File itu masuk hari Senin jam tujuh pagi, saat Sabine masih di atas ojek.
Mama: [dokumen] Profil_Farhan_Aditama.pdf
Mama: Bin ini kolega Alan. Anaknya baik. Dibaca ya
Mama: Sabtu malam dia bisa makan malam. Mama sudah bilang kamu bisa
Sabine membukanya di lampu merah, helm hijau ojek menekan kacamatanya ke hidung.
PDF. Tiga halaman. Ada kop di bagian atas, garis biru tipis dengan logo BUMN yang dipotong dari situs resmi, seolah ini dokumen tender. Di halaman pertama, foto seorang pria dalam kemeja putih dan dasi biru tua, berdiri di depan latar belakang abu-abu seperti foto KTP yang diperbesar. Rambut disisir klimis ke samping. Senyum yang sopan dan sedikit kaku. Wajah yang tidak jelek. Wajah yang tidak apa-apa.
Di bawah foto, tabel.
Nama: Farhan Aditama, S.T., M.M.
Usia: 31 tahun
Pekerjaan: Assistant Manager Divisi Pengadaan
Pendidikan: S1 Teknik Industri, S2 Manajemen
Tinggi Badan: 175 cm
Hobi: Golf, membaca buku bisnis, jogging pagi
Status: Belum menikah
Keterangan: Sudah punya rumah sendiri (KPR, sisa 8 tahun)
Sabine menatap baris terakhir itu sampai lampu hijau dan ojeknya menyentak maju.
Sudah punya rumah sendiri.
Mama bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya.
“Tujuh setengah,” kata Ghea.
Mereka berdiri di pantry studio, jam delapan lewat sepuluh, di depan dispenser air yang berdengung. Ghea memegang ponsel Sabine dan menggulir PDF itu dengan satu jari, alis terangkat, mulut mengerucut seperti juri kontes memasak yang baru mencicipi sayur asem terlalu asin.
“Tujuh setengah dari berapa?”
“Dari sepuluh. Mukanya oke. Kerjaan stabil. Tinggi badan dicantumin, itu nilai plus buat kejujuran.” Ghea menggulir lagi. “Tapi aku potong setengah poin buat hobi golf.”
“Kenapa golf?”
“Karena cowok umur tiga puluh satu yang hobinya golf itu cowok yang bakal ngajak kamu ke driving range di kencan kedua terus ngejelasin cara ayun stik selama dua jam.” Ghea menyerahkan ponsel kembali. “Dan potong satu poin lagi buat membaca buku bisnis. Itu bukan hobi, Bin. Itu gejala.”
Tio muncul di pintu pantry dengan gelas kopi saset. “Siapa yang baca buku bisnis?”
“Calon suami pilihan Tante Yuni.”
“Oh.” Tio mengambil ponsel dari tangan Sabine tanpa izin, menatap foto Farhan lama. “Mukanya kayak orang yang namanya Farhan.”
“Namanya memang Farhan.”
“Nah. Konsisten. Aku kasih delapan.”
Sabine merebut ponselnya kembali. Mengunci layar. Memasukkannya ke saku.
“Nggak ada yang ngasih nilai,” katanya. “Aku nggak bakal pergi.”
Ghea dan Tio saling pandang.
“Kamu udah bales Mama kamu?” tanya Ghea pelan.
Sabine tidak menjawab.
Karena jawabannya iya. Tadi pagi, di atas ojek, di lampu merah berikutnya, dia mengetik dua kata. Iya, Ma. Sama seperti Sabtu lalu. Sama seperti ratusan kali sebelumnya.
Dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena di suatu tempat, di bagian dirinya yang masih terduduk di lantai garasi dengan kotak sepatu di pangkuan, dia berpikir: kenapa tidak. Farhan Aditama tidak akan mundur dari ciuman dan bilang harusnya nggak. Farhan Aditama punya profil PDF dengan tabel yang rapi. Farhan Aditama sudah punya rumah.
Farhan Aditama tidak punya hantu.
Jam sembilan pagi, dia di site. Jam sembilan lewat lima belas, dia sadar ada yang salah.
Kayu jati untuk tangga dan railing lantai dua seharusnya datang jam delapan. Delapan belas batang, ukuran khusus, dipesan tiga minggu lalu dari Hermawan Jaya. Tukang kayu spesialis yang dikontrak Basko khusus untuk tangga sudah menunggu sejak jam tujuh. Tiga orang, dibayar harian, duduk di atas tumpukan pasir dengan gergaji dan pahat di pangkuan, merokok dan menatap jalan.
Jam sembilan tiga puluh. Tidak ada truk.
Sabine menelepon Dendy.
Nada sambung. Lima kali. Kotak suara.
Dia menelepon lagi. Kotak suara.
Dia mengirim pesan di grup. Mas Dendy, kayu jati untuk tangga belum sampai. Mohon info estimasi 🙏 Centang dua. Abu-abu. Tidak biru.
Grup. Dendy selalu membalas grup dalam satu menit. Selalu. Itu satu-satunya hal yang konsisten di tabel papan tulis mereka.
Jam sepuluh. Abu-abu.
Dia menelepon toko. Bu Tuti yang mengangkat. Suaranya terdengar tegang, terburu-buru, ada bunyi kalkulator dan orang-orang yang bicara di latar belakang.
“Aduh, Mbak Sabine. Maaf, maaf. Mas Dendy lagi keluar. Kayunya... kayunya nanti diusahakan ya, Mbak. Ujang lagi saya suruh cek di gudang.”
“Diusahakan jam berapa, Bu?”
“Diusahakan secepatnya, Mbak.”
Itu bukan jam.
Jam sebelas, Bu Wiwik dan suaminya datang.
Mereka jarang datang ke site. Pasangan pensiunan bank itu lebih suka menerima laporan mingguan lewat email, dengan foto-foto progres yang rapi. Tapi hari ini mereka datang dengan mobil sedan hitam yang mengilap, turun dengan kacamata hitam dan wajah yang tidak senang. Seseorang sudah memberi tahu mereka. Mungkin salah satu tukang yang mengeluh di grup WhatsApp keluarganya. Mungkin Pak Wiwik, suaminya, yang punya kebiasaan menelepon Basko untuk cek-cek saja.
“Mbak Sabine.” Pak Wiwik tidak membuka kacamata hitamnya. “Tukang tangga dibayar berapa sehari?”
Sabine menyebut angkanya.
“Kali tiga orang.” Pak Wiwik menghitung di ponselnya dengan jari telunjuk yang gemuk. “Kali setengah hari yang sudah hilang. Siapa yang tanggung?”
“Pak, saya sudah hubungi vendornya. Mereka sedang...”
“Sedang apa? Diusahakan?” Pak Wiwik akhirnya membuka kacamata hitamnya. Matanya kecil dan tajam, mata orang yang tiga puluh tahun duduk di belakang meja kredit. “Mbak yang rekomendasikan vendor ini. Mbak yang bilang merbau lebih hemat. Kami percaya. Terus sekarang kayu jati nggak datang, tukang nganggur, dan vendornya nggak bisa dihubungi?”
Di belakangnya, Bu Wiwik memegang lengan suaminya. Tapi tidak menariknya.
Pak Jarwo berdiri di pintu bedeng. Basko di dekat molen, dengan ponsel di telinga, wajahnya yang biasanya selalu tertawa sekarang tegang dan serius. Tiga tukang tangga duduk di atas tumpukan pasir, pura-pura tidak mendengar. Tio di sebelah Sabine, diam, bahunya menegang.
Semua orang melihat.
“Kami bayar Mbak untuk mengawasi,” kata Pak Wiwik. Suaranya tidak keras. Justru pelan. Dan pelannya itu jauh lebih buruk. “Kalau vendornya nggak bisa diandalkan, mungkin kami yang salah pilih konsultan.”
Sabine merasakan wajahnya membakar. Dari leher ke telinga ke dahi.
“Saya minta maaf, Pak,” katanya. Suaranya tetap tenang. Profesional. Senyum nomor tiga. “Saya akan pastikan kayunya datang hari ini. Biaya tukang yang menunggu akan saya diskusikan dengan vendor.”
Pak Wiwik menatapnya lama. Lalu memakai kacamata hitamnya lagi.
“Saya tunggu laporannya,” katanya. Dan dia pergi, dengan Bu Wiwik yang menoleh sekali ke arah Sabine dengan tatapan yang bukan marah, tapi kecewa. Yang lebih buruk.
Mobil sedan hitam itu meninggalkan debu di jalan.
Sabine berdiri di tempatnya. Tidak bergerak.
Tio menyentuh sikunya. “Bin...”
“Aku nggak apa-apa.”
Dia mengeluarkan ponsel. Membuka chat pribadi dengan Dendy. Di bawah Baik, Mas yang dikirim dua minggu lalu. Di bawah enam hari diam sejak mobil berembun.
Dia mengetik dengan jempol yang gemetar.
Sabine: Mas. Kayu jati belum datang. Klien marah. Tolong angkat telepon.
Kirim.
Abu-abu.
Dia menelepon lagi. Keempat kalinya. Kotak suara.
Truk engkel putih dengan tulisan HERMAWAN JAYA akhirnya datang jam tiga sore. Ujang yang menyetir, sendirian. Delapan belas batang kayu jati, lengkap, ukurannya tepat, kualitasnya bagus. Ujang menurunkannya dengan cepat, meminta maaf berkali-kali dengan kepala menunduk, dan saat Sabine bertanya kenapa terlambat, dia hanya menjawab, “Ada urusan mendadak, Mbak. Mas Dendy titip maaf.”
Tidak ada penjelasan. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan.
Hanya titip maaf, lewat orang lain.
Sabine menandatangani surat jalan dengan tangan yang kaku. Truk itu pergi. Tukang tangga mulai bekerja, bunyi gergaji meraung di udara sore.
Dan Sabine berdiri di bawah pohon trembesi, menatap chat pribadinya yang masih abu-abu, dan merasakan sesuatu di dadanya, sesuatu yang sudah retak sejak mobil berembun, mulai menjalar.
Dendy menerima telepon kelima tentang kayu jati sambil memegang formulir rawat inap.
Lorong rumah sakit. Lantai keramik putih yang mengilap dan memantulkan lampu neon di langit-langit. Bau antiseptik yang tajam, bercampur bau karbol dan sesuatu yang manis dan busuk di bawahnya. Kursi-kursi plastik biru yang disambung dengan besi, berderet di sepanjang dinding. Suara troli yang didorong. Suara pengumuman dari pengeras suara yang tidak jelas. Suara seseorang yang menangis di ujung lorong.
Semuanya sama.
Bukan rumah sakit yang sama. Bukan lorong yang sama. Tapi semua lorong rumah sakit di dunia terbuat dari bahan yang sama, dan tubuhnya mengenalinya sebelum otaknya sempat.
“Mas, kayunya udah saya cek, lengkap delapan belas,” kata Bu Tuti di telepon. “Tapi Ujang baru bisa berangkat jam dua. Pikap satunya lagi di Cikarang.”
“Kirim sekarang, Bu. Pakai truk engkel.”
“Truk engkel lagi dipakai antar semen ke...”
“Batalin semennya. Kirim kayunya dulu.”
“Tapi Mas, itu pelanggan lama...”
“Bu Tuti.” Suaranya keluar lebih keras dari yang ia maksud. Seorang perawat yang lewat menoleh. Dia menurunkan suaranya. “Maaf. Tolong. Kirim kayunya dulu. Semen nanti saya yang telepon.”
Dia menutup telepon. Menatap layar. Enam panggilan tak terjawab. Empat dari Sabine. Satu dari Basko. Satu dari nomor yang tidak dikenal.
Dan pesan. Dari Sabine. Mas. Kayu jati belum datang. Klien marah. Tolong angkat telepon.
Tolong.
Jempolnya melayang di atas nama itu. Dia bisa menelepon balik sekarang. Menjelaskan. Papa kolaps tadi pagi di kamar mandi. Aku di rumah sakit dari jam enam. Aku lupa soal kayunya. Maaf.
Empat kalimat. Sederhana.
“Pak Dendy?”
Dia mendongak. Seorang dokter muda berjas putih, stetoskop di leher, papan klip di tangan.
“Keluarga Bapak Hermawan Wibowo?”
“Saya anaknya.”
Dokter itu mengangguk. Menjelaskan. Kata-kata yang panjang dan pelan. Tekanan darah yang terlalu tinggi. Gejala stroke ringan. Tidak ada perdarahan, syukurlah, tapi perlu observasi. Rawat inap beberapa hari. Pemeriksaan lanjutan. Obat-obatan.
Observasi.
Kata itu masuk ke telinga Dendy dan turun ke perutnya seperti batu.
Perlu dirawat untuk observasi. Dokter jaga yang masih muda dan kelelahan, tujuh tahun lalu. Kamis malam. Demam yang dikira masuk angin.
“Pak Dendy? Pak, Bapak baik-baik saja?”
Dia mengerjap. Dokter itu menatapnya dengan kening berkerut.
“Iya,” katanya. “Iya. Maaf. Lanjut, Dok.”
Dokter itu menjelaskan lagi. Kali ini lebih pelan. Dendy mengangguk di tempat yang tepat. Menandatangani formulir. Menyerahkan KTP Papa ke bagian administrasi. Membayar uang muka dengan kartu debit toko.
Lalu dia kembali ke lorong. Duduk di kursi plastik biru. Tangannya masih memegang ponsel.
Mama keluar dari ruang IGD. Rambut kelabunya berantakan, gelungnya longgar, beberapa helai jatuh di pelipis. Dasternya yang tadi pagi masih bersih sekarang ada noda di bagian depan. Dia masih memakai sandal rumah. Tapi wajahnya tenang. Terlalu tenang. Wajah perempuan yang sudah menyiapkan diri untuk hari ini sejak tangan suaminya mulai gemetar di meja makan.
“Papa sudah sadar,” katanya. “Minta kopi.”
Dendy tertawa. Tawa yang tidak ada suaranya, hanya bahu yang bergerak sekali.
“Nggak boleh, kan, Ma?”
“Nggak boleh. Mama bilang nanti. Dia marah.” Mama duduk di sebelahnya. Menatap lantai keramik yang mengilap. “Dia bilang toko siapa yang jaga.”
“Bu Tuti.”
“Dia bilang kamu harus di toko.”
“Aku di sini, Ma.”
Mama menoleh. Menatapnya lama. Lalu mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan Dendy yang memegang ponsel. Jari-jarinya dingin.
“Tangan kamu gemetar,” katanya pelan.
Dendy menatap tangannya. Mama benar.
Dia tidak menarik tangannya. Dia juga tidak menjawab.
Jam sembilan malam, Mama menyuruhnya pulang.
“Mandi. Makan. Tidur,” katanya, dengan nada yang tidak bisa dibantah, nada yang sama yang ia pakai waktu Dendy umur sepuluh tahun dan tidak mau pulang dari lapangan bola. “Mama yang jaga malam ini. Besok gantian.”
Dendy tidak pulang.
Dia menyetir ke toko. Tanpa berpikir. Seperti kuda tua yang tahu jalan.
Rolling door sudah diturunkan, tinggal satu yang terbuka setengah, cukup untuk orang menunduk dan masuk. Bu Tuti pasti meninggalkannya untuk dia. Lampu di dalam masih menyala, satu lampu neon di gudang belakang. Toko sunyi. Bau semen dan cat dan serbuk kayu, bau yang ia kenal lebih baik dari bau apa pun di dunia.
Dia masuk ke gudang. Duduk di atas tumpukan kayu jati sisa, sepuluh batang yang tidak terkirim karena ukurannya salah pesan. Menatap lantai.
Dia tidak tahu kenapa dia di sini. Dia hanya tahu dia tidak bisa pulang ke rumah yang gelap, ke meja makan dengan kursi kosong di seberangnya. Tidak malam ini. Tidak setelah lorong itu.
Ponselnya di saku. Pesan Sabine masih abu-abu. Dia belum membukanya. Membukanya berarti harus membalas. Membalas berarti harus menjelaskan.
Dan menjelaskan berarti membiarkan seseorang melihat tangannya yang gemetar.
Suara langkah kaki.
Dia mendongak. Di ambang pintu gudang, di bawah rolling door yang setengah terbuka, seseorang menunduk dan masuk.
Sabine.
Rompi proyek oranye sudah dilepas. Kaus hitam, jins, kets putih yang sekarang ada bercak lumpur di ujungnya. Rambut ikal yang dikuncir asal dan setengah lepas. Kacamata cadangan berbingkai hitam tebal. Tas selempang di bahu. Wajah yang pucat di bawah lampu neon, dan mata yang merah di pinggirnya, bukan karena menangis, tapi karena terlalu lama menahan untuk tidak menangis.
Dia berhenti di ambang pintu. Menatap Dendy yang duduk di atas tumpukan kayu.
“Toko udah tutup,” kata Dendy. Bodoh. Kalimat paling bodoh yang bisa ia katakan.
“Aku tahu.” Suara Sabine datar. “Tapi rolling door-nya kebuka. Dan motor Mas di depan.”
Dia melangkah masuk. Berhenti tiga langkah dari Dendy. Jarak yang sama seperti hari pertama di toko, hari dia menjaga jarak seolah Dendy anjing tetangga yang belum jelas jinak atau tidak.
“Aku mau tanya satu hal,” katanya. “Terus aku pulang.”
Dendy berdiri. Kakinya kaku karena duduk terlalu lama.
“Hari ini,” kata Sabine, “aku dimarahi klien. Di depan Basko. Di depan Pak Jarwo. Di depan tukang-tukang. Pak Wiwik bilang mungkin dia salah pilih konsultan.” Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang. Setiap kata dipotong rapi, seperti garis yang ditarik dengan penggaris. “Aku telepon Mas empat kali. Aku kirim pesan. Di grup. Di pribadi. Semuanya abu-abu. Terus jam tiga, Ujang datang. Sendirian. Dan dia bilang, Mas Dendy titip maaf.”
Dendy membuka mulut.
“Titip,” ulang Sabine. Dan di kata itu, suaranya retak sedikit. “Mas titip maaf ke Ujang.”
“Sabine...”
“Aku nggak minta Mas jelasin kenapa kayunya telat. Barang bisa telat. Aku ngerti. Aku kerja di konstruksi, Mas, aku tahu barang bisa telat.” Dia melangkah maju satu langkah. Suaranya naik, tapi masih tertahan, seperti orang yang berbisik keras di perpustakaan. “Yang aku nggak ngerti itu Mas. Mas bisa bales grup dalam satu menit. Satu menit! Buat urusan semen, buat urusan besi, buat nandain nama aku biar aku konfirmasi pengiriman. Tapi aku telepon empat kali, dan Mas nggak angkat. Aku kirim pesan, dan Mas nggak baca.”
Dendy tidak bisa menjawab.
Papa kolaps. Aku di rumah sakit. Lorongnya bau antiseptik. Tanganku gemetar.
Kalimat-kalimat itu ada di tenggorokannya, tapi tidak mau keluar. Tersangkut. Seperti tulang ikan.
Karena kalau dia bilang, dia harus bilang semuanya. Kenapa lorong rumah sakit membuatnya tidak bisa bernapas. Kenapa kata observasi membuat perutnya jatuh. Kenapa dia tidak bisa mengangkat telepon siapa pun, bahkan Basko.
Dan kalau dia bilang semuanya, Sabine akan menatapnya dengan kasihan. Seperti semua orang tujuh tahun lalu. Dan dia tidak bisa. Tidak dari Sabine. Tidak dari satu-satunya orang yang menatapnya seolah dia bukan lemari yang ditinggal pemiliknya.
“Maaf,” katanya. Hanya itu. Kata yang kosong. Kata yang dia titip ke Ujang.
Sabine tertawa. Tawa yang pendek dan pahit dan sama sekali tidak lucu.
“Maaf,” ulangnya. “Oke. Mas selalu minta maaf. Di mobil juga Mas minta maaf.”
Dan di sana. Dia menyebutnya. Mobil. Kata yang enam hari tidak ada yang berani sentuh.
“Mas cium aku,” kata Sabine. Pelan. Hampir berbisik. Tapi setiap kata jatuh seperti paku ke lantai semen. “Terus Mas bilang harusnya nggak. Terus besoknya Mas nandain nama aku di grup pakai emoji tangan kayak nggak ada apa-apa. Enam hari, Mas. Enam hari aku nunggu. Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma mau tahu. Harusnya nggak itu maksudnya apa? Aku salah? Aku nggak cukup? Mas nyesel?”
Dia melangkah maju lagi. Dan lagi. Sekarang hanya satu langkah di antara mereka. Dendy bisa melihat air mata yang menggenang di pinggir matanya, di balik kacamata tebal, yang ia tahan dengan sekuat tenaga supaya tidak jatuh.
“Atau Mas cuma...” Sabine menelan. Suaranya pecah di tengah. “Mas cuma ramah ke semua orang? Senyum ke semua orang? Kopi ke semua orang? Dan aku cuma salah satu dari...”
Dendy tidak tahu siapa yang bergerak duluan kali ini.
Dia hanya tahu kalimat itu tidak pernah selesai.
Karena tangannya ada di wajah Sabine. Dua tangan, di kedua sisi, telapak tangan yang kasar menempel di pipi yang basah. Dan bibirnya ada di bibir Sabine.
Ini bukan seperti di mobil.
Di mobil, dia bertanya. Pelan. Ragu. Seperti orang yang mencelupkan kaki ke air dingin.
Ini bukan bertanya. Ini tenggelam.
Kasar. Putus asa. Seperti orang yang berenang dari dasar kolam dan akhirnya menemukan udara. Dia mencium Sabine seperti dia sudah menahan napas selama tujuh tahun, dan sekarang tidak bisa menahannya lagi. Seperti semua yang tidak bisa ia katakan, lorong dan antiseptik dan tangan yang gemetar dan observasi, semua itu keluar lewat satu-satunya jalan yang masih terbuka.
Sabine membeku sesaat. Lalu tangannya naik. Mencengkeram kemejanya, di dada, dua kepalan penuh kain katun. Menariknya. Bukan mendorong. Menarik. Dan dia mencium balik dengan kemarahan yang sama, keputusasaan yang sama, seolah dia juga sudah terlalu lama menahan sesuatu.
Punggung Sabine menabrak tumpukan kayu jati di belakangnya. Kayu-kayu itu berderak. Satu batang di paling atas bergeser dan jatuh ke lantai semen dengan bunyi keras yang bergema di gudang kosong.
Mereka tidak berhenti.
Tangan Dendy turun dari wajah ke leher, ke bahu, ke pinggang. Menariknya lebih dekat. Tubuh yang kecil dan hangat dan bergetar. Bau keringat dan debu site dan sesuatu yang manis, sampo atau sabun, sesuatu yang tidak ia kenali dan tiba-tiba ingin ia kenali seumur hidup. Kacamata tebalnya miring, menekan pipinya, dan Sabine mendorongnya ke atas kepala dengan satu tangan tanpa melepaskan ciuman itu.
Lampu neon berdengung di atas mereka. Serbuk kayu melayang di cahayanya.
Lalu Sabine yang berhenti.
Dia menarik diri. Tidak tiba-tiba, seperti Dendy di mobil. Pelan. Seperti orang yang memaksa dirinya sendiri untuk mundur dari tepi jurang. Tangannya masih di kemeja Dendy. Napasnya masih kasar. Bibirnya merah dan sedikit bengkak.
Tapi matanya.
Matanya menatap Dendy dari jarak satu jengkal, dan air mata yang tadi ditahan sekarang jatuh. Satu, lalu dua, mengalir di pipi yang masih merah karena telapak tangan Dendy.
“Ini yang kedua kali, Mas,” bisiknya.
Dendy tidak bisa bernapas.
“Dan kamu masih belum bilang apa-apa.”
Dia melepaskan kemeja Dendy. Jari-jarinya membuka satu per satu, seperti melepas pegangan dari sesuatu yang ia tahu akan jatuh. Dia menurunkan kacamatanya kembali ke hidung. Mengusap pipinya dengan punggung tangan. Sekali. Dua kali.
Lalu dia berjalan melewati Dendy. Melewati kayu jati yang jatuh di lantai. Menunduk di bawah rolling door yang setengah terbuka.
Dan pergi.
Dendy berdiri di tengah gudang. Sendirian.
Dia mendengar langkah kaki di trotoar. Cepat, lalu makin jauh. Motor ojek yang dinyalakan. Menjauh. Hilang.
Dia tidak mengejar.
Dia tidak tahu harus bilang apa kalau mengejar.
Lampu neon berdengung. Serbuk kayu masih melayang, pelan, turun satu-satu ke lantai semen. Batang kayu jati yang jatuh tergeletak miring, satu ujungnya di dekat kaki Dendy.
Ponselnya bergetar di saku.
Dia mengeluarkannya dengan tangan yang, dia sadari, masih gemetar. Lebih hebat dari tadi siang.
Mama: Papa sudah tidur. Tanya kopi terus
Mama: Kamu sudah di rumah? Istirahat ya Nak
Dendy membaca pesan itu. Lalu membaca pesan di bawahnya, yang masih abu-abu, yang dikirim jam sebelas siang oleh seseorang yang tadi berdiri di sini.
Mas. Kayu jati belum datang. Klien marah. Tolong angkat telepon.
Dia membukanya. Centang dua di layar Sabine akan berubah biru sekarang. Sepuluh jam terlambat.
Lalu dia bersandar di tumpukan kayu jati, tempat punggung Sabine tadi menabrak, dan pelan-pelan merosot ke bawah sampai duduk di lantai semen yang dingin. Lututnya ditekuk. Ponsel di tangan. Kepalanya menunduk di antara lutut.
Di gudang yang kosong, di bawah lampu neon yang berdengung, Dendy Hermawan duduk sendirian di lantai. Dan untuk pertama kalinya sejak lorong rumah sakit tujuh tahun lalu, dia membiarkan dirinya menangis tanpa ada siapa pun yang harus ia senyumi setelahnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!