Ada empat aturan.
Dendy tidak pernah menuliskannya di mana pun. Tidak perlu. Aturan-aturan itu sudah tertanam di kepalanya sejak umur dua puluh satu, diulang-ulang dengan suara yang sabar dan sedikit geli oleh perempuan yang duduk di sebelahnya sejak hari pertama SMP, sampai akhirnya aturan itu bukan lagi aturan. Hanya cara hidup.
Satu. Senyum dulu, baru bicara.
Dua. Sebut namanya. Orang paling suka mendengar namanya sendiri.
Tiga. Tanya kabar. Keluarga, pekerjaan, cucu yang sakit, pinggang yang encok. Ingat jawabannya.
Empat. Suguhkan kopi. Orang yang sudah minum kopimu akan kembali lagi.
Kamu itu kayak lemari, Den, kata Ina dulu, di balik meja kasir yang sama yang sekarang dipakai Bu Tuti. Tangannya menarik sudut bibir Dendy ke atas dengan dua jari, seperti membentuk tanah liat. Kokoh, berguna, tapi nggak ada yang mau ngobrol sama lemari. Senyum. Nah. Gitu. Jangan kayak orang mau nagih utang.
Dia sudah menjalankan empat aturan itu begitu lama sampai tidak lagi merasakannya. Senyumnya menyala saat pelanggan masuk dan padam saat mereka keluar, otomatis, seperti lampu sensor di teras rumah. Tidak melelahkan. Tidak juga menyenangkan. Hanya berfungsi.
Jadi dia tidak tahu dari mana kalimat itu tadi keluar.
Rendangnya enak?
Itu bukan aturan satu, dua, tiga, atau empat. Itu bukan apa-apa. Itu hanya mulutnya bergerak sendiri saat melihat punggung perempuan itu berjalan cepat ke pintu dengan hak sepatu yang menghantam lantai seperti palu kecil, dan tiba-tiba dia ingin melihat wajahnya sekali lagi.
Dan wajahnya memang menoleh. Merah sampai ke telinga. Kacamata bening yang engselnya diganjal selotip bening, yang pasti dia kira tidak ada yang memperhatikan. Mata cokelat yang menyipit penuh dendam.
Enak. Mentalnya yang nggak.
Dendy mendengus lagi sekarang, sendirian di balik meja katalog, mengingatnya. Lalu berhenti. Menatap tangannya sendiri seperti menatap barang yang bukan miliknya.
Tawanya tadi juga bukan aturan.
Tabung gambar itu tergeletak miring di ujung meja kaca, setengah tertutup katalog Kesegaran Pagi. Hitam, sedikit penyok di satu sisi, dengan stiker nama besar yang ditulis spidol perak. Ada stiker lain yang lebih kecil di dekat tutupnya, kartun kucing memakai helm proyek.
Dendy mengangkatnya. Lebih berat dari dugaannya. Gambar kerja lengkap, pasti. Satu set revisi. Mungkin tiga minggu kerja seseorang yang terbiasa menghapus garis sampai kertasnya tipis.
Dia seharusnya menyuruh Ujang mengantarnya ke studio. Itu yang efisien. Itu yang dilakukan pemilik toko yang sibuk.
Sebaliknya, dia mengambil ponsel, memotret tabung itu di atas meja, lalu berhenti dengan jempol melayang di atas tombol kirim.
Kopinya belum ada.
Dia berjalan ke dapur kecil di belakang gudang. Ruangan sempit dengan kompor satu tungku, rak piring plastik, dan jendela kecil yang menghadap tembok tetangga. Dia menjerang air. Mengambil stoples kaca berisi kopi robusta yang digiling kasar dari Temanggung. Satu sendok makan penuh ke gelas bening bergagang. Lalu gula aren, bukan gula pasir, diserut tipis dengan pisau dari bongkahan cokelat gelap yang dibungkus daun pisang kering.
Ina yang memulai ini. Dia bilang gula pasir itu untuk orang yang tidak sabar. Gula aren larut pelan, manisnya dalam, ada sedikit rasa asap di ujungnya. Kayak kamu, katanya sambil tertawa. Lama panasnya, tapi awet.
Air mendidih. Dendy menuangnya dari ketinggian sejengkal, membiarkan bubuk kopi berputar dan naik ke permukaan seperti lumpur hangat. Aroma pahit-manis memenuhi dapur sempit itu.
Dia membawa gelas itu ke meja katalog. Menaruhnya di samping tabung. Memotret ulang.
Kirim.
Dendy Hermawan: Ketinggalan, Mbak. Aman di sini. Saya jagain sampai diambil.
Aturan empat. Suguhkan kopi.
Itu yang dia katakan pada dirinya sendiri.
Dua puluh tiga menit kemudian, mobil yang sama berhenti di depan toko dengan sedikit terlalu mendadak. Pintu penumpang terbuka sebelum mesin mati.
Dendy melihatnya dari balik rak cat. Dia tidak bermaksud mengintip. Kebetulan saja rak cat itu punya celah pas setinggi mata.
Sabine Sulakso turun dengan langkah yang jelas-jelas sedang berusaha terlihat santai dan gagal total. Dia melompati genangan yang tadi mengkhianatinya, mendarat dengan hak yang sedikit oleng, lalu menarik napas di depan pintu toko seperti atlet sebelum lompat galah. Ujung celana kulotnya masih bernoda abu-abu. Sebagian rambut ikalnya lepas dari gelombang yang tadi pagi pasti ditata susah payah, satu helai jatuh melintang di pipi, dan dia meniupnya ke atas dengan kesal.
Di mobil, temannya yang gondrong melambai ke arah toko. Ke arah Dendy. Seolah dia tahu persis di mana Dendy berdiri.
Dendy mundur satu langkah dari celah rak.
Lalu dia berjalan ke meja katalog dengan kecepatan orang yang kebetulan lewat. Senyum. Aturan satu.
“Mbak Sabine.”
Aturan dua.
“Mas Dendy.” Dia berhenti tiga langkah dari meja, menjaga jarak seperti Dendy adalah anjing tetangga yang belum jelas jinak atau tidak. Suaranya sudah kembali ke nada normal, rendah dan jernih, tapi telinganya masih kemerahan. “Maaf merepotkan. Saya ceroboh.”
“Nggak repot. Tabungnya nggak rewel.” Dia mendorong gelas kopi sedikit ke depan. “Ini buat Mbak. Masih hangat.”
Sabine melirik gelas itu. Lalu melirik Dendy.
“Mas bikinin kopi buat semua orang yang ketinggalan barang?”
“Buat semua pelanggan.”
“Semua?”
“Hampir semua. Pak Haji Umar tadi nolak. Katanya lambungnya lagi protes.”
Bibirnya berkedut. Dia menahannya, dan Dendy memperhatikan caranya menahan. Gigi atas menggigit bibir bawah sedikit, lalu dilepas. Bibir yang dilapisi lipstik warna nude yang sudah setengah pudar, mungkin karena terlalu sering digigit sepanjang pagi.
Dendy berhenti memperhatikan.
“Oke,” kata Sabine. Dia mengulurkan tangan ke gelas itu.
Dendy mengangkatnya pada saat yang sama, berniat memberikannya langsung, dan jari-jari mereka bertemu di badan gelas yang panas.
Seharusnya itu satu detik. Seharusnya salah satu dari mereka menarik diri.
Tapi gelasnya panas, dan dia takut Sabine akan menumpahkannya kalau dia melepas terlalu cepat, dan Sabine sepertinya berpikir hal yang sama, jadi untuk satu, dua, tiga detik yang terlalu panjang mereka berdua memegang gelas itu bersamaan. Jari telunjuknya di atas jari tengah Sabine. Kulitnya lebih halus dari yang ia kira, sedikit dingin dari AC mobil, dan ada noda tinta biru di sisi jari tengahnya, tepat di tempat pulpen biasa bertumpu, noda yang sudah menetap begitu lama sampai jadi bagian dari tangan itu sendiri.
Dendy melepaskan gelasnya.
Sabine menariknya ke dada dengan dua tangan, seperti sesuatu yang harus diamankan.
Tidak ada yang bicara selama sesaat.
Dendy tidak ingat kapan terakhir kali dia sadar akan tangannya sendiri. Tangannya adalah alat. Untuk mengangkat, menghitung, menandatangani, menyalami. Tapi sekarang tangan kanannya terasa aneh, seperti baru dipasang, seperti ujung-ujung jarinya masih menyimpan panas gelas dan sesuatu yang lain.
Dia memasukkan tangan itu ke saku celana.
“Diminum, Mbak,” katanya. Suaranya keluar lebih serak dari rencananya. “Keburu ampasnya naik.”
Sabine meniup permukaan kopi. Menyesap. Matanya melebar sedikit di balik kacamata.
“Ini gula aren?”
“Iya.”
“Enak.” Dia menyesap lagi, lebih lama. “Serius enak. Kayak kopi di rumah nenek saya di Klaten dulu.”
“Resep lama.”
“Resep Mas?”
Pertanyaan sederhana. Dendy sudah menjawab pertanyaan itu puluhan kali dengan satu kata: iya. Lebih mudah. Lebih rapi. Tidak ada yang perlu dijelaskan.
“Resep keluarga,” katanya.
Sabine mengangguk, tidak curiga apa-apa, dan memeluk gelas itu sambil bersandar ke meja kaca. Dia terlihat lebih tenang sekarang. Bahunya turun. Satu kakinya bertumpu miring, hak sepatunya diangkat sedikit dari lantai, dan Dendy menduga kakinya sudah pegal sejak jam sembilan pagi.
“Mas,” katanya. “Saya mau nanya satu hal. Tapi Mas harus jujur.”
“Tergantung pertanyaannya.”
“Ini nggak ada hubungannya sama proyek. Tapi udah ganggu saya dari tadi.” Dia meletakkan gelas, meraih katalog cat interior yang masih terbuka, dan membalik halamannya dengan jari telunjuk yang bernoda tinta. Berhenti di satu halaman. Mengetuk dua kotak warna yang bersebelahan. “Putih Tulang. Putih Gading. Bedanya apa?”
Dendy mencondongkan tubuh. Dua kotak kecil, sama-sama putih kekuningan. Sama-sama pucat. Kalau ditaruh di dinding dan dilihat dari jauh, mungkin memang tidak ada yang bisa membedakannya kecuali orang yang menjual cat seumur hidupnya.
“Gading lebih hangat,” katanya. “Ada sedikit pigmen merahnya. Tulang lebih ke abu-abu.”
“Mas bohong.”
“Saya jualan cat dari SMA, Mbak.”
“Saya lulusan arsitektur, Mas. Empat tahun kuliah, dua tahun kerja, saya ngeliatin warna tiap hari sampai mata saya kering. Dan saya bilang,” dia mengetuk dua kotak itu bergantian, tok, tok, “ini warna yang sama. Cuma namanya aja yang beda. Kayak mantan yang ganti nomor. Orangnya sama, nomornya baru, tetap aja bikin masalah.”
Dendy tertawa.
Bukan senyum. Bukan dengusan pendek seperti tadi pagi. Tawa yang meledak dari perutnya, keras dan jelek, sampai dia harus mencengkeram tepi meja kaca supaya tidak terbungkuk. Suaranya memantul di antara rak-rak besi dan pipa-pipa PVC dan kaleng-kaleng cat, dan dia tidak bisa menghentikannya, karena setiap kali dia mencoba, dia melihat wajah Sabine yang serius sekali, alis bertaut, jari masih menempel di katalog seperti jaksa yang menunjuk barang bukti.
Di meja kasir, Bu Tuti berhenti menghitung. Kalkulatornya diam.
Ujang, yang sedang lewat membawa gulungan kawat, berhenti di tengah jalan dan menatap bosnya dengan mulut sedikit terbuka.
Dua tukang di pintu ikut menoleh.
Dendy akhirnya berhasil menegakkan tubuh. Mengusap sudut mata dengan punggung jari. Napasnya masih pendek-pendek.
“Oke,” katanya. “Oke. Itu... itu bagus.”
“Saya nggak lagi ngelawak, Mas.”
“Saya tahu. Itu yang bikin lucu.”
Sabine menatapnya. Lama. Ada sesuatu yang bergerak di balik matanya, seperti seseorang yang sedang mengukur ulang ruangan yang dia kira sudah ia hafal. Lalu dia tersenyum. Pelan. Tidak lebar, tidak rapi. Senyum miring yang lebih tinggi di satu sisi, tanpa sadar meniru senyum Dendy sendiri.
“Kapan-kapan saya bawa kartu warna dari studio,” katanya, mengambil tabung gambarnya dan menyelempangkannya di bahu. “Kita adu. Siapa yang salah, traktir kopi.”
“Kopi di sini gratis, Mbak.”
“Ya udah, yang salah traktir martabak.”
Dia berjalan ke pintu. Kali ini tidak terburu-buru. Hak sepatunya masih berbunyi di lantai semen, tapi temponya lebih lambat, lebih santai, dan di ambang pintu dia menoleh sekali, cepat, seperti mau memastikan sesuatu. Lalu dia melompati genangan dengan sempurna dan masuk ke mobil.
Temannya yang gondrong menyalakan klakson dua kali. Ramah. Terlalu ramah.
Dendy melambai. Mobil itu pergi.
Dia berdiri di sana lama setelah debu jalan turun.
“Mas.”
Bu Tuti memandanginya dari balik kacamata bertali manik-manik. Wajahnya datar. Terlalu datar. Wajah orang yang sudah bekerja di toko ini sejak zaman Pak Hermawan masih muda, dan sudah melihat segalanya.
“Kenapa, Bu?”
“Nggak.” Dia kembali ke kalkulatornya. Tik. Tik. Tik. “Cuma baru dengar Mas ketawa kayak gitu.”
Dendy tidak menjawab.
Dia berjalan ke kantor kecil di belakang meja kasir, menutup pintunya, dan duduk di kursi putar yang busanya sudah bocor di satu sisi. Meja penuh nota. Kalender dari pabrik semen. Kipas angin kecil yang berderit.
Dan di dinding, di atas lemari arsip, foto berbingkai kayu jati.
Dia tidak perlu mendongak untuk tahu apa isinya. Dua orang di pelaminan dengan latar dekorasi bunga melati. Dia dalam beskap hitam, kaku, tidak tahu harus meletakkan tangan di mana. Dan di sebelahnya, perempuan berkebaya putih yang tertawa ke arah kamera dengan mata menyipit sampai hilang, karena tepat sebelum foto diambil, Dendy membisikkan sesuatu yang bodoh ke telinganya.
Dia tetap mendongak.
Ina tertawa balik padanya dari balik kaca yang sedikit berdebu.
Nah. Gitu. Jangan kayak orang mau nagih utang.
Dendy menatap foto itu sampai kipas angin berderit tiga kali. Lalu dia menunduk, menarik satu tumpukan nota ke depannya, dan mulai menghitung. Angka-angka. Stok semen. Utang toko besi di Cikarang. Hal-hal yang masuk akal.
Tawa itu tidak ada di aturan mana pun.
Dia tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Malamnya, seperti setiap Senin, dia makan di rumah orang tuanya.
Rumah tua di belakang kompleks pertokoan, dua lantai, dengan pohon mangga yang sudah terlalu besar untuk halamannya dan pagar besi yang catnya ia perbarui sendiri setiap dua tahun. Mama memasak sayur asem dan ikan asin. Televisi menyala tanpa ada yang menonton. Suara jangkrik dari kebun belakang.
Papa duduk di ujung meja, masih memakai kemeja lengan pendek yang sama sejak pagi. Hermawan Wibowo, enam puluh tiga tahun, dulu bisa mengangkat dua sak semen sekaligus dan membentak supplier sampai mereka menurunkan harga. Sekarang dia lebih banyak diam, dan Dendy tahu itu bukan karena damai.
“Stok besi aman?” tanya Papa.
“Aman, Pa. Cikarang kirim Kamis.”
“Utangnya?”
“Udah dicicil. Nggak usah dipikirin.”
Papa mengangguk. Mengangkat gelas teh manisnya.
Tangannya gemetar.
Tidak banyak. Hanya getar halus di pergelangan, seperti daun yang tersentuh angin. Tapi cukup untuk membuat permukaan teh bergelombang, lalu tumpah sedikit, satu garis cokelat tipis di sepanjang taplak plastik bermotif bunga.
Mama langsung mengelapnya dengan serbet. Cepat, tanpa suara, tanpa menatap siapa pun. Seperti dia sudah terlalu sering melakukannya.
Papa meletakkan gelas itu. Menatap tangannya sendiri. Lalu melipatnya di pangkuan, di bawah meja, tempat tidak ada yang bisa melihat.
“Enak sayur asemnya, Ma,” kata Dendy.
“Tambah lagi,” jawab Mama. Suaranya lembut seperti biasa, tapi matanya bertemu mata Dendy di atas meja, sebentar saja, dan di dalamnya ada sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Dendy menambah nasi. Dia tidak lapar.
Rumahnya sendiri gelap saat dia pulang. Rumah kecil satu lantai tiga blok dari toko, yang catnya masih warna yang dulu dipilih bersama, yang tanamannya sudah lama mati kecuali satu lidah mertua di teras yang terlalu keras kepala untuk menyerah.
Dia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Langsung ke meja makan yang lebih sering dipakai sebagai meja kerja, tempat laptop, kalkulator, dan tumpukan katalog menunggu.
Katalog cat interior ada di paling atas. Dia membawanya pulang tanpa sadar.
Dendy membukanya. Tidak mencari apa-apa. Hanya membalik halaman.
Jarinya berhenti di satu halaman.
Dua kotak kecil bersebelahan. Putih Tulang. Putih Gading. Di pojok halaman, ada noda samar berbentuk sidik jari, tinta biru yang sedikit luntur, tepat di tempat jari seseorang mengetuk tadi siang. Tok. Tok.
Dia seharusnya menutup katalog itu.
Dia menatapnya terlalu lama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!