Tatapan Mantan Manajer Bank

0 dibaca

A

Pagi setelah makan malam yang tidak mau disebut kencan oleh Satria, Renata datang ke kantor dengan wajah terlalu segar untuk perempuan yang semalam hampir habis oleh meja makan keluarganya sendiri.

Mila langsung curiga sejak Renata masuk. “Bu tidur cukup?”

Renata meletakkan tas di sofa. “Cukup.”

“Jawaban Ibu terlalu ringan.”

“Mila.”

“Baik.” Mila membuka tablet, lalu tetap berdiri di tempat. “Ibu Larasati akan mampir sekitar jam sebelas.”

Tangan Renata berhenti di atas laptop. “Mama bilang apa?”

“Dokumen untuk Pak Bima. Narasi resminya begitu.”

“Dan narasi tidak resminya?”

Mila menatapnya sebentar. “Mungkin ingin memastikan kantor Ibu masih berdiri setelah Ibu bilang ada seseorang.”

Renata memejamkan mata. Makan malam keluarga memang tidak pernah selesai di meja makan. Ia hanya berganti tempat, mengganti pakaian, lalu datang lagi dengan alasan yang lebih sopan. “Jam sebelas aku ada rapat dengan Damar.”

“Rapat Pak Damar mundur jam satu.”

Renata membuka mata. “Tentu saja.”

Mila menunduk ke tablet. “Saya kembali bekerja sebelum ikut terkena dampak keluarga Maharani.”

Renata tidak menjawab. Ia duduk, membuka laptop, lalu mencoba memulai hari seperti biasa. Email. Revisi. Panggilan singkat dengan legal. Arahan ke tim project. Tapi pikirannya beberapa kali turun ke lantai sembilan. Bukan dengan cara manis. Lebih seperti alarm.

Satria tidak tahu Mama akan datang. Satria mungkin sedang duduk dengan kopi pahitnya, mengerjakan laporan, diganggu Raka, dan merasa hidupnya cukup aman selama Renata tidak muncul membawa kekacauan.

Pukul sepuluh lewat lima puluh, Renata akhirnya mengirim pesan.

Hari ini jangan naik ke lantai tiga belas.

Balasan Satria datang dua menit kemudian.

Kenapa?

Renata mengetuk ujung kuku ke meja.

Ada risiko eksternal.

Kamu bicara seperti polis asuransi. Risiko apa?

Renata menatap layar sebentar.

Mama.

Tidak ada balasan. Lima detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik. Lalu:

Baik. Saya akan tetap di lantai sembilan dan menjalani hidup sebagai warga sipil.

Renata tertawa pelan.

Di lantai sembilan, Satria menatap pesannya sendiri dengan wajah yang membuat Raka langsung melirik. “Mas?”

Satria membalik ponsel. “Fokus kerja.”

Raka melihat ponsel yang sudah telungkup. “Nada kalimatmu terlalu bersih. Ada bencana?”

“Ibunya Renata datang ke kantor.”

Raka duduk lebih tegak. “Ibu mantan manajer bank?”

Satria menatapnya. “Kamu tahu dari mana?”

“Mas, satu gedung tahu Bu Renata anak siapa. Orang seperti beliau punya aura kalau kamu salah hitung, ibunya sudah tahu duluan.”

Satria meremas pangkal hidung.

“Beliau mau ketemu kamu?”

“Tidak.”

Raka menatapnya dengan belas kasih palsu yang buruk sekali disembunyikan.

Satria membuka file laporan. “Saya tetap di sini.”

“Keputusan bijak. Jangan ke lobby, jangan ke pantry atas, jangan melewati jalur yang memungkinkan adegan mahal.”

“Saya tidak berniat.”

Sayangnya, niat Satria tidak pernah punya kuasa penuh terhadap hari kerja. Pukul sebelas kurang lima, Pak Oka keluar dari ruangannya sambil membawa map.

“Satria, ini dokumen tax planning yang kemarin direvisi. Tolong titip ke Mila di lantai tiga belas. Saya harus telepon dengan Surabaya.”

Satria mengangkat wajah pelan. Raka menutup mata. “Pak, bisa saya kirim softcopy?”

“Hardcopy harus ditandatangani. Cepat. Titip, selesai.”

Satria menerima map itu dengan wajah terlalu tenang. Raka berbisik, “Warga sipil gugur.”

Satria berdiri. “Diam.”

Dalam lift, ia mencoba menata kemungkinan. Larasati mungkin belum datang. Kalau sudah datang, mungkin sedang di ruang Renata. Kalau bertemu pun, Larasati tidak akan tahu siapa dirinya. Dan Renata tidak akan tiba-tiba keluar, menyebut namanya, lalu membuat semuanya terlihat lebih jelas daripada seharusnya.

Pintu lift terbuka di lantai tiga belas. Satria keluar. Di depan meja Mila, seorang perempuan berdiri dengan tas kulit gelap di tangan. Rambutnya tersanggul rapi. Kemejanya sederhana, tapi jatuhnya mahal. Wajahnya tenang dengan cara yang tidak meminta izin untuk membuat orang lain merasa sedang diperiksa.

Satria tahu tanpa perlu dikenalkan. Itu Larasati Maharani. Ia berhenti setengah detik. Kesalahan. Larasati menoleh. Tatapannya jatuh pada Satria. Tidak kasar. Tidak menelanjangi. Justru karena halus, Satria merasa seluruh hidupnya mendadak tersusun di atas meja kaca: kampusnya, asal kotanya, sepatu yang ia rawat agar terlihat baru lebih lama, kemeja yang ia setrika pagi tadi, saldo yang ia hitung sebelum menerima ajakan makan Renata.

Mila melihat Satria dan langsung berdiri. “Iya?”

“Saya titip dokumen tax planning untuk Bu Renata.”

Mila menerima map itu terlalu cepat. “Baik. Saya teruskan.”

Satria mengangguk. “Terima kasih.”

Ia hampir berhasil pergi. Pintu ruangan Renata terbuka. Renata keluar dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut santai, tetapi terlalu terkendali untuk disebut panik. Matanya langsung menemukan Satria, lalu Mama, lalu Mila. “Satria.”

Nama itu keluar terlalu cepat. Bukan sapaan formal. Bukan panggilan biasa. Ada keterkejutan kecil di sana. Ada peringatan. Ada sesuatu yang terlalu pribadi untuk lolos dari telinga Larasati Maharani.

Satria menatap Renata dengan wajah sangat datar. Terlalu datar. Larasati melihat Renata. Lalu Satria. Lalu kembali pada Renata. Hening di koridor itu menjadi lebih tajam daripada pertanyaan.

Renata memperbaiki wajahnya setengah detik terlambat. “Ada dokumen?”

Satria mengangguk. “Dari Pak Oka. Sudah saya titip ke Mbak Mila.”

“Baik.” Pendek. Aman. Sangat tidak meyakinkan.

Larasati memiringkan kepala sedikit. “Satria?”

Satria menoleh. “Iya, Bu.”

Renata diam. Tapi Larasati melihatnya.

“Finance?” tanya Larasati.

“Iya, Bu.”

Larasati melirik Renata sekilas. Di wajahnya, potongan-potongan kecil tersusun rapi: nama yang keluar terlalu cepat dari mulut Renata, cerita Renata beberapa hari lalu tentang staf finance yang menemukan selisih angka di proposal kuartal tiga, dan cara anaknya sekarang berdiri sedikit terlalu dekat dengan kecemasan. “Ah,” katanya. “Yang menemukan selisih angka di proposal itu.”

Satria mengangguk sedikit. “Kebetulan saya sedang pegang datanya.”

“Kebetulan jarang bekerja sendiri.” Larasati tersenyum tipis. “Biasanya butuh orang yang teliti untuk terlihat.”

Satria tidak tahu apakah itu pujian atau pembukaan wawancara. “Terima kasih, Bu.”

Renata melangkah mendekat. “Ma, ini kantor.”

“Mama tahu.”

“Kalau tahu, jangan ubah koridor jadi ruang interview.”

“Mama baru menyapa.”

“Dengan riwayat proposal kuartal tiga?”

“Itu bahan pembicaraan yang aman.”

“Untuk Mama, mungkin.”

Mila menatap tablet seolah baru saja menemukan rahasia keselamatan hidup di sana. Satria berdiri sangat diam. Mundur akan terlihat seperti kabur. Bertahan terlalu lama seperti menyerahkan diri. Ia terjebak di antara sopan santun dan insting menyelamatkan diri.

Larasati kembali menatapnya. “Kamu sudah berapa lama bekerja di sini?”

“Belum sampai sebulan, Bu.”

“Betah?”

Satria melirik Renata tanpa sadar. Satu detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Renata menarik napas kecil. Dan cukup untuk membuat Larasati melihat semuanya.

“Sampai saat ini, betah,” jawab Satria, kali ini memilih menatap Larasati langsung.

“Renata keras di kantor.”

“Beliau jelas dalam memberi arahan.”

Renata mengangkat alis. Beliau. Di depan Mama, Satria ternyata bisa menemukan kata paling aman untuk membuat Renata ingin melempar stapler.

Larasati tampak puas. “Jawaban diplomatis.”

“Saya masih probation, Bu.” Untuk pertama kalinya, Larasati tertawa kecil. Bukan tawa besar, tapi cukup membuat wajahnya melunak sedikit. Renata menatap Satria dengan campuran kesal dan sesuatu yang nyaris bangga. Pria ini ketakutan. Jelas. Tapi ia tidak hancur.

Larasati memperhatikan kemeja Satria yang rapi, cara ia berdiri sedikit terlalu tegak, dan tangan yang tetap tenang meski wajahnya menyimpan banyak pintu tertutup. “Keluarga di Jakarta?”

Renata langsung memotong. “Ma.”

Larasati menoleh. “Mama hanya bertanya hal biasa.”

“Tidak semua hal biasa dari Mama terasa biasa untuk orang lain.”

Satria menjawab sebelum Renata membuat keadaan semakin sulit. “Tidak, Bu. Saya tinggal sendiri di sini.”

“Asal?”

“Kota kecil dekat Semarang.”

“Orang tua?”

Suara Renata turun. “Ma.”

Satria menatap Larasati. Ia tidak ingin Renata berdiri terlalu lama di depannya seperti tameng. Bukan karena tidak menghargai. Justru karena jika Renata terus melindunginya di koridor ini, seluruh ketakutan yang ia sembunyikan akan terlihat benar.

“Bapak mengelola usaha kecil, Bu. Ibu di rumah. Adik masih sekolah.”

Larasati kembali melihatnya. Tidak ada hinaan di wajahnya. Itu hampir membuat Satria lebih sulit. Kalau ada hinaan, ia bisa marah. Kalau ada sikap merendahkan, ia bisa membuat jarak. Tapi Larasati hanya membaca. Membaca terlalu bersih. Dan orang yang terbiasa menyimpan banyak hal tahu bahwa dibaca tanpa dihina pun tetap bisa terasa telanjang. “Kamu anak pertama?”

“Iya.”

“Pantas.”

Renata mengerutkan kening. “Pantas apa?”

Larasati tidak menjawab Renata. Ia menatap Satria. “Anak pertama biasanya belajar terlihat tenang sebelum benar-benar tenang.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang tidak disangka. Satria diam. Renata juga. Untuk satu detik, Larasati bukan mantan manajer bank yang sedang menguji staf finance anaknya. Ia hanya seorang ibu yang sudah lama melihat manusia menahan beban di wajah paling rapi mereka.

Lalu momen itu lewat. Larasati mengambil tasnya dari meja Mila. “Mama tidak akan lama. Dokumen untuk Papa sudah Mama titipkan.”

Renata menatap ibunya. “Mama mau pulang?”

“Iya. Ada janji makan siang.”

Larasati berjalan ke arah lift. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di dekat Satria. “Senang bertemu denganmu, Satria.”

“Sama-sama, Bu.”

“Kamu tidak perlu terlalu takut pada saya.”

Satria menjawab sebelum sempat menyaring, “Saya akan coba, Bu.”

Larasati tertawa lagi. Renata menatap langit-langit.

Pintu lift terbuka. Larasati masuk, mengangguk kecil pada Renata, lalu pintu tertutup.

Begitu lift pergi, koridor lantai tiga belas terasa bernapas lagi. Mila pelan-pelan mengangkat tablet. “Saya akan ke pantry.”

“Tidak,” kata Renata dan Satria bersamaan.

Mila berhenti. Renata menatap Satria. Satria menatap lantai. Mila menurunkan tablet. “Saya tetap di sini. Tapi secara emosional, saya berada di pantry.”

Renata mengabaikannya dan melangkah mendekati Satria. “Kamu baik-baik saja?”

“Baik.” Jawabannya terlalu cepat.

Renata melihat punggung tangannya. Jari-jari Satria menekan sisi celana seperti sedang memastikan dirinya masih utuh. “Satria.”

“Saya harus kembali ke finance.” Ia sudah mundur setengah langkah. Renata melihatnya.

Bukan hanya gerak tubuhnya. Bukan hanya wajahnya yang mendadak lebih rapi daripada biasanya. Ia melihat sesuatu tertutup. Pelan, tapi jelas. Seperti jendela yang baru saja dibuka sedikit malam lalu, sekarang dikunci lagi dari dalam. “Satria,” katanya lebih pelan.

“Dokumennya sudah saya antar.” Ia mengangguk pada Mila. “Terima kasih, Mbak.”

Lalu ia pergi. Tidak cepat. Tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk membuat Renata tahu ia tidak boleh mengejarnya di koridor tanpa membuat segalanya menjadi lebih buruk.

Mila menunggu sampai pintu lift tertutup. “Bu.” Renata masih menatap lift. “Jangan. Ibu Larasati tidak jahat.”

“Aku tahu.”

“Tapi efeknya tetap seperti audit mendadak.”

Renata menutup mata sebentar. Di situlah masalahnya. Mama tidak jahat. Bahkan tadi ada bagian dari Mama yang nyaris lembut kepada Satria. Tetapi kelembutan orang yang terbiasa mengukur tetap bisa terasa seperti timbangan. Satria tadi tidak hanya bertemu ibu Renata. Ia bertemu pintu besar menuju dunia yang selama ini ia coba hindari, dan pintu itu punya suara halus, tas kulit mahal, serta kemampuan membaca anak pertama dalam satu kalimat. Renata masuk ke ruangannya tanpa berkata lagi.

Di lantai sembilan, Satria kembali ke meja dengan wajah yang membuat Raka langsung menyingkirkan lelucon dari lidahnya. “Mas?” katanya pelan.

Satria duduk, membuka laptop, lalu menatap layar yang belum menyala. Raka tidak bertanya. Hanya mendorong gelas air mineral ke sisi meja Satria. Gestur itu kecil, hampir canggung. Satria mengambilnya setelah beberapa detik. “Terima kasih.”

Raka mengangguk. Sepanjang siang, Satria bekerja lebih diam daripada biasanya. Ia menyelesaikan semua tugas. Tidak salah angka. Tidak kehilangan fokus secara teknis. Justru itu yang membuat Raka makin khawatir. Satria kalau terganggu bukan menjadi berantakan. Ia menjadi terlalu rapi. Seperti orang yang menyapu pecahan kaca dengan tangan kosong lalu memastikan lantai tetap bersih.

Pesan Renata masuk pukul dua belas lewat empat puluh.

Kamu di meja?

Satria melihatnya. Tidak membalas. Pesan kedua masuk sepuluh menit kemudian.

Makan siang?

Ia menatap layar, lalu membalik ponsel. Pukul satu lewat lima belas:

Satria.

Ia mengetik setelah hampir satu menit.

Saya sedang kerja.

Balasan Renata datang cepat.

Kamu sedang menghindar.

Satria menatap kalimat itu. Lalu meletakkan ponsel lagi. Raka, yang melihat semua dari sudut mata, akhirnya berkata, “Mas.”

“Saya tahu.”

“Kamu belum tahu aku mau bilang apa.”

“Kamu mau bilang saya harus bicara.” Raka diam. Satria menatap file di layar. “Saya tidak bisa sekarang.”

Raka mengangguk pelan. “Oke.” Tidak ada lelucon.

Sore harinya, Renata turun ke lantai sembilan. Tidak membawa map. Tidak membawa kopi. Tidak membawa alasan yang bisa diselamatkan secara administratif. Seluruh finance kembali menjadi patung hidup.

Satria tahu ia datang dari perubahan udara sebelum melihatnya. Ia tidak mengangkat wajah. Tetap mengetik. Sangat rapi. Sangat sibuk. Sangat pengecut, dan ia tahu itu.

Renata berhenti di depan mejanya.

Raka langsung berdiri. “Saya ke toilet.”

Satria menoleh. Raka menatap Renata, lalu Satria, lalu kembali pada Renata dengan wajah rakyat kecil yang paham struktur kekuasaan. Ia pergi tanpa suara.

Renata tidak duduk. Ia hanya berdiri di sisi meja Satria. Justru itu membuat semua orang lebih sulit pura-pura tidak melihat.

Satria akhirnya menoleh. “Renata.”

“Bagus. Masih ingat namaku.”

“Ini area kerja.”

“Aku tahu.”

“Orang melihat.”

“Biarkan.”

“Saya tidak mau.”

Renata diam. Kalimat itu tidak keras, tapi dindingnya tinggi. Ia menatap wajah Satria. Tidak ada marah yang meledak di sana. Justru karena itu, Renata lebih khawatir. Satria tidak sedang marah padanya sepenuhnya. Ia sedang menarik dirinya sendiri mundur sebelum Renata bisa melihat bagian yang terluka. “Kalau mau bicara, ikut aku ke ruang rapat kecil,” kata Renata.

“Saya ada pekerjaan.”

“Pekerjaanmu bisa menunggu sepuluh menit.”

“Saya yang menentukan itu.”

Renata menatapnya. Satria menatap balik. Untuk pertama kalinya, godaan Renata tidak punya tempat masuk. Ia mengangguk kecil. “Baik.”

Satria kembali menatap layar. Renata tidak pergi. Ia menunduk sedikit, cukup dekat agar suaranya tidak terdengar orang lain. “Aku tidak akan memaksamu bicara di depan orang. Tapi jangan hukum aku karena kamu merasa kecil di depan ibuku.”

Jari Satria berhenti di keyboard. Renata melihat itu. Lalu ia pergi.

Raka baru kembali setelah Renata masuk lift. Ia duduk pelan, menatap Satria, lalu memutuskan untuk tidak berkata apapun.

Satria pulang pukul delapan malam. Bukan karena pekerjaannya baru selesai. Ia sudah selesai sejak tujuh. Ia hanya menunggu area kantor lebih sepi, seolah dengan begitu ia bisa keluar tanpa membawa bentuk kekalahannya terlihat.

Di lobby, Renata duduk di sofa tunggu. Satria berhenti.

Renata masih memakai pakaian kantor, tapi blazernya sudah dilepas. Di tangannya ada ponsel, tetapi ia tidak melihat layar. Ia menunggu. Bukan dengan wajah marah. Bukan dengan wajah menang. Hanya menunggu seperti perempuan yang terlalu keras kepala untuk pulang sebelum satu urusan selesai.

Satria berjalan mendekat setelah sadar menghindar akan lebih memalukan. “Kamu belum pulang?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Aku memberimu waktu dari siang sampai malam untuk sok dewasa.” Satria menatapnya. Renata berdiri. “Sekarang selesai.” Ia tidak tertawa. Tidak menggoda. Itu membuat Satria menurunkan pandangan lebih dulu. “Aku tidak turun ke mejamu untuk membuat finance jadi teater,” kata Renata. “Aku juga tidak menyentuhmu saat kamu jelas sedang membangun pagar. Tapi kamu tidak boleh menghilang hanya karena ibuku membaca hidupmu dengan satu kalimat.”

Satria menatap lantai lobby. Orang-orang masih lewat, tetapi tidak banyak. Suara lift naik turun terdengar jauh. Di luar kaca, malam Jakarta menempel seperti kabut kotor di lampu jalan. “Saya tidak menghilang.”

“Kamu menutup pintu dari dalam lalu menyalakan lampu agar terlihat masih ada.” Satria mengangkat wajah. Renata tidak tersenyum. “Aku tahu Mama membuatmu tidak nyaman,” katanya. “Aku tahu keluargaku bukan sesuatu yang mudah. Aku juga tahu kamu mungkin membayangkan ribuan cara bagaimana orang akan menilaimu kalau tahu kamu dekat denganku.”

“Bukan mungkin.” Renata diam. Satria menelan sesuatu yang terasa pahit. “Mamamu tidak salah,” katanya pelan. “Dia sopan. Dia bahkan baik, dengan caranya. Tapi setiap pertanyaannya mengingatkan saya bahwa saya datang dari tempat yang harus dijelaskan. Keluarga saya harus dijelaskan. Pekerjaan bapak saya harus dijelaskan. Kota saya harus dijelaskan. Posisi saya harus dijelaskan. Sementara kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.” Wajah Renata berubah sedikit. Satria tertawa kecil, tanpa humor. “Dan saya tahu kamu akan bilang itu tidak benar.”

“Karena memang tidak sesederhana itu.”

“Tapi tidak salah sepenuhnya.”

Renata tidak bisa membantah. Itu yang membuatnya lebih marah. Bukan pada Satria. Pada dunia yang membuat pria ini harus menyusun keberanian hanya untuk berdiri di sebelahnya.

Satria mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Saya tidak mau menjadi pria yang hidupnya terus-menerus diterjemahkan orang lain sebagai keberuntungan karena dipilih olehmu.”

“Lalu aku harus apa?”

“Beri saya waktu.”

“Untuk?”

“Sampai saya sejajar di posisimu.” Ia berhenti sebentar. Rahangnya mengeras sebelum kalimat berikutnya keluar. “Atau setidaknya berada di level yang tidak membuat orang mudah meremehkan kita.”

Lobby yang mulai sepi terasa lebih dingin. Renata menatapnya lama. “Aku akan menunggu hari itu.” Satria hampir saja bernapas lega. “Tapi aku tidak akan menunggu dengan diam.” Gerakan tangan Satria berhenti di sisi tubuhnya. Renata maju setengah langkah. Tidak banyak. Cukup untuk membuat jarak mereka terasa lebih sempit daripada lobby yang mulai sepi. “Aku tidak akan membiarkanmu sampai di sana sendirian. Aku akan menemanimu.” Matanya tidak turun. Tidak goyah.

Satria tidak langsung menjawab. Bukan karena ia tidak mengerti. Justru karena ia mengerti terlalu jelas. Ia menatap Renata seperti perempuan itu baru saja meletakkan sesuatu yang terang, tajam, dan mustahil di antara mereka. Tangannya bergerak sedikit, hampir naik ke pangkal hidung seperti biasa, tetapi berhenti di tengah jalan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia kehilangan gestur penyelamat. “Renata.”

Renata menatapnya tajam. “Aku memilihmu, dan aku tahu risikonya.”

Satria memejamkan mata sebentar. Ia sudah tahu Renata nekat. Tapi ia belum tahu kenekatan bisa berdiri setenang itu di depannya, memakai pakaian kantor, wajah lelah, dan kalimat yang tidak memberi jalan bagi keraguan orang lain untuk duduk terlalu lama.

“Saya benar-benar sedang mencoba waras,” katanya, nyaris pelan.

“Aku tahu.” Renata menepuk ringan dada kemejanya dengan ujung jari, sekali saja. “Makanya aku datang sedikit demi sedikit. Kalau langsung, kamu lari.”

“Saya masih bisa lari.”

“Bisa.” Renata menurunkan tangannya. “Tapi kamu belum pergi.”

Satria tidak menjawab. Karena itu bagian paling menyebalkan dari semuanya. Ia memang belum pergi. Renata tersenyum kecil. Bukan menang. Lebih seperti lega yang ditahan agar tidak terlalu terlihat. “Pulang,” katanya. “Kamu terlihat seperti habis diwawancarai bank untuk pinjaman hidup.”

“Itu salah ibumu.”

“Mama memang begitu. Dia bisa membuat orang merasa laporan keuangannya kurang sehat hanya dengan bertanya kabar.”

Satria akhirnya tertawa kecil. Pendek. Tertahan. Tapi cukup. Renata menyimpannya di dada seperti sesuatu yang tidak mau ia akui terlalu berharga.

Mereka keluar lobby bersama, tidak bersentuhan. Di pintu, Satria berhenti menunggu Renata memesan mobil. “Aku bawa mobil,” kata Renata.

“Saya tahu.”

“Kamu mau memastikan aku tidak diculik?”

“Saya memastikan kamu tidak mengirim pesan lima menit lagi karena lupa parkir di mana.”

Renata tertawa. “Aku tidak separah itu.” Satria menatapnya. Renata menghela napas. “Baik, sekali. Dua kali maksimal.”

Di area drop-off, mobil Renata sudah menunggu karena driver ternyata belum pulang. Renata membuka pintu, lalu berhenti. “Satria.” Ia menoleh. “Besok aku tidak akan membuatmu merasa kecil.” Kalimat itu tidak playful. Tidak juga ringan.

Satria menatapnya beberapa detik. “Saya tahu,” katanya.

Renata masuk ke mobil. Satria berdiri sampai mobil itu keluar dari area gedung. Baru setelah lampu belakangnya hilang di jalan, ia berjalan menuju halte. Ponselnya bergetar saat ia baru sampai trotoar. Renata.

Tapi aku tetap akan membuatmu sedikit panik. Itu bagian dari identitasku.

Satria membaca pesan itu. Lama. Lalu membalas:

Saya sudah menduga.

Balasan Renata langsung masuk.

Bagus. Adaptasi adalah kunci bertahan hidup.

Satria memasukkan ponsel ke saku, menatap bus yang mendekat dari kejauhan. Ia belum sejajar. Belum siap bertemu Larasati lagi. Belum tahu bagaimana hubungan seperti ini bisa bertahan dari kantor, keluarga, gosip, dan seluruh jarak yang sejak awal berdiri di antara mereka. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, kata proses tidak terdengar sepenuhnya seperti jalan yang harus ia tempuh sendirian. Dan itu membuatnya takut. Juga sedikit, diam-diam, lega.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk