Bab 21 - Draf Keempat Belas, Versi Dendy

0 dibaca

A

Dia menyetir ke rumah keluarga Sulakso.

Dia tidak memutuskan untuk ke sana. Tangannya membelokkan setir sendiri di perempatan dekat rumah sakit, seperti kuda tua yang tahu jalan, hanya saja jalan ini baru ia lewati sekali, empat minggu lalu, dalam hujan, dengan kaca yang berembun dan seseorang yang tidak menoleh.

Jam sembilan kurang sepuluh. Jalanan basah bekas gerimis sore. Lampu-lampu jalan memantul oranye di aspal.

Dia tahu rumah itu dari jauh. Tidak sulit. Tenda putih di halaman depan, diterangi lampu-lampu kecil yang dililitkan di tiang-tiangnya. Mobil-mobil berjejer di sepanjang jalan, parkir dua lapis, sebagian naik ke trotoar. Musik keroncong yang terdengar sampai ke ujung gang. Suara orang-orang. Tawa. Dentang sendok di gelas.

Dendy memperlambat mobil. Berhenti di seberang jalan, di bawah pohon ketapang yang daunnya meneteskan sisa hujan ke kap mesin.

Dia tidak mematikan mesin.

Dari sini, dia bisa melihat ke dalam halaman lewat celah pagar besi hitam yang dibiarkan terbuka. Kursi-kursi berbalut satin krem. Meja prasmanan yang sudah setengah kosong. Backdrop bunga di teras, mawar putih dan sedap malam, dengan tulisan 32 dari huruf-huruf emas.

Dan orang-orang yang berkumpul di depan backdrop itu. Potong kue.

Seorang perempuan paruh baya dengan gamis emas dan kerudung berpayet, memegang pisau kue dengan dua tangan, tertawa. Di sebelahnya, seorang pria tua kurus dengan batik cokelat dan kacamata yang berdebu, tersenyum malu-malu seperti pengantin baru. Di belakang mereka, seorang perempuan dengan kebaya merah marun dan tusuk konde mutiara, menggendong anak kecil dengan gaun putri. Seorang pria dengan kemeja batik yang terlalu rapi, memegang ponsel untuk memotret.

Dan di ujung, sedikit terpisah dari yang lain, seorang perempuan dengan kebaya hijau sage.

Dendy berhenti bernapas.

Dia hampir tidak mengenalinya. Rambut ikal yang biasanya dikuncir asal atau dicepol dengan pensil 2B, sekarang disanggul rendah dan rapi. Tidak ada kacamata. Wajahnya dirias, sesuatu yang ia tidak pernah lihat sebelumnya, pipi yang lebih merah dan bibir yang lebih tegas dan mata yang digaris hitam di pinggirnya. Kebaya brokat yang membalut bahunya, lengan panjang yang sedikit basah di bagian pergelangan, seolah dia baru mencuci sesuatu.

Dia terlihat seperti orang lain.

Lalu dia tertawa. Menoleh ke perempuan berkebaya merah marun, dan tertawa karena sesuatu yang dibisikkan perempuan itu. Dan tawa itu, meski tidak bisa ia dengar dari seberang jalan, adalah tawa yang sama. Tawa yang meledak di antara rak-rak cat. Tawa yang ditahan dengan punggung tangan di gudang merbau. Tawa yang membuat matanya menyipit dan hidungnya berkerut.

Dan di sebelahnya berdiri seorang pria.

Tinggi. Batik kawung warna cokelat keemasan. Rambut klimis yang mengilap di bawah lampu tenda. Dia berdiri dengan tangan terlipat di depan, sopan, rapi, persis di tempat seharusnya seseorang berdiri di foto keluarga. Saat perempuan bergamis emas memotong kue, pria itu bertepuk tangan. Saat semua orang berpose untuk foto, pria itu bergeser sedikit mendekat ke kebaya hijau sage, supaya masuk frame.

Mereka terlihat cocok. Itu yang paling menyakitkan.

Mereka terlihat seperti orang-orang yang seharusnya ada di foto keluarga. Batik yang serasi. Senyum yang pas. Tidak ada debu semen di bawah kuku. Tidak ada hantu.

Dendy menggenggam setir. Keras.

Dia bisa turun sekarang. Menyeberang jalan. Masuk lewat pagar yang terbuka. Berjalan menembus tenda, melewati lima puluh orang dan meja prasmanan dan backdrop bunga, sampai ke depan perempuan berkebaya hijau sage.

Dan bilang apa?

Maaf aku ganggu syukuran orang tuamu. Aku tahu kamu udah tahu soal Ina. Aku ngajak kamu ke warung bakso tempat aku sama dia makan tiap Kamis tanpa sadar. Aku cium kamu dua kali dan dua kali aku nggak bilang apa-apa. Papaku stroke. Aku takut. Tapi aku tetap mau.

Di depan ibunya. Di depan pria dengan batik kawung. Di depan anak kecil bergaun putri yang pernah mengumumkan ke seluruh pesta bahwa pacar tantenya tukang bangunan.

Dia membayangkan wajah Sabine. Terkejut. Malu. Dipaksa memilih di depan semua orang yang ia kenal. Dan dia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa itu bukan tentang Sabine. Itu tentang dirinya sendiri. Tentang dia yang akhirnya berani, dan ingin semua orang melihatnya berani.

Sabine tidak butuh itu. Sabine butuh seseorang yang datang dengan tangan kosong. Bukan seseorang yang datang dengan membawa kenangan orang lain di punggungnya.

Dendy menatap kebaya hijau sage itu sekali lagi. Perempuan itu sedang membungkuk sekarang, mengambil anak kecil bergaun putri dari gendongan kakaknya, dan menciumi pipinya sampai anak itu tertawa dan menjerit.

Dia melepaskan setir.

Memasukkan gigi. Menginjak gas pelan.

Mobil SUV tua abu-abu itu bergerak dari bawah pohon ketapang, melewati rumah dengan tenda putih dan keroncong dan tawa, dan tidak ada seorang pun di dalamnya yang menoleh.


Toko gelap. Semua rolling door sudah diturunkan. Dendy membuka pintu samping dengan kunci yang ia simpan di gantungan bersama kunci mobil dan kunci rumah dan satu kunci kecil yang tidak ia ingat lagi untuk apa.

Dia tidak menyalakan lampu toko. Dia berjalan dalam gelap, melewati rak-rak cat dan pipa-pipa PVC dan tumpukan semen, dengan langkah yang sudah hafal setiap jengkal lantai ini. Ke kantor kecil di belakang meja kasir.

Dia menyalakan lampu kantor. Satu bohlam di langit-langit, kuning dan redup.

Meja penuh nota. Kalender dari pabrik semen. Kipas angin kecil yang diam.

Dan di dinding, di atas lemari arsip, foto berbingkai kayu jati.

Dendy berdiri di depannya.

Tujuh tahun foto itu tergantung di sana. Dia yang memasangnya, dua minggu setelah pemakaman, dengan paku beton dan palu kecil, karena rumahnya terlalu kosong dan dia tidak sanggup melihat foto itu setiap pagi di dinding ruang tamu. Di kantor, dia pikir, foto itu bisa menemaninya bekerja. Bisa mengawasi. Bisa mengingatkannya pada aturan satu, dua, tiga, empat.

Dan foto itu melakukannya. Setiap hari. Setiap kali dia duduk di kursi putar yang busanya bocor, setiap kali dia menghitung stok dan utang dan harga semen, dia mendongak dan Ina tertawa balik padanya dari balik kaca yang berdebu. Mengawasi. Mengingatkan.

Menjaga.

Seperti penjaga pintu yang tidak pernah pulang.

Dendy menarik kursi putar ke bawah lemari arsip. Naik ke atasnya. Kursi itu bergoyang, berderit, satu rodanya macet. Dia menahan keseimbangan dengan satu tangan di dinding.

Dia mengulurkan tangan dan memegang bingkai itu. Dua sisi. Kayu jati yang halus, sedikit berdebu.

Lalu dia mengangkatnya dari paku.

Lebih ringan dari yang ia kira. Tujuh tahun, dia membayangkan foto ini seberat batu nisan. Tapi ternyata hanya bingkai kayu dan kaca dan selembar kertas foto. Dia bisa memegangnya dengan satu tangan.

Di dinding, di tempat foto itu tergantung, ada persegi panjang yang warnanya lebih terang dari cat di sekelilingnya. Bekas. Tujuh tahun tidak kena cahaya. Putih krem yang masih bersih, dikelilingi putih krem yang sudah menguning.

Dendy turun dari kursi. Memegang foto itu di depan dadanya. Menatapnya.

Dia dalam beskap hitam dan blangkon. Kaku. Tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

Ina dalam kebaya putih. Tertawa. Mata menyipit sampai hilang. Kepala miring ke arahnya.

Dia masih ingat apa yang ia bisikkan tepat sebelum foto ini diambil. Fotografer sudah menghitung, satu, dua, dan Dendy mencondongkan tubuh ke telinga Ina dan berbisik, Tadi pas ijab kabul, aku hampir salah sebut nama bapakmu.

Dan Ina tertawa. Tawa yang ada di foto ini selamanya.

Dendy tersenyum. Kecil. Matanya panas, tapi dia tersenyum.

“Aku nggak buang kamu, In,” katanya pelan ke foto itu. “Aku cuma pindahin kamu. Ke tempat yang lebih bagus.”


Rumah orang tuanya masih terang. Lampu teras menyala. Lampu ruang tengah juga.

Mama belum tidur. Dia membuka pintu sebelum Dendy mengetuk, masih dengan kardigan abu-abu di atas daster, kacamata baca tergantung di leher, rajutan setengah jadi di tangan. Dia pasti mendengar mobil.

Dia menatap wajah Dendy. Lalu menatap foto yang dipegangnya di depan dada.

Dia tidak bertanya.

Dia hanya membuka pintu lebih lebar. Dan saat Dendy masuk, dia menutupnya pelan, lalu berjalan ke kamarnya sendiri tanpa bicara. Dendy mendengar lemari dibuka. Laci ditarik. Sesuatu dicari.

Mama kembali membawa selembar kain.

Kain jarik. Batik tulis warna cokelat tua dengan motif sidomukti, motif yang dipakai untuk pengantin, yang katanya membawa kebahagiaan dan kemakmuran. Kain yang sudah dilipat rapi, sedikit berbau kapur barus.

Dendy mengenalinya. Kain itu bagian dari seserahan. Salah satu dari sembilan kain yang ia bawa ke rumah keluarga Suranda di hari lamaran, dalam kotak kayu berhias pita emas, yang dibawa pulang lagi setelah pemakaman oleh keluarga Ina karena mereka bilang barang-barang ini milik keluarga Hermawan sekarang.

Mama menyimpannya. Tujuh tahun.

Mereka duduk di lantai ruang tengah, di atas karpet tua bermotif persia yang benangnya sudah tipis di tengah. Mama membentangkan kain jarik. Dendy meletakkan foto di atasnya, kaca menghadap ke atas.

Mama mengambil sapu tangan dari saku daster. Membersihkan kaca foto itu. Pelan. Dari sudut ke sudut. Debu tujuh tahun terangkat, dan wajah Ina di balik kaca jadi lebih jernih, lebih terang, seperti orang yang baru membuka jendela.

Lalu Mama berhenti. Menatap foto itu lama.

“Dia cantik sekali hari itu,” katanya.

“Iya, Ma.”

“Kamu kayak patung.”

“Iya, Ma.”

Mama tertawa kecil. Lalu melipat kain jarik itu di atas foto. Sisi kiri. Sisi kanan. Atas. Bawah. Rapi, seperti membungkus hadiah. Seperti membedong bayi.

“Mau ditaruh di mana?” tanya Dendy.

Mama berdiri. Lututnya berbunyi. Dia berjalan ke dinding ruang tengah, dinding yang sejak Dendy kecil penuh dengan foto-foto keluarga. Foto pernikahan Papa dan Mama, hitam putih, dengan sanggul Mama yang setinggi menara. Foto Dendy bayi, telanjang di atas bantal, dengan pipi yang terlalu gembul. Foto Dendy wisuda SD, SMP, SMA, kuliah. Foto Eyang Kakung dan Eyang Putri yang sudah tiada. Foto keluarga di depan toko di hari pembukaan, Papa masih muda dan berotot, Mama menggendong Dendy yang berumur dua tahun.

Di tengah-tengah semua itu, ada satu ruang kosong. Paku yang sudah tertancap, tapi tidak ada yang tergantung.

“Papa pasang paku ini tujuh tahun lalu,” kata Mama. “Seminggu setelah pemakaman. Katanya nanti kalau kamu siap, fotonya ditaruh di sini. Sama keluarga.”

Dendy menatap paku itu.

Tujuh tahun. Paku itu menunggu tujuh tahun.

Mama membuka kembali lipatan kain jarik di bagian atas, cukup untuk mengeluarkan kaitan di belakang bingkai. Dendy mengangkat foto itu. Menggantungkannya di paku. Meluruskannya sedikit ke kiri, sedikit ke kanan, sampai sejajar dengan foto pernikahan Papa dan Mama di sebelahnya.

Mama melipat kain jarik itu jadi selendang kecil dan menyampirkannya di atas bingkai, menutupi sudut atasnya. Seperti kerudung.

Mereka mundur. Berdiri berdampingan. Menatap dinding.

Ina di antara mereka semua. Di antara Papa dan Mama muda, Dendy bayi, Eyang Kakung dan Eyang Putri. Tertawa dengan kebaya putih, kepala miring ke arah laki-laki kaku dalam beskap hitam.

Bukan lagi penjaga di kantor. Bukan lagi mata yang mengawasi dari atas lemari arsip.

Keluarga.

“Di sini dia nggak sendirian,” kata Mama pelan.

Dendy tidak bisa bicara. Dia hanya mengangguk.

Mama meraih tangannya. Meremasnya. Lalu melepaskannya dan berjalan ke dapur.

“Mama bikinin teh,” katanya. “Terus kamu pulang. Tidur. Besok kamu harus ke site. Basko bilang cuaca besok jelek.”


Rumahnya sendiri gelap. Seperti biasa.

Tapi malam ini, saat dia menyalakan lampu ruang makan, dia tidak langsung duduk di kursinya dan menatap kursi kosong di seberang. Dia berdiri di tengah ruangan sebentar. Menatap meja. Laptop. Katalog cat interior yang masih terbuka di halaman yang sama. Tisu cokelat terlipat.

Dia duduk. Membuka WhatsApp.

Chat Sabine. Oke, semangat ya. Dua puluh satu hari yang lalu.

Dia mengetik.

Sabine. Aku tahu kamu sudah tahu soal Ina. Aku tahu dari notifikasi Instagram. Aku tahu kamu nggak pernah bilang apa-apa karena kamu jagain Pak Jarwo, dan mungkin jagain aku juga. Aku nggak pantas dijagain. Aku ngajak kamu ke warung bakso tempat aku dulu makan sama dia tiap Kamis. Aku nggak sadar. Tujuh tahun kakiku jalan ke sana sendiri. Tapi itu bukan alasan. Papaku stroke di hari kayu jati telat. Aku di rumah sakit. Aku nggak bisa angkat telepon siapa pun. Tapi itu juga bukan alasan. Aku...

Dia berhenti. Membaca ulang. Terlalu panjang. Terlalu banyak alasan. Seperti laporan kecelakaan kerja.

Hapus.

Aku kangen kamu.

Tiga kata. Dia menatapnya. Terlalu sedikit. Terlalu mudah. Tiga kata yang tidak menjelaskan apa-apa, dikirim setelah tiga minggu diam, ke perempuan yang malam ini berdiri di foto keluarga dengan laki-laki lain.

Hapus.

Selamat atas syukuran orang tuamu.

Hapus. Hapus. Hapus.

Kamu cantik malam ini.

Dia tidak seharusnya melihat. Dia tidak seharusnya ada di sana, di bawah pohon ketapang, mengintip lewat pagar orang.

Hapus.

Putih Tulang sama Putih Gading itu beda. Aku bisa buktiin.

Dia tersenyum sedikit. Lalu senyumnya hilang.

Hapus.

Boleh nggak aku cat kamu di luar urusan kerjaan?

Dia menatap kalimat itu lama sekali. Kalimat Sabine. Dengan typo-nya. Yang ia baca jam dua belas lewat tiga dan tertawa sendirian di meja ini, sebelum kalender berbunyi.

Kalau dia kirim ini, Sabine akan tahu. Akan ingat. Akan mengerti bahwa dia menyimpannya. Bahwa dia masih di sana, di jam dua belas lewat tiga, dengan tawa yang terpotong.

Atau Sabine akan membacanya dan merasa diejek. Di malam syukuran. Dengan laki-laki lain yang mengantarnya pulang.

Hapus.

Draf kesembilan. Kesepuluh. Kesebelas. Dia mencoba dengan kalimat formal, dan terdengar seperti surat pengajuan kredit. Dia mencoba dengan kalimat santai, dan terdengar seperti orang mabuk. Dia mencoba dengan satu emoji, kucing abu-abu yang memberi hormat, dan menghapusnya sebelum jempolnya sampai ke tombol kirim.

Draf ketiga belas. Draf keempat belas.

Sabine. Aku mau ngomong. Bukan lewat sini.

Dia menatap kalimat itu. Lima kata. Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emoji.

Jempolnya melayang di atas tombol kirim.

Lalu dia menghapusnya juga. Huruf demi huruf. Dan meletakkan ponsel di meja dengan layar ke bawah.

Dia tidak tahu, dan tidak akan tahu sampai lama kemudian, bahwa empat minggu lalu, di kamar yang berjarak tiga kilometer dari sini, seseorang melakukan hal yang sama. Empat belas draf. Satu typo. Satu pesan yang akhirnya terkirim, dan dibaca tiga menit setelah tengah malam, dan tidak pernah dibalas.

Dia hanya tahu bahwa kata-kata di layar tidak cukup. Tidak pernah cukup. Dia sudah bersembunyi di balik layar ini terlalu lama. Di balik grup yang dibalas dalam satu menit. Di balik chat pribadi yang dibiarkan abu-abu. Di balik emoji tangan terkatup dan semangat ya.

Sabine pantas mendapatkan sesuatu yang lain. Sabine pantas melihat wajahnya.

Dia menarik katalog cat ke depannya. Halaman yang terbuka. Putih Tulang, Putih Gading. Noda sidik jari tinta biru yang hampir pudar di pojok halaman.

Dia memegang tepi halaman itu. Dan merobeknya. Pelan. Hati-hati. Mengikuti garis jilid, supaya robekannya lurus.

Selembar kertas mengilap, dua kotak warna yang hampir sama, dan satu sidik jari yang sudah hampir hilang.

Dia melipatnya jadi empat. Membuka dompetnya. Menyelipkannya di balik KTP, di tempat yang dulu menyimpan pas foto seorang perempuan dengan kuncir dua dan pita putih, yang sekarang tergantung di dinding rumah ibunya bersama seluruh keluarga.

Lalu dia mengambil tisu cokelat. Membukanya. D. S. takut. tetap.

Dia melipatnya lagi. Menyelipkannya di dompet juga. Di sebelah halaman katalog.

Di luar, angin mulai bertiup. Dia bisa mendengarnya di antara genteng, di daun-daun pohon mangga tetangga, di jendela dapur yang tidak tertutup rapat dan berdetak-detak pelan. Angin yang basah dan berat, yang membawa bau hujan dari jauh.

Ponselnya bergetar sekali. Grup proyek.

Basko: Info BMKG besok siang potensi hujan lebat + angin kencang. Semua tukang siaga. Terpal dicek ulang pagi2 🙏

Basko: Bu arsitek besok ke site kan? Ada pengecekan railing jam 2

Dendy menunggu.

Satu menit kemudian.

Sabine: Iya. Jam 2.

Dua kata. Satu titik.

Dendy menatap nama itu di layar. Lalu mematikan ponsel, mematikan lampu ruang makan, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dia tidak melirik kursi kosong di seberang meja sebelum berjalan ke kamarnya.

Besok. Jam dua. Di site.

Di depan wajahnya. Dengan tangan kosong.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk