bilang gitu.”
“Terus Sabine,” kata Rizal.
“Terus Sabine.” Dendy menarik napas. “Sama dia, gue nggak... gue nggak pakai semua itu. Gue lupa. Gue ngomong hal-hal yang nggak ada di naskah. Gue nanya soal rendang di Story-nya. Gue kirim martabak pinggir gosong karena gue baca satu kalimat dia di grup dua minggu sebelum gue kenal dia. Gue kaitin tali helmnya dan tangan gue...” Dia berhenti. Menatap tangan kanannya sendiri yang melingkari gelas. “Tangan gue masih inget.”
Basko dan Rizal saling pandang.
“Dan malam itu,” lanjut Dendy, lebih pelan, “pas pesan itu masuk. Gue ketawa lagi. Sendirian di rumah. Gue udah mau bales. Gue udah tahu mau nulis apa.” Dia menelan. “Terus kalender bunyi.”
Tidak ada yang bicara.
“Dan gue ngerasa,” Dendy menatap meja, menatap ukiran Asep love Ningsih yang sudah setengah hilang dimakan waktu, “kayak orang yang ketahuan selingkuh. Di hari itu. Dari semua hari. Gue lagi ketawa ke pesan perempuan lain di hari Ina...”
Kalimatnya tidak selesai. Dia tidak bisa menyelesaikannya.
Basko mengulurkan tangan melintasi meja dan meremas pergelangan tangan Dendy. Keras. Tangan besar yang berminyak dan kasar. Dia tidak bilang apa-apa. Tidak ada lelucon. Hanya remasan itu, yang bertahan tiga detik, lalu dilepas.
Rizal meletakkan pulpennya di atas tisu yang terlipat. Menyilangkan tangan di atas meja. Mencondongkan tubuh sedikit.
“Den,” katanya. Suaranya tenang, datar, seperti saat menjelaskan perhitungan beban ke klien yang panik. “Aku mau nanya satu hal. Dan kamu nggak harus jawab sekarang.”
Dendy menunggu.
“Kamu takut mengkhianati Ina,” kata Rizal pelan. “Atau kamu takut kehilangan lagi?”
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam sumur. Dendy mendengarnya tenggelam. Lama. Tidak ada bunyi dasar.
Dia membuka mulut. Mencari jawaban.
Kalau dia bilang mengkhianati Ina, itu terdengar mulia. Setia. Suami yang tidak pernah lupa. Itu jawaban yang bisa dia katakan pada Mama, pada keluarga Ina, pada dirinya sendiri di depan cermin setiap pagi.
Tapi di bawah jawaban itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dingin dan lebih dalam dan lebih memalukan. Sesuatu yang berbau antiseptik dan lorong rumah sakit jam tiga pagi, dan bunyi mesin yang berhenti, dan tiga bulan. Hanya tiga bulan.
Dendy menutup mulutnya.
Dia tidak menjawab.
Rizal mengangguk kecil, seolah diamnya itu sendiri sudah sebuah jawaban. Dia mengambil tisu yang terlipat, memasukkannya ke saku kemeja Dendy dengan dua jari, lalu menepuk saku itu sekali.
“Simpan,” katanya. “Buat nanti.”
Malam itu, di meja makan yang gelap, Dendy membuka ponselnya.
Chat Sabine. Tiga pesan terakhir di bagian bawah, semua dari dia. Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas. Lalu Mas, boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan? Lalu *chat.
Semua sudah biru. Semua sudah dibaca. Tidak satu pun dibalas.
Tisu cokelat dari saku kemejanya tergeletak di sebelah laptop. Terlipat. Dia belum membukanya lagi.
Dia mengetik.
Mbak Sabine, bukan...
Hapus.
Maaf baru bales. Weekend kemarin saya...
Hapus.
Boleh. Tentu boleh. Mau cat warna apa?
Dia menatap kalimat itu lama sekali. Itu yang ingin ia tulis. Itu yang ada di kepalanya jam dua belas lewat tiga, sebelum kalender berbunyi. Jempolnya melayang di atas tombol kirim. Dia bisa membayangkan balasan Sabine. Tertawa, mungkin. Stiker kucing. Sesuatu soal Putih Gading.
Lalu dia membayangkan hal lain. Pesan-pesan berikutnya. Makan malam. Tangan di tangan. Sesuatu yang tumbuh. Dan suatu hari, telepon di tengah malam, lorong yang berbau antiseptik, tiga bulan, atau tiga tahun, atau tiga puluh tahun, tidak ada bedanya, karena ujungnya selalu sama, ujungnya selalu kursi kosong di seberang meja dan kopi yang dingin.
Dia menghapus kalimat itu. Huruf demi huruf.
Lalu mengetik sesuatu yang lain. Sesuatu yang aman.
Mbak Sabine, untuk pengiriman merbau hari Kamis jam 8 pagi, mohon dipastikan akses loading di sisi timur sudah kosong ya. Terima kasih.
Kirim.
Centang dua. Hampir langsung, biru.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lama sekali.
Lalu satu balasan.
Sabine: Baik, Mas.
Dua kata. Tanpa emoji. Tanpa titik tiga. Tanpa kucing.
Dendy menatapnya.
Dia sudah menerima ribuan pesan baik, Mas dari ratusan pelanggan selama bertahun-tahun. Kata-kata paling biasa di dunia. Tapi yang ini terasa seperti pintu yang ditutup pelan-pelan, tanpa dibanting, oleh seseorang yang terlalu sopan untuk membanting.
Dia meletakkan ponsel. Layar ke bawah.
Di sebelahnya, tisu cokelat itu masih terlipat. Tiga lingkaran di dalamnya. Satu yang kosong.
Dendy tidak membukanya.
Tapi dia juga tidak membuangnya.














Asdfgh aku menikmati slow burn dengan bumbu angst ini 🥲