Papan tulis itu seharusnya dipakai untuk jadwal proyek.
Papan tulis putih beroda, dua meter kali satu setengah, dengan bekas spidol yang tidak pernah benar-benar bisa dihapus dari rapat-rapat bulan lalu. Biasanya isinya daftar deadline, nama klien, dan satu gambar karikatur prinsipal studio yang dibuat Tio dan tidak ada yang berani menghapus. Hari Jumat jam enam sore, setelah semua orang pulang dan hujan mulai mengetuk-ngetuk kaca jendela ruko, Ghea mendorongnya ke tengah ruangan, membaliknya ke sisi yang bersih, dan menulis di bagian paling atas dengan spidol merah, huruf kapital, digarisbawahi dua kali.
OPERASI DENDY
“Nggak,” kata Sabine.
“Duduk.”
“Ghe, ini kantor.”
“Ini kantor setelah jam kerja. Secara hukum ini wilayah bebas.” Ghea mengambil sesuatu dari tas presentasi studio. Laser pointer. Dia menyalakannya, dan titik merah kecil menari di dinding, lalu berhenti tepat di dahi Sabine. “Duduk, Saudari Sulakso. Sidang dimulai.”
Sabine duduk.
Tio sudah duduk sejak tadi, di kursi putar yang ditarik mundur sampai punggungnya menempel ke lemari arsip, kaki selonjoran di atas tumpukan majalah arsitektur lama. Di pangkuannya ada kantong plastik bening berisi cilok, masih mengepul, dengan bumbu kacang yang merembes di satu sudut.
“Aku dibayar buat apa lagi?” tanyanya sambil menusuk satu cilok dengan tusuk sate.
“Jadi pihak skeptis,” kata Ghea. “Tiap aku bilang sesuatu, kamu bantah.”
“Dibayar cilok doang?”
“Sepuluh ribu. Pakai sambal. Itu tarif pasar.”
Tio mengunyah, menimbang-nimbang. “Deal.”
Ghea sudah menyiapkan semuanya. Tentu saja sudah. Dia mencetak tangkapan layar di printer studio, dua puluh tiga lembar kertas A4 yang kini ditempel satu per satu di papan tulis dengan selotip kertas, disusun berdasarkan tanggal. Like pertama di Story kursi plastik. Pesan kopi dan tabung gambar. Seluruh riwayat grup PROYEK KAFE GALERI BU WIWIK (FIX) sejak Kamis minggu lalu. Stiker kucing hormat. Kucingnya lucu, Mbak.
Dan di sampingnya, setengah jam setelah pesan itu masuk tadi pagi, balasan Sabine sendiri, yang disusun lewat video call dengan Ghea sambil sikat gigi.
Sabine: Kucingnya juga malu, Mas 🙈
Terkirim jam enam lewat empat puluh tiga pagi.
Sekarang jam enam sore. Belum dibalas.
“Pertama,” kata Ghea, titik merah laser pointer berhenti di lembar paling kiri, “fakta objektif. Tersangka like Story kamu di hari Minggu. Sebelum kalian ketemu. Sebelum dia tahu muka kamu.”
“Dia tahu nama aku dari grup,” kata Sabine.
“Dia tahu nama kamu dari grup,” Ghea setuju, “dan dari semua orang di grup itu, cuma kamu yang dia buka Story-nya.”
“Kamu nggak tahu itu.”
“Tio.”
Tio mengangkat ponselnya tanpa mengalihkan mata dari cilok. “Aku cek Story Basko dua hari terakhir. Basko posting foto bekisting. Dendy like.”
Ghea membeku dengan laser pointer terangkat. “Kamu ada di pihak siapa?”
“Pihak skeptis. Sepuluh ribu. Pakai sambal.”
“Oke. Oke. Nggak apa-apa.” Ghea mengibaskan tangan. “Bekisting itu profesional. Meme kursi plastik tentang trauma keluarga itu personal. Beda kategori.”
Sabine tidak ikut bicara. Dia menatap papan tulis, menatap semua kertas yang ditempel miring-miring dan tidak sejajar, beberapa bertumpuk, beberapa dengan tanggal yang terbalik urutannya. Tangannya sudah gatal sejak tadi.
Akhirnya dia berdiri.
“Kalian berdua minggir.”
Dia mengambil spidol hitam, spidol biru, spidol hijau, dan penggaris besi panjang dari meja gambar. Lalu, dengan ketelitian yang sama yang ia pakai untuk menggambar detail tangga, dia mulai menggaris papan tulis itu menjadi tabel.
Kolom pertama: Tanggal & Jam. Kolom kedua: Kanal. Grup, chat pribadi, Instagram. Kolom ketiga: Jenis Interaksi. Kolom keempat: Waktu Respons. Kolom kelima, yang ia tulis setelah ragu-ragu sebentar: Tingkat Keramahan (1–5).
Biru untuk grup. Hijau untuk pribadi. Hitam untuk Instagram.
Ghea menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Tio berhenti mengunyah.
“Bin,” kata Tio pelan. “Kamu sadar ini lebih rapi dari gambar kerja kita yang dikumpul ke klien, kan?”
“Diam. Aku lagi kerja.”
Butuh empat puluh menit. Hujan di luar makin deras, lampu neon di langit-langit berdengung, dan satu per satu kertas tangkapan layar diterjemahkan jadi baris-baris angka. Setiap interaksi. Setiap balasan. Setiap emoji. Waktu respons dihitung sampai menit.
Saat Sabine akhirnya mundur dan meletakkan spidol, papan tulis itu terlihat seperti tabel laboratorium.
Dan polanya jelas.
Terlalu jelas.
Semua baris biru, interaksi di grup, punya waktu respons di bawah lima menit. Kadang di bawah satu menit. Tingkat keramahan rata-rata empat koma tiga. Candaan, emoji tertawa, penanda nama Sabine dengan warna biru. Hangat. Cepat. Hidup.
Semua baris hijau, interaksi pribadi, cuma ada tiga. Foto tabung gambar: dikirim langsung, tapi itu dia yang mulai. Makasih, Mas. Otw.: tidak dibalas sama sekali. Kucingnya lucu, Mbak.: empat belas jam setelah kejadian. Dan Kucingnya juga malu, Mas: masih menunggu. Sebelas jam dan terus bertambah.
Ghea bersiul pelan.
“Ini,” katanya, mengarahkan laser ke kolom hijau, “anomali.”
“Atau,” kata Tio, akhirnya menurunkan kakinya dari tumpukan majalah, “itu artinya dia memang ramah ke semua orang di grup. Karena grup itu kerjaan. Dan di chat pribadi, dia nggak ada urusan sama kamu. Jadi dia santai aja.”
Ruangan hening sejenak. Hanya hujan.
Sabine merasakan sesuatu mengerut di dadanya. Kecil, dingin, akrab.
Dia pernah melihat pola ini. Bukan di papan tulis. Di hidupnya sendiri.
Raka, waktu dia umur dua puluh tiga, yang membalas pesan dalam hitungan detik selama tiga bulan lalu tiba-tiba butuh dua hari, lalu seminggu, lalu tidak sama sekali, dan Sabine baru tahu dari Instagram bahwa dia sudah bertunangan dengan perempuan lain. Lalu Yoga, yang manis sekali di depan teman-temannya dan dingin sekali saat berdua. Lalu cowok dari aplikasi yang namanya bahkan sudah tidak ia ingat, yang menghilang setelah kencan kedua dengan alasan kerjaan lagi padat.
Sabine tahu betul rasanya jadi orang yang menunggu balasan. Dia sudah sangat, sangat ahli.
“Tio ada benarnya,” katanya pelan.
Ghea menoleh cepat. “Nggak.”
“Ghe...”
“Nggak. Dengar.” Ghea mematikan laser pointer, meletakkannya di meja, dan menarik kursi sampai lututnya hampir menyentuh lutut Sabine. Suaranya turun. Bukan lagi suara jaksa. Suara sahabat. “Orang yang ramah ke semua orang nggak ngasih tahu kamu soal genangan yang punya dendam pribadi. Orang yang ramah ke semua orang nggak nyimpen lelucon soal Putih Tulang sampai dua hari. Dan orang yang ramah ke semua orang,” dia menunjuk kertas terakhir, Kucingnya lucu, Mbak, “nggak mikirin satu stiker sampai empat belas jam, terus akhirnya ngirim pesan jam enam pagi. Jam enam, Bin. Itu jam orang yang nggak bisa tidur.”
Sabine menatap kertas itu.
Jam enam lewat dua belas.
“Mungkin dia bangun pagi buat buka toko,” kata Tio.
“Tio, sepuluh ribumu nggak mencakup menghancurkan harapan orang.”
“Aku cuma bilang.”
“Aku butuh data tambahan,” kata Sabine, lebih ke dirinya sendiri. Kebiasaan. Kalau ragu, kumpulkan data. Kalau masih ragu, kumpulkan lebih banyak. “Satu eksperimen. Terkontrol.”
Ghea tersenyum. Lebar. Berbahaya.
“Sekarang kamu ngomong bahasaku.”
Eksperimennya sederhana. Ghea yang merancang, Sabine yang menyempurnakan, Tio yang menghabiskan cilok terakhir sambil menggelengkan kepala.
Variabel: satu Story Instagram. Bukan meme. Bukan keluhan. Sesuatu yang netral, tapi punya hubungan dengan Dendy yang hanya bisa dibaca oleh Dendy sendiri.
Sabine memikirkannya lama. Lalu dia berjalan ke dapur kecil di belakang studio, mengambil gelas bening bergagang yang biasanya dipakai Mbak Rini untuk teh, dan sachet kopi hitam yang ada di laci. Dari tasnya, dia mengeluarkan bungkusan kecil yang dibelinya kemarin di pasar dekat rumah tanpa benar-benar tahu kenapa. Gula aren. Bongkahan cokelat gelap, masih terbungkus daun pisang kering.
Dia menyeduh kopi itu. Tidak seenak di toko. Airnya tidak cukup panas, gulanya diserut terlalu tebal, dan ampasnya naik semua ke permukaan seperti lumpur. Tapi warnanya benar. Dan uapnya naik dengan cara yang sama.
Dia memotretnya di atas meja gambar, dengan sketsa denah kafe-galeri buram di latar belakang.
Tanpa teks. Tanpa emoji. Hanya kopi.
“Kirim,” kata Ghea.
“Close Friends?”
“Bukan. Semua orang. Itu intinya.”
Sabine mengecek dua kali. Tiga kali. Lingkarannya ungu-oranye. Bukan hijau. Kali ini sengaja.
Kirim.
Lalu mereka menunggu.
Menit pertama, dua belas orang melihat. Ghea yang pertama, tentu saja. Tio. Kak Lin, yang sekarang ternyata menonton setiap Story-nya, dan Sabine tidak tahu harus merasa apa soal itu. Beberapa teman kuliah. Seorang klien lama.
Menit kelima, dua puluh orang.
Dendy tidak ada di daftar.
Menit kelima belas. Tidak ada.
Jam tujuh malam. Hujan reda jadi gerimis. Ghea memesan nasi goreng lewat aplikasi. Tio menggambar kucing abu-abu yang memberi hormat di pojok papan tulis, lengkap dengan balon kata bertuliskan ???. Sabine mengecek ponselnya setiap tiga menit, lalu setiap dua menit, lalu memaksa dirinya meletakkan ponsel di laci meja dan menutupnya.
Jam delapan, mereka pulang.
Jam sepuluh, Sabine mengecek daftar penonton dari kasurnya. Empat puluh satu orang.
Dendy tidak ada.
Jam sebelas. Jam dua belas. Tidak ada.
Dia tidur dengan rasa pahit di lidah yang tidak ada hubungannya dengan kopi.
Ponselnya bergetar jam tujuh lewat delapan pagi.
Satu notifikasi Instagram. Balasan ke Story.
Sabine membukanya dengan jempol yang terlalu cepat, hampir menjatuhkan ponsel ke wajahnya sendiri.
dendyhermawan membalas Story kamu:
👍
Itu saja.
Satu jempol kuning. Tanpa kata. Tanpa titik. Enam belas jam setelah Story itu diunggah.
Sabine menatapnya sampai layar meredup. Menyalakannya lagi. Masih jempol.
Dia mengambil tangkapan layar dan mengirimnya ke grup kecil yang tadi malam dibuat Ghea tanpa persetujuan siapa pun, grup berisi tiga orang yang diberi nama KOMISI PENYELIDIK.
Sabine: [tangkapan layar]
Sabine: ini apa
Ghea: OH TUHAN
Ghea: dia lihat
Ghea: dia NGERTI
Ghea: itu kopi dia bin. dia ngerti itu kopi dia
Tio: atau dia cuma suka kopi
Tio: jempol itu jempol
Ghea: jempol bukan jempol tio. jempol itu bahasa
Tio: bahasa apa
Ghea: bahasa laki-laki umur 30an yang nggak tahu harus ngomong apa
Tio: atau bahasa laki-laki umur 30an yang sopan tapi nggak tertarik
Ghea: kamu dipecat dari komisi
Tio: aku belum dibayar cilok hari ini jadi kontrakku sudah habis
Sabine: dia bales setelah 16 jam
Sabine: SEMUA yang pribadi dia bales setelah belasan jam
Sabine: tapi di grup dia kayak orang lain
Ghea: justru itu!!! di grup dia aman. di grup banyak orang. di pribadi dia mikir dulu. orang yang mikir lama itu orang yang peduli sama jawabannya
Tio: atau orang yang sibuk jualan semen
Ghea: TIO
Sabine meletakkan ponselnya di dada dan menatap langit-langit kamar. Lampu arsitek di meja gambarnya masih menyala sejak semalam, lehernya yang panjang menunduk seperti sedang ikut berpikir.
Ada dua teori di kepalanya sekarang. Keduanya sama-sama masuk akal. Keduanya didukung data.
Teori Tio aman. Teori Tio tidak akan menyakitinya. Kalau dia memilih teori Tio, dia bisa berhenti menunggu, berhenti menghitung jam, berhenti menempel tangkapan layar di papan tulis kantor seperti orang yang kehilangan akal. Dia bisa jadi profesional. Arsitek dan vendor. Selesai.
Teori Ghea menakutkan. Teori Ghea butuh keberanian yang ia tidak yakin masih punya setelah Raka, setelah Yoga, setelah cowok aplikasi yang namanya sudah hilang.
Tapi teori Ghea punya sesuatu yang tidak dimiliki teori Tio.
Jam enam lewat dua belas pagi. Kopi tubruk gula aren. Tawa yang meledak di antara rak-rak besi, keras dan jelek dan tidak terduga, seperti mengejutkan orang yang tertawa itu sendiri.
Sabine mengetik satu pesan terakhir di grup, lalu mematikan layar.
Sabine: Senin site visit. Aku pakai sepatu kets.
Ghea: ITU BARU ANAKKU
Tio: oke aku ikut tim ghea sekarang tapi cuma karena penasaran endingnya














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!