Dia mengetik pesan itu di dalam mobil, di depan gerbang pemakaman.
Dendy : Selamat pagi semua 🙏
Jempolnya berhenti. Emoji tangan terkatup itu menatapnya dari layar, kuning dan tidak berdosa.
Dendy : Merbau pengganti 7 batang OTW ke site, estimasi sampai jam 10. Sudah dicek lurus semua. @Sabine mohon dikonfirmasi ya kalau sudah diterima. Terima kasih!
Dia membaca ulang. Ramah. Rapi. Tanda seru di ujung, seperti orang yang tidur nyenyak semalam. Seperti orang yang tidak duduk di mobil berembun di depan pagar besi hitam selama empat puluh menit setelah perempuan itu masuk ke rumah tanpa menoleh.
Kirim.
Dia menatap layar sampai nama Sabine muncul di bawah pesannya. Baik, Mas. Terima kasih 🙏 Sama persis. Emoji yang sama. Tanda yang sama.
Pintu yang ditutup dengan sopan. Lagi.
Dendy mematikan layar. Menaruh ponsel di dasbor, di atas tumpukan nota, di sebelah kacamata hitam yang tidak pernah ia pakai. Lalu dia duduk di sana, kedua tangan di atas setir, menatap gerbang pemakaman yang catnya hijau pudar dan tulisan besinya berkarat.
TPU KEMBANG KUNING.
Dia menyadari bahwa tangannya gemetar. Sedikit. Hanya di ujung jari. Seperti tangan Papa di meja makan.
Dia mengepalkannya dan turun dari mobil.
Pemakaman itu sepi jam delapan pagi. Hujan semalam meninggalkan tanah yang lembap dan bau yang tajam, campuran tanah basah, daun busuk, dan wangi kamboja yang terlalu manis. Pohon-pohon kamboja tumbuh di mana-mana, batangnya bengkok-bengkok seperti tangan orang tua, bunganya putih dengan tengah kuning berjatuhan di atas nisan-nisan dan jalan setapak dari paving blok yang sudah miring dan retak.
Dendy tahu jalannya. Dia bisa berjalan ke sana dengan mata tertutup. Masuk gerbang, belok kanan di pohon kamboja paling besar, lurus melewati deretan makam dengan keramik biru, belok kiri di makam yang dikelilingi pagar besi kecil bercat emas, lalu hitung tujuh ke dalam.
Tujuh tahun. Dia tidak pernah sekali pun salah belok.
Di tangannya, sekantong plastik bunga tabur dari penjual di depan gerbang. Melati dan mawar merah, kelopak-kelopak yang sudah dipetik dan dicampur dengan daun pandan yang diiris tipis. Dan sebotol air mineral yang tutupnya sudah ia buka.
Makam itu sederhana. Keramik putih yang ia pilih sendiri, karena Ina pernah bilang keramik makam warna-warni itu norak dan kalau dia mati duluan dia mau yang putih polos saja. Waktu itu mereka tertawa. Waktu itu itu lelucon.
Nisannya dari marmer abu-abu dengan tulisan berwarna emas.
INA SURANDA
binti Hadi Suranda
Dan dua tanggal di bawahnya. Jarak antara keduanya dua puluh tujuh tahun.
Dendy berjongkok. Mulai membersihkan daun-daun kamboja yang jatuh di atas keramik, satu per satu, meletakkannya di pinggir. Ada lumut tipis di sudut nisan yang belum sempat ia gosok Sabtu lalu. Sabtu lalu dia datang, duduk di sini dua jam, dan tidak melakukan apa-apa selain menatap.
Dia menuang air dari botol ke atas keramik. Membasahi tanah di kepala makam. Lalu menaburkan bunga. Melati, mawar, pandan. Warna putih dan merah dan hijau di atas keramik putih yang basah.
Lalu dia duduk bersila di atas paving blok yang dingin dan lembap, dan diam.
“Hai, In,” katanya akhirnya.
Suaranya terdengar aneh di pemakaman yang sepi. Terlalu keras dan terlalu pelan pada saat yang sama.
“Aku datang lagi. Belum seminggu.” Dia mengambil satu bunga kamboja yang jatuh di dekat lututnya. Memutar-mutarnya di antara jari. “Kamu pasti bingung. Biasanya setahun sekali. Terus kamu pasti bilang, ngapain sih, kayak orang nggak punya kerjaan.”
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada. Hanya burung prenjak di dahan kamboja yang berkicau pendek-pendek, dan suara motor jauh di jalan raya.
Dendy menatap nisan itu.
Dan ingatan itu datang, seperti selalu, dari tempat yang paling tidak ia duga.
Umur dua puluh satu. Semester lima. Toko sedang ramai-ramainya menjelang Lebaran.
”Senyum,” kata Ina.
Dia berdiri di belakang meja kasir, di sebelah Dendy, dengan kaus putih dan celemek toko warna hijau yang terlalu besar untuknya sampai talinya harus dililit dua kali di pinggang. Rambutnya dikuncir tinggi. Tangannya bertolak pinggang. Mukanya galak, dengan cara yang tidak pernah benar-benar galak.
”Aku senyum.”
”Itu bukan senyum. Itu kayak orang nahan sakit gigi.”
”Ini senyum, In.”
”Den.” Dia meraih wajah Dendy dengan dua tangan, jari telunjuk di kedua sudut bibirnya, dan menariknya ke atas. Seperti membentuk tanah liat. “Gini. Rileks. Pipinya naik. Matanya juga ikut. Bayangin kamu lagi lihat sesuatu yang kamu suka.”
”Aku lagi lihat kamu.”
Dia berhenti. Pipinya memerah. Lalu dia mencubit pipi Dendy keras-keras dan melepaskannya. “Gombal. Nggak mempan. Sekarang praktek. Tuh ada pelanggan.”
Seorang ibu masuk ke toko, menggandeng anak laki-laki kecil, umur lima tahun paling banyak. Kaus bergambar kartun robot. Sendal yang bisa menyala setiap kali diinjak. Anak itu berlari ke rak cat dan mulai menyentuh kaleng-kaleng, satu per satu, seperti pelanggan profesional.
”Aturan satu,” bisik Ina. “Senyum dulu. Sana. Ke anaknya.”
Dendy menarik napas. Berjalan ke rak cat. Berjongkok di depan anak itu, sejajar dengan matanya.
Dan tersenyum.
Dia berusaha. Sungguh-sungguh berusaha. Dia menarik pipinya ke atas, persis seperti yang Ina ajarkan. Dia melebarkan mulutnya. Dia bahkan memperlihatkan gigi, karena Ina bilang senyum yang ada giginya lebih ramah.
Anak itu menatapnya.
Satu detik. Dua detik.
Lalu wajah kecil itu mengerut. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Dan dia membuka mulut lebar-lebar dan mengeluarkan tangisan yang begitu keras, begitu tulus, begitu penuh kengerian murni, sampai semua orang di toko menoleh. Dia berbalik dan berlari ke ibunya, sendalnya menyala-nyala di setiap langkah, merah, biru, merah, biru, dan menyembunyikan wajah di balik rok ibunya sambil menunjuk ke arah Dendy.
”Om itu seram!”
Dendy membeku di tempat, masih berjongkok, masih dengan senyum di wajahnya yang tiba-tiba tidak tahu harus pergi ke mana.
Di balik meja kasir, Ina jatuh.
Benar-benar jatuh. Kakinya lemas, dan dia terduduk di atas tumpukan dus keramik yang baru datang dari Cirebon, dan dia tertawa. Tertawa sampai membungkuk, sampai memegangi perut, sampai air mata mengalir dan dia harus mengelapnya dengan ujung celemek. Tawanya memenuhi toko. Keras dan tinggi dan sama sekali tidak anggun, tawa yang membuat Papa keluar dari kantor untuk melihat ada apa, lalu ikut tersenyum melihat calon menantunya terkapar di atas dus keramik.
”Den,” Ina terengah di antara tawa. “Den. Kamu... kamu senyum kayak mau nagih utang ke anak TK.”
Dendy berdiri. Menatapnya. Lalu, tanpa bisa ia cegah, dia ikut tertawa.
Tawa pertama yang benar-benar keluar di depan pelanggan. Bukan senyum. Bukan latihan. Tawa yang keluar karena perempuan di atas dus keramik itu terlalu lucu untuk tidak ditertawakan.
Ina berhenti tertawa. Menatapnya dengan mata basah.
”Nah,” katanya pelan. “Itu. Itu yang aku mau. Yang kayak gitu.”
Dendy menunduk. Bunga kamboja di tangannya sudah lecek, kelopaknya sobek di satu sisi.
“Anak itu sekarang udah SMA, In,” katanya. “Kemarin dia beli pipa sama bapaknya. Dia nggak ingat aku. Tapi aku ingat dia. Sendalnya yang nyala-nyala.”
Dia tertawa kecil. Tawa yang tertahan di tenggorokan.
“Aku udah bisa senyum sekarang. Anak kecil udah nggak nangis. Pelanggan suka. Toko rame. Semua orang bilang aku ramah.” Dia berhenti. “Kamu berhasil, In. Kamu berhasil ngajarin lemari.”
Burung prenjak terbang dari dahan kamboja. Beberapa kelopak jatuh, pelan, berputar di udara sebelum mendarat di atas keramik yang basah.
“Tapi aku nggak pernah ketawa lagi,” lanjutnya. “Yang kayak waktu itu. Nggak pernah. Tujuh tahun.”
Dia menatap nisan. Nama berwarna emas. Dua tanggal.
Dan ingatan lain datang. Lebih jauh. Lebih kecil.
Hari pertama SMP. Kelas tujuh C. Bangku ketiga dari depan, dekat jendela.
Dendy duduk sendirian. Dia pindah dari SD di kecamatan lain, tidak kenal siapa pun, dan dia sudah memutuskan sejak di depan gerbang sekolah bahwa dia tidak akan bicara dengan siapa pun sampai dia harus. Tas ransel hitam yang terlalu besar. Seragam putih yang masih kaku karena baru dibeli. Rambut dipotong cepak oleh Papa sendiri di teras rumah dengan gunting kertas.
Seseorang menjatuhkan tas di bangku sebelahnya. Tas merah muda dengan gantungan kunci boneka beruang yang sudah kehilangan satu mata.
”Kosong, kan?”
Dendy menoleh. Seorang anak perempuan. Kecil. Lebih pendek satu kepala darinya. Rambut hitam panjang dikepang dua, pita putih di ujungnya. Pipi bulat. Gigi depan yang sedikit tidak rata.
Dia tidak menunggu jawaban. Dia sudah duduk.
”Aku Ina,” katanya, mengulurkan tangan. “Kamu siapa?”
Dendy menatap tangan itu. Kecil, dengan jari-jari pendek dan kuku yang digigiti.
”Dendy,” katanya.
”Den.” Ina menjabat tangannya, sekali, keras, seperti bapak-bapak di acara kawinan. “Kamu kok kayak lemari, sih, Den?”
”Lemari?”
”Kaku. Diem. Kotak.” Dia menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan serius. “Tapi nggak apa-apa. Lemari itu berguna. Nanti aku ajarin kamu ngomong.”
Lalu dia membuka tasnya, mengeluarkan kotak bekal plastik bergambar kelinci, membukanya, dan menyodorkan setengah roti isi selai stroberi ke arah Dendy tanpa bertanya apakah dia mau.
Dendy mengambilnya. Dia tidak tahu kenapa.
Itu hari pertama. Mereka tidak pernah duduk terpisah lagi sampai lulus SMA.
“Kamu ngajarin aku ngomong,” kata Dendy ke nisan. “Kamu ngajarin aku senyum. Kamu ngajarin aku jualan. Kamu ngajarin aku bikin kopi. Kamu ngajarin aku cara hidup.”
Suaranya pecah di kata terakhir. Dia berhenti. Menelan. Mencoba lagi.
“Tapi kamu nggak pernah ngajarin aku cara hidup tanpa kamu.”
Pemakaman hening. Angin lewat di antara pohon-pohon kamboja, membuat daun-daun berbisik. Di kejauhan, seorang penjaga makam tua sedang menyapu jalan setapak dengan sapu lidi, bunyinya berirama. Srek. Srek. Srek.
Dendy menutup mata.
Dan ingatan yang paling ia takuti datang. Seperti biasa. Tanpa izin.
Tiga bulan setelah pelaminan. Kamis malam.
Awalnya hanya demam. Ina bilang dia masuk angin, kebanyakan begadang mengurus pembukuan toko yang berantakan. Dia minum parasetamol dan tidur. Jumat pagi demamnya naik. Jumat siang dia muntah. Jumat malam mereka ke IGD, dan dokter jaga yang masih muda dan kelelahan bilang mungkin tifus, mungkin demam berdarah, perlu dirawat untuk observasi.
Observasi.
Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Angka-angka di kertas hasil lab yang tidak ia mengerti. Dokter-dokter yang berganti, yang bicara dengan kata-kata yang makin panjang dan makin pelan. Komplikasi. Organ. Tidak merespons.
Hari kelima, Ina dipindah ke ruang yang pintunya berat dan jendelanya kecil. Dendy hanya boleh masuk satu jam sehari, dengan jubah hijau dan masker dan sarung tangan karet, dan dia duduk di sebelah ranjang dan memegang tangan yang tertusuk selang dan tidak tahu harus bicara apa.
Hari keenam, jam sebelas malam, Ina membuka mata.
Wajahnya pucat. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Rambut panjangnya yang biasanya dikuncir tinggi sekarang kusut di atas bantal. Tapi matanya masih mata yang sama. Mata yang menyipit sampai hilang kalau tertawa.
Dia menatap Dendy. Lama.
Lalu dia mengangkat tangan. Pelan sekali, seperti tangan itu terbuat dari timah. Jarinya menyentuh sudut bibir Dendy di balik masker. Menariknya ke atas. Sedikit sekali. Hampir tidak ada tenaga.
”Senyum, Den,” bisiknya. Suaranya hampir tidak ada. “Jangan... kayak orang mau nagih utang.”
Dendy tersenyum. Di balik masker, dengan air mata yang membasahi kain hijau itu sampai tembus, dia tersenyum. Karena Ina yang minta.
Ina tersenyum balik. Menutup mata.
Jam tiga lewat empat belas pagi, mesin di sebelah ranjang berbunyi panjang.
Dendy sedang tertidur di kursi plastik di lorong. Basko yang membangunkannya.
Dendy membuka mata.
Keramik putih. Bunga melati dan mawar yang mulai layu karena matahari. Nisan abu-abu dengan tulisan emas.
Wajahnya basah. Dia tidak tahu sejak kapan.
Dia tidak mengelapnya.
“Jadi aku senyum,” katanya. Suaranya rusak, serak, pelan sekali. “Tujuh tahun, In. Aku senyum ke semua orang. Ke setiap pelanggan. Ke Pak Min tukang parkir. Ke anak-anak yang dulu mungkin bakal nangis. Karena kamu yang minta. Itu... itu janji terakhir yang aku bisa tepati.”
Srek. Srek. Sapu lidi di kejauhan.
“Terus ada perempuan.” Dendy menatap tangannya sendiri. Tangan yang semalam ada di tengkuk seseorang, di rambut basah, ikal, yang lebih lembut dari yang ia bayangkan. “Namanya Sabine. Dia arsitek. Dia bawel. Dia debat soal cat kayak orang debat soal politik. Dia nulis cat padahal maksudnya chat.” Dia tertawa kecil, basah. “Kamu pasti suka dia, In. Kamu pasti langsung kasih dia setengah roti selai stroberi.”
Angin lewat lagi. Kelopak kamboja jatuh di bahunya. Dia tidak menyingkirkannya.
“Aku ketawa sama dia,” bisiknya. “Yang kayak dulu. Yang kayak waktu kamu jatuh di atas dus keramik. Hari pertama dia datang ke toko, aku ketawa sampai Bu Tuti berhenti ngitung.”
Dia menarik napas. Dalam. Gemetar.
“Dan semalam aku cium dia.”
Kata-kata itu melayang di udara pemakaman yang lembap. Dia menunggu sesuatu. Petir. Hukuman. Suara dari balik nisan. Tidak ada apa-apa. Hanya burung prenjak yang kembali ke dahan kamboja dan berkicau pendek.
“Aku nggak sengaja. Nggak, itu bohong. Aku sengaja. Aku udah pengen dari hari dia bilang Putih Tulang sama Putih Gading itu kayak mantan ganti nomor.” Dendy menekan telapak tangan ke matanya. “Dan pas aku cium dia, In... rasanya kayak aku hidup lagi. Kayak ada lampu yang nyala di ruangan yang udah tujuh tahun gelap. Kayak aku bisa napas.”
Dia menurunkan tangannya. Menatap nisan dengan mata merah.
“Dan itu yang bikin aku takut.”
Nah. Itu dia. Kalimat yang dia tidak bisa ucapkan di warkop Mbak Sri. Jawaban untuk pertanyaan Rizal, yang tisunya masih terlipat di meja makan.
“Bukan karena aku ngerasa ngekhianatin kamu,” katanya pelan. “Maksudku... iya. Itu juga. Aku ngerasa kayak orang jahat, cium perempuan lain seminggu setelah hari kamu. Aku ngerasa kayak ninggalin kamu sendirian di sini.”
Dia menggeleng.
“Tapi bukan itu yang bikin aku mundur semalam. Bukan itu yang bikin aku bilang harusnya nggak ke dia, terus diem kayak orang bego selama empat puluh menit di depan rumahnya.”
Suaranya turun jadi bisikan. Seperti orang yang mengaku dosa di tempat yang tidak ada orang lain bisa mendengar.
“Pas aku cium dia, In, aku ngerasain tangannya di kerah bajuku. Ngerasain jantungnya. Hangat. Hidup. Dan tiba-tiba yang aku lihat itu lorong rumah sakit. Jam tiga pagi. Kursi plastik. Bunyi mesin.” Dia menelan. Keras. “Kalau aku biarin diriku sayang sama orang lagi, sayang kayak aku sayang kamu... aku bisa kehilangan lagi. Dan aku nggak bisa. Aku nggak bisa lewat itu dua kali. Aku nggak akan selamat.”
Dia menatap keramik putih. Bunga-bunga yang layu. Nama berwarna emas.
“Jadi aku senyum ke semua orang. Supaya aman. Supaya nggak ada yang terlalu dekat. Kalau semua orang sama, nggak ada yang spesial. Kalau nggak ada yang spesial, nggak ada yang bisa hilang.”
Srek. Srek. Srek.
“Aku pengecut, ya, In?”
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada.
Tapi dia bisa membayangkannya. Wajah bulat dengan gigi yang tidak rata, pipi yang memerah karena marah, tangan bertolak pinggang di atas celemek toko hijau. Kamu itu bukan pengecut, Den. Kamu itu lemari. Lemari itu takut dipindah. Tapi lemari yang nggak pernah dipindah, lama-lama dimakan rayap.
Dendy tertawa. Tawa yang pecah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan, sesuatu yang lebih dekat ke isak.
Dia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh keramik yang basah.
Lalu, setelah waktu yang sangat lama, dia berdiri. Lututnya kaku karena duduk bersila terlalu lama di paving yang dingin. Dia mengibaskan celana. Menyingkirkan kelopak kamboja dari bahunya.
Dia menatap nisan itu sekali lagi.
“Aku pulang dulu,” katanya. “Nanti aku datang lagi.”
Dia berjalan pergi. Tujuh ke luar. Belok kanan di makam berpagar emas. Lurus melewati keramik biru. Belok kiri di pohon kamboja paling besar.
Dia tidak menoleh. Dia tidak pernah menoleh. Kalau dia menoleh, dia tidak akan bisa pergi.
Dia tidak langsung ke toko. Dia mengemudi ke rumah orang tuanya, tanpa benar-benar memutuskan untuk ke sana. Tangannya membelokkan setir sendiri, seperti kuda tua yang tahu jalan pulang.
Pagar besi yang ia cat dua tahun lalu. Pohon mangga yang terlalu besar untuk halamannya. Motor bebek tua Papa di garasi, berdebu, sudah berbulan-bulan tidak dinyalakan karena tangannya tidak lagi kuat memegang setang.
Pintu depan tidak dikunci. Tidak pernah dikunci siang hari.
Mama di dapur. Dia bisa mendengarnya sebelum melihatnya. Bunyi ulekan batu di cobek, berirama, tok-tok-tok. Bau bawang merah, cabai, terasi yang dibakar.
Maria Hermawan, enam puluh tahun, berdiri di depan kompor dengan daster batik cokelat dan rambut kelabu yang digelung asal di belakang kepala. Kacamata bacanya tergantung di leher dengan tali. Dia mengulek sambal dengan gerakan yang sudah ia lakukan puluhan ribu kali. Tangannya yang keriput kuat dan pasti.
Dia mendengar langkah Dendy dan menoleh.
Dia menatap wajah anaknya. Mata yang merah. Pipi yang masih sedikit lembap di bawah mata, bekas air mata yang sudah kering tapi meninggalkan garis tipis. Celana yang kotor di lutut karena duduk di atas paving basah. Satu kelopak kamboja putih yang masih tersangkut di rambutnya, di atas telinga kiri, yang tidak ia sadari.
Mama tidak bertanya apa-apa.
Dia meletakkan ulekan. Mengelap tangan di celemek. Berjalan ke Dendy. Mengulurkan tangan dan mengambil kelopak kamboja dari rambutnya dengan dua jari, pelan, seperti mengambil sehelai benang dari baju.
Dia menatap kelopak itu sebentar. Lalu menatap Dendy.
Lalu dia berbalik ke kompor, menyalakan api di bawah ceret, dan mengambil gelas dari rak.
“Duduk,” katanya. “Mama bikinin teh.”
Dendy duduk di kursi meja makan. Kursi kayu yang sama sejak dia kecil, dengan sandaran yang ada bekas goresan pisau lipat dari waktu dia umur sembilan tahun dan ingin tahu seberapa tajam pisau itu.
Mama membuat teh. Membawakannya. Meletakkannya di depan Dendy. Lalu dia tidak kembali ke kompor. Dia berdiri di sebelah kursi Dendy dan meletakkan tangannya di atas kepala anaknya. Di rambutnya. Seperti yang dulu ia lakukan waktu Dendy kecil dan demam dan tidak bisa tidur.
Tangan itu hangat. Sedikit bau bawang merah dan terasi.
Dia tidak bertanya. Mama tidak pernah bertanya. Tujuh tahun, dia tidak pernah sekali pun bertanya kamu nggak apa-apa? atau kamu udah ikhlas? atau kapan kamu mau cari lagi? Dia hanya membuatkan teh. Mengambil kelopak kamboja dari rambutnya. Meletakkan tangan di kepalanya.
Itu yang paling Dendy syukuri dari ibunya.
Dan itu juga yang paling berat. Karena kadang, dia ingin seseorang bertanya. Supaya dia bisa menjawab.
Dia memegang gelas teh itu dengan dua tangan. Panas. Manis. Gula pasir, bukan gula aren.
Di bawah telapak tangan Mama, dia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak memikirkan lorong rumah sakit.
Dia memikirkan mobil yang berembun. Rambut ikal yang basah di antara jari-jarinya. Tangan kecil dengan noda tinta biru, mencengkeram kerah bajunya seperti orang yang takut tenggelam.
Dan wajah itu, saat dia bilang harusnya nggak. Wajah yang tidak marah. Tidak menangis. Hanya... tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering mendengar kata-kata itu dari orang lain, dan sudah belajar untuk tidak kaget lagi.
Oke, katanya. Lalu dia keluar, dan tidak menoleh.
Dendy mencengkeram gelas teh lebih erat.
Di atas kepalanya, tangan Mama tidak bergerak.














Kak Icha, tisunya di sebelah mana?