Neon Pink Shoes

0 dibaca

A

Pagi itu, nasib apes menghampiri Cyril. Sepatu lari kesayangannya raib diembat orang di teras depan tempat tinggalnya. Beruntung, teman-teman dari komunitas lari lokalnya yang tanggap langsung punya solusi instan. Mereka mengajak Cyril melipir ke pasar barang bekas—surga tersembunyi bagi para thrifter dan pencari harta karun perlengkapan olahraga.

Awalnya Cyril sempat ragu, namun begitu kakinya melangkah menyusuri deretan lapak yang menjajakan tumpukan sepatu beraroma khas barang impor, mata birunya langsung berbinar serasa masuk ke taman bermain.

“Wah, c’est pas vrai!” cetus Cyril pelan, tangannya dengan cekatan memilah-milah tumpukan sepatu.

Cyril benar-benar terpukau. Di depan matanya berderet seri-seri impian para runner: adidas Adizero yang legendaris, ASICS Novablast dengan foam yang masih sangat tebal, hingga merk lokal kesayangannya, Ortuseight, yang kondisinya masih 90% mulus tapi dibanderol dengan harga miring. Sebagai runner yang paham betul spesifikasi teknis sepatu, Cyril merasa seperti menemukan emas.

Di tengah keasyikannya membolak-balik sepasang Novablast, pandangan Cyril terhenti pada sebuah sepatu di sudut atas lapak. Sepatu lari berwarna pink neon yang mencolok dengan desain upper yang breathable dan sole yang masih sangat presisi. Ukurannya kecil dan langsing.

Seketika, bayangan Dian yang sedang berlari di lintasan senja kemarin melintas di kepalanya. Warna pink neon ini bakal kelihatan bagus banget di kaki Dian, pikir Cyril sambil tersenyum tipis. Tapi masalahnya, Cyril sama sekali belum tahu berapa ukuran sepatu wanita itu.

Ia meraih sepatu pink tersebut, mengamatinya dengan tatapan hangat dan penuh pertimbangan.

“Ngapain ngeliatin sepatu cewek, Ril?”

Suara datar itu memecah lamunannya. Arienda berdiri tak jauh di sampingnya. Gaya bicaranya selalu tenang dan irit ekspresi, tipikal pelari tangguh yang posisinya mendekam stabil di puncak leaderboard komunitas dengan catatan PB (Personal Best) paling tinggi di antara pelari wanita lainnya. Karena jam terbang dan intensitas latihan mereka yang mirip, Cyril sudah lumayan akrab dengannya sebagai sesama pelari performa tinggi—meski di mata Cyril, hubungan mereka murni sebatas rekan sehobi.

“Eh, Arienda,” sapa Cyril ramah.

Dari belakang lapak, dua teman seangkatan mereka yang melihat momen itu langsung menyenggol lengan satu sama lain. “Ehem! Cieee, Arienda ditilik-tilik sepatunya tuh sama Mr. Frenchman! Beliin sekalian dong Ril, pantes tuh buat Renda!” goda salah satu dari mereka sambil tertawa kecil.

Arienda cuma diam. Wajahnya tetap datar tanpa sanggahan, tapi matanya melirik pelan ke arah sepatu pink neon ukuran kecil di tangan Cyril. Kebetulan ukurannya persis dengan kaki Arienda. Di balik sikap dingin dan diamnya, ada sedikit riak percaya diri yang terbit—mengira Cyril diam-diam memperhatikan detail teknis kakinya karena mereka sering latihan bareng.

“Bukan buat kamu kan ini?” tanya Arienda santai, suaranya pelan dan tidak mengumbar emosi, hanya menatap sepatu itu dengan gestur tenang.

Cyril yang pada dasarnya polos dan merespons biasa saja menggeleng santai sambil tersenyum tipis. “Bukan, Rend. Ini bukan buat kamu kok. Aku cuma lagi mikirin ukuran kaki orang lain... tapi aku lupa belum pernah nanya ke dia.”

Arienda tidak membalas. Ia hanya tertegun sejenak, tatapannya tertahan satu detik di sepatu pink itu sebelum perlahan mengalihkan pandangan ke tumpukan sepatu di depannya. Tidak ada ledakan emosi atau ekspresi berlebihan, ia hanya kembali diam membisu—menyimpan rapat-rapt rasa kecele yang mengganjal di dadanya, sementara anak-anak komunitas di sebelah mereka mendadak kompak bungkam menyadari godaan mereka baru saja meleset total.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk