Bab 20 - Syukuran Keluarga Sulakso

2 dibaca

A

Tiga puluh dua tahun.

Angka itu ditulis dengan huruf emas di atas kue tart dua tingkat berlapis krim putih, dikelilingi mawar-mawar dari fondant merah muda yang terlalu sempurna untuk dimakan. Selamat Ulang Tahun Pernikahan ke-32, Bambang & Wahyuni. Di bawahnya, dua boneka kecil dari gula, sepasang pengantin dengan pakaian adat Jawa, yang perempuan memakai kebaya hijau dan yang laki-laki memakai beskap hitam. Boneka laki-lakinya sedikit miring karena krimnya belum benar-benar mengeras.

Mama memesannya dari toko kue paling mahal di kota. Mama juga memesan katering untuk lima puluh orang, menyewa tenda di halaman depan, mengundang ibu-ibu pengajian, keluarga besar dari pihak Papa dan pihak Mama, tetangga satu RT, dan tiga teman kantor Papa dari zaman PNS yang sekarang sudah sama-sama pensiun dan sama-sama berjalan dengan tongkat.

Rumah keluarga Sulakso penuh. Tenda putih di halaman depan dengan kursi-kursi lipat berbalut kain satin krem. Meja prasmanan panjang dengan nasi kuning berbentuk tumpeng, ayam goreng, sambal goreng ati, sayur labu siam, kerupuk udang, buah-buahan potong. Pot-pot anggrek Papa dipindahkan ke pinggir, diganti rangkaian bunga sedap malam dan mawar putih yang wanginya terlalu kuat. Pengajian sudah selesai sejak jam empat. Sekarang jam enam sore, dan semua orang makan, mengobrol, tertawa, berfoto di depan backdrop bunga yang dipasang di teras.

Dan Sabine berdiri di sebelah Farhan Aditama.

Dia memakai kebaya. Kebaya modern warna hijau sage dengan brokat halus, pilihan Mama, dipadukan dengan rok batik yang terlalu sempit untuk berjalan cepat. Rambutnya disanggul rendah oleh tukang rias yang datang jam dua siang, lengkap dengan hairspray yang membuat kepalanya terasa seperti helm. Kacamatanya dilepas. Mama bilang kacamata cadangan berbingkai hitam tebal itu merusak foto, dan kacamata lamanya masih di optik. Jadi dunia sedikit buram di pinggir, dan wajah-wajah orang di kejauhan terlihat seperti lukisan cat air.

Farhan memakai batik. Tentu saja. Batik tulis warna cokelat keemasan dengan motif kawung, yang pasti mahal, dengan lengan panjang dan kancing yang tertutup sampai leher. Rambutnya disisir klimis. Jam tangan perak. Parfum kayu cendana dan jeruk.

Dia setuju datang sebagai bantuan. Mereka membicarakannya lewat WhatsApp minggu lalu. Ibu kamu ngundang ibu saya. Ibu saya nyuruh saya datang. Kalau saya nggak datang, dua ibu bakal kecewa. Kalau saya datang, cuma kamu yang kecewa. Sabine membalas dengan emoji tertawa. Emoji pertama yang ia kirim ke siapa pun dalam tiga minggu.

Sekarang Farhan sedang memikat Tante Nung.

“Jadi Nak Farhan kerjanya di pengadaan?” Tante Nung berdiri terlalu dekat, kipas batik di tangan, bros bunga besar di dada. “Wah, bagus sekali. Stabil ya.”

“Alhamdulillah, Tante.”

“Sudah punya rumah sendiri, katanya?”

“KPR, Tante. Masih delapan tahun lagi.”

“Wah, wah.” Tante Nung menoleh ke Sabine, mata berbinar penuh arti. “Bagus ya, Bin. Mapan.”

Sabine tersenyum. Senyum nomor tiga. Senyum yang sudah ia pakai sejak jam empat sore, dan sekarang mulai terasa seperti otot yang kram.

“Iya, Tante.”

“Terus kapan nih?” Tante Nung mengibaskan kipasnya. “Kapan ada syukuran yang lain? Yang pertama?”

Farhan tertawa sopan. Sabine tertawa sopan.

Di seberang tenda, Mama sedang berfoto di depan backdrop bunga bersama ibu-ibu pengajian. Gamis satin warna emas, kerudung senada dengan payet di pinggirnya, lipstik merah bata. Dia terlihat bahagia. Benar-benar bahagia. Wajahnya berseri seperti lampu teras yang baru dinyalakan. Dan sesekali, di antara foto-foto, dia melirik ke arah Sabine dan Farhan, dan senyumnya melebar lagi.

Sabine tidak ingat kapan terakhir kali Mama tersenyum seperti itu ke arahnya.

Dia merasakan sesuatu di dadanya mengerut. Kecil. Dingin.

Senyum itu bukan untuknya. Senyum itu untuk batik kawung dan rumah KPR dan tinggi badan seratus tujuh puluh lima yang dibulatkan ke atas. Senyum itu untuk Sabine yang akhirnya nyusul.

Dan untuk satu detik yang mengerikan, Sabine berpikir, mungkin itu cukup. Mungkin itu yang ia butuhkan. Senyum Mama. Tante Nung yang berhenti bertanya. Dua belas foto di grup keluarga, tapi kali ini fotonya.

Mungkin tidak merasakan apa-apa itu lebih baik daripada merasakan terlalu banyak.


Ponselnya bergetar jam tujuh lewat dua puluh, di saku kecil yang dijahit tukang rias di balik rok batik.

Basko.

Sabine menjauh dari tenda, ke samping rumah, ke lorong sempit antara dinding dan pagar tetangga tempat Papa menyimpan tangga lipat dan ember-ember bekas cat. Dia mengangkatnya.

“Halo, Pak Basko.”

“Bu Arsitek, maaf ganggu malam Minggu.” Suara Basko, keras seperti biasa, dengan latar belakang suara angin dan sesuatu yang berkibar. “Terpal di atap lantai dua lepas satu sisi. Angin kenceng dari sore. Anak-anak mau naik benerin, tapi saya mau pastiin dulu, balok bekas bongkaran yang ditumpuk di sisi utara itu boleh dipindah ke bawah nggak? Soalnya kalau nggak dipindah, nanti ketimpa terpal.”

“Boleh, Pak. Pindahin ke area loading timur aja. Tapi jangan ditumpuk lebih dari satu meter, nanti...”

“Bin!”

Suara Mama. Dari arah tenda. Keras dan riang, menembus musik keroncong dari speaker dan obrolan lima puluh orang.

“Bin, ayo foto! Farhan nungguin tuh! Calon kamu udah di depan backdrop!”

Sabine menutup mata.

Di telepon, Basko diam. Hanya suara angin. Terpal yang berkibar.

“...nanti kena hujan balok bawahnya lembap,” Sabine menyelesaikan kalimatnya. Suaranya datar. “Itu aja, Pak.”

“Oke. Oke, Bu.” Basko terdengar ragu. Seperti orang yang baru mendengar sesuatu dan tidak tahu apakah dia seharusnya mendengarnya. “Makasih. Maaf ganggu. Selamat... selamat syukuran.”

“Makasih, Pak.”

Dia menutup telepon. Berdiri di lorong sempit itu, di antara tangga lipat dan ember cat, dengan kebaya hijau sage dan sanggul yang terasa seperti helm.

Calon kamu.

Dia kembali ke tenda. Berfoto di depan backdrop bunga dengan Farhan. Tersenyum. Mama memotret dengan ponselnya sendiri dari tiga sudut berbeda.


Jam delapan, Sabine melarikan diri ke dapur.

Dapur rumah keluarga Sulakso tidak besar. Dinding keramik putih yang sudah menguning di sela-selanya, lemari gantung kayu jati yang engselnya selalu berbunyi, kompor gas dua tungku, dan wastafel stainless yang sekarang penuh sampai meluber. Piring-piring kotor bertumpuk di mana-mana. Di wastafel, di meja, di atas kompor yang sudah dimatikan. Gelas-gelas bekas teh manis dan sirup merah. Mangkuk-mangkuk bekas sayur labu dengan kuah kuning yang mulai mengering di pinggir. Nampan-nampan aluminium bekas katering yang berminyak.

Petugas katering sudah pulang jam tujuh. Mama bilang nanti Mama yang cuci. Tapi Mama masih di depan, di tengah ibu-ibu pengajian, menceritakan soal Farhan.

Sabine menyalakan keran. Air mengalir, dingin di tangan.

Dia mulai mencuci. Satu piring. Dua piring. Busa sabun menempel di lengan kebaya brokat yang pasti tidak boleh kena air. Dia tidak peduli. Tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan. Kepalanya butuh sesuatu yang bukan calon kamu dan kapan yang pertama dan senyum Mama yang bukan untuknya.

Pintu dapur berderit.

“Aku bantu.”

Salina.

Kebaya merah marun dengan bordir emas, rok batik yang serasi, rambut disanggul dengan tusuk konde berhiaskan mutiara. Dia terlihat seperti foto di majalah pernikahan. Dia selalu terlihat seperti foto di majalah pernikahan. Tapi sekarang dia menggulung lengan kebayanya sampai siku, meraih serbet dari gantungan, dan berdiri di sebelah Sabine di depan wastafel.

Sabine tidak bilang apa-apa. Dia menyerahkan piring pertama yang sudah dibilas.

Salina mengeringkannya.

Mereka bekerja tanpa bicara. Sabine mencuci, Salina mengeringkan. Ritual yang sama seperti Sabine dan Papa. Air mengalir. Piring beradu pelan. Dari luar, suara keroncong dan tawa ibu-ibu dan dentang sendok di gelas.

Lima piring. Sepuluh. Lima belas.

“Kamu kelihatan capek,” kata Salina akhirnya.

“Semua orang bilang gitu.”

“Karena kamu memang kelihatan capek.”

Sabine menggosok mangkuk dengan sabut. Keras. Kuah kuning yang mengering di pinggirnya tidak mau lepas.

“Kak,” katanya. Tanpa menoleh. “Soal yang kemarin. Di kamar. Aku...”

“Nggak usah.”

“Aku jahat, Kak. Aku bilang Kakak nggak akan ngerti. Kakak bawain brownies dan aku...”

“Bin.” Salina meletakkan piring yang sedang ia keringkan. Pelan. Di atas tumpukan yang sudah kering. “Nggak usah minta maaf.”

“Tapi...”

“Karena kamu salah.” Salina mengambil piring berikutnya dari tangan Sabine. Mengeringkannya dengan gerakan yang terlalu rapi, terlalu hati-hati. “Aku ngerti. Aku ngerti banget.”

Sabine berhenti menggosok. Menoleh.

Salina tidak menatapnya. Salina menatap piring di tangannya. Wajah yang sempurna, riasan yang tidak luntur, tusuk konde mutiara. Tapi ada sesuatu di bawah semua itu. Sesuatu yang bergetar di sudut bibirnya.

“Kamu inget waktu aku masih SD?” kata Salina pelan. “Aku suka gambar.”

Sabine mengerjap. “Kakak?”

“Gambar orang. Muka. Mama, Papa, Eyang. Guru-guru. Temen sekelas. Aku punya buku gambar khusus, sampulnya kuning.” Salina tersenyum kecil. Senyum yang tidak mencapai mata. “Aku gambar tiap hari. Sampai kelas empat.”

“Terus?”

“Terus kamu mulai gambar rumah.” Salina meletakkan piring. Mengambil gelas. Mengeringkannya pelan. “Kamu umur empat tahun. Gambar rumah kotak pakai krayon, huruf S-nya kebalik. Dan Mama bilang... Mama bilang di depan Tante Nung, di depan semua orang, Wah, Sabine berbakat ya, beda sama kakaknya. Salina gambar orang kayak orang-orangan sawah.”

Dia tertawa. Pendek. Tidak lucu.

“Terus aku berhenti gambar. Aku buang buku gambar kuning itu. Aku mikir, oke, aku nggak berbakat. Adikku yang berbakat. Aku yang rajin aja. Aku belajar. Aku juara kelas. Aku masuk akuntansi. Karena akuntansi nggak butuh bakat. Akuntansi cuma butuh rajin.”

Sabine menatap kakaknya. Air keran masih mengalir di wastafel. Busa sabun meluap dari mangkuk yang ia pegang, jatuh ke lantai.

“Dan setiap kali aku dapat sesuatu,” lanjut Salina, suaranya mulai bergetar, “juara kelas, masuk negeri, nikah, naik jabatan, rumah... setiap kali, Mama pamerin ke semua orang. Kamu tahu kenapa?”

Sabine menggeleng.

“Karena itu satu-satunya yang aku punya, Bin.” Salina akhirnya menoleh. Matanya basah. Riasan di bawah matanya mulai luntur, garis hitam tipis dari eyeliner yang meleleh. “Aku nggak punya sesuatu yang aku cinta. Kayak kamu cinta rumah. Kayak kamu cinta gambar. Kamu duduk di meja gambar sampai jam dua pagi dan kamu bahagia. Aku nggak pernah punya itu. Aku cuma punya... prestasi. Daftar. Tabel. Hal-hal yang bisa dipamerin di grup arisan.”

Dia mengusap matanya dengan punggung pergelangan tangan. Eyeliner-nya makin berantakan.

“Mama bilang ke aku, di hari pernikahanku, Coba kamu punya selera kayak adikmu. Dekorasinya pasti lebih bagus.” Salina tertawa lagi. Basah. “Di hari pernikahanku, Bin.”

Sabine tidak bisa bicara.

Seluruh denah hidupnya berputar. Seperti gambar kerja yang tiba-tiba dibalik, dan dia baru sadar selama ini dia membaca dari arah yang salah. Dua puluh tujuh tahun dia duduk di meja makan hari Minggu, mendengar nama Salina dibacakan seperti pengumuman juara, dan merasa dirinya kursi plastik di pojok bingkai.

Dan di seberang meja, Salina duduk dengan blus satin dan anting mutiara, mendengar namanya dibacakan, dan merasa dirinya daftar prestasi tanpa jiwa.

“Kak,” bisik Sabine. “Aku nggak tahu.”

“Aku tahu kamu nggak tahu.” Salina tersenyum. Senyum yang sungguhan kali ini, kecil dan retak di pinggir. “Aku iri sama kamu seumur hidup, Bin. Seumur hidup. Karena kamu punya sesuatu yang kamu cintai. Dan kamu nggak pernah berhenti, meskipun Mama bilang arsitektur itu nggak ada masa depannya.”

Air mata jatuh di pipi Sabine sebelum ia bisa menahannya.

Dia mematikan keran. Meletakkan mangkuk yang masih penuh busa. Dan memeluk kakaknya.

Di dapur yang sempit, di antara tumpukan piring kotor dan nampan-nampan aluminium berminyak, dengan tangan yang masih basah dan berbusa, Sabine memeluk Salina. Keras. Busa sabun menempel di punggung kebaya merah marun. Tusuk konde mutiara menusuk pipinya. Dia tidak peduli.

Salina memeluk balik. Sama kerasnya.

Mereka berdiri di sana. Dua perempuan dalam kebaya yang mahal dan riasan yang luntur. Menangis di dapur rumah orang tua mereka, sementara di luar lima puluh orang merayakan tiga puluh dua tahun pernikahan dengan musik keroncong dan kue tart dua tingkat.

“Browniesnya,” kata Sabine di bahu kakaknya. “Aku nggak makan. Udah keras.”

Salina tertawa. Isak dan tawa bercampur. “Nanti aku beliin lagi.”

“Yang kacang.”

“Yang kacang.”

Mereka melepaskan pelukan. Salina mengambil tisu dari kotak di atas kulkas, menyerahkan satu ke Sabine, mengambil satu untuk dirinya sendiri. Mereka mengelap wajah bersamaan. Salina menatap bayangannya di pintu lemari yang mengilap dan mengerang pelan melihat eyeliner-nya.

“Ya Allah. Aku kayak panda.”

“Kakak kayak panda yang cantik.”

“Diam.”

Lalu Salina menatap Sabine. Lebih lama. Dengan mata yang masih merah, tapi tajam. Mata kakak yang sudah tiga puluh tahun mengenal adiknya lebih baik dari yang adiknya sadari.

“Yang kamu bilang di kamar,” katanya pelan. “Soal suka sama orang yang udah ada orang lain di hatinya.”

Sabine membeku.

“Itu bukan Farhan,” kata Salina. Bukan pertanyaan.

Sabine menunduk. Menatap busa sabun yang mengering di punggung tangannya.

“Bukan,” bisiknya.

Salina menunggu. Tidak mendesak. Hanya menunggu, seperti Papa di garasi.

“Dia duda,” kata Sabine akhirnya. Pelan sekali, hampir tertutup suara keroncong dari luar. “Istrinya meninggal tujuh tahun lalu. Tiga bulan setelah nikah. Umur dua puluh tujuh.”

Salina menarik napas. “Oh, Bin.”

“Dan aku...” Suaranya pecah. Dia menelan. Mencoba lagi. “Aku nggak bisa lawan dia, Kak. Dia udah nggak ada. Dan orang yang udah nggak ada itu selalu sempurna. Aku kayak... kayak aku lagi berdiri di sebelah Kakak lagi. Tapi Kakak yang ini nggak bisa aku peluk di dapur.”

Salina diam lama.

Lalu dia mengulurkan tangan dan merapikan anak rambut Sabine yang lepas dari sanggul, menyelipkannya ke belakang telinga. Gerakan yang pelan dan lembut dan sangat seperti gerakan seorang ibu.

“Bin,” katanya. “Dengar aku. Orang yang pernah kehilangan itu bukan rumah bekas yang udah ada penghuninya. Mereka cuma rumah yang pernah kena gempa. Mereka masih bisa ditinggali. Mereka cuma butuh waktu buat percaya lantainya nggak bakal runtuh lagi.”

Sabine menatapnya.

“Dan kamu bukan pengganti,” lanjut Salina. “Kamu bukan yang kedua. Kamu yang berikutnya. Itu beda.”

Di luar, keroncong berganti lagu. Seseorang memukul gelas dengan sendok, ting-ting-ting, dan suara MC dari mikrofon meminta semua tamu berkumpul untuk potong kue.

“Ayo,” kata Salina, mengambil napas dalam dan mengibaskan bagian depan kebayanya. “Kita harus balik sebelum Mama nyadar dua anaknya hilang dan kue tartnya dipotong tanpa foto keluarga.”

“Muka Kakak masih kayak panda.”

“Muka kamu juga.”

Mereka saling pandang. Lalu tertawa. Lalu mengambil tisu lagi.


Dendy membaca pesan itu di kursi lipat, di sebelah ranjang Papa, jam delapan lewat empat puluh malam.

Papa sudah boleh pulang lusa. Dokter bilang pemulihannya bagus, meski tangan kirinya masih lemah dan dia masih harus fisioterapi dua kali seminggu. Papa bilang dokter itu anak kemarin sore, tapi kali ini dia bilang sambil tersenyum setengah wajah.

Ponselnya bergetar di pangkuan. Grup proyek.

Basko: update site: terpal lantai 2 udah dibenerin, balok bekas dipindah ke loading timur sesuai arahan bu arsitek 🙏

Basko: [foto]

Foto terpal biru yang terpasang kembali, dengan tiga tukang di atas perancah yang mengangkat jempol ke arah kamera.

Basko: maaf tadi ganggu bu arsitek pas lagi syukuran sama calonnya 🙏😂

Dendy menatap pesan itu.

Calonnya.

Dia membacanya lagi. Pelan. Kata demi kata. Maaf tadi ganggu bu arsitek pas lagi syukuran sama calonnya.

Emoji tangan terkatup. Emoji tertawa.

Dia membacanya ketiga kalinya.

Di ranjang, Papa mendengkur pelan. Infus sudah dilepas sejak kemarin. Di luar jendela, pohon angsana bergoyang kena angin malam.

Grup hening. Tidak ada yang membalas. Tidak Rizal, tidak Pak Jarwo, tidak Tio. Dan tidak Sabine.

Lalu, satu menit kemudian, Basko menulis lagi.

Basko: eh salah grup 🙏 maaf semuanya

Tidak ada yang percaya itu salah grup. Grup itu satu-satunya grup yang isinya Basko dan Sabine.

Dendy menatap layar. Tangannya dingin. Sesuatu di perutnya jatuh, seperti batu ke dalam sumur yang sangat dalam, dan dia menunggu bunyi dasarnya, dan bunyi itu tidak datang.

Calonnya.

Tiga minggu. Tiga minggu dia diam. Tiga minggu dia duduk di meja makan dengan katalog cat dan tisu terlipat dan pesan yang diketik dan dihapus. Tiga minggu dia mengira dia masih punya waktu. Bahwa perempuan itu akan tetap di sana, di balik noted dan baik dan diterima, menunggu sampai dia siap.

Tapi orang tidak menunggu selamanya di bawah hujan.

Dia berdiri dari kursi lipat. Terlalu cepat. Kursi itu terguling ke belakang dengan bunyi logam yang keras.

Papa membuka mata. Satu mata. Yang kanan.

“Kenapa?” tanyanya. Suaranya serak karena tidur.

Dendy tidak menjawab. Dia berdiri di tengah kamar rumah sakit dengan ponsel di tangan, napas pendek-pendek, dan untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun, rasa takut yang ia rasakan bukan takut kehilangan seseorang yang ia cintai.

Tapi takut kehilangan seseorang yang belum sempat ia bilang ia cintai.

Papa menatapnya dengan satu mata. Lalu menatap ponsel di tangannya. Lalu menatapnya lagi.

“Arsitek itu?” tanyanya.

Dendy mengangguk.

Papa menghela napas. Panjang. Lelah. Lalu, dengan tangan kanannya yang gemetar, dia menunjuk ke pintu.

“Pergi,” katanya. “Papa nggak apa-apa. Suster ada.”

“Pa...”

“Pergi, Den.” Sudut bibir kanannya naik. “Jangan nunggu tangan gemetar.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk