Lampu kamar Dian sudah dimatikan, menyisakan pendar cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya. Jarum jam dinding menunjuk ke angka satu malam, tapi jemarinya masih lincah mengetik di atas papan ketik virtual.
Cyril:
Jujur ya, aku tadi siang asli kaget lho.
Dian memiringkan posisinya di atas kasur, memeluk bantal guling sambil menatap balasan dari Cyril.
Dian:
Kaget karena sepatunya ditolak, atau kaget karena aku bilang suka?
Cyril:
Dua-duanya! Double kill banget haha.
Tapi serius, aku kaget waktu kamu langsung pasang batas tebal begitu. Unik banget. Di Prancis biasanya orang gak sebuka itu ngomongin boundary di awal.
Dian tersenyum tipis, merapatkan selimutnya.
Dian:
Kita di Jakarta yaa. Biar clear dari awal, ya bule yaa.
Cyril:
Tapi aku seneng kamu jujur. Jadi aku tahu harus bergerak sejauh mana dan gak asal menerobos.
And anyway... since you already said it first, I guess it’s my turn.
Aku juga suka sama kamu, Dian.
Dada Dian mendadak berdesir membaca kalimat lugas itu. Rona hangat merayap pelan di pipinya dalam kegelapan kamar. Ia menutupi wajahnya dengan ujung guling sebentar sebelum membalas.
Dian:
Duh, giliran ditembak balik malah aku yang bingung mau jawab apa 🙈
Cyril:
Haha! Mana ada ditembak balik, kan kamu duluan yang nembak tadi siang!
Dian:
Dih! Aku tuh cuma ‘mengakui perasaan’, bukan nembak ya! Beda konsep!
Cyril:
Sama aja dong! Prinsipnya tetap: Dian suka Cyril. Aku ada saksi bisu: kotak sepatu pink neon.
Dian:
Yeeee! Itu namanya efisiensi komunikasi! Daripada gengsi-gengsian kayak di sinetron.
Cyril:
Iya iya, gengsi kalah sama efisiensi ya? Tapi lumayan langka sih, cewek lokal yang berani ‘start line’ duluan dibanding cowoknya.
Dian:
Sembarangan! Kamu aja yang lambat kayak lari pace 8! Kalau nunggu kamu yang ngomong, bisa-bisa sampai tahun depan baru terucap.
Cyril:
Hey! Pace lari aku 4:30 ya, enak aja! Tapi oke deh, aku ngaku kalah. Mulai malam ini resmi: Dian 1 - 0 Cyril.
Dian:
Bagus, sadar diri. Udah ah, udah jam 1 malam nih. Besok aku ada sesi Pilates pagi, bisa remuk badanku kalau begadang terus gara-gara melayani ledekan kamu.
Cyril:
Oke oke. Bonne nuit, Dian. Makasih ya
Dian:
Bonne nuit, Cyril😉😜
Dian tertawa pelan tanpa suara, memeluk ponselnya di dada. Malam itu, di antara ledekan yang tak kunjung usai, jeda di antara mereka terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!