Bab 17 - Papan Tulis yang Dihapus

1 dibaca

A

Sabine datang ke studio jam tujuh pagi hari Jumat, satu jam sebelum siapa pun.

Ruko masih gelap. Toko kue di lantai bawah belum buka, jadi tidak ada bau mentega yang naik lewat tangga. Hanya bau kertas kalkir dan debu dan AC yang semalaman tidak dinyalakan. Dia menyalakan lampu neon satu per satu. Klik. Klik. Klik. Cahaya putih yang dingin jatuh di atas meja-meja kosong, kursi-kursi yang didorong masuk dengan rapi, monitor-monitor yang gelap.

Papan tulis beroda masih di tengah ruangan. Tidak ada yang mendorongnya kembali ke pojok sejak rapat terakhir Komisi Penyelidik, dua minggu lalu.

Sabine berdiri di depannya.

OPERASI DENDY, dengan spidol merah, digarisbawahi dua kali. Di bawahnya, tabel yang ia gambar dengan penggaris besi dan tiga warna spidol. Kolom Tanggal & Jam. Kolom Kanal. Kolom Waktu Respons. Kolom Tingkat Keramahan (1–5). Baris-baris biru yang rapat dan cepat. Baris-baris hijau yang jarang dan lambat.

Di sisi kanan, tangkapan layar yang ditempel dengan selotip kertas, sebagian sudah mulai lepas di sudutnya dan melengkung ke depan seperti daun kering. Kucingnya lucu, Mbak. Foto tabung gambar dengan kopi. Satu jempol kuning di atas Story cangkir kopi.

Di bawahnya, tulisan tangan Ghea dengan bintang-bintang kecil. BUKTI A: INSIDEN PIPI.

Dan di pojok kanan bawah, gambar Tio. Kucing abu-abu kecil yang memberi hormat, dengan balon kata bertuliskan ???.

Sabine menatap semua itu.

Dua minggu lalu, papan ini membuatnya tertawa. Membuatnya berharap. Membuatnya berpikir bahwa kalau dia mengumpulkan cukup data, cukup bukti, cukup baris di tabel, dia bisa memecahkan seseorang seperti memecahkan masalah struktur. Menemukan beban yang salah. Menghitung ulang. Memperbaiki.

Dia salah. Orang bukan struktur. Tidak ada tabel yang bisa menghitung lorong rumah sakit atau kebaya putih atau warung bakso di hari Kamis.

Dia mengambil penghapus papan tulis dari rak di bawah papan. Busa abu-abu yang sudah kotor dan keras di pinggirnya.

Dia mulai dari atas.

OPERASI DENDY. Spidol merah. Butuh tiga kali usapan sampai hilang. Meninggalkan bayangan merah muda samar di permukaan putih.

Lalu tabel. Kolom demi kolom. Baris demi baris. Spidol biru hilang lebih cepat dari spidol hijau. Angka-angka waktu respons. Satu menit. Dua menit. Empat belas jam. Enam belas jam. Semuanya menjadi goresan kelabu, lalu bayangan, lalu tidak ada.

Tangannya tidak gemetar. Dia bangga pada itu.

Dia mencabut tangkapan layar satu per satu. Selotip kertas melepas dengan bunyi kecil, sret, sret. Dia tidak membaca apa yang tertulis di kertas-kertas itu. Dia sudah hafal semuanya. Dia melipatnya jadi dua, lalu empat, lalu menumpuknya di atas meja.

BUKTI A: INSIDEN PIPI. Usapan pertama menghapus kata INSIDEN. Usapan kedua menghapus PIPI. Bintang-bintang kecil di sekelilingnya bertahan lebih lama, karena Ghea menekan spidolnya terlalu keras.

Terakhir, kucing abu-abu yang memberi hormat. Dengan ??? di atas kepalanya.

Sabine berhenti.

Penghapus terangkat di udara. Satu jengkal dari kucing itu.

Dia menatapnya. Kucing kecil yang digambar Tio dengan spidol hitam, telinganya sedikit miring, satu kaki depan terangkat di pelipis, mata yang hanya dua titik. Kucing yang dulu membuat mereka bertiga tertawa sampai Mbak Rini menoleh dari balik partisi.

Apa artinya itu?

Aku nggak tahu, Bin. Aku nggak tahu.

Dia menghapusnya dengan satu usapan panjang.

Papan tulis putih. Bersih. Hanya bayangan samar dari spidol merah, biru, hijau, seperti hantu dari sesuatu yang pernah ada.

Sabine meletakkan penghapus di rak. Mendorong papan itu kembali ke pojok, di sebelah lemari arsip, rodanya berderit di lantai. Memutarnya supaya sisi yang pernah ditulisi menghadap ke dinding.

Lalu dia duduk di mejanya, menyalakan komputer, dan mulai bekerja.


Ghea datang jam delapan lewat lima.

Dia berhenti di pintu. Menatap pojok ruangan, di mana papan tulis bersandar menghadap dinding. Menatap tumpukan kertas terlipat di meja Sabine. Menatap Sabine yang sedang menggambar detail railing tangga dengan kecepatan dan konsentrasi yang tidak ia tunjukkan selama dua minggu.

Ghea tidak bilang apa-apa.

Dia berjalan ke mejanya sendiri, meletakkan tas, menyalakan komputer. Lalu, sebelum duduk, dia berjalan ke meja Sabine. Meletakkan segelas es kopi susu di sebelah keyboard. Dari kedai di ujung jalan, yang biasanya ia beli hanya untuk dirinya sendiri.

“Makasih,” kata Sabine tanpa menoleh dari layar.

“Sama-sama.”

Ghea kembali ke mejanya. Duduk. Mulai bekerja.

Tio datang jam delapan lewat dua puluh. Dia juga berhenti di pintu. Menatap papan tulis. Menatap Ghea. Ghea menggeleng sangat kecil.

Tio mengangguk. Dan berjalan ke mejanya tanpa bicara.

Tidak ada yang menyebut papan tulis itu lagi.


Minggu itu, Sabine menjadi arsitek paling profesional di kota.

Dia menyelesaikan detail railing tangga dalam dua hari. Tiga lembar gambar kerja yang rapi dan lengkap, dengan ukuran sampai ke milimeter dan catatan finishing yang ditulis dengan huruf kapital kecil yang seragam. Dia mengirim laporan tertulis ke Pak Wiwik soal keterlambatan kayu jati, empat halaman, dengan kronologi, analisis dampak, dan usulan kompensasi. Pak Wiwik membalas dengan satu kalimat: Terima kasih, laporan diterima. Tidak marah. Tidak memuji. Tapi cukup.

Dia berhenti mengunggah Story.

Tidak ada foto kopi. Tidak ada sketsa fasad. Tidak ada meme. Akun Instagram-nya diam, seperti rumah yang lampunya dimatikan semua dan gordennya ditarik.

Di grup proyek, dia menjawab dengan satu kata. Noted. Atau Baik. Atau Diterima, terima kasih. Tanpa emoji. Tanpa tanda seru. Semua koordinasi yang penting ia pindahkan ke email, dengan subjek yang jelas dan lampiran yang diberi nama sesuai tanggal.

Hari Selasa, Dendy menulis di grup.

Dendy Hermawan: Mbak Sabine, sampel finishing untuk railing jati sudah siap. Mau diantar ke studio atau ke site?

Mbak Sabine.

Kembali lagi. Setelah satu kali Sabine tanpa apa-apa di pagi hari Rabu itu, dia kembali ke Mbak. Seperti orang yang mundur satu langkah ke belakang garis kapur di lantai gudang.

Sabine menatap pesan itu selama sepuluh detik. Lalu mengetik.

Sabine: Site. Noted.

Dua kata. Satu titik.

Basko mengirim emoji kucing menangis. Tidak ada yang menanggapinya.


Sabtu sore, Mama berdiri di pintu kamarnya dengan tiga baju di tangan.

“Yang mana?” tanyanya. Wajahnya berseri-seri, pipinya kemerahan, seperti perempuan yang akan pergi ke pesta. “Yang hijau botol? Yang krem? Atau yang motif bunga? Yang bunga itu Mama beli di Pasar Baru, bagus lho, bahannya adem.”

Sabine menatap ketiganya. Gamis hijau botol dengan payet di lengan. Blus krem dengan pita besar di kerah. Dress bermotif bunga-bunga kecil merah muda yang pasti membuatnya terlihat seperti taplak meja.

“Aku pakai baju sendiri, Ma.”

“Baju sendiri yang mana? Yang biru itu? Itu kan buat kerja.”

Blus biru muda masih tergantung di kursi. Sejak Kamis. Sabine belum memindahkannya.

“Bukan yang biru.”

Dia memakai dress hitam sederhana. Lengan tiga perempat, panjang selutut, potongan lurus tanpa hiasan. Baju yang ia beli untuk pemakaman nenek dari pihak Papa tiga tahun lalu, dan sejak itu hanya dipakai untuk acara-acara yang tidak ingin ia hadiri.

Mama menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mulutnya terbuka, seperti mau protes. Lalu tertutup lagi.

“Pakai lipstik,” katanya akhirnya. “Yang merah.”

Sabine memakai lipstik nude.


Restoran itu di lantai dua sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Restoran Jepang dengan interior kayu gelap, lampu-lampu kertas yang menggantung rendah, dan akuarium besar di dinding berisi ikan-ikan koi yang berenang pelan di antara batu-batu. Pelayan-pelayan dengan kimono pendek dan sandal kayu yang berbunyi tok-tok di lantai.

Mama yang memilihnya. Tentu saja. Farhan orangnya berkelas. Jangan ajak ke warung.

Farhan Aditama sudah menunggu di meja dekat jendela saat Sabine datang.

Dia berdiri begitu melihatnya. Lebih tinggi dari yang terlihat di foto PDF. Seratus tujuh puluh lima senti, persis seperti di tabel. Rambut disisir klimis ke samping dengan pomade yang mengilap di bawah lampu kertas. Kemeja batik slim fit warna cokelat tua dengan motif parang, dimasukkan ke celana bahan hitam. Jam tangan perak dengan tali kulit. Sepatu pantofel yang disemir sampai mengilap. Wangi parfum yang mahal dan sedikit terlalu kuat, kayu cendana dan jeruk.

“Sabine?” Dia tersenyum. Senyum yang sopan, sedikit kaku, persis seperti di foto. “Farhan. Salam kenal.”

“Salam kenal.”

Dia menarik kursi untuk Sabine. Menunggu sampai Sabine duduk, lalu mendorong kursinya pelan ke depan. Lalu duduk sendiri di seberang, merapikan serbet di pangkuannya.

Sopan. Rapi. Benar semua.

“Kamu mau pesan apa?” tanyanya, menyodorkan menu. “Di sini salmonnya enak. Saya sering ke sini sama klien.”

Mereka memesan. Sushi. Sashimi. Tempura. Ocha panas dalam gelas tanah liat.

Farhan bertanya soal pekerjaannya. Pertanyaan yang tepat. Arsitek, ya? Sudah berapa lama? Proyek apa sekarang? Dia mendengarkan jawaban Sabine dengan kepala sedikit miring, mengangguk di tempat yang tepat, menyahut dengan oh, menarik dan wah, pasti sibuk.

Lalu dia bercerita soal golf.

Sabine tidak tahu persis bagaimana obrolan berpindah dari kafe-galeri ke golf. Mungkin karena dia menyebut kata lantai kayu, dan Farhan menyebut bahwa clubhouse di lapangan golf langganannya juga pakai lantai kayu. Lalu dia bercerita soal lapangan itu. Delapan belas hole. Par tujuh puluh dua. Hole ketujuh yang ada danaunya, di mana dia pernah kehilangan tiga bola dalam satu putaran. Handicap-nya yang turun dari dua puluh dua ke delapan belas dalam satu tahun. Perbedaan antara driver dan iron. Cara memegang stik yang benar, dengan ibu jari kiri di tengah grip.

Dia memeragakannya. Dengan sumpit. Di atas meja.

Sabine menatap sumpit yang dipegang seperti stik golf. Mengangguk.

Dia menunggu dirinya tertawa. Di dalam kepala, dia bisa mendengar Ghea. Cowok umur tiga puluh satu yang hobinya golf itu cowok yang bakal ngajak kamu ke driving range di kencan kedua terus ngejelasin cara ayun stik selama dua jam. Ini lucu. Ini seharusnya lucu. Ghea benar, persis sampai ke detail, dan dua minggu lalu Sabine akan tertawa sampai tersedak ocha.

Dia tidak tertawa.

Dia tidak merasakan apa-apa.

Farhan bercerita dengan antusias. Tangannya bergerak, sumpit terayun, matanya berbinar. Dia tidak membosankan. Dia hanya... ada. Seperti lukisan pemandangan di dinding ruang tunggu dokter gigi. Tidak jelek. Tidak salah. Hanya tidak membuat apa pun di dalam dada Sabine bergerak.

Dan itu yang membuatnya takut.

Karena dia terus membandingkan.

Tidak sengaja. Tidak mau. Tapi otaknya melakukannya sendiri, seperti refleks lama yang tidak pernah bisa ia matikan.

Tangan Farhan halus. Kuku-kukunya dipotong rapi dan bersih, tidak ada debu semen di bawahnya, tidak ada bekas luka putih di pangkal ibu jari. Senyumnya simetris, kedua sudut naik bersamaan, tidak lebih tinggi di sisi kiri. Parfumnya kayu cendana dan jeruk, bukan sabun batangan dan serbuk kayu dan matahari. Dia makan dengan sumpit, rapi, tidak ada saus di sudut bibirnya yang harus diseka. Dia tidak pernah mengangkat semen. Dia tidak pernah menyeduh kopi dengan gula aren. Dia tidak tahu nama tukang parkir di restoran ini.

Dia tidak pernah tertawa sampai Bu Tuti berhenti menghitung.

“Sabine?”

Dia mengerjap. Farhan menatapnya dengan sumpit yang masih terangkat.

“Maaf,” katanya. “Tadi sampai mana?”

“Hole tujuh. Yang ada danaunya.” Farhan meletakkan sumpitnya. Menatap Sabine sebentar dengan kepala sedikit miring. Lalu dia tersenyum, dan kali ini senyumnya sedikit berbeda. Lebih santai. Lebih jujur. “Saya membosankan, ya?”

“Nggak...”

“Nggak apa-apa. Saya tahu.” Dia tertawa kecil, menggaruk tengkuk. “Ibu saya bilang saya harus cerita soal hobi biar kelihatan menarik. Terus satu-satunya hobi saya golf. Jadi ya... ini.”

Sabine menatapnya. Terkejut.

“Ibu kamu juga?”

“Ibu saya dan Tante Yuni ikut pengajian yang sama.” Farhan mengangkat bahu. “Saya dikasih profil kamu dalam bentuk PDF. Tiga halaman. Ada tabelnya.”

Sabine tertawa. Kecil. Tanpa sengaja. Tawa pertama malam itu.

“Aku juga dapat PDF,” katanya.

“Ada tabel tinggi badan?”

“Ada. Seratus tujuh puluh lima.”

“Itu dibulatkan. Aslinya seratus tujuh puluh tiga koma lima.” Farhan meneguk ochanya. “Ibu saya bilang nggak ada perempuan yang mau sama laki-laki di bawah seratus tujuh puluh lima.”

Sabine tertawa lagi. Sedikit lebih lama.

Dan untuk beberapa menit, mereka bicara dengan lebih jujur. Soal ibu-ibu yang terlalu bersemangat. Soal PDF dan tabel dan grup pengajian. Soal tekanan menjadi tiga puluhan dan belum menikah. Farhan bercerita bahwa dia sebenarnya tidak terlalu suka golf, tapi di kantornya semua manajer main golf, dan kalau tidak ikut, dia tidak diajak rapat informal di clubhouse. Sabine bercerita soal kakaknya yang sempurna dan dua belas foto rumah baru.

Farhan orang baik. Sabine bisa melihatnya sekarang. Orang baik yang sopan dan jujur dan sedikit canggung, yang terjebak di dalam harapan orang lain, persis seperti dirinya.

Dan itu yang membuat semuanya jadi lebih buruk.

Karena kalau Farhan jahat, atau sombong, atau membosankan tanpa sadar, Sabine bisa menyalahkan Farhan. Tapi Farhan baik. Farhan aman. Farhan sudah punya rumah dan tidak punya hantu dan tidak akan pernah bilang harusnya nggak setelah menciumnya di dalam mobil yang berembun.

Dan dia tetap tidak merasakan apa-apa.

Masalahnya bukan Farhan. Masalahnya dia.


Farhan mengantarnya pulang dengan mobil sedan hitam yang bersih dan wangi pengharum mobil aroma lavender. Radio memutar lagu jazz instrumental dengan volume rendah. Dia menyetir dengan dua tangan di setir, di posisi jam sepuluh dan jam dua, seperti di buku panduan ujian SIM.

Mereka berhenti di depan rumah keluarga Sulakso.

Pagar besi hitam. Lampu teras kuning. Pohon jambu air yang tidak pernah berbuah.

Tempat yang sama.

Sabine menatap kaca depan. Tidak berembun. Malam ini tidak hujan. Langit bersih, dan ada bulan setengah di atas atap rumah tetangga.

“Makasih makan malamnya,” katanya.

“Sama-sama.” Farhan tidak mematikan mesin. Dia tidak menoleh ke arah Sabine dengan tatapan seperti orang yang berdiri di pinggir kolam. Dia hanya tersenyum sopan, tangan masih di setir. “Kamu kelihatan capek, Sabine.”

Sabine tidak menjawab.

“Kalau kamu mau ketemu lagi,” lanjut Farhan, “kabari aja. Kalau nggak, juga nggak apa-apa. Saya bilang ke Ibu kita sudah ketemu dan kamu baik. Itu udah cukup buat dia seminggu.”

Sabine menatapnya. Laki-laki dengan rambut klimis dan jam tangan perak dan tinggi badan yang dibulatkan ke atas.

“Kamu baik, Farhan,” katanya pelan.

“Saya tahu.” Dia tersenyum. Sedikit sedih. “Kata orang itu masalahnya.”

Sabine membuka pintu mobil. Keluar. Menutupnya dengan pelan.

Mobil sedan hitam itu menunggu sampai dia membuka pagar dan masuk ke halaman. Lalu berlalu. Lampu belakangnya merah, mengecil, hilang di belokan.

Sabine berdiri di halaman. Di antara pot-pot anggrek Papa dan pohon jambu air.

Di tempat ini. Tepat di tempat ini. Tiga minggu lalu, dia berjalan dari pagar ke pintu depan dengan hujan membasahi rambutnya, dan dia tidak menoleh, dan di belakangnya ada mobil yang mesinnya tidak dinyalakan selama empat puluh menit.

Dia menatap jalan yang kosong.

Tidak ada mobil SUV tua abu-abu. Tidak ada kaca berembun. Hanya jalan aspal yang kering dan lampu jalan yang berkedip.

Pintu depan terbuka sebelum dia sempat meraih gagangnya.

Mama. Masih dengan daster dan kerudung instan, tapi wajahnya berseri-seri, matanya berbinar seperti anak kecil yang menunggu hadiah. Dia pasti menunggu di ruang tamu sejak jam tujuh. Pasti mendengar mobil berhenti. Pasti mengintip dari balik gorden.

“Gimana?” tanyanya. Setengah berbisik, setengah memekik. “Gimana, Bin? Anaknya baik, kan? Ganteng, kan? Sopan, kan?”

Sabine menatap ibunya. Wajah yang berseri-seri. Lipstik merah bata yang tidak luntur meski sudah malam.

“Baik, Ma,” katanya.

Dua kata.

Mama menunggu. Lebih. Detail. Cerita. Tapi Sabine sudah berjalan melewatinya, menaiki tangga, masuk ke kamar, dan menutup pintu.

Dia duduk di tepi kasur dalam dress hitam untuk pemakaman.

Kamarnya gelap. Dia tidak menyalakan lampu. Blus biru muda masih tergantung di kursi. Kotak brownies dari Salina masih di sudut meja gambar. Sudah tiga hari. Pasti sudah keras.

Dia mengeluarkan ponsel. Membuka WhatsApp. Menggulir ke atas, ke folder kecil dengan ikon kotak di bagian paling atas.

Diarsipkan (1)

Dia menatap angka itu. Satu.

Jempolnya melayang di atasnya. Satu detik. Dua. Lima.

Dia tidak membukanya.

Dia mematikan layar. Meletakkan ponsel di meja samping kasur dengan layar ke bawah. Melepas anting. Melepas kacamata. Berbaring dengan dress hitam yang masih terpasang, di atas selimut, menatap langit-langit yang tidak kelihatan dalam gelap.

Farhan Aditama orang baik. Sopan, jujur, aman, sudah punya rumah. Dia tidak akan pernah menyakitinya.

Dan Sabine tidak merasakan apa-apa.

Itu hal paling menakutkan yang pernah ia sadari tentang dirinya sendiri.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk