Grup WhatsApp keluarga Sulakso bernama Keluarga Sulakso 💕, dan emoji hati merah muda itu dipasang Mama tiga tahun lalu setelah melihat grup arisan Tante Nung punya emoji bunga.
Anggotanya sembilan orang. Mama. Papa. Salina. Alan. Sabine. Tante Nung. Om Heru, suami Tante Nung. Eyang Putri di Klaten, yang tidak pernah membaca apa pun tapi selalu mengirim gambar bunga mawar bertuliskan Selamat Pagi setiap hari jam lima subuh. Dan satu nomor yang tidak ada yang tahu milik siapa, tapi tidak ada yang berani mengeluarkannya karena takut itu nomor saudara jauh yang tersinggung.
Sabtu siang, jam satu lewat dua puluh, grup itu mulai berbunyi.
Sabine sedang di kamar. Duduk di meja gambar dengan laptop terbuka, mencoba menyelesaikan detail railing tangga untuk lantai dua kafe-galeri, dan gagal. Sudah tiga hari dia gagal. Setiap kali dia menggambar garis lengkung untuk pegangan tangga, tangannya teringat bentuk kerah kemeja, dan dia harus menghapus garis itu dan menggambar ulang.
Tiga hari sejak mobil berembun.
Tiga hari Baik, Mas. Terima kasih 🙏 di grup proyek. Tiga hari Dendy menandai namanya dengan warna biru untuk urusan pengiriman, jadwal, konfirmasi. Tiga hari chat pribadi yang diam. Tiga hari dia tidak menceritakannya pada siapa pun, bahkan pada Ghea, karena dia tidak tahu bagaimana cara menceritakannya tanpa suaranya pecah.
Ponselnya bergetar. Sekali. Lalu lagi. Lalu lagi.
Dia membukanya.
Mama: [foto]
Mama: Alhamdulillah rumah baru Salina 🏡✨
Foto pertama. Fasad rumah dua lantai di kompleks cluster. Gaya minimalis modern yang sedang populer. Dinding abu-abu muda, aksen batu alam di sisi kiri, jendela-jendela besar berbingkai hitam, pagar geser otomatis dari besi hollow. Langit biru terang di belakangnya, awan putih seperti kapas, seolah langit pun diatur untuk foto ini.
Sabine menatapnya dengan mata arsitek. Otomatis. Tidak bisa dicegah. Batu alamnya tempelan. Bukan struktural. Tiga tahun lagi mulai lumutan. Tritisannya kependekan, jendela barat bakal kena hujan tampias.
Dia menutup mulut dan tidak mengatakannya pada siapa pun.
Mama: [foto]
Mama: Ruang tamunya luas ya 😍
Foto kedua. Ruang tamu dengan sofa krem berbentuk L, karpet bulu, lampu gantung kristal yang terlalu besar untuk plafon setinggi itu.
Mama: [foto]
Mama: Dapurnya pakai island marmer. Kata Salina kayak di Pinterest
Foto ketiga. Dapur putih mengilap. Island marmer dengan tiga kursi bar tinggi. Kompor tanam. Sabine menghitung jarak island ke kabinet belakang dalam kepala. Delapan puluh senti, paling banyak. Kalau dua orang masak bersamaan, mereka akan bertabrakan pantat.
Tante Nung: Masya Allah bagus sekali Jeng 😍😍😍
Mama: [foto]
Mama: Kamar Jemima. Lucu kan temanya princess 👑
Mama: [foto]
Mama: Kamar mandi utama ada bathtub nya 🛁
Mama: [foto]
Mama: Walk in closet!!! Salina kan bajunya banyak 😂
Om Heru: 👍
Mama: [foto]
Mama: Taman belakang
Mama: [foto]
Mama: Kolam ikan koi 🐟🐟
Sabine menatap foto kolam koi. Kolam persegi panjang dengan ikan-ikan oranye dan putih, letaknya tepat di bawah jendela kamar tidur utama. Nyamuk, pikirnya. Kolam di bawah jendela kamar. Mereka bakal digigitin nyamuk tiap malam.
Mama: [foto]
Mama: Tangganya pakai kayu jati asli lho
Foto kesepuluh. Tangga melayang. Anak-anak tangga kayu jati yang menempel di dinding tanpa penyangga di bawahnya, tanpa railing di sisi yang terbuka. Terlihat seperti di majalah. Terlihat sangat mahal.
Terlihat sangat tidak aman untuk anak empat tahun yang suka berlari dengan gaun putri dan topi kerucut kertas.
Sabine menggenggam ponselnya sedikit lebih keras.
Mama: [foto]
Mama: Carport muat 2 mobil
Mama: [foto]
Mama: Ini pemandangan dari balkon lantai 2. Sore2 bagus buat ngeteh ☕
Dua belas foto. Dikirim satu per satu. Masing-masing dengan keterangan berbeda, seperti kurator museum yang memandu tamu dari satu lukisan ke lukisan lain.
Tante Nung: Wah Salina hebat ya. Umur 30 sudah punya rumah sendiri. Didikan Jeng Yuni memang top 👍👍
Mama: Alhamdulillah Jeng. Doakan yang lain nyusul 🤲
Yang lain. Hanya ada satu yang lain di keluarga ini.
Alan: Terima kasih doanya, Ma, Tante. Mohon doa restunya untuk kami sekeluarga 🙏
Alan bahkan mengetik pesan WhatsApp seperti sedang menulis surat dinas.
Eyang Putri: [gambar bunga mawar merah dengan tulisan Selamat Siang Semoga Diberkahi]
Salina: Ma udah ya fotonya 🙏 nanti kalau udah beres baru dipamerin
Mama: Kenapa? Orang bangga kok nggak boleh
Lalu, setelah jeda satu menit, satu pesan dari anggota grup yang paling jarang bicara.
Papa: [stiker]
Stiker animasi. Ketupat hijau dengan pita emas yang berputar-putar di tengah layar, dikelilingi bintang-bintang berkilauan, dengan tulisan besar di bawahnya dalam huruf sambung warna emas.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Sekarang bulan Oktober.
Grup hening.
Sabine menatap ketupat yang berputar-putar itu. Menatap bintang-bintang yang berkilauan. Menatap tulisan mohon maaf lahir dan batin yang melayang di bawah foto kolam koi dan tangga melayang dan balkon untuk ngeteh sore-sore.
Lalu dia tertawa.
Tawa yang keluar begitu tiba-tiba sampai dia tersedak ludahnya sendiri. Dia menutup mulut dengan tangan, tapi terlambat, dan tawa itu terus keluar, tertahan dan terputus-putus, sampai bahunya berguncang dan matanya berair dan dia harus membungkuk di atas meja gambar dengan dahi menempel di kertas kalkir.
Mama: Pa?
Mama: Papa salah kirim ya
Papa: Iya salah pencet. Maaf
Papa: Tapi mohon maaf lahir batin tetap berlaku
Tante Nung: 😂😂😂
Salina: 😂
Sabine tertawa sampai perutnya sakit. Sampai dia lupa soal railing tangga dan kerah kemeja dan mobil berembun. Untuk tiga puluh detik penuh, dia hanya anak perempuan yang papanya salah kirim stiker Lebaran di bulan Oktober, dan dunia terasa sedikit lebih ringan.
Lalu ponselnya bergetar lagi.
Bukan grup. Chat pribadi.
Mama: Bin
Mama: Kamu lihat rumah kakakmu?
Tawa itu berhenti. Seperti keran yang ditutup.
Sabine: Lihat, Ma. Bagus.
Mama: Kakakmu umur 30 sudah punya rumah sendiri. Sudah punya anak. Sudah jadi manager.
Mama: Kamu 27 masih tinggal di rumah Mama
Mama: Arsitek kok belum punya rumah sendiri
Mama: Kapan kamu nyusul?
Empat pesan. Masuk berturut-turut, cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan kata-kata itu sejak lama dan hanya menunggu momen yang tepat.
Mama: Yudha kemarin nanyain kamu lho. Katanya kamu lucu
Mama: Mama nggak minta banyak Bin. Mama cuma mau lihat kamu mapan kayak kakakmu
Sabine menatap layar.
Arsitek kok belum punya rumah sendiri.
Dia bisa menjawab. Dia bisa menjelaskan bahwa gaji junior architect di kota ini tidak cukup untuk membeli rumah di cluster dengan carport untuk dua mobil. Bahwa Salina menikah dengan manajer BUMN dan mereka mencicil rumah itu berdua selama lima belas tahun. Bahwa Sabine sudah menabung sejak lulus kuliah dan tabungannya cukup untuk uang muka rumah kecil di pinggir kota, tapi dia masih menunggu, karena dia ingin rumah pertamanya adalah rumah yang ia gambar sendiri. Bukan rumah dari brosur developer dengan batu alam tempelan dan tangga tanpa railing.
Dia bisa menjelaskan semua itu.
Tapi dia sudah mencoba menjelaskan hal-hal seperti itu pada Mama selama lima belas tahun. Dan dia tahu jawabannya akan selalu sama.
Iya, iya, bagus. Terus kapan?
Dia mengetik.
Sabine: Iya, Ma.
Kirim.
Dua kata. Tanpa emoji.
Dia menatap dua kata itu dan tiba-tiba menyadari bahwa itu kalimat yang sama. Bentuk yang sama. Pintu yang sama. Baik, Mas. Iya, Ma. Dua kata sopan yang ia kirim setiap kali dia terlalu lelah untuk menjelaskan, terlalu takut untuk berdebat, terlalu terbiasa jadi orang yang mengalah.
Dia meletakkan ponsel di meja gambar dengan layar ke bawah.
Lalu dia duduk di sana, di kursi yang berderit, dengan kertas kalkir di depannya dan railing tangga yang tidak pernah selesai, dan untuk pertama kalinya, dia melihat bentuknya dengan jelas.
Seperti denah yang akhirnya dilihat dari atas.
Di rumah ini, dia adalah adik dari Salina. Selalu. Dari TK, saat Salina menang lomba mewarnai dan Sabine menggambar rumah di luar garis. Dari SD, saat Salina juara kelas dan Sabine ranking tujuh. Dari SMA, saat Salina masuk jurusan akuntansi di universitas negeri dan Sabine memilih arsitektur di swasta, dan Mama bilang arsitektur itu buat apa, nanti kerjanya susah. Setiap Minggu malam. Setiap rendang. Setiap acara keluarga. Setiap grup WhatsApp. Selalu ada seseorang di sebelahnya yang lebih rapi, lebih sukses, lebih dicintai, dan Sabine selalu jadi yang belum. Belum menikah. Belum punya rumah. Belum jadi manager. Belum nyusul.
Dan sekarang, di luar rumah ini, di satu-satunya tempat di mana dia pikir dia bisa jadi dirinya sendiri, di mana tidak ada yang tahu soal Salina, di mana seorang pria menatapnya di bawah lampu neon gudang dan tertawa karena lelucon soal Putih Tulang...
Ada perempuan lain.
Perempuan berkebaya putih dengan tawa yang membuat ruangan jadi terang. Perempuan yang mengajari tembok tersenyum. Perempuan yang, meskipun sudah tujuh tahun pergi, masih cukup kuat untuk membuat seorang pria mundur dari ciuman di tengah hujan dan bilang harusnya nggak.
Di rumah, Salina. Di hati Dendy, Ina.
Di mana-mana, Sabine adalah yang kedua.
Kursi plastik penyok di pojok bingkai.
Dia menatap kertas kalkir di depannya. Tangannya mengambil pensil. Mulai menggambar. Bukan railing. Sesuatu yang lain. Garis-garis sederhana, tanpa berpikir. Sebuah kotak. Atap segitiga. Dua jendela. Satu pintu.
Rumah kotak seperti gambar Jemima. Rumah yang digambar anak kecil.
Dia menatapnya. Lalu meremas kertas itu dalam satu kepalan dan melemparnya ke keranjang sampah.
Meleset. Jatuh di lantai.
Dia tidak memungutnya.
Jam empat sore, Mama pergi ke rumah Salina untuk membantu menata dapur. Sabine mendengar mobil keluar dari garasi dan pagar ditutup. Rumah jadi sunyi, kecuali suara radio samar-samar dari arah belakang. Siaran RRI. Berita sore.
Papa di garasi.
Sabine turun. Dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena kamarnya terasa terlalu kecil dan terlalu penuh dengan kertas kalkir yang gagal. Mungkin karena dia butuh seseorang yang tidak akan bertanya kapan kamu nyusul.
Garasi itu penuh debu dan sinar matahari sore yang masuk miring lewat celah pintu lipat. Mobil sedan tua keluarga tidak ada, dibawa Mama. Yang tersisa hanya motor bebek Papa, rak besi berisi kaleng-kaleng cat sisa dan perkakas, dan tumpukan kardus yang sudah menguning di sepanjang dinding belakang. Kardus-kardus yang sudah ada di sana sejak Sabine SD, yang tidak pernah dibuka, yang Mama sebut sampah Papa dan Papa sebut arsip.
Papa sedang duduk di bangku kayu kecil di tengah garasi, di antara kardus-kardus yang sudah dibuka. Kaus oblong putih yang kerahnya melar. Sarung kotak-kotak. Kacamata berdebu melorot di hidung. Radio kecil di atas rak, antenanya dililit selotip hitam.
“Mama suruh beresin,” katanya tanpa menoleh. “Katanya garasi mau dipakai buat nyimpen sofa lama Salina. Sofa lama Salina lebih penting dari arsip Papa.”
“Sofanya bagus, Pa?”
“Sofanya jelek. Warnanya kayak bubur kacang ijo.” Papa mengangkat satu tumpuk kertas dari kardus, meniupnya. Debu beterbangan di cahaya matahari seperti serbuk emas. “Tapi Mama bilang sayang dibuang. Mahal.”
Sabine duduk di lantai garasi, di sebelah bangku Papa, bersandar di rak besi. Lantai semen yang dingin menembus celana pendeknya.
Mereka diam sebentar. Radio membacakan berita soal harga cabai.
“Papa salah kirim stiker,” kata Sabine.
“Papa tahu.”
“Stiker Lebaran, Pa. Bulan Oktober.”
“Papa tahu, Bin.” Papa tersenyum sedikit, di balik kumis kelabunya yang tipis. “Papa sengaja.”
Sabine menoleh cepat. “Sengaja?”
“Mama kirim dua belas foto. Dua belas.” Papa mengangkat dua belas jari, lalu menurunkannya karena jarinya cuma sepuluh. “Papa lihat kamu belum bales apa-apa. Papa pikir, kalau Papa kirim sesuatu yang aneh, orang-orang berhenti lihat foto rumah, terus lihat stiker Papa.”
Sabine menatapnya. Pria tua berkaus oblong melar dengan debu di kacamata.
“Papa,” katanya pelan.
“Jangan bilang Mama.”
Sabine tertawa. Kecil. Lalu matanya mulai terasa panas, dan dia menunduk ke lantai.
Papa tidak berkomentar. Dia kembali ke kardusnya. Mengeluarkan satu per satu. Surat-surat lama dari kantor. Buku tabungan dari bank yang sudah tutup. Kalender bekas dari tahun sembilan puluhan dengan gambar pemandangan Danau Toba. Sertifikat pelatihan komputer tahun dua ribu dua.
Lalu dia berhenti. Mengeluarkan sesuatu yang lain dari dasar kardus.
Kotak sepatu.
Kotak sepatu bekas, kardus cokelat yang sudutnya penyok dan tutupnya diikat dengan karet gelang yang sudah getas. Di atas tutupnya, ada tulisan dengan spidol hitam yang sudah pudar, huruf-huruf kapital yang ditulis dengan tangan yang rapi dan hati-hati. Tulisan tangan Papa.
SABINE
Papa memegang kotak itu di pangkuannya sebentar. Lalu menyerahkannya ke Sabine tanpa bicara.
Sabine menerimanya. Kotak itu ringan. Karet gelangnya putus saat dia menariknya.
Dia membuka tutupnya.
Kertas. Puluhan lembar kertas. Tumpuk-menumpuk, berbagai ukuran. Kertas gambar TK yang tebal dengan pinggiran bergerigi. Kertas HVS yang dilipat-lipat. Halaman yang disobek dari buku tulis bergaris. Karton manila yang sudah menguning.
Semuanya gambar rumah.
Dia mengangkat yang paling atas. Krayon di atas kertas gambar. Rumah kotak dengan atap segitiga merah. Dua jendela kuning. Satu pintu cokelat. Matahari di pojok dengan sinar-sinar yang terlalu panjang. Di bawahnya, huruf-huruf besar yang miring dan sebagian terbalik.
RUMAH SABINE.
Huruf S-nya menghadap ke arah yang salah.
Sabine membeku.
Dia mengenal gambar ini. Dia pernah melihatnya. Minggu lalu. Di pesta ulang tahun Jemima, dengan noda krim cokelat di sudutnya. Gambar yang sekarang terlipat di laci meja kamarnya.
Hanya saja yang ini digambar dua puluh tiga tahun yang lalu. Oleh dirinya sendiri. Umur empat tahun.
“Kamu gambar itu pas TK nol kecil,” kata Papa pelan. “Ibu gurumu bilang disuruh gambar keluarga. Semua anak gambar Papa Mama sama adik kakaknya. Kamu gambar rumah.”
Sabine mengangkat gambar berikutnya. Pensil warna. Rumah dua lantai dengan tangga di luar, berbentuk spiral, seperti tangga di menara. RUMAH SABINE DAN KUCING. Tidak ada kucing di gambar itu, hanya satu jendela kecil di lantai dua yang ditandai dengan panah dan tulisan kamar kucing.
Berikutnya. Spidol. Denah. Denah rumah, dilihat dari atas, dengan kotak-kotak ruangan yang diberi label. Kamar tidur. Dapur. Kamar mandi. Ruang gambar. Ruang gambar 2. Perpustakaan. Tidak ada ruang tamu. Umur delapan tahun, mungkin sembilan.
Berikutnya. Rumah di atas pohon. Rumah di atas air, dengan tiang-tiang panjang. Rumah dengan atap dari kaca supaya bisa lihat bintang dari tempat tidur. Rumah dengan garasi yang sangat besar, lebih besar dari rumahnya sendiri, dan di dalamnya satu motor bebek kecil yang digambar dengan detail berlebihan, lengkap dengan spion dan knalpot.
Tulisan di bawahnya, dengan tulisan tangan anak SD yang mulai rapi: RUMAH UNTUK PAPA. Garasinya gede biar motornya nggak kepanasan.
Sabine berhenti bernapas.
Dia menatap gambar itu lama. Motor bebek kecil dengan spion. Garasi yang terlalu besar.
Lalu, di bagian paling bawah kotak, satu lembar kertas kalkir yang sudah kusut dan menguning. Gambar teknik pertama. Tampak depan sebuah rumah, digambar dengan pensil dan penggaris, garis-garisnya masih goyah tapi sudah berusaha lurus. Di pojok kanan bawah, di dalam kotak kecil yang meniru kop gambar kerja, dengan huruf-huruf yang ditulis sangat hati-hati:
Proyek: Rumah Impian
Arsitek: Sabine Sulakso
Kelas 2 SMP
Tetes pertama jatuh di atas kertas kalkir itu. Tepat di tulisan Arsitek. Tinta pensil tidak luntur, tapi kertasnya menggelap di tempat tetes itu jatuh, jadi bulatan kecil yang basah.
Sabine tidak sadar dia menangis sampai tetes kedua jatuh.
“Mama mau buang ini semua waktu kamu masuk SMA,” kata Papa. Suaranya pelan sekali. Hampir tertutup suara radio. “Katanya kamu udah gede, ngapain nyimpen gambar-gambar anak kecil. Papa bilang nanti dulu. Terus Papa masukin ke kardus. Terus Papa taruh di paling bawah.”
Dia berhenti. Menggosok kacamatanya dengan ujung kaus oblong, yang hanya membuat debunya menyebar lebih rata.
“Salina dari kecil gambarnya orang, Bin. Keluarga. Guru. Teman-temannya. Kamu dari kecil gambarnya rumah. Terus. Nggak pernah berhenti.” Dia memakai kacamatanya kembali. “Papa selalu tahu kamu mau jadi apa. Dari umur empat tahun, Papa udah tahu.”
Sabine menutup wajahnya dengan dua tangan. Kertas kalkir itu masih di pangkuannya.
Dia menangis. Benar-benar menangis. Bukan yang tertahan, bukan yang disembunyikan di bawah bantal atau di bawah shower yang terlalu panas. Tangisan yang keluar dari tempat yang sudah lama sekali tidak ia buka, dari dada, dari perut, dari sesuatu yang lebih tua dari dirinya sendiri. Bahunya berguncang. Napasnya tersendat-sendat. Suara yang keluar dari mulutnya adalah suara yang tidak ia kenali, kecil dan patah, seperti suara anak umur empat tahun yang menggambar rumah padahal disuruh menggambar keluarga.
Dia menangis untuk semua Minggu malam. Untuk semua kakakmu umur segitu sudah. Untuk arsitek kok belum punya rumah sendiri. Untuk kursi plastik penyok di pojok bingkai. Untuk mobil berembun dan harusnya nggak. Untuk perempuan berkebaya putih yang tertawa dengan dua gelas kopi, yang tidak pernah Sabine temui dan tidak akan pernah bisa ia lawan.
Untuk dirinya sendiri. Yang selalu jadi yang kedua.
Papa tidak berkata apa-apa.
Dia turun dari bangku kayunya, pelan, dengan lutut yang berbunyi krek karena usia, dan duduk di lantai semen di sebelah Sabine. Bersandar di rak besi yang sama. Bahu tuanya yang kurus menempel di bahu anaknya.
Sabine menyandarkan kepala di bahu itu.
Kaus oblong yang bau sabun cuci dan debu garasi dan sedikit minyak angin. Bahu yang lebih kecil dari yang ia ingat. Tulang-tulang yang lebih terasa di bawah kulit.
Papa meletakkan satu tangan di atas kepala Sabine. Mengusap rambut ikalnya yang berantakan. Pelan. Berulang-ulang. Seperti dulu, waktu Sabine kecil dan takut petir.
Radio masih menyala. Berita sore sudah selesai. Sekarang lagu keroncong lama, suara penyanyi perempuan yang bergetar di nada tinggi.
“Nggak semua rumah harus dibeli, Bin,” kata Papa akhirnya. Pelan. Ke arah pintu garasi yang terbuka, ke arah cahaya sore yang mulai oranye. “Ada rumah yang harus digambar dulu.”
Sabine menangis lebih keras.
Papa terus mengusap rambutnya.
Lama sekali. Sampai lagu keroncong itu selesai dan berganti lagu lain. Sampai cahaya matahari yang masuk lewat celah pintu bergeser dari lantai ke dinding. Sampai tangisan Sabine surut jadi isakan, lalu jadi napas panjang yang gemetar, lalu jadi diam.
Mereka duduk di sana, di lantai garasi yang dingin, di antara kardus-kardus arsip dan kaleng cat sisa dan motor bebek tua yang berdebu. Kotak sepatu terbuka di pangkuan Sabine. Puluhan rumah yang digambar seorang anak yang tidak pernah berhenti menggambar rumah.
“Pa,” kata Sabine akhirnya. Suaranya serak. Hidungnya tersumbat.
“Hm.”
“Garasinya masih mau Papa?”
Papa menatap gambar di atas tumpukan. Rumah dengan garasi yang terlalu besar. Motor bebek kecil dengan spion dan knalpot yang digambar berlebihan.
“Masih,” katanya. “Tapi motornya sekarang udah nggak kuat nanjak. Garasinya nggak usah gede-gede.”
Sabine tertawa. Basah. Serak. Dengan ingus dan air mata.
Papa menepuk kepalanya dua kali. Lalu, seperti menyadari sesuatu, dia menoleh sedikit dan menatap Sabine dari balik kacamata yang berdebu. Tatapannya tidak berubah. Tetap tenang. Tetap lembut. Tapi ada pertanyaan di dalamnya.
“Kamu nangis bukan karena Mama aja, ya?”
Sabine tidak menjawab.
Dia hanya menyandarkan kepalanya lebih dalam di bahu Papa, dan memejamkan mata, dan membiarkan kotak sepatu itu tetap terbuka di pangkuannya.
Papa tidak bertanya lagi.














Kak, caramu menghidupkan karakter orang tua yang hapal dan memahami luar dalam anaknya tanpa perlu banyak babibu tuh hangat betul. Hangat yang bikin mata basah. Kemarin mamanya Dendy, sekarang papanya Sabine. Aduh ternyata wanti-wanti suruh nyiapin tisunya karena ini toh :)