Bab 19 - Titipan yang Disimpan Tujuh Tahun

1 dibaca

A

Basko tidak memesan mi rebus.

Itu hal pertama yang Dendy perhatikan. Basko duduk di bangku kayu panjang di Warkop Mbak Sri, di tempat yang sama seperti tiga minggu lalu, dan saat Mbak Sri datang dengan buku catatan kecil dan pulpen yang diselipkan di balik telinga, dia hanya bilang, “Kopi hitam. Itu aja, Mbak.”

Mbak Sri berhenti menulis. Menatap Basko. Menatap Dendy. Menatap Rizal. Lalu dia pergi tanpa bertanya, dan lima menit kemudian kembali dengan tiga gelas kopi dan sepiring pisang goreng yang tidak dipesan siapa pun.

Televisi tabung di atas rak memutar sinetron dengan suara yang dikecilkan. Dua tukang di bangku sebelah bermain kartu, taruhan rokok batangan. Lampu neon di langit-langit berkedip sesekali, seperti mau mati.

Rizal meletakkan sesuatu di atas meja. Tisu cokelat tipis, terlipat dua. Dia pasti mengambilnya dari saku kemeja Dendy tadi sore, saat mereka bertemu di parkiran, tanpa Dendy sadari.

Dendy menatap tisu itu.

“Jadi,” kata Basko. Tanpa senyum. Tanpa seringai. Suaranya datar, lebih rendah dari biasanya. “Lo mau cerita, atau gue yang cerita apa yang gue udah tahu?”

“Lo tahu apa?”

“Gue tahu lo nggak bales chat anak itu tiga minggu. Gue tahu dia sekarang nulis noted di grup kayak robot. Gue tahu Pak Wiwik marah-marahin dia di depan anak buah gue karena kayu jati telat, dan gue tahu kayu jati telat karena Om Hermawan jatuh di kamar mandi.” Basko memutar gelas kopinya. “Gue tahu Pak Jarwo nggak sengaja cerita soal Ina ke dia. Pak Jarwo udah ngaku ke gue sambil nangis. Tiga puluh tahun gue kenal Pak Jarwo, Den, gue nggak pernah lihat dia nangis.”

Dendy menunduk.

“Dan gue tahu,” lanjut Basko, lebih pelan, “ada yang lo nggak cerita. Karena muka lo kayak orang yang nyembunyiin mayat di bagasi mobil.”

Rizal tidak bicara. Dia melepas kacamatanya, mengelap lensanya dengan ujung kemeja, dan memakainya lagi. Menunggu.

Dendy menatap ampas kopi di dasar gelasnya. Mengendap. Tidak bergerak.

“Gue cium dia,” katanya.

Basko tidak bereaksi. Rizal tidak bereaksi.

“Dua kali.”

Basko meletakkan gelas kopinya di atas meja. Pelan. Sangat pelan.

“Yang pertama di mobil. Depan rumahnya. Setelah makan di Pak Kumis.” Dendy tidak mengangkat kepala. “Terus gue mundur. Gue bilang harusnya nggak. Terus besoknya gue nandain dia di grup pakai emoji tangan.”

“Ya Allah,” bisik Basko.

“Yang kedua di gudang. Malam hari Papa masuk rumah sakit. Dia datang buat protes soal kayu jati. Gue nggak bisa jelasin. Gue nggak bisa ngomong apa-apa. Terus...” Dendy mengusap wajahnya. “Terus gue cium dia lagi. Dan dia yang mundur kali ini. Dia bilang ini yang kedua kali, dan kamu masih belum bilang apa-apa.”

Hening.

Tukang-tukang di bangku sebelah masih bermain kartu. Seseorang tertawa karena menang. Sinetron di televisi berganti ke iklan sabun cuci.

“Terus gue ngajak dia makan siang buat jelasin,” kata Dendy. “Di Pak Gino.”

Rizal menutup mata sebentar.

“Di Pak Gino,” ulang Basko. Suaranya sekarang aneh. Tertahan. “Hari apa?”

“Kamis.”

Basko berdiri.

Dia tidak berteriak. Basko yang biasanya berteriak untuk hal-hal kecil, untuk molen yang macet dan tukang yang telat dan harga besi yang naik lima ratus rupiah, sekarang berdiri tanpa suara. Bangku kayu berderak di bawahnya. Dia menatap Dendy dari atas, wajahnya yang besar dan penuh ekspresi sekarang kosong, dan tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Lalu dia duduk lagi.

“Lo,” katanya pelan, “cium anak orang dua kali. Terus lo diem. Terus lo ajak dia ke tempat lo makan sama Ina tiap Kamis. Buat jelasin.”

“Gue nggak sadar, Bas.”

“Gue tahu lo nggak sadar! Itu masalahnya, Den!” Suaranya akhirnya naik. Tukang-tukang di sebelah menoleh. Basko menurunkan suaranya lagi, tapi sekarang ada getaran di dalamnya. “Tujuh tahun lo nggak sadar. Tujuh tahun lo jalan kayak orang tidur. Senyum ke semua orang. Kopi ke semua orang. Mas Dendy ramah banget, Mas Dendy baik banget. Semua orang bilang lo udah sembuh.”

Dia mengetuk meja dengan jari telunjuk. Keras. Sekali.

“Lo nggak sembuh. Lo cuma jadi pinter pura-pura.”

Dendy tidak menjawab. Tidak ada yang bisa ia jawab.

Basko menarik napas panjang. Mengusap wajahnya dengan dua tangan, meninggalkan jejak minyak dari pisang goreng yang tidak ia makan. Lalu dia menatap Dendy, dan suaranya berubah lagi. Lebih pelan. Lebih berat.

“Gue janji sama Ina, Den.”

Dendy mengangkat kepala.

“Malam itu. Malam keenam. Waktu lo ketiduran di kursi lorong, gue yang masuk ke dalam. Sebentar. Suster kasih izin lima menit.” Basko menatap gelas kopinya. “Dia udah susah ngomong. Tapi dia pegang tangan gue. Dan dia bilang, Bas, jagain Dendy. Jangan biarin dia jadi lemari lagi.”

Dendy berhenti bernapas.

“Gue nggak pernah cerita ke lo,” lanjut Basko. “Karena gue pikir gue bisa jagain lo tanpa lo tahu. Gue bercanda terus, gue ganggu lo terus, gue ajak lo ke warkop tiap minggu. Gue pikir kalau gue bikin lo ketawa, lo nggak bakal jadi lemari.”

Dia tertawa. Pendek. Pahit.

“Tapi lo tetap jadi lemari. Lemari yang pinter senyum. Dan gue gagal. Tujuh tahun gue gagal.”

“Bas, lo nggak...”

“Diem. Gue belum selesai.” Basko mengangkat tangan. “Terus anak itu datang. Sabine. Anak yang nyuruh-nyuruh lo angkat semen karena dikira kuli. Anak yang bikin lo ketawa sampai Bu Tuti berhenti ngitung. Gue denger dari Ujang. Gue denger dari Bu Tuti. Gue denger dari Pak Jarwo. Semua orang cerita soal lo ketawa, Den. Semua orang. Karena udah tujuh tahun nggak ada yang pernah denger lo ketawa kayak gitu.”

Dia mencondongkan tubuh ke depan. Menatap Dendy langsung ke mata.

“Ina ngajarin lo luwes,” katanya, setiap kata jatuh seperti batu, “supaya lo bisa hidup. Supaya lo bisa sayang sama orang lagi. Bukan supaya lo sembunyi di belakang senyum lo sendiri.”

Dendy merasakan sesuatu retak di dadanya. Pelan. Seperti es di permukaan danau saat matahari mulai naik.

“Dan lo tahu apa yang paling bikin gue kesel?” Basko menggeleng. “Anak itu tahu soal Ina. Dia tahu dari tiga minggu lalu. Dan dia nggak pernah pakai itu buat nyerang lo. Dia nggak pernah bilang oh, kamu masih mikirin istri kamu. Dia nggak pernah ngamuk. Dia cuma diem. Nulis noted. Jagain Pak Jarwo. Jagain lo.”

Dia bersandar ke dinding papan. Menatap langit-langit seng yang berkarat.

“Anak itu jagain lo lebih baik dari gue, Den. Dan lo ninggalin dia di hujan.”


Rizal akhirnya bergerak.

Dia mengambil tisu cokelat dari tengah meja. Membukanya. Meratakannya di atas papan kayu yang penuh ukiran nama-nama. Tiga lingkaran. D di kiri. S di kanan. Panah-panah di antara keduanya, dengan kata-kata kecil di tengahnya. Martabak, helm, kopi, pipi. Stiker, like, ???

Dan lingkaran ketiga. Di atas. Di tengah. Kosong.

Rizal mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya. Meletakkannya di atas tisu. Mendorongnya ke arah Dendy.

“Tiga minggu lalu aku nanya kamu satu hal,” katanya. Suaranya tenang, datar, seperti menjelaskan perhitungan beban ke klien yang panik. “Kamu nggak jawab. Nggak apa-apa. Tapi sekarang aku mau kamu tulis.”

Dendy menatap pulpen itu.

“Lingkaran yang kosong,” kata Rizal. “Tulis apa yang ada di situ. Apa yang ada di antara kamu sama dia.”

Dendy mengambil pulpen itu. Tangannya dingin. Dia menatap lingkaran kosong.

Semua orang, termasuk dirinya sendiri, akan menulis satu nama di sana. Dua huruf. I, N, A. Itu jawaban yang jelas. Itu jawaban yang dipikirkan semua orang. Istri yang meninggal. Kenangan yang tidak bisa dilawan. Bayang-bayang.

Dia menurunkan ujung pulpen ke tisu.

Dan menulis sesuatu yang lain.

Lima huruf. Kecil. Miring. Tinta hitam yang merembes sedikit di serat tisu yang tipis.

takut.

Dia menatap kata itu. Rizal menatap kata itu. Basko mencondongkan tubuh untuk melihat, lalu diam.

“Bukan Ina,” kata Rizal pelan.

“Bukan,” bisik Dendy. “Bukan Ina.”

Dia meletakkan pulpen. Menatap tangannya sendiri. Tangan yang gemetar di lorong rumah sakit dua minggu lalu, dan masih sedikit gemetar sekarang, di atas meja warkop.

“Gue kira gue ngerasa bersalah,” katanya. Suaranya keluar serak. “Gue kira gue mundur karena gue ngerasa ngekhianatin Ina. Dan... iya. Itu ada. Itu ada, Riz. Gue cium perempuan lain seminggu setelah hari Ina. Gue ketawa ke pesan perempuan lain jam dua belas lewat tiga. Itu rasanya kayak... kayak gue ninggalin dia sendirian.”

“Tapi,” kata Rizal.

“Tapi bukan itu yang bikin gue mundur.” Dendy menekan telapak tangannya ke meja. “Pas gue cium dia di mobil, yang gue lihat bukan Ina. Yang gue lihat lorong rumah sakit. Jam tiga pagi. Kursi plastik. Bunyi mesin.” Dia menelan. “Dan pas gue cium dia di gudang, gue baru pulang dari lorong yang sama. Bau antiseptik masih nempel di baju gue. Tangan gue gemetar. Dan gue mikir, kalau gue sayang sama dia, terus dia...”

Kalimatnya tidak selesai.

Rizal mengangguk. Pelan. Seperti dia sudah tahu jawabannya sejak tiga minggu lalu dan hanya menunggu Dendy menemukannya sendiri.

“Rasa bersalah itu soal masa lalu, Den,” katanya. “Rasa bersalah bisa dijawab. Kamu tanya aja, Ina bakal mau apa? Dan kamu tahu jawabannya. Kita semua tahu jawabannya. Basko baru aja bilang.”

Basko mendengus. Mengusap hidungnya dengan punggung tangan.

“Tapi rasa takut,” lanjut Rizal, “itu soal masa depan. Dan rasa takut nggak bisa dijawab dengan logika. Karena kamu benar. Kalau kamu sayang sama orang, kamu bisa kehilangan dia. Itu benar. Itu risiko. Aku nggak bisa bilang itu nggak bakal terjadi.”

Dia mengetuk kata takut di atas tisu dengan ujung jari.

“Tapi kamu udah tujuh tahun nggak sayang sama siapa-siapa. Dan dua minggu lalu, papa kamu jatuh di kamar mandi.” Rizal menatapnya dari balik kacamata kawat. “Sendirian nggak ngelindungin kamu dari kehilangan, Den. Kehilangan tetap datang. Kamu cuma nggak punya siapa-siapa buat dipegang waktu itu datang.”

Dendy menatap tisu itu. Tiga lingkaran. D. S. takut.

Lampu neon di langit-langit berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu menyala terus.

“Simpan lagi,” kata Rizal. Dia melipat tisu itu, memasukkannya kembali ke saku kemeja Dendy, dan menepuk saku itu. “Tapi kali ini, jangan buat nanti.”


Dendy tidak pulang ke rumah.

Dia menyetir ke rumah sakit. Malam ini gilirannya jaga. Mama sudah tiga malam tidur di kursi lipat di sebelah ranjang Papa, dan tadi sore dia menelepon untuk bilang punggungnya sakit, yang bagi Mama adalah cara paling dekat untuk mengakui bahwa dia lelah.

Jam sepuluh lewat. Lorong lantai tiga sudah redup. Lampu-lampu dimatikan separuh. Suara televisi dari kamar-kamar lain, pelan. Seorang perawat jaga di meja pos, menulis sesuatu di buku besar.

Kamar Papa gelap. Hanya lampu kecil di dinding di atas ranjang yang menyala, cahaya kuning redup yang jatuh ke wajah Papa. Dia tidur. Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya teratur, sedikit mendengkur. Selang infus menetes pelan. Tik. Tik. Tik.

Mama tidak ada di kursi.

Dendy menemukannya di bangku panjang di ujung lorong, di dekat jendela besar yang menghadap taman rumah sakit. Taman kecil dengan air mancur yang tidak menyala dan bangku-bangku besi dan pohon kamboja. Selalu ada pohon kamboja.

Mama duduk dengan kardigan abu-abu di bahu, rajutan di pangkuan, tapi tangannya tidak bergerak. Dia menatap ke luar jendela. Ke taman yang gelap. Ke pohon kamboja yang bunganya putih di bawah lampu taman.

“Ma,” kata Dendy pelan.

Mama menoleh. Tersenyum. Senyum lelah seorang perempuan enam puluh tahun yang sudah tiga malam tidur di kursi lipat.

“Kamu udah makan?”

“Udah, Ma.”

“Bohong.”

“Makan pisang goreng.”

“Itu bukan makan.” Dia menepuk bangku di sebelahnya. “Duduk.”

Dendy duduk.

Mereka diam. Menatap taman yang gelap. Air mancur yang tidak menyala. Pohon kamboja.

Dendy tidak tahu berapa lama mereka duduk di sana. Lima menit. Sepuluh. Dia hanya tahu ada sesuatu di tenggorokannya, sesuatu yang sudah ada di sana sejak warkop, sejak Basko bilang gue janji sama Ina, sejak Rizal mengetuk kata takut di atas tisu.

Sesuatu yang ingin ia tanyakan.

Tujuh tahun, Mama tidak pernah bertanya. Tidak pernah bilang kamu nggak apa-apa? atau kamu udah ikhlas? atau kapan kamu mau cari lagi? Dan Dendy mensyukurinya. Setiap hari. Karena kalau Mama bertanya, dia harus menjawab.

Tapi dia juga tidak pernah bertanya pada Mama.

“Ma,” katanya.

“Hm.”

Dia menelan. Tenggorokannya kering.

“Ina pernah bilang sesuatu soal aku?” Suaranya keluar pelan, hampir tertutup dengung lampu neon di lorong. “Waktu... waktu terakhir. Waktu aku ketiduran di lorong. Mama kan jaga di dalam juga, kadang.”

Mama berhenti bernapas.

Dendy merasakannya. Bahu ibunya yang menegang di sebelahnya. Tangan yang tiba-tiba mencengkeram rajutan di pangkuan. Napas yang tertahan, lalu keluar pelan, gemetar, panjang.

Lalu dia menoleh. Dan matanya basah.

“Tujuh tahun,” bisiknya. “Tujuh tahun Mama nunggu kamu nanya itu, Nak.”

Dendy tidak bisa bicara.

Mama meletakkan rajutannya di bangku. Melipat tangannya di pangkuan. Menatap pohon kamboja di taman, seperti dia melihat sesuatu di sana yang tidak bisa Dendy lihat.

“Malam kelima,” katanya. “Kamu pulang sebentar buat mandi. Basko yang anter. Mama yang jaga di dalam.”

Suaranya pelan dan hati-hati, seperti orang yang membuka kotak yang sudah lama sekali dikunci, dan takut isinya hancur kalau disentuh terlalu keras.

“Ina bangun. Dia udah lemas banget. Tapi dia pegang tangan Mama. Kuat. Lebih kuat dari yang Mama kira.” Mama menatap tangannya sendiri. Seperti masih bisa merasakan genggaman itu. “Dan dia bilang, Ma, jangan biarin Dendy sendirian terlalu lama.”

Dendy memejamkan mata.

“Dia bilang,” lanjut Mama, suaranya bergetar sekarang, “Dia bakal pura-pura baik-baik aja. Dia bakal senyum ke semua orang. Dia bakal kerja terus sampai lupa makan. Jangan percaya, Ma. Itu bukan dia.”

Air mancur di taman tidak menyala. Pohon kamboja tidak bergerak. Tidak ada angin.

“Terus dia ketawa,” kata Mama. Dan dia tersenyum sedikit, di antara air mata yang sekarang jatuh dan membasahi kardigan abu-abunya. “Dia udah susah napas, tapi dia ketawa. Kecil. Dan dia bilang, Kalau nanti ada perempuan yang bikin dia ketawa kayak orang bego, Ma, suruh dia kejar. Jangan biarin dia jadi lemari lagi.”

Dendy menutup wajah dengan dua tangan.

Dia tidak bisa menahannya. Dia tidak mencoba. Bahunya berguncang. Napasnya keluar putus-putus, seperti orang yang baru muncul dari dasar kolam. Suara yang keluar dari mulutnya adalah suara yang tidak ia kenali, suara yang terakhir ia dengar dari dirinya sendiri di lorong rumah sakit tujuh tahun lalu, jam tiga lewat empat belas pagi.

Mama tidak memeluknya. Mama meletakkan tangan di punggungnya. Di antara tulang belikat. Dan mengusapnya. Pelan. Naik, turun. Seperti waktu dia kecil dan bermimpi buruk.

“Mama nggak bilang dari dulu,” katanya, “karena kamu belum siap dengar. Kamu masih jalan kayak orang tidur. Kalau Mama bilang waktu itu, kamu bakal kejar siapa aja cuma supaya bisa bilang udah nurutin Ina. Dan itu bukan yang Ina mau.”

Tangan di punggungnya terus mengusap.

“Terus dua bulan lalu, kamu pulang hari Senin, dan kamu cerita soal perempuan yang nyuruh-nyuruh kamu angkat semen. Kamu ketawa sampai kuah sayur asem tumpah.” Suara Mama pecah di tengah, lalu pulih lagi. “Dan Mama lihat Papa. Dan Papa lihat Mama. Dan kita berdua tahu.”

Dendy menurunkan tangannya. Wajahnya basah. Matanya perih.

“Kenapa Mama nggak bilang waktu itu?”

“Karena kamu belum nanya.” Mama menatapnya. Mata yang basah, yang merah di pinggir, yang lelah dan tua dan penuh sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. “Mama nggak mau maksa kamu, Nak. Mama mau kamu yang datang sendiri. Kayak sekarang.”

Dia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Dendy dengan ibu jarinya. Menyeka air mata. Seperti mengambil kelopak kamboja dari rambutnya.

“Ina sayang sama kamu,” katanya pelan. “Dia sayang sama kamu sampai detik terakhir. Dan justru karena dia sayang, dia nggak mau kamu berhenti hidup. Dia nggak mau kamu jadi tugu peringatan buat dia.”

Dendy menatap ibunya.

“Mama juga sayang sama Ina,” lanjut Mama. “Mama sayang dia kayak anak sendiri. Mama masih kangen dia tiap hari. Tiap bikin sayur asem, Mama ingat dia yang selalu minta kuahnya dibanyakin.” Dia tersenyum. Air matanya jatuh lagi. “Tapi Mama mau lihat anak Mama bahagia. Sebelum tangan Mama juga gemetar kayak tangan Papa.”

Dia meremas tangan Dendy. Kuat. Tangan yang tidak gemetar.

“Kamu udah punya restu dari Ina, Nak. Tujuh tahun lalu. Sekarang Mama kasih restu Mama.”

Lorong hening. Lampu neon berdengung. Dari kamar di belakang mereka, suara dengkuran Papa yang pelan dan teratur. Tik. Tik. Tik. Infus yang menetes.

Dendy menatap ke luar jendela. Pohon kamboja di taman rumah sakit. Bunganya putih di bawah lampu. Satu kelopak jatuh, pelan, berputar di udara, mendarat di atas bangku besi yang kosong.

Dia merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan tisu cokelat yang terlipat. Membukanya di atas lutut.

D. S. takut.

Dia menatap kata di lingkaran ketiga itu lama.

Lalu dia mengambil pulpen dari saku celana. Pulpen yang sama yang ia pakai untuk menandatangani nota diskon hari pertama Sabine datang ke toko. Dan di bawah kata takut, di dalam lingkaran yang sama, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia menulis satu kata lagi.

tetap.

Mama melihatnya. Tidak bertanya. Hanya meletakkan kepalanya di bahu Dendy, dan diam.

Mereka duduk di sana sampai perawat jaga datang dan bilang jam besuk sudah lewat lama sekali, dan salah satu dari mereka harus masuk ke kamar dan tidur.

Dendy yang masuk. Mama yang pulang.

Malam itu, di kursi lipat di sebelah ranjang Papa, dengan infus yang menetes dan dengkuran yang teratur, Dendy tidur. Nyenyak. Tanpa mimpi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang tidak bisa ia ingat.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk