Bab 8 - Draf Keempat Belas

1 dibaca

A

“Draf satu,” kata Ghea. “Bacain.”

Sabine berbaring telungkup di kasur, ponsel disandarkan ke bantal, wajah Ghea memenuhi layar dalam video call. Jam sebelas lewat sepuluh malam, Jumat. Ghea memakai masker wajah berwarna hijau lumut yang mulai retak di sekitar mulut setiap kali dia bicara, rambut bob-nya dijepit ke atas dengan jepitan buaya ungu, dan dia sedang makan keripik kentang dari bungkus besar yang gemerisik.

Sabine membaca dari aplikasi catatan di ponselnya, nada datar.

“Selamat malam, Mas Dendy. Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya. Saya ingin bertanya, apakah diperkenankan apabila saya menghubungi Mas di luar kepentingan proyek? Terima kasih atas perhatiannya.”

Hening di seberang. Lalu keripik kentang berhenti gemerisik.

“Bin,” kata Ghea. “Itu surat edaran kelurahan.”

“Terlalu formal?”

“Kamu nulis diperkenankan. Siapa yang nulis diperkenankan ke cowok yang pernah kamu cium pipinya?”

“Aku nggak cium. Itu kecelakaan.”

“Kecelakaan pakai bibir. Hapus. Draf dua.”


Draf dua terlalu pendek. Mas, boleh chat? Ghea bilang itu terdengar seperti pinjol.

Draf tiga terlalu panjang. Empat paragraf yang dimulai dengan permintaan maaf soal stiker kucing dan diakhiri dengan penjelasan detail soal perbedaan Putih Tulang dan Putih Gading dari sudut pandang teori warna Munsell. Ghea berhenti membacanya di paragraf kedua dan menatap Sabine dengan tatapan orang yang baru melihat temannya jatuh dari tangga.

Draf lima, Ghea yang menulis. Isinya Hai Mas, masih bangun? 😏

“Nggak,” kata Sabine.

“Kenapa nggak?”

“Ada emoji senyum miring.”

“Justru itu bagusnya.”

“Ghe, itu emoji orang yang mau jualan barang selundupan.”

Draf tujuh terdengar seperti orang yang sedang mabuk. Draf delapan terdengar seperti orang yang sedang sekarat. Draf sembilan, entah kenapa, berubah jadi surat lamaran kerja, lengkap dengan kalimat saya merasa memiliki kompetensi untuk menjadi teman ngobrol yang baik, dan Ghea tertawa sampai masker wajahnya retak di dahi dan serpihan hijau berjatuhan ke bantalnya.

Jam dua belas kurang dua puluh. Draf ketiga belas.

Sabine menatap layar. Tangannya dingin. Ada rasa lelah yang aneh di belakang matanya, lelah yang bukan dari kurang tidur. Lelah dari terlalu banyak berharap dalam waktu terlalu singkat.

“Ghe,” katanya pelan. “Kenapa aku kayak gini?”

Ghea berhenti mengunyah. Masker hijaunya sudah hampir semuanya retak sekarang, membuat wajahnya terlihat seperti peta kering, tapi matanya di balik masker itu serius.

“Kayak gimana?”

“Kayak... anak SMA. Aku dua puluh tujuh. Aku bisa ngitung beban kolom sambil tidur. Aku pernah presentasi di depan dewan direksi hotel bintang lima. Tapi aku nggak bisa nulis satu pesan ke cowok tanpa tiga belas draf dan konsultan pribadi.”

“Aku konsultan gratis. Jangan sombong.”

“Serius, Ghe.”

Ghea diam sebentar. Lalu dia meletakkan bungkus keripik dan mendekatkan wajahnya ke kamera sampai hanya matanya yang kelihatan.

“Karena kamu udah terlalu sering jadi orang yang nunggu,” katanya. “Terus kamu takut nunggu lagi. Itu wajar, Bin. Itu bukan anak SMA. Itu orang dewasa yang pernah sakit.”

Sabine tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu sempit.

“Tapi,” lanjut Ghea, suaranya melembut, “dia kirim martabak pinggir gosong. Dia cari kalimat kamu di grup. Dia tarik tali helm kamu kayak orang yang lagi pasang sabuk pengaman ke barang pecah belah. Aku nggak tahu dia kenapa lambat bales chat pribadi. Tapi aku tahu dia lihat kamu. Dan kamu berhak nanya.”

Sabine menarik napas panjang. Memejamkan mata. Membukanya.

“Oke,” katanya. “Simpel. Jujur. Nggak ada emoji selundupan.”

Dia mengetik pelan.

Mas, boleh nggak aku chat Mas di luar urusan kerjaan?

Satu kalimat. Tanpa emoji. Tanpa diperkenankan. Tanpa teori warna Munsell.

Dia membacakannya ke Ghea.

Ghea memejamkan mata, mendengarkan seperti juri kompetisi menyanyi. Lalu membukanya.

“Itu dia,” katanya. “Itu yang keempat belas. Kirim.”

Jam dua belas kurang dua belas. Sabine menyalin kalimat itu dari aplikasi catatan, membuka chat pribadi dengan Dendy Hermawan, di bawah Makasih martabaknya, Mas. Pinggirnya garing. Pas. yang masih centang dua abu-abu, dan menempelkannya.

Jempolnya melayang di atas tombol kirim.

“Bin,” kata Ghea di layar kecil di pojok. “Napas.”

Sabine bernapas. Menekan kirim.

Pesan itu melayang ke atas, masuk ke gelembung hijau, centang satu, lalu centang dua.

Dan saat itulah dia membacanya.

Mas, boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan?

Cat.

Bukan chat. Cat.

Autokoreksi. Autokoreksi terkutuk yang minggu lalu ia latih tanpa sadar dengan mengetik kata cat seratus kali untuk urusan proyek, dan yang sekarang, di detik paling penting dalam minggu ini, memutuskan bahwa Sabine Sulakso ingin mengecat seorang pria di luar jam kerja.

“GHEA.”

“APA? APA?”

“AKU NULIS CAT.”

Hening satu detik di seberang. Lalu Ghea menjerit. Jeritan panjang dan tinggi yang membuat speaker ponsel Sabine bergetar, lalu berubah jadi tawa yang begitu keras sampai layar video call-nya berguncang dan menunjukkan langit-langit kamar Ghea, lalu lantai, lalu bungkus keripik yang tumpah, lalu wajah Ghea lagi, maskernya sudah hancur total dan air mata mengalir membuat garis-garis bersih di tengah lumpur hijau.

“Boleh nggak aku cat Mas,” dia terengah. “Bin. Bin. Dia jualan cat. Dia literally jualan cat.”

“Edit. Aku edit.”

“Jangan! Kalau kamu hapus, muncul pesan ini telah diedit, dan itu lebih parah, kita udah belajar dari insiden kucing...”

Sabine membeku dengan jempol di atas pesan.

Ghea benar. Ghea selalu benar di saat-saat seperti ini, dan itu yang paling menyebalkan.

Dengan jari yang gemetar, Sabine mengetik satu pesan tambahan.

Sabine: *chat

Kirim.

Centang dua.

Lalu dia menjatuhkan wajahnya ke bantal dan mengeluarkan suara panjang yang teredam, suara antara erangan dan tangisan dan tawa, suara yang biasanya hanya keluar dari orang yang baru jatuh dari motor di depan gebetan.

Di ponsel, Ghea masih tertawa. Tapi pelan-pelan tawanya reda, dan dia berkata dengan suara yang lembut dan sedikit serak, “Bin. Itu lucu. Itu lucu banget. Kalau dia punya selera humor yang sama kayak waktu di toko, dia bakal ketawa.”

“Atau dia bakal blokir aku.”

“Nggak ada yang blokir orang gara-gara typo cat.”

Sabine mengangkat wajahnya dari bantal. Menatap layar.

Jam dua belas lewat tiga. Sabtu.

Dua centang di bawah pesannya berubah warna.

Biru.

Dia melihatnya. Dia membacanya. Sekarang, di detik ini, Dendy Hermawan sedang memegang ponselnya dan menatap kalimat boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan, disusul *chat.

Sabine menahan napas.

Ghea juga menahan napas. Di layar, dia menutup mulutnya yang masih bernoda masker hijau dengan dua tangan.

Mereka menunggu tiga titik muncul. Sedang mengetik... Tawa. Lelucon balik. Stiker kucing hormat. Apa saja.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada apa-apa.

Status di bawah namanya berubah dari online menjadi terakhir dilihat pukul 00.03.

Lalu tidak berubah lagi.


Sabtu, Sabine bangun jam tujuh dan hal pertama yang ia lakukan, sebelum membuka mata sepenuhnya, adalah meraba-raba kasur mencari ponsel.

Tidak ada notifikasi dari Dendy.

Jam delapan, dia membantu Papa menyiram tanaman di halaman depan. Anggrek bulan di pot gantung, kemangi di pot bekas cat, pohon jambu air yang tidak pernah berbuah. Selang air menyemprot ke mana-mana, membasahi kakinya, dan Papa bercerita soal tetangga yang mobilnya baru dicat ulang warna kuning mencolok. Sabine mengangguk di tempat yang tepat. Dia tidak mendengar satu kata pun. Ponselnya ada di saku celana pendek, dan setiap lima menit dia mengeluarkannya.

Tidak ada apa-apa.

Jam sepuluh, dia membuka grup proyek. Mungkin Dendy hanya sibuk. Mungkin dia sedang di toko, melayani pelanggan dengan senyum dan nama dan kopi.

Grup itu ramai seperti biasa. Basko mengirim foto hasil pengecoran kolom. Rizal mengirim PDF. Pak Jarwo mengirim voice note yang, ajaibnya, tidak ada suara molennya, hanya suara Pak Jarwo mengucapkan selamat pagi dengan terlalu dekat ke mikrofon.

Lalu Basko bertanya soal jadwal pengiriman besi untuk minggu depan, dan menandai Dendy.

Sabine menunggu. Di grup, Dendy selalu membalas dalam hitungan menit. Selalu. Itu satu-satunya hal konsisten di tabel papan tulis mereka.

Setengah jam. Tidak ada balasan.

Lalu Basko sendiri yang mengetik lagi.

Basko: oh iya lupa, mas dendy hari ini libur ya 🙏 pengiriman besok aman, udah gue koordinasi sama bu tuti di toko

Basko: yang lain santai aja

Sabine menatap pesan itu lama.

Hari ini libur. Toko bangunan tidak libur hari Sabtu. Toko bangunan di mana pun tidak pernah libur hari Sabtu. Dan cara Basko menulisnya. Tidak ada meme. Tidak ada huruf kapital semua. Tidak ada emoji tertawa. Hanya satu emoji tangan terkatup, dan kalimat yang lain santai aja, seolah dia sedang menjaga sesuatu.

Sabine tidak tahu apa yang dijaga.

Dia hanya tahu bahwa pesannya dibaca jam dua belas lewat tiga, dan sejak itu, Dendy Hermawan menghilang dari semua tempat. Grup. Chat pribadi. Instagram, yang terakhir aktif delapan belas jam yang lalu.

Dan otaknya, yang tidak pernah bisa diam, mulai membangun penjelasan.

Jam dua belas siang, di meja makan, di depan sepiring nasi goreng yang dingin: mungkin dia jijik. Mungkin kalimat itu, bahkan dengan typo lucunya, terlalu jelas. Terlalu terang-terangan. Mungkin dia memang ramah ke semua orang, seperti kata Tio, dan pipi di dinding timur itu memang kecelakaan, dan martabak itu memang apresiasi vendor, dan sekarang dia sedang duduk di suatu tempat, merasa canggung dan tidak enak, bingung bagaimana menolak arsitek muda yang salah paham tanpa merusak hubungan bisnis.

Jam tiga sore, di kamar, berbaring menatap langit-langit: mungkin dia punya pacar. Tentu saja dia punya pacar. Laki-laki tiga puluh empat tahun, punya toko, tampan dengan cara yang tidak berusaha, lengan bawah seperti itu. Tidak mungkin dia sendirian. Mungkin pacarnya membaca pesan itu. Mungkin mereka sedang bertengkar sekarang, karena Sabine. Karena kucing dan pipi dan cat.

Jam tujuh malam, di kamar mandi, air shower terlalu panas: mungkin aku yang salah. Dari awal. Meme kursi plastik yang salah kirim. Perintah ke pemilik toko seperti ke kuli. Stiker kucing. Pipi. Cat. Semua hal yang ia lakukan di dekat Dendy Hermawan adalah bencana kecil yang bertumpuk, dan Sabine sudah terlalu tua dan terlalu lelah untuk jadi bencana, sudah terlalu sering jadi yang ditinggal, yang dibandingkan, yang tidak cukup, dan mungkin sekarang saatnya berhenti berharap bahwa satu kali, satu kali saja, seseorang akan memilih untuk membalas.

Jam sebelas malam. Dua puluh tiga jam setelah centang biru.

Sabine duduk di kasur dengan lutut ditekuk ke dada, ponsel di tangan, chat pribadi terbuka.

Dia mengetik.

Mas, maaf ya soal pesan kemarin. Lupain aja. Nggak usah dibalas.

Menatapnya.

Menghapusnya.

Mengetik lagi, lebih pendek. Maaf ganggu.

Menghapus juga.

Akhirnya dia menutup chat itu tanpa mengirim apa pun, mematikan layar, dan membaringkan ponselnya di meja samping kasur dengan layar menghadap ke bawah. Lampu arsitek di meja gambar masih menyala, lehernya menunduk, bayangannya panjang dan kurus di dinding.

Sabine menarik selimut sampai ke bahu. Dari saku celana jins yang tersampir di kursi, ujung kertas HVS yang dilipat empat mencuat sedikit. Gambar krayon Jemima. Rumah kotak dengan atap merah dan huruf S yang terbalik.

Dia menatapnya sampai matanya berat.

Dia tidak menangis. Dia sudah terlalu ahli untuk menangis karena ini.

Tapi malam itu, untuk waktu yang sangat lama, dia juga tidak tidur.


Jam dua belas lewat tiga, Sabtu dini hari, Dendy Hermawan duduk di meja makan rumahnya yang gelap dengan ponsel di tangan, dan tertawa.

Boleh nggak aku cat Mas di luar urusan kerjaan?

*chat

Dia tertawa pelan, sendirian, di rumah yang sunyi. Tawa yang keluar lewat hidung, tidak disengaja, tidak diatur. Dia bisa membayangkan wajahnya. Merah sampai telinga. Kacamata dengan engsel berselotip. Mungkin sedang menjerit ke bantal.

Jempolnya bergerak ke kolom balasan. Dia sudah tahu mau menulis apa. Sesuatu soal warna. Soal Putih Gading. Soal katalog yang ia simpan di meja ini, terbuka di halaman yang sama sejak dua minggu lalu.

Lalu layar ponselnya bergetar sebentar, dan di bagian atas, notifikasi kalender muncul.

Notifikasi yang ia pasang enam tahun lalu, dan tidak pernah ia hapus.

Ina.

Hanya itu. Satu nama. Satu hari. Tanggal yang baru saja dimulai tiga menit yang lalu.

Tawa di mulutnya berhenti.

Dendy meletakkan ponselnya di meja. Pelan. Layar menghadap ke bawah.

Dia duduk di sana lama, di kegelapan, mendengarkan suara jam dinding dan jangkrik dan motor yang sesekali lewat di jalan depan. Lalu dia berdiri, berjalan ke dapur, dan menyalakan lampu.

Kalender dari pabrik semen tergantung di dinding dekat kulkas. Foto truk molen di bagian atas, deretan angka di bagian bawah. Tidak ada yang dilingkari. Dia tidak perlu melingkarinya.

Dia menjerang air.

Stoples kopi robusta dari Temanggung. Bongkahan gula aren yang dibungkus daun pisang. Pisau kecil untuk menyerut. Dia bergerak tanpa berpikir, dengan tangan yang sudah melakukan ini ribuan kali.

Dua gelas.

Dia berhenti saat sadar dia sudah mengambil dua gelas dari rak. Dua gelas bening bergagang, berdiri berdampingan di meja dapur.

Dia tidak mengembalikan yang satu.

Air mendidih. Dia menuangnya dari ketinggian sejengkal ke gelas pertama, lalu gelas kedua. Bubuk kopi berputar dan naik. Aroma pahit-manis memenuhi dapur kecil itu, sama seperti setiap pagi selama tujuh tahun, sama seperti tujuh tahun sebelumnya saat ada dua orang di rumah ini dan dapur ini masih penuh suara.

Dia membawa kedua gelas itu ke meja makan. Meletakkan satu di depannya. Satu di seberang, di depan kursi kosong yang tidak pernah ia duduki.

Lalu dia duduk, kedua tangan melingkari gelasnya, dan menatap uap yang naik dari gelas di seberang meja sampai uap itu habis dan kopinya dingin.

Ponselnya tetap di sana, di sebelah dua potongan kartu kusut, layar menghadap ke bawah, menyimpan satu pesan yang belum dibalas dari seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa.

Di luar, langit mulai berubah warna. Hitam ke biru tua. Biru tua ke abu-abu.

Hari itu tepat tujuh tahun Ina pergi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

OH, jadi dari sini asal-usul judul ituu. Okee, Sabine 😂

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk