Bab 7 - Tafsir Martabak

2 dibaca

A

Di papan tulis, di bawah tabel berwarna yang sudah dua kali disiram tumpahan kopi Tio, ada entri baru.

Ghea menulisnya Selasa pagi dengan spidol merah, huruf kapital, dikelilingi bintang-bintang kecil seperti judul film.

BUKTI A: INSIDEN PIPI
Lokasi: site Bu Wiwik, dinding timur
Saksi: Pak Jarwo (menolak bersaksi, pura-pura cek molen)
Durasi: 1 detik (versi terdakwa) / 3 detik (versi jaksa)

“Satu detik,” kata Sabine untuk kesebelas kalinya.

“Kamu bilang jantungmu berhenti,” kata Ghea. “Jantung berhenti itu nggak mungkin cuma satu detik. Secara medis.”

“Itu kiasan.”

“Kiasan juga ada durasinya.”

Sabine menyerah dan kembali ke layar komputernya, ke gambar detail kusen jendela lantai dua yang harus dikirim ke Basko sore ini. Dia menggeser garis, menghapusnya, menggeser lagi. Sudah dua puluh menit dan garis itu belum pindah dari tempat awalnya.

Karena setiap kali dia menatap garis, dia melihat telinga yang memerah dari ujung ke bawah.

Kayunya kena?

Iya, kayunya.

Tiga hari berlalu sejak itu. Tidak ada yang dibahas. Di grup, Dendy tetap Dendy. Mengirim jadwal pengiriman, membalas pertanyaan Basko soal harga besi, menandai Sabine sekali untuk mengonfirmasi warna sampel yang dipilih klien. Semua normal. Semua profesional. Tidak ada satu kata pun soal dinding timur, atau pipi, atau tali helm.

Chat pribadi mereka masih diam sejak Kucingnya juga malu, Mas.

Dan entah kenapa, diamnya itu jauh lebih keras daripada kalau Dendy menyebutnya.


Kamis siang, jam dua lewat sepuluh, seseorang mengetuk pintu kaca studio.

Mbak Rini yang membukakan. Sabine tidak menoleh. Dia sedang berdebat dengan Tio soal ketebalan garis potongan dinding, dan Tio sedang kalah.

“Mbak Sabine,” panggil Mbak Rini. “Ada kiriman.”

Sabine menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang pemuda kurus berkaus oblong hijau tua dengan logo Hermawan Jaya yang sudah pudar di dada, rambut cepak, sendal jepit, dan senyum malu-malu. Dia memeluk tumpukan kotak kardus putih yang tingginya hampir menutupi wajah. Uap tipis naik dari celah tutupnya. Bau mentega dan gula yang terbakar sedikit langsung memenuhi ruangan, mengalahkan bau tinta plotter dan kertas kalkir.

“Dari Mas Dendy,” kata pemuda itu. “Saya Ujang, Mbak. Yang pinggangnya sakit kemarin.”

Oh. Ujang. Pemuda yang semen-nya Sabine selamatkan dari genangan. Pemuda yang karena pinggangnya sakit, bosnya harus mengangkat semen sendiri, dan karena itu Sabine memerintah pemilik toko seperti kuli.

“Pinggangnya udah enakan?” tanya Sabine, berdiri.

“Udah, Mbak. Makasih.” Ujang meletakkan tumpukan kotak itu di meja rapat besar di tengah ruangan. Empat kotak. “Mas Dendy bilang ini buat dukungan proyek. Biar semangat.”

Dia menyerahkan selembar kartu kecil, kertas karton putih yang dipotong dengan gunting, sedikit tidak rata di satu sisi. Tulisan tangan miring yang rapi, tinta hitam.

Dukungan proyek dari Hermawan Jaya. Semangat, tim Sketsa Utama.

Itu saja.

Ujang pamit, membungkuk sedikit ke semua orang, lalu turun tangga dengan sendal jepit yang berbunyi plak-plak.

Seluruh studio berkumpul di sekitar meja rapat. Mbak Rini. Tio. Dua drafter dari tim lain. Bahkan Pak Hendro, prinsipal studio, lima puluh delapan tahun, kacamata tebal dan rambut putih yang disisir rapi ke samping, yang biasanya tidak keluar dari ruangannya kecuali ada klien atau kebakaran, muncul di ambang pintu dengan hidung mengendus seperti anjing pelacak.

Ghea yang membuka kotak pertama.

Martabak manis. Tebal, lembut, kulitnya berpori-pori seperti spons, berwarna kuning keemasan dengan bagian bawah cokelat gelap. Di atasnya, lapisan keju parut yang menggunung dan meleleh sedikit karena panas, bercampur butiran cokelat meses yang mulai lumer jadi genangan-genangan kecil mengilap. Mentega merembes dari sela-selanya, membasahi kertas minyak di bawahnya. Dan pinggirannya, sepanjang lingkaran, garing. Cokelat tua, hampir hitam di beberapa bagian, renyah, dengan gelembung-gelembung kecil yang pecah.

Keju-cokelat. Pinggir garing.

Sabine berhenti bernapas.

Ghea menoleh padanya. Pelan. Seperti adegan di film horor, hanya saja yang menakutkan adalah ekspresi wajahnya sendiri.

“Bin,” katanya.

“Nggak.”

“Bin.”

“Itu varian paling umum, Ghe. Semua orang suka keju-cokelat.”

Ghea membuka kotak kedua. Keju-cokelat. Kotak ketiga. Keju-cokelat. Kotak keempat.

Keju-cokelat. Pinggir garing. Semuanya.

“Semua orang,” ulang Ghea, “suka keju-cokelat. Tapi toko martabak biasanya nanya pinggirnya mau garing atau nggak. Dan orang biasa bilang terserah. Orang biasa nggak minta pinggir garing untuk empat kotak.”

“Mungkin dia yang suka pinggir garing.”

“Grup proyek. Tanggal empat belas. Jam tiga lewat dua puluh sore.” Ghea mengeluarkan ponselnya dengan gerakan secepat koboi mengeluarkan pistol, menggulir, lalu menyodorkan layarnya ke depan wajah Sabine. “Baca.”

Sabine tidak perlu membaca. Dia ingat.

Waktu itu Rizal, yang tidak pernah bicara di grup kecuali dengan PDF, tiba-tiba bertanya soal camilan untuk rapat koordinasi di site. Martabak manis atau telur? Basko menjawab telur. Pak Jarwo menjawab dengan voice note yang isinya molen. Dan Sabine, yang sedang lapar dan lelah dan tidak berpikir, mengetik satu kalimat sambil lalu.

Sabine: Manis. Keju-cokelat. Pinggirnya garing, yang agak gosong dikit 😋

Satu kalimat. Dua minggu lalu. Sebelum ia pernah bertemu Dendy. Sebelum genangan dan kopi dan tali helm.

Dendy baru masuk grup itu hari Kamis. Tiga hari setelah kalimat itu dikirim.

Yang artinya, untuk tahu soal itu, dia harus menggulir riwayat chat grup ke belakang. Membaca pesan-pesan lama. Mencari.

“Dia search,” bisik Ghea, matanya berbinar penuh kemenangan. “Dia buka grup, ketik martabak di kolom pencarian, dan nemuin kalimat kamu. Bin. Itu level usaha yang... itu riset.”

Sabine merasakan pipinya mulai panas dari dalam, seperti oven yang baru dinyalakan.

“Atau,” kata Tio, dengan mulut penuh martabak, “dia baca semua riwayat grup karena dia vendor baru dan mau ngerti proyeknya.”

“Tio, kamu makan martabaknya. Kamu nggak berhak jadi skeptis sambil makan barang bukti.”

Tio menelan. Menimbang-nimbang. Lalu mengambil potongan kedua.

“Aku netral,” katanya.

Pak Hendro akhirnya mendekat. Dia mengambil satu potong dengan dua jari, meniupnya, menggigit ujungnya yang garing sampai berbunyi krak, lalu mengunyah dengan mata terpejam dan ekspresi orang yang sedang mendengarkan musik klasik.

“Hermawan Jaya,” katanya setelah menelan. “Kita langganan toko itu sepuluh tahun. Dari zaman bapaknya.”

Semua orang menoleh.

“Sepuluh tahun,” ulang Pak Hendro, mengambil potongan kedua. “Mereka nggak pernah kirim apa-apa. Kalender tiap tahun baru, iya. Martabak, belum pernah.”

Dia melirik Sabine dari balik kacamata tebalnya. Hanya sekilas. Tapi Sabine merasakan tatapan itu seperti sinar laser.

“Proyekmu lancar, Sab?”

“Lancar, Pak,” jawab Sabine. Suaranya cicit.

“Bagus.” Pak Hendro mengambil potongan ketiga dan kembali ke ruangannya. “Bagus sekali.”

Pintu ruangannya tertutup.

Ghea menatap Sabine. Tio menatap Sabine. Mbak Rini, yang sejak tadi diam di pinggir meja, juga menatap Sabine dengan senyum kecil seorang ibu yang sudah melihat banyak anak muda jatuh cinta di kantor ini.

Sabine mengambil sepotong martabak dan memasukkan seluruhnya ke mulut, supaya tidak ada yang bisa menyuruhnya bicara.

Keju asin. Cokelat manis. Mentega. Pinggiran yang renyah dan sedikit pahit karena gosong, persis seperti yang dia suka.

Itu martabak terenak yang pernah dia makan seumur hidup.


Kegembiraan itu bertahan empat puluh tiga menit.

Jam tiga kurang tujuh, grup proyek berbunyi.

Basko: WOI THANKS MAS DENDY 🙏🙏🙏

Basko: [foto]

Basko: anak2 langsung semangat ngecor

Sabine membuka fotonya.

Enam tukang di depan bedeng site, duduk berjejer di atas tumpukan batu bata, masing-masing memegang potongan martabak. Pak Jarwo di tengah, helm retaknya di kepala, jempol terangkat. Di depan mereka, di atas papan triplek yang dijadikan meja darurat, tiga kotak kardus putih. Sama persis dengan yang ada di meja rapat studio.

Tapi isinya martabak telur. Kulit tipis garing, isian daging cincang dan daun bawang, acar mentimun di plastik kecil di sebelahnya.

Sabine menatap foto itu.

Di sebelahnya, Ghea yang juga sedang menatap ponselnya sendiri mengeluarkan suara kecil. Seperti balon yang bocor.

“Oh,” katanya.

Tio, yang duduk di seberang meja dengan potongan martabak keempatnya, meletakkannya di atas kertas minyak. Dia tidak tertawa. Dia tidak bilang sudah kubilang. Dia hanya menatap Sabine dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya minggu ini, terlihat sungguh-sungguh kasihan.

“Bin,” katanya pelan.

“Nggak apa-apa.” Sabine tersenyum. Senyum yang dipasang, rapi, sempurna. Senyum yang ia pelajari dari bertahun-tahun makan malam hari Minggu. “Dia vendor. Dia kirim ke semua tim. Itu masuk akal. Itu profesional.”

“Tapi,” kata Ghea, dan suaranya pelan-pelan menguat lagi, seperti mesin yang dinyalakan ulang. “Tapi. Lihat.”

Dia memperbesar foto itu dengan dua jari. Menunjuk kotak-kotak martabak telur.

“Punya tukang telur. Punya kita keju-cokelat pinggir garing. Kalau dia cuma mau kasih semua tim, kenapa nggak sama semua? Beli yang paling gampang. Kenapa harus beda?”

“Karena tukang lebih suka yang asin?”

“Karena,” Ghea mengetuk layar, “dia pilih rasa khusus buat satu orang. Dan dia kirim ke tim lain supaya itu nggak kelihatan. Bin, ini kamuflase. Ini taktik militer.”

“Atau,” kata Tio, pelan tapi tidak sinis, “dia beli martabak buat dua tim, terus nanya ke tukang martabaknya rasa apa yang paling laku.”

Sabine tidak menjawab keduanya.

Dia menatap kotak martabak yang sudah setengah kosong di depannya. Pinggiran garing. Gosong sedikit. Persis seperti yang dia tulis dua minggu lalu, dengan emoji lidah menjulur, sebelum ia tahu Dendy Hermawan itu siapa.

Dua teori lagi. Keduanya masuk akal. Keduanya didukung bukti.

Dia mengambil ponselnya. Membuka grup. Mengetik dengan jari yang tenang.

Sabine: Terima kasih banyak kirimannya, Mas Dendy. Tim studio semangat 🙏

Aman. Profesional. Satu emoji tangan terkatup, sama seperti yang dikirim Basko.

Lalu, setelah ragu tiga detik, dia keluar dari grup dan membuka chat pribadi. Di bawah Kucingnya juga malu, Mas yang masih belum dibalas.

Sabine: Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing.

Dia menatap kalimat itu. Mengetik satu kata lagi di belakangnya. Menghapusnya. Mengetiknya lagi.

Sabine: Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas.

Kirim.

Centang dua. Abu-abu.

Dia meletakkan ponsel dengan layar ke bawah dan menarik gambar detail kusen jendela ke depan layar. Menggeser satu garis.

Garis itu, akhirnya, pindah.


Dua jam sebelumnya.

Gerobak Martabak Bang Udin berdiri di sudut pertigaan dekat pasar, di bawah tenda terpal biru yang sudah bolong di tiga tempat dan ditambal dengan lakban cokelat. Wajan besi hitam selebar ban mobil. Kompor dengan api biru yang mendesis. Termos plastik berisi adonan kuning pucat. Kaleng-kaleng mentega, toples keju parut, toples meses, toples kacang sangrai, semua berjajar di rak kayu di depan gerobak dengan label yang ditulis spidol dan sebagian sudah luntur kena minyak.

Jam dua belas lewat sepuluh. Matahari tepat di atas kepala. Dendy berdiri di bawah tenda dengan kemeja yang mulai basah di punggung, ponsel menempel di telinga kanan.

“Lo di mana?” tanya Basko di seberang. Di latar belakang, suara molen. Selalu molen.

“Beli martabak.”

“Jam segini? Buat siapa?”

“Buat anak-anak lo. Biar semangat ngecor.”

Jeda.

“Den,” kata Basko pelan. Terlalu pelan. Nada suara Basko yang pelan selalu lebih berbahaya daripada nada suara Basko yang keras. “Lo selama gue kenal, tujuh belas tahun, nggak pernah sekali pun beliin anak buah gue martabak.”

“Ya udah, sekarang pertama kali.”

“Terus yang satu lagi buat siapa?”

Dendy tidak menjawab.

Bang Udin, pria gempal berkaus kutang dengan handuk kecil tersampir di leher, menoleh dari wajannya. “Mas, telurnya tiga, ya? Yang manis berapa tadi?”

“Empat, Bang.”

“Rasa apa?”

Dendy menatap deretan toples di rak. Keju. Cokelat. Kacang. Wijen. Susu. Pisang. Stroberi dalam toples merah menyala yang mencurigakan. Dia sudah tahu jawabannya sejak tadi malam, sejak dia duduk di meja makan dengan laptop terbuka dan jempol yang, tanpa sepengetahuan otaknya, mengetik kata martabak di kolom pencarian grup proyek. Dan satu kalimat muncul dengan emoji lidah menjulur, dari seseorang yang waktu itu belum ia kenal.

Tapi sekarang, berdiri di depan gerobak dengan Basko di telinga, dia tiba-tiba ragu.

Terlalu spesifik. Terlalu kelihatan.

“Keju-susu aja, Bang,” katanya.

“Keju-susu empat.”

“Eh, bentar.” Dendy mengusap tengkuknya. “Keju-cokelat.”

“Keju-cokelat empat.”

“Atau... campur? Dua keju-cokelat, dua kacang?”

Bang Udin menatapnya dengan sendok adonan terangkat. Api biru mendesis di bawah wajan kosong.

Di telinga Dendy, Basko tertawa. Pelan dulu, lalu makin keras, sampai terdengar seperti orang yang tersedak. “Lo... lo lagi galau di depan tukang martabak?”

“Gue nggak galau.”

“Den, lo udah ganti pesanan tiga kali dalam lima detik. Gue bisa dengar.”

“Keju-cokelat empat,” kata Dendy tegas ke Bang Udin. “Final.”

“Siap, Mas.”

Adonan dituang ke wajan panas. Mendesis keras. Bau mentega dan gula mulai naik, manis dan berat, menempel di kemeja dan rambut Dendy.

“Gue ngerti sekarang,” kata Basko, masih setengah tertawa. “Lo kirim martabak ke tukang gue biar nggak kelihatan lo ngirim ke studio Sabine. Kamuflase.”

“Bukan kamuflase. Ini apresiasi vendor.”

“Apresiasi vendor.” Basko mendengus. “Den, tukang gue bisa baca. Mereka juga punya grup WA. Pak Jarwo udah cerita soal kemarin.”

Dendy berhenti bergerak.

“Cerita apa?”

“Soal lo sama Sabine di dinding timur.” Suara Basko turun, jahil, penuh kenikmatan murni. “Katanya lo kena kayu. Di pipi.”

Tanpa sadar, tangan kiri Dendy terangkat. Ujung jarinya menyentuh pipi kanannya. Tepat di bawah tulang pipi, sedikit ke samping, di tempat yang sejak Senin sore rasanya masih sedikit hangat, seperti bekas sengatan matahari yang tidak mau hilang.

Dia menurunkan tangannya cepat-cepat. Seperti ketahuan.

“Pak Jarwo salah lihat,” katanya.

“Pak Jarwo mandor tiga puluh tahun, Den. Dia bisa lihat retak rambut di beton dari jarak lima meter.”

Dendy tidak menjawab. Dia menatap adonan di wajan, yang mulai berlubang-lubang kecil di permukaannya, gelembung-gelembung udara yang muncul dan pecah satu per satu.

Basko diam sebentar. Molen masih berputar di belakangnya. Saat dia bicara lagi, suaranya berbeda. Lebih pelan. Tidak jahil lagi.

“Den. Serius. Lo nggak apa-apa?”

Dendy menarik napas. Bau mentega. Bau gula terbakar. Api biru di bawah wajan.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Udah dulu. Martabaknya jadi.”

Dia menutup telepon sebelum Basko sempat bicara lagi.

Bang Udin menaburkan keju parut di atas adonan yang sudah matang. Segenggam penuh, lalu segenggam lagi. Cokelat meses di atasnya. Lalu dia melipat martabak itu jadi setengah lingkaran dengan satu gerakan sekop yang terlatih, dan menekan tepinya ke wajan supaya pinggirannya menempel ke besi panas.

“Mas,” katanya, tanpa menoleh. “Pinggirnya mau garing?”

Dendy menatap pinggiran martabak itu. Kuning keemasan. Belum cokelat.

Pinggirnya garing, yang agak gosong dikit. Dengan emoji lidah menjulur.

“Garing, Bang,” katanya. “Yang garing banget. Agak gosong dikit nggak apa-apa.”

Bang Udin mengangkat alis, tapi menurut. Dia membiarkan martabak itu di atas api setengah menit lebih lama. Pinggirannya menggelap. Cokelat tua. Lalu hampir hitam di beberapa titik, dengan gelembung-gelembung kecil yang pecah dan berbunyi krispi.

Sambil menunggu, Dendy mengeluarkan kartu karton putih dari saku kemejanya. Dia memotongnya sendiri tadi pagi di kantor dengan gunting kertas, sedikit miring di satu sisi. Dia mengambil pulpen dari saku celana, menekan kartu itu ke papan kayu di sisi gerobak yang licin kena minyak, dan menulis.

Buat Mbak Sabine.

Dia menatap tiga kata itu.

Lalu dia merobek kartu itu jadi dua, meremasnya, dan memasukkannya ke saku celana.

Dia mengeluarkan kartu kedua. Menulis lagi, lebih pelan, dengan huruf yang lebih rapi dan tidak berarti apa-apa.

Dukungan proyek dari Hermawan Jaya. Semangat, tim Sketsa Utama.

“Udah, Mas,” kata Bang Udin, menyodorkan tumpukan kotak kardus yang hangat. “Empat keju-cokelat pinggir gosong, tiga telur. Semua seratus delapan puluh ribu.”

Dendy membayar. Menyelipkan kartu itu di bawah tali rafia kotak paling atas. Membawa semuanya ke pikap dan menyerahkannya pada Ujang, yang sudah menunggu di jok penumpang dengan wajah penuh tanya yang sangat bijaksana untuk tidak diucapkan.

“Yang manis ke studio,” kata Dendy. “Yang telur ke site. Jangan ketukar.”

“Siap, Mas.”

Pikap itu pergi. Dendy berdiri di pinggir jalan, di bawah matahari jam dua belas, dengan kemeja basah dan bau mentega di rambut, dan dua potongan kartu kusut di saku celananya.

Dia tidak membuangnya.

Malam itu, saat ponselnya bergetar di atas meja makan rumahnya yang gelap, dia membacanya. Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas.

Pas.

Dia membaca kata itu sampai layarnya meredup. Mengetik balasan. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Lalu dia meletakkan ponsel dengan layar ke bawah, di sebelah dua potongan kartu kusut yang sudah ia keluarkan dari saku dan ratakan di atas meja dengan telapak tangan, seperti seseorang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan sesuatu yang tidak bisa ia buang.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya
fana44m

Semua menatap Sabine. Termasuk pembaca (baca: aku) yang juga menatap Sabine, imajiner, sambil nyengir dari telinga ke telinga 🤭

Martabak yang “terlalu manis” untuk sabine 😂🤏🏻

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk