Satria membuat daftar. Bukan daftar pekerjaan. Bukan rekonsiliasi vendor, bukan catatan termin pembayaran, bukan juga ringkasan risiko yang biasanya membuat kepalanya terasa lebih aman karena semua masalah bisa dimasukkan ke dalam tabel. Daftar kali ini jauh lebih memalukan. Ia menulisnya di halaman belakang buku catatan hitam, tepat setelah sticky note Renata yang belum juga ia buang.
Batas.
Satu kata itu ia tulis dengan huruf tebal, lalu ia tatap hampir satu menit seperti sedang menunggu kata tersebut tumbuh menjadi benteng. Tidak terjadi apa-apa. Kertas tetap kertas. Tinta tetap tinta. Renata tetap perempuan yang mungkin bisa menemukan celah di antara dua huruf kalau diberi waktu cukup panjang. Satria menarik napas, lalu mulai menulis.
Satu: di kantor tetap profesional.
Dua: tidak turun ke meja tanpa alasan kerja.
Tiga: tidak ada sentuhan di depan orang.
Empat: tidak ikut campur karier.
Lima: makan siang tidak harus setiap hari.
Enam: jangan membuat finance menjadi panggung hiburan.
Tujuh: jangan memakai kata-kata aneh di pesan kerja.
Delapan—
Ia berhenti. Poin kedelapan terasa terlalu jujur untuk ditulis.
Jangan membuatku ingin percaya terlalu cepat.
Satria menatap kalimat yang belum ia tulis itu di dalam kepala, lalu menutup buku.
Di sebelahnya, Raka sedang mengunyah roti sambil memandangi layar laptop dengan ekspresi terlalu serius untuk seseorang yang file Excel-nya masih kosong. “Kamu sedang menulis wasiat?” tanya Raka tanpa menoleh.
Satria memasukkan buku ke laci. “Laporan.”
“Laporan di halaman belakang buku pribadi?”
“Sejak kapan kamu punya wewenang mengaudit lokasi tulisan saya?”
“Sejak kamu mulai menerima sticky note dari lantai tiga belas.”
Satria menatapnya. Raka mengangkat roti seperti bendera putih. “Aku tidak membaca lagi. Aku hanya trauma pernah menemukan barang bukti.”
“Kamu punya definisi tidak sengaja yang sangat longgar.”
“Dalam dunia perkantoran, semua penemuan penting awalnya tidak sengaja.”
Satria hendak menjawab, tetapi ponselnya menyala. Renata.
Aku menunggu aturanmu.
Satria menatap layar. Darahnya seperti berhenti di tempat.
Raka, tentu saja, menyadari perubahan itu lebih cepat daripada sistem absensi mendeteksi keterlambatan. Ia melirik ponsel Satria, lalu wajah Satria, lalu kembali ke rotinya dengan senyum yang terlalu dekat dengan kejahatan. “Spam?” tanyanya.
Satria membalik ponsel. “Ya.”
“Spam sekarang tahu cara membuat orang menegang sampai rahang?”
Satria berdiri. “Saya ke pantry.”
“Bawa ponsel?” Satria menatapnya. Raka langsung menunduk ke layar. “Saya mencintai hidup saya.”
Satria berjalan ke pantry dengan wajah terlalu netral. Di sana, hanya ada satu orang dari procurement yang sedang membuat teh. Ia menunggu sampai orang itu keluar, lalu membuka pesan Renata lagi.
Aku menunggu aturanmu.
Ia mengetik:
Aturan apa?
Balasan datang cepat.
Jangan pura-pura. Kamu pasti sudah membuat daftar.
Satria menatap pesan itu dengan perasaan yang mendekati tersinggung secara spiritual.
Kamu pikir saya seperti itu?
Iya.
Jawabanmu terlalu cepat.
Karena aku memang benar.
Satria mengusap wajah dengan satu tangan. Renata tidak berada di lantai sembilan. Tidak duduk di depannya. Tidak menyentuh lengan kemejanya dengan jari yang selalu terlalu santai. Tapi tetap saja, perempuan itu berhasil membuat pantry kosong terasa seperti ruang interogasi. Ia akhirnya mengetik:
Kalau mau bicara, bukan lewat chat.
Balasan Renata kali ini lebih lama beberapa detik.
Baik. Jam enam. Ruang rapat kecil lantai dua belas. Netral. Berdinding kaca. Aman untuk reputasimu.
Satria membaca pesan itu dua kali. Ada bagian dirinya yang ingin menolak hanya karena Renata terdengar terlalu siap. Tapi usulan itu tepat. Bukan ruang Renata. Bukan finance. Bukan lobby yang bisa berubah jadi panggung. Ruang rapat lantai dua belas cukup netral untuk membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak netral.
Ia membalas:
Baik.
Renata mengirim pesan terakhir.
Bawa daftarmu, anak finance.
Satria mematikan layar ponsel. Perempuan itu benar-benar berbahaya karena tahu kapan harus menggoda, kapan harus berhenti, dan kapan harus memberi tempat yang membuat Satria kehabisan alasan untuk lari.
Pukul enam sore, ruang rapat kecil lantai dua belas kosong. Kaca bening menghadap koridor. Tirai terbuka. Lampu putih menyala penuh. Di luar, orang-orang masih lewat sesekali, cukup untuk mengingatkan bahwa ini kantor dan mereka bukan dua manusia yang bisa lupa diri hanya karena hari mulai gelap.
Satria datang lebih dulu. Ia membuka buku catatan, melihat daftar yang ia tulis pagi tadi, lalu menutupnya lagi ketika mendengar pintu terbuka.
Renata masuk dengan blazer tersampir di lengan, rambut sedikit lebih berantakan dari siang tadi, dan wajah lelah yang tetap menyimpan nyala kecil. Wajah perempuan yang bisa selesai dihajar rapat, lalu masih punya tenaga membuat hidup orang lain tidak stabil.
Ia tidak duduk terlalu dekat. Itu hal pertama yang Satria catat. Renata memilih kursi di seberangnya, bukan di sebelahnya. Ponselnya diletakkan telungkup di meja. Blazer ia taruh di kursi kosong. Lalu ia menatap Satria dengan wajah yang hampir profesional.
“Silakan,” katanya. “Presentasikan pagar hidupmu.”
Satria menatapnya datar. “Ini bukan presentasi.”
“Kamu bawa buku.”
“Untuk catatan.”
“Dan poin-poin.”
Ia merapatkan bibir. Renata melihat itu, lalu senyumnya naik sedikit. Tidak besar. Cukup untuk membuat Satria sadar ia sudah kalah satu langkah sebelum bicara. “Aku akan diam,” katanya. Lalu benar-benar diam.
Satria tidak langsung bicara. Itu membuat Renata tampak geli, tapi ia menahan diri. Satria melihat usaha itu: cara perempuan itu menggigit bagian dalam pipinya, cara tangannya bergerak ke pulpen lalu berhenti, cara matanya yang biasanya langsung menyerang kini memilih menunggu. Renata sedang mencoba. Hal kecil itu membuat kalimat pertama Satria sedikit lebih pelan daripada yang ia rencanakan.
“Saya tidak mau hubungan kita dimulai dengan orang kantor merasa punya hak membicarakan hidup saya.”
Renata mengangguk. Tidak menyela. Satria membuka buku catatan. Ia tidak membacanya kata per kata, tapi melihat daftar itu memberi tulang pada keberaniannya.
“Di kantor, kita profesional. Kalau ada urusan kerja, ya kerja. Kalau tidak ada, jangan datang ke meja saya hanya untuk membuat semua orang melihat.”
“Baik.”
“Jangan kirim makanan atau kopi ke area finance dengan catatan yang bisa dibaca orang.”
Renata membuka mulut sedikit. Satria menatapnya. Ia menutup mulut lagi, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Matanya masih menyala, tapi ia menelannya sendiri. “Kalau tanpa catatan?” tanyanya akhirnya. Satria menutup buku pelan. Renata mengangkat satu tangan. “Baik. Tidak kirim.” Satria menarik napas.
“Saya juga tidak mau kamu ikut campur pekerjaan saya. Kalau saya dapat proyek, biarkan itu karena Pak Oka memang menugaskan. Kalau saya salah, jangan melindungi. Kalau saya benar, jangan membuatnya terlihat seolah kamu yang membuka jalan.”
Wajah Renata berubah sedikit. Bukan tersinggung. Lebih seperti sesuatu di dalam dirinya ditahan agar tidak langsung melawan. “Aku tidak pernah berniat begitu,” katanya.
“Saya tahu.” Satria menekan ibu jarinya ke sisi buku. “Tapi saya perlu mengatakannya keras-keras.”
Renata menunduk melihat ponsel yang telungkup di meja. Beberapa detik ia diam. Bukan diam yang kalah. Diam yang sedang menghitung ulang cara mencintai orang yang tidak mau diselamatkan sembarangan. “Aku mengerti.” Dua kata itu tidak ringan.
Satria bisa melihat Renata memaksakan dirinya untuk tidak membela diri terlalu cepat. Perempuan itu terbiasa memegang kendali. Terbiasa memperbaiki. Terbiasa bergerak lebih dulu. Sekarang ia harus duduk diam dan menerima bahwa perhatian, jika salah tempat, bisa terasa seperti campur tangan. Itu bukan hal mudah bagi Renata.
Karena Satria melihatnya, dadanya sedikit melunak. “Lalu,” lanjutnya, suara lebih rendah, “tidak ada sentuhan di depan orang.”
Renata mengangkat wajah. Matanya langsung menyala dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dipercaya. “Definisikan depan orang.”
Satria menatapnya lama. Renata tidak tampak menyesal. Hanya tampak seperti orang yang sangat sadar dirinya masalah. “Renata.”
“Aku bertanya demi kepatuhan.”
“Kamu bertanya demi celah.”
“Dua hal bisa benar sekaligus.” Satria menutup mata sebentar. Renata tersenyum kecil, puas melihat urat sabar pria itu tertarik sedikit. “Baik,” katanya. “Tidak ada sentuhan di depan orang.”
“Termasuk membetulkan kerah.”
“Padahal kerahmu sering minta tolong,” kata Renata, menatap kerah kemeja Satria terang-terangan.
“Termasuk lengan kemeja.”
“Dan memuji?”
“Tidak di kantor.”
Renata bersandar, menatapnya seperti menerima putusan pengadilan yang tidak adil. “Baik. Tidak ada kerah, tidak ada lengan, tidak ada pujian. Di kantor.”
Satria hampir tersenyum. Ia menunduk sebelum Renata melihatnya, tetapi terlambat. Renata melihat. Wajahnya langsung lebih cerah sedikit. “Itu hampir tersenyum.”
“Salah lihat.”
“Aku tidak salah lihat.” Renata mengetukkan kuku ke meja sekali. “Aku hanya sering sengaja tidak melihat.”
Satria menghela napas. Namun ketegangan di dadanya mulai turun. Ia membuka buku lagi, melihat poin berikutnya. “Makan siang tidak harus setiap hari.”
Renata diam. Satria mengangkat wajah. Renata menatapnya dengan serius yang sangat dibuat-buat. “Aku perlu waktu memproses kehilangan ini.”
“Makan siang setiap hari membuat orang curiga.”
“Orang sudah curiga.”
“Jangan memberi mereka data pendukung.”
Renata memutar pulpen di antara jarinya. “Dua kali seminggu.”
“Satu.”
“Tiga.”
“Itu naik.”
“Aku sedang negosiasi.”
“Negosiasi dimulai dengan angka realistis.”
“Baik.” Renata meletakkan pulpen. “Dua kali. Satu di luar kantor, satu setelah jam kerja.”
“Satu kali makan siang. Satu kali kopi setelah kerja. Tidak selalu tiap minggu. Tergantung jadwal.”
Renata menatapnya. Lalu tersenyum tipis. “Kamu sadar baru saja memberi ruang untuk bertemu di luar kantor?” Satria diam. Renata mencondongkan tubuh sedikit, tidak banyak, hanya cukup membuat meja di antara mereka tampak kurang berguna. “Satria.”
“Ini bagian dari kompromi.”
“Bagus. Aku suka kompromi kalau bentuknya membuatmu menyerah dengan rapi.”
Satria menatapnya. Renata tersenyum seperti orang yang tidak berniat minta maaf.
“Aku belum selesai,” kata Satria.
“Lanjutkan. Aku sedang kooperatif dengan cara yang sangat mahal.”
Satria menatap daftar itu. Poin ketujuh. Jangan memakai kata-kata aneh di pesan kerja. Ia merasa bodoh bahkan sebelum mengatakannya.
“Kalau lewat pesan,” katanya akhirnya, “jangan kirim hal-hal yang bisa salah dibaca kalau ponsel saya dilihat orang.”
Renata menopang dagu dengan punggung tangan. “Hal-hal seperti apa?”
Satria menatapnya datar. Renata menunggu dengan wajah terlalu polos untuk bisa dipercaya. “Kamu tahu.”
“Aku ingin mendengar kamu mengatakannya.”
“Tidak.”
Renata tertawa. Tidak keras, tapi cukup untuk memenuhi ruang rapat kecil dengan sesuatu yang membuat Satria harus menatap buku catatan, karena kalau melihat wajah Renata terlalu lama, ia mungkin lupa alasan mereka membuat daftar ini.
“Baik,” kata Renata akhirnya. “Tidak ada pesan yang bisa menghancurkan reputasimu kalau dibaca Raka.”
“Terutama Raka.”
“Orang itu harusnya punya sistem arsip sendiri.”
“Sudah. Namanya mulut.”
Renata tertawa lagi, lebih lepas. Satria menggigit bagian dalam pipinya, menahan sesuatu yang hampir saja menjadi senyum.
Hening kali ini tidak seberat sebelumnya. Di luar kaca, seorang staf legal berjalan sambil membawa laptop, melirik mereka sekilas, lalu lanjut. Satria menyadari tubuhnya tidak setegang ketika pertama masuk. Renata juga tampak lebih tenang, meskipun matanya masih menyimpan kenakalan yang jelas tidak akan pernah sepenuhnya tunduk pada aturan apapun.
“Masih ada?” tanya Renata.
Satria melihat halaman buku. Poin kedelapan tidak tertulis. Ia menutup buku pelan. “Ada satu lagi.”
Renata menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Apa?”
Satria menimbang kalimat itu cukup lama. Lalu berkata, “Jangan membuatku merasa kalau aku berjalan pelan, aku akan kehilanganmu.”
Renata diam. Seluruh udara di ruang rapat kecil berubah. Bukan menjadi tegang seperti pertengkaran. Lebih seperti seseorang membuka jendela ke ruangan yang selama ini dikunci.
Satria menatap buku catatan, bukan wajah Renata. “Saya tahu kamu cepat. Kamu memutuskan dengan cepat, bicara cepat, bergerak cepat. Kalau kamu suka sesuatu, kamu maju. Kalau kamu ingin sesuatu, kamu ambil jalannya.” Ia berhenti sebentar. Ibu jarinya menekan sudut buku sampai kuku memutih. “Saya tidak seperti itu.” Renata tidak menyela. “Saya butuh waktu bukan karena ragu padamu. Saya butuh waktu karena kalau saya masuk ke hidupmu dengan seluruh ketimpangan ini, saya ingin tetap menjadi diriku.” Napasnya tertahan sebentar, lalu keluar pelan. “Bukan versi yang panik mengejar semua hal hanya agar tidak ditinggal.”
Kata-kata itu keluar lebih banyak daripada rencananya. Satria tidak suka merasa terlalu terbuka. Tapi kali ini, setelah semua aturan teknis selesai, ia tahu batas paling penting justru yang tidak bisa diukur orang lain.
Renata menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. Untuk pertama kalinya, tidak ada jawaban cepat. Tidak ada godaan. Tidak ada kalimat yang memutar rasa berat menjadi lucu. Ia hanya duduk di seberang Satria, diam begitu lama sampai Satria akhirnya mengangkat wajah. Renata sedang menatapnya dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan. Bukan terluka. Bukan marah. Lebih seperti perempuan yang baru sadar ia bisa membuat seseorang kehabisan napas bukan karena mendekat terlalu jauh, tapi karena berlari terlalu cepat di depan.
“Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu tidak secepat diriku,” katanya. Satria menatapnya. “Kalau aku memilih, aku tidak asal menaruh tangan lalu bosan karena pintunya lama dibuka.” Suara Renata rendah. Tajam. Tidak manis. “Aku bisa menunggu. Tapi jangan salah paham, Satria. Menunggu bukan berarti aku duduk manis di luar hidupmu sambil membiarkan orang lain masuk lewat pintu samping.”
Jari Satria berhenti di atas buku. Renata menatapnya langsung. “Aku terlalu lama hidup dengan orang-orang yang mengatur pilihanku. Mama memilih mana yang pantas. Papa memilih mana yang aman. Keluarga memilih mana yang terlihat baik. Jadi kalau sekarang aku memilih sendiri, aku tidak akan memegangnya setengah hati.”
Satria tidak bergerak. Renata menyandarkan punggung, tapi matanya tetap di sana. Tetap mengenai. Tetap tidak memberi ruang untuk pura-pura tidak paham. “Aku bisa belajar pelan,” katanya. “Aku bisa berhenti sebelum kamu sesak. Tapi jangan minta aku menjadi perempuan yang terlalu sopan sampai pilihanku terlihat seperti tamu. Aku tidak begitu.”
Satria merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Bukan sepenuhnya lega. Lebih seperti takut yang menemukan bentuk baru. Renata tidak sedang merayunya dengan kelembutan. Ia sedang memberinya peringatan: kalau ia masuk ke hidup Satria, ia masuk sebagai pilihan yang punya kuku, bukan bayangan yang menunggu izin terlalu lama. Dan anehnya, itu lebih jujur daripada kalimat manis mana pun.
Satria menunduk sebentar. Ketika ia mengangkat wajah, suaranya lebih pelan. “Saya tidak memintamu berubah menjadi orang lain.”
“Bagus.” Renata mencondongkan tubuh sedikit. “Karena aku tidak akan melakukannya.”
Satria hampir tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas pendek.
Renata menangkap itu. Matanya melunak sedikit, tapi senyumnya tetap berbahaya. “Jadi,” katanya, “aturan kedelapan diterima. Aku tidak akan membuatmu merasa ditinggal hanya karena kamu berjalan pelan.” Satria mengangguk kecil. “Tapi kamu juga jangan bergerak seperti patung lalu berharap aku menebak apakah kamu masih hidup.” Ia menatapnya. Renata mengangkat alis. “Itu bukan permintaan. Itu peringatan.”
Satria akhirnya tertawa. Pendek, tapi jelas. Renata tersenyum, puas bukan karena menang, melainkan karena berhasil mengembalikan udara ke tempat yang bisa mereka hirup lagi.
“Baik,” kata Renata, lalu mengulurkan tangan ke tengah meja. “Aturan diterima.”
Satria menatap tangan itu. “Ini apa?”
“Kesepakatan.”
“Tidak perlu salaman.”
“Perlu. Aku sangat profesional.”
“Kamu baru saja menawar frekuensi makan siang seperti kontrak vendor.”
“Justru itu profesional.”
Satria menatap tangan Renata. Kalau ia menyambutnya, itu hanya salaman. Gestur formal. Tidak ada masalah. Tapi dengan Renata, tidak ada gestur yang sepenuhnya sederhana. Apalagi setelah ia baru membuat aturan tidak ada sentuhan di depan orang, dan sekarang ruang rapat berdinding kaca. Renata tampaknya menyadari itu. Tangannya masih di sana, tapi matanya menunggu. Tidak memaksa. Tidak menarik. Satria menoleh ke kaca. Koridor sedang kosong. Lalu ia menjabat tangan Renata. Hangat. Singkat. Seharusnya. Namun Renata menahan satu detik lebih lama. Bukan menggenggam keras. Hanya membiarkan telapak tangannya tetap di sana sampai Satria menatapnya.
“Aku akan mencoba tidak membuatmu merasa dikejar,” katanya.
Satria menatap tangan mereka yang masih bersentuhan. Lalu, entah karena ia lelah menolak semua hal kecil yang sebenarnya ia inginkan, ia tidak langsung melepas. “Saya juga akan mencoba tidak membuatmu merasa diparkir di luar hidup saya.”
Renata diam. Kali ini, dia yang terlihat sedikit kehilangan kata.
Satria melepas tangannya lebih dulu. Renata menarik tangannya kembali, lalu menatap telapak tangannya sendiri seolah baru saja menemukan catatan penting di sana.
“Bagus,” katanya, suaranya kembali ringan meski belum sepenuhnya stabil. “Kita membuat kemajuan.”
“Jangan memberi nama proses ini.”
“Terlambat. Aku sudah punya beberapa opsi.” Satria menatapnya. Renata tersenyum tipis. “Tenang. Aku simpan dulu. Nanti kamu panik lagi.”
Mereka keluar dari ruang rapat pukul enam lewat empat puluh. Tidak bersama-sama. Aturan pertama langsung diuji. Renata keluar duluan, berjalan ke arah lift dengan wajah profesional. Satria menunggu tiga menit, pura-pura merapikan buku catatan, lalu keluar setelah koridor lebih sepi. Ia merasa konyol. Seperti remaja yang menyembunyikan hubungan dari guru piket, padahal mereka dua orang dewasa yang membahas batas dengan bahasa hampir legal.
Namun di lift turun menuju lantai sembilan, ponselnya menyala. Renata.
Aku berhasil tidak menyentuh kerahmu tadi. Mohon dicatat.
Satria menatap pesan itu, lalu tanpa sadar tersenyum. Ia membalas:
Itu memang aturan.
Aturan tetap bisa diapresiasi saat dipatuhi oleh orang berbakat melanggar.
Satria memasukkan ponsel ke saku sebelum senyumnya semakin terlihat.
Ketika kembali ke finance, Raka masih ada di meja. Pria itu menoleh, melihat wajah Satria, lalu mengangguk pelan. “Rapatnya produktif?”
Satria duduk. “Cukup.”
“Vendor?”
Satria membuka laptop. “Batas.”
Raka tidak langsung bercanda. Ia menatap Satria sebentar, lalu berkata, “Bagus.” Satria menoleh, agak heran. Raka mengangkat bahu. “Aku memang suka mengganggu, Mas. Tapi aku tidak mau kamu jadi bahan mentah mesin gosip kantor.” Satria diam. Raka kembali ke layar. “Lagipula kalau kalian hancur sebelum ada perkembangan berarti, aku tidak punya serial kantor yang berkualitas.”
Satria mengambil penghapus. Raka sudah menyingkir sebelum dilempar.
Malam itu, Renata tidak mengirim pesan aneh sampai lewat jam kerja. Pukul sembilan, baru layar ponsel Satria menyala.
Ini setelah jam kerja. Aman untuk reputasi.
Satria membaca sambil duduk di kamar kos, buku catatan terbuka di meja.
Aman belum tentu benar.
Kalau aku menunggu semua hal benar, aku tidak akan pernah mengirim pesan padamu.
Satria menatap layar lebih lama dari perlu. Lalu mengetik:
Ada apa?
Aku lapar.
Makan.
Kamu punya bakat membuat percakapan terasa seperti instruksi evakuasi.
Kamu ingin saya jawab apa?
Minimal tanya aku mau makan apa.
Satria menghela napas, tapi senyumnya muncul.
Mau makan apa?
Balasan Renata datang cepat.
Roti minimarket. Aku menagih janji tidak tertulis.
Satria menatap layar lama. Di luar kamar kos, suara orang menutup pintu terdengar. Kipas anginnya berputar lambat. Di meja, catatan pengeluaran bulanan masih terbuka, angka-angkanya menunggu untuk dihitung. Ia seharusnya tidak keluar. Sudah malam. Besok kerja. Semua alasan masuk akal. Lalu ia melihat buku catatan hitam. Sticky note Renata masih di halaman belakang. Aturan sudah dibuat. Tapi aturan bukan penjara. Satria berdiri, mengambil jaket, lalu mengetik:
Minimarket mana?
Renata membalas dengan lokasi. Dekat apartemennya. Tidak terlalu dekat dari kos Satria, tapi masih masuk akal kalau naik ojek online. Ia sempat menatap saldo dompet digital. Cukup. Dengan sedikit pengorbanan pada rencana hemat minggu ini. Satria memakai sepatu. Sebelum keluar, ia mengetik:
Saya berangkat. Tapi ini bukan makan malam. Ini distribusi karbohidrat darurat.
Balasan Renata datang ketika ia sedang mengunci pintu kamar.
Aku suka ketika kamu romantis dengan istilah buruk.
Satria menatap layar. Lalu memasukkan ponsel ke saku. Di wajahnya, jengah dan senyum bertahan di tempat yang sama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!