Studio Sketsa Utama menempati lantai dua sebuah ruko tiga lantai di antara toko kue dan tempat servis AC, dan setiap pagi jam sembilan, bau mentega dari bawah naik lewat tangga dan bertabrakan dengan bau kertas kalkir, tinta plotter, dan kopi sachet yang terlalu manis.
Sabine datang jam delapan lewat lima puluh. Ghea sudah menunggu di mejanya.
Bukan di meja Ghea sendiri. Di meja Sabine. Duduk di kursi Sabine, kaki disilangkan, satu tangan memegang gelas es kopi susu yang embunnya menetes ke sketsa denah lantai dua, satu tangan lagi mengetuk-ngetuk meja dengan kuku yang dicat hijau zaitun.
“Duduk,” kata Ghea.
“Itu kursi aku.”
“Duduk di kursi Tio. Tio udah cerita setengahnya. Aku butuh setengah sisanya.”
Sabine melirik ke seberang ruangan. Tio, yang sedang pura-pura sibuk menggulung kabel mouse, mengangkat kedua tangan tanda menyerah tanpa menoleh.
“Pengkhianat,” gumam Sabine.
“Aku cuma saksi yang jujur,” jawab Tio.
Ghea Anindita adalah satu-satunya orang di studio ini yang berpakaian seperti mau ke peragaan busana setiap hari Selasa. Rambut bob lurus berwarna cokelat kemerahan yang berayun setiap kali dia menoleh. Anting bulat besar dari rotan. Kemeja linen putih kebesaran dengan lengan digulung sampai siku, dan lipstik oranye bata yang terlalu berani untuk jam sembilan pagi tapi entah kenapa selalu cocok di wajahnya. Dia bisa menggambar tampak potongan paling rumit di studio ini dalam satu hari, dan dia bisa membaca pesan WhatsApp seseorang seperti peramal membaca garis tangan.
Sabine menarik kursi Tio dan duduk. Tabung gambar yang sudah kembali dengan selamat ia sandarkan di kaki meja.
“Oke,” katanya. “Jadi.”
Dia menceritakan semuanya. Genangan. Celana. Karyawan teladan tingkat nasional yang ternyata pemilik toko. Merbau. Kesegaran Pagi yang jadi Kesedihan Sore. Jabat tangan. Rendangnya enak? Tabung yang ketinggalan. Putar balik.
Ghea tidak menyela. Sama sekali. Yang bagi Ghea adalah prestasi setara lari maraton.
Tapi saat Sabine sampai di bagian kopi, Ghea meletakkan gelasnya.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Dia bikinin kamu kopi.”
“Iya. Kopi tubruk. Gula aren.”
“Dengan tangannya sendiri.”
“Ghe, dia bilang semua pelanggan dapat kopi. Itu layanan toko.”
“Semua?”
“Hampir semua.” Sabine menyesal begitu kata itu keluar. “Pak Haji Umar nolak. Lambungnya lagi protes.”
Ghea menatapnya dengan ekspresi seseorang yang baru mendengar terdakwa mengaku di ruang sidang.
“Bin,” katanya pelan. “Satu-satunya orang yang nggak dapat kopi itu orang yang lambungnya bermasalah. Itu artinya bukan layanan toko. Itu artinya sistem darurat.”
“Itu nggak masuk akal.”
“Terus soal jarinya?”
Sabine membeku. “Jari apa?”
Dari seberang ruangan, Tio bersiul pelan ke langit-langit.
“Tio.”
“Aku lihat dari mobil,” katanya, masih menggulung kabel yang sudah tergulung sempurna sejak tadi. “Kaca tokonya bening. Kalian pegang gelas bareng kayak lagi potong pita peresmian.”
Ghea memekik. Pekikan pendek dan tinggi yang membuat Mbak Rini dari bagian administrasi menoleh dari balik partisi.
“Nggak ada apa-apa,” kata Sabine, terlalu cepat, dengan wajah yang terlalu panas. “Gelasnya panas. Kami sama-sama takut numpahin. Itu refleks keselamatan kerja.”
“Refleks keselamatan kerja,” ulang Ghea, mengangguk dengan wajah serius sekali. “Tiga detik.”
“Dua.”
“Tio bilang tiga.”
“Tio nggak pegang stopwatch!”
“Aku ngitung dalam hati,” sahut Tio. “Satu kopi susu. Dua kopi susu. Tiga...”
Sabine melempar penghapus ke arahnya. Meleset. Penghapus itu memantul di layar monitor Tio dan jatuh ke keranjang sampah. Tio bertepuk tangan untuk dirinya sendiri seolah dia yang menembakkannya.
Presentasi kemarin siang berjalan lancar. Lebih dari lancar. Klien kafe-galeri, pasangan suami istri paruh baya yang baru pensiun dari bank dan ingin menghabiskan tabungan mereka untuk tempat yang punya jiwa, hampir menangis saat Sabine menyodorkan sampel merbau dan menjelaskan selisih harganya. Istrinya mengusap permukaan kayu itu dengan dua jari persis seperti yang Sabine lakukan di toko, dan berkata warnanya mengingatkannya pada lemari jati di rumah orang tuanya.
Deal. Merbau. Dua per lima belas.
Sekarang Sabine harus mengumumkannya di grup proyek.
Dia membuka WhatsApp. Grup itu bernama PROYEK KAFE GALERI BU WIWIK (FIX), dengan huruf kapital semua karena Basko yang membuatnya, dan tanda (FIX) karena grup yang pertama dihapus Basko sendiri tanpa sengaja. Anggotanya tujuh orang. Sabine. Tio. Basko. Rizal. Pak Jarwo. Satu admin dari pihak klien yang tidak pernah bicara. Dan sejak Kamis lalu, Dendy Hermawan.
Grup itu, sebagaimana semua grup proyek konstruksi di Indonesia, adalah kekacauan.
Basko mengirim meme setiap pagi jam enam. Hari ini gambar kucing memakai helm proyek dengan tulisan Aku ke site bukan karena rajin tapi karena dikejar deadline. Rizal membalasnya dengan PDF perhitungan struktur empat puluh halaman, tanpa keterangan, tanpa sapaan, tanpa emoji, hanya file berjudul REV_03_FINAL_FINAL_betul.pdf. Lalu Pak Jarwo mengirim voice note berdurasi satu menit dua puluh detik yang, setelah Sabine dengarkan dengan sabar, ternyata empat puluh detiknya adalah suara mesin molen berputar, lima belas detiknya suara Pak Jarwo memanggil seseorang bernama Kardi, dan sisanya suara batuk.
Sabine mengetik dengan hati-hati. Kalimat formal. Profesional. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah memerintah pemilik toko bangunan mengangkat semen.
Sabine: Selamat pagi, Bapak-bapak. Update dari klien, material lantai area duduk utama diganti menjadi kayu merbau ukuran 2/15, finishing natural. Mohon kontraktor menyesuaikan jadwal pemasangan. Mas Dendy, mohon disiapkan penawaran resminya. Terima kasih 🙏
Kirim.
Balasan pertama datang dalam empat detik.
Basko: SIAP BU ARSITEK 🫡🫡🫡
Lalu Rizal, yang tidak pernah membalas apa pun kecuali dengan PDF, membalas dengan satu jempol.
Lalu mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.
Dendy Hermawan: Siap, Mbak Sabine. Penawaran saya kirim siang ini.
Dendy Hermawan: Finishing-nya natural ya. Bukan Putih Tulang. Atau Putih Gading. Atau warna apa pun yang katanya sama tapi beda 😄
Sabine menatap layar. Pipinya berkedut.
Basko: lho lho lho
Basko: ini kode apa
Basko: kok ada yang aku nggak ngerti
Di seberang ruangan, Tio menutup mulutnya dengan kepalan tangan.
Sabine menarik napas dan mengetik dengan wajah datar.
Sabine: Inside joke vendor dan konsultan, Pak. Tidak berpengaruh terhadap RAB.
Basko: WKWKWKWKWK
Basko: rab aman hati nggak aman
Pak Jarwo mengirim voice note lagi. Sabine tidak membukanya. Dia tahu isinya pasti molen.
Itu baru hari Selasa.
Hari Rabu, Sabine mengirim foto kondisi lantai eksisting yang retak-retak. Dendy membalas bahwa retakannya mirip peta kepulauan Maluku, dan menandai Sabine untuk bertanya apakah pulau di pojok kanan bisa dipertahankan sebagai elemen desain.
Hari Kamis, Sabine bertanya di grup kapan sampel finishing bisa dikirim. Dendy menjawab besok pagi, lalu menambahkan bahwa sampelnya akan diantar oleh karyawan asli, bukan pemilik toko, biar nggak ada yang salah perintah lagi.
Basko mengirim dua belas emoji tertawa berturut-turut. Rizal mengirim PDF.
Setiap kali nama Sabine muncul dengan warna biru di pesan Dendy, jantungnya melakukan hal kecil yang bodoh. Melompat, seperti mau turun tangga dan salah hitung anak tangga terakhir. Dia membenci itu. Dia arsitek. Dia menghitung anak tangga untuk hidup.
Tapi dia tetap membaca setiap pesan dua kali.
Kadang tiga.
Kamis sore, studio sepi. Mbak Rini sudah pulang, Tio keluar membeli gorengan, dan hanya ada suara printer plotter yang berdengung pelan mencetak gambar tampak depan.
Ghea menggeser kursinya ke sebelah Sabine. “Kamu udah bales yang tadi?”
“Yang mana?”
“Yang Mas Dendy bilang jangan pakai hak tinggi pas site visit Senin, karena genangannya punya dendam pribadi.”
Sabine sudah membacanya. Tentu saja dia sudah membacanya. Dia membacanya di tangga, di toilet, dan sekali lagi sambil pura-pura mengecek email.
“Belum. Nggak tahu mau bales apa.”
“Balas pakai stiker,” kata Ghea. “Stiker itu aman. Stiker nggak bisa disalahartikan.”
“Semua bisa disalahartikan, Ghe.”
“Oke, sebentar.” Ghea mengambil ponselnya sendiri, jari-jarinya bergerak cepat. “Aku kirimin paket stiker baru. Dijamin aman. Dijamin lucu. Dijamin nggak bikin malu.”
Ponsel Sabine bergetar. Di chat pribadi dengan Ghea, muncul belasan stiker baru. Kucing oranye gendut dalam berbagai pose. Kucing yang pura-pura pingsan. Kucing yang memegang papan bertuliskan AKU PROFESIONAL. Kucing yang wajahnya ditutupi dua kaki depan, pipinya diwarnai merah muda terang, dengan tulisan kecil di bawahnya: salting parah.
Sabine tertawa.
“Itu,” katanya, menunjuk kucing pipi merah. “Itu aku sekarang.”
“Kirim ke aku,” kata Ghea. “Biar aku simpan buat bukti di persidangan nanti.”
Sabine menekan stiker itu. Membuka menu kirim. Jarinya bergerak ke chat paling atas, chat yang tadi terakhir dibuka.
Kirim.
Lalu dia menatap layarnya.
Chat paling atas bukan chat Ghea.
Chat paling atas adalah PROYEK KAFE GALERI BU WIWIK (FIX).
Sabine berhenti bernapas.
Di layar, di bawah pesan Dendy soal genangan pendendam, tepat di tengah percakapan yang dibaca oleh kontraktor, konsultan struktur, mandor lapangan, perwakilan klien, dan pemilik toko bangunan yang lengan bawahnya pernah ia perbesar sampai pikselnya pecah, duduk seekor kucing oranye gendut dengan pipi merah muda menyala, menutupi wajahnya dengan dua kaki depan.
salting parah
Centang dua.
Centang biru.
“Ghea,” bisiknya.
Ghea mencondongkan tubuh ke layar. Membaca. Diam selama satu detik penuh.
Lalu dia menjatuhkan kepala ke meja dan tertawa tanpa suara sampai punggungnya berguncang.
“Hapus,” desis Sabine. “Hapus, hapus, hapus...”
Dia menekan stiker itu lama. Hapus untuk semua orang. Konfirmasi.
Stiker itu hilang. Digantikan tulisan abu-abu miring yang jauh, jauh lebih buruk.
Pesan ini telah dihapus.
Tiga titik muncul di bawahnya. Seseorang sedang mengetik.
Basko: WADUH
Basko: ini kode buat siapa nih 👀
Basko: telat bu arsitek udah aku screenshot
Basko: 📸
Rizal, yang tidak pernah bereaksi terhadap apa pun, mengirim satu tanda tanya.
Pak Jarwo mengirim voice note tiga detik. Sabine membukanya dengan jari gemetar. Suara molen. Lalu suara tawa serak seorang pria tua. Lalu molen lagi.
Dan kemudian, di bagian atas layar, di bawah nama grup.
Dendy Hermawan sedang mengetik...
Berhenti.
Dendy Hermawan sedang mengetik...
Berhenti lagi.
Sabine menggenggam ponselnya dengan dua tangan seperti orang yang menunggu hasil ujian nasional. Di sebelahnya, Ghea sudah mengangkat kepala dari meja, maskaranya sedikit luntur karena air mata, dan ikut menatap layar tanpa berkedip.
Satu pesan masuk.
Bukan kata-kata. Stiker.
Seekor kucing abu-abu kecil, berdiri tegak, satu kaki depan terangkat di pelipis. Hormat. Stiker yang sama persis dengan yang Dendy kirim hari Kamis lalu, saat pertama kali masuk ke grup ini.
Itu saja.
Tidak ada komentar. Tidak ada tawa. Hanya kucing yang memberi hormat, dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa dibaca.
“Apa artinya itu?” bisik Sabine.
Ghea menatap kucing abu-abu itu dengan kerutan dalam di dahi, seperti arkeolog di depan prasasti yang belum pernah dilihat siapa pun.
“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun persahabatan mereka, Ghea terdengar benar-benar bingung. “Bin. Aku nggak tahu.”
Sabine meletakkan ponselnya di meja, layar menghadap ke bawah. Lalu dia meletakkan dahinya di atas ponsel itu.
“Aku mau resign,” gumamnya ke permukaan meja.
“Nggak boleh.”
“Aku mau jadi petani. Petani nggak punya grup WhatsApp.”
“Petani punya grup WhatsApp, Bin. Grup kelompok tani. Isinya harga pupuk sama foto sawah.”
“Setidaknya sawah nggak bales pakai kucing.”
Pintu studio terbuka. Tio masuk dengan kantong plastik berisi gorengan yang masih mengepul, berhenti di ambang pintu, dan menatap dua perempuan yang terkapar di atas meja.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka grup proyek, dan membaca.
Lima detik kemudian, dia meletakkan kantong gorengan di lantai dengan hati-hati, seperti orang yang meletakkan bayi, supaya kedua tangannya bebas untuk memegangi perutnya sendiri.
Sabine pulang dengan kepala berdenyut. Makan malam sendirian di kamar. Menonton tiga episode serial yang tidak ia ingat isinya. Membuka chat pribadi dengan Dendy Hermawan dua kali. Chat itu hanya berisi satu foto tabung gambar dengan secangkir kopi, dan satu balasan singkat darinya sendiri: Makasih, Mas. Otw.
Tidak ada yang baru.
Dia tidur jam satu.
Ponselnya bergetar jam enam lewat dua belas pagi, saat langit di luar jendela kamarnya masih abu-abu kebiruan dan ayam tetangga baru mulai berkokok dengan nada sumbang.
Sabine meraihnya dengan mata setengah terpejam.
Chat pribadi. Empat belas jam setelah kucing oranye itu tenggelam di grup.
Dendy Hermawan: Kucingnya lucu, Mbak.
Sabine membaca pesan itu sekali. Dua kali. Lalu duduk tegak di kasur dengan rambut mencuat ke segala arah dan jantung yang, lagi-lagi, salah menghitung anak tangga terakhir.
Empat belas jam.
Di grup, dia membalas dalam hitungan detik.
Di sini, empat belas jam.
Sabine tidak tahu itu artinya apa. Tapi dia tahu siapa yang akan tahu.
Dia membuka chat Ghea dan mulai mengetik dengan huruf kapital.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!