Sepatu kets putih itu bertahan tetap putih selama dua puluh menit.
Sabine sempat bangga. Dia turun dari motor ojek di depan lokasi proyek jam sembilan pagi dengan celana jins, kaus hitam lengan panjang, rompi proyek oranye yang kebesaran, dan sepasang kets kanvas putih yang baru dicuci kemarin sore. Siap tempur. Rasional. Tidak ada hak sepatu yang bisa mengkhianatinya hari ini.
Lalu dia menginjak adukan semen yang ditinggalkan di dekat pintu masuk, dan kets kirinya berubah warna jadi abu-abu sampai ke mata kaki.
“Waduh, Mbak Sabine,” kata Pak Jarwo dari balik molen. “Itu adukan buat plester, Mbak. Bukan buat sepatu.”
“Saya tahu, Pak.”
“Kalau mau dicor sekalian, bilang aja. Biar saya siapkan bekisting.”
Tukang-tukang di sekitar molen tertawa. Sabine tersenyum dengan seluruh giginya, senyum yang tidak mencapai mata, dan berjalan dengan satu kaki yang lebih berat dari kaki lainnya.
Lokasi proyek itu dulunya rumah tua peninggalan Belanda di ujung jalan yang dinaungi pohon trembesi raksasa. Dua lantai, dinding tebal, jendela-jendela tinggi dengan kusen kayu jati yang sebagian masih bisa diselamatkan dan sebagian sudah dimakan rayap sampai tinggal kulit. Sekarang separuh fasadnya ditutup perancah bambu. Terpal biru menutupi bagian atap yang sedang dibongkar. Di halaman depan, tumpukan pasir, batu bata merah yang ditumpuk rapi, dan bedeng seng tempat tukang menyimpan alat dan makan siang.
Dalam lima bulan, tempat ini akan jadi kafe di lantai bawah dan galeri seni di lantai atas. Lantai merbau. Dinding putih. Cahaya alami dari jendela-jendela tinggi yang jatuh ke lukisan-lukisan seperti tirai tipis.
Sabine sudah bisa melihatnya. Setiap kali dia berdiri di sini, dia bisa melihatnya.
Pak Jarwo mendekat sambil mengelap tangan di celana. Mandor Jarwo, lima puluh dua tahun, kulit gelap terbakar matahari puluhan tahun, kumis tebal yang mulai beruban di ujung, dan helm kuning yang sudah retak di satu sisi tapi tidak pernah mau dia ganti karena katanya helm ini sudah tahu kepala saya. Dia orang yang paling dihormati di setiap proyek yang pernah Sabine datangi, bukan karena galak, tapi karena setiap tukang di sini tahu Pak Jarwo pernah memanjat perancah jam dua pagi untuk menyelamatkan cor-coran dari hujan.
“Mas Dendy katanya mau ke sini bawa sampel finishing,” katanya. “Setengah jam lagi.”
Sabine tidak tersandung. Dia sangat bangga pada dirinya sendiri karena tidak tersandung.
“Oh,” katanya. “Oke.”
Dendy datang empat puluh menit kemudian dengan pikap putih yang baknya penuh papan-papan pendek, kaleng-kaleng kecil, dan kotak kardus bertuliskan SAMPEL, JANGAN DIDUDUKI dengan spidol hitam.
Sabine melihatnya dari lantai dua, dari balik jendela tanpa kaca. Dia tidak bermaksud mengintip. Kebetulan saja dia sedang mengukur ulang ambang jendela itu. Untuk ketiga kalinya.
Dendy turun dari pikap. Kemeja kotak-kotak biru tua yang lengannya digulung sampai siku, kaus putih di baliknya, celana kargo yang sama, boots yang sama. Rambutnya sedikit lebih rapi dari minggu lalu, disisir ke belakang dengan jari. Dia langsung disambut dua tukang yang berebut membantu mengangkat kardus, dan dia menyalami keduanya satu per satu, menyebut nama mereka, menepuk bahu salah satunya dan bertanya soal anaknya yang baru masuk SD.
Aturan tiga. Tanya kabar. Sabine tidak tahu ada aturan, tapi dia melihat polanya.
Lalu Dendy mendongak.
Tepat ke jendela lantai dua. Tepat ke Sabine yang sedang memegang meteran dengan dua tangan seperti tameng.
Dia tersenyum. Miring. Mengangkat satu tangan.
Sabine melambaikan meterannya. Meteran itu tergulung balik dengan bunyi crak keras dan menjepit ujung jarinya.
Dia menahan teriakan di dalam mulut dan mundur dari jendela.
Mereka bertemu di bawah, di area yang nanti akan jadi ruang duduk utama. Lantai lama sudah dibongkar, menyisakan permukaan beton kasar yang retak-retak seperti peta kepulauan Maluku. Dendy berjongkok di tengahnya, menata sampel-sampel merbau di atas selembar kardus. Enam potong papan pendek, masing-masing dengan finishing berbeda.
“Natural doff, natural semi-gloss, natural satin,” katanya, menunjuk satu per satu tanpa mendongak. “Terus tiga ini pakai sedikit tint. Madu, walnut, sama yang agak gelap, namanya kopi tubruk.”
Sabine mengangkat alis. “Serius namanya kopi tubruk?”
“Nggak. Namanya Dark Espresso. Tapi kopi tubruk lebih jujur.”
Dia tertawa. Menahannya. Gagal.
Dendy mendongak, dan untuk pertama kalinya Sabine melihat wajahnya dari atas. Dari sudut ini bulu matanya terlihat lebih panjang, cambang tipisnya lebih jelas menutupi rahang, dan ada garis-garis halus di sudut matanya yang hanya muncul kalau dia tersenyum sungguhan. Garis-garis itu muncul sekarang.
“Mbak nggak pakai helm,” katanya.
“Hah?”
“Helm.” Dia menunjuk kepala Sabine. “Ini site aktif. Atapnya lagi dibongkar.”
Sabine meraba kepalanya. Rambut ikal yang dikuncir. Tidak ada helm. Helmnya tertinggal di bedeng bersama tasnya, di sebelah termos Pak Jarwo.
“Sebentar.”
Dia kembali dengan helm putih yang ia pakai buru-buru, talinya belum dikaitkan, menggantung longgar di bawah dagu. Helm itu sedikit terlalu besar, milik studio yang dipakai bergiliran, dan setiap kali dia menunduk, helm itu melorot ke depan sampai menutupi alisnya.
Dendy berdiri. Menatapnya. Menatap tali helm yang terjuntai.
“Boleh?” tanyanya.
Sabine tidak tahu apa yang dimintanya sampai tangan itu terangkat.
Lalu jari-jarinya ada di bawah dagu Sabine. Menarik dua ujung tali. Mengaitkannya dengan bunyi klik kecil. Lalu menarik talinya sedikit lebih kencang supaya helm itu tidak melorot lagi. Buku jarinya menyentuh garis rahang Sabine, dari bawah telinga sampai hampir ke dagu, satu sapuan pelan yang pasti tidak sengaja, yang pasti hanya karena talinya pendek dan rahang Sabine ada di situ.
Kulit tangannya kasar. Hangat. Ada bau serbuk kayu dan sabun batangan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang bersih dan sedikit asin seperti matahari di kulit orang yang bekerja di luar.
Sabine berhenti bernapas.
Dia merasakan denyut nadinya sendiri di bawah jari-jari itu. Keras. Terlalu keras. Pasti Dendy juga bisa merasakannya.
Tangan itu turun. Cepat. Dendy mundur satu langkah dan berdeham, menunduk ke sampel-sampel di lantai seolah tiba-tiba sangat tertarik pada serat kayu.
“Nah,” katanya. “Aman.”
Suaranya sedikit berbeda. Lebih rendah. Seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya.
“Makasih,” kata Sabine. Suaranya sendiri juga aneh.
Mereka berdua menatap kardus berisi sampel kayu selama lima detik penuh tanpa bicara, seperti dua orang yang baru melihat kecelakaan kecil dan sama-sama memutuskan untuk tidak melaporkannya.
“Jadi, merbau,” kata Sabine.
“Jadi, merbau,” ulang Dendy. “Ya. Ini.”
Dia menjelaskan. Dan Sabine mendengarkan, sungguh-sungguh mendengarkan, karena Dendy tahu apa yang dia bicarakan dan setiap penjelasannya masuk akal dan berguna untuk proyek. Kalau ada yang bertanya nanti, dia mendengarkan. Hanya saja sebagian otaknya masih tertinggal di bawah dagu, di tempat buku jari itu lewat.
Jam dua belas, tukang-tukang berhenti untuk makan siang. Pak Jarwo membawa kantong plastik berisi nasi bungkus dari warung Padang di ujung jalan. Rendang, sayur nangka, sambal ijo, telur balado.
“Mas Dendy, ikut makan,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Nggak usah, Pak, saya...”
“Udah saya beliin. Mubazir.”
Jadi Dendy duduk di atas tumpukan batu bata di depan bedeng, membuka nasi bungkus di atas pangkuan, dan makan dengan tangan seperti tukang-tukang lain. Helm proyeknya yang kuning, pinjaman dari bedeng, terpasang miring ke kiri. Dia tidak membetulkannya. Dia sedang sibuk berdebat dengan Pak Jarwo soal klub sepak bola, dan sambal ijo menetes di dagunya, dan dia mengelapnya dengan punggung tangan tanpa peduli.
Sabine duduk di kursi plastik di bawah pohon trembesi, nasi bungkusnya sendiri tidak tersentuh, menatap pemandangan itu.
Pria yang mengangkat semen. Pria yang tahu nama semua orang. Pria yang menyeduh kopi dengan gula aren dan mengaitkan tali helm dengan buku jari yang menyapu rahang dan makan rendang di atas batu bata dengan helm miring.
Dia mengeluarkan ponsel. Membuka chat grup KOMISI PENYELIDIK.
Sabine: dia makan nasi padang pake tangan di atas batu bata
Sabine: helmnya miring
Ghea: FOTO
Sabine: nggak
Ghea: BIN FOTO SEKARANG ATAU AKU RESIGN
Tio: kalau ghea resign aku dapat mejanya yang deket jendela jadi jangan foto
Sabine tidak memotret. Tapi dia menatapnya cukup lama untuk mengingat.
Kecelakaan itu terjadi jam dua siang.
Mereka sudah kembali ke dalam bangunan. Pak Jarwo ada di dekat pintu, mengawasi dua tukang yang sedang menurunkan kusen lama. Dendy berjongkok di dekat dinding timur, mengetuk-ngetuk beton dengan palu kecil untuk mengecek kelembapan.
“Mbak, sini sebentar,” katanya. “Coba lihat ini. Kalau dinding ini lembap, merbaunya harus dikasih lapisan anti-jamur di bawah. Nggak mahal, tapi harus masuk anggaran.”
Sabine berjalan mendekat. Dendy berdiri, memegang satu sampel merbau di tangan kanan, dan membungkuk ke arah Sabine untuk menunjukkan sisi bawah papan itu, bagian yang belum dilapisi.
Pada saat yang sama, Tio menelepon.
Ponsel di saku belakang Sabine berbunyi keras, nada dering bawaan pabrik yang ia selalu lupa ganti, dan dia menoleh cepat ke kanan untuk meraihnya.
Wajah Dendy ada di sana.
Terlalu dekat. Terlalu cepat. Tidak ada waktu untuk berhenti.
Bibir Sabine mendarat di pipinya.
Satu detik penuh.
Kulit yang hangat. Tekstur cambang tipis yang kasar di bibirnya, menggesek seperti amplas halus. Bau sabun batangan dan keringat bersih dan serbuk kayu, begitu dekat sampai Sabine bisa merasakannya di bagian belakang tenggorokan. Dia merasakan rahang Dendy menegang di bawah bibirnya. Merasakan napasnya berhenti.
Lalu dia tersentak mundur, begitu cepat sampai helm studionya yang kebesaran bergoyang di kepala.
Ponselnya masih berdering.
Dendy berdiri membeku dengan sampel merbau terangkat di udara, seperti patung pelayan yang membawa nampan. Wajahnya tidak bergerak. Sama sekali. Hanya matanya yang sedikit melebar, dan telinganya, Sabine melihat dengan kengerian yang aneh, telinganya mulai memerah dari ujung ke bawah.
Di dekat pintu, Pak Jarwo tiba-tiba sangat, sangat tertarik pada mesin molen di luar. Dia berbalik dan berjalan cepat ke arahnya, bersiul keras, lalu mulai memeriksa tuas molen yang jelas-jelas tidak perlu diperiksa.
Ponsel Sabine berhenti berdering.
Keheningan yang menyusul adalah keheningan paling keras yang pernah Sabine dengar.
Dendy menurunkan sampel merbau itu. Pelan. Menatapnya. Menatap Sabine.
“Kayunya,” katanya. Suaranya datar, nyaris tanpa nada, seperti orang yang sedang membaca daftar belanja dengan sangat hati-hati. “Kena?”
Sabine menatap papan merbau di tangannya. Menatap pipinya. Kembali ke papan merbau.
“Iya,” jawabnya. “Kayunya.”
Mereka berdua tahu itu bukan kayunya.
Tapi Dendy mengangguk. Serius sekali. “Oke. Bagus. Kayunya kuat.”
“Kuat banget.”
“Seratnya rapat.”
“Rapat banget.”
Dari luar, Pak Jarwo masih bersiul. Lagunya berganti. Sabine mengenalinya dan ingin mati: lagu dangdut lama tentang cinta pertama.
Pesta ulang tahun Jemima mulai jam tujuh malam. Sabine tiba jam tujuh lewat empat puluh.
Dia tidak sempat pulang. Dari site dia langsung ke studio untuk menyelesaikan revisi, lalu dari studio naik ojek ke rumah Salina di perumahan cluster yang gerbangnya dijaga satpam berseragam biru. Dia mengganti kaus hitam dengan blus cadangan yang selalu ia simpan di laci meja kantor, menyisir rambut dengan jari di spion motor, dan menghapus debu di pipi dengan tisu basah. Tapi kets kirinya masih abu-abu dari mata kaki ke bawah. Dan ujung celana jinsnya masih ada bercak semen kering yang sudah mengeras seperti kerak.
Rumah Salina terang benderang. Balon-balon merah muda dan ungu menempel di pagar, di tiang teras, di langit-langit ruang tamu. Ada spanduk kecil bertuliskan HAPPY 4TH BIRTHDAY JEMIMA dengan huruf glitter. Anak-anak kecil berlarian dengan topi kerucut kertas. Orang tua mereka berkumpul di ruang tengah dengan piring kue di tangan. Musik anak-anak diputar dari speaker kecil, lagu yang sama berulang-ulang.
Mama melihat Sabine dari seberang ruangan dalam waktu kurang dari dua detik. Radar.
Wahyuni Sulakso dalam gamis satin warna lilac, kerudung senada, bros mutiara besar di dada. Dia berjalan menembus kerumunan tamu dengan senyum lebar yang dipasang untuk publik dan mata yang turun, perlahan dan sangat jelas, dari wajah Sabine ke blusnya ke celana jinsnya ke kets kirinya yang abu-abu.
“Kamu dari mana?” tanyanya, masih tersenyum, suara pelan.
“Site, Ma. Maaf telat.”
“Kakimu itu kenapa?”
“Semen.”
Senyum Mama tidak bergerak sedikit pun, tapi suaranya turun lagi satu tingkat. “Kamu datang ke ulang tahun ponakanmu pakai sepatu kena semen.”
“Aku nggak sempat pulang, Ma.”
“Salina dari kantor juga. Dia sempat pulang.”
Salina bekerja di bank tiga ratus meter dari rumahnya sendiri. Sabine tidak mengatakannya.
“Sudahlah.” Mama menggandeng lengannya, jari-jarinya mencengkeram sedikit terlalu kencang. “Sini. Duduk di sini. Ada yang mau Mama kenalkan.”
Ada yang mau Mama kenalkan. Lima kata paling menakutkan dalam bahasa Indonesia.
Sabine didudukkan di sofa panjang, di sebelah seorang pria berkemeja batik yang sedang memegang piring berisi potongan kue dan terlihat sama sekali tidak tahu kenapa dia ada di sini.
“Ini Yudha,” kata Mama dengan suara riang yang dua oktaf lebih tinggi dari biasanya. “Keponakannya bosnya Alan. Kerja di konsultan pajak. Yudha, ini Sabine, adiknya Salina. Arsitek.”
“Oh,” kata Yudha. “Halo.”
“Halo,” kata Sabine.
Mama berdiri di sana selama tiga detik, menunggu sesuatu yang ajaib terjadi. Tidak terjadi apa-apa. Yudha menyuap kue. Sabine menatap dinding. Akhirnya Mama pergi, menoleh sekali dengan tatapan yang berarti ngobrol, ya Allah, ngobrol.
Yudha berdeham. “Arsitek, ya?”
“Iya.”
“Bikin rumah?”
“Kadang. Sekarang lagi kafe.”
“Oh.” Dia menyuap kue lagi. “Saya kira arsitek itu... bikin gedung-gedung tinggi.”
“Ada yang begitu.”
“Oh.”
Sabine menatap langit-langit, menatap balon ungu yang mulai kempes, menatap jam dinding. Tujuh lewat empat puluh enam. Dia sudah di sini enam menit dan rasanya seperti setahun.
Di seberang ruangan, Salina sedang memotong kue kedua. Kakaknya melihat Sabine, melihat Yudha, melihat Mama, lalu memberi Sabine tatapan kecil yang Sabine tidak bisa baca. Setengah kasihan. Setengah minta maaf. Lalu Salina berjalan mendekati Mama dan berbisik sesuatu, dan Sabine mendengar potongannya di antara musik: “...Ma, biarin aja dia...” Dan Mama menjawab tanpa menoleh: “...kamu nggak usah ikut campur, kamu sudah beres...”
Salina mundur. Kembali ke kue.
Sabine memandangi tangannya sendiri di pangkuan. Noda tinta biru di jari tengah. Kulit yang kering karena debu semen. Dia tiba-tiba teringat tangan lain, kasar dan hangat, mengaitkan tali helm di bawah dagunya.
“Tante!”
Sesuatu yang kecil dan berat menabrak lututnya.
Jemima. Empat tahun hari ini. Rambut dikepang dua dengan pita ungu yang sudah miring karena terlalu banyak berlari, gaun putri warna merah muda dengan rok bertumpuk-tumpuk tulle, topi kerucut kertas yang talinya melintang di dagu, dan wajah yang belepotan krim kue cokelat dari hidung sampai ke pipi. Dia memanjat ke pangkuan Sabine tanpa izin, seperti biasanya, dan duduk dengan nyaman seolah pangkuan itu dibangun khusus untuknya.
“Tante datang!”
“Tante datang,” kata Sabine, dan senyumnya kali ini sungguhan. Dia menyeka krim di pipi Jemima dengan ibu jari. “Selamat ulang tahun, Sayang. Kamu udah empat tahun. Udah tua.”
“Aku nggak tua! Tante yang tua!”
“Iya, Tante yang tua.”
Jemima menatap sepatu Sabine. “Kaki Tante kotor.”
“Kena semen.”
“Semen itu apa?”
“Bahan buat bikin rumah.”
Mata Jemima membulat. “Tante bikin rumah?”
“Tante gambar rumahnya. Terus om-om tukang yang bikin.”
Jemima mengangguk dengan serius, memproses informasi ini. Lalu dia mendongak, menatap Yudha yang masih memegang piring kue di sebelah mereka, menatap Sabine lagi, dan bertanya dengan suara anak kecil yang dirancang oleh alam untuk menembus musik, obrolan, dan dinding bata setebal dua puluh senti.
“Tante, pacar Tante mana?”
Ruangan tidak hening. Musik masih jalan. Anak-anak masih berteriak. Tapi Sabine merasakan setidaknya enam kepala dewasa menoleh ke arah sofa. Termasuk Mama. Termasuk Yudha, yang berhenti mengunyah.
Sabine tidak berpikir. Itu masalahnya. Dia lelah, kakinya berat karena semen, dan sebagian otaknya masih berada di lokasi proyek, di bawah pohon trembesi, dengan helm miring dan sambal ijo di dagu.
“Pacar Tante tukang bangunan,” katanya, sambil lalu, sambil membetulkan pita di kepang Jemima. “Lagi sibuk angkat semen.”
Jemima menatapnya dengan mata terbuka lebar. Lalu dia turun dari pangkuan Sabine, melompat ke lantai dengan gaun tulle yang mengembang seperti payung, dan berlari ke tengah ruangan.
“SEMUANYA!”
Musik masih jalan. Tapi anak-anak berhenti berlari.
“PACAR TANTE SABINE TUKANG BANGUNAN! DIA ANGKAT SEMEN!”
Hening.
Hening yang sesungguhnya kali ini. Bahkan speaker kecil itu seolah memutuskan untuk berhenti di tengah lagu.
Di dekat meja kue, Mama sedang menyuap sepotong kue lapis legit. Kue itu berhenti di tenggorokannya. Dia tersedak. Tidak parah, hanya batuk keras dua kali sambil memegangi dada, dan Alan dengan sigap menepuk punggungnya, dan seorang tante yang Sabine tidak kenal buru-buru menyodorkan air mineral gelas.
Yudha meletakkan piring kuenya di meja samping. Pelan-pelan. Seperti orang yang mundur dari lokasi kecelakaan.
Salina menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar. Dan Sabine melihat, dengan kejutan yang aneh, bahwa kakaknya sedang tertawa. Benar-benar tertawa, sampai matanya berair.
Dari sudut ruangan, Papa, yang sejak tadi duduk diam di kursi rotan dengan secangkir teh, mengangkat cangkirnya sedikit ke arah Sabine. Seperti bersulang.
Jemima berlari kembali ke sofa, sangat bangga pada dirinya sendiri.
“Tante,” katanya, napasnya terengah. “Nanti pacar Tante suruh datang ke ulang tahunku. Tahun depan.”
“Nanti Tante tanya,” bisik Sabine.
“Janji?”
“Janji.”
Jemima tersenyum lebar. Lalu dia meraih sesuatu dari balik rok tulle-nya, dari kantong tersembunyi yang entah kenapa ada di gaun putri, dan menyodorkannya. Selembar kertas HVS yang dilipat empat, sudut-sudutnya kusut, ada noda krim cokelat di satu sisi.
“Buat Tante,” katanya. “Aku gambar tadi.”
Sabine membukanya.
Gambar krayon. Sebuah rumah kotak dengan atap segitiga merah. Dua jendela kuning. Satu pintu cokelat. Matahari di pojok dengan garis-garis sinar yang terlalu panjang. Pohon hijau yang bentuknya seperti brokoli. Dan di atasnya, dalam huruf-huruf besar yang miring dan sebagian terbalik, huruf S yang menghadap ke arah yang salah:
RUMAH TANTE SABINE
Sabine menatap gambar itu. Menatapnya lama.
Tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit.
“Bagus banget,” katanya, suaranya sedikit pecah. “Ini rumah paling bagus yang pernah Tante lihat.”
“Nanti Tante bikin yang beneran?”
“Nanti.”
“Sama pacar Tante tukang bangunan?”
Sabine tertawa. Air matanya hampir jatuh. Dia menarik Jemima ke pelukannya, mencium puncak kepala yang berbau sampo stroberi dan krim kue, dan melipat gambar krayon itu dengan sangat hati-hati sebelum menyelipkannya di saku celana jins yang masih bernoda semen.
Dari seberang ruangan, Mama sudah berhenti batuk. Dia menatap Sabine dengan ekspresi yang membuat Sabine tahu, dengan kepastian mutlak, bahwa makan malam Minggu depan akan sangat, sangat panjang.
Tapi untuk malam ini, dengan Jemima di pangkuannya dan gambar rumah di saku, Sabine tidak peduli.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!