Bab 16 - "Semangat Ya"

0 dibaca

A

Pesan itu masuk Rabu pagi, jam lima lewat empat puluh.

Sabine belum tidur. Dia tidak benar-benar tidur sejak pulang dari gudang semalam. Dia berbaring di kasur dengan mata terbuka, menatap langit-langit, dengan bibir yang masih terasa bengkak dan punggung yang masih ingat bentuk tumpukan kayu jati. Setiap kali dia memejamkan mata, dia mendengar bunyi batang kayu yang jatuh ke lantai semen. Dan setiap kali dia membuka mata, dia melihat wajah Dendy di bawah lampu neon, satu jengkal dari wajahnya, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Ponselnya bergetar di atas bantal.

Dendy Hermawan: Sabine

Bukan Mbak Sabine. Sabine. Tanpa Mbak.

Dia duduk tegak.

Dendy Hermawan: Maaf soal kemarin. Soal kayunya. Soal semuanya.

Dendy Hermawan: Kamu benar. Saya belum bilang apa-apa.

Dendy Hermawan: Bisa ketemu? Makan siang besok. Kamis. Saya mau jelasin.

Tiga pesan. Dikirim berturut-turut, dengan jarak satu menit di antaranya, seperti orang yang mengetik, berhenti, menarik napas, mengetik lagi.

Sabine membacanya empat kali.

Saya mau jelasin.

Jantungnya melakukan hal yang bodoh itu lagi. Salah menghitung anak tangga. Dan kali ini dia membiarkannya. Dia membiarkan dirinya berharap, sedikit, hanya sedikit, seperti membuka jendela satu senti di tengah hujan.

Sabine: Bisa.

Dendy Hermawan: Jam 12. Warung bakso Pak Gino dekat toko. Saya tunggu.

Sabine: Oke.

Dia meletakkan ponsel. Berbaring lagi. Menatap langit-langit.

Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, dia tertidur. Satu jam. Nyenyak. Tanpa mimpi.


Kamis pagi, dia memakai blus biru muda yang jarang ia pakai karena terlalu bagus untuk site. Menyisir rambut ikalnya dengan jari basah dan sedikit krim sampai gelombangnya jatuh lebih rapi. Memakai lipstik nude yang sama, yang pernah setengah pudar karena terlalu sering digigit. Memakai kacamata cadangan berbingkai hitam tebal karena kacamata lamanya belum sempat dibawa ke optik.

Di studio, Ghea melihatnya masuk dan langsung meletakkan pulpen.

“Kamu dandan.”

“Nggak.”

“Blus biru. Kamu cuma pakai blus biru pas presentasi ke klien hotel.” Ghea menyipitkan mata. “Ada apa?”

Sabine belum cerita soal gudang. Dia belum cerita soal mobil. Dua ciuman, dua kali mundur, dua kali harusnya nggak dan maaf. Dia tidak tahu bagaimana menceritakannya tanpa terdengar seperti perempuan bodoh yang terus kembali ke tempat yang sama dan berharap lantainya tidak berlubang.

“Makan siang,” katanya. “Sama Mas Dendy. Dia mau jelasin.”

Ghea menatapnya lama. Tidak memekik. Tidak menyambar laser pointer. Hanya menatap, dengan kerutan halus di antara alisnya.

“Jelasin apa?”

“Aku nggak tahu. Makanya dia mau jelasin.”

“Bin.” Ghea berdiri. Berjalan ke meja Sabine. Menatapnya dari dekat. “Kamu nggak apa-apa?”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu bilang itu terus minggu ini.”

“Karena aku terus nggak apa-apa.”

Ghea tidak percaya. Sabine bisa melihatnya. Tapi Ghea juga tahu kapan tidak boleh mendorong. Dia meremas bahu Sabine sekali, lalu kembali ke mejanya.

“Kabarin,” katanya. “Pokoknya kabarin.”


Jam sebelas lewat lima belas, Sabine membuka Google Maps untuk mencari warung bakso Pak Gino.

Warung kecil di jalan samping, dua blok dari Hermawan Jaya. Rating empat koma enam. Foto-fotonya menunjukkan warung sederhana dengan meja kayu panjang dan kursi plastik merah, dinding dicat hijau muda, dan etalase kaca berisi mi kuning dan bihun. Spanduk kuning di atas pintu: BAKSO PAK GINO SEJAK 1998.

Sabine menggulir foto-foto dari pengunjung.

Dan berhenti.

Salah satu foto memperlihatkan interior warung dari sudut tertentu. Meja kayu di dekat jendela. Dinding hijau muda dengan kalender bergambar kucing. Botol saus sambal dan kecap berjajar di atas meja.

Dia mengenal sudut itu.

Dia sudah melihatnya. Minggu lalu. Di ruang rapat kecil dengan gorden diturunkan, bersama Ghea dan Tio, menggulir Instagram seseorang dengan jari yang terlalu hati-hati.

Ina di warung bakso. Pipinya menggembung. Menunjuk mangkuk dengan sumpit seperti sedang mempromosikan produk di televisi. Di belakangnya, dinding hijau muda. Kalender bergambar kucing. Botol saus sambal dan kecap.

Sabine membuka Instagram Dendy dengan tangan yang tiba-tiba dingin. Menggulir ke bawah. Melewati foto toko, foto truk, foto semen. Melewati foto pelaminan. Sampai ke 2018.

Di sana. Foto itu. Ina dengan sumpit. Dinding hijau muda. Kalender kucing.

Keterangannya, dalam huruf kecil semua: langganan tiap kamis.

Tiap Kamis.

Hari ini Kamis.

Sabine menatap layar itu lama. Sangat lama. Sampai layar meredup sendiri dan dia harus mengetuknya lagi.

Dia tahu, secara rasional, bahwa ini bisa berarti apa saja. Mungkin Dendy memilihnya karena dekat dengan toko. Mungkin warung itu memang tempat makan siangnya setiap hari, bukan hanya Kamis. Mungkin dia bahkan tidak ingat foto itu pernah ada. Mungkin semua orang di sekitar toko makan di Bakso Pak Gino karena memang enak dan murah dan cuma dua blok.

Dia tahu semua itu.

Tapi dia juga membayangkan dirinya duduk di meja kayu dekat jendela itu. Di depan kalender bergambar kucing. Di kursi yang dulu diduduki perempuan yang menggembungkan pipi dan menunjuk mangkuk dengan sumpit. Di hari Kamis. Mendengarkan Dendy menjelaskan.

Dan dia tidak tahu apa yang lebih menakutkan. Kalau Dendy memilih tempat itu tanpa sadar, karena setelah tujuh tahun, kakinya masih berjalan ke sana sendiri setiap Kamis. Atau kalau dia memilihnya dengan sadar.

Menjelaskan apa? Bahwa dia belum siap? Bahwa dia masih mencintai istrinya? Bahwa Sabine harus mengerti, harus sabar, harus menunggu, karena ada seseorang yang sudah lebih dulu ada, dan akan selalu ada, dan Sabine hanya bisa berdiri di sebelahnya, di pojok bingkai, di kursi plastik yang penyok?

Atau lebih buruk. Menjelaskan bahwa ciuman itu kesalahan. Dua kali. Bahwa mereka sebaiknya profesional saja. Arsitek dan vendor. Baik, Mas. Terima kasih 🙏.

Dia sudah pernah mendengar penjelasan seperti itu. Dari Raka, di kafe dekat kampus, dengan kalimat kamu terlalu baik buat aku. Dari Yoga, lewat telepon, dengan kalimat aku butuh waktu buat diriku sendiri. Dia sudah hafal bentuknya. Dia bisa menggambarnya dengan mata tertutup.

Dan dia tidak sanggup mendengarnya lagi. Tidak di warung itu. Tidak di bawah kalender bergambar kucing.

Jam sebelas lewat empat puluh.

Dia mengetik.

Sabine: Mas, maaf. Siang ini aku nggak bisa. Ada rapat mendadak sama klien.

Tidak ada rapat. Pak Wiwik tidak menelepon sejak Senin. Tidak ada apa-apa di kalendernya kecuali satu kotak kecil bertuliskan makan siang yang ia ketik kemarin dengan jempol yang gemetar karena senang.

Kirim.

Centang dua. Biru. Hampir langsung.

Dia menatap layar. Menunggu tiga titik.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Lalu satu pesan.

Dendy Hermawan: Oke, semangat ya.

Sabine menatapnya.

Empat kata. Satu koma. Tidak ada emoji. Tidak ada kapan bisanya?. Tidak ada nggak apa-apa, lain kali. Tidak ada tanda tanya yang meminta penjadwalan ulang. Tidak ada perlawanan sama sekali.

Hanya oke. Dan semangat ya. Kalimat yang dikirim ke kolega di hari Senin pagi. Kalimat yang ditulis di kartu ucapan kantor. Kalimat yang diucapkan kasir ke pembeli yang mengeluh capek.

Seolah dia sudah menunggu pembatalan ini. Seolah dia lega.

Di seberang ruangan, Ghea melihat wajah Sabine berubah dan langsung berdiri. Tio, yang sedang menggambar di meja sebelah, mengangkat kepala.

“Kenapa?” tanya Ghea.

Sabine menyerahkan ponselnya tanpa bicara.

Ghea membaca. Tio berdiri dan membaca dari balik bahu Ghea.

Hening sesaat.

“Semangat?” kata Ghea. Nada suaranya naik satu oktaf di akhir kata.

“Semangat?” ulang Tio, dengan nada yang sama persis.

Mereka saling pandang. Lalu menatap layar lagi. Lalu saling pandang lagi.

“Semangat ngapain?” kata Ghea. “Semangat apa? Dia ngajak makan siang buat jelasin, terus kamu batalin, terus dia bilang semangat? Kayak kamu mau ujian nasional?”

“Kayak kamu mau ikut lomba tujuh belasan,” kata Tio.

“Kayak kamu mau lari maraton...”

“Kayak dia guru olahraga SD...”

“Semangat ya, adik-adik,” Ghea menirukan dengan suara bapak-bapak. “Jangan lupa pemanasan...”

Selama tiga detik, itu lucu. Sabine bahkan merasakan sudut bibirnya bergerak.

Lalu Ghea melihat wajahnya, dan berhenti.

Tio juga berhenti.

“Bin,” kata Ghea pelan. Sangat pelan. “Kamu yang batalin?”

Sabine mengangguk.

“Kenapa?”

Sabine tidak menjawab. Dia mengambil ponselnya kembali dari tangan Ghea. Menatap Oke, semangat ya di layar. Lalu menatap Ghea.

Dan Ghea, yang sudah enam tahun jadi sahabatnya, yang bisa membaca pesan WhatsApp orang seperti peramal membaca garis tangan, melihat sesuatu di wajahnya yang membuatnya tidak bertanya lagi.

Dia hanya menarik Sabine ke pelukannya. Di tengah studio. Di depan Mbak Rini dan dua drafter tim lain dan pintu ruangan Pak Hendro yang terbuka.

Sabine tidak menangis. Dia sudah menangis di garasi. Dia sudah menangis di gudang. Dia tidak punya air mata lagi untuk hari Kamis.

Dia hanya berdiri di sana, di dalam pelukan Ghea yang bau parfum vanila dan kopi susu, dengan blus biru muda yang terlalu bagus untuk hari ini.


Salina datang jam tujuh malam.

Sabine mendengar mobilnya dari kamar. Sedan putih milik Alan yang parkir di depan pagar, pintu yang dibuka dan ditutup, suara sandal di teras. Lalu suara Mama yang riang di ruang tamu, dan suara Salina yang pelan, dan suara Jemima yang tidak ada karena Jemima pasti ditinggal di rumah dengan Alan.

Salina jarang datang sendirian di hari kerja.

Sabine sedang duduk di meja gambar, pura-pura mengerjakan detail railing tangga yang masih belum selesai. Dia sudah berganti ke kaus kampus yang kebesaran. Blus biru muda tergantung di kursi, dan dia tidak mau melihatnya.

Pintu kamarnya diketuk. Dua kali. Pelan.

“Bin?”

“Masuk.”

Salina masuk. Masih dengan baju kantor, blus satin warna salem dan rok pensil abu-abu, rambut sebahu yang sudah tidak serapi pagi tadi. Dia membawa sesuatu di tangannya. Kotak kue kecil dari toko roti dekat bank, yang karton cokelatnya dicetak nama toko dengan huruf emas.

“Brownies,” katanya, meletakkan kotak itu di sudut meja gambar. “Yang ada kacangnya. Kamu suka, kan?”

Sabine menatap kotak itu. Lalu menatap kakaknya.

“Kakak ngapain ke sini?”

“Nganter Mama. Mama tadi ke rumah, bantu nyusun lemari dapur.” Salina duduk di tepi kasur. Menatap sekeliling kamar Sabine seperti orang yang sudah lama tidak masuk ke sini. Maket rumah panggung dari karton. Tabung-tabung gambar di pojok. Sketsa-sketsa yang ditempel di dinding. “Kamar kamu masih sama.”

“Iya.”

Hening sebentar. Salina memainkan ujung roknya. Sabine menatap garis railing di kertas kalkir.

“Mama bilang kamu mau makan malam sama Farhan,” kata Salina akhirnya. “Sabtu.”

“Iya.”

“Kamu mau?”

Sabine meletakkan pensilnya. “Kenapa emangnya?”

“Nggak.” Salina menggeleng. “Cuma... kamu nggak harus, Bin. Kalau kamu nggak mau. Farhan itu baik, tapi... Mama kadang terlalu...”

“Terlalu apa?”

“Terlalu semangat.”

Semangat. Kata itu lagi. Sabine merasakan sesuatu di dadanya mengencang.

“Terus aku harus gimana, Kak?” Suaranya keluar lebih tajam dari yang ia maksud. “Nolak? Terus Mama nanya kapan aku nyusul lagi? Terus Tante Nung bilang doakan yang lain nyusul? Terus ada dua belas foto lagi di grup?”

Salina terdiam. “Bin...”

“Nggak apa-apa, Kak. Serius. Aku pergi. Aku makan malam sama Farhan. Dia udah punya rumah. KPR sisa delapan tahun. Hobinya golf.” Sabine tertawa. Tawa yang pendek dan kering dan sama sekali tidak lucu. “Mungkin aku bisa nyusul Kakak. Nikah. Punya rumah. Punya kolam koi di bawah jendela kamar.”

Salina menatapnya. Wajah kakaknya, yang biasanya rapi dan tenang seperti iklan asuransi, sekarang terlihat bingung. Terluka, sedikit.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan. “Kamu kayak... Bin, kamu kayak orang yang lagi sakit.”

“Aku nggak sakit.”

“Mata kamu bengkak.”

“Kurang tidur.”

“Kamu dari kemarin nggak bales grup keluarga.”

“Aku sibuk.”

“Bin.” Salina berdiri. Mendekat ke meja gambar. Mengulurkan tangan, seperti mau menyentuh bahu Sabine. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita. Aku kakak kamu. Aku...”

“Kakak nggak akan ngerti.”

Kalimat itu keluar sebelum Sabine sempat menghentikannya. Keras. Tajam. Seperti kaca yang dilempar ke lantai.

Tangan Salina berhenti di udara. Satu jengkal dari bahu Sabine.

Sabine tidak bisa berhenti sekarang. Semua yang ia tahan seminggu ini, sebulan ini, lima belas tahun ini, semua keluar lewat celah yang baru saja terbuka.

“Kakak nggak akan pernah ngerti,” katanya. Suaranya bergetar, tapi tidak pelan. “Kakak nggak pernah jadi yang kedua. Kakak selalu yang pertama. Yang juara kelas. Yang masuk negeri. Yang nikah duluan. Yang punya anak. Yang jadi manager. Yang punya rumah. Mama bangga sama Kakak. Tante Nung bangga sama Kakak. Semua orang bangga sama Kakak.” Dia menelan. Keras. “Kakak nggak tahu rasanya duduk di meja makan tiap Minggu dan denger nama Kakak dibacain dari grup arisan kayak pengumuman juara. Kakak nggak tahu rasanya jadi kursi plastik di pojok foto.”

Salina menarik tangannya kembali. Pelan.

“Dan Kakak nggak tahu rasanya,” lanjut Sabine, suaranya sekarang pecah di tengah, “suka sama orang yang udah punya... yang udah ada orang lain di hatinya. Yang nggak bisa kamu lawan. Yang nggak bisa kamu kalahin. Karena dia udah...”

Dia berhenti. Menutup mulutnya.

Terlalu banyak. Dia sudah bilang terlalu banyak.

Salina menatapnya. Lama. Wajahnya tidak lagi bingung. Wajahnya sekarang sesuatu yang lain. Sesuatu yang Sabine tidak bisa baca. Bibirnya terbuka sedikit, seperti mau mengatakan sesuatu. Seperti ada kalimat yang sudah lama ia simpan dan sekarang hampir keluar.

Tapi kalimat itu tidak keluar.

Salina menutup mulutnya. Menunduk. Merapikan ujung blus satinnya yang tidak kusut. Gerakan kecil yang rapi dan terkontrol, gerakan yang Sabine kenal dari bertahun-tahun melihat kakaknya menyembunyikan apa pun yang ia rasakan di balik penampilan yang sempurna.

“Oke,” kata Salina pelan.

Dia berjalan ke pintu. Berhenti di ambang. Tidak menoleh.

“Browniesnya dimakan, ya,” katanya. “Sebelum keras.”

Lalu dia pergi. Menutup pintu dengan pelan. Tidak dibanting. Ditutup dengan sopan, seperti pintu kamar tamu.

Sabine mendengar langkahnya menuruni tangga. Suara Mama yang bertanya sesuatu. Suara Salina yang menjawab pendek. Pintu depan. Sandal di teras. Mobil yang dinyalakan. Menjauh.

Kamar hening.

Kotak brownies di sudut meja gambar. Karton cokelat dengan huruf emas. Sabine menatapnya dan tiba-tiba ingat bahwa Salina bekerja sampai jam enam, dan toko roti itu tutup jam lima lewat tiga puluh. Yang artinya Salina keluar dari kantor lebih awal. Untuk membeli brownies kacang. Untuk adiknya yang tidak membalas grup keluarga sejak kemarin.

Sabine menutup wajah dengan dua tangan.

Dia tidak menangis. Tapi rasanya lebih buruk dari menangis.


Jam sebelas malam, dia membuka WhatsApp.

Chat pribadi dengan Dendy Hermawan. Di bagian paling bawah, Oke, semangat ya. Di atasnya, Mas, maaf. Siang ini aku nggak bisa. Di atasnya lagi, Saya mau jelasin. Di atasnya lagi, Sabine. Tanpa Mbak.

Dia menggulir ke atas. Pelan. Melewati Mas. Kayu jati belum datang. Klien marah. Tolong angkat telepon. Melewati Baik, Mas. Melewati *chat dan cat dan Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas. Melewati Kucingnya juga malu, Mas 🙈. Melewati Kucingnya lucu, Mbak. Sampai ke paling atas. Foto tabung gambar hitam dengan secangkir kopi yang masih mengepul. Ketinggalan, Mbak. Aman di sini. Saya jagain sampai diambil.

Dia menatap foto itu lama.

Lalu dia menggulir kembali ke bawah. Menekan lama nama Dendy Hermawan di daftar chat. Menu muncul.

Sematkan. Bisukan. Arsipkan. Hapus.

Jempolnya melayang di atas Hapus. Satu detik. Dua.

Lalu bergeser satu tempat ke atas.

Arsipkan.

Chat itu menghilang dari daftar. Tidak dihapus. Hanya dipindahkan ke tempat yang tidak kelihatan. Ke folder kecil di bagian paling atas, dengan ikon kotak, tempat orang menyimpan barang-barang yang tidak sanggup mereka buang tapi juga tidak sanggup mereka lihat setiap hari.

Sabine meletakkan ponsel di meja samping kasur. Layar ke bawah.

Dia berbaring dan menarik selimut sampai ke dagu. Lampu arsitek di meja gambar padam. Kotak brownies masih di sudut meja, belum dibuka. Blus biru muda masih tergantung di kursi.

Di luar, hujan mulai turun lagi. Pelan. Tenang. Seperti malam di mobil yang berembun.

Dia memejamkan mata dan mendengarkan hujan itu sampai tertidur.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk