Dokter memajukan kepulangan Papa satu hari.
“Tekanannya stabil,” katanya pagi itu, dokter muda yang Papa sebut anak kemarin sore. “Fisioterapi bisa rawat jalan. Siang ini boleh pulang, asal administrasi beres.”
Asal administrasi beres. Dendy seharusnya tahu apa artinya kalimat itu di rumah sakit mana pun di negeri ini.
Jam sebelas, dia mengantre di loket kasir. Jam dua belas, dia mengantre di loket farmasi. Jam dua belas lewat empat puluh, nomor antreannya masih empat puluh tiga, dan layar di atas loket baru menunjukkan angka dua puluh delapan.
Di luar jendela kaca besar lobi farmasi, langit berubah warna.
Pagi tadi biru. Biru pucat dengan awan-awan tipis yang bergerak cepat. Sekarang abu-abu. Lalu abu-abu tua. Lalu sesuatu yang lebih gelap, hampir ungu di bagian barat, seperti memar yang menyebar di kulit. Pohon-pohon angsana di tempat parkir mulai bergoyang. Pelan dulu. Lalu tidak pelan lagi. Daun-daun kuning beterbangan ke udara, berputar, menempel di kaca mobil-mobil yang parkir.
Jam satu lewat lima, hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan rintik yang tenang seperti malam di mobil yang berembun. Hujan yang datang seperti dinding. Satu detik, tempat parkir masih kering. Detik berikutnya, air jatuh dari langit dalam lembaran tebal yang miring karena angin, menghantam kaca lobi dengan bunyi seperti ribuan kerikil dilempar sekaligus. Orang-orang di lobi menoleh. Seorang anak kecil menangis. Lampu di langit-langit berkedip sekali.
Dendy menatap ke luar jendela. Tempat parkir sudah berubah jadi kolam dangkal dalam dua menit. Air mengalir deras di selokan, meluap ke jalan.
Ponselnya bergetar di saku.
Grup proyek.
Basko: TERPAL LANTAI 2 LEPAS LAGI
Basko: angin gila di sini. anak2 turun semua dari perancah. JANGAN ADA YANG NAIK
Pak Jarwo: [pesan suara]
Dendy membukanya. Tidak ada suara molen. Hanya suara angin yang menderu, keras seperti mesin jet, dan di tengahnya suara Pak Jarwo yang berteriak sesuatu yang tidak jelas, dan bunyi seng yang berderak, dan sesuatu yang jatuh.
Tiga detik. Lalu putus.
Tio: sabine masih di dalam bangunan
Tio: dia lagi amanin gambar sama kayu jati buat railing. udah aku suruh keluar dia nggak mau
Basko: @Sabine KELUAR SEKARANG BU
Dendy berdiri.
Dia tidak sadar dia berdiri. Dia hanya tiba-tiba menemukan dirinya di tengah lobi farmasi, dengan ponsel di tangan dan kertas nomor antrean empat puluh tiga yang kusut di kepalan tangan satunya.
Tidak ada balasan dari Sabine.
Dia menelepon.
Nada sambung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Kotak suara.
Dia menelepon lagi. Kotak suara.
Lagi. Kotak suara.
Keempat kalinya. Nada sambung. Nada sambung. Nada sambung.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat...
Dendy menurunkan ponsel. Menatapnya.
Empat kali. Dia menelepon empat kali, dan tidak diangkat.
Dua minggu lalu, di site yang sama, dengan klien yang marah dan tukang yang menunggu, seseorang meneleponnya empat kali. Dan dia tidak mengangkat. Dia sedang duduk di lorong rumah sakit dengan formulir rawat inap di tangan. Dan dia pikir, nanti. Dia pikir, dia bisa menjelaskan nanti.
Sekarang dia yang di ujung telepon yang tidak diangkat. Dan dia tahu persis rasanya.
“Den.”
Mama berdiri di sebelahnya. Kardigan abu-abu, tas besar di bahu berisi baju-baju Papa yang sudah dilipat, wajah yang tenang. Terlalu tenang. Dia menatap ponsel di tangan Dendy. Menatap wajah Dendy.
“Site?” tanyanya.
Dendy mengangguk. Dia tidak bisa bicara.
Mama mengambil kertas nomor antrean yang kusut dari kepalan tangan Dendy. Meratakannya. Memasukkannya ke saku kardigannya.
“Mama yang tunggu obatnya,” katanya. “Nanti Mama sama Papa pulang pakai taksi.”
“Ma, hujannya...”
“Mama udah enam puluh tahun, Den. Mama udah pernah lihat hujan.” Dia mendorong bahu Dendy. Pelan. Ke arah pintu keluar. “Pergi.”
Jalanan sudah menjadi sungai.
Air cokelat mengalir di sepanjang jalan raya, setinggi mata kaki di bagian yang tinggi, setinggi lutut di bagian yang rendah. Mobil-mobil berhenti di pinggir jalan dengan lampu hazard berkedip. Motor-motor didorong pengendaranya yang basah kuyup, mesin mati kemasukan air. Pohon-pohon di median jalan membungkuk ke satu arah, dahan-dahannya melambai seperti tangan orang yang tenggelam. Spanduk-spanduk robek. Sebuah papan reklame di atas ruko berderak dan berayun, satu sudutnya sudah lepas dari rangka.
Wiper bergerak secepat yang bisa. Kiri, kanan. Kiri, kanan. Tidak cukup. Air menghantam kaca depan lebih cepat dari yang bisa disapu, dan dunia di luar hanya kabur. Lampu-lampu merah dan kuning yang menyebar seperti cat basah. Bentuk-bentuk gelap yang bergerak.
Dendy menyetir dengan dua tangan. Mencengkeram setir sampai buku jarinya memutih.
SUV tua itu tinggi. Itu satu-satunya hal baik soal mobil ini. Bannya besar dan knalpotnya di atas, dan dia pernah menerobos banjir setinggi pinggang waktu mengantar semen ke kompleks perumahan di pinggir kota. Tapi itu siang hari, dengan hujan yang sudah reda, dan dia tidak sedang...
Dia tidak sedang apa?
Tangannya gemetar. Dia menyadarinya di lampu merah pertama. Getaran halus di jari-jari yang mencengkeram setir. Dia mengepalkan tangan lebih keras. Getaran itu tidak berhenti.
Hujan di kaca depan.
Wiper bergerak.
Kiri. Kanan.
Kamis malam. Hujan juga. Tidak sederas ini, tapi hujan. Ina di jok penumpang, pucat, berkeringat, memeluk perutnya sendiri. Bilang dia nggak apa-apa. Bilang cuma masuk angin. Bilang nggak usah ke IGD, besok aja ke klinik.
Dendy menyetir mobil ini. Mobil yang sama. Jok yang sama. Wiper yang sama. Kiri, kanan.
Dia menyetir terlalu cepat. Menerobos lampu merah. Ina tertawa lemah dan bilang dia seperti sopir angkot.
Itu terakhir kali Ina duduk di mobil ini.
Klakson.
Dendy tersentak. Lampu sudah hijau. Mobil di belakangnya mengklakson lagi, panjang dan marah.
Dia menginjak gas. Mobil melaju, menembus genangan yang memercik tinggi ke kedua sisi seperti sayap.
Tangannya masih gemetar. Napasnya pendek-pendek. Di dadanya, sesuatu mengencang, seperti tali yang ditarik dari dua arah. Dia mengenal perasaan ini. Dia sudah mengenalnya tujuh tahun. Perasaan yang datang setiap kali dia mendengar kata observasi, setiap kali dia mencium bau antiseptik, setiap kali dia melihat lorong dengan kursi plastik biru.
Takut.
Tisu cokelat di dompetnya, di sebelah KTP. takut.
Dia menyetir lebih cepat.
Di bawah kata itu, di lingkaran yang sama, ada satu kata lagi. Yang ia tulis sendiri, di bangku rumah sakit, dengan kepala Mama di bahunya.
tetap.
Jalan Trembesi terputus di tengah. Pohon tumbang. Batang besar yang melintang di jalan, akarnya mencuat dari aspal yang retak, dahan-dahannya menutupi kedua jalur. Dua motor terjebak di baliknya. Seorang polisi dengan jas hujan kuning mengarahkan mobil untuk putar balik.
Dendy memutar setir. Masuk gang di sebelah kiri. Gang sempit yang hanya cukup untuk satu mobil, dengan rumah-rumah di kedua sisi dan got yang sudah meluap. Air di sini lebih tinggi. Setinggi lutut. Setinggi bemper. Mesin menderu. Air cokelat memercik ke kaca samping.
Dia tidak berhenti.
Dia keluar di ujung gang, di jalan yang lebih kecil, lalu belok kanan, lalu kiri, lalu kanan lagi. Dia tahu jalan-jalan ini. Dia mengantar semen ke setiap rumah di kawasan ini selama lima belas tahun. Dia tahu gang mana yang tembus dan mana yang buntu, mana yang lebih tinggi dan mana yang selalu banjir.
Jam dua kurang tujuh menit, dia melihat pohon trembesi.
Site itu seperti medan perang.
Pohon trembesi raksasa di depan bangunan tua itu mengamuk. Dahan-dahannya yang besar menghantam udara, melempar daun-daun dan ranting-ranting ke segala arah. Satu dahan sebesar paha orang dewasa sudah patah dan jatuh di atas tumpukan pasir, menghancurkan separuh tumpukan batu bata di sebelahnya.
Bedeng seng berderak. Atapnya bergetar, satu lembar sudah terangkat di sudut dan berkibar-kibar seperti bendera. Di dalamnya, tukang-tukang berdesakan, basah kuyup, menatap ke luar dengan wajah pucat.
Dan bangunan itu sendiri.
Perancah bambu yang menutupi separuh fasad bergoyang. Bukan bergoyang pelan. Bergoyang seperti pohon di tengah topan, bambu-bambu yang diikat dengan kawat berderit dan mengerang, sambungan-sambungannya melengkung. Terpal biru di atap lantai dua sudah lepas dari sebagian besar ikatannya. Kain plastik raksasa itu mengembang dan mengempis dengan setiap embusan angin, berkibar dan menghantam, seperti layar kapal yang tiangnya patah. Bunyinya seperti tembakan. DAR. DAR. DAR.
Dendy tidak mematikan mesin. Dia bahkan tidak menutup pintu mobil.
Hujan langsung membasahinya. Dalam lima detik, kemejanya menempel di kulit. Dalam sepuluh detik, air mengalir dari rambutnya ke mata, ke mulut, ke leher. Angin mendorongnya ke samping. Dia harus condong ke depan untuk berjalan.
“DEN!”
Basko. Berdiri di pintu bedeng dengan jas hujan plastik yang sudah robek di satu sisi, rambut menempel di dahi, wajah yang biasanya selalu tertawa sekarang tegang dan pucat.
“Dia di mana?” Dendy harus berteriak untuk bisa didengar di tengah angin.
“Di dalam!” Basko menunjuk bangunan. “Lantai satu! Sisi timur! Nutupin kayu jati! Udah gue suruh keluar tiga kali, Den! Tiga kali! Dia bilang dua menit lagi!”
Pak Jarwo muncul di sebelah Basko. Helm kuningnya yang retak masih di kepala, air mengalir dari tepinya. Dia memegang lengan Dendy. Keras.
“Perancahnya, Mas,” katanya. Suaranya tidak berteriak. Justru pelan. Dan pelannya itu yang membuat Dendy takut. “Perancah sisi timur. Sambungannya udah miring dari tadi. Saya nggak tahu berapa lama lagi.”
Dendy melepaskan tangan Pak Jarwo dan berlari.
Di dalam, lebih gelap dari luar.
Lampu kerja di tiang-tiang sudah mati. Mungkin kabelnya putus. Mungkin genset di belakang kemasukan air. Satu-satunya cahaya datang dari jendela-jendela tinggi tanpa kaca, cahaya abu-abu yang pucat dan tidak cukup, dan setiap beberapa detik, kilatan petir yang membuat semuanya putih sesaat, lalu gelap lagi.
Hujan masuk dari mana-mana. Dari jendela. Dari lubang-lubang di atap lantai dua yang sedang dibongkar. Dari celah antara dinding dan perancah. Lantai beton yang retak-retak seperti peta kepulauan Maluku sekarang tergenang air setinggi mata kaki, dan air itu bergerak, mengalir ke sudut-sudut, membawa serbuk kayu dan puntung rokok dan potongan kertas.
Bunyinya memekakkan. Hujan di atap seng yang tersisa. Terpal di atas yang menghantam-hantam. Angin yang menderu lewat jendela-jendela kosong seperti suara orang yang meraung. Perancah di luar dinding timur yang berderit dan mengerang.
“SABINE!”
Suaranya hilang di tengah semua itu.
Dia berlari ke sisi timur. Ke dinding yang dulu dia ketuk dengan palu kecil untuk mengecek kelembapan. Ke tempat di mana dulu bibir seseorang tidak sengaja mendarat di pipinya.
Dan dia melihatnya.
Sabine berjongkok di depan tumpukan kayu jati. Delapan belas batang untuk tangga dan railing, yang diantar Ujang jam tiga sore dua minggu lalu, yang membuat Pak Wiwik marah dan tukang-tukang menunggu setengah hari. Dia sedang menarik terpal plastik biru di atasnya. Menariknya dengan dua tangan, melawan angin yang masuk dari jendela di sebelahnya, yang terus mengangkat ujung terpal dan melemparnya kembali.
Rompi proyek oranye. Kaus hitam di bawahnya yang basah kuyup dan menempel di punggung. Jins yang gelap karena air. Kets putih yang terendam genangan. Tabung gambar hitam dengan stiker kucing berhelm tersampir di punggungnya, ditutupi kantong plastik kresek yang diikat asal di atasnya.
Dan di kepalanya, helm proyek putih. Milik studio. Terlalu besar.
Talinya tidak dikaitkan.
Menggantung di bawah dagunya, bergoyang-goyang setiap kali dia bergerak. Dan setiap kali dia menunduk, helm itu melorot ke depan menutupi matanya, dan dia menepisnya ke atas dengan punggung pergelangan tangan tanpa berhenti menarik terpal.
Dendy berhenti berlari. Selama satu detik, dia hanya berdiri di sana, di tengah genangan air, menatap tali helm yang terjuntai.
Boleh?
Lalu bunyi itu.
Bukan petir. Bukan angin. Bunyi yang lebih rendah, lebih dalam. Seperti tulang yang patah. Bambu yang retak.
Dia mendongak.
Di atas Sabine, di balik jendela tinggi di dinding timur, perancah bambu itu miring. Tidak lagi bergoyang. Miring. Satu sisi sambungannya sudah lepas. Kawat pengikat yang putus berkibar di angin seperti rambut. Dan terpal biru dari atap lantai dua, yang sudah lepas dari semua ikatannya kecuali satu, terseret ke bawah bersama perancah itu. Mengembang seperti sayap raksasa. Menyeret bambu, papan pijakan, ember, gulungan kawat.
Semuanya condong ke dalam. Ke jendela. Ke tumpukan kayu jati.
Ke Sabine.
Waktu melambat.
Dendy tahu ini klise. Dia pernah membaca di suatu tempat bahwa waktu tidak benar-benar melambat, bahwa itu hanya otak yang merekam lebih banyak detail karena takut. Tapi dia merasakannya. Setiap detik terbelah jadi seratus potongan kecil, dan di setiap potongan, dia melihat sesuatu dengan kejernihan yang mengerikan.
Bambu pertama yang menembus bingkai jendela.
Sabine yang mendongak. Terlalu lambat. Wajahnya yang pucat dan basah. Mulutnya yang terbuka.
Helm putih yang melorot ke matanya lagi.
Lorong rumah sakit. Jam tiga pagi. Kursi plastik. Bunyi mesin yang panjang.
Tangannya yang gemetar.
takut.
Dan di bawahnya.
tetap.
Dia bergerak.
Dia tidak ingat melangkah. Dia hanya tiba-tiba ada di sana, dua meter dalam satu langkah, air memercik tinggi dari genangan di bawah kakinya. Tangannya menemukan rompi oranye. Mencengkeram. Menarik.
Keras. Sekeras yang dia bisa. Tanpa hati-hati. Tanpa sopan santun. Tanpa boleh?
Sabine terlempar ke belakang. Ke arahnya. Mereka berdua jatuh, punggung Dendy menghantam lantai beton yang tergenang, air dingin menyembur ke wajahnya, dan tubuh Sabine menimpa dadanya. Tabung gambar menghantam rusuknya. Helm putih terlepas dari kepala Sabine, terguling, jatuh ke air.
Dan di tempat Sabine berjongkok sedetik yang lalu, perancah itu jatuh.
Bunyinya seperti dunia yang runtuh. Bambu yang patah dan pecah. Papan-papan pijakan yang menghantam lantai. Ember yang menggelinding. Gulungan kawat yang membentur tumpukan kayu jati dengan bunyi logam yang memekakkan. Dan terpal biru, raksasa dan basah, yang turun terakhir, pelan, seperti kain kafan, menutupi semuanya.
Lalu hening.
Tidak benar-benar hening. Hujan masih turun. Angin masih menderu. Petir masih menyambar di kejauhan. Tapi di sudut timur bangunan itu, di bawah jendela yang bingkainya sekarang pecah, ada keheningan yang aneh. Keheningan setelah sesuatu yang besar terjadi.
Dendy menatap langit-langit. Lubang di atap. Air hujan yang jatuh lurus ke wajahnya.
Dia bisa merasakan berat tubuh Sabine di dadanya. Napasnya. Cepat. Tersendat. Hidup.
Hidup.
Tangannya masih mencengkeram rompi oranye. Dia tidak bisa melepaskannya. Jari-jarinya kaku, seperti dikunci.
Pelan, Sabine mengangkat kepala. Menatap ke belakang. Ke tumpukan bambu dan papan dan terpal biru di tempat ia tadi berjongkok. Ke helm putih yang mengambang di genangan, terbalik, seperti mangkuk.
Lalu dia menatap Dendy.
Wajahnya satu jengkal dari wajah Dendy. Tidak ada kacamata. Rambut ikal yang basah kuyup menempel di pipi, di dahi, di leher. Riasan dari semalam, sisa-sisa eyeliner yang tidak terhapus bersih, sekarang meleleh jadi garis-garis hitam tipis di bawah matanya. Bibirnya pucat. Gemetar.
Dia menatap Dendy seperti orang yang tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Dendy bangun. Duduk. Menarik Sabine bersamanya.
Dan memeluknya.
Dia tidak bertanya. Tidak ada boleh?. Dia memeluknya dengan dua lengan, keras, sekeras yang dia bisa, seperti orang yang berpegangan pada sesuatu di tengah arus. Wajahnya terbenam di bahu Sabine, di leher, di rambut basah yang bau hujan dan debu site dan sesuatu yang manis, sampo atau sabun, sesuatu yang sekarang ia kenali.
Dia gemetar.
Bukan hanya tangannya. Seluruh tubuhnya. Bahunya, dadanya, rahangnya yang terkatup begitu keras sampai giginya berbunyi. Dia tidak bisa menghentikannya. Dia tidak mencoba.
Sabine diam di pelukannya. Kaku. Tidak membalas. Tapi tidak mendorong.
Dendy mencium pelipisnya.
Tidak berpikir. Tidak memutuskan. Bibirnya hanya menemukan kulit di pelipis Sabine, basah dan dingin, dan menekannya di sana. Sekali. Lalu lagi. Di pelipis. Di dahi. Di pelipis lagi. Berkali-kali. Seperti orang yang menghitung. Seperti orang yang memastikan. Masih di sini. Masih di sini. Masih di sini.
Lalu dia menarik diri sedikit. Menatap wajah Sabine dari jarak yang sangat dekat. Air hujan mengalir di antara mereka.
Dan dia menciumnya.
Tidak seperti di mobil. Tidak seperti di gudang. Ini bukan bertanya. Ini bukan tenggelam. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lahir dari lorong rumah sakit dan jam tiga pagi dan perancah yang jatuh, dari rasa takut yang begitu besar sampai tidak ada tempat lain untuk pergi kecuali ke sini, ke bibir yang dingin dan gemetar dan hidup.
Sabine membalas.
Satu detik. Dua detik. Tangannya naik, menemukan kerah kemeja Dendy yang basah kuyup. Mencengkeram. Bibirnya bergerak di bawah bibir Dendy. Hangat, di tengah semua yang dingin.
Lalu tangannya berubah.
Dari mencengkeram, menjadi mendorong.
Dua telapak tangan di dada Dendy. Mendorong. Keras.
Dendy mundur. Terduduk di genangan air. Menatapnya.
Sabine duduk di depannya, di lantai beton yang tergenang, dengan kaki terlipat di bawah tubuh dan tangan masih terangkat di udara. Napasnya kasar. Dadanya naik turun. Air mengalir dari rambutnya ke wajah, ke leher, ke rompi oranye.
Dia menatap Dendy. Dan di matanya, di balik air hujan dan eyeliner yang meleleh, ada sesuatu yang tidak pernah Dendy lihat di sana sebelumnya.
Bukan malu. Bukan bingung. Bukan tenang yang terlalu tenang, seperti di mobil yang berembun.
Marah.
Di belakang mereka, di bawah terpal biru yang basah, perancah yang patah berderak sekali lagi. Lalu diam.
Hujan terus turun.
Dendy menatap tangannya sendiri, yang terletak di genangan air. Masih gemetar. Masih tidak mau berhenti.
Di pintu bangunan, di kejauhan, suara Basko berteriak namanya. Lalu nama Sabine. Lalu suara langkah kaki yang berlari, memercik di air.
Sabine tidak menoleh ke arah suara itu. Matanya tidak lepas dari Dendy.
Dan saat dia membuka mulut, Dendy tahu, dengan kepastian yang dingin di perutnya, bahwa apa pun yang akan keluar dari mulut itu adalah sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!