False Start

0 dibaca

A

Matahari sore baru saja bergeser saat Cyril dan Dian duduk santai di bangku taman pinggir lintasan, meminum es kelapa muda setelah sesi lari ringan. Cyril meraih tas belanjaannya, lalu mengeluarkan sebuah kotak sepatu yang dibungkus rapi.

“Dian, look,” kata Cyril dengan binar mata antusias, menyodorkan kotak itu ke pangkuan Dian. “Aku kemarin ke pasar second rahasia sama anak-anak komunitas. Ada sepatu lari pink neon yang kondisinya masih mulus banget, cushion-nya empuk. Aku tebak-tebak ukuran kamu dan... voila! Ini buat kamu.”

Dian tertegun. Ia memandangi sepatu pink neon berkualitas tinggi di dalam kotak itu, lalu pelan-pelan mendongak menatap Cyril. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya melihat perhatian lelaki Prancis itu, tapi ekspresinya berubah serba salah.

“Cyril... ,” ujar Dian pelan, suaranya sangat berhati-hati. Dia mencoba sepatunya dan ternyata ukurannya kekecilan. “Aku mau bilang makasih, tapi... sejujurnya size ini beda ya ama ukuran tapak kaki aku. Lihat, ini engga pas, klo dipaksain pakai sepatu lari ini, kakiku bakalan sakit”.

“Ughhh, aku bodoh banget, harusnya ajakin kamu cobain dulu ya”. Cyril tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya.

“Terus... aku juga gak bisa terima hadiah ini.”

Senyum di wajah Cyril mendadak pudar. Bule itu terdiam, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia meraup kotak sepatu itu kembali dengan raut bingung yang terpancar jelas di mata birunya. Di budayanya, memberi hadiah kecil sebagai bentuk perhatian adalah hal yang sangat lumrah. Cyril memilih diam, tidak ingin memotong atau terdengar memprotes.

Melihat perubahan raut wajah Cyril yang mendadak murung dan membisu, Dian merasa tidak enak hati. Ia segera menyenggol lengan Cyril pelan untuk menghibur lelaki itu.

“Jangan berkecil hati dulu, Mr. Frenchman. Bukan berarti aku gak hargai kamu,” potong Dian lembut, berusaha meredakan suasana kaku di antara mereka. “Di keluargaku, ada prinsip yang dipegang teguh... cewek itu pantang menerima hadiah barang berharga dari cowok yang belum ada ikatan resmi.”

Cyril menaikkan sebelah alisnya, masih menyimak dalam diam.

“Soalnya di pandangan keluarga orang Padang” lanjut Dian sambil tersenyum tipis, memain-mainkan sedotan di gelasnya, “kalau cewek gampang terima hadiah dari cowok, nanti dikira ‘utang budi’. Dikira hadiah itu harus dibayar pakai hal lain... misal harus mau diajak ciuman, atau diajak ngapa-ngapain. Ya semacam kompensasi gitu.”

Dian buru-buru menatap mata Cyril dengan tulus. “Tapi tenang aja, Cyril. Aku sama sekali gak su’uzhan atau mikir kamu sepicik itu kok. Aku tahu kamu tulus.”

Jeda sejenak tercipta. Dian menghela napas pelan, mengumpulkan keberaniannya sebelum melanjutkan dengan nada jujur yang begitu dalam.

“Aku suka sama kamu, Cyril. Beneran suka,” aku Dian polos, membuat Cyril sedikit tersentak. “Tapi... aku juga belum mau kalau kita jadian sekarang.”

Cyril menatap Dian lekat-lekat. Angin sore berembus pelan mengibarkan rambut mereka. Bule itu tidak melayangkan protes, tidak juga melontarkan argumen defensif. Sebagai seseorang yang tinggal di Indonesia, Cyril paham betul bahwa ini adalah benturan budaya dan nilai personal yang harus ia hormati—sebuah prinsip ketat yang menjaga batasan harga diri seorang wanita lokal.

Cyril mengangguk pelan, senyum tipisnya yang hangat kembali terbit di bibirnya. Ia menutup kembali kotak sepatu pink neon itu, lalu mengacak rambut Dian dengan gemas.

“D’accord,” gumam Cyril halus dengan vokal Prancis-nya yang serak. “Aku paham, Dian. Thank you udah jujur sama aku.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk