Bab 12 - Hujan di Kaca Mobil

1 dibaca

A

Tujuh batang merbau melengkung.


Tidak parah. Hanya lengkungan halus di tengah papan, seperti punggung kucing yang baru bangun tidur, yang tidak akan terlihat kalau papan itu disandarkan ke dinding. Tapi Pak Jarwo melihatnya Senin pagi saat mulai memilah material, dan Pak Jarwo bisa melihat retak rambut di beton dari jarak lima meter.

“Nggak bisa dipasang, Mbak,” katanya. “Nanti lantainya bergelombang. Kayak laut.”

Jadi Selasa sore, jam enam lewat, Sabine berdiri di gudang belakang Hermawan Jaya di bawah lampu neon panjang yang berdengung, memeriksa papan pengganti satu per satu.

Dendy berdiri di sebelahnya.

Tidak terlalu dekat. Satu meter, mungkin. Jarak yang sopan. Jarak yang profesional. Jarak yang dijaga dengan begitu hati-hati sampai Sabine bisa merasakannya, seperti garis tak terlihat yang digambar di lantai semen dengan kapur.

Dia tidak menatap Sabine lebih lama dari yang diperlukan. Suaranya tenang, ramah, rapi. Aturan satu, dua, tiga, empat. Senyum, sebut nama, tanya kabar. Dia bahkan menawarkan kopi saat Sabine datang, dan Sabine menolak, dan dia tidak memaksa.

Sabine tahu sekarang dari mana semua itu datang. Dan tahu itu membuat segalanya terasa berbeda. Setiap senyum yang dilemparkan padanya sekarang punya bayangan kecil di belakangnya, seperti tanda air di kertas kalkir yang hanya kelihatan kalau diangkat ke arah cahaya.

Dia berpura-pura tidak melihatnya.

“Yang ini,” katanya, mengangkat satu papan dan menatap sepanjang tepinya dengan satu mata terpejam, seperti menembak. “Lurus.”

“Lurus,” kata Dendy.

“Yang ini juga.”

“Juga.”

Mereka memilih tujuh batang dalam empat puluh menit. Papan-papan itu ditandai dengan kapur putih, disandarkan terpisah di dinding untuk dikirim besok pagi. Pekerjaan selesai. Tidak ada alasan lagi untuk berdiri di gudang ini.

Sabine sedang membuka mulut untuk pamit saat perutnya berbunyi.

Bukan bunyi kecil. Bukan geraman sopan yang bisa ditutupi dengan batuk. Bunyi panjang, dalam, bergema di antara tumpukan kayu dan rak besi, seperti suara paus di dasar laut. Bunyi perut orang yang terakhir makan jam sebelas pagi, sepotong roti isi yang dimakan sambil berdiri di site.

Hening.

Dendy menatap perutnya. Sabine menatap langit-langit gudang.

“Itu tadi,” kata Dendy pelan, “merbau yang protes?”

“Mungkin.”

“Bunyinya kayak merbau yang lapar.”

Sabine tertawa. Tidak sengaja. Tawanya keluar lewat hidung, pendek dan jelek, dan dia langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan. Dan saat itulah garis kapur tak terlihat di antara mereka goyah sedikit, karena Dendy juga tersenyum. Bukan senyum aturan satu. Senyum miring yang lebih tinggi di sisi kiri, yang tidak rapi, yang muncul sendiri tanpa diminta.

“Makan dulu,” katanya. “Ada warung di dekat sini. Anggap aja ganti rugi merbau bengkok.”

Sabine seharusnya menolak.

Dia seharusnya pulang. Dia sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu, dan pura-pura tidak tahu berarti bersikap profesional, dan bersikap profesional berarti tidak makan malam berdua dengan vendor yang pipinya pernah tidak sengaja ia cium, yang pesan pribadinya tidak ia balas selama lima hari, yang istrinya meninggal di umur yang sama dengan umurnya sekarang.

“Oke,” katanya.


Warung itu tenda di pinggir jalan besar, tiga ratus meter dari toko. Terpal oranye yang dibentangkan di atas rangka besi, lampu petromaks tiruan yang sebenarnya bohlam LED, dua meja panjang dengan taplak plastik bermotif kotak-kotak merah putih, dan bangku kayu tanpa sandaran. Di depan tenda, gerobak dengan etalase kaca berisi ikan-ikan segar di atas es serut, cumi-cumi, kerang hijau, udang yang masih abu-abu dan belum matang. Di belakang gerobak, wajan besar di atas kompor yang apinya menjilat tinggi, dan asap putih beraroma bawang putih, mentega, dan saus tiram yang mengepul ke udara malam.

SEAFOOD 99 PAK KUMIS, kata spanduk di atas tenda.

Pak Kumis memang punya kumis. Tebal, hitam, melengkung ke atas di ujungnya seperti tanduk kerbau. Dia sedang menggoyangkan wajan dengan satu tangan saat mereka datang, dan saat melihat Dendy, dia berhenti menggoyang.

“Mas Den!”

“Pak Kumis.”

“Lama nggak ke sini! Biasa?”

“Biasa. Dua.”

Pak Kumis melirik Sabine. Melirik Dendy. Melirik Sabine lagi. Kumisnya bergerak-gerak seperti antena.

“Siap,” katanya. “Dua.”

Mereka duduk di ujung meja panjang yang paling dekat dengan jalan. Seorang bapak tua berkaus partai yang sudah lusuh langsung mendekat, membawa peluit di leher. Tukang parkir.

“Mas Dendy. Mobil Mas saya jagain, ya.”

“Makasih, Pak Min. Lututnya udah enakan?”

“Alhamdulillah, udah bisa jongkok lagi.” Pak Min menepuk lututnya dengan bangga, lalu melirik Sabine. Senyumnya melebar, memperlihatkan gigi yang tinggal separuh. “Wah. Mas. Wah.”

“Pak Min.”

“Iya, iya. Saya jagain mobilnya.” Pak Min mundur sambil mengangkat alis ke arah Sabine dengan cara yang sama sekali tidak halus.

Lalu seorang perempuan paruh baya datang membawa dua gelas teh manis dingin. Istri Pak Kumis, dengan daster batik dan jilbab instan warna ungu.

“Mas Dendy, ini tehnya.” Dia meletakkan gelas di depan mereka. Menatap Sabine dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata yang berbinar. “Ini siapa, Mas? Akhirnya Mas...”

Dia berhenti. Kalimatnya menggantung di udara, dan Sabine melihat bagaimana matanya melirik Dendy sekilas, cepat, seolah baru saja menginjak sesuatu yang tidak seharusnya diinjak.

“Arsitek, Bu,” kata Dendy. Suaranya tetap ramah, tapi ada sesuatu yang mengeras di bawahnya. “Klien. Proyek kafe di jalan Trembesi.”

“Oh. Oh, arsitek. Klien.” Istri Pak Kumis mengangguk-angguk. “Bagus, bagus. Makan yang banyak, ya, Mbak Arsitek.”

Dia pergi.

Klien. Sabine memutar sedotan di gelas tehnya. Es batu berdenting. Itu benar. Secara teknis dia klien. Dia tidak punya hak untuk merasa apa pun soal kata itu.

Tapi dia merasakannya juga. Kecil, tajam, seperti serpihan kayu yang masuk ke bawah kuku.

Seorang pengamen datang. Anak muda dengan gitar yang senarnya kurang satu, kaus hitam bergambar tengkorak, rambut dicat pirang di ujung. Dia berdiri di ujung meja dan, tanpa bertanya, mulai memainkan intro sebuah lagu pop Indonesia lawas dari akhir sembilan puluhan.

Dendy mendengus. “Andi, jangan yang itu.”

“Kan kesukaan Mas.” Andi nyengir, terus memetik.

“Itu kesukaan... itu dulu.”

Andi berhenti sebentar. Menatap Dendy. Menatap Sabine. Lalu, dengan kepekaan yang mengejutkan untuk anak muda berambut pirang separuh, dia berganti lagu tanpa melewatkan satu ketukan pun. Lagu dangdut koplo yang riang dan norak. Dendy mengeluarkan selembar dua puluh ribu dari dompet dan menyelipkannya di lubang gitar tanpa melihat.

Sabine menatap semua ini dengan dagu bertumpu di telapak tangan.

“Mas,” katanya. “Mas kenal semua orang di kota ini?”

Dendy mengangkat bahu. “Nggak semua.”

“Pak Kumis. Istrinya. Tukang parkir. Pengamen. Mas tahu lutut tukang parkir sakit.”

“Pak Min jatuh dari motor dua bulan lalu.”

“Dan Mas tahu.”

“Dia beli semen di toko buat benerin teras rumahnya. Terus cerita.” Dendy memutar gelas tehnya. “Orang cerita, Mbak. Kalau ditanya, orang pasti cerita. Saya cuma dengerin.”

Tanya kabar. Ingat jawabannya. Sabine bisa mendengarnya sekarang, suara yang tidak pernah ia dengar, di balik suara Dendy.

“Mbak Sabine?”

“Hm?”

“Kok diam?”

“Nggak.” Dia tersenyum. “Cuma lagi mikir. Kalau Mas jadi arsitek, pasti klien Mas nggak pernah komplain. Mas bakal tahu warna kesukaan anak klien, nama kucingnya, alergi mertuanya.”

Dendy tertawa kecil. “Saya nggak bisa gambar. Garis lurus aja saya bengkok.”

“Kayak merbau.”

“Kayak merbau.”

Makanan datang. Cumi goreng tepung yang renyah di luar dan lembut di dalam. Kerang hijau saus padang yang kuahnya merah menyala dan harum. Ikan kakap bakar dengan kecap dan sambal matah di atasnya, kulitnya gosong di pinggir. Nasi putih mengepul di dua piring. Sepiring lalapan. Dan, tanpa dipesan, sepiring tempe goreng tipis-tipis dan setusuk sate kerang yang diletakkan istri Pak Kumis dengan kedipan mata.

“Bonus,” katanya. “Buat Mbak Arsitek.”

Mereka makan.

Dan untuk satu jam berikutnya, garis kapur di antara mereka hilang.

Sabine tidak tahu bagaimana itu terjadi. Mungkin karena kerang saus padang yang terlalu pedas, yang membuatnya batuk-batuk dan Dendy menyodorkan tehnya sendiri tanpa berpikir. Mungkin karena dia menceritakan soal Jemima dan pacar Tante tukang bangunan, dan Dendy tertawa sampai harus meletakkan sendok dan menutup mata dengan satu tangan. Mungkin karena Dendy menceritakan soal Ujang yang pernah salah kirim sepuluh sak semen ke rumah seorang pejabat kelurahan, dan pejabat itu memakai semennya untuk membangun pos ronda, lalu mengirim ucapan terima kasih resmi ke toko dengan kop surat kelurahan.

Dia tertawa. Dendy tertawa. Tawa-tawa yang tidak diatur, yang keluar sendiri, yang membuat Pak Min menoleh dari tempat parkir dan tersenyum pada dirinya sendiri.

Dendy makan dengan tangan, seperti di site. Jari-jarinya yang panjang dan kasar memisahkan daging ikan dari tulang dengan presisi yang mengejutkan. Ada sedikit kecap di sudut bibirnya, dan Sabine hampir mengulurkan tangan untuk menyekanya, lalu menarik tangannya kembali dan menyerahkan tisu.

“Kecap,” katanya, menunjuk bibirnya sendiri.

Dendy menyeka. Meleset.

“Kiri.”

Dia menyeka lagi. Masih meleset.

“Kiri Mas, bukan kiri saya.”

Dia menyeka ke arah yang benar. Lalu menatap Sabine dengan alis terangkat, bertanya tanpa kata.

“Udah,” kata Sabine. Pipinya panas, dan dia menyalahkan sambal.

Di luar tenda, langit mulai gerimis. Tetesan kecil yang jatuh di terpal oranye dengan bunyi tik-tik-tik, seperti jari-jari yang mengetuk meja.

Sabine meletakkan sendoknya. Perutnya penuh. Kepalanya ringan. Dan di bawah cahaya bohlam LED yang pura-pura jadi petromaks, dengan gerimis dan asap bawang putih dan lagu dangdut koplo yang masih dimainkan Andi di tenda sebelah, dia merasa berani.

“Mas,” katanya. “Pertanyaan wawancara kerja.”

Dendy mengangkat alis. “Saya mau dilamar kerja?”

“Pertanyaan klasik. Lima tahun lagi, Mas lihat diri Mas di mana?”

Dia bertanya dengan ringan. Dengan senyum. Seperti lelucon. Tapi dia tahu itu bukan lelucon, dan dia tahu Dendy tahu itu bukan lelucon, dan untuk satu detik, dia melihat sesuatu di wajah Dendy yang bergerak. Seperti pintu yang terbuka satu senti, lalu seseorang di baliknya memutuskan untuk menahannya.

Dendy tersenyum. Rapi. Aturan satu.

“Masih jualan semen,” katanya. “Semoga.”

Lucu. Semua orang yang mendengar pasti tertawa.

Sabine tertawa juga. Kecil. Sopan.

Tapi di bawah meja, tangannya mengepal di atas lutut. Karena dia tahu bentuk jawaban itu. Dia sudah pernah membangun rumah. Dia tahu kapan sebuah pintu sengaja digambar sebagai dinding.

Kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya. Mas pernah menikah, kan? Atau Mas masih sering ingat dia? Atau sekadar Ina. Satu nama. Satu kata. Pak Jarwo sudah memberinya kunci, dan pintunya ada di depannya, dan dia hanya perlu mengulurkan tangan.

Dia membuka mulut.

Di tenda sebelah, Andi memainkan akord penutup. Tepuk tangan kecil dari meja lain. Istri Pak Kumis datang membersihkan piring. Gerimis di atas terpal makin rapat.

Sabine menutup mulutnya.

“Semoga toko Mas laris,” katanya.

“Amin,” kata Dendy. Dan dia tidak menatap Sabine saat mengatakannya.


Mobil Dendy bukan pikap toko. Mobil pribadinya, SUV tua warna abu-abu metalik yang catnya sudah kusam di kap mesin, dengan jok kulit sintetis yang retak-retak halus dan bau pengharum mobil aroma kopi yang sudah lama kehilangan kopinya. Di dasbor, ada tumpukan nota yang dijepit dengan penjepit kertas, satu kacamata hitam, dan kalung tasbih kayu yang tergantung di spion tengah.

Gerimis berubah jadi hujan saat mereka setengah jalan. Tidak deras. Hujan yang tenang dan terus-menerus, yang turun lurus dari langit tanpa angin, yang membuat jalan-jalan berkilau oranye di bawah lampu jalan. Wiper bergerak pelan dari kiri ke kanan. Kiri ke kanan. Radio mati. Hanya suara hujan di atap mobil, bunyi ban di aspal basah, dan napas mereka berdua.

Tidak ada yang bicara.

Sabine menatap ke luar jendela. Dia bisa melihat bayangan Dendy di kaca, samar dan berembun. Tangan kiri di setir. Siku kanan di sandaran jendela. Rahang yang tegang. Mata yang lurus ke depan.

Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Dendy. Dia tidak tahu apa yang dipikirkannya sendiri.

Mobil berhenti di depan rumah keluarga Sulakso. Lampu teras menyala kuning. Lampu garasi juga. Pagar besi hitam yang catnya diperbarui Papa setiap Lebaran. Pohon jambu air yang tidak pernah berbuah, daun-daunnya meneteskan air hujan.

Dendy mematikan mesin.

Keheningan yang datang setelahnya begitu tiba-tiba dan begitu penuh sampai Sabine bisa mendengar setiap tetes hujan yang jatuh di atap. Ribuan ketukan kecil. Seperti sesuatu yang ingin masuk.

Kaca depan mulai berembun dari pinggir. Pelan-pelan, dari sudut-sudutnya ke tengah, dunia di luar menghilang di balik kabut putih tipis.

“Makasih,” kata Sabine. “Makan malamnya.”

“Makasih udah milih merbau yang lurus.”

Dia tersenyum. Melepas sabuk pengaman. Klik. Sabuk itu tergulung balik ke tempatnya dengan desis pelan.

Dia seharusnya membuka pintu sekarang. Tangannya bahkan sudah di gagang pintu.

Tapi tadi, di jalan dari tenda ke mobil, hujan membasahi rambutnya. Dan sekarang satu ikal basah jatuh dari balik telinganya, menempel di pipi, dingin, dan dia belum sempat menyingkirkannya.

Dendy yang menyingkirkannya.

Tangannya terangkat. Pelan. Seperti gerakan yang ia lakukan tanpa izin dari dirinya sendiri. Ujung jarinya menyentuh pipi Sabine, tepat di tempat ikal basah itu menempel, dan dengan sangat hati-hati, dia menyelipkan rambut itu kembali ke belakang telinga Sabine.

Jarinya tidak langsung turun.

Jarinya tetap di sana. Di belakang telinga. Di garis rahang. Di tempat yang sama yang pernah disentuh buku jarinya saat mengaitkan tali helm di bawah pohon trembesi.

Sabine berhenti bernapas.

Dia menoleh. Pelan. Dan Dendy ada di sana. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Satu jengkal. Jarak yang cukup untuk melihat bahwa matanya bukan hitam, tapi cokelat sangat gelap, dengan titik-titik lebih terang di dekat pupil yang hanya kelihatan dari dekat. Jarak yang cukup untuk melihat bahwa cambang tipisnya tumbuh tidak rata di sisi kiri. Jarak yang cukup untuk mencium bau hujan di kulitnya, dan sisa asap bawang putih, dan sabun batangan.

Dia menatap Sabine seperti orang yang berdiri di pinggir kolam dan tidak yakin seberapa dalam airnya.

Sabine tidak tahu siapa yang bergerak duluan.

Mungkin dia. Mungkin Dendy. Mungkin keduanya, pada saat yang sama, seperti dua orang yang memegang gelas panas dan tidak ada yang mau melepaskan duluan.

Yang Sabine tahu hanya satu detik sebelumnya ada satu jengkal di antara mereka. Dan satu detik kemudian, tidak ada.

Bibirnya lembut.

Itu hal pertama yang ia pikirkan, dan pikiran itu begitu bodoh sampai ia hampir tertawa. Dendy Hermawan, yang tangannya kasar dan bahunya lebar dan wajahnya seperti tembok kalau sedang tidak tersenyum, punya bibir yang lembut. Dan hangat. Dan sedikit ragu, di awal. Hanya menyentuh. Hanya bertanya.

Sabine menjawab.

Dia menekan lebih dekat, dan sesuatu di dada Dendy berbunyi, satu embusan napas pendek yang bergetar, dan keraguan itu hilang. Tangannya yang tadi di belakang telinga Sabine bergeser, ke tengkuk, jari-jarinya menyusup ke rambut ikal yang basah, dan dia menariknya lebih dekat. Pelan tapi pasti. Seperti orang yang sudah lama sekali menahan sesuatu dan baru saja memutuskan untuk berhenti menahan.

Ciuman itu berubah. Lebih dalam. Lebih lambat. Rasa teh manis dan sedikit pedas sambal di lidahnya. Bunyi hujan di atap yang tiba-tiba terdengar sangat keras, seperti tepuk tangan dari ribuan orang yang tidak kelihatan.

Tangan Sabine menemukan kerah kemejanya. Mencengkeram. Kain katun yang sedikit lembap karena hujan, dan di bawahnya, tulang selangka, dan detak jantung yang ia bisa rasakan lewat pergelangan tangannya sendiri. Cepat. Sama cepatnya dengan miliknya.

Kaca mobil sudah berembun seluruhnya sekarang. Tidak ada dunia di luar. Tidak ada lampu teras, tidak ada pagar hitam, tidak ada pohon jambu air. Hanya kabut putih, dan bunyi hujan, dan tangan Dendy di tengkuknya, dan bibirnya yang bergerak pelan di bibir Sabine seolah dia sedang belajar sesuatu yang dulu pernah ia tahu, lalu lupa, lalu baru ingat lagi.

Sabine tidak ingat kapan terakhir kali dicium seperti ini. Seperti dia adalah satu-satunya hal yang penting di dunia. Seperti seseorang yang lapar.

Mungkin tidak pernah.

Lalu tangan di tengkuknya menegang.

Bukan menarik. Menegang. Seperti otot yang tiba-tiba ingat sesuatu.

Dan Dendy mundur.

Tidak pelan. Tiba-tiba. Seperti orang yang menyentuh kompor panas. Tangannya lepas dari rambut Sabine. Tubuhnya mundur sampai punggungnya menabrak pintu mobil di sisinya. Napasnya kasar, pendek-pendek, dan matanya, mata cokelat sangat gelap yang tadi menatap Sabine seperti orang yang lapar, sekarang menatap sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang Sabine tidak bisa lihat.

Atau seseorang.

“Maaf,” katanya. Suaranya serak. Rusak. “Maaf. Harusnya nggak.”

Kata-kata itu jatuh ke dalam mobil yang berembun seperti batu ke dalam air.

Harusnya nggak.

Sabine menatapnya. Bibirnya masih terasa hangat. Tangannya masih merasakan bentuk kerah kemeja itu, kain yang lembap, detak jantung di bawahnya. Rambutnya masih berantakan di tempat jari-jari itu menyusup.

Dan Dendy duduk di sana, menempel ke pintu mobil, menatap sesuatu yang tidak ada, dan bilang harusnya nggak.

Sabine tahu siapa yang dia tatap.

Dia tahu, dan dia tidak bisa mengatakannya, karena dia sudah berjanji untuk pura-pura tidak tahu.

Sesuatu di dadanya retak. Tidak keras. Hanya retak kecil, seperti retak rambut di beton, yang tidak kelihatan dari jauh tapi akan menjalar kalau dibiarkan.

“Oke,” katanya.

Suaranya tenang. Sangat tenang. Dia sendiri terkejut betapa tenangnya.

Dia membuka pintu mobil. Hujan langsung masuk, dingin, membasahi lengan dan lututnya. Dia keluar. Menutup pintu. Tidak dibanting. Ditutup dengan sopan, seperti pintu mobil tamu.

Dia berjalan ke pagar. Hujan membasahi rambutnya, blusnya, wajahnya. Dia tidak berlari. Dia tidak menoleh.

Dia tidak menoleh.

Dia membuka gerendel pagar. Masuk. Menutupnya. Berjalan melewati pohon jambu air, melewati pot-pot anggrek Papa, melewati teras dengan lampu kuning.

Di belakangnya, mesin mobil belum dinyalakan. Dia bisa mendengar ketidakhadiran suara itu. Mobil itu masih diam di sana, di depan pagar, berembun, dengan seseorang di dalamnya yang tidak bergerak.

Dia masuk ke rumah. Menutup pintu depan. Bersandar di pintu itu dengan punggungnya.

Rumah gelap. Mama dan Papa sudah tidur. Hanya jam dinding di ruang tamu yang berdetak. Dan hujan. Dan dari luar, setelah waktu yang terasa sangat lama, suara mesin mobil yang akhirnya dinyalakan. Pelan-pelan menjauh. Hilang.

Sabine mengangkat tangan. Menyentuh bibirnya dengan ujung jari.

Masih hangat.

Harusnya nggak.

Dia tidak menangis. Dia sudah terlalu ahli.

Dia hanya berdiri di sana, basah, bersandar di pintu, dengan jari di bibir, sampai jam dinding berdentang sebelas kali.


Pagi harinya, jam tujuh lewat lima belas, grup PROYEK KAFE GALERI BU WIWIK (FIX) berbunyi.

Dendy Hermawan: Selamat pagi semua 🙏

Dendy Hermawan: Merbau pengganti 7 batang OTW ke site, estimasi sampai jam 10. Sudah dicek lurus semua. @Sabine mohon dikonfirmasi ya kalau sudah diterima. Terima kasih!

Satu emoji tangan terkatup. Satu tanda seru. Satu tanda nama Sabine yang berwarna biru.

Hangat. Ramah. Rapi.

Seolah tidak ada mobil yang berembun. Seolah tidak ada jari-jari di rambut basah. Seolah tidak ada hujan.

Sabine menatap pesan itu dari tempat tidurnya, dengan rambut yang masih kusut dan mata yang bengkak karena kurang tidur. Dia menatapnya lama.

Lalu dia mengetik dengan jempol yang sangat tenang.

Sabine: Baik, Mas. Terima kasih 🙏

Dia keluar dari grup. Membuka chat pribadi. Di bawah Baik, Mas yang ia kirim Senin lalu.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada pesan baru. Tidak ada maaf soal semalam. Tidak ada kita perlu bicara. Tidak ada apa-apa.

Hanya kursor yang berkedip di kolom ketik yang kosong.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk