Ponselnya tidak berbunyi.
Dendy tahu itu. Dia tahu itu dengan cara yang sama seperti orang tahu giginya berlubang, dengan lidah yang terus kembali ke tempat yang sama. Setiap sepuluh menit, tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan ponsel. Menyalakan layar. Menatap. Mematikan. Memasukkan kembali.
Di toko, di antara pelanggan. Pak Haji, pakunya di rak biru. Merogoh saku. Bu, catnya yang tahan cuaca atau yang tahan cuaca banget? Merogoh saku. Jang, semennya jangan kena genangan. Merogoh saku.
Di lorong rumah sakit, menunggu jam besuk. Merogoh saku.
Di meja makan rumahnya yang gelap, jam sebelas malam, dengan nasi bungkus yang tidak habis. Merogoh saku.
Tidak ada apa-apa.
Grup proyek masih ramai. Basko dengan memenya. Rizal dengan PDF-nya. Pak Jarwo dengan molennya. Dan Sabine, setiap kali namanya muncul, hanya dengan satu kata.
Noted.
Baik.
Diterima, terima kasih.
Tidak ada emoji. Tidak ada tanda seru. Tidak ada Kesegaran Pagi atau Putih Gading atau kucing berpipi merah. Kalimat-kalimat pendek yang dipotong rapi dengan titik di ujungnya, seperti pagar besi yang dipasang di sepanjang batas tanah.
Hari Selasa, dia bertanya soal sampel finishing railing. Menulis Mbak Sabine karena tidak tahu harus menulis apa lagi. Karena menulis Sabine saja, seperti pagi hari Rabu itu, terasa seperti melangkah ke tempat yang sudah ditutup.
Site. Noted.
Basko mengirim emoji kucing menangis. Dendy tahu itu untuknya.
Instagram-nya lebih sunyi lagi. Dendy tidak pernah menjadi orang yang membuka Instagram. Akunnya sendiri hanya punya dua puluh tiga unggahan, sebagian besar foto semen. Tapi sekarang dia membukanya setiap malam, dan setiap malam dia membuka profil yang sama, dan setiap malam lingkaran di sekitar foto profil itu abu-abu.
Tidak ada Story. Sudah dua minggu.
Tidak ada meme kursi plastik. Tidak ada sketsa fasad. Tidak ada foto kopi tubruk yang diseduh dengan gula aren yang diserut terlalu tebal dan ampas yang naik semua ke permukaan.
Dia tidak pernah menyadari seberapa sering dia menunggu lingkaran itu berwarna sampai lingkaran itu berhenti berwarna.
Senin malam. Jam setengah dua belas.
Dia duduk di meja makan dengan laptop terbuka, mencoba menyelesaikan rekap penjualan bulanan yang seharusnya selesai minggu lalu. Angka-angka di layar mengabur. Di sebelah laptop, katalog cat interior. Masih terbuka di halaman yang sama. Putih Tulang, Putih Gading. Noda sidik jari tinta biru yang sudah hampir pudar di pojok halaman.
Di sebelahnya, tisu cokelat yang terlipat. Tiga lingkaran di dalamnya. Dia belum membukanya lagi sejak warkop Mbak Sri.
Ponselnya di tangan. Instagram. Profil Sabine. Lingkaran abu-abu.
Dia menutup profil itu. Tidak tahu harus ke mana. Jempolnya bergerak sendiri ke ikon hati di bagian bawah layar. Aktivitas. Notifikasi.
Dia jarang membuka halaman ini. Isinya biasanya like dari pelanggan untuk foto semen, atau Basko yang menandainya di meme, atau akun-akun toko bangunan lain yang mengikutinya supaya diikuti balik.
Dia menggulir. Tanpa tujuan. Seperti orang yang membuka kulkas berkali-kali meski tahu isinya sama.
baskodanu_cv menandai Anda di sebuah postingan. Meme kucing berhelm proyek.
tokobesi_cikarang mulai mengikuti Anda.
baskodanu_cv menyukai postingan Anda. Foto truk engkel.
Dia menggulir lebih jauh. Minggu lalu. Dua minggu lalu. Tiga minggu lalu.
Lalu jempolnya berhenti.
sabinesulakso menyukai postingan Anda.
Satu baris. Dengan foto profil kecil di sebelah kiri, lingkaran berisi wajah perempuan dengan rambut ikal dan kacamata bening yang engselnya diganjal selotip. Dan di sebelah kanan, gambar mini dari postingan yang disukai.
Gambar mini itu kecil. Hanya kotak persegi seukuran kuku ibu jari. Tapi Dendy tidak perlu memperbesarnya.
Seorang perempuan di depan rolling door hijau. Kaus putih kebesaran. Dua gelas kopi terangkat ke arah kamera.
Tanggalnya tiga minggu lalu. Hari Jumat.
Dendy menatap baris itu.
Lalu dia mengetuknya. Dan postingan itu terbuka, memenuhi layar.
Ina. Dua gelas kopi. Rambut dikuncir satu. Senyum lebar, mata menatap lurus ke lensa, ke orang di balik lensa. Ke dia.
katanya harus posting. ini.
Di bawahnya, komentar Ina dengan huruf kapital. SENYUM DI CAPTION JUGA DONG DEN 😤😤 ini kayak caption lemari. Dan balasannya sendiri. 🙂
Dia menggulir ke bawah foto, ke daftar orang yang menyukainya.
Disukai oleh baskodanu_cv dan 47 lainnya.
Nama Sabine tidak ada di sana.
Tapi notifikasinya ada. Tersimpan di halaman aktivitas, seperti jejak kaki di lantai semen yang masih basah. Seseorang pernah berdiri di sini. Seseorang pernah menekan hati merah di bawah foto ini. Lalu menariknya kembali.
Dendy meletakkan ponsel di meja.
Dia duduk di sana, di kegelapan, dengan cahaya laptop yang biru pucat menerangi separuh wajahnya. Jam dinding berdetak. Seekor cicak berdecak di langit-langit.
Hari Jumat, tiga minggu lalu.
Dia mulai menghitung. Pelan. Seperti menghitung stok di gudang, satu per satu, supaya tidak ada yang terlewat.
Jumat. Seminggu setelah hari Ina. Dua hari setelah pengiriman merbau yang tidak ia antar sendiri. Pengiriman di mana Sabine duduk di bedeng bersama Pak Jarwo.
Pak Jarwo.
Dendy memejamkan mata.
Pak Jarwo yang menelepon Basko malam-malam untuk bilang Mas Dendy kena kayu. Pak Jarwo yang tiga puluh tahun jadi mandor dan tidak pernah bergosip. Pak Jarwo yang datang ke pelaminannya dengan batik baru dan memeluknya lama sekali di rumah duka tujuh tahun lalu.
Pak Jarwo yang pasti mengira Sabine sudah tahu.
Jadi dia sudah tahu. Sejak Jumat itu. Mungkin sejak hari sebelumnya. Dia tahu soal Ina. Soal tiga bulan. Soal hari Sabtu dan jam dua belas lewat tiga dan pesan cat yang tidak pernah dibalas.
Dan hari Selasa setelahnya, dia datang ke gudang untuk memilih merbau yang lurus. Dan perutnya berbunyi seperti paus. Dan dia tertawa. Dan dia makan kerang saus padang di tenda Pak Kumis sampai tersedak. Dan dia bertanya soal lima tahun lagi dengan senyum, seperti lelucon.
Dan di mobil yang berembun, dia menciumnya. Atau Dendy menciumnya. Atau mereka berdua. Dan saat Dendy mundur dan bilang harusnya nggak, dia hanya bilang oke.
Dia sudah tahu. Dia tahu siapa yang Dendy tatap di ruang kosong di antara mereka.
Dan dia tidak bilang apa-apa.
Dendy membuka mata. Menatap katalog cat yang terbuka. Putih Tulang. Putih Gading.
Di gudang, dengan kayu jati yang jatuh ke lantai. Mas cium aku. Terus Mas bilang harusnya nggak. Dia sudah tahu saat itu juga. Dia berdiri di sana, tiga langkah dari Dendy, dengan mata merah di pinggirnya, dan dia tahu kenapa Dendy tidak bisa menjawab. Dan dia tetap bertanya. Dan dia tetap tidak menyebut nama Ina.
Dia melindunginya. Atau melindungi Pak Jarwo. Atau keduanya.
Dan kemudian...
Dendy berhenti bernapas.
Dia menyambar ponselnya lagi. Membuka Instagram. Menggulir profilnya sendiri ke bawah, cepat, melewati semen dan truk dan kalender. Melewati pelaminan. Sampai ke tahun 2018.
Ina di warung bakso. Pipi menggembung. Sumpit terangkat. Dinding hijau muda dan kalender bergambar kucing.
langganan tiap kamis.
Dendy menatap keterangan itu. Tiga kata, huruf kecil semua, yang ia ketik tujuh tahun lalu di jok motor di parkiran Bakso Pak Gino sementara Ina menepuk-nepuk bahunya dan menyuruhnya cepat karena baksonya keburu dingin.
Dia tidak ingat pernah menulisnya.
Dia tidak ingat foto ini ada di sini.
Selama tujuh tahun, setiap Kamis, dia makan siang di Bakso Pak Gino. Meja kayu dekat jendela. Mi kuning dan bihun, bakso urat, tanpa seledri. Pak Gino tidak pernah bertanya lagi pesanannya. Dia pikir itu karena warungnya dekat toko. Karena baksonya enak. Karena kebiasaan.
Kakinya berjalan ke sana sendiri. Setiap Kamis. Tujuh tahun.
Dan hari Rabu itu, jam lima lewat empat puluh pagi, setelah malam paling buruk di gudang, setelah dia duduk di lantai semen dan membiarkan dirinya menangis, dia mengetik Jam 12. Warung bakso Pak Gino dekat toko. Saya tunggu. tanpa berpikir. Karena itu satu-satunya tempat yang ia tahu. Karena itu tempat yang ia datangi setiap Kamis.
Dan Sabine, yang sudah tahu, yang sudah melihat foto ini...
Mas, maaf. Siang ini aku nggak bisa. Ada rapat mendadak sama klien.
Dendy menutup wajahnya dengan dua tangan.
Tidak ada rapat. Dia tahu sekarang. Dia tahu dengan kepastian yang dingin dan berat di perutnya.
Dia mengajak perempuan itu untuk mendengar penjelasannya, di meja tempat istrinya dulu menggembungkan pipi, di hari yang sama yang tertulis di bawah foto istrinya. Dan dia bahkan tidak sadar.
Dan waktu Sabine membatalkannya, dia pikir itu jawaban. Dia pikir Sabine sudah menyerah. Dia pikir itu lebih baik begini, lebih aman, lebih benar. Dan dia menulis Oke, semangat ya dengan jempol yang terasa seperti milik orang lain, dan dia merasa lega.
Lega.
Dendy menurunkan tangannya dari wajah.
Katalog cat. Tisu terlipat. Laptop yang layarnya sudah redup sendiri. Kursi kosong di seberang meja.
Dia menatap semuanya, dan untuk pertama kalinya dia melihat bentuknya. Seperti gambar kerja yang akhirnya dibentangkan penuh di atas meja, bukan dilihat sepotong-sepotong.
Keramahan yang ia tebar ke semua orang. Senyum aturan satu. Kopi aturan empat. Membalas grup dalam satu menit, karena grup itu banyak orang, dan banyak orang itu aman. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang bisa hilang.
Dan di chat pribadi, di satu-satunya tempat di mana hanya ada dia dan satu orang lain, dia diam. Empat belas jam. Enam belas jam. Lima hari. Tidak pernah.
Dia pikir dia melindungi dirinya sendiri.
Ternyata dia hanya membiarkan orang lain berdiri di hujan.
Selasa siang, jam besuk. Kamar kelas satu di lantai tiga, dua ranjang dengan tirai biru muda di antaranya. Ranjang sebelah kosong. Jendela menghadap ke tempat parkir dan deretan pohon angsana yang daunnya kuning kena debu.
Papa duduk bersandar di ranjang yang dinaikkan setengah. Selang infus di punggung tangan kiri. Piyama rumah sakit bergaris biru yang terlalu besar untuk bahunya yang menyusut. Sisi kiri wajahnya sedikit lebih turun dari sisi kanan, sudut bibirnya tertarik ke bawah, dan kelopak mata kirinya setengah menutup. Tapi matanya jernih. Tajam. Mata yang sama yang dulu bisa membuat supplier menurunkan harga dengan satu tatapan.
Dua belas hari. Dokter bilang pemulihannya bagus, tapi masih perlu fisioterapi dan kontrol tekanan darah sebelum pulang. Papa bilang dokter itu anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa.
Mama duduk di kursi di sebelah ranjang, merajut sesuatu dengan benang abu-abu. Syal, mungkin. Atau mungkin hanya sesuatu untuk membuat tangannya sibuk.
“Kopi,” kata Papa. Suaranya lebih pelan dari biasanya. Sedikit tidak jelas di huruf-huruf tertentu, seperti orang yang bicara dengan permen di mulut.
“Nggak boleh, Pa.”
“Satu sendok.”
“Nggak boleh.”
“Kamu anak durhaka.”
“Iya, Pa.”
Papa mendengus. Sudut bibir kanannya bergerak sedikit ke atas. Mama tidak mengangkat kepala dari rajutannya, tapi Dendy melihat bahunya bergetar sekali.
Dendy duduk di tepi ranjang. Mengupas jeruk yang dibawakan Basko kemarin. Jeruk medan, kulitnya tipis dan wangi.
“Toko?” tanya Papa.
“Aman.”
“Besi dari Cikarang?”
“Udah datang Kamis.”
“Utang?”
“Udah dicicil, Pa. Nggak usah dipikirin.”
Papa mengangguk pelan. Menatap jendela. Pohon angsana. Tempat parkir. Seorang tukang parkir berompi oranye yang mengatur mobil dengan peluit.
Lalu dia menoleh ke Dendy.
“Arsitek yang sering kamu ceritakan itu,” katanya. “Gimana kabarnya?”
Tangan Dendy berhenti. Jeruk setengah terkupas.
“Arsitek?”
“Yang namanya Sabine.” Papa mengucapkan nama itu dengan hati-hati, huruf S-nya sedikit tergelincir. “Yang debat soal cat.”
Dendy menatapnya.
“Aku nggak pernah cerita soal dia, Pa.”
Di kursi sebelah, jarum rajut Mama berhenti bergerak.
Papa menatap Dendy dengan mata kirinya yang setengah tertutup dan mata kanannya yang jernih. Lama. Lalu dia tertawa. Tawa yang pelan dan serak dan sedikit miring, karena hanya separuh wajahnya yang bisa ikut tertawa.
“Nggak pernah cerita,” ulangnya. “Tiap Senin, Den. Tiap Senin kamu makan di rumah, kamu cerita.”
“Pa...”
“Minggu pertama, kamu cerita ada arsitek yang nyuruh-nyuruh kamu angkat semen karena dikira kuli.” Papa mengangkat satu jari. Jari yang gemetar. “Minggu kedua, kamu cerita dia bilang Putih Tulang sama Putih Gading itu kayak mantan yang ganti nomor. Kamu cerita sambil ketawa. Kuah sayur asem kamu tumpah.”
Dua jari.
“Minggu ketiga, kamu cerita dia salah kirim stiker kucing di grup. Kamu cerita soal martabak. Kamu nanya Mama, tukang martabak yang enak di dekat pasar itu Bang Udin atau Bang Jali.”
Tiga jari.
“Minggu keempat, kamu nggak cerita apa-apa. Kamu diem aja. Makan sayur asem nggak habis.” Papa menurunkan tangannya ke atas selimut. “Dan itu minggu yang paling kelihatan, Den.”
Dendy tidak bisa bicara.
Dia tidak ingat. Dia benar-benar tidak ingat. Makan malam hari Senin adalah bagian dari minggu yang ia jalani seperti mesin. Pulang dari toko, mandi, menyetir ke rumah Mama, makan, pulang. Dia pikir dia hanya bicara soal toko. Stok besi. Utang. Harga semen.
Tapi Mama tahu nama tukang martabak yang ia tanyakan. Dan Papa ingat kuah sayur asem yang tumpah.
“Kamu cerita soal dia,” kata Papa, lebih pelan sekarang, “kayak dulu kamu cerita soal Ina. Waktu SMP. Waktu kamu pulang sekolah terus langsung ke toko, terus cerita ke Papa soal anak perempuan yang duduk di sebelah kamu dan ngasih kamu roti selai stroberi.”
Mama meletakkan rajutannya di pangkuan.
Dendy menatap jeruk di tangannya. Kulitnya yang setengah terkupas. Wangi yang tajam dan manis.
“Papa nggak ngerti,” katanya akhirnya. Suaranya keluar serak.
“Papa ngerti.”
“Pa, Ina...”
“Papa tahu.” Papa mengulurkan tangan kanannya, tangan yang tidak ada selangnya, dan meletakkannya di atas tangan Dendy. Di atas jeruk. Tangan yang dulu bisa mengangkat dua sak semen sekaligus. Sekarang tulangnya menonjol di bawah kulit yang tipis dan penuh bintik cokelat. Dan gemetar. Terus gemetar, tidak berhenti, bahkan saat diam. “Papa tahu, Den.”
Mereka diam. Tukang parkir di luar meniup peluit dua kali. Seseorang di lorong mendorong troli yang rodanya berderit.
“Dua minggu lalu,” kata Papa, pelan dan tidak jelas di beberapa huruf, “Papa jatuh di kamar mandi. Papa nggak bisa bangun. Tangan kiri Papa nggak mau gerak. Papa teriak manggil Mama, tapi yang keluar suara aneh. Kayak suara orang lain.”
Mama memejamkan mata sebentar.
“Papa pikir Papa mau mati di situ. Di lantai kamar mandi. Pakai kaus kutang.” Sudut bibir kanannya bergerak lagi. Setengah senyum. “Nggak keren.”
“Pa.”
“Dan Papa mikir. Kalau Papa mati sekarang, Papa nyesel apa?” Dia menatap Dendy. “Tahu apa yang Papa pikirin?”
Dendy menggeleng.
“Bukan toko. Bukan utang. Bukan besi dari Cikarang.” Papa meremas tangannya. Lemah. Gemetar. “Papa mikirin kamu makan sayur asem nggak habis. Sendirian. Terus pulang ke rumah yang gelap.”
Dendy menunduk. Dia merasakan sesuatu yang panas naik dari dadanya ke tenggorokan ke belakang matanya. Dia menahannya. Seperti biasa. Senyum. Aturan satu.
Tapi tidak ada senyum yang keluar.
“Jangan kayak Papa, Den,” kata Papa. “Nunggu tangan gemetar dulu, baru ngomong.”
Dia melepaskan tangan Dendy. Menyandarkan kepala kembali ke bantal. Memejamkan mata, seperti percakapan itu menghabiskan semua tenaganya.
“Sekarang kupas jeruknya,” katanya, dengan mata masih terpejam. “Papa nggak boleh kopi, paling nggak boleh jeruk.”
Dendy mengupas jeruk itu. Pelan. Satu per satu. Memisahkan juring-juringnya. Membuang serat-serat putih yang menempel, karena Papa tidak suka serat.
Tangannya gemetar juga. Sedikit. Dia membiarkannya.
Mama mengambil rajutannya lagi. Jarum-jarum bergerak. Klik. Klik. Klik. Tapi matanya tidak ke benang. Matanya ke Dendy. Dan di mata itu ada sesuatu yang sudah lama ia simpan. Sesuatu yang hampir keluar, lalu ditahan lagi.
Dendy tidak melihatnya. Dia sedang menatap juring jeruk di tangannya.
Di tempat parkir rumah sakit, jam dua siang, dia duduk di jok mobil dengan pintu tertutup dan mesin mati. Matahari menembus kaca depan dan membuat dasbor panas. Kalung tasbih kayu di spion tengah bergoyang pelan, sisa goncangan dari pintu yang ditutup.
Dia membuka WhatsApp.
Chat Sabine. Di bagian paling bawah, Oke, semangat ya. Pesannya sendiri. Dikirim sembilan belas hari lalu.
Tidak ada apa-apa setelahnya.
Jempolnya melayang di atas kolom ketik. Kursor berkedip.
Sabine, saya tahu kamu sudah tahu.
Hapus.
Maaf soal warung bakso. Saya nggak sadar.
Hapus.
Papa saya stroke. Itu kenapa kayunya telat. Itu kenapa saya nggak angkat telepon.
Dia menatap kalimat itu lama sekali. Itu kebenaran. Kebenaran yang seharusnya ia katakan di gudang, saat Sabine berdiri tiga langkah darinya dengan mata merah di pinggir. Sekarang, sembilan belas hari kemudian, kalimat itu terdengar seperti alasan. Seperti orang yang mencari pembelaan di persidangan setelah vonis dibacakan.
Hapus.
Dia menutup WhatsApp. Membuka Instagram. Profil Sabine.
Lingkaran abu-abu. Tidak ada Story. Unggahan terakhirnya empat minggu lalu, foto maket kafe-galeri dari karton, difoto dari atas dengan cahaya jendela yang jatuh miring. Keterangannya: slowly.
Di bawah foto itu, dia melihat namanya sendiri di daftar orang yang menyukainya. Dia tidak ingat menekannya. Mungkin malam itu, malam setelah toko, malam setelah dia pertama kali mendengar Sabine berkata Enak. Mentalnya yang nggak. dan tertawa sendiri di meja makan.
Dia menatap foto maket itu. Kotak-kotak kecil dari karton putih. Jendela-jendela yang dipotong dengan cutter dengan presisi yang tidak masuk akal. Tangga miniatur dari lidi yang direkatkan satu per satu.
slowly.
Dia keluar dari profil itu. Kembali ke foto Ina. Dua gelas kopi. Rolling door hijau.
Dia menatap wajah Ina lama. Senyum yang lebar. Lesung pipit di pipi kiri. Mata yang menatap lurus ke lensa.
SENYUM DI CAPTION JUGA DONG DEN.
Dendy menutup ponsel.
Dia duduk di sana, di mobil yang panas, dengan tasbih yang sudah berhenti bergoyang.
Sabine sudah tahu. Sejak tiga minggu lalu. Dia tahu soal Ina, soal hari itu, soal semuanya. Dan dia tidak pernah menyebutnya. Tidak sekali pun. Tidak di tenda Pak Kumis, tidak di mobil yang berembun, tidak di gudang dengan kayu jati yang jatuh.
Dia sudah tahu.
Dan dia tetap datang ke gudang itu.
Dendy menyalakan mesin. Pendingin udara menyembur panas, lalu pelan-pelan dingin.
Dia tidak tahu harus ke mana. Tapi untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dia tahu dia tidak bisa pulang ke rumah yang gelap dan duduk di depan kursi kosong dan menunggu.
Dia mengambil ponsel lagi. Bukan chat Sabine. Chat lain.
Dendy: Bas. Riz. Warkop. Malam ini.
Balasan datang dalam sepuluh detik.
Basko: AKHIRNYA
Rizal: Jam 8.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!